BREAKING NEWS

Minggu, 06 Desember 2015

Puncak Kubah Masjid Raja Disambar Petir

MENYEBUT nama masjid raja, mungkin langsung pikiran kita ke masjid masa lalu, masjid zaman dulu, zaman raja-raja masih berkuasa waktu itu. Paling tidak konotasinya masjid tua. Itu tidaklah keliru.

Sebutlah Masjid Raja Abdul Gani, di Pulau Buru. Kita akan langsung teringat sebuah masjid tertua yang ada di pulau yang dari Karimun tidak terlalu jauh (kurang lebih 40 menit naik kapal dari Tanjungbalai Karimun) yang menjadi salah satu catatan dan cagar budaya daerah di Kabupaten Karimun, umumnya di Provinsi Kepri. Masjid tua berwarna kuning itu memang tidak semegah masjid-masjid tua seumpama Masjid Agung Demak, misalnya. Belum pula setenar masjid tua seperti Masjid Sultan Suriyansyah, Masjid Ampel dan banyak masjid lainnya di bumi nusantara.

Masjid Raja Abdul Gani adalah masjid di sebuah kecamatan di Kabupaten Karimun. Masjid ini adalah masjid tertua di antara 14 masjid yang ada di Kecamatan Buru. Bahkan dia adalah masjid tertua di Kabupaten Berazam dan tertua kedua di Provinsi Kepri setelah Masjid Pulau Penyengat. Menurut penuturan orang-orang tua dan juga di beberapa catatan yang ada, masjid Raja Abdul Gani merupakan peninggalan Kerajaan Melayu Riau Lingga seperti masjid bersejarah di Pulau Penyengat itu. Saat ini, Masjid Raja Abdul Gani menjadi salah satu destinasi pariwisata religi di Kepri khususnya di Kabupaten Karimun. Dinas Parwisata, Seni dan Budaya Karimun menjadikan masjid ini sebagai salah satu tujuan dan paket wisata di Karimun.
Meriam, lonceng tua masih ada di Masjid RA.Gani Buru

Baru-baru ini, masjid ini mendapat sedikit musibah karena puncak kubah menaranya rusak disambar petir. Akibat kejadian alam itu, sebagian puncak kubah menara itu pecah. Saya sempat menyaksikan langsung pecahan semen yang tersambar petir itu ketika baru-baru ini berkesempatan datang ke Buru dalam rangka dstribusi zakat oleh Baznas Kabupaten Karimun di Kecamatan Buru. Sampai hari Jumat (4/12) lalu itu, ternyata kubah menara yang rusak itu belum juga diperbaiki.

Ketika saya coba bertanya kepada salah seorang jamaah Jumat mengapa kerusakan itu mash terbiar hingga begitu lama, bapak itu hanya tersenyum. Saya hanya menafsirkan bahwa orang itu mungkin tidak tahu. Ketika catatan ini saya tulis, saya tidak bertanya kepada siapapun mengapa cukup lama masjid bersejarah itu terbiar kerusakannya. Walaupun kerusakan itu tidak mengganggu aktivitas masjid, sebagai masjid cagar budaya, tidak sepatutnya kerusakan itu terbiar.

Baik pengurus masjid, masyarakat setempat atau Pemerintah Daerah, sejatinya segera memperbaiki kerusakan itu. Mengingat kerusakannya tidaklah terlalu berat, sudah seharusnya tidak dibiarkan berlama-lama kerusakan itu. Sebagai masjid tua dan sudah menjadi kekayaan budaya daerah, sangat tidak elok jika kerusakan itu tidak mendapat perhatian.

Selain mengunjungi masjid Agung Karimun (di Poros) dan masjid Baiturrahman (Kecamatan Karimun) para turis yang ingin melihat rumah-rumah ibadah muslim juga menjadikan masjid Raja Andul Gani (Buru) ini sebagai tujuan kunjungannya. Apalagi di Buru juga ada beberapa objek wisata yang sekaligus dapat dikunjungi seperti lokasi makam si Badang (legenda manusia terkuat), tempat pemandian air panas, pantai Tanjung Ambat dan beberapa objek wisata lainnya. Dan Masjid Raja Abdul Gani adalah ikon utamanya. Alangkah sedihnya jika kerusakan itu tidak juga kunjung diperbaiki.***

Posting Komentar

Berikan Komentar Anda

 
Copyright © 2016 koncopelangkin.com Shared By by NARNO, S.KOM 081372242221.