BREAKING NEWS

Jumat, 27 November 2015

Mempertanyakan Memotivasi Penulis Daerah oleh Pemda

SEJAK bergulirnya otonomi daerah, pada dasarnya kemajuan-kemajuan yang dulu hanya dinikmati dan berlaku di Pusat (Ibu Kota Negara atau kota besar lainnya) kini sudah mulai muncul di daerah yang terpencil sekalipun. Kekayaan, kenikmatan dan kesempatan itu tidak lagi hanya milik orang-orang Pusat. Penerbitan koran, majalah atau bentuk lain yang sejenis, misalnya yang dulu hanya dominasi Pusat, kini sudah hadir juga di daerah. Bahkan koran (harian) sudah tidak lagi menjadi kesibukan orang-orang kota belaka.

Ada banyak kegiatan kepenulisan dan penerbitan yang dulu dominasi Pusat, kini bergeser juga ke Daerah, baik dalam bentuk kerjasama maupun dengan kemandirian Daerah sendiri. Dengan sistem cetak jarak jauh (online) koran-koran terbitan ibu kota dapat langsung terbit di daerah. Ini salah satu bentuk kegiatan di daerah yang masih mempertahankan kerja sama. Tapi ada juga koran daerah yang langsung dikelola, dicetak dan didistribusikan di daerah. Beberapa koran daerah, misalnya Batam Pos, Tribun Batam, Pos Metro Karimun, Haluan Kepri dan beberapa lagi yang terbit di Provinsi Kepri. Di setiap daerah (kota) provinsi bahkan kabupaten kini sudah ada korannya.

Dengan bermunculannya koran (media masa cetak) terbitan daerah berarti pula para wartawan (penulis) tidak lagi menjadi milik orang-orang kota atau orang Pusat saja. Di setiap Daerah (kabupaten atau provinsi) kini sudah ada dan terbit koran-koran yang walaupun disebut sebagai koran daerah. Itu tidak masalah. Yang pasti, para wartawan yang dulu berkumpulnya di Ibu Kota saja, kini sudah ada di daerah. Di setiap provinsi atau kabupaten organisasi pewarta seperti PWI (Persatuan Wartawan Indonesia) juga sudah kelihatan dan menonjol eksistensinya.

Munculnya para penulis daerah tentu saja menjadi kebanggaan tersendiri buat daerah. Tentu juga akan dan atau sudah lahir pula penulis-penulis daerah. Seperti apapun kondisinya, yang pasti kini kehadiran para penulis di daerah pasti akan menjadi salah satu aset pula bagi daerah. Menjadi penulis, kini tidak lagi harus hijrah ke Ibu Kota sebagaimana zaman dulu. Dengan tetap berada di daerah sendiri, seseorang juga bisa menjadi penulis hebat yang kelak juga akan bisa berstatus penulis nasional.

Pertanyaannya, adakah perhatian dan pembinaan Pemda dalam membina dan mengembangkan potensi budaya menulis daerah? Inilah sesungguhnya salah satu pemikiran para penulis (daerah) yang boleh jadi tidak atau belum tersampaikan ke para pihak yang berwewenang di daerah. Tidak harus di level bupati untuk mengurus dan membina para penulis daerah ini. Mereka, cukup di level Kepala Dinas/ Kantor atau di bawahnya. Sebagai potensi di budaya literasi, Pemerintah sangat membutuhkan mereka. Dengan berkembangnya budaya menulis, akan berkembang pula bidang-bidang lain karena dengan tulisan yang dihasilkan akan tersampaikan apapun informasi yang dibutuhkan.

Lahirnya budaya menulis di kalangan masyarakat, selain ditentukan oleh kemauan dan kerja keras yang bersangkutan, juga akan dipengaruhi oleh gesekan dan polesan dari luar, seumpama dari pemerintah. Sebagai pemegang otoritas dan kekuasaan yang dimandatkan rakyat, Pemerintah dapat melakukan apa saja untuk perkembangan dan kemajuan masyarakatnya, termasuk para penulis. Maka membina dan mengembangkan potensi budaya literasi bagi masyarakat adalah keniscayaan yang tidak dapat dihindari. Dari ujung jari para penulis akan lahir aneka karya agung yang tidak saja akan mempengaruhi kepenulisannya tapi akan mempengaruhi masalah lain secara umum.

Seorang penulis, dapat menjadi inspirator untuk melakukan berbagai hal. Seorang penulis juga akan menjadi penjelas dan penyampai berbai informasi yang diperlukan selain juga akan berperan pula sebagai motivator oleh banyak pihak. Pemerintah mutlak memerlukan orang-orang ini. Pembinaan dan bantuan yang sudah diberikan kepada beberapa wartawan daerah melalui Humas Setda selama ini sebanrnya sudah merupakan langkah awal untuk membina dan mengembakan mereka. Tentu saja itu tidak cukup. Para penulis (wartawan) itu memerlukan jaminan penghasilan untuk menopang hidupnya. Apa yang mereka peroleh dari media yang menugaskan mereka, ternyata tidaklah memadai. Padahal masih ramai calon-calon penulis lain yang belum mampu menjadi wartawan. Mereka ini butuh motivasi dan pembinaan dari Pemerintah.***

Posting Komentar

Berikan Komentar Anda

 
Copyright © 2016 koncopelangkin.com Shared By by NARNO, S.KOM 081372242221.