BREAKING NEWS

Jumat, 25 September 2015

Bersahabat dengan Lembu

KISAH ini adalah kisah lain dari prosesi pemotongan hewan kurban dalam Idul Adha 1436 ini. Ada catatan menarik yang saya saksikan ketika Kamis (24/09/2015 atau 11/12/1346)  pagi itu giliran memotong hewan kurban yang bernama lembu atau sapi itu (di sini ada yang menyebut sapi dan ada pula yang menyebut lembu) tukang potongnya memulai dengan sedikiit ritual. Sepertinya ritual untuk membuat lembu itu lebih tenang.

Kamis, 24 September 2015

Perjalanan Empat Hari Kasek di Malaysia (1)

INILAH ekspos perjalanan study tour para Kepala Sekolah Tingkat SLTA se-Kabupaten Karimun di Malaysia, 10 s.d. 13 September 2015 lalu. Catatan ini diposting sedikit agak terlambat berbanding perjalanannya, namun saya pandang ini juga penting dan berguna buat para pembaca. Sekurang-kurangnya penting buat penulisnya. Itulah sebabnya, tulisannya ini tetap diposting di halaman ini pada hari ini.

Selasa, 22 September 2015

Usul Turun: Merusak Persahabatan?

MEMBACA salah satu harian hari Senin (21/ 09) ini membuat perasaan agak geli-geli ngeri. Sepintas lalu, rada-rada lucu tapi juga serasa serius juga. Seorang pejabat nomor satu di sebuah provinsi mengusulkan agar gaji dan tunjangan presiden diturunkan. Begitu juga gaji dan tunjangan anggota DPR. Wow, usulan yang pasti sangat menarik bagi rakyat saat ini. Di saat gencarnya usulan anggota dewan terhormat itu untuk menaikkan gaji atau tunjangan, tiba-tiba ada usulan sebaliknya maka jelas saja usulan itu menjadi aneh tapi juga tepat waktunya.

Rabu, 16 September 2015

Ketika MKKS Belajar ke Malaysia

JANGAN malu, kalau dikatakan kita ingin belajar ke Malaysia. Dulu, sekitar tahun 70-an, orang-orang Malaysia memang belajar kepada orang-orang Indonesia. Para guru dari Tanah Air ini, banyak diminta menjadi guru di negeri jiran itu. Orang-orang Malaysia sendiri, juga berbondong-bondong datang ke Indonesia untuk menimba ilmu. Sebagai 'saudara tua', Malaysia memandang Indonesia sebagai negara yang lebih dulu berpengetahuan dan berpengalaman.

Pandangan orang-orang Malaysia yang menganggap Indonesia lebih maju, waktu itu lebih berpendidikan bisa jadi karena usia kemerdekaan Indonesia memang jauh lebih tua dari pada Malaysia. Berbanding kemerdekaan yang dierpoleh Malaysia pada tahun 1957 dengan kemerdekaan Indonesia yang diproklamasikan pada tahun 1945, tentu saja jarak itu cukup lama. Malaysia menyebut Indonesia sebagai saudara tua, itu adalah fakta. Dan karena itu pula Indonesia dijadikan temapt berguru, itu juga fakta.

Jadi, tidak salah jika di tahun-tahun 70-an itu Malaysia menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara tempat belajar. Saya tidak tahu persis berapa angka dan jumlah orang Malaysia yang belajar dan menimba ilmu ke Indonesia dan berapa banyak pula orang Indonesia yang mendedikasikan dirinya untuk menjadi guru orang Malaysia. Yang pasti, saat itu begitu banyaknya para guru Indonesia yang menjadi guru untuk Malaysia. Baik datang langsung ke Malaysia (diminta atau atas keinginan sendiri) atau menjadi guru/ dosen di Indonesai dengan siswa atau mahasiswanya dari Malaysia. Pokoknya bangsa kita masih merasa di atas 'saudara muda' itu dalam hal pendidikan.
Berpose di Halaman Masjid Putera, Malaysia

Tapi itu dulu, ya 30-40 tahun silam. Kini, bahkan sejak 10-an tahun lalu, pandangan bahwa Indonesia lebih maju dari pada Malaysia dalam hal pendidikan dan pengajaran, sudah tidak terdengar lagi. Perkembangan dan kemajuan negeri jiran itu terbukti jauh lebih cepat dari pada Indonesia. Malah tidak hanya di bidang pendidikan, hampir di semua bidang Malaysia dan penduduknya sudah kelihatan lebih maju.

Jika saat ini kita datang ke Malaysia, kita malah merasa betapa kita sudah ditinggal jauh oleh orang Malaysia. Kehidupan sosial masyarakat, ekonomi, pendidikan dan berbagai bidang lain terasa sekali perbedaannya. Ketika di pasar, di terminal atau di mana saja, rasa waswas itu lebih sedikit berbanding jika berjalan di kota-kota besar Indonesia. Jangan bandingkan dengan Jakarta, keamanan di Kuala Lumpur, misalnya. Ingin berbelanja? Di setiap daerah (setingkat kecamatan, apalagi kabupaten) ada tempat berbelanja apa saja. Sudah bersaih, tertata rapi lagi. Ah, saya jadi berlebihan menilainya. Yang jelas, memang sudah begitu ketara kelebihan negeri tetangga itu berbanding negeri kita. Terlebih di bidang pendidikan.

Itulah sebabnya mengapa saat ini, justeru orang-orang Indonesia yang pergi belajar ke Malaysia. Jumlah mahasiswa Indonesia dari tahun ke tahun terus meningkat untuk belajar ke Malaysia. Jika dulu mereka ke sini, kini justeru kita yang menuntut ilmu ke sana. Untuk sekadar rekreasi sambil menimba ilmu serta mencari pengalaman, kita juga semakin suka datang ke sana. Apalagi masyarakat Kepri, khususnya Karimun. Hampir setiap bulan ada saja rombongan orang Karimun yang berkunjung ke sana.Entah sudah berapa banyak devisa kita disedot negara jiran itu.

Menyaksikan Pembuatan Cokelat di Malaysia
Di pertengahan September 2015 lalu, milsanya serombongan Kepala Sekolah dari Kabupaten Karimun, kembali berkunjung ke negeri melayu itu. Para Kepala Sekolah yang tergabung dalam MKKS (Musyawarah Kerja Kepala Sekolah) SMA/ MA Kabupaten Karimun memanfaat waktu kunjungan studi bandingnya ke negeri Najib Tun Razak itu. Jika tahun lalu, anggota MKKS ini mengunjungi beberapa sekolah di Jogyakarta, maka tahun disepakati pula untuk belajar ke Malaysia. Para Kepala Sekolah ini pergi ke Sekolah Menengah Kebangsaan Sains Kota Tinggi, Johor. Sekolah ini adalah salah satu dari 68 sekolah berasrama penuh (SBP) yang ada di Malaysia. SBP adalah semacam sekolah unggul yang hanya menerima calon siswa yang 'cemerlang' saja.

Ke sinilah rekan-rekan Kepala Sekolah berkunjung. Meskipun perjalanan ini lebih banyak waktu untuk rekreasinya, namun pembelajaran yang dapat diserap ketika berkunjung ke sini sungguh sangat banyak. Para Kepala Sekolah ini mengetahui bagaimana mengelola sekolah dengan baik. Bagaimana Pemerintah Malaysia mengelola sekolah-sekolah dengan status SBP itu. Meskipun dikatakan 'tidak sekolah gratis' namun hampir 90 persen biaya operasional sekolah diberikan oleh pemerintah. Partisipasi orang tua lebih bersifat suka rela saja.

Pada saat bersamaan, ternyata serombongan Kepala Sekolah lainnya juga pergi ke sana. Rombongan kedua yang kebetulan bertemu di Pelabuhan Puteri Harbour, Johor Malaysia, itu adalah para Kepala Sekolah yang tergabung ke dalam K3S (Kelompok Kerja Kepala Sekolah) SD se-Kundur. Meskipun tidak mengunjungi sekolah di sana, tapi mereka juga belajar di Malaysia dengan menyaksikan berbagai kemajuan. Jadi, tidaklah salah jika orang Indonesia mau belajar ke Malaysia. Dan itulah yang coba dilakukan oleh para Kepala Sekolah yang tergabung dalam MKKS dan K3S itu. Mari, kita jangan malu untuk belajar di mana saja. Termasuk ke negara yang dulu belajar ke kita.*** 

Kamis, 10 September 2015

Mengurus Ormas Bisa Lemas

SETELAH sangat lama tidak berjumpa, sore Ahad (06/ 09) akhirnya terjadi juga. Tadinya, memang tidak lagi terpikirkan untuk membuat pertemuan, tapi momen Syawal, Zulhijjah dan Pilkada menjadi alasan juga. Dengan berbagai usaha, helat berlabel "Halal bi Halal dan Silaturrahim' yang disejalankan dengan 'Pelepasan Haji warga IKK' itu terlaksana juga.

Yang dimaksud sudah sangat lama 'tidak berjumpa' di awal alinea di atas adalah pertemuan rutin anggota IKK (Ikatan Keluarga Kampar) Kabupaten Karimun yang kebetulan masih saya ketuanya, yang memang sudah lama sekali tidak diadakan. Pengurus dan anggota dengan alasan kesibukan, sudah sangat lama tidak mengadakan pertemuan.

Dulu, awal-awal saya dipercaya menjadi peneraju organisasi perkumpulan orang-orang yang berasal dari Kabupaten Kampar (Riau) itu, pertemuan rutin setiap bulan selalu diadakan. Sejak terpilih di penghujung 2011 hingga menjelang 2013 itu, rutinitas pertemuan selalu terlaksana. Dengan menggunakan gedung Batobo, gedung yang memang menjadi kebanggaan masyarakat Kampar pertemuan bulanan tetap terlaksana di hari Ahad, pekan terakhir setiap bulannya. Tapi sejak akhir 2013 itu, sepertinya perkumpulan ini bagaikan 'kerakap tumbuh di batu, mati tak hendak hidup pun tak mau'.

Itulah kenyataan yang ada. Sebagai ketua yang merasa periodisasinya sudah habis, saya meminta kepada semua rekan-rekan pengurus lain dan anggota agar segera mengadakan rapat/ musyawarah besar untuk membentuk kepengurusan baru. Tentu saja para pengurus yang ada wajib menyampaikan laporan pertanggungjawaban kepengurusannya sebelum membentuk pengurus baru. Tapi itu, sampai pada tahun 2015 ini, rapat itu tidak pernah terlaksana.

Sampailah momen Pilkada tiba. Kita tahu, di penghujung tahun 2015 ini akan ada Pilkada serentak (bupati/ wali kota dan gubernur) yang sudah menjadi ketentuan pemerintah. Semua daerah di Tanah Air ini akan mengadakan Pilkada untuk kembali memilih pemimpinnya. Tidak terkecuali Karimun.

Nah, bersamaan dengan datangnya Syawal sebagai penutup Ramadhan lalu itu, tiba-tiba saja beberapa pengurus ingin menjadikan momen Syawal itu sebagai kesempatan untuk mengadakan pertemuan warga IKK. Mengapa perlu ada pertemuan? Inilah titik kuncinya. Semua organisasi masyarakat, terutama yang menyangkut kelompok masyarakat dengan suku-suku/ etnis yang ada di Karimun, semuanya sudah menyatakan sikap dalam menghadapi Pilkada itu.

Jika masyarakat Kampar tidak memberikan sikapnya, tentu saja akan merugikan warga IKK sendiri. Sebagai organisasi yang sudah ada sejak lama (sekitar 80-an sudah ada) tentu saja akan rugi sekali jika tidak memperlihatkan eksistensinya. Padahal beberapa organisasi yang sama dari daerah lain, sudah memberikan sikap walaupun baru beberapa bulan saja berdirinya.

Maka disepakatilah pertemuan Ahad itu dengan membuat acara silaturrahim dan halal bilhalal yang juga disejalankan dengan pelepasan haji dari warga IKK. Jadi, kombinasi Syawal dan Zulhijjah dalam menyongsong Pilkada itulah yang menjadi latar belakang terwujudnya pertemuan IKK ini. Dengan harapan pertemuan ini nanti akan menjadi pintu pembuka untuk kembali menghidupkan organisasi masyarakat ini. Bisakah?

Inilah pertanyaan kunci yang sebenarnya merisaukan. Sepertinya para pengurus harus benar-benar siap untuk berpeluh-peluh bahkan berdarah-darah lagi jika tetap ingin menghidupkan organisasi seperti ini. Mengurus ormasy seumpama persatuan orang kampung ini memang tidak mudah. Benar-benar akan membuat pengurusnya 'lemas' jika tidak siap mental, pikiran, pisik bahkan harta-benda. Mengurus organisasi orang kampung alias persatuan kedaerah memang tidaklah mudah. Harus sepenuhnya menggunakan perinsip keikhlasan.

IKK yang berdiri sejak lama, sudah berganti-ganti pengurus beberapa kali. Satu kendala yang selalu terasa adalah jika ingin mengadakan rapat-rapat atau pertemuan-pertemuan rutin yang sudah disepakati. Yang akan hadir selalu hanya beberapa orang saja. Dan orangnya akan selalu itu,itu saja. Jadi, apakah pertemuan silaturrahim dalam rangka halal bihalal dan mengantar jamaah haji ini akan mampu mengembalikan semangat anggota dan pengurus untuk berkegiatan lagi? Bisakah? Pertanyaan yang tidak akan mudah menjawabnya. Yang pati, mengurus ormas memang bisa membuat lemas.***

Minggu, 06 September 2015

Bupati: Menjaga Haji

PESAN utama bupati, malam --Sabtu, 05/09/15-- ini adalah agar para Jamaah Calon Haji (JCH) Kabupaten Karimun saling menjaga satu sama lain. "Jangan berharap segalanya kepada TPHD," pesannya sambil menyebut salah seorang CJH yang kebetulan ditugaskan sebagai petugas haji daerah tahun ini. Sebaiknya saling menjaga satu sama lain, begitu pesannya lagi.

Kamis, 03 September 2015

Belajar dan Praktek Berparlemen di Sekolah

PERIODISASI kepengurusan OSIS (Organisasi Siswa Intra Sekolah) biasanya diawali dengan pemilihan kepengurusan OSIS. Proses pemilihan kepengurusan OSIS adalah suasana yang ditunggu-tunggu sebagian besar, bahkan seluruh siswa (peserta didik) terutama di tingkat SLTA (Sekolah Lanjutan Tingkat Atas) seumpama SMA, SMK atau MA. Lazimnya, suasana dan masa-masa pemilihan kepengurusan OSIS yang disebut juga dengan istilah Pemilu Osis, selalu menjadi daya tarik tersendiri bagi siswa.

Kebanyakan sekolah melakukan pemilihan pengurus OSIS adalah pada bulan Agustus atau September setiap tahunnya. Tapi ada pula yang melaksanakannya di bulan Juli, di awal Tahun Pelajaran baru atau di bulan-bulan lainnya sesuai kalender kegiatan sekolah masing-masing. Tentu saja tergantung kepada sekolah masing-masing pula. Tapi kebanyakan sekolah konon melaksanakannya di bulan September. Biasanya untuk menyesuaikan dengan kalender kegiatan kesiswaan yang di bulan Agustus selalu padat.

Mengapa di bulan Agustus padat? Karena lazimnya berbagai pertandingan antar sekolah atau di intern sekolah sering diadakan di bulan Agustus, bulan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia itu. Dan setelah berbagai kegiatan itu usai, tugas dan tanggung jawab pengurus OSIS periodisasi tahun bersangkutan dianggap selesai. Masa baktinya selesai dan dipilihlah pengurus baru.

Seperti dilaksanakan oleh siswa/ wi SMA Negeri 3 Karimun pada hari Selasa, 1 September 2015 lalu, sekitar 40-an siswa berkumpul di ruang rapat sekolah. Mereka adalah para aktivis sekolah yang tergabung dalam kepengurusan OSIS SMA Negeri 3 Karimun. Mereka mengadakan kegiatan yang mereka beri nama Musyawarah Siswa (Musywa), sebuah kegiatan rapat yang diikuti oleh para perwakilan kelas yang tergabung dalam Majelis Permusyaratan Kelas (MPK). MPK adalah kelompok organisasi yang mewakili siswa di setiap kelas untuk membuat rencana kegiatan dan rencana pengawasan pelaksanaan kegiatan OSIS. MPK pula yang diberi amanah untuk memilih para pengurus OSIS.

Kegiatan di hari pertama September itu adalah kegiatan awal dari rencana pemilihan pengurus OSIS untuk periode 2015/ 2016 yang akan dilaksanakan dalam beberapa hari ke depan. Dalam Musyawarah Siswa yang dibuka oleh Kepala Sekolah diadakan beberapa acara seperti 1) Laporan Pertanggungjawaban OSIS periode 2014/ 2015; 2) Pembahasan dan Pandangan terhadap Laporan Pertanggungjawaban Pengurus OSIS; 3) Menyusun Renccana Kegiatan OSIS untuk pengurus OSIS  periode 2015/ 2016; dan beberapa mata acara lainnya sebagaimana dilaporkan oleh Ketua Panitia Musywa.

Tentu saja apa yang dilakukan para siswa ini cukup menarik dan bagus sekali untuk pembelajaran berorganisasi bagi siswa. Tidak sekadar belajar teori berorganisasi, tapi para siswa, generasi muda calon pemimpin masa depan ini juga mempraktekkan bagaimana berorganisasi dengan baik. Mereka bagaikan sebuah parlemen yang berfungsi semacam legislatif dalam sebuah negara. Jika Pemerintah adalah eksekutif, maka di sekolah eksekutif itu adalah Ketua OSIS dan jajarannya sementara Ketua MPK dan jajarannya adalah semaca parlemennya. Mereka sudah mebuktikan bahwa mereka bisa mempraktekkan model berparlemen di sekolah.

Kepala Sekolah dan Waka Kesiswaan saat Pembukaan
Dalam sidang-sidang yang mereka lakukan, mereka juga membagi kelompok (semacam fraksi) yang terdiri dari kelompok berdasarkan tingkatan kelas. Ada utusan dari kelas X (sebanyak lima kelas) dan ada pula utusan dari kelas XI dan kelas XII yang masing-masing terdiri dari empat kelas. Gabungan utusan kelas inilah yang melakukan persidangan untuk melaksanakan semua kegiatan yang sudah dijadwalkan.

Wakil Kepala Sekolah Kesiswaan, Ibu Desseriyani dan Pembina OSIS, Pak Beny yang melaporkan kegiatan itu kepada Kepala Sekolah menyatakan bahwa kegiatan seperti ini baru untuk pertama kali dilakukan oleh OSIS SMA Negeri 3 Karimun. Selama ini bentuk musyawarah siswa hanya berupa rapat-rapat biasa dalam rangka pemiloihan Ketua dan Pengurus OSIS lainnya. Rapatnya pun selalu langsung oleh guru.

Semoga saja pembaharuan ini menjadi langkah awal yang baik buat para siswa, khususnya di Tingkat SLTA untuk membuktikan kemampuan berorganisasi mereka. Sebagai satu-satunya organisasi siswa yang sah di sekolah, kiranyaOSIS benar-benar menjadi tempat para peserta didik belajar dan berpraktek dalam berorganisasi. Bagaimanapun, suatu saat nanti mereka tetap akan menghadapi masalah-masalah yang kurang lebih sama dengan yang mereka hadapi dewasa ini.***
 
Copyright © 2016 koncopelangkin.com Shared By by NARNO, S.KOM 081372242221.