BREAKING NEWS

Kamis, 30 April 2015

Memupuk Persahabatan untuk Pembelajaran

SEBAGAI seorang siswa, pertemanan dengan siswa lain di sekolah adalah kenyataan yang tidak mungkin dipungkiri. Meskipun ada yang merasa tidak berteman antara satu orang siswa dengan siswa lainnya di sekolah bahkan di kelasnya, sesungguhnya hubungan pertemanan itu sudah otomatis ada diantara sesama siswa. Pertemanan itu diharapkan akan berlanjut ke persahabatan.

Senin, 27 April 2015

Melihat Minat Menulis Siswa Karimun

TIDAK bisa disebut terlalu rendah minat siswa (peserta didik) Karimun di bidang tulis-menulis. Pada acara lomba menulis yang diselenggarakan Dinas Pendidikan Kabupaten Karimun dalam rangka memperingati dan memeriahkan Hardiknas (Hari Pendidikan Nasional) tahun 2015, tercatat 60-an peserta didik tingkat Sekolah Dasar (SD) dan 20-an peserta didik Tingkat SLTA ikut serta.


Dinas Pendidikan Karimun untuk pertama kali pada tahun 2015 ini menyelenggarakan sayembara menulis selain beberapa kegiatan lainnya, seperti lomba memasak, lomba menyanyi, dll. Lomba menulis diperuntukkan bagi peserta didik sementara lomba memasak dan menyanyi diperuntukkan bagi guru dan Kepala Sekolah. Kegiatan dipusatkan di tempat yang sama dan waktu yang sama, Sabtu, 25 April 2015 di rumah kediaman bupati.

Khusus lomba menulis ada dua kategori dan dilaksanakan sebelum acara puncak, Sabtu itu. Hari Sabtu (25/ 04) itu hanya untuk presentasi saja yang disejalankan dengan beberapa kegiatan lain. Kegiatan menulisnya dilaksanakan sejak satu bulan sebelumnya. Untuk peserta didik di SD, membuat tulisan dengan tema 'Andai Aku Jadi Bupati Karimun'. Sementara untuk lomba menulis Karya Tulis Ilmiah (KTI) diperuntukkan kepada peserta didik di SLTA.

Walaupun alokasi waktu membuat karya tulisnya terbilang singkat, ditambah lambatnya informasi dan brosur pengumuman itu sampai ke sekolah, ternyata animo siswa untuk ikut serta cukup lumayan. Tidak bisa disebut sangat rendah. Andai saja waktu penulisan karya tulisnya lebih lama, tentu saja jumlah pesertanya akan lebih banyak lagi dari pada yang sekarang ada.

Melihat minat siswa dalam mengikuti lomba karya tulis ini memang tidak dapat disorot dari satu sisi saja. Jumlah peserta yang tidak seberapa ini belum tentu sepenuhnya sebagai bukti rendahnya minat siswa Karimun dalam menulis. Jika pun itu adalah bukti bahwa minat dan semangat siswa memang rendah, tetap saja harus dilihat dari berbagai sudut.

Pertama, faktor pembinaan dari guru. Ini adalah faktor penting untuk membina dan mengembangkan budaya menulis di kalangan pelajar. Guru adalah sosok yang berperan sangat penting dalam pengembangan dan pembinaan minat menulis. Sekolah tempat guru melaksanakan tugasnya juga berperan menentukan, apakah sekolah secara khusus mempunyai program pengembangan dan pembinaan budaya menulis bagi siswanya? Ini penting dan sangat menentukan.

Kedua, faktor dorongan dan kebijakan Pemerintah. Dalam hal ini kebijakan yang diambil oleh Dinas Pendidikan sebagai payung sekolah. Apakah pihak Dinas Pendidikan sudah memprogramkan berbagai kegiatan yang mengarah untuk pengembangan dan pembinaan budaya menulis di kalangan pelajar? Pelaksanaan lomba tahun ini adalah untuk pertama kali dilakukan Dinas Pendidikan. Jika saja setiap tahun ada kegiatan yang sama, jelaslah itu akan sangat berpengaruh dalam menumbuhkembangkan budaya menulis di kalangan siswa.

Ketiga faktor siswa sendiri. Bagaimanapun, pastilah yang sangat menentukan akhirnya adalah peserta didik itu sendiri. Siswa adalah yang akhirnya akan memutuskan, apakah akan berusaha untuk mengembangkan dirinya dalam budaya literasi atau tidak. Jika pun guru, pemerintah, orang tua atau siapa saja secara ekststernal berusaha mempengaruhi siswa untuk menulis, tapi akhirnya justeru siswa itu sendirilah yang akan memutuskannya. Jika ada kemauan, pasti akan ada jalan untuk itu.

Untuk pelaksanaan KTI tahun ini, jumlah pesertanya memang terasa sdikit sekali. Hanya ada 20 orang peserta (siswa SLTA) yang mengirimkan karya tulisanya ke panitia. Bandingkan jumlah siswa di Karimun saat yang ribuan orang jumlahnya. Hanya ada berapa persen saja yang mau ikut serta. Sangat sedikit, tentunya. Tapi, sekali lagi, ini tentu saja tidak atau belum tentu karena benar-benar minat siswa yang rendah. Harus ada usaha dan penjelasan lain. Semoga usaha awal dari Dinas Pendidikan ini akan memotivasi guru dan sekolah untuk melakukan hal yang sama kepada siswanya.***


Jumat, 24 April 2015

Hafiz Cilik itu Cukup Memukau

ADA yang menarik dan membuat kagum dalam lomba Hifzil Quran MTQ Tingkat Kabupaten Karimun tahun 2015 di Durai beberapa waktu lalu. Jika Anda menyaksikan berlangsungnya lomba cabang menghafal alquran Golongan Satu Juz dan Tilawah pada hari Selasa (07/ 04) itu, pastilah akan muncul rasa kagum. Seorang anak kecil dalam usia 6 setengah tahun begitu memukau penonton dalam melantunkan bacaan ayat-ayat alquran tanpa melihat kitab suci alquran. Namanya juga hafiz, yang menghafal.


Hari pertama berlangsungnya MTQ cabang Hifzil Quran Satu Juz dan Tilawah, seorang anak kecil yang mewakili salah satu kecamatan tampil dengan suaranya yang lantang sekali. Sebagai salah seorang Dewan Hakim, saya benar-benar kagum dan juga terkejut dengan bacaannya yang begitu menawan. Suaranya yang dominan itu bertolak belakang dengan badannya yang tampak kecil sekali. Bukan hanya kecil tapi kelihatan wajahnya yang lugu dan benar-benar kekanak-kanakan.

Beberapa orang yang sudah duluan tampil untuk cabang yang sama, sama sekali tidak menimbulkan rasa heran. Memngagumkan, ya mengagumkan tapi tidak sampai mengherankan. Jika anak-anak dalam usia sepuluhan tahun mampu menghafal satu juz alquran tentu saja mengagumkan. Tapi jika usianya masih di bawah tujuh tahun, itu tentu kagum sekaligus mengherankan.

Itulah dia Riki (begitu anak itu dipanggil) yang membuat penonton kagum, haru dan heran. Dia begitu lancar dan berusara bagus dalam membawakan bacaan ayat-ayat suci Alquran yang ditanyakan kepadanya. Sebagai salah seorang peserta Lomba Hifzil Quran Golongan Satu Juz dan Tilawah, Riki juga membacakan tiga soal ayat-ayat sebagai hafalan dan bacaan tilawah. Kedua jenis bacaan itu dibawakan dengan begitu indah dan menawan hati.

Atas kehebatannya itu, tentu saja akan begitu membanggakan kedua orang tuanya, kecamatan Kundur Utara yang diwakilinya bahkan Kabupaten Karimun sendiri. Semoga kelak dia menjadi seorang hafiz yang handal kelak di kemudian hari. Amiin.***

Seksi Konsumsi IPHI, Pergi: Selamat Jalan, Sahabat Kami

TERKEJUT. Saya benar-benar terkejut. Berita tak terduga itu saya terima langsung dari Ketua IPHI (Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia) Kabupaten Karimun, Pak Haris. Haris Fadhillah, S.Ag yang baru saja dikukuhkan bersama kepengurusan IPHI Kabupaten pada hari Rabu (22/ 04) lalu menginformasikan berita duka ini pada sore hari pasca pelantikan itu.

Selasa, 21 April 2015

Cobaan: Belum Dapat Seragam Pelantikan IPHI

SAYA teringat kata-kata P. Ramli dalam salah satu filmnya, cobaan. Setiap kali ada kendala dalam perjalanan hidup dan cita-citanya dia dan teman-teman dalam film itu akan menyebut kata cobaan. Dia tidak merasa perlu terlalu bersedih dan menyesali diri. Anggap saja itu semua sebagai cobaan. Kata itu kembali teringat.

Senin, 20 April 2015

Berprestasi untuk Diri dan Negeri

MARI kobarkan jargon 'Berprestasi Untuk Diri dan Negeri' sebagai penyemangat dalam meraih prestasi. Kalimat itu selalu disampaikan di sekolah. Dalam setiap pengarahan oleh guru atau Kepala Sekolah, selalu diselipkan kalimat penyemangat ini. Tujuannya agar para siswa di sekolah ini mampu berprestasi bahkan memacu prestasi sekolah-sekolah lain yang ada di kabupaten ini.


Ternyata jargon itu mulai ada pengaruhnya sejak beberapa tahun belakangan ini. Meskipun secara akademis SMA Negeri 3 Karimun tidak mudah untuk memintas prestasi beberapa sekolah lain yang secara tradisional selalu menjadi sekolah favorit oleh siswa baru, akan tetapi di luar akademis tentu tidak mustahil untuk mengejar prestasi. Bidang-bidang olahraga, kesenian dan beberapa bidang non akademis lainnya masih mungkin untuk dikembangkan oleh sekolah.

Beberapa catatan prestasi berikut adalah bukti bahwa sekolah ini mampu menunjukkan raihan prestasinya mengiringi sekolah-sekolah 'senior' lainnya. Dua piala terbaru yang diraih, misalnya adalah, 1) Juara III Turnamen Futsal antar SMA/ MA/ SMK se-Kabupaten Karimun yang diselenggarakan oleh Kantor Pajak Pratama Kabupaten Karimun. 2) Juara III Lomba Cerdas Cermat Perpajakan yang juga diselenggarakan oleh Kantor Pajak Pratama Kabupaten Karimun. Kegiatan ini dilaksanakan pada pekan ketiga April 2015 yang baru lalu. Selain piala, para siswa juga mendapatkan uang pembinaan.

Untuk piala futsal juara I dan II diraih oleh SMK Negeri 1 Karimun dan SMA Negeri 1 Karimun. SMA Negeri 2 dan 4 serta beberapa SLTA lain tentu saja posisinya berada di bawah SMA Negeri 3 Karimun. Sementara untuk cerdas cermat, juara I dan II diraih oleh SMA Negeri 4 dan SMA Negeri 1 Karimun. Menurut para guru, kedua sekolah ini jelas memiliki siswa yang input akademisnya lebih tinggi. Tapi keluarga besar SMA Negeri 3 Karimun tetap bangga karena masih ada beberapa sekolah yang difavoritkan justeru berada di urutan yang lebih belakang berbanding SMA Negeri 3 Karimun.

Beberapa bulan lalu, dua orang siswa SMA Negeri 3 Karimun juga mampu meraih prestasi terbaik di Kabupaten Karimun. Seorang siswa puteri bahkan menjadi wakil Provinsi Kepri di tingkat Nasional dalam lomba membaca puisi. Ilfa, nama siswi itu adalah juara pertama di Kabupaten Karimun dan Provinsi Kepri yang membuatnya berhak maju ke timngkat nasional di Semarang pada tahun 2014 lalu. Pada kegiatan yang sama, seorang siswa putera juga meraih juara pertama di kabupaten untuk membawanya ke Provinsi Kepri.

Kedua siswa/ wi ini telah membuktikan dirinya mampu berprestasi. Jargon  'Berprestasi untuk Diri dan Negeri' yang dipopulerkan sekolah mampu memacu semangat para siswa untuk meraih prestasi sesuai dengan bakat talenta masing-masing. Sekolah memang tidak memaksakan para siswa untuk berprestasi tinggi di bidang akademis mengingat potensi dasar mereka di bidang  akademis memang tidak terlalu mendukung. Berbanding SMA Negeri 1, 2 atau  4 jelas bahwa para siswa yang mendaftar di sekolah satu-satunya di Kecamatan Meral ini bernilai UN lebih rendah ketika masuk di kelas awal. Namun untuk prestasi non akademis, sekolah ini tidak terlalu tertinggal.

Itulah sebabnya, para guru berusaha selain terus-menerus meningkatkan kemampuan akademisnya, juga berusaha untuk berprestasi di bidang non akaemis. Semoga hasil-hasil yang sudah diraih beberapa tahun bnelakangan ini akan terus berlanjut. Jumlah piala bukti sebagai juara yang sudah memenuhi lemari kaca di sekolah, kiranya akan terus bertambah.***

Kamis, 16 April 2015

Murid itu Adalah Sahabat

TIDAK ada kata mantan guru atau mantan murid, begitu kata guru-guru kita. Setiap orang yang pernah mengajar dan mendidik kita di sekolah, di surau atau di mana saja, tetaplah guru selamanya. Bahkan ketika dia tidak ada sekalipun. Begitu pula sebaliknya: murid, tetaplah murid selamanya. Jadi, mantan guru atau mantan murid memang tidak ada sebagaimana mantan pacar.

Selasa, 14 April 2015

UN 2015 untuk Kejujuran 100 Persen

KARENA nilai Ujian Nasional (UN) tidak lagi dijadikan syarat kelulusan pada UN Tahun Pelajaran 2014/ 2015 ini, maka diharapkan pelaksanaan UN 2015 ini akan berjalan dengan jujur. Tidak perlu ada lagi kecurangan untuk memperoleh nilai tinggi (di luar kemampuan) sebagaimana sebelumnya selalu terjadi. Fakta dan berita yang selama ini menyebutkan bahwa dalam pelaksanaan UN selalu terjadinya kecurangan-kecurangan. Ke depan, itu tidak lagi perlu terjadi.


Pada pertemuan MKKS (Musyawarah Kerja Kepala Sekolah) di SMA Negeri 1 Moro, Kamis (02/ 04) lalu, para Kepala SMA/ MA se-Kabupaten Karimun juga sepakat dan bertekad untuk melaksanakan UN jujur di sekolah masing-masing. Guru atau Kepala Sekolah diharamkan menunjukkan jawaban alias membocorkan soal kepada siswa. Tekad yang sangat mulia.

Ketentuan selama ini yang menjadikan hasil UN dengan batas nilai tertentu sebagai syarat kelulusan dari satuan pendidikan telah menyebabkan para siswa peserta UN bertekada untuk melakukan berbagai usaha, termasuk usaha tidak 'mulia' demi meraih kelulusan. Usaha-usaha tidak baik itu seumpama kecurangan, misalnya.  Itu ternyata tidak hanya dilakukan oleh siswa, malah guru juga ikut terlibat. Di beberapa sekolah lebih sedih lagi karena ternyata Kepala Sekolahnya juga ikut merusak pelaksanaan UN. Tentu saja ini sangat merusak karakter semua pihak. Peserta didik yang akan tamat itu tentu saja selamanya akan menjadi orang berdosa.

Kini, dengan POS UN yang dikeluarkan BNSP (Badan Nasional Standar Pendidikan) bernomor 31/P/BSNP/III/ 2015 dan Pemrmendikbud bernomor 5 Tahun 2015 sudah jelas bahwa keberadaan nilai UN tidak lagi menjadi syarat kelulusan. Bagi peserta didik, keikutsertaannya dalam UN sudah cukup karena nilai UN memang masih diperlukan sebagai alat pemetaan mutu pendidikan secara nasional, daerah dan sekolah. Bahkan dengan sistem ini, capaian kompetensi UN peseerta didik secara perorangan juga akan tergambarkan.

Itulah sebabnya, kebijakan ini diharapkan mampu mengubah paradigma sekolah dalam menyelenggarakan UN. Kini tidak lagi kelulusan 100 persen yang dibutuhkan tapi kejujuran 100 persen yang diprioritaskan. Persentase kelulusan sudah menjadi wewenang sekolah. Sekolah tidak dibatasi lagi akan meluluskan berapa persen karena kriteria kelulusannya sendiri ditentukan oleh sekolah. Justeru kejujuran 100 persen itulah yang kini menjadi ujian sebenarnya bagi sekolah. Nah, jika para Kepala Sekolah bertekad akan melaksanakan ujian yang benar-benar sesuai dengan ketentuan dan peraturan, insyaallah akan tercapai target kejujuran 100 persen itu. Tidak lagi kejujuran yang pura-pura.

 Benarkah tekad ini akan terwujud? Atau kebohongan akan tetap dipelihara? Atau kejujurannya sekadar kejujuran pura-pura saja? Sejarah akan membuktikannya, nanti. Mengingat kejadian masa lalu, memang sudah terbukti ada kejujuran yang ternyata bohong-bohongan saja. Kepala Sekolah mengatakan sudah jujur, tidak ada lagi contek-mencontek, ee ternyata anak-anak masih suka saling berbagi dan saling mencontek.

Terkadang heran juga, mengapa kejujuran harus dibohongi juga. Jika belum mampu melaksanakan ujian dengan jujur, ya tenang-tenang saja itu lebih baik. Tidak perlu membohongi diri dan sekolah kita. Kasian, ini benar-benar akan merusak tanpa disadari. Ayo, mari kita junjung kejujuran 100 persen ini. Kita usahakan sekolah masing-masing untuk melaksanakan ujian dengan kejujuran yang sebenarnya.

Kamis, 09 April 2015

Perlunya Komunitas Menulis Guru


TIDAK berlebihan jika ada usulan agar guru membuat komunitas tulis-menulis di sekolah. Meskipun belum tentu para guru menganggap usulan ini penting namun saya yakin wadah ini perlu bagi guru dalam usaha mengembangkan kreativitas tulis-menulisnya. Kreativitas tulis-menulis, walaupun dapat dilakoni secara sendiri namun akan lebih menantang jika dilaksanakan dalam kebersamaan dengan orang lain.

Selasa, 07 April 2015

Bu Hajjah Pak Haji ke Pantai

MENYEBUT pantai, konotasinya selalu anak-anak muda dimabuk cinta. Pantai selalu diidentikkan dengan kesukaan remaja muda-belia dan para turis yang hobi berwisata. Dan ketika sekelompok ibu-ibu dan bapak-bapak berusia tak muda, ikut-ikut ke pantai, ada apa? Penasaran, jadinya.

Mengubah Paradigma UN: Dari Kelulusan ke Kejujuran

NILAI Ujian Nasional (UN) tidak lagi menjadi syarat kelulusan pada UN Tahun Pelajaran 2014/ 2015 ini. Ketentuan baru ini berbeda total berbanding persyaratan kelulusan sebelumnya. Harapannya, pelaksanaan UN yang berlangsung pada 13 April 2015  (untuk SMA/ MA/SMK) sejatinya akan berjalan dengan jujur, transparan dan bertanggung jawab.


Dalam pelaksanaan UN tidak akan ada lagi kecurangan untuk memperoleh nilai tinggi (di luar kemampuan) sebagaimana sebelum-sebelumnya. Fakta dan berita yang selama  ini tersebar  memang menyebutkan bahwa dalam pelaksanaan UN selalu terjadi kecurangan. Sungguh tidak menyenangkan tapi informasi-informasi kecurangan selalu muncul mengiringi pelaksanaan UN.

Kriteria kelulusan dari satuan pendidikan di era SBY bahkan sejak sebelumnya, yang menjadikan hasil UN dengan batas capaian nilai tertentu sebagai syarat kelulusan  telah menyebabkan para siswa peserta UN ingin berbuat dan melakukan apa saja. Berbagai usaha, termasuk usaha tidak 'mulia' demi meraih kelulusan dilakukan. Usaha-usaha tidak baik itu antara lain seumpama kecurangan, ketidakjujuran, saling contek, dan beberapa lagi

Kecurangan dan ketidakjujuran itu ternyata tidak hanya dilakukan oleh siswa, malah guru juga ikut terlibat. Di beberapa sekolah lebih sedih lagi karena ternyata Kepala Sekolahnya juga ikut merusak pelaksanaan UN. Tentu saja ini sangat merusak sistem sekaligus karakter peserta  dan pelaksana: guru, siswa dan Kepala Sekolah. Peserta didik yang akan tamat dengan cara-cara seperti ini tentu saja selamanya akan menjadi orang yang merasa berdosa disebabkan UN yang sengaja ternoda.

Dengan POS (Prosedur Operasional Standar) UN yang dikeluarkan BNSP (Badan Nasional Standar Pendidikan) bernomor 31/P/BSNP/III/ 2015 dan Permendikbud bernomor 5 Tahun 2015 dijelaskan bahwa nilai UN tidak lagi menjadi syarat kelulusan. UN dilaksanakan tapi sebagai ketentuan kelulusan tidak menentukan. Bagi peserta didik, keikutsertaannya dalam UN sudah cukup karena sudah menjadi ketetapan dan peraturan.

UN sendiri memang masih diperlukan seabagaimana penegasan Undang-undang Pendidikan dan peraturan pemerintah yang mengaturnya. UN diperlukan sebagai alat pemetaan mutu pendidikan secara nasional, daerah dan sekolah. Bahkan dengan sistem ini, capaian kompetensi UN peseerta didik secara perorangan juga akan tergambarkan per Mata Pelajaran yang diujikan. Ketentuan keharusan melaksanakan UN ini memang sudah diatur termasuk dalam Peraturan Pemerintah (PP)  No 19 Tahun 2005 yang sudah diubah menjadi PP No 32 Tahun 2013 perihal Standar Nasional Pendidikan (SNP) itu.

Dengan kriteria kelulusan yang baru ini, selain ketentuan umum seperti 1) telah menyelesaikan seluruh program pembelajaran di sekolah; 2) memperoleh nilai sikap minimal baik; 3) lulus ujian sekolah. (pasal 2) selebihnya kriteria kelulusan ditentukan oleh sekolah. Ketentuan lulus ujian sekolah adalah dengan memperhitungkan nilai rapor (gabungan beberapa semester) dan nilai US (Ujian Sekolah) yang pelaksanaan pengawasan dan penilaian ditentukan oleh sekolah. Batas nilai minimal pun juga ditetapkan sendiri oleh sekolah sesuai dengan kemampuan peserta didik di satuan pendidikan.

Dari ketentuan seperti itu tentu saja tidak ada alasan kekhawatiran untuk tidak lulus lagi. Apa yang selama ini menjadi momok oleh peserta didik termasuk orang tua siswa dan masyarakat dalam pelaksanaan UN, kini sudah diredakan Pemerintah. Kemdikbud sebagai penanggung jawab nasional, hanya membutuhkan hasil UN sebagai pengukur standar mutu pendidikan secara nasional. Dari UN akan terukur keadaan sebenarnya mutu pendidikan di satuan pendidiankan yang nantinya pemetaan ini akan menjadi dasar langkah lanjutan dalam pembinaan dan pengembangan sekolah.

Itu berarti bahwa, persentase kelulusan tidak lagi menjdi sesuatu yang juga menakutkan sebagaimana paradigm selama ini. Dengan kelulusan diserahkan dan ditentukan oleh sekolah penyelenggara, maka momok menakutkan itu sudah tidak aka nada lagi. Sekolah sendirilah yang akan menetapkannya. Paradigm lulus 100 persen yang selama ini menjadi kebanggaan semu sekolah tidak lagi menjadi sesuatu yang pentng dan menakutan. Sekolah dapat meluluskan peserta didiknya sesuai keinginan sekolah sendiri.

Sangat tepat apa yang dinyatakan oleh Mendikbud, Anis Baswedan bahwa UN sekarang ini tidak lagi mengejar kelulusan 100 persen tapi kejujuran 100 persen. Sangat tepat harapan menteri ini. Jika pemetaan yang menjadi sasaran UN adalah sebagai langkah dasar pembinaan dan pengembangan sekolah, maka sekolah jangan pernah lagi merekayasa kemampuan peserta didiknya dengan membiarkan terjadinya kecurangan dalam ujian.

Ujian yang berjalan dengan tidak fair, tidak transparan dan tidak akuntabel –karena terjadi kecurangan-- sudah pastti hasilnya tidak akan mencerminkan kemampuan siswa yang sebenarnya. Rekayasa hasil ujian ini pasti akan menyesatkan, baik sebagai sebuah informasi maupun sebagai dasar langkah dan strategi pengembangan dan pembinaan.

Perubahan paradigma dalam menyikapi kelulusan atau persentase kelulusan memang diperlukan bagi penyelenggara pendidikan di sekolah. Kepala Sekolah, guru, siswa, orang tua atau masyarakat pada umumnya harus mempunyai satu pandangan tentang kelulusan dan UN itu sendiri. Terselenggaranya UN yang baik sesuai ketentuan yang hasilnya akan mencerminkan kemampuan yang sebenarnya, adalah target utama yang wajib diperjuangkan. Siswa harus dididik dan diajar dengan tujuan pembinaan karakter itu sendiri. Tujuan pendidikan yang bermuara pada terwujudnya insan berkarakter dan berkemampuan untuk mandiri, hanya akan terwujud jika sejak dari sekolah anak-anak sudah dibiasakan bersikap dan bertindak jujur dan bertanggung jawab.

UN 2015 yang merupakan awal mula berubahnya sikap Pemerintah yang mempercayakan keputusan kelulusan kepada satuan pendidikan sendiri, semoga saja tidak lagi disia-siakan sekolah. Sekolah (jika di masa lalu belum berubah)  inilah sattnya untuk wajib berubah. Kebanggaan semu dengan peringkat kelulusan 100 persen tapi UN yang penuh kecurangan, itu tidak diperlukan lagi. Masa depan bangsa ada di tangan para siswa. Mereka harus dipersiapkan secara baik dan benar. Itu berarti sekolahlah yang akan penentukan.***

Minggu, 05 April 2015

Jangan Dicurangi lagi



KARENA nilai Ujian Nasional (UN) tidak lagi dijadikan syarat kelulusan pada UN Tahun Pelajaran 2014/ 2015 ini, maka diharapkan pelaksanaan UN 2015 ini akan berjalan dengan jujur. Tidak perlu ada lagi kecurangan untuk memperoleh nilai tinggi (di luar kemampuan) sebagaimana sebelumnya selalu terjadi. Fakta dan berita yang selama ini menyebutkan bahwa dalam pelaksanaan UN selalu terjadinya kecurangan-kecurangan. Ke depan, itu tidak lagi perlu terjadi.


Pada pertemuan MKKS (Musyawarah Kerja Kepala Sekolah) di SMA Negeri 1 Moro, Kamis (02/ 04) lalu, para Kepala SMA/ MA se-Kabupaten Karimun juga sepakat dan bertekad untuk melaksanakan UN jujur di sekolah masing-masing. Guru atau Kepala Sekolah diharamkan menunjukkan jawaban alias membocorkan soal kepada siswa. Tekad yang sangat mulia.

Ketentuan selama ini yang menjadikan hasil UN dengan batas nilai tertentu sebagai syarat kelulusan dari satuan pendidikan telah menyebabkan para siswa peserta UN bertekada untuk melakukan berbagai usaha, termasuk usaha tidak 'mulia' demi meraih kelulusan. Usaha-usaha tidak baik itu seumpama kecurangan, misalnya.  Itu ternyata tidak hanya dilakukan oleh siswa, malah guru juga ikut terlibat. Di beberapa sekolah lebih sedih lagi karena ternyata Kepala Sekolahnya juga ikut merusak pelaksanaan UN. Tentu saja ini sangat merusak karakter semua pihak. Peserta didik yang akan tamat itu tentu saja selamanya akan menjadi orang berdosa.

Kini, dengan POS UN yang dikeluarkan BNSP (Badan Nasional Standar Pendidikan) bernomor 31/P/BSNP/III/ 2015 dan Pemrmendikbud bernomor 5 Tahun 2015 sudah jelas bahwa keberadaan nilai UN tidak lagi menjadi syarat kelulusan. Bagi peserta didik, keikutsertaannya dalam UN sudah cukup karena nilai UN memang masih diperlukan sebagai alat pemetaan mutu pendidikan secara nasional, daerah dan sekolah. Bahkan dengan sistem ini, capaian kompetensi UN peseerta didik secara perorangan juga akan tergambarkan.

Itulah sebabnya, kebijakan ini diharapkan mampu mengubah paradigma sekolah dalam menyelenggarakan UN. Kini tidak lagi kelulusan 100 persen yang dibutuhkan tapi kejujuran 100 persen yang diprioritaskan. Persentase kelulusan sudah menjadi wewenang sekolah. Sekolah tidak dibatasi lagi akan melulusan berapa persen karena kriteria kelulusannya sendiri ditentukan oleh sekolah. Justeru kejujuran 100 persen itulah yang kini menjadi ujian sebenarnya bagi sekolah. Nah, jika para Kepala Sekolah bertekad akan melaksanakan ujian yang benar-benar sesuai dengan ketentuan dan peraturan,

 Benarkah tekad ini akan terwujud? Atau kebohongan akan tetap dipelihara? Sejarah akan membuktikannya, nanti. Selamat malam, sahabat FB.

Jumat, 03 April 2015

Catatan dari Sosialisasi UN: Ikhlas Menerima Hasil

KURANG dari dua pekan menjelang pelaksanaan UN (Ujian Nasional) SMA/ MA/ SMK, medio April ini, kembali SMA Negeri 3 Karimun mengadakan sosialisasi UN Tahun Pelajaran 2014/ 2015. Menjelang pelaksanaan 'terobosan' September 2014 lalu, para orang tua/ wali murid kelas XII sudah pernah diundang untuk persiapan UN. Waktu itu sosialisasi UN disejalankan dengan rencana pelaksanaan program terobosan, pembelajaran tambahan buat kelas XII.


Sosialisasi kedua ini dilaksanakan pada hari Selasa, 31 Maret 2015 lalu.  Walaupun menurut data absesnsi, para orang tua/ wali siswa tidak hadir semuanya, bahkan jumlah yang tidak hadir begitu banyaknya, namun keberadaan mereka yang hadir pada sosialisasi kedua ini sangatlah penting. Kepada orang tua/ wali siswa dijelaskan bahwa UN tahun ini sangat berbeda dengan UN tahun-tahun sebelumnya.

Salah satu yang menjadi pembeda antara UN tahun sekarang dengan UN tahun-tahun sebelumnya adalah bahwa nilai UN pada tahun ini tidak lagi menjadi syarat atau penentu kelulusan peserta didik di satuan pendidikan. Jika peserta didik sudah ikut UN saja dan nilainya sudah diperoleh, maka dia berhak lulus jika persyaratan lainnya sudah terpenuhi. Persyaratan lain itu antara lain, 1) telah menyelesaikan seluruh program pembelajaran dari kelas X hingga kelas XII; 2) memperoleh nilai sikap minimal 'baik'; dan beberapa kriteria lainnya yang ditentukan sekolah sesuai pedoman Permendikbud No 5 tahun 2015 tentang kriteria kelulusan UN Tahun Pelajaran 2014/ 2015. Yang pasti, berapapun perolehan nilai UN dari siswa, sekolah dapat saja meluluskannya selama persyaratan lain itu terpenuhi.

Atas beberapa perubahan itu, sekolah secara khusus kembali meminta dan mengingatkan orang tua siswa untuk ikhlas menerima apapun hasil UN nanti. Lebih dari itu, orang tua pun diharapkan mau menerima, jika umpamanya anak-anak mereka belum bisa diluluskan dari satuan pendidikan pada tahun pelajaran 2014/ 2015 ini. Meskipun penentuan kelulusan siswa sepenuhnya dari sekolah sendiri, tidak berarti semua siswa wajib lulus begitu saja. Sekolah tetap akan membuat kriteria sebagai persyaratan kelulusan dengan pedoman yang sudah ditentukan oleh pemerintah itu.

Ikhlas menerima apapun hasil UN anak-anak juga berarti bahwa orang tua harus menerima perolehan hasil UN yang nantinya akan dibunyikan standar hasil UN itu sendiri. Standar hasil itu antara lain, ada kualifikasi 'kurang' bagi siswa yang hanya mampu memeproleh nilai 55 ke bawah. Jika siswa mampu meraih hasil UN antara 56 s.d. 70 disebut berkualifikasi cukup. Sedangkan kualifikasi 'baik' adalah antara 71 s.d. 85 sementara untuk nilai 86 ke atas (100) disebut kualifikasi 'amat baik'. Berapapun hasil yang diperoleh siswa, akan dinyatakan dalam SHUN (Sertifikat Hasil Ujian Nasional) yang akan dikeluarkan Pemerintah sebagai bukti bahwa peserta sudah mengikuti UN. Keikutsertaan UN inilah yang menjadi salah satu dasar untuk meluluskan siswa dari sekolah.

Yang menjadi kekhawatiran adalah bahwa selama ini, kebanyakan siswa belum mampu menembus angka diatas 55 itu. Hanya beberapa dan untuk satu-dua Mata Pelajaran saja yang baru bisa di atas angka 'cukup' itu. Kebanyakan siswa masih rata-rata nilai 'kurang' saja. Inilah salah satu yang mesti menjadi pemahaman orang tua siswa dan harus dijelaskan dalam sosialisasi. Betapa akan malunya siswa dan atau orang tua nanti jika para siswa ini dinyatakan lulus, namun nilainya masih dinyatakan kurang, kurang, kurang dan kurang saja. Inilah yang harus bisa dipahamai dan harus bisa diterima oleh siswa dan orang tua siswa.

Orang tua juga harus tahu bahwa untuk UN tahun ini akan ditiadakan UN ulangan atau semacam ujian kesetaraan pada tahun yang sama. Jika para siswa ingin memperbaiki perolehan nilai UN-nya maka dia harus mendaftarkan diri kembali untuk ikut UN pada tahun depan. Ini berarti, perbaikan nilai UN hanya dilakukan pada tahun depannya.  Sudah siapkah para siswa dan atau orang tua? Ya, harus siap.

Atas kenyataan seperti itu, tidak boleh juga ada usaha-usaha ilegal seumpama kecurangan dan ketidakjujuran dalam pelaksanaan UN nanti. Semua pihak wajib mengamankan dalam arti melaksanakan UN dengan penuh tanggung jawab sesuai peraturan. Sekolah (Kepala Sekolah, guru dan siswa) dan pihak orang tua dan pemerintah wajib melaksanakan UN yang mengutamakan kejujuran. Tidak perlu lagi kelulusan yang 100 persen tapi sebaliknya yang diutamakan adalah kejujuran yang 100 persen. Semoga.***

Kamis, 02 April 2015

Latihan Keterampilan dari Doa

SETIAP pagi setelah siswa masuk kelas dan akan memulai pembelajaran, yang pertama dilakukan adalah berdoa. Lazimnya doa langsung dipimpin oleh salah seorang siswa, bisa ketua kelasnya atau siswa lain yang ditunjuk atau disepakati. Jarang sekali yang langsung dipimpin oleh gurunya. Doa dibacakan pada awal jam pertama saja. Itu kelaziman di beberapa sekolah. Boleh jadi ada model lainnya.

Media Islam Dibredel, Apa Maksudnya?

SUNGGUH keji jika ada orang Indonesia ingin merusak negerinya sendiri. Pantas itu untuk diperangi. Jika polisi memerangi pengedar narkoba, misalnya itu adalah karena mereka dianggap akan merusak Indonesia, terutama rakyatnya. Jika polisi memberantas teroris, itu juga karena para teroris itu dianggap akan membuat bangsa ini kronis dan kritis. Koruptor? Juga diperangi oleh KPK karena korupsi ternyata sudah membuat hancur negeri ini.


Akhir-akhir ini (sebenarnya sudah lama juga) gencar pula terdengar istilah deradalikasme agama. Maksudnya mengkonter paham radikal orang-orang yang dikatakan memaksakan agama. Teroris sendiri selama ini, seperti diidentikkan dengan paham agama yang radikal itu. Benarkah? Masih terus diperdebatkan oleh yang pro dan kontra. Sedihnya, yang dicap teroris itu, sering tidak bisa ditanyai lagi --untuk diajak berdebat-- karena sudah meregang nyawa di ujung bedil polisi.

Berita yang kita baca, setiap polisi menangkap orang yang dikatakan teroris, ternyata orang-orang itu adalah orang-orang yang sehari-hari kelihatan taat menjalankan agama. Mencari makan dengan berjualan buku, makanan dan lain-lain pekerjaan yang dipandang halal. Mereka kelihatan ekslusif, tertutup,  dst... dst... dan terus diawasi aparat keamanan. Saatnya tiba, mereka ditangkap dan di berbagai berita muncullah informasi tentang penangkapan teroris oleh polisi. Beriringan dengan penangkapan-penangkapan inilah berjalannya deradikalisme agama itu.

Kelanjutan program deradikalisme agama ini, ternyata berbuntut pada pemberangusan puluhan media Islam. Oleh BNPT ternyata media-media online yang ditutup ini sudah dicap sebagai penyebar paham radikalisme agama. Kriteria yang dikemukakan oleh pengusul pemberangus kepada kementerian yang memberangus adalah bahwa media-media ini menyebarkan ajaran sesat, tidak toleran dan banyak lagi dosanya.

Hebatnya pemberangus ini, tidak merasa perlu meminta penjelasan terlebih dahulu kepada pihak-pihak yang berkompeten seumpama MUI, Muhammadiyah, NU dll yang nota bene adalah bagian dari representasi agama. Pemberangus juga merasa tidak bersalah dengan tidak memberi peringatan sebelum memutus nyawa media-media itu. Pemberangus itu tiba-tiba saja harus memberangus media-media yang dicurigai itu. Sungguh tidak bijak.

Melalui dialog pagi salah satu televisi, Rabu (01/ 04)  seorang narasumber dari BNPT dengan gigih mempertahankan sikapnya meminta pemerintah menutup banyak situs itu. Sementara pihak media dan salah seorang narasumber meminta agar pemerintah memberi penjelasan terlebih dahulu, kalau perlu diberi peringatan, baru diberangus. Jangan main blokir saja. Tindakan itu memang mengingatkan kita ke gaya-gaya orba yang dibenci itu.

Bahkan salah seorang narasumber lainnya, sampai mengingatkan pemerintah bahwa kebijakan memberangus media Islam itu sangatlah kentara 'anti Islam'nya. "Jangan sampai muncul tudingan fobia Islam," kata narsumber itu mengingatkan. Dia juga malah seolah mempertanyakan, mengapa situs-situs yang terang-terngan menyebarkan kebencian kepada Islam, bahkan menyebarkan ajaran sesat, oleh BNPT malah dibiarkan? "Media-media yang dibredel ini ternyata tidak sama sekali membenci pemerintah, tidak pula membenci demokrasi, tidak juga membenci umat non Islam lainnya, tapi hanya membenci kelompok yang sengaja ingin merusak Islam seperti Syi'ah atau paham sesat lainnya, apakah karena itu diblokir?" begitu narasumber itu mempertanyakan.

Kini umat Islam pasti bertanya, mengapa situs-situs yang menurut beberapa sumber bukan mengajarkan yang bertentangan dengan ketentuan, tiba-tiba diblokir? Pertanyaan ini juga akan muncul dari orang-orang yang mengerti agama, mengerti demokrasi dan toleransi meskipun bukan seorang muslim. Kok Pemerintah membredelnya? Hanya Pemerintah pula yang bisa menjelaskannya.***
Seperti sudah diposting di:  http://hukum.kompasiana.com/2015/04/01/media-islam-dibredel-apa-maksudnya-734656.html
 
Copyright © 2016 koncopelangkin.com Shared By by NARNO, S.KOM 081372242221.