BREAKING NEWS

Kamis, 26 November 2015

Dua Malam di Melaka (Catatan Perjalanan)


BERANGKAT hari Ahad, 22 November (2015) pagi, artinya sudah dua hari rombongan haji-hajjah Karimun di Negeri Melaka, pada hari Seninnya. Menjelang Selasa besoknya, tentu akan melewati satu malam lagi di negeri Melaka, sabagai satu-satunya tujuan kunjungan rombongan pengurus dan anggota IPHI ke Malaysia. Menggunakan kapal MV. Tobindo Line 9 dari Pelabuhan Internasional Karimun, rombongan seramai 29 orang tiba di Pelabuhan Internasional Puteri Harbour, Johor Bahru, Malaysia tepat pukul 10.00 (WIB) atau pukul 11.00 Waktu Malaysia. Berarti rombongan sudah mengharungi laut selama satu setengah jam dari Pulau Karimun. Sudah merasa letih? Tentu saja belum.

Seabagai salah seorang peserta rombongan, saya merasakan perjalanan yang diikuti sebagian besar para pengurus IPHI (Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia) Kabupaten Karimun periode lalu itu sangatlah penting. Bagi para sepuh-pinisepuh haji-hajjah yang ikut dalam rombongan, tentu saja ini bukanlah sekadar berjalan-jalan saja. Pasti ada hikmah utama yang dipetik orang-orang 'usia emas' (istilah yang dipakai orang Malaysia untuk para lansia) yang menyertai perjalanan dua malam di negeri seberang. Meski cukup lama di dalam kapal very Karimun-Johor itu, ternyata keasyikan mereka ngobrol dan bergurau sesama usia senja, membuat asyik dan seolah tidak disadari tibanya kapal di pelabuhan seberang. Tiba-tiba semuanya diberi tahu supaya berdiri untuk keluar kapal.

Empat puluh menit berikutnya, setelah melalui proses cap paspor dan pengurusan bagasi selesai rombongan meneruskan perjalanan dengan bus pesiaran yang sudah menunggu di halaman pelabuhan. Tujuan tunggal adalah ke Negeri Melaka, salah satu negara bagian dari sembilan negara bagian di Malaysia. Ke Negeri Melaka tidak lain untuk berhibur ke negeri jiran yang tidak terlalu jauh dari Karimun. Kalau ke Johor saja? Tentu terlalu dekat jaraknya dengan Karimun. Jadi, keputusan memilih Melaka adalah jalan tengah jika harus menyebut negara-negara bagian lainnya. Ke daerah-daerah lain itu, sudah terasa agak jauh berbanding Melaka.

Dalam perjalanan dari Johor kami singgah di Air Hitam, sebuah tempat yang sangat terkenal di telinga orang Karimun. Ayer (tertulis begitu) Hitam adalah satu kawasan perbelanjaan yang cukup terkenal di Johor Bahru. Orang-orang Karimun, atau orang Kepulauan Riau umumnya, jika ingin membeli kebutuhan tertentu seperti aksesori dan perhiasan pengantin, misalnya, maka Ayer Hitam adalah tempat paling disukai. Pertama berbagai kebutuhan itu selalu ada di sini. Kedua, harganya tidak terlalu mahal berbanding yang ada di mall-mall lainnya. Padahal berbagai produk itu juga terpajang di kedai-kedai besar yang menyerupai mall. Itu pula sebabnya rombongan kami sengaja singgah di Air Hitam itu siang Ahad di hari pertama itu.
Bersama Pak H. Jamal di Melaka

Pada pukul 13.20 meninggalkan Air Hitam untuk melanjutkan perjalanan ke Melaka, sasaran utama rombongan IPHI 'tak resmi' ini ke Malaysia. Kok tak resmi? Maksudnya, karena rombongan haji-hajjah ini sebenarnya tidak merupakan pengurus IPHI yang baru saja dilantik beberapa bulan lalu. Saat ini ketua IPHI Karimun adalah Pak Haris Fadillah sementara rombongan ini dibawah tanggung jawab Pak Alwi Bandan. Dia sebenarnya adalah pengurus periode sebelumnya yang sudah diganti oleh kepengurusan baru.

Kalaupun beberapa orang peserta tour ini juga pengurus baru, tapi kepergian ini lebih bersifat pribadi. Bukan atas posisi sebagai pengurus IPHI, termasuk saya dan Pak Alwi sendiri. Tapi itu tidak masalah. Dana yang dipakai untuk kepergian ini, selain ada bantuan dari Pemerintah Karimun, juga atas iyuran pribadi masing-masing peserta. Jadi, keberangkatan untuk berlibur ini tidak ada masalahnya. Dan hanya ada dua malam saja di Melaka.

Sesampai di Melaka kami dibawa oleh guet yang menjadi 'penuntun jalan' selama di Melaka ke berbagai tempat yang cukup terkenal di Negara Bagian Melaka itu. Kami antara lain dibawa ke lokasi peternakan lebah madu. Kami melihat langsung bagaimana menangkar lebah madu dan bagaimana madu itu didapatkan. Bahkan kami tidak hanya mencoba rasa madu yang ada tapi sebagian kami juga membeli madu untuk oleh-oleh ke Karimun. Sangat menyenangkan, tentunya. Apalagi bagi para lansia yang ikut dalam rombongan itu pasti akan berguna juga madu itu.

Kami juga dibawa ke lokasi musium Melaka dan beberapa tempat lainnya. Sejak di hari pertama hingga di hari kedua, kami menikmati berbagai lokasi wisata di sana. Pada hari kedua, esoknya kami kembali berjalan-jalan di Melaka. Termasuk kami menyempatkan untuk melihat Masjid Selat Melaka yang sangat terkenal itu. Sebagian kami sempat solat di sana. Bahkan ada yang berkesempatan solat berjamaah (solat asar) di sana yang kebetulan waktunya tepat untuk solat bersama ketika rombongan kami tiba di sana.

Di malam hari (malam kedua) kami hanya di hotel saja sesuai skedul dari panitia. Tapi bagi yang mau berjalan keluar hotel, juga boleh sekadar mencari makanan malam. Apalagi hotel Orkid tempat kami menginap, itu kebetulan ada dalam kota Melaka. Ke kiri ke kanan hotel ada kedai atau tempat-tempat berbelanja. Silakan jika ada yang mau menikmatinya secara sendiri-sendiri atau berdua dengan pasangannya.

Pokoknya dua malam di Melaka benar-benar dinikmati oleh para haji-hajjah yang rata-rata sudah lanjut usia ini. Beberapa orang yang masih di bawah 50-an tahun tentu saja harus menyesuaikan perasaaannya dengan jadwal dan berbagai kegiatan orang-orang tua ini. Dua malam di Melaka adalah masa-masa orang tua berhibur dirinya. Sungguh istimewa, karena meskipun sudah lansia tapi semuanya membawa pasangannya. Justeru saya dan beberapa yang lebih muda, malah tidak membawa pasangan ke sana.***

Posting Komentar

Berikan Komentar Anda

 
Copyright © 2016 koncopelangkin.com Shared By by NARNO, S.KOM 081372242221.