BREAKING NEWS

Senin, 27 Juli 2015

Catatan dari HPP: Pelayanannya Memang Memuaskan

Rumah Sakit Pakar Puteri, Johor
INI pelajaran penting bagi kita, khususnya bagi rumah-rumah sakit di negeri kita. Terkhusus untuk Karimun, tetangga yang begitu dekat dengan rumah sakit ini. Hanya perlu 45 menit waktu menyeberang di laut dan setengah jam lainnya di darat, sampailah ke sana. Atau menggunakan pelabuhan lainnya, satu jam lebih sedikit di laut dan hanya 20-an menit di darat, sampai juga ke sana. Artinya hanya perlu waktu satu jam lebih sedikit saja orang Karimun untuk datang ke rumah sakit ini.

Rumah Sakit Pakar Puteri (ada juga Pakar Johor, dan beberapa rumah sakit lain di sini) yang pada hari Kamis (23/ 07) lalu saya kunjungi (maksudnya saya datang untuk pemeriksaan kesehatan) adalah salah satu rumah sakit yang sangat familiar dengan orang-orang Karimun, khususnya dan orang Indonesia pada umumnya. Memang agak sedikit menyedihkan karena orang-orang Indonesia lebih menyukai berobat ke luar sana dari pada berobat di rumah sakit sendiri. Pastinya devisa kita akan tersedot ke sana.

Satu hal yang selalu menjadi alasan mengapa orang Indonesia tidak khawatir mengeluarkan uang cukup besar untuk berobat dan atau sekadar memeriksakan kesehatan badannya ke luar negeri (lazimnya ke Malaysia atau Singapura) adalah karena pelayanan yang diberikan oleh rumah sakit di sana, selain jaraknya yang memang lebih dekat. Faslitas dan kelengkapan alat-alat kesehatan tentu saja juga menjadi pertimbangan mengapa pesakit (pasien) asal negeri ini senang ke luar negeri sana.

Sesungguhnya yang jauh lebih menentukan dari segala kemudahan yang dirasakan di rumah-rumah sakit di luar sana adalah karena pasien memang merasa dilayani dengan baik dan sepenuh hati oleh para dokter atau perawat di rumah sakit di sana. Semua teman-teman yang bercerita sepulang dari Malaysia, misalnya mengatakan bahwa berobat ke sana memang merasa senang dan penyakit kita serasa akan sembuh. Kepuasan pelayanan dokter dan atau perawat memang sudah merupakan jaminan ketenangan dan perasaan bahwa penyakit akan sembuh.

Jika selama ini saya hanya mendengar saja rasa kagum dari rekan-rekan yang sudah merasakan nyamannya berobat ke sana, kini saya sendiri benar-benar merasakan dan membuktikan cerita-cerita itu. Saya benar-benar membuktikan bahwa berobat/ check up kesehatan di sana memang sangat memuaskan. Ketika saya sampai di Hospital Pakar Puteri sekitar pukul 10.40 (WIB) atau pukul 11.40 Waktu Malaysia, saya langsung melapor ke kounter dasar (kounter 1 di lantai dasar) untuk menjelaskan tujuan saya datang. Dengan ramah dia meminta paspor saya karena saya jelaskan bahwa saya dari Indonesia.

Setelah saya jelaskan keluhan saya --sebagaimana pertanyaannya-- dan saya katakan bahwa saya ingin memerikasakan kondisi (kesehatan) saya maka dia mengatakan bahwa untuk check up itu memerlukan waktu sekurang-kurangnya 2.5 - 3 jam. Apalagi jika check lengkap (general check up) dengan paket pemeriksaan yang lebih komplit, diperlukan waktu agak lebih lama. Penjaga kounter 1 itu menyarankan untuk giliran besok hari saja. Khawatir jika dipaksakan hari itu juga, tidak akan sempat. Lagi pula pasiennya memang kebetulan banyak sekali pada hari itu.

Saya menerima untuk datang besok hari saja. Saya memang datang lebih awal pada hari Kamis itu. Kata Wak Saleh, sopir taksi yang membantu saya, saya harus datang lebih pagi besoknya agar mendapat nomor antrian awal. "Datanglah sebelum jam tujuh setengah pagi," katanya setelah meninggalkan kounter rumah sakit itu. Maksudnya waktu Malaysia yang berarti sebelum pukul 06.30 WIB. Tentu saja sepagi itu terasa masih agak gelap. Tapi saya memang datang sebelum pukul tujuh setengah waktu Malaysia itu. Dan ternyata, bukan hanya pegawai rumah sakitnya yang sudah stand by tapi para pasien pun sudah ada yang datang untuk mendaftar. Saya sendiri, semula berharap mendaftar nomor satu, ternyata sudah kebagian urut keempat. Begitulah orang ingin lebih awal, kata saya dalam hati.

Setelah selesai proses pendaftar di kounter satu itu, saya disuruh menghadap ke dokter di bilik (kamar) nomor 23 di lantai lima. "Pastikan bahwa wak tu sudah sudah 08.30," kata prempuan berjilbab itu. Masih cukup lama menjelang waktu itu. Tapi para petugas di lantai dasar itu sudah ada sejak jauh waktu menghadap dokter.

Sebelum pukul 08.30 (07.30 WIB) itu, saya dan anak saya melihat-lihat keadaan rumah sakit tersebut. Dari lantai bawah hingga ke atas saya amati: bersih dan rapi dengan para petugas yang sudah siap sedia melayani tamu (pasien). Akhirnya saya sampai di lantai lima dan mencari kamar 23 yang dirujukkan petugas di bawah tadi. Setelah pasti tempatnya saya kembali melihat-lihat bagian dalam rumah sakit itu. Di kursi tunggu tempat yang saya tuju, ternyata sudah ada satu orang pasien lain.

Dari proses awal (pendaftar) sampai ke beberapa tahap yang saya lalui selama pemeriksaan kesehatan yang saya jalani, semuanya berjalan dengan lancar. Tidak ada rasa kesulitan. Bahkan ketika saya tidak tahu tempat salah satu bagian yang harus saya ikuti (seingat saya, itu di bagian x-ray) saya bertanya ke salah seorang petugas lain, dan dia dengan ramah menunjukkan tempatnya. Intinya, semua petugas saling membantu untuk semua keperluan. Saya tidak harus ke bagian informasi atau bagian lain yang secara khusus menangani masalah informasi ini.

Ada banyak catatan tentang kepuasan pelayanan yang saya rasakan. Tentu tidak mungkin saya uraikan secara lebih lengkap di sini. Yang terpikirkan, betapa inginnya saya, kiranya rumah-rumah sakit di negeri kita juga begitu kita rasakan. Lebih-lebih rumah sakit di Karimun ini, sangat pantas untuk secepatnya membuktikan bahwa kita juga bisa. Jarak yang sangat dekat antara Karimun dengan Johor Baru, Malaysia itu adalah alasan yang sangat kuat untuk harapan ini. Dan inilah pelajaran penting bagi pemerintah, khususnya pejabat yang menangani kesehatan di negeri ini. Mungkinkah? Semoga saja.***

Minggu, 19 Juli 2015

Lebaran Demi Kebersamaan

BOLEH jadi yang terpikirkan ketika berlebaran adalah aneka makanan dan minuman sebagai jamuan yang disediakan. Setidak-tidaknya, begitulah perasaan sebagian kita, terutama anak-anak dan yang berpikirnya masih seperti anak-anak. Puasa sebulan menjadi sebab harapan akan aneka makanan dan minuman itu menjadi tumpuan.

Selasa, 14 Juli 2015

Penetapan Mustahik: Hati-hatilah

DI SETIAP penghujung Ramadhan selalu ada kesibukan para pengurus Masjid atau Musolla yang mengumpulkan zakat dan atau zakat fitrah untuk kembali menyalurkan zakat-zakat itu kepada para mustahik. Biasanya tiga-empat hari menjelang Idul Fitri, para pengurus sudah mulai membagi-bagikan zakat-zakat itu kepada para muslim yang berhak. Untuk penetapan penerima zakat, harus melalui rapat panitia (amil zakat) dengan pengurus serta masyarakat sekitarnya.



Tidak selalu mudah dan lancar rapat penentuan mustahik di setiap masjid atau musolla. Kriteria yang dipakai, selain ketentuan naqli (nas alquran di surah At-Taubah: 60) itu, pengurus masjid juga akan memperhatikan keberadaan dan domisili para mustahik sebagai kriteria tambahan. Seorang muslim yang berdomisili di sekitar dan atau menjadi jamaah masjid/ musolla bersangkutan, adalah syarat lain yang juga dijadikan dasar.

Ketika rapat dilaksanakan, semua kriteria yang disepakati akan dibentangkan. Setelah daftar nama (usulan/ biasanya dari Ketua RT/ RW) dibacakan, para peserta rapat akan membahas nama-nama itu dari berbagai kriterai yang sudah disepakati. Dari sisi asnab yang sudah ditentukan agama, perdebatannya berkisar antara benar-tidaknya seseorang itu masuk kategori fakir atau miskin. Dua asnab ini selalu lebih banyak menyita waktu rapat.

Seorang nama yang dikategorikan miskin atau fakir, sesungguhnya sudah ada ukurannya. Jika seseorang itu tidak mampu mencukupi biaya kehidupan pokoknya (makan, dll) dari pekerjaannya maka dia akan dikategorikan sebagai seorang miskin.Meskipun bekerja namun hasilnya tidak bisa memenuhi kebutuhan utama, maka itulah kriteria orang miskin selalu dipakai.

Para ulama memang ada yang menyamakan saja antara fakir dan miskin meskipun di dalam alquran kedua nama itu disebut terpisah. Tapi ada pula yang membedakannya sesuai penafsiran ayat itu juga. Salah satu perbedaan itu adalah ketika seseorang itu sama sekali tidak mempunyai penghasilan/ pekerjaan yang dapat memenuhkan kebutuhan pokoknya, maka orang ini dikatakan fakir. Artinya tingkat kesulitan hidup orang fakir dianggap lebih berat dari pada orang miskin, walaupun ada pula ulama yang menganggap sebaliknya. Yang pasti, kedua-duanya adalah orang yang berhak menerima zakat.

Pada saat memutuskan seseorang itu fakir atau miskin inilah lazimnya terjadi perdebatan yang cukup alot. Buat yang mengusulkan seseorang untuk menjadi mustahik tentu saja cenderung akan mempertahankan orang itu tetap sebagai penerima zakat. Sebaliknya bagi orang lain yang juga mengetahui kehidupan seseorang itu tidaklah seberat yang disampaikan, maka di sinilah akan terjadi perdebatan. Di satu sisi, kriteria fakir- miskin dianggap tidak terpenuhi karena melihat kasat mata dia masih berkemampuan menghidupkan dirinya. Tapi di sisi lain, yang menganggap lebih tahu, justeru sebaliknya.

Tentu saja yang harus diperhatikan adalah kebenaran keadaan dari orang-orang yang diusulkan. Kesalahan menetapkan seseorang menjadi seorang mustahik, jelas akan berakibat fatal dalam pengamalan agama itu sendiri. Artinya, para amil atau pengurus yang menentukan kriteria seseorang menjadi mustahik atau tidak akan bertanggung jawab sampai ke akhirat nanti. Jika dia berhak tapi tidak diberi, maka itu akan menjadi sebuah kesalahan yang berakibat jatuhnya dosa. Sebaliknya jika dia sesungguhnya tidak berhak tapi tetap diberi, ini juga akan mendatangkan sebuah kesalahan.

Di sinilah perlunya kehati-hatian para pihak yang akan memutuskan status seseorang sebagai mustahik atau tidak. Tanggung jawab sebagai amil yang oleh Allah juga diberi hak (sebagai mustahik) atas kerja dan tanggung jawabnya itu wajib baginya untuk membuat keputusan yang benar, sesuai ketentuan agama. Dan atas kesalahan ini, otomatis dosa akan ditanggung oleh amil atau siapa saja yang berwewenang membuat keputusan atas penetapan mustahik. ***

Minggu, 12 Juli 2015

BOS Kembali Dorong Pembuatan Website Sekolah

SELAMA ini masih belum merata sekolah-sekolah memiliki dan mengelola website sekolah sendiri. Jika ada kreativitas warga sekolah, kebanyakan informasi sekolah baru dapat diikuti melalui akun-akun media sosial lain seperti facebook, twitter dan sejenis. Beberapa sekolah memang sudah menginformasikan sekolah lewat blog tapi bukan website dengan domain khusus untuk sekolah, misalnya.


Selain kendala kemauan dan kemampuan, belum meratanya kepemilikan website sekolah juga disebabkan oleh keterbatasan anggaran. Ini alasan klasik, memang. Beberapa sekolah yang kepala sekolahnya sempat diajak berdiskusi, mereka menyatakan anggaran yang kurang membuat sekolah kurang bersemangat untuk membuat dan mengelola website sekolah. Dalam pikiran rekan-rekan pengelola sekolah, anggaran website sekolah haruslah besar. Padahal itu tidaklah benar.

Saya menganggap alasan kekurangan anggaran tidaklah sepenuhnya benar. Bahkan tidak benar sama sekali karena sesungguhnya sejak adanya BOS (Bantuan Operasional Sekolah) bahkan sejak sebelumnya, tentu sudah ada juga anggaran operasional sekolah yang khusus untuk pengelolaan website. Syaratnya, jika sendiri mau menganggarkannya.

Setelah adanya bantuan khusus operasional yang disebut BOS, maka anggaran operasional itu sudah semakin mudah merencanakannya. Jika pun pada awal keberadaan BOS --saat dalam bentuk rintisan-- untuk SLTA, belum ada dana khusus untuk website, para pengelola sekolah sejatinya bisa menganggarkan dana untuk keperluan operasional website itu. Tinggal sekolah mau atau tidak untuk menganggarkan keperluan-keperluan berkaitan pembuatan dan pengelolaan website sekolah.

Untuk anggaran yang akan berlaku pada bulan Juli 2015 ini, dana BOS ternyata sudah dan tetap menganggarkan untuk operasional website sekolah. Seperti BOS tahun berjalan, dalam Juknis memang sudah ditetapkan salah satu penggunaan anggaran dana BOS adalah untuk pengelolaan website sekolah. Dengan demikian, dana BOS sesungguhnya terus mendorong sekolah agar mengelola website sekolah sebagai salah satu sarana informasi sekolah dengan masyarakat.

Dari sini sesungguhnya dapat digambarkan bahwa ketiadaan website sekolah tidaklah dikarenakan ketiadaan anggaran atau biaya. Nyatanya dana bantuan Pemerintah dari BOS itu sudah ditentukan bahwa salah satu penggunaannya adalah untuk pengelolaan website sekolah. Ini berarti keberadaan website sekolah sepenuhnya ditentukan oleh pengelola sekolah itu sendiri. Selama sekolah tidak menjadikan keberadaan website sekolah sebagai salah satu keperluan sekolah, maka selama itu pula website sekolah tidak akan ada di sekolah tersebut.

Di sisi lain, anggaran APBN berupa dana BOS itu sesungguhnya sudah menganggarkan kebutuhan pengelolaan sekolah. Dana BOS terbukti sangat mendorong malah memerintahkan adanya website sekolah untuk setiap sekolah. Bahwa untuk keperluan pengelolaan website sekolah diperlukan beberapa hal pokok seperti jaringan internet dan arus listrik, ini tentu saja menjadi kewajiban utama lainnnya yang hrus diperhatikan sekolah. Apapun dan bagaimanapun caranya, kebutuhan utama untuk keperluan website tentu saja harus diusahakan sekolah. Bagaimanapun, anggaran sudah tersedia maka website pun wajib ada.***

Dakwah Utama adalah Silaturrahim

PADA Ramadhan 1436 (2015) ini saya mendapat tugas santapan rohani Ramadhan yang lumayan banyak berbanding tahun-tahun sebelumnya. Dari 29 malam yang tersedia dalam satu bulan, saya mendapat jadwal sebanyak 25 malam. Hanya ada empat malam saja yang kosong. Pada malam 17, biasanya semua masjid/ musolla/ surau memang akan dikosongkan karena bertepatan dengan peringatan Nuzul Alquran.

Kamis, 09 Juli 2015

MUI Berbagi dengan Masyarakat Tepi

TRADISI Safari Ramadhan yang lazimnya diadakan Pemerintah (Daerah) setiap tahun di dalam Ramadhan ternyata tidak hanya diadakan oleh pemerintah (penguasa) saja. Di Kabupaten Karimun --juga di daerah lain, tentunya-- tradisi Safari Ramadhan juga dilaksanakan oleh lembaga. Seperti yang dilaksanakan oleh MUI (Majelis Ulama Indonesia) Kabupaten Karimun, misalnya, lembaga keagamaan ini juga mengadakan kegiatan Safari Ramadhan pada tahun 2015/ 1436 ini ke beberapa daerah.

Untuk tahun ini, MUI Karimun melaksanakan Safari Ramadhan di tiga kecamatan dari 12 kecamatan yang ada di Kabupaten Karimun. Ketiga kecamatan itu adalah, 1) Kecamatan Ungar (mekaran kecamatan Kundur); 2) Kecamatan Belat (mekaran Kecamatan Kundur Utara), dan 3) Kecamatan Meral Barat (mekaran Kecamatan Meral).

Mengapa hanya di tiga kecamatan? Karena di tiga kecamatan baru ini memang belum ada kepengurusan MUI Kecamatannya. Salah satu program kepengurusan MUI Kabupaten Karimun periode 2012- 2017 ini adalah membentuk kepengurusan MUI Kecamatan se-Kabupaten Karimun. Setelah di semua kecamatan lainnya terbentuk, maka target selanjutnya adalah membentuk kepengurusan MUI Kecamatan di tiga kecamatan tersebut.

Program Safari Ramadhan MUI Kabpaten tahun 2015/ 1436 ini disejalankan dengan Safari Ramadhan Pemda (Karimun) yang memang setiap tahun mengunjungi desa/ lurah di setiap kecamatan yang ada di kabupaten berazam ini. Dan untuk efektif dan hemat biaya, khususnya biaya transportasi maka para pengurus MUI yang ditugaskan dalam safari Ramadhan MUI ini ikut bergabung (ketika berangkat/ kembali) bersama tim safari Pemda. Ketika di lokasi safari saja kedua tim terpisah, sesuai lokasi masjid/ musolla yang menjadi sasaran.

Dalam safari Ramadhan ini, tim safari MUI berkunjung ke masjid/ musolla sasaran untuk memberikan tausiah Ramadhan. Tentu saja dalam tausiah itu diselipkan penjelasan perihal latar belakang safari ini. Salah satunya adalah mengingatkan pihak kecamatan (KUA dan Camat) untuk segera membentuk pengurus MUI Kecamatan yang akan diusulkan ke kabupaten untuk dikukuhkan.

Selain memberikan tausiah, penceramh dari MUI tentu saja memberikan pencerahan di bidang agama dan kemasyarakatan pada umumnya. Program-porgram Pemerintah Kabupaten yang berkaitan dengan keagamaan jug disampaikan.

Selain memberikan pencerahan di bidang  agama, pengurus MUI juga memberikan bantuan berupa uang pembinaan keagamaan kepada pengurus masjid/ musolla yang dikunjungi. Untuk Ramadhan 1436 ini pengurus menganggarkan sebesar Rp 500 ribu di setiap masjid/ musolla yang dikunjungi. Anggaran ini adalah dana yang memang sudah diperuntukkan dalam penyusunan program kerja di awal tahun.

Dengan program safari Ramadhan ini, MUI bermaksud berbagi dengan masyarakat yang dikunjungi. Kunjungan ini sendiri memang kebetulan berada di masyarakat tepi (pinggiran) Karimun. Diharapkan kaum muslimin/ mat yang berada jauh dari kota kabupaten itu juga merasakan program-program yang disusun oleh MUI Kabupaten.***

Jumat, 03 Juli 2015

Kerja Amanat Jadikan BAZNAS Karimun Hebat

HARI Senin (15/ 06) lalu, kembali para pengurus BAZ (Badan Amil Zakat) Daerah Karimun mengadakan rapat persiapan distribusi zakat periode kedua tahun 2015. BAZ Karimun yang kini berubah nama menjadi BAZNAS Karimun --sesuai Undang-undang No 23 Tahun 2011 mengdakan rapat untuk membahasan rencana pembagian zakat periode kedua tahun 2015.
 
Copyright © 2016 koncopelangkin.com Shared By by NARNO, S.KOM 081372242221.