BREAKING NEWS

Selasa, 30 Juni 2015

Tidak Disiplin = Tidak Puasa

IBADAH puasa adalah ibadah yang mengutamakan kedisiplinan. Tidak mungkin orang berpuasa jika tidak bisa disiplin. Disiplin yang berarti konsistensi pada tata aturan yang ditentukan adalah syarat utama dalam terlaksana atau tidaknya kewajiban puasa. Perintah puasa adalah perintah untuk tidak melakukan sesuatu yang membatalkan puasa.


Puasa artinya menahan diri dari makan, minum, bergaul dengan isteri atau sesuatu yang membatalkan puasa pada siang hari (sejak imsak hingga berbuka). Di dalamnya jelas terkandung larangan-larangan yang akan menjadi kunci bukti bahwa puasa benar-benar terlaksana atau tidak. Berbeda dengan ibadah lainnya, perintah puasa justeru terletak pada kepatuhan untuk tidak melakukan larangan, bukan semata mematuhi perintah.

Kemampuan untuk mematuhi perintah dan menghindarkan larangan itu disebut pula dengan istilah disiplin. Sikap disiplin adalah sikap mematuhi perintah dengan konsisten dan sebaliknya sikap meninggalkan larangan dengan konsisten pula. Jadi, jelas sekali bagaimana hubungan sebangun antara orang puasa dengan orang disiplin.

Jika tesis itu dapat diterima,maka disiplin adalah kata kunci dalam mengukur puasa seseorang. Dengan kata lain, jika tidak disiplin berarti sama saja dengan tidak berpuasa. Orang disiplinlah yang akan disebut sebagai orang berpuasa.

Karena disiplin adalah sikap baik yang sejatinya dipakai untuk semua keadaan, maka sudah seharusnya pula kita mengukur kedisiplinan kita dalam tindakan dan perbuatan kita yang lain. Tidak hanya ketika berpuasa saja kita berkewajiban mendisiplinkan diri, namun untuk keadaan yang lainpun seharusnya juga berdisiplin.

Dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam suasana puasa seperti saat ini, masih banyak ditemukan ketidakdisiplinan kita dalam tindakan dan perbuatan lainnya. Ambillah contohnya ketika di jalan raya pada saat mengendara kendaraan, banyak sekali ketidakdisiplinan yang terlakukan. Ketika di lampu merah, misalnya, betapa masih banyaknya orang yang dengan sengaja melanggar lampu merah itu. Sudah nyata menyala lampu merahnya, yang berarti wajib berhenti, ternyata masih juga para pengendara menerobosnyo.

Fenomena ini juga banyak berlaku pada tindakan dan perbuatan lainnya: di sekolah, di kantor, di pasar di banyak tempat lainya. Jika itu adalah sikap yang dianalogkan dengan keadaan dalam berpuasa, maka orang-orang yang tidak disiplin dapat dikatakan sebagai orang yang tidak berpuasa. Jadi, jika saja dalam bulan ramadhan ini masih saja kita tidak berdisiplin untuk apapun pekerjaan kita, itu berarti kita sama sekali tidak lagi disebut puasa.***

Rabu, 24 Juni 2015

Piala Bergilir Juara Ujian Semester

PIALA bergilir biasanya diberikan dalam satu perlombaan, pertandingan atau tournamen yang rutin dilaksanakan pada periode tertentu. Piala bergilir adalah piala lain di luar piala tetap untuk pemberi semangat. Piala bergilir hanya dimiliki untuk sementara waktu sampai lomba atau pertandingan berikutnya diadakan kembali.


Di banyak cabang lomba atau pertandingan yang pelaksanaannya rutin, paila bergilir selalu disiapkan. Seperti dalam lomba membaca alquran atau selalu disebut dengan MTQ (Musbaqoh Tilawatil Quran) misalnya, piala bergilir selalu ada dan disediakan panitia. Baik di Tingkat Kecamatan (MTQ antar Kelurahan/ Desa) sampai Tingkat Nasional (MTQ antar Provinsi), piala bergilir selalu ada. Kafilah yang mendapat nilai (point) terbanyak dari cabang-cabang yang dilombakan akan mendapatkan piala bergilir selalin pila tetap untuk setiap peserta.

Piala bergilir seperti di MTQ itu juga ada di cabang-cabang lain seperti olahraga, kesenian dan banyak lagi. Piala bergilir seperti itu adalah untuk beregu (daerah) yang memanangkan kejuaraan lebih banyak. Disebut juga sebagai piala Juara Umum. Namun piala bergilir untuk perorangan juga dapat dibuat yang pemenangnya adalah individu (perorangan) yang meraih nilai/ point terbaik di antara semua yang ikut.

Jika sekolah juga mengadakan atau menyediakan piala bergilir untuk peserta didiknya yang berhasil meraih nilai terbaik dalam suatu ujian, tentu saja ini adalah ide dan terobosan yang bagus. Selain piala atau piagam tetap untuk setiap juara di kelas atau di level kelas yang sama, juga ada piala bergilir yang diperuntukkan buat siswa yang memperoleh nilai tertinggi diantara para juara kelas secara keseluruhan (dari kelas terendah hingga kelas tertinggi).

Motivasi peserta didik sudah pasti akan bertambah jika ada piala bergilir ini. Berbeda dengan pemberian piagam penghargaan yang terkadang juga ditambah dengan pemberian uang atau bentuk lain sebagai hadiah pembinaan, pemberian piala bergilir memiliki semangat tersendiri. Biasanya aturan yang berlaku dalam perebutan piala bergilir, jika pemenangnya mampu mempertahankan dalam masa tiga kali berturut-turut, maka piala ini akan menjadi miliknya. Itu berarti, jika untuk pertama kali mampu diraih pada semester pertama (kelas I atau kelas VII atau kelas X) maka pada semester ketiga (kelas II, VIII atau XI) piala itu sudah menjadi milik sendiri. Begitu seterusnya, jika misalnya diraih pada semester II, III dan seterusnya.

Tapi jika semester berikutnya, atau pada semester ketiga berikutnya direbut peserta didik lainnya, maka kesuksesan merebut sebelumnya akan dianggap gugur dan tidak akan dihitung sebagai keberhasilan secara berturut-turut. Untuk itu, jika peserta didik ingin merebutnya menjadi milik sendiri (menjadi piala tetap) maka wajib untuk mempertahankan prestasinya secara terus-menerus dalam waktu tiga semeter.

Terlepas dari segala plus-minusnya, penyediaan piala bergilir oleh sekolah dalam rangka pemberian penghargaan untuk peraih nilai akademis terbaik, merupakan cara yang cukup baik agar adanya kompetisi sehat antar sehat dalam pembelajaran. Jadi, selain penghargaan dan pemberian hadiah dalam kegiatan-kegiatan olahraga dan kesenian, pemberian penghargaan dalam bentuk piala bergilir untuk akademis, juga sesuatu yang bagus dan akan bermanfaat dalam memacuk kompetisi dan kompetensi.***

Senin, 22 Juni 2015

Surat untuk Ketua PMKK

INILAH sepucuk surat, ingin saya sampaikan kepada Ketua PMKK (Persatuan Muballig Kabupaten Karimun) yang budiman. Maaf, saya harus menyampaikannya lewat media seperti blog ini. Saya sedikit kesulitan menghubungi langsung karena nomor HP (Hand Phone) misalnya, saya tidak punya. Dari pada berlama-lama keluhan ini tersimpan, mendingan saya tulis saja surat singkat ini.

Sabtu, 20 Juni 2015

Dana BOS Menjadi Dana Masjid, Mungkinkah?

Ilustrasi dari Google.com
JANGAN salah makna. Judul itu tidak dimaksudkan untuk menjelaskan bahwa uang BOS (Bantuan Operasional Sekolah) akan diubah menjadi uang masjid. Ya, tidak mungkinlah begitu. Maksud saya, pengelolaannya mencontoh cara pengurus masjid atau pengurus surau mengelola uang masjid atau uang surau. Mungkinkah?

Jika yang dimaksud adalah mencontoh cara-cara transparansi pengurus masjid dalam mengelola keuangan masjid atau surau, ya itu pasti bisa. Sangat, sangat bisa. Itu hanya persoalan kemauan berterus-terang saja oleh sekolah. Sekali lagi, jika transparansi yang memang sudah menjadi brandnya pengurus masjid dan itu diterapkan pula dalam pengelolaan uang sekolah, khususnya dana BOS, ya sangat mungkin. Itu pasti bisa. Tujuannya adalah bagaimana keuangan sekolah yang bernama BOS itu juga terkelola secara akuntabel dan transparan.

Orang tahu bahwa keuangan masjid lazimnya memang dikelola sedemikian rupa trasparannya. Intinya, bagaimana jamaah sebagai pemilik tertinggi institusi yang bernama masjid atau musolla mengetahui seterang mungkin keuangan masjid atau musolla yang dikelola pengurus. Biasanya bukan hanya pembukuannya yang terang dan detail tapi cara menjelaskannya juga sangat terbuka. Sekurang-kurangnya seminggu sekali diumumkan keadaan keuangan masjid, hari Jumat, misalnya.

Tidak saja diumumkan sepekan sekali pada saat jamaah berkumpul di hari Jumat itu, tapi data rinci uang masuk dan keluar juga diumumkan dalam bentuk print out dan ditempelkan pada papan pengumuman masjid. Itulah ciri pengelolaan keuangan masjid yang sudah sangat terkenal itu. Dengan begitu, seluruh jamaah akan dapat mengetahui langsung kedaan keuangan masjid mereka. Tidak ada penggunaan yang ditutup-tutupi oleh pengurus. Pengelolaan dana masjid benar-benar transparan.

Model keterbukaan seperti itulah sejatinya sekolah mengelola dana BOS. Uang yang digelontorkan dari APBN ini sepenuhnya untuk membantu sekolah dalam mengelola proses pembelajaran. Ada petunjuk teknis (Juknis) yang dikeluarkan oleh Kemdikbud agar pengelolaan penggunaan dana BOS benar-benar efektif. Jika saja pengelolaan itu menggunakan model (keterbukaan) pengelolaan dana masjid, pastilah efektivitasnya akan lebih tinggi lagi.

Tentu akan ada kendalanya jika keuangan BOS akan diperlakukan sebagaimana keuangan masjid. Pertama, Masih Adanya Budaya Terutup. Budaya atau kebiasaan sekolah yang selama ini belum terbiasa mengelola keuangan sekolah secara terbuka adalah salah satu kendala yang mungkin muncul ketika ada keinginan mengelola uang BOS sebagaimana uang masjid. Dari Kepala Sekolah, Tim Pelaksana BOS hingga ke seluruh warga sekolah harus berubah paradigma, jika ingin menggunakan model pengelolaan uang masjid. Jika kebiasaan tertutup masih dianut, tidak mungkin keterbukaan ala uang masjid akan dapat diterapkan.

Kedua, Masih dalam Penerimaan Perubahan. Belum tentu semua komponen sekolah bisa menerima keterbukaan yang menggunakan model keuangan masjid menjadi model pengelolaan uang BOS. Perubahan mendadak dari kebiasaan tertutup atau agak tertutup pastilah tidak mudah. Harus ada usaha pembiasaan terlebih dahulu.

Tentu masih ada beberapa kendala lain yang mungkin akan menghalangi keinginan mengubah pengelolaan dana BOS seperti pengelolaan keuangan masjid. Apakah bisa atau tidak, sangatlah tergantung kepada niat dan kemauan pihak sekolah. Selain itu, bagaimana sekolahg memandang pengelolaan dana masjid juga akan ikut mempengaruhi. Jika sekolah menganggap pengelolaan dana masjid itu memang baik, tentu akan dicoba mengikutinya. Kalau tidak? Ya tentu tidak juga.***

Jumat, 19 Juni 2015

Mengajak untuk Sehat

MENGAJAK untuk sehat, wajib hukumnya terutama bagi siapapun yang mengerti tentang kesehatan. Sebagaimana juga berdakwah (mengajak dalam beragama) sesungguhnya mengajak orang untuk senantiasa sehat pun sama pentingnya. Jika berdakwah dalam agama itu diwajibkan bagi setiap muslim, maka berdakwah dalam kesehatan pun mestinya wajib kedudukannya.

Jumat, 12 Juni 2015

Catatan dari LKT-SLTP: Anak-anak itu Mengagumkan

DUA hari --Kamis dan Jumat (11-12/ 06)-- lalu saya dan tiga orang lainnya (dua dari provinsi dan satu lagi dari Perpustakaan Daerah Karimun) menyelesaikan tugas sebagai tim juri Lomba Menulis Karya Ilmiah SLTP se-Kabupaten Karimun 2015. Kegiatan lomba khusus siswa/ wi SMP dan MTs ini diselenggarakan oleh Perpustakaan Daerah Kabupaten Karimun.

Setelah memilih enam dari 12 kelompok siswa SMP/ MTs yang mengirimkan naskah dan dinominasikan untuk tampil di babak final berupa presentasi dan tanya jawab, tim juri menetapkan para pemenang melalui penilaian presentasi dan tanya jawab tersebut. Keenam peserta lomba menulis yang masuk ke babak presentasi dan tanya jawab ini ditetapkan menjadi pemenang utama (I, II dan III) hingga pemenang harapan (I, II dan III). Panitia memberikan apresisasi kepada setiap pemenang yang tampil di final berupa uang pembinaan dan sertifikat untuk rangking satu hingga enam.

Lomba Karya Tulis (LKT) yang diperuntukkan bagi siswa/ wi SLTP (Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama) memang hanya diikuti oleh 12 (dua belas) regu/ kelompok dari 12 sekolah saja. Jumlah ini tentu saja sangat sedikit berbanding jumlah sekolah yang kurang lebih 40-an Sekolah Tingkat Menengah Pertama . Setelah melalui penilaian oleh empat orang juri yang sudah ditetapkan oleh Kepala Perpusatakaan dan Arsip Daerah Karimun, Panji Sasmita, akhirnya terpilih enam tulisan terbaik dari enam sekolah.

Keenam kelompok (sekolah) yang terbaik itu dinilai sekali lagi dalam babak final. Penilain bagian kedua ini berupa presentasi singkat oleh peserta dan dilanjutkan menjawab beberapa pertanyaan dari empat juri. Empat juri yang memberikan peniloaian adalah, Pertama, M. Rasyid Nur (Kepala SMA Negeri 3 Karimun yang ditugaskan oleh Dinas Pendidikan Kabupaten Karimun) yang menggali pengetahuan peserta di bidang kepenulisan karya ilmiahnya. Di bagian ini, juri mencoba mencari tahu, apakah peserta ini sudah atau belum memahami hal-hal yang berkaitan dengan tata cara menulis karya ilmiah.
Peserta dari SMP Negeri 1 Karimun

Juri kedua, Abd. Rahman (pegawai Perpusatakaan dan Arsip Daerah Provinsi Kepri di Tanjungpinang) yang bertanya hal ihwal keperpustakaan. Sejauh mana peserta memahami perpusatakaan, bagaimana peserta memanfaatkan perpusatakaan sebagai sumber belajar, dll adalah bagian tanya jawab yang dibangun oleh juri kedua ini. Bersama Susi Ariyanti, pegawai Perpustakaan dan Arsip Daerah Karimun, kedua juri ini menggali hal-hal berkenaan dengan perpustakaan. Juri ingin tahu wawasan peserta tentang perpusatakaan.

Lalu juri keempat adalah Inggar Pradipta, seorang pegawai di Lembaga Bahasa Provinsi Kepri. Ibu Inggar mengajukan pertanyaan lebih fokus kepada ketatabahasaan. Jadi, hal-hal yang berkaitan dengan pemakaian bahasa (tata bahasa, EYD, dll) menjadi bagian pertanyaan ibu muda ini. Para juri memang sudah menyepakati tentang pembagian topik yang akan dijadikan bahan tanya jawab dengan peserta.

Sebelum masuk ke babak final, semua naskah dinilai oleh keempat juri dengan cara yang sama. Maksudnya, semua naskah dibaca dan dinilai dengan beberapa kriteria yang sudah ditentukan oleh panitia secara bersama-sama di tempat terpisah. Masing-masing juri diberi satu kopi naskah oleh panitia. Diberikan penilaian sesuai kriteria dan sesuai objektivitas oleh masing-masing juri. Lalu nilai keempat juri direkap oleh panitia untuk menentukan enam kelompok terbaik.
Ka Perpusatakaan dan dua juri

Ada enam kriteria yang menjadi penilaian oleh dewan juri pada penilaian awal ini. Keenam kriteria yang sudah ditetapkan oleh panitia itu adalah, 1) Orisinalitas Cerita/ Tulisan; 2) Pemahaman terhadap tema/ topik cerita; 3) Kekayaan inbformasi dalam cerita/ tulisan; 4) Ketepatan analisis/ tafsir permasalahan; 5) Kekuatan data, fakta dan argumentasi dengan menyebutkan sumber rujukan; dan 6) Penggunaan bahasa (komunikatif/ mudah dipahami). Setiap kriteria diberi bobot nilai masing-masing 20 untuk kriteria pertama dan masing-masing 16 untuk kriteria lainnya. Nilai maksimal dari keenam kriteria itu adalah 100.

Akhirnya, pada hari Jumat itu diumumkan para pemenang setelah nilai naskah dengan bobot 70 % digabungkan dengan nilai presentasi dan tanya jawab dengan bobot 30 %. Berturut-turut juaranya adalah sebagai berikut: 1. Juara I diraih oleh regu siswa SMP Negeri 1 Karimun dengan nilai 289,3. Juara II adalah MTs Almuttaqin Sei Ungar, Kundur dengan nilai 282 sementara juara III diraih oleh siswa/ wi SMP Negeri 1 Meral dengan nilai 273,9. Ketiganya sukses meraih juara utama yang disediakan panitia.

Tiga sekolah lainnya, masing-masing SMP Negeri 2 Karimun, MTs Ummul Quro Kundur dan SMP Negeri 3 Meral meraih juara harapan I, II dan III. Kesemua pemenang (utama dan harapan) tetap mendapatkan hadiah berupa uang pembinaan ditambah piagam.

Tiada lain harapan kita, masyarakat Karimun khususnya para guru, semoga mereka mennjadi inspirasi bagi siswa/ wi lain untuk terus rajin membaca dan menulis. Diharapkan juga mereka menjadikan perpustakaan sebagai bagian kehidupan sehari-hari mereka. Mereka adalah generasi muda yang sangat mengagumkan. Penampilan mereka sungguh meyakinkan dewan juri. Selamat, buat anak-anak, peserta LKT tingkat SLTP dan selamat menjadikan inspirasi bagi anak-anak yang belum sempat ikut. Sukses selalu. Semoga!***

Selasa, 09 Juni 2015

Meraih Kejujuran Tanpa Paksaan

Suasana Pasna Ujian
SALAH satu problema bahkan ada yang menganggap dilema dalam ujian adalah perlu-tidaknya kejujuran. Dalam teori dan ketentuan, ujian harus dilaksanakan dengan akuntabel, efektif dan bertanggung jawab. Jika disarikan, peraturan ujian intinya mewajibkan terselenggaranya ujian yang jujur tanpa kecurangan.


Tapi keharusan yang menjadi tuntutan itu tidak selalu mudah terlaksana. Kebanyakan sekolah malah tidak mampu melaksanakannya sesuai ketentuan. Bukan saja pada ujian-ujian yang dilaksanakan sekolah (ujian semester atau ujian kenaikan kelas) bahkan ujian yang langsung dilaksanakan pemerintah (melalui Dinas Pendidikan) seumpama Ujian Nasional (UN) juga terbukti selalu saja terjadi kecurangan alias ketidakjujuran.

Peraturan selalu hanya tinggal peraturan. Peraturan seolah hanya ada di kertas pajangan dan sekadar tontonan pengawas satuan pendidikan. Atau sekadar menjawab pertanyaan pada instrumen monev tim Dinas Pendidikan. Lain di peraturan tapi lain pula di lapangan (ruang ujian). Teorinya, ujian mengikuti peraturan tapi ternyata hanya akal-akalan.

Sudah menjadi rahasia umum, banyaknya terjadi kecurangan dalam ujian khususnya dalam UN dengan berbagai modus. Celakanya, kecurangan dalam UN tidak sebatas usaha ilegal peserta UN (siswa) tapi justeru melibatkan sekolah itu sendiri. Argumen yang selalu dipakai sekolah adalah untuk membantu siswa, peserta ujian. Dengan alasan siswa harus lulus UN atau harus memperoleh nilai 'memuaskan' maka kecurangan pun dilegalkan.

Jika sekolah merasa harus melaksanakan ujian dengan jujur, lebih karena ada tekanan atau paksaan dari pihak lain. Pemerintah (baca: Dinas Pendidikan) dengan pejabat yang konsisten dan berintegritas pasti akan meminta sekolah untuk melaksanakan ujian dengan jujur tanpa kecurangan. Dan untuk memastikan terselenggaranya ujian yang jujur, dilakukan pengawasan yang ketat. Hal inilah yang oleh sekolah dianggap sebagai sebuahy keterpaksaan.

Kejujuran dalam ujian sejatinya dapat diraih tanpa harus dipaksa atau terpaksa. Kejujuran dalam ujian seharusnya dapat diraih dengan baik dan menyenangkan. Tentu saja kuncinya adalah munculnya kesadaran dari semua komponen sekolah. Dari Kepala Sekolah, guru dan peserta didiknya mestilah satu pandangan tentang perlunya ujian yang baik dan benar.

Strategi meraih ujian yang jujur dapat dimulai dari sekolah sendiri. Maksudnya dilaksanakan dan dimulai oleh pihak sekolah. Tentu saja guru adalah komponen utama yang akan menentukannya. Guru harus memulainya dari ujian-ujian harian yang dilakukan. Ketika akan melaksanakan ujian pasca satu atau beberapa materi terselesaikan dalam pembelajaran, laksanakanlah ujian dengan baik dan benar. Dari persiapan, pelaksanaan sampai kepada pemeriksaan, laksanakanlah dengan baik dan benar.

Selanjutnya pada ujian tengah semester dan atau semester, pun harus dilaksaakan dengan benar dan jujur. Guru mempersiapkan segala sesuatunya dengan baik dan benar. Dan begitulah seterusnya setiap kali adanya ujian. Guru tidak sekadar melaksanakan ujian untuk memenuhi ketentuan program pembelajaran. Tapi wajib melaksanakannya dengan baik dan benar. Hasil akhir yang disetorkan ke sekolah untuk selanjutnya dilaporkan kie orang tua atau pemnerintah, itu adalah hasil yang benar-benar mencerminkan kemampuan peserta didik.

Kebiasaan ujian jujur dan bertanggung jawab yang dimulai dari skop paling rendah itu, akan menjadi budaya yang baik di sekolah. Kelak, ketika akan dilaksanakannya ujian yang berskala nasional (UN) itu maka akan terselenggaralah ujian yang baik dan benar, akuntabel dan efektif itu. Harapan akan terselenggaranya ujian yang jujur tanpa kecurangan, insyaallah akan  bisa. Dan tentu akan tanpa paksaan.***

Selasa, 02 Juni 2015

Dengan Sahabat, Apapun Dapat

Ruang Pertemuan SMAN3
INI tentang perubahan tempat pertemuan MKKS (Musyawarah Kerja Kepala Sekolah) SMA/ MA Kabupaten Karimun, Sabtu, 01/ 06/ 2015 lalu. Semula disepakati akan dilaksanakan di SMA Negeri 4 Karimun, Sei Bati, Karimun. Tapi akhirnya terlaksana di SMA Negeri 3 Karimun, Parit Benut Karimun. Harus saya katakan, itu bisa terjadi adalah karena ada jalinan persahabatan yang baik di antara dua peneraju sekolah ini.

Senin, 01 Juni 2015

Cermin Sanksi FIFA

KALAU mau belajar dari kasus jatuhnya sanksi FIFA ke PSSI pada Sabtu (30/ 05) kemarin itu, sebenarnya ada banyak juga pelajarannya. Di luar rasa emosi kita yang harus menerima hukuman itu terhadap persepakbolaan di negara kita, sesungguhnya tetaplah ada yang dapat dipetik dari perasaan sakit itu.


Tanpa bermaksud membela Menpora yang dengan SK-nya mencabut eksistensi dan keberadaan PSSI, saya percaya di balik 'pemakzulan' PSSI yang terbentuk secara sah dalam kongres Luar Biasa, itu pasti ada juga pelajaran yang dapat ditangkap. Apalagi di belakangnya ada presiden yang penuh membela menterinya, tentu saja harus juga dilihat segi positifnya.

Bahwa keputusan Menpora plus dukungan presiden bisa saja diperdebatkan, itu tidak dapat dibantah. Banyak pengamat sepakbola menganggap keputusan Menpora itu terlalu jauh dan berlebihan. Bagi yang anti, akan menganggap kalau keputusan pemerintah melalui Menpora itu kebablasan. Jika menduga di PSSI ada masalah (dugaan mafia, korupsi, dll) seharusnya bukan PSSI-nya yang diberangus pemerintah. Hukum saja orang-orang yang diduga bermasalah itu. Bunuh tikusnya tapi jangan bakar limbungnya. Begitu istilah yang selalu dikemukakan para orang bijak.

Tapi bagi pihak-pihak yang pro keputusan Menpora, akan menganggap itulah satu-satunya cara terbaik untuk membenahi PSSI. Istilah presiden, mereformasi secara keseluruhan. PSSI tidak cukup dengan menyelesaikan secara sebagian-sebagian saja untuk memperbaikina. Harusnya dari A ke Z jika ingin sempurna perbaikannya. Tidak setengah-setengah. Begitulah komentar para penentang PSSI La Nyalla beralasan.

Apapun perdebatan pro kontra terhadap keputusan pemerintah, yang sudah terjadi saat ini --menurut berita yang kita baca-- adalah telah jatuhnya sanksi dari FIFA, induk sepakbola dunia ke PSSI, induk sepakbola Indonesia. Dengan sanksi itu maka FIFA memutuskan untuk menyetop semua aktivitas sepakbola Indonesia yang dinaungi FIFA. Indonesia, baik atas nama negara maupun atas nama PSSI-nya tidak boleh melakukan aktivitas sepakbola yang diakui FIFA dimanapun. Lalu, para pemain sepakbola Indonesia juga dilarang bermain untuk klub manapun di dunia ini untuk aktivitas yang diakui FIFA.

Dengan sanksi seberat itu, sesungguhnya tidak ada lagi celah bagi Indonesia sebagai sebuah negara, PSSI sebagai sebuah organisasi dan para pemain sepakbola sebagai individu dan insan sepakbola untuk melakukan aktivitas persepakbolaan yang mendapat pengakuan dari FIFA. Sungguh sangat menyakitkan.

Kini nasi sudah menjadi bubur. Semuanya sudah terlanjuur. Berdebat terus perihal mengapa FIFA begitu kelihatan kejam, tidak akan ada gunanya. Pihak-pihak yang menjadi penentu jatuhnya sanksi itu sudah kita lihat bersama, betapa kokohnya (baca: keras kepala) mereka mempertahankan kebenaran versi masing-masing. Dengan pertahanan 'membabaibuta' itu pula jatuhnya sanksi FIFA. Artinya, semua pihak pun sudah wajib menerimanya. Dan saatnya sanksi itu dijadikan cermin saja.

Bagaikan cermin, keputusan pahit yang diterima Indonesia dapat diterik pelajarannya antara lain, 1) Jangan Memaksakan Kehendak; Ini dapat ditelusuri dari awal bagaimana kerasanya PSSI untuk tetap melaksanakan keputusannya memainkan liga dengan 18 klub yang oleh pemerintah dianggap bermasalah. Sebaliknya pemerintah juga keras kepala dengan memutuskan melarang Surabaya dan Arema untuk ikut liga yang menurut peraturan versi PSSI sudah tidak ada msalah. 2) Tidak hendak mau bertolak angsur; Ini dapat ditelusuri bahwa sebelumnya jatuhnya sanksi, sesungguhnya ada waktu berhari-hari bahkan berbulan-bulan untuk merenung dan meluruskan pikiran. Baik Ppemerintah ke PSSI atau sebaliknya dari PSSI ke Pemerintah, masing-masing saling mengancam dan juga saling memberi waktu untuk berpikir. Tapi waktu itu tidak pernah dipergunakan. Di situlah seharusnya sikap bertolak-angsur diterapkan.

Ketika FIFA yang sudah mendapat begitu banyak masukan dari PSSI akan memberi sanksi, sebenarnya juga ada waktu berpikir untuk mengubah sikap keras kepala masing-masing pihak. FIFA hanya meminta agar pemerintah dan PSSI menyelesaikan kisruh itu. Apapun caranya. Tapi waktu itu juga tidak dimanfaatkan untuk membuat penyelesaian. Sampai jatuhlah sanksi itu.

Maka jalan terakhir dari jatuhnya sanksi FIFA adalah menjadikan kisruh sepakbola di Tanah Air ini sebagai dasar untuk membenahi semuanya. Setiap diri (individu) yang merasa ingin berjasa di bidang sepakbola sudah saatnya untuk tidak lagi keras kepala. Berubahlah dari sikap sok hebat sendiri, sok kuat sendiri, sok menang sendiri, dst... untuk juga mendengarkan suara dari pihak lain. Katanya 'mari bersatu agar teguh' mengapa juga harus memaksa menang-menangan sendiri.***
 
Copyright © 2016 koncopelangkin.com Shared By by NARNO, S.KOM 081372242221.