BREAKING NEWS

Kamis, 27 Agustus 2015

Lomba Domino Menjaga Semangat

DALAM rangka memperingati dan memeriahkan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan RI selalu ada pertandingan atau lomba berbagai hal. Ada olahraga, ada kesenian dan ada juga kreativitas dan atau keterampilan tertentu lainnya. Dimana-mana selama bulan Agustus, bulan proklamasi kemerdekaan bangsa Indonesia akan ditemukan bermacam permainan masyarakat. Pokoknya ada saja yang mengadakan berbagai kegiatan. Dari kampung hingga ke kota, aneka lomba akan selalu ada.

Damai di Pentas, Damai di Kotak Suara

PAGI Kamis (27/ 08) ini bertempat di pentas Puteri Komuning Coastal Area Karimun, telah dilaksanakan Deklarasi Pilkada Damai. Kegiatan yang dilaksanakan oleh KPU (Komisi Pemilihan Umum) Kabupaten Karimun dengan penanggung jawab kegiatan oleh Polres Karimun diikuti oleh tiga pasangan calon bupati/ wakil bupati Karimun yang akan bertarung pada Desember 2015 nanti.

Sesuai nomor urut yang sudah ditetapkan sehari sebelumnya oleh KPU Karimun, ketiga pasangan calon yang membuat pernyataan pada Deklarasi Damai itu adalah pasangan Aunur Rofiq- Anwar Hasyim, Agusriono-Darwis dan R. Usman- Zulkaenen yang sudah ditetapkan KPU. Ketiga pasangan calon menghadiri acara yang dihadiri oleh para pejabat di lingkungan Pemda Karimun. Tampak hadir antara lain, Sekda Karimun, H. TS. Arif Fadhillah yang mewakili Bupati Karimun, para pimpinan Forum Kepemimpinan Daerah, para anggota DPRD Karimun, pimpinan partai politik, tokoh masyarakat dan pimpinan organisasi masyarakat yang ada di Pulau Karimun.

Hanya ada sambutan Kapolres, AKBP I Made Sukawijaya di awal acara setelah dikumandangkannya Lagu Indonesia Raya. Selanjutnya sambutan Ketua KPU dan Bawaslu yang dilanjutkan dengan pengucapan 'pernyataan damai' oleh ketiga pasangan calon yang dipandu oleh seorang pembaca teks deklarasi damai itu. Bupati yang diwakili Sekretaris Daerah, kelihatannya memang hanya hadir untuk memenuhi syarat kelengkapan pejabat pada acara yang sungguh penting itu.

Semua undangan, semua peserta dan semua yang hadir pada acara pagi ini bertepuk gembira sejenak pembacan deklarasi. Tentu saja sorak-sorai gembira itu pertanda senangnya hadirin dengan tekad yang diucapkan itu. Semua calon, semua partai pendukung dan semua rakyat pendukung masing-masing berarti menyambut baik tekad damai itu. Semuanya berjanji untuk tidak akan membuat kerusuhan dan keributan pada Pilkada yang akan dilaksanakan serentak pada 9 Desember 2015 nanti.

Pilkada serentak, inilah pertama kali diadakan di Indonesia. Dari provinsi (pemilihan gubernur/ wakilnya) hingga ke kabupaten/ kota untuk menentukan seorang bupati/ wakilnya dan atau wali kota/ wakilnya akan dilaksanakan pada hari dan tanggal yang sama. Ini tentu saja pengalaman baru bagi bangsa dengan begitu banyak provinsi dan kabupaten/ kota se-Indonesia.

Kata Kapolres Karimun di awal sambutannya, Pilkada ini tentu saja berpotensi untuk mendatangkan keributan, perselisihan pendapat, bahkan perseteruan yang berakhir dengan permusuhan. Maka, inilah momen untuk menyatukan tekad untuk berjanji damai. "Siapapun pemenangnya nanti, semuanya harus menerima dan mendukungnya." Begitu pesan Pak Kapolres.

Tiada yang diharapkan dalam Pilkada nanti selain Pilkada yang damai. Damai di pentas, sebagaimana pagi ini, damai pula hendaknya di arena Pilkada nanti. Ketika pencoblosan berlangsung, semoga damai. Ketika kota suara disi dan dibuka lagi untuk dihitung kertas suaranya, diharapkan itu juga damai. Jadi, damai di pentas dan damai juga di kota suara.

Tidak diharapkan nantinya sampai terjadi intrik dan perselisihan yang mengarah ke perpecahan. Pilihan boleh berbeda, harapan juga boleh pada calon yang tidak sama. Tapi ketika KPU nanti sudah menetapkan salah satu pasangan sebagai pemenangnya, maka marilah kita semua mendukungnya. Itulah yang diharapkan dari Pilkada itu nanti. Sekali lagi, 'damai di atas pentas, damai pula di kotak suara'. Amin.***


Selasa, 25 Agustus 2015

Ternyata Tidak Bisa Juga

TADINYA saya berpikir dan berharap setelah berpesan agar peserta gerak jalan 45 utusan sekolah saya tahun ini murni. Yang saya maksud murni di sini adalah bersih dari tradisi 'curang-curangan' peserta dan panitia. Selama ini, yang saya tahu terbukti bahwa nilai-nilai perjuangan 45 yang diimplementasikan dalam gerak jalan 45 KM itu selalu dikotori. Pokoknya tidak bisa murni. Tentu saja ini membuat hati sedih.

Seperti selalu saya nyinyirkan bahwa gerak jalan 45 ini sudah dikotori oleh kecurangan-kecurangan dan sikap kotor dalam pelaksanaannya. Selalu terjadi penggantian peserta di tengah jalan, ketika panitia tidak melihatnya. Dari 11 (sebelas) orang anngota regu yang terdaftar dan melakukan start, ternyata sampai ke garis finish, mereka sudah berganti beberapa kali dengan orang-orang yang berbeda. Tentu saja, namanya saja lagi yang tinggal Gerak Jalan Empat Lima yang berarti jarak tempuh gerak jalannya seharusnya 45 KM. Tapi itu tadi, ternyata pesertanya tidak benar-benar berjalan sejauh 45 km karena adanya penggantian peserta di tengah perjalanan itu. Inilah yang saya maksud tidak murninya pelaksanaan gerak jalan ini.

Setiap tahun saya selalu menyatakan ketidaksetujuan terhadap kebijakan boleh bergantinya peserta gerak jalan 45 ini. Saya memang mendengar bahwa panitia ternyata memang memberikan kesempatan berganti peserta ketika di perjalanan. Pastilah maksudnya agar peserta ini tidak terlalu berat dalam menjalani jarak yang lumayan jauh itu.

Informasi resmi perihal penggantian peserta memang tidak pernah sampai ke sekolah secara tertulis. Tapi dari beberapa sumber, termasuk dari para guru olahraga yang ikut menjadi panitia, kebijakan penggantian ini memang resmi dari panitia. Awal-awal dulu, konon boleh diberikan dua orang pengganti. Lalu bertambah menjadi bertiga orang. Dan tahun ini kabarnya malah bertambah menjadi empat orang. Selebihnya dianggap tidak legal. Tapi tetap saja terjadi penggantian tidak resmi (melebihi jatah) karena panitia memang tidak mampu dan tidak berusaha agar gerak jalan bergengsi ini murni dari kecurangan anggota yang berganti. Padahal sejatinya, sama sekali tidak boleh ada yang diganti.

Untuk tahun 2015 ini, secara khusus saya meminta siswa-siswa saya di SMA Negeri 3 Karimun untuk membuktikan bahwa mereka bisa murni anggota hanya sejumlah sesuai ketentuan saja. Mereka sudah berjanji. Mereka mengatakan tidak akan ada anggota yang berganti di perjalanan sesuai permintaan Kepala Sekolah.

Untuk tahun 2015 ini, secara khusus saya meminta kepada anak-anak saya di SMA Negeri 3 Karimun untuk mencoba mengikuti gerak jalan ini dengan jujur dan murni saja anggotanya sebanyak ketentuan. Saya mencoba meminta mereka untuk benar-benar berjalan sejauh 45 KM itu. Dan mereka berjanji akan melakukan yang murni itu.

Ternyata eh ternyata, harapan saya hanya tinggal harapan. Informasi yang dapat saya percaya menjelaskan kepada saya bahwa hampir semua peserta --regu laki-laki-- itu berganti orang pada jam-jam tertentu. Setelah mereka berjalan dalam gerak jalan itu ternyata hanya tinggal janji saja untuk tetap sejumlah waktu start. Mereka ternyata tidak bisa membuktikan janji kepada saya bahwa mereka tidak akan mengganti anggota.

Saya memang tidak terlalu sedih dan terkejut, ketika pagi hari menjelang garis finish saya memperoleh informasi bahwa anak-anak saya ternyata tetap saja berganti orang. "Hampir semuanya bergantian dalam perjalanan, Pak." Begitu penjelasan dari salah seorang siswa yang malam itu dia bertindak sebagai pengiring. Siswa pemberi informasi ini memang tidak tahu kalau saya ada semacam janji dengan peserta gerak jalan. Sekali lagi, saya sama sekali tidak sedih.
Yang melakukan kecurangan penggantian peserta ternyata --seperti tahun-tahun sebelumnya-- bukan hanya siswa/ wi saya, dari SMA Negeri 3 Karimun saja. Justeru regu sekolah-sekolah lainnya lebih parah. Begitu kata anak-anak saya bagaikan membela diri, ketika saya bertanya baik-baik perihal penggantian peserta itu. Bahkan ada sekolah yang mengganti anggotanya sampai satu regu. Haha. Benarkah?

Akhirnya saya hanya berdoa saja, semoga suatu hari nanti, panitia pelaksana gerak jalan 45 Kabupaten Karimun mengubah cara bverpikirnya. Tidak lagi sekadar untuk menggembirakan dan memperbanyak peserta saja. Nilai-nilai kepahlawanan dan perjuangan yang terkandung dalam lomba gerak jalan itu benar-benar dapat dibuktikan. Artinya, seluruh peserta wajib benar-benar  berjuang keras untuk berhasil dalam lomba gerak jalan ini. Jangan lagi menggunakan mental 'asal menang' saja. Ini bukan mental bernilai kepahlawanan. Jujurlah dalam berlomba. Itu saja. ***

Minggu, 23 Agustus 2015

Agar Dolar Terkapar?

WALAU akan selalu dikatakan mustahil, sebenarnya dolar (mata uang Asing pada umumnya) di Indonesia bisa dibuat terkapar alias anjlok alias turun alias tak laku berbanding rupiah. Haha, bagaimana caranya? Sudah banyak para ekonom dan ahli strategi keuangan berbicara dan memberikan tipnya, harga dolar tetap saja melambung. Dari sehari ke sehari, nilai tukar rupiah kian jeblok saja berbanding mata uang lainnya. Masih percaya dolar bisa dibuat turun nilainya berbanding rupiah?


Numpang pendapat para ahli, jika ingin menghindari krisis ekonomi (krismon) seperti kemarin-kemarin itu, ya tingkatkan ekspor, stop impor terutama barang-barang konsumtif, produksi sebanyak-banyaknya barang konsumsi alias kebutuhan dalam negeri oleh bangsa sendiri, jangan pernah menggunakan dolar ketika bertransaksi alias pakai rupiah saja, dst dst... Inilah beberapa saran dan pandangan mereka yang dapat kita baca atau terdengar lewat media. Tapi apakah semudah itu? Nah itu dia masalahnya.

Untuk meningkatkan ekspor, ternyata ada banyak lika-liku jalannya untuk bisa melakukannya. Bukan saja karena nilai rupiah yang masih dianggap mahal oleh para pembeli barang-barang Indonesia di luar sana, akan tetapi juga prosedur eksport yang sengaja dibuat berbelit-belit oleh bangsa Indonesia sendiri. Belum lagi mutu barang-barang Indonesia yang selalu disebut rendah oleh bangsa Asing mutunya. Ujung-ujungnya eksport itu tidak selalu mulus jalannya.

Dan ketika eksport sudah berjalan, ternyata para eksportir (pengusaha) kita tidak pula suka langsung membawa hasil jualannya (yang jelas dalam bentuk dolar) itu ke dalam negeri. Dengan iktikad yang sedikit licik dan busuk, uang-uang hasil eksportnya diparkir di bank-bank luar negeri sana. Jadinya, jumlah dolar di Indonesia juga tidak bertambah. Nah, itu tentang eksport yang harusnya menjadi salah satu instrumen menekan harga dolar di dalam negeri.

Terus bicara larangan impor barang-barang konsumsi, juga bukanlah perkara mudah. Aneh tapi nyata, inilah fakta kalau bicara inport. Bayangkan, barang-barang kebutuhan sehari-hari yang seharusnya bisa diproduksi di dalam negeri, eeh malah terus didatangkan dari negara asing. Makan pokok seperti beras, jagung, gandum, sagu dan entah apa lagi yang sejatinya tumbuh subur di Indonesia ini, tapi nyatanya tidak juga bisa menghasilkan untuk makan sendiri. Selalu ada alasan untuk mendatngkan beras dari luar negeri. Alasan 'gobloknya' adalah kelangkaan di dalam negeri.  Masih ingat, kan masalah daging  yang dengan tanah seluas dan sesubur Indonesia tidak juga bisa memelihara hewan penghasil daging untuk makan sendiri.

Andai saja barang-barang ini dilarang mengimpornya karena memang  ada produksi dalam negerinya, tentu saja kita tidak akan pernah memerlukan dolar untuk membelinya. Dampak lebih jauhnya, barang-barang makanan apapun yang berasal dari produksi dalam negeri tadi, otomatis akan memperkuat rupiah karena memang tidak diperlukan dolar untuk menghasilkannya. Dengan begitu, langkah kedua ini akan jelas-jelas membuat dolar akan terkapar.

Masih ada satu usul para ahli ekonomi untuk membuat dolar tidak akan berkutik di dalam negeri, yakni dengan sikap 'jangan memakai dolar dalam bertransaksi'. Saat ini, ternyata masih sangat banyak orang Indonesia yang hanya sekadar ikut-ikutan memakai dolar dalam bertransaksi. Seperti di Kepri (Batam, Karimun, Tanjungpinang, dll) misalnya, terbukti ada banyak masyarakat Indonesia yang justeru memakai dolar (Amerika atau Singapura) sebagai patokan dalam berjualan. Untuk membeli barang-barang di kedai keturunan China, misalnya selalu saja yang empunya kedai menghitung dan mematok harga barangnya dengan menghitung kurs dolar terakhir. Pada saat harga dolar berubah-ubah seperti saat ini, harga barang-barang di kedainya juga berubah-ubah. Padahal jelas itu adalah produksi dalam negeri.

Atas beberapa tip para pakar itu, akhirnya yang akan menentukannya adalah diri kita sendiri. Selama kita tidak 'sangat' mencintai uang dan negara sendiri, maka selama itu pula kita akan mencari-cari alasan untuk membuat rupiah terpuruk. Sebaliknya jika masyarakat Indonesia tidak mau menyandarkan dan menggantungkan kebutuhan dan kehidupannya kepada Asing, maka insyaallah dolar itu akan terkapar di Indonesia. Mengapa juga kita sibuk memikirkan dolar Amerika atau dolar Singapura itu? Mari dipakai saja rupiah kita, selesailah masalahnya. Sekali lagi, tentu saja barang-barang kebutuhan sehari-hari rakyat jangan pernah diimport lagi. Bisa? Terserah kita.***

Jumat, 21 Agustus 2015

Lagi, Duka dari Rumah Sakit Kita

UNTUK keseribu atau dua ribu atau entah untuk keberapa kali duka ini terlukis di media atau dari mulut ke mulut kita. Sudah tidak terhitung berapa kalinya. Setiap kali kita mendengar atau menyaksikan langsung, setiap itu pula dia akan berulang. Kita boleh terus mengaduh dan berkeluh-kesah, tapi duka ini akan tetap saja ada.


Suatu kali saya bercerita tentang pengalaman saya mengobat isteri saya (yang pertama) beberapa waktu dulu. Saya ingat waktu itu, dia akan melakukan pengikatan saluran rahim. Ingat saya istilah dokternya tubektomi alias sterilisasi. Isteri saya minta tindakan tubektomi pasca melahirkan anak kami yang ketiga. Waktu itu, dia benar-benar sangat berat saat melahirkan Opy, anak kami itu. Dua anak kami sebelumnya memang lancar-lancar saja persalinannya. Begitu sulitnya melahirkan anak ketiga ini, dia langsung menyetujui untuk sterilisasi saja berbanding kontrasepsi lainnya selama ini. 

Sebenarnya saya juga tidak keberatan untuk program sterilisasi karena kami sudah sepakat untuk punya anak cukup tiga saja. Setelah anak ketiga kami lahir, kami memang sudah sepakat untuk distop saja. Saya ingat istilah strelisasi untuk laki-laki itu disebut vasektomi. Tapi isteri saya waktu itu justeru meminta dia saja yang diseterilkan. Jadilah dia menjalani program tubketomi itu.

Duka dan kecewa yang kami alami waktu operasi tubektomi itu adalah karena begitu rumit dan ruwetnya prosedur untuk melakukannya di rumah sakit kita. Rumah sakit Pemerintah pula. Sebagai seorang PNS yang sudah membayar asuransi kesehatan lewat gaji dalam puluhan tahun lamanya, rasanya pengalamanb pahit itu benar-benar menyakitkan.

Ternyata, rasa sakit hati dalam pengalaman operasi tubektomi itu bukan untuk yang pertama dan terakhir yang kami alami. Justseri rasa pedih yang dalam itu saya rasakan ketika pada tahun 2011, bulan April tanggal 16 sore  Sabtu itu. Saat itu saya membawa isteri saya yang koma sejak dari rumah, sekitar sepuluh menit sebelumnya. Dia tiba-tiba sesak nafas pasca solat magrib itu, dan lalu saya bersama dua anak saya membawanya ke rumah sakit yang tidak terlalu jauh dari rumah kami.

Saya berharap dan begitulah seharusnya, isteri saya akan ditangani secepat yang saya harapkan mengingat dia sedang tidak siuman sejak dari rumah. Eeh, ternyata petugas di ruang UGD itu sama sekali tidak menunjukkan kegesitannya dalam bergerak dan menyambut istseri yang sudah berada di kasur kereta dora. Mereka yang bertugas malam itu benar-benar lamban dalam bertindak. Dan isteri saya memang menghembuskan nafas terakhirnya sore itu. Sungguh sangat memdihkan cara mereka bekerja, menurut saya.

Pengalaman buruk saya tidaklah cukup itu saja. Masih ada dua pengalaman lain yang saya rasakan di rumah sakit terbesar di kabupaten berazam itu. Pertama saat saya mengantarkan ibu mertua saya (isteri kedua) untuk berobat. Entah karena menggunakan kartu Askes atau karena apa, yang pasti saya merasakan langsung betapa lamanya urusan berobat itu. Mulai dari proses mendaftar hingga berjumpa dokternya, saya menilai itu keterlaluan lambannya. Lalu pengalaman kedua adalah ketika saya membawa isteri saya (yang sekarang) untuk menjalani ronxent di rumah yang sama. Subhanalloh, isteri saya harus mengalami dua kali ronxent untuk satu pemeriksaan itu. Padahal yang saya tahu, tidak boleh dua ronxen dalam waktu berdekatan. Tapi mau apa lagi? Inilah rumah sakit kita. Tidak ingin mengeluh, tapi benar-benar menyakitkan.

Di sisi lain, ketika saya berobat ke rumah sakit di luar sana, mengapa mereka begitu cepat dalam bertindak? Mengapa tidak ada alasan dokter sedang bertugas di tempat lain atau alasan dokter belum datang, seperti lazimnya alasan rumah sakit kita? Beberapa kali saya berobat dan memeriksakan badan di rumah sakit Malysia (Johor atau Malaka) misalnya, selalu saja terasa pelayannya memuaskan kita. Mengapa kita tidak bisa melakukan hal yang sama? Ah, inilah rumah sakit kita.

Dan yang membuat rasa duka sekaligus melahirkan tulisan ini adalah kejadian terakhir yang dialami salah seorang siswa SLTA di Karimun, berbarengan perayaan tujuhbelasan Agustus lalu. Anak laki-laki itu mengalami kecelakaan lalu lintas, terjatuh dari kendaraan roda dua di Costal Area, arena kermaian sekaligus tempat upacara tujuhbelasan. Karena  agak berat (kaki dan tangannya patah) maka oleh salah satu Ormas yang membawa anak itu ikut upacara tujuhbelasan menyarankan untuk dibawa ke Batam saja. Tentu saja maksudnya karena rumah sakit di Batam jauh lebih besar dan lebih lengkap dari pada di Karimun.

Apa yang terjadi? Hingga dua hari anak itu tidak diapa-apakan oleh dokter atau perawat di sana. Alasannya sangat memilukan, karena orang tuanya tidak mampu menunjukkan biaya. Tersebab pensiunan Bea Cukai itu hanya membawa kartu Askes yang katanya sudah mati, maka tertahanlah pasien itu hingga dua hari. Oleh pihak rumah sakit kita, bapak pensiunan itu disuruh mengurus BPJS untuk mendapatkan kartu. Sungguh kebijakan yang bertentangan dengan perikemanusiaan. Tidakkah sebaiknya pesien itu ditangani terlebih dahulu? Masalah duit boleh diselesaikan setelah tindakan yang berkategori darurat itu.

Sekali lagi, inilah rumah sakit kita. Selalu saja meninggalkan luka duka di hati rakyatnya. Tidak seharusnya kita bercerita jeleknya rumah sakit kita. Tapi jika didiamkan, para dokter, para perawat atau pejabat yang mengurus rumah sakit kita itu tidak akan pernah tahu keluhan rakyatnya. Semoga catatan kecil ini tidak disalahkan. Lihatlah secara positif.***

Rabu, 19 Agustus 2015

Ketika Harus Memilih Pemimpin: Anda Pilih Siapa?

RUTINITAS politik di suatu daerah --termasuk secara Nasional-- adalah kenyataan yang tidak mungkin dipungkiri. Sebuah negara demokratis, akan ditandai oleh pelaksanaan kegiatan politik seumpama Pemilu atau Pilkada, misalnya. Undang-undang menentukan begitu untuk terbentuknya pemerintahan baik dan demokratis juga. Dari presiden hingga bupati di eksekutif dan dari DPR-RI sampai ke DPRD (Kabupaten) di legislatif akan selalu dipilih sesuai periode pemilihannya dalam ajang Pemilu atau Pilkada.

Menjelang Pilkada (Pemilihan Kepala Daerah) serentak yang akan digelar pada Desember 2015 ini, kesibukan persiapan menghadapi Pilkada mulai terasa di mana-mana. Di seluruh Indonesia, dengan 34 kota dan 224 kabupaten yang akan ikut bertarung nanti, dapat dibayangkan berapa banyak calon bupati dan wakilnya, calon wali kota dan wakilnya serta calon guebrnur dan wakilnya yang akan bertarung. Menurut berita di laman http://www.kpu.go.id/ bahwa untuk Pilkada serentak yang pertama dalam sejarah politik Indonesia nanti itu, ada 810 pasangan calon bupati, wali kota dan gubernur yang tersebar di 268 daerah tingkat I dan II se-Indonesia yang terdaftar.

Untuk di Provinsi Kepri, misalnya selain akan ada pemilihan gubernur/ wakil juga akan ada pemilihan bupati dan wali kota. Yang sudah terdaftar untuk gubernur ada pasangan Muhammad Sani - Nurdin Basirun dengan jargon 'sanur' serta pasangan Suryo - Ansar. Sementara untuk kabupaten Karimun (tempat saya bermastautin) akan ada pasangan Aunur Rafiq - Anwar Hasyim (Arah) dan pasangan R. Usman dan Zulkaenen. Jika di provinsi kedua pasangan adalah patahana alias incunbent gubernur dan wakilnya yang sudah mencari pasangan masing-masing maka di Karimun salah satunya adalah aincumbent, pasangan Aunur Rafiq- Anwar Hasyim.

Bagi kita rakyat, tentu saja tidak akan mempermasalahkan siapa dan dari mana calonnya. Suku apa atau dari partai mana mereka, juga tidak perlu dan tidak ada gunanya untuk dipermasalahkan. Sah atau tidak, itu bukan urusan orang ramai. Untuk keabsahan calon gubernur, wali kota dan bupati sepenuhnya menjadi wewenang KPU (Komisi Pemilihan Umum) saja. Rakyat seperti kita tidak ada urusan dengan itu. Kita hanya diberi hak suara untuk memilih salah satu pasangan yang kita harapkan menjadi pemimpin kita. Itu saja.

Suka atau tidak suka, kita memang akan memilih salah satunya jika suara kita ingin sah dan berlaku dalam pemilu itu. Bahwa kita menyukai kedua-dua atau kesemua pasangan calon, atau sebaliknya kita tidak menyukai satu pun, itu pun hak kita. Dan jika kita ternyata hanya menyukai salah satu calon dari banyak calon yang ada, itu pun hak kita untuk menentukannya. Dalam pemilu, kita benar-benar bebas menentukan pilihan. Yang harus menjadi keputusan, kita memilih siapa? Inilah pertanyaan yang harus dijawab di bilik suara nanti.

Tentu saja tidak salah jika kita membuat kriteria siapa yang akan kita pilih atas dasar kriteria yang kita tentukan sendiri pula. Yang pasti, beberapa kriteria berikut dapat dipertimbangkan untuk menjadi dasar pilihan kita. Misalnya, 1) Komitmen dan integritasnya dalam membangun daerah atau bangsa kita. Mengingat calon pemimpin ini akan menjadi wakil kita dalam membuat berbagai keputusan, maka haruslah dijadikan dasar utama atas integritas dan komitmennya dalam membangun bangsa, daerah atau masyarakatnya.

Kriteria lain, milsanya 2) Keyakinan atau agama yang dianutnya. Walaupun tidak ada keharusan menjadikan agama sebagai kriteraia dalam menentukan pilihan, tetaplah sangat baik jika kita tetap memakainya. Sebagai negara dengan dasar ketuhanan sebagai azas negara, artinya negara kita mengutamakan agama dalam menentukan sikap bernegara dan berbangsa. Maka jika kita tidak yakin dengan agama seseorang, sementara dia akan menjadi pemimpin kita, na'uzubillah, lebih baik kita tidak memilihnya. Benar, kita tidak tahu persis keberagamaan seseorang. Tapi penampilan dan kebiasaan sehari-harinya, informasi dari kanan-jkirinya, perlu menjadi pertimbangan. Pokoknya jangan memilih pemimpin yang agamanya kita ragukan.

Tentu masih banyak yang dapat dijadikan kriteria dalam menentukan pilihan kita. Catatan sejarah hidupnya yang berindikasi bersih, terutama dari korupsi, perlu juga dipakai sebagai dasar memilih. Hartanya yang melimpah bukan jaminan seseorang akan anti korupsi. Harta pasti tidak akan menentukan jika catatan sejarah hidupnya belepotan noda korupsi atau catatan buruk lain seperti suka berjudi atau tidak.

Kriteria lain, bisa juga dari sikap kepemimpinannya, ketegasannya, adil dan dapat dijadikan panutan. Ah, saya yakin ini akan dapat dikembangkan sedemikian banyak dan luas. Yang jelas, setiap kita tidak ingin memilih pemimpin yang hanya sekadar mengejar jabatan saja. Apalagi kalau calon pemimpin itu sampai tega menghalalkan segala cara demi jabatan, maka ini jelas tidak harus dipilih.

Lalu siapa yang akan Anda pilih dalam Pilkada di daerah masing-masing? Mari ditepuk dada, ditanya pula selera. Ingat, sekali coblos dalam beberapa detik atau menit di bilik suara nanti, akan menentukan jalannya pemerintahan dalam lima tahun ke depan. Semoga kita tidak salah pilih!***


Senin, 17 Agustus 2015

HUT RI Karimun nan Istimewa: Ada Bendera Raksasa

ADA yang istimewa pada Hari Ulang Tahun (HUT) Republik Indonesia (RI) ke-70 Tahun 2015 di Ibu Kota Kabupaten Karimun. Siang Senin (17/08) ini, panitia HUT-RI Kabupaten Karimun berusaha untuk memecahkan salah satu rekor Muri (Musium Rekor Indonesia) yaitu mengibarkan bendera merah putih terbesar dari dasar laut. Jika pengibarannya di daratan, itu sudah biasa. Dari dasar laut? Inilah istimewanya.

Selain melaksanakan upacara bendera seperti biasa, Detik-detik Proklamasi RI ke-70, perayaan HUT-RI Karimun pada tahun ini memang terasa istimewa. Jumlah peserta yang ikut dalam upacara bendera kali ini sungguh luar biasa jumlahnya. Ini salah satu perbedaan berbanding tahun-tahun sebelumnya. Panitia pelaksana HUT memang sengaja membuat acara yang 'wah' pada tahun terakhir dari keududkan Nurdin Basirun sebagai bupati Karimun. Acaranya benar-benar sangat sepektakular.

Untuk jumlah peserta upacara, misalnya, selain para peserta upacara yang ikut berdiri di lapangan Costal Area juga ada para penggembira yang duduk di sayap kiri dan kanan lapangan. Masing-masing sayap berjumlah 1000-an (seribuan) orang. Mereka adalah para siswa/wi yang berada di Pulau Karimun. Dengan tenang dan rapi mereka duduk di emper kiri dan kanan lapangan. Ini tidak dihitung para penonton 'lepas' yang datang khusus untuk menkmati berbagai persembahan dalam acara HUT RI ini. Mereka datang menyemut ke lokasi acara, Costal Area.

Jumlah peserta sendiri, pada tahun 2015 ini juga fantastis. Ada 9 (sembilan) kompi peserta yang terdiri dari TNI, Polri, Pegawai Beacukai, PNS, Guru dan tentu saja siswa. Tapi hanya siswa SLTA (SMA/ MA dan SMK) saja. Siswa SD dan SLTP (SMP/ MTs) tidak dilibatkan karena usia mereka yang masih anak-anak. Jika peserta upacara dan penggembira resmi ditambah dengan ribuan masyarakat yang memadati lokasi, sungguh tahun ini sangatlah banyak manusianya.
Bendera Pemecah Rekor Muri
Dari segi jumlah peserta sudah dibuat istimewa, ah ternyata ada yang lebih istimewa lagi pada peringatan HUT RI Karimun kali ini. Apa dia? Itulah pengibaran bendera berukuran raksasa dari dasar laut. Ini pertama kali Karimun melakukannya. Sebelumnya sudah pernah di daerah lain di Indonesia. Bendera yang akan dikibarkan berukuran 1.500 M persegi. Wow, sungguh luar biasa luasnya.

Untuk keperluan pengibaran bendera dari dasar laut ini diperlukan tenaga penyelam yang handal dalam jumlah yang banyak juga. Dua KRI, masing-masing KRI Sigalu 857 dan KRI Surik 645 dilibatkan dalam pelaksanaan ini. Selain itu juga ikut beberapa kapal yang berukuran lebih kecil, demi suksesnya acara istimewa ini.

Sebelum acara pengibaran bendera dari dasar laut, terlebih dahulu diadakan upacara Detik-detik Proklamasi RI. Setelah para peserta upacara, para penggembira acara, para undangan dan masyarakat lainnya memadati lapangan upacara sejak pagi hing ga siang hari, tepat pukul 10.00 upacara pokok dimulai. Belasan kali tembakan dari laut yang menggegarkan lapangan dan telinga, mengiringi raungan sirene tanda bermulanya 'detik-detik proklamasi' memperingati peristiwa sakral 70 tahun lalu itu.

Selanjutnya, pasukan pengibar bendera bergerak maju memasuki lapangan upacara. Para siswa/ wi yang sudah berlatih cukup lama tampak cekatan berbaris bersama kompi dari TNI sambil membawa tadah berisi bendera 'sang merah putih'. Setelah melapor ke Inspektur Upacara, Bupati Karimun, selanjtunya mereka mengibarkan bendera merah putih dengan diirngi lagu Indonesia Raya ciptaan WR. Supratman itu. Selepas pengibaran bendera, dilanjutkan dengan acara tabur bunga ke laut, sebagai bentuk penghormatan kepada para pejuang dan pahlawan kemerdekaan Indonesia.
Diangkat Dua Balon Raksasa

Sehabis cara inti ini, barulah dimulai proses pengibaran benda raksasa yang memang sudah ditunggu-tunggu oleh masyarakat banyak. Berita tentang rencana pengibaran bendera raksasa yang akan memecahkan rekor Muri itu memang sudah disosialisasikan ke masayarkat melalui berbagai media. Kini bendera itu benar-benar berkibar ke udara. Dua balon berisi gas, mengangkat bendera yang dikatakan seberat 200 Kg itu. Ah, sungguh menyenangkan dan mengagumkan menyaksikan berkibarnya bendera itu. Pelan-pelan, setelah muncul di permukaan laut, seterusnya naik bersamaan bertambah tingginya balon udara itu.

Memang agak disayangkan, bendera raksasa itu mengalami kerusakan ketika berangsur naik bersamaan kencangnya angin di laut Karimun dari pagi hingga siang itu. Bahkan pagi sebelum acara resmi, tiupan angin kencang disertai gerimis membuat para undangan dan peserta upacara berserakan. Syukurnya angin itu hanya berlangsung kurang lebih 25 menit sebelum dimulainya acara pokok. Dan sisa angin kencang itu pula yang membuat kibaran bendera raksasa di udara merusak benderanya. Tampak bendera itu akhirnya terbelah warna merahnya.

Meskipun begitu, secara keseluruhan, acara pengibaran bendera raksasa dari dasar laut itu sudah berjalan dengan baik dan aman. Tapi, apakah panitia dari Muri jadi mengesahkan pemecahan rekor itu, masih harus ditunggu pengumuman resmi dari lembaga yang dirintis dan dibangun Jaya Suprana itu. Selamat Hari Merdeka, Syabasya Indonesia. Majulah Indonesia dan majulah Karimun.***

Salam Merdeka: Mengajak Untuk Merdeka

ADALAH 70 tahun lalu, tepatnya 17 Agustus 1945, persis seperti hari ini, dalam sejarah, kita baca bangsa kita merdeka setelah terjajah sangat lama. Ya, sangat lama. Ratusan tahun bangsa-bangsa asing bergantian bercokol di bumi pertiwi. Kita tidak atau belum bisa melarang mereka tetap di sini, waktu itu. Kita terjajah, kita terhina dan kita tidak bisa berbuat apa-apa. Sedih.

Minggu, 16 Agustus 2015

Lomba Gerak Jalan untuk Persatuan

PELAJARAN pokok dari Lomba Gerak Jalan (LGJ) Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia adalah memupuk persatuan dan kebersamaan rakyat Indonesia, selain pembuktian nilai-nilai olahraga itu sendiri. Seperti gerak jalan yang dilaksanakan setiap tahun di manapun di bumi pertiwi ini --dalam rangka memperingati dan memeriahkan hari kemerdekaan RI-- tiada lain yang ingin dipesankan kecuali persatuan dan kebersamaan.

Panitia HUT Kemerdekaan RI ke-70 di Kabupaten Karimun tahun 2015 ini, misalnya kembali menyelenggarakan LGJ HUT RI, tahun ini. Pada hari Sabtu (15/ 08/ 15) lalu, dengan mengambil tempat pelaksanaan di Costal Area Karimun, LGJ antar siswa SLTA dan peserta umum sudah terlaksana dengan baik dan lancar. Cabang LGJ untuk orang-orang dewasa dan hampir dewasa ini adalah LGJ 17 KM. Masih ada dua kategiri lagi, 8 KM dan 45 KM. Dan kesemua itu dimaksudkan untuk terus membina dan memperkokoh kebersamaan dan persatuan.

Apa yang paling terasa dari hiruk-pikuk lomba yang menyusuri jalan-jalan sepanjang Kota Lama, Tanjungbalai Karimun dua hari lalu itu adalah begitu kentalnya rasa kebersamaan dan persatuan dintara orang-orang yang ada di sana. Start dan finish lomba dipusatkan di jalan depan panggung Puteri Kemuning, Costal Area Karimun. Ribuan orang, baik sebagai peserta maupun sekadar penggembira, panitia dan para guru pembina berkumpul di lokasi asri Costal Area.

Sedari pagi, ketika matahari masih bersembunyi, lapangan dan jalan di sekitar panggung Puteri Kemuning Costal Area sudah dipadati manusia. Sekitar pukul 06.00 pagi para peserta lomba sudah memenuhi lapangan. Setiap sekolah mengirimkan sekurang-kurangnya 8 (delapan) regu. Bahkan beberapa sekolah mengirimkan peserta lomba antara 10 s.d. 16 regu peserta. Jika setiap sekolah mengirimkan rata-rata sepuluh regu, dan setiap regu sejumlah 11 (sebelas) orang, maka dapat dibayangkan jumlah peserta lomba dengan puluhan sekolah yang ada di Pulau Karimun.

Selain peserta, tentu saja di sana ada para guru pembina, pengiring dan pendamping pengiring peserta. Juga ada masyarakat biasa yang datang jauh-jauh dari rumah untuk menyaksikan lomba sekali setahun itu. Sungguh ramai manusia pada hari Sabtu itu.

Setiap orang akan saling berkenalan, berteman dan bertegur-sapa. Antara siswa dengan siswa, siswa dengan guru, guru dengan guru serta dengan masyarakat umum lainnya. Di sinilah akan terjalinnya rasa kebersamaan dan rasa persatuan. Kegembiraan hati dan perasaan ketika melaksanakan dan menyaksikan lomba gerakan jalan, adalah satu hal yang juga menambah rasa kebersamaan.

Tujuan Pemerintah melaksanakan LGJ sebagai ajang penyatuan dan memperkokoh kebersamaan jelas tidak sia-sia. Dapat dipastikan bahwa rasa bersama dalam daerah yang sama, akan terus terbina. Dengan begitu, tugas-tugas pembangunan di bidang kesejahteraan akan dengan mudah pula dapat dilaksanakan.

Harus pula diakui bahwa, selain tujuan persatuan dan kebersamaan, LGJ sudah pasti mengandung nilai-nilai olahraga. Di dalamnya ada sportivitas berlomba, kesahatan atas gerakan berjalan yang dilakukan serta beberapa nilai positif lainnya. Dan yang utama juga adalah rasa nasionalisme kebangsaan sebagai mengenang para pahlawan kemerdekaan. Mereka yang telah berjuang, dengan mengorbankan segalanya demi kemerdekaan 17 Agustus 1945 itu, sudah selayaknya dikenang dalam momen Hari Kemerdekaan ini. Dirgahayu RI ke-70, semoga Indonesia jaya dan rakyatnya sejahtera.***

Rabu, 12 Agustus 2015

Berhentilah Berbohong dalam Gerak Jalan 45

KEMBALI Agustus 2015 ini, akan diperingati dengan berbagai kegiatan. Kegiatan lomba gerak jalan adalah salah satunya. Seperti tahun-tahun sebelumnya, pada peringatan HUT RI ke-70 ini Panitia Peringatan HUT RI Kabupaten Karimun akan mengadakan beberapa kategori Lomba Gerak Jalan bagi pelajar dan masyarakat umum. Ada kategori 8 KM (Kilo Meter), ada 17 KM dan ada juga kategori 45 KM. Ketiga kategori itu mengambil nama bulan, tanggal dan tahun kemerdekaan RI, 17.08.(19)45.

 Cabanag Gerak Jalan 45 KM adalah cabang yang paling bergengsi. Bukan karena jumlah peserta dan atau hadiahnya. Tapi cabang ini menjadi terkenal hebat karena jaraknya yang sangat jauh. Berjalan kaki dengan jarak sejauh 45 KM tentulah bukan pekerjaan yang enteng. Tidak semua orang mampu berjalan dengan jarak seperti itu. Walaupun berjalan (bukan berlari seperti lomba marathon) namun tetap saja jarak itu sangat jauh dan berat. Makanya kategori ini jauh lebih bergengsi dari pada dua kategori lainnya.

Tapi selama ini ada catatan buruk dalam pelaksanaan lomba gerak jalan jarak jauh ini. Setiap tahun diadakan gerak jalan cabang 45 KM, setiap tahun pula masyarakat tahu dan menyaksikan adanya kebohongan alias kemunafikan di dalamnya. Jujur saja, dari tiga kategori lomba gerak jalan yang tetap diadakan setiap tahun, maka kategori 45 KM ini selalu menyisakan rasa kesal di hati. Sekurang-kurangnya bagi saya sendiri dan orang-orang yang berpikirnya sama. Tentu saja rasa kesal ini mungkin tidak berlaku buat semua orang karena ternyata ada banyak pula yang tidak mempermsalahkan terjadinya kebohongan. Alih-alih mengatakan 'jangan' eeh malah ikut melaksanakan.

Yang saya maksud dengan kebohongan dan kemunafikan itu adalah karena dalam gerak jalan bergengsi ini ternyata ada kecurangan dilakukan oleh peserta dan atau para guru pembinanya. Anehnya kecurangan itu terjadi bukan tanpa diketahui oleh pihak-pihak yang seharusnya melarang kecurangan itu. Nyatanya, setiap tahun selalu saja ada kejadian yang sama. Itu berarti, kebohongan ini sengaja dibiarkan.

Dalam lomba yang dilaksanakan pada malam hari ini, selalu terjadi kecurangan. Para peserta lomba tidak lagi memegang perinsip-perinsip sportivitas dalam keikutsertaannya. Mengapa? Karena ternyata di tengah perjalanan, para peserta lomba yang ketika start sudah didicatat dan ditandai orang-orangnya, rupanya para peserta ini berganti orang di tengah perjalanan. Biasanya pertukaran peserta itu dilakukan di tempat-tempat gelap yang diperkirakan tidak dilihat oleh orang lain. Tanda-tanda yang diberikan ketika start mereka palsukan di tengah jalan. Misalnya, cap/ stempel yang ada pada tangannya, ketika orangnya berganti di pertengahan perjalanan, juga diberi cap yang sama yang seolah-olah orangnya tidak berganti.

Menurut para penonton bahkan laporan para guru dan siswa sendiri, para peserta itu memang boleh diganti dengan orang lain asal tidak ketahuan. Artinya, jarak yang 45 KM itu ternyata tidak benar-benar dijalani oleh para peserta secara penuh karena orangnya sudah berganti itu tadi. Besoknya, ketika sudah mendekati finish, baru kembali peserta yang melakukan start itu masuk ke barisan kembali. Tadinya mereka diistirahatkan di dalam mobil-mobil pengiring dari sekolahnya/ dari kesatuannya. Inilah kebohongan yang setiap tahun selalu ada. Konon ada regu yang berganti kesemua pesertanya di tengah perjalanan, dan nanti akan kembali peserta regu awal yang disuruh masuk finish. Celaka kan?

Ingin sekali kita berharap kepada panitia agar kecurangan ini diperhatikan dan diberikan sanksi. Jangan seperti yang selama ini terjadi, bahwa peserta yang sebenarnya tidak utuh berjalan dari start hingga finish, dinyatakan juga sebagai pemenang lomba. Pemenang ini pun berhak mendapatkan hadiah yang biasanya memang lebih besar dari para gerak jalan 17 dan 8 KM. Ini benar-benar akan menjerumuskan mental anak-anak (peserta) yang nota bene adalah generasi masa depan bangsa.

Sudah saatnya, gerak jalan yang bertujuan memperingati heroik para pahlawan bangsa ini tidak dikotori dengan sikap tidak jujur oleh peserta, para guru dan bahkan oleh panitia dan juri sendiri. Sudah saatnya ini diubah. Berhentilah berbohong dalam gerak jalan bergengsi ini. Mau sampai kapan generasi muda ini dididik dengan cara kotor seperti itu?***

Jumat, 07 Agustus 2015

Wak Saleh itu Baik Sekali (Surat Kecil)

DENGAN tulus, surat ini saya kirimkan secara terbuka di halaman ini. Saya ingin surat ini, tidak hanya dibaca oleh Wak Saleh, sahabat yang menolong saya waktu itu, tapi saya ingin agar orang-orang lainnya juga ikut dan berkenan membacanya. Rasa kagum dan bangga saya ini, ingin sekali saya berbagi dengan siapapun. Wak Saleh memang baik sekali.

Rabu, 05 Agustus 2015

Surat Terbuka untuk Siswa: Gerak Jalan Jangan Merusak Harapan

BUAT ananda, para siswa SMA. Surat singkat ini saya tulis untuk kalian semua. Bacalah dengan seksama tapi jangan kecewa. Terus tetap bergembira, tapi tidak bertindak sia-sia. Kalian adalah harapan. Harapan bagi sekolah kalian, orang tua kalian dan masyarakat daerah serta tentu saja masyarakat bangsa. Percayalah.

Beberapa hari ini, kalian sudah mulai melakukan berbagai kegiatan dalam rangka menghadapi HUT (Hari Ulang Tahun) RI ke-70 pada tahun 2015 ini. Seperti sudah diarahkan para guru pembina, kalian harus latihan baris-berbaris alias gerak jalan dalam rangka persiapan Lomba Gerak Jalan yang akan diadakan sebentar lagi. Biasanya setiap tahun, Panitia HUT RI Kabupaten memang selalu mengadakan lomba ini. Sekolah kita tentu ingin ikut serta seperti juga sekolah-sekolah lainnya.

Biasanya ada beberapa cabang gerak jalan yang diperlombakan. Ada gerak jalan 8 (delapan) dan 17 (tujuh belas) kilometer (KM). Tapi ada juga cabang 45 (empat puluh lima) KM. Gerak jalan 17 dan 45 itu biasanya untuk sekolah tingkat atas atau masyarakat umum. Pastilah kalian berlatih untuk persiapan itu, bukan? Ayo, silakan mengikuti latihan sesuai arahan para guru. Tapi ada satu hal yang ingin dan perlu saya sampaikan.

Pertama, kita memang sebaiknya ikut berpartisipasi dalam lomba ini. Dan insyaallah sekolah kita akan ikut. Kita akan mendaftar sebagai peserta. Untuk masalah ini pasti guru kalian akan mengurusnya. Guru pembina akan mendaftarkan regu sekolah kita kepada panitia lomba, nantinya. Jadi, untuk persoalan ini serahkan saja kepada para guru pembina. Memang, sebaiknya kalian saja yang mendaftar jika diperbolehkan panitia. Kalian, kan sudah hampir dewasa dan pasti bisa mendaftarkannya. Tapi lihatlah keadaannya.

Hal kedua, karena kegiatan latihan ini kalian adakan dalam jam belajar (jam ke-3 fsn 4) itu berarti kalian sudah harus mengorbankan masa pembelajaran kalian. Nah, untuk masalah ini haruslah disiplin. Jika guru mengizinkan masa latihannya pada dua jam pelajaran itu, maka pakailaha waktu seefektif mungkin. Jangan main-main dan jangan buang-buang waktu. Sebagaimana kalian selalu mengefektifkan waktu belajar di kelas, maka seperti jualah hendaknya kalian dalam latihan ini. Ingat, selepas latihan gerak jalan, segeralah masuk ke kelas masing-masing untuk belajar sebagaimana mestinya.

Lalu yang ketiga, dalam lomba nanti jangan terlalu pusing untuk memikirkan juaranya. Kalian akan menjadi juara atau pemenang jika latihan ini diikuti dengan baik, serius dan penuh tanggung jawab. Ikuti arahan guru pembina kalian untuk memamahmi pelaksanaan latihan yang benar. Bahwa nanti kalian akan benar-benar menang atau tidak, itu serahkan saja kepada panitia lomba dan dewan juri nanti. Tugas kalian hanyalah berlatih dan berlomba dengan baik.

Mungkin itu sajalah yang penting untuk saya sampaikan dalam surat ini. Jujur saja, saya khawatir jika kalian terlalu asyik dalam latihan dan memikirkan lomba nanti, malah merugikan kalian sendiri dalam proses pembelajaran. Jadi, ingatlah bahwa latihan dan lomba nanti hanyalah kegiatan ekstra saja. Yang utama justeru belajarnya. Jangan sampai gerak jalan ini malah merusak dan memupus harapan masa depan kalian. Sekian.***

Selasa, 04 Agustus 2015

Terima Kasih, Sahabat Sejati

BOLEH jadi ini sepele bagi seseorang tapi cukup serius bagi orang lainnya. Pemberian alias oleh-oleh dari seorang sahabat, bisa saja biasa-biasa bagi orang terdekat tapi boleh jadi pula begitu hebat buat yang lainnya. Tidak seberapa bagi orang tertentu api sangat penting dan berkesan sekali bagi yang lainnya pula. Setiap orang bisa berbeda dalam menerima sebuah pemberian.
 
Copyright © 2016 koncopelangkin.com Shared By by NARNO, S.KOM 081372242221.