BREAKING NEWS

Kamis, 28 Mei 2015

Heran, Nulai UN Aneh

HASIL Ujian Nasional (UN) SMA/ MA sudah diumumkan pada 15 Mei 2015 lalu secara nasional, termasuk di Kabupaten Karimun. Capaian peserta UN untuk enam Mata Pelajaran (MP) yang di-UN-kan juga sudah diketahui. Sayangnya capaian itu tidak memuaskan sama sekali, terutama --yang secara pisik terlihat-- untuk peserta didik yang ada di Kabupaten Karimun, negeri berazam.


Hasil nilai UN yang dieproleh peserta didik kelas XII TP 2014/ 2015 di Karimun belum dapat dikatakan sukses karena angka perolehan itu secara umum masih di bawah garis nilai 'cukup' yang ditetapkan Pemerintah. Dari empat kategori yang ditetapkan kebanyakan para siswa memperoleh nilai di bawah 56, nilai paling rendah dengan kategori 'cukup' yang bisa dianggap lulus UN. Sangat sedikit siswa yang mampu mendapatkan nilai sama atau di atas nilai cuku itu.

Empat kategori nilai yang ditetapkan dalam POS (Prosedur Operasi Standar) UN 2015 adalah pertama, kategori Sangat Baik (SB) yaitu jika siswa mampu meraih nilai di antara angka 86 s.d. 100. Ini adalah nilai terbaik yang diharapkan dicapai siswa. Saya tidak tahu apakah ada peserta didik di Karimun yang meraih angka maksimal itu, baik rata-rata maupun untuk beberapa mata pelajaran saja.

Kategori selanjutnya adalah dengan sebutan Baik (B) yaitu apabila siswa berada pada angka dengan nilai antara76 s.d. 85. Nilai B sering juga disebuat sebagai nilai standar nasional karena nilai minimal nasional adalah pada angka 75. Kategori selanjutnya disebut dengan nilai Cukup (C) yaitu jika siswa hanya berada dintara angka 56 s.d. 75. Dan di bawah angka 56 (0-55) dinyatakan sebagai kategori Kurang (K).

Berdasarkan capaian nilai peserta UN tahun ini ternyata secara umum semua sekolah di sini hampir berada di kelompok nilai kurang tersebut. Bahkan untuk beberapa sekolah hampir semua siswa peserta UN-nya tidak mampu melewati angka 56 kecuali untuk MP Bahasa Indonesia saja. Dari informasi beberapa rekan Kepala Sekolah, rata-rata siswanya hanya berada pada kategori kurang dengan pengecualian beberapa siswa dan atau pengecualian untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia.

Sesungguhnya rendahnya perolehan nilai itu sudah diprediksi sejak awal-awal. Mengacu capaian nilai UN setiap tahunnya, kabupaten ini memang belum mampu keluar dari garis K tersebut. Jika sekolah melaksanakan UN dengan jujur dan bertanggung jawab, pada umumnya para siswa belum mampu keluar dari standar nilai kurang tersebut. Untuk satu-dua sekolah, mungkin sudah mampu keluar dari zona garis merah tersebut. Itulah sebabnya sekolah-sekolah akan berusaha memaksimalkan pengelolaan pembelajarannya dengan lebih baik. Harapannya agar pada saat UN nanti para siswa kelas XII mampu mengikutinya dengan baik.

Satu hal yang lebih menggundahkan pihak sekolah untuk UN tahun 2014/ 2015 ini adalah dugaan tidak konsistennya nilai capaian siswa yang diterima sekolah. Tanpa bermaksud menyimpulkan adanya kesalahan panitia (provinsi/ pusat) UN yang bertugas mengoreksi, namun kenyataan nilai yang menimbulkan dugaan aneh itu, perlu diklarifikasi. Sekolah melihat deretan nilai yang ada pada Daftar Nilai UN yang dikirimkan Dinas Probvinsi ke sekolah-sekolah sedikit menimbulkan pertanyaan.

Untuk Mata Pelajaran (MP) tertentu ada nilai dengan angka tidak mencerminkan  konsistensi nilai. Misalnya ada peroleh siswa dengan nilai 39,9 untuk salah satu pelajaran. Sudah diketahui bahwa jumlah item soal UN pada tahun ini adalah 40 soal untuk MP IPA dan sebanyak 50 soal untuk MP IPS. Itu berarti peroleh nilai siswa jika benar satu soal adalah 2 (dua) atau 2,5 (dua koma lima) dengan kelipatan yang sama ke atasnya. Jadi, seharusnya siswa hanya akan mendapatkan nilai dengan angka 0,00 lalu 2, 4, 6, 8, dst hingga angka 100 jika benarnya sempurna. Ini untuk item soal 50. Jika itemnya 40 tentu saja nilainya menjadi 0,00 lalu 2,5, 5,00 dan seterusnya hingga 100.

Seharusnya, jika untuk soal 40 item peroleh nilai tertingginya 100 jika dijawab sempurna dengan kelipatan 2,5 dan soal dengan ietm 50 dengan kelipatan 2,  maka jika ada siswa mendapatkan nilai misalnya, 39,9 atau  nilai pecahan lain yang tidak sesuai dengan kelipatan dua atau dua setengah, tentu saja itu akan membingungkan dan membuat perasaan aneh.

Untuk sementara sekolah menduga bahwa nilai setiap item soal bisa jadi tidak sama bobot nilainya karena diberikan secara proporsional yang hanya diketahui oleh panitia saja. Jika memang nilainya adalah proporsional, maka keanehan dia atas dapat dipahami. Tapi jika ini tidak dijelaskan ke sekolah, tetap sekolah akan menganggap bahwa panitia tidak bekerja sesuai ketentuan.

Minggu, 24 Mei 2015

Maaf, ini RHS: Isteriku Dikurek Lagi

TIBA-tiba saja saya sore ini ingin menulis --seperti biasa-- dan memberi informasi tentang keadaan isteri saya. Padahal saya tahu, dia tidak ingin orang lain tahu kalau dia harus mengalami sekali lagi ujian ini: dikurek lagi. Itu ujian yang sangat berat bagi seorang wanita seperti dia. Tapi apa daya, dia harus lagi mengalaminya.

Jumat, 22 Mei 2015

Bersahabat, Buatlah Manfaat

BERMULA dari komunikasi dan pertemanan antara guru dengan perwakilan Penerbit Erlangga, disapa Kasrul, ternyata berlanjut ke aktivitas yang jauh lebih bermanfaat, melaksanakan workshop Pelatihan Penulisan PTK. Hubungan pertama memang bermula karena saling membutuhkan antara guru dengan perwakilan penerbit yang menawarkan/ menjual buku kepada para guru. Tapi hubungan itu menjadi hubungan kegiatan yang saling menguntungkan.

Kamis, 21 Mei 2015

Langkah Awal Guru Menulis

INI inspirasi bagus dan baru. Beberapa orang guru dengan semangat tetap teguh akhirnya mampu membuat blog masing-masing individu. Tidak mudah awal mulanya. Sebagai Kepala Sekolah, mengajak mereka untuk menulis adalah tugas utama juga dan sudah lama saya coba. Tapi sebegitu lama, tetap saja banyak kendala. Rekan-rekan guru selalu mengatakan, "Tidak bisa". Saya tahu, satu-dua orang sudah bisa.


Mengajak guru-guru untuk mulai membiasakan diri menulis, itu memang tidak mudah, ternyata. Meskipun menulis dalam pemahaman umum pasti dan wajib dilakukan guru, namun menulis untuk hobi atau kerja-kerja tambahan selain tugas pokok, ternyata tidak mudah. Guru pasti menulis misalnya ketika wajib menyusun persiapan mengajar, tapi gur--guru tidak juga menulis di luar itu.

Ajakan untuk 'ayo menulis' memang sudah lama saya lakukan kepada rekan-rekan guru. Saya merasa sudah menajdi korban karena tidak memaksa untuk menulis sedari awal. Korban, karena akhirnya kenaikan pangkat saya terkendala dalam waktu lama. Makanya setelah saya berhasil mengalahkan rasa malas saya, sayapun mencoba mengajak teman-teman lainnya. Dan usaha ini sedari dulu terus diusahakan.

Kebutuhan menulis, sesungguhnya tidak semata melatih sikap dan pikiran saja. Jika mampu, menulis itu sejatinya benar-benar menjadi kewajiban. Lagi pula menulis memang sudah menjadi kegiatan yang terkait dengan status kita sebagai guru. Permendiknas Nomor 16 Tahun 2009 sudah menegaskan bahwa untuk kenaikan pangkat tidak bisa tidak kecuali menulis. Membuat karya tulis adalah kewajiban.

Itulah sebabnya saya selalu memotivasi teman-teman untuk menulis. Bukan karena saya sudah sukses menjadi penulis. Saya malah menganggap saya berkategori gagal jika diukur dengan teman-teman seangkatan bahkan yang masih jauh di bawah saya usianya. Mereka yang sukses itu sudah melahirkan banyak buku yang menginspirasi orang-orang lainnya. Sementara saya tidak atau belum mampu seperti mereka. Saya hanya mempunyai semangat yang tidak lagi akan bisa padam kecuali atas kehendak-Nya nanti.

Jadi, dengan maksud baik, meskipun saya belum sukses tapi saya memiliki keinginan untuk menulis. Perasaan dan keinginan itulah yang saya tularkan juga ke teman-teman di sekitar saya, khususnya ke guru-guru di mana saya juga menjadi guru.

Kini, dengan telah suksesnya beberapa guru membuat blog --gratis-- pribadi, saya berharap mereka segera akan memulai langkah untuk bergiat menulis. Taridisi literasi yang mestinya dimiliki setiap guru, semoga nanti akan benar-benar terjadi di kalangan teman-teman ini. Saya yakin, mereka sudah memulai langkah awal untuk menjadi penulis. Ayo, rekan-rekan guru, kita galakkan teradisi menulis bagi diri masing-masing.***

Senin, 18 Mei 2015

Catatan Hasil UN: Lulus tapi Tak Lulus

Pidato Motivasi dalam UN
ANEH, kan judul tulisan ini? Lulus tapi tidak lulus. Bagaimana maksudnya, jika disebut lulus tapi sekaligus dikatakan tidak lulus juga? Pasti dan tentu saja membingungkan. Hasil UN (Ujian Nasional) SLTA yang diumumkan pada hari Jumat (15/ 05) lalu itu memang menyisakan keanehan menurut saya.

Seluruh sekolah tingkat lanjutan atas (SMA, MA dan SMK) memang sudah mengumumkan hasil ujian akhir tiga tahunan sekolah masing-masing pada hari terjepit antara libur Kenaikan Isa Almasih dan Israk-Mikraj itu. Sesuai ketentuan, setelah mengadakan rapat kelulusan pada hari yang sama, sore itu juga semua sekolah mengumumkan kelulusannya.

Dengan bangga setiap sekolah mengumumkan kelulusan peserta didik kelas XII. Kebanggaan itu tentu saja karena untuk tahun 2014/ 2015 ini boleh dikatakan semua sekolah meluluskan semua peserta ujiannya alias lulus 100%. Jika ada yang dikatakan tidak lulus, itu hanya karena memang tidak ikut ujian saja. Seperti kasus di salah satu SMA Negeri di Pulau Karimun yang salah seorang siswa peserta UN-nya mengalami kecelakaan lalu lintas dan menyebabkan siswa itu meninggal dunia, hanya itulah peserta yang dinyatakan tidak lulus. Hanya itu yang dilaporkan tidak lulus kepada Dinas Pendidikan. Tapi semua siswa yang ikut UN, dinyatakan lulus sekolah. Artinya, walau laporannya tidak 100 % tapi kenyataannya tetap 100% kelulusannya.

Sesuai peraturan UN Tahun Pelajaran 2014/ 2015 bahwa untuk kelulusan peserta didik cukup ditentukan oleh sekolah saja. Hasil UN yang nota bene lembaran ujiannya tidak diperiksa oleh sekolah tidak lagi menjadi penentu kelulusan. Selama ini kelulusan yang ditentukan oleh hasil UN itulah yang membuat momok sekolah. Kini, kelulusan sepenuhnya menjadi wewenang sekolah. Sementara hasil UN hanya dipakai untuk melihat dan menentukan pemetaan mutu sekolah saja. Termasuk pemetaan mutu pendidikan di suatu daerah (kabupaten/ provinsi) secara nasional.

Karena kelulusan adalah wewenang sekolah tanpa mengaitkannya dengan hasil UN maka setiap sekolah sudah tidak khawatir lagi perihal kelulusan ini. Setiap sekolah dapat saja meluluskan peserta didik kelas akhirnya itu meskipun hasil UN-nya tidak memuaskan. Bahkan dengan pradikat nilai 'kurang' saja, sekolah tidak dilarang meluluskan siswa kelas XII.

Inilah yang terjadi pada tahun ini. Semua sekolah di kabupaten khususnya, di Provinsi Kepri bahkan di Indonesia pada umumnya meluluskan siswanya dari UN tahun ini dengan persentase maksimal. Malah dengan rasa bangga juga pengumuman itu disampaikan. Perasaan dan pernyataan bangga itu dapat dilihat pada berita-berita koran yang beredar di daerah ini pasca pengumuman serentak itu. Setiap Kepala Sekolah atau guru yang ditanya dan diminta komentarnya oleh wartawan mengatakan betapa bangga dan puasnya mereka atas kelulusan 100% ini.

Kebanggaan kelulusan sempurna itu memang menjadi harapan semua sekolah dan juga siswa. Tahun-tahun yang silam pun sebenarnya sekolah juga melakukan kebijakan yang kurang lebih sama. Tapi yang membuat rasa tidak puas adalah karena ternyata hampir semua siswa yang dinyatakan lulus itu tidak mampu meraih niliai minimal 'cukup' apalagi 'baik' untuk nilai UN-nya. Rata-rata predikat nilai siswa untuk hasil UN-nya hanyalah nilai kurang pada tahun ini.

Seperti sudah ditentukan Pemerintah (Kemdibud) bahwa hasil UN itu diberi predikat dengan empat kategori, yaitu nilai Kurang (K), Cukup (C), Baik (B) dan nilai Sangat Baik (SB) sesuan jumlah angka perolehan. Kategori SB adalah jika siswa mampu meraih nilai antara 86-100 dalam UN-nya. Nilai B jika mampu meraih nilai 76-85 sedangkan nilai C antara 56-70. Nilai 55 ke bawah dikategorikan dengan sebutan nilai kurang yang berarti belum lulus.

Dan ternyata sebagian besar bahkan semua siswa di sekolah-sekolah yang kelulusannya 100 % itu hanya memperoleh pradikat K alias di bawah angka 56. Sungguh tidak memuaskan sebenarnya. Kerja berat guru dalam mengajar, mendidik, membimbing siswa dalam proses pembelajaran serasa tidak berbalas dengan perolehan nilai yang diraih siswa itu. Padahal untuk menghadapi UN setiap tahunnya, guru tidak hanya mengelola PBM sesuai jadwal biasa, malah terkadang menambah jadwal tambahan atau yang disebut juga dengan 'terobosan'.

Meskipun hampir semua sekolah  meluluskan siswanya dari satuan pendidikan, namun perolehan nilai di bawah 'cukup' itu menunjukkan bahwa sesungguhnya siswa bersangkutan belumlah lulus. Artinya, meskipun lulus dari satuan pendidikan tapi dinyatakan belum lulus dalam UN. Kepada para siswa yang baru mampu meraih nilai di bawah cukup pun akan diberi kesempatan mengulangi UN sebagai perbaikan nilai di tahun depan. Tugas berat yang akan menjadi PR sekolah (guru) di waktu-waktu ke depan.***

Kamis, 14 Mei 2015

Lomba Debat untuk Jalin Sahabat

Siswa-Wakakesiswaan
BERTEPATAN dengan peringatan Hardiknas (Hari Pendidikan Nasional) 2015 yang diperingati setiap tanggal 2 Mei, siswa/ wi SMA Negri 3 Karimun melaksanakan satu kegiatan pendidikan. Kegiatan itu adalah Lomba Debat Bahasa Indonesia antar kelas se-SMA Negeri 3 Karimun. Pelaksanaan kegiatannya pada hari Sabtu (09/ 05) karena pada hari H-nya itu para guru mengikuti apel HUT Hardiknas Kabupaten, yang diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan Kabupaten Karimun.

Rabu, 13 Mei 2015

Jika Peserta Didik Tak Tuntas

MEMBICARAKAN peserta didik yang bermasalah dalam setiap rapat Majelis Guru (MG) biasanya selalu sengit. Di satu sisi, kebijakan sekolah agar para siswa tuntas semua sementara di sisi lainnya para siswa tidak atau belum mengikuti setiap tugas yang diberikan guru. Guru sendiri tidak boleh atau tidak ingin memberikan nilai pembelajaran yang asal-asalan, sekadar disebutu tuntas saja.


Tidak mudah memang. Dalam setiap kelas selalu ditemukan satu atau lebih peserta didik yang 'tersangkut' penyelesaian nilai ujiannya. Target minimal (KKM) yang ditentukan sekolah tidak mampu tercapai oleh beberapa orang siswa ini.Gabungan nilai ujian dengan nilai harian juga tidak cukup untuk menyatakan tuntas yang akan dimasukkan ke dalam buku Laporan Pendidikan. Dilema, memang.

Ketika masalah nilai yang belum tuntas itu sampai ke dalam rapat MG, maka akan hangatlah rapat itu. Antara guru dan Kepala Sekolah dan atau antar sesama guru akan terjadi perdebatan sengit. Bagi Kepala Sekolah, tidak berlebihan jika berharap semua peserta didik bisa berhasil. Begitu pula dengan Wali Kelas, ingin sekali semua siswa di kelasnya tuntas untuk setiap Mata Pelajaran (MP).

Tapi bagi guru yang mengampu MP yang beberapa siswanya tidak/ belum tuntas itu, ini adalah masalah pelik. Segala usaha dengan segala metode dan strategi sudah dilakukan, tapi tetap saja masih ada beberapa siswa yang tersangkut itu tadi. Dan ketika masalah sampai ke forum rapat MG, maka akan terjadilah semacam perang antar guru atau antara guru dengan Kepala Sekolah.

Seperti terjadi kembali pada Rapat Bulanan Guru di SMA Negeri 3 Karimun hari Senin (11/ 05) lalu. Ketika Kepala Sekolah meminta laporan masing-masing Wali Kelas perihal keadaan siswa di kelasnya, muncullah beberapa nama siswa yang masih bermasalah dengan nilai mid semesternya. Intinya belum tuntas dan siswa yang bersangkutan tidak pula kelihatan keseriusannya dalam menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan guru.

Tidak terelakkan perdebatan sengit antara satu guru dengan guru lainnya, terutama dengan Wali Kelas. Menurut versi guru, siswa tersebut memang tidak mempunyai kemauan dan motivasi yang cukup untuk menyelesaikan persoalan nilainya yang masih 'tersangkut' itu. Boleh jadi siswanya sangat lemah daya tangkapnya.

Menurut versi guru lainnya pula, belum tentu sepenuhnya kesalahan siswa yang bersangkutan. Boleh jadi, sebagai guru, kita belum terlalu bersungguh-sungguh dalam mengelola masalah mereka. Atau guru tidak mampu memahami keadaaan sebenarnya tentang anak tersebut. Begitu kurang lebih argumen guru-guru lainnya.

Solusi yang disepakati dalam rapat tersebut adalah bahwa sekolah (para guru) harus terus berusaha agar anak-anak bisa tuntas. Walaupun ada kemungkinan satu-dua orang itu adalah siswa yang memang sangat rendah tingkat kecerdasannya, namun mereka bukanlah anak idiot yang layak di SLB.Mereka diterima di SMA (sekolah umum) adalah karena daya tangkap otak dan kecerdasan otaknya sudah kurang lebih sama dengan para siswa lainnya.

Maka guru tidak boleh putus asa menghadapi siswa-wi yang demikian. Harus terus diusahakan. Harus terus dibina, dibimbing dan diasuh untuk keberhasilan mereka. Jika memang tidak mudah membuat mereka tuntas untuk beberapa MP itu, harus tetap diusahakan. Cari terus cara agar mereka mau dan mampu.***

Rabu, 06 Mei 2015

Saatnya Siswa Punya Blog

SUDAH selalu dihimbau dan diingatkan oleh para pakar atau penyuka bloger agar generasi muda Indonesia mengelola dan memiliki blognya sendiri. Para guru di sekolah juga meminta agar para siswa sebagai generasi muda bangsa memiliki blog pribadi. Dengan memiliki blog sendiri anak-anak muda generasi pengganti ini akan leluasa mengembangkan budaya literasi sekaligus memupuk imajinasi. Budaya tulis-menulis sangatlah penting buat generasi muda, terutama para siswa.

Senin, 04 Mei 2015

Atasi 'Bah' Narkoba dengan Tanggul yang Kokoh

JUMAT malam (01/ 05) bertempat di Mapolres Karimun berlangsung acara doa selamat yang diisi juga dengan yasinan dan tausiah agama. Bagi masyarakat Karimun secara umum, kegiatan ini tidak ada yang istimewa. Tapi sebuah iustitusi dengan pucuk pimpinan (Kapolres) beragama non Islam, tentu saja ini cukup istimewa. Seorang penganut Nasrani yang taat melaksanakan langsung acara keagamaan yang keseluruhannya bernuansa Islami.


Keistimewaan acara yang juga diisi dengan pemberian santunan anak yatim dari salah satu Pesantren di Pulau Karimun itu adalah karena Pak Kapolres yang nota bene adalah pejabat beragama Kristen tampak begitu 'khusyuk' dalam melaksanakan kegiatan keagamaan Islam ini. Dia langsung memimpin dan memberikan sambutan pada acara yang dihadiri oleh jamaah muslim itu. Pak Suwondo sendiri hadir dengan stelan muslim: berkemeja putih dan peci hitam yang sama dengan kebanyakan jamaah lain malam itu.

Dalam sambutan sebelum proses acara dimulai, dia bahkan memulai salam dengan ucapan 'asalamualaikum warohmatullohi wabarokatuh' itu, Pak Kapolres menjelaskan bahwa program keagamaan ini memang akan terus dilaksanakan, sekurang-kurangnya dalam dua atau tiga bulan sekali. "Kita ingin terus menjaling dan memupuk silaturrahmi antara keluarga besar Polri di Karimun ini dengan masyarakat di sini," katanya. Pak AKBP Suwondo Nainggolan memang selalu berusaha menyatu dengan masyarakat Karimun yang nota bene mayoritas Islam. Dia sama sekali tidak canggung berdinas di daerah dengan masyarkat yang memang kuat menjalankan nilai-nilai agama (Islam) itu.

Satu misi (program) yang sejak awal bertugas di Kabupaten Karimun dicanangkan Kapolres yang dimutasi dari Polda Metro Jaya itu adalah Karimun yang Bersih dari Narkoba. Dia membuat singkatan jargonnya ini dengan sebutan Karimun Bersinar. Satu jargon yang indah disebut dan mulia dalam rencana. Akan berhasilkah? Inilah yang pada setiap kesempatan berpidato atau memberikan sambutan, Pak Kapolres senantiasa mengingatkan dan mengajak untuk memerangi penyalahgunaan narkoba. Negara kita memang sudah sangat gawat-darurat narkoba.

Jika narkoba itu saat ini sudah bagaikan air bah yang tengah dan akan menyerang negara dan daerah kita, maka tidak ada jalan lain bagi bangsa ini selain untuk memperkokoh tanggul penahan serangan air bah narkoba ini. Kita tahu, dari anak kecil (usia SD) sampai ke orang tua-tua bau tanah sudah sangat banyak yang terindikasi serangan narkoba. Generasi bangsa ini memang sedang terancam oleh peredaran narkoba. Bahkan oleh para bandar narkoba, peredaran narkoba tidak lagi sekadar narkobanya saja, bahkan narkoba saat ternyata sudah disusupkan dan diselipkan pada makanan tertentu. Ada yang dicampurkan dengan makanan dan ada juga pada minuman. Sungguh masif serangan narkoba saat ini.

Maka kata Pak Suwondo, Islam yang sudah mengharamkan narkoba, haruslah imej haram itu terus disosialisasikan kepada masyarakat. Istilah 'haram' itu biasanya sudah sangat ditakuti oleh masyarakat, maka teruslah dikatakan bahwa narkoba itu memang  barang haram. "Kita harus memperkokoh tanggul pertahanan setiap diri kita agar tidak mudah diterjang narkoba. Iman adalah yang utama yang akan memperkuat benteng pertahanan kita," katanya malam itu bagaikan seorang ustaz yang bereramah.

Sebagai kabupaten yang berbatasan dengan negara tetangga (Malaysia dan Singapura) peredaran barang haram itu memang sangat tinggi di sini. Dua negara itu selama ini sudah menjadi pintu masuk yang mudah ke sini. Maka jika daerah ini ingin aman dari ancaman narkoba, kerja keras dan kebersaan antar elemen masyarakat memang diperlukan. Polisi adalah garda terdepan dan akan menjadi penentu berhasil-tidaknya harapan ini. Semoga misi Pak Kapolres untuk menjadikan Karimun Bersinar itu benar-benar terwujud.***

Sabtu, 02 Mei 2015

Persahabatan Menghilangkan Sekat Agama

INI catatan, kesan menarik mengikuti acara doa selamat dan yasinan di Mapolres Karimun hari Jumat (01/ 05) malam lalu. Saya kebetulan diundang dan ikut dalam acara yang saya tahu itu untuk pertama kali diadakan markas polisi setingkat kabupaten itu. Membanggakan sekaligus menyemangatkan persahabatan. Dua keyakinan (agama) berbeda melaksanakan satu acara keagamaan yang sama.

Jumat, 01 Mei 2015

Catata dari Darunnadhwah: Mengapa Mencuri, Anakku?

KETIKA memberi sambutan pengarahan pada acara Pembinaan Akhlak Mulia Bagi Remaja di aula Darunnadhwah, Masjid Agung Karimun hari Rabu (29/ 04) lalu, Pak Arnadi Supaat yang mewakili Bupati Karimun menyampaikan rasa khawatirnya. Dengan suaranya yang khas 'lembut' dia menegaskan bahwa saat ini sudah ada ramaja yang berani mencuri. "Beberapa hari yang lalu, saya baca di koran seorang remaja yang masih pelajar terlibat pencurian kendaraan bermotor," katanya dengan mimik muka serius.


Agak terkejut juga peserta dan undangan mendengar informasi dari Asisten Pembangunan Setda Karimun itu. Seorang yang masih berstatus pelajar di sebuah SLTP sudah terlibat pencurian di kota ini. Bagaimana dan seperti apa akhlak siswa ini? Tentu kita akan bertanya-tanya dalam hati masing-masing. Bersempena pembukaan kegiatan pembinaan karakter dan akhlak yang diselenggarakan Bagian Kesra Setda Karimun, Pak Arnadi menyinggung perihal sudah menakutkannya kelakuan anak-anak muda di kabupaten berazam ini, tentu tiak salah. Dalam kapasitas Kepala Pemerintahan Kabupaten, dia memberi pengarahan pada acara pembinaan akhlak remaja, tentu saja dia ingin memberi contoh akhlak remaja yang terlanjur tidak baik.

Kita baca di harian yang terbit di daerah kita dalam satu-dua hari lalu, beberapa orang anak-anak muda kita sudah terlibat pencurian. Hanya untuk main balap-balap motor, mereka berani melakukan pencurian. Begitu dijelaskan polisi, seperti ditulis wartawannya. Sungguh akhlak yang sudah sangat mengkhawatirkan. Saya pikir, semua kita setuju bahwa kelakuan anak-anak remaja usia sekolah itu sangat mengkhawatirkan.

Pak Arnadi mengutip berita koran adalah untuk memberi contoh tentang betapa perlunya pembinaan karakter dan akhlak ini. Jika tidak ada usaha untuk membina anak-anak muda ini, tentu saja suatu hari nanti akan lebih menakutkan lagi. Jadi, kegiatan pembinaan akhlak remaja ini memang harus didukung dan kalau perlu diperbanyak intensitasnya.
Pak Arnadi saat memberi pengarahan
Sudah tepat dia menyinggung peristiwa jelek tapi harus diingat itu sebagai penguat pidato pengarahannya. Sebagai seorang yang dulu juga seorang guru, Pak Arnadi pasti merasa betapa beratnya membina akhlak anak-anak di sekolah. Kalau dia menyinggung contoh kejadian buruk itu, tentulah dimaksudkannya agar itu jangan sampai terulang atau dilakukan oleh para siswa yang lain. Kejadian itu adalah contoh buruk yang harus dihidnari.

Sebagai mantan guru, para peserta yang merupakan siswa/ wi sekolah-sekolah yang ada di Pulau Karimun itu tentu saja akan mengingatkan Pak Asisten itu ke masa-masa lalunya ketika setiap hari dan setiap harus berhasdapan dengan anak-anak sekolah. Para siswa yang merupakan perwakilan beberapa sekolah itu tentu juga adalah orang yang beruntung mendapat kesempatan untuk mengikuti pembinaan akhlak dan karakter itu. Dengan mendatangkan tim ESQ dari Batam, pelaksana (Pemerintah Daerah) tentu saja harus mengelarkan biaya tidak sedikit. Selama dua hari mereka akan digembleng teori dan praktik, bagaimana berakhlak yang baik.

Menurut informasi, sebanyak 100-an siswa dari SMP hingga SMA/ MA/ SMK diikutkan dalam kegiatan yang langsung dibina oleh Tim ESQ Provinsi Kepri itu.Kabag Kesra, Usman yang menjadi penanggung jawab kegiatan ini menerangkan bahwa para peserta ini ditentukan dan ditunjuk oleh sekolah masing-masing. Pemerintah meminta ke sekolah sesuai kuota per sekolah, dan sekolah yang menentukan siapa yang harus ikut.
Peserta dan bebera undangan
Tiada lain target yang akan dicapai selain membina anak-anak remaja, generasi muda bangsa untuk berakhlak lebih baik. Kerisuan semua kita atas beberapa kejadian kelakuan anak-anak muda belakangan ini memang harus menjadi perhatian. Selain kasus pencurian, beberapa kasus seperti suka bolos sekolah, ikut-ikutan merokok dan menyalahgunakan narkoba, sex remaja, adalah kenyataan yang juga wajib diwaspadai. Maka pembinaan akhlak dan pembinaan karakter bangsa ini adalah salah satu solusinya.

Bagi sekolah (guru) kasus pencurian yang dimuat di koran itu sungguh memilukan hati. Terlepas dari niat apa yang terkandung dari harian tersebut, yang pasti ini adalah kasus yang berpotensi akan lebih merusak anak-anak muda di masa depan. Sebagai guru tentu akan bertanya, mengapa kalian mencuri, anakku? Rasa luka dalam di hati yang setiap hari mendidik dan mengajar mereka di sekolah, tapi mengapa harus melakukan perbuatan memalukan itu?

Semoga usaha pemerintah untuk terus-menerus membina akhlak para remaja ini akan menjadi salah satu cara mengurangi bahkan menghilangkan kasus-kasus kenakalan remaja di ranah negeri berazam ini. Para peserta yang berkesempatan ikut dua hari itu, diharapkan menjadi garda terdepan bagi teman-teman lain yang belum berksempatan ikut. Secara berantai ilmu dan pengalaman ini dapat pula diteruskan ke remaja-remaja yang lain. Semoga.***
 
Copyright © 2016 koncopelangkin.com Shared By by NARNO, S.KOM 081372242221.