BREAKING NEWS

Jumat, 30 Januari 2015

Melihat Pembinaan Syarhil Quran Sekolah

Aktivias di Kelas
CABANG syarhil quran dalam MTQ (Musabaqoh Tilawatil Quran) merupakan salah satu cabang yang cukup ramai penggemarnya. Meskipun cabang fahmil quran lebih menarik dan menyedot penonton lebih ramai dalam even MTQ, cabang syarhil quran tetaplah menjadi salah satu cabang yang juga cukup menarik di mata penonton.

Sabtu, 24 Januari 2015

AA Gym: Indahnya Kebersamaan

JUMAT malam (23/ 01/ 15) masyarakat Pulau Karimun, khususnya Kecamatan Karimun dan sekitarnya berkesempatan mendapatkan pencerahan dari da'i kondang, AA. Gym secara langsung. Ulama dengan nama lengkap Abdullah Gymnastiar itu hadir dan memberikan ceramah dalam rangka peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw yang diselenggarakan oleh Lanal Tanjungbalai Karimun. Hadir bupati, pejabat teras kabupaten dan unsur FKPD Kabupaten Karimun bersama ribuan masyarakat yang memadati lapangan Costal Area, Karimun.

Kamis, 22 Januari 2015

Yakinlah Bisa Berubah



"SETIAP manusia bersalah dan sebaik-baik kesalahan adalah yang mau berubah (tobat) dari kesalahannya." Kalimat itu merupakan pernyataan dalam agama (Islam) yang meyakinkan umat (manusia) bahwa memang tidak ada orang di dunia ini yang tidak bersalah. Semua orang pasti bersalah atau berpotensi untuk melakukan kesalahan. Kecil atau besar kadar kesalahannya, tergantung orang yang melakukanya.

Pernyataan yang dikutip dari makna hadits itu memang untuk meyakinkan kita bahwa kita memang tidaklah manusia suci. Kesalahan dan kekeliruan tidak mungkin nol dalam kehidupan kita. Namun nabi sekaligus menjelaskan bahwa kesalahan itu dapat menjadi baik bagi kita jika kesalahan itu dijadikan patokan untuk berubah kea rah yang baik. Berubah dari kesalahan menjadi tidak lagi berbuat salah. 

Di dalam agama pula diajarkan bahwa mau berubah dari pernah berbuat salah kepada tidak lagi akan berbuat salah, itu dikatakan dengan tobat. Tobat menjadi cara manusia untuk berputar haluan dari kesalahan menuju kebenaran. Dari pernah berbuat tidak baik menjadi lebih baik.

Tobat adalah sikap menyadari dan menyesali kesalahan atau kekeliruan dengan diikuti tindakan dan perbuatan untuk menghindari kesalahan dan kekeliruan itu. Sikap dan tindakan inipun haruslah dilakukan dengan bersungguh-sungguh. Bukan dengan setengah hati. Sikap mau berubah dengan sepenuh hati itu dikenal dengan istilah taubat nasuha alias tobat dengan sesungguhnya.

Karena setiap orang dapat berubah dari kesalahan dan kekeliruannya ke jalan yang baik dan benar maka itu berarti kita harus yakin bahwa kita dapat berubah menjadi baik setelah terlanjur berbuat tidak baik. Keyakinan ini akan menimbulkan rasa optimis kita bahwa tidak ada kesalahan yang tidak akan diampuni Tuhan. Tidak ada juga kesalahan yang tidak bisa berubah menjadi kebaikan selama kita mau melaksanakan perubahan untuk kebaikan itu.

Sikap optimis untuk berubah sangat diperlukan dalam kehidupan. Keinginan untuk menjadi lebih baik, lebih sukses atau lebih hebat dalam menjalankan hidup dan kehidupan adalah sesuatu yang wajar. Tapi keinginan itu tidak akan mudah mewujudkan jika kita tidak yakin bahwa kita bisa menjadi lebih baik. Maka diperlukan sikap optimistis tersebut.

Ada banyak juga catatan kenyataan manusia yang merasa putus asa atau tidak percaya akan mampu berubah dari sebuah kesalahan. Kesalahan yang berulang-ulang, yang sebenanarnya dilakukan dengan kesadaran, memang akan sulit untuk mengubahnya. Apalagi ingin berubah dalam waktu yang singkat. Jelas hal ini tidaklah mudah.

Kesalahan-kesalahan yang sudah melekat dalam jiwa, perasaan dan pikiran adalah kesalahan yang jauh lebih berat untuk mengubahnya. Seseorang yang sudah terlanjur meminum minuman memabukkan secara terus-menerus karena sudah ketergantungan, tentu saja tidak akan mudah untuk berubah menjadi tidak meminumnya lagi. Begitu pula kesalahan penyalahgunaan narkoba yang juga sudah dilakukan dengan berulang-ulang dan sudah pada fase ketergantungan, maka itu tidak juga akan mudah untuk meninggalkannya lagi.

Namun, hadits di atas sebenarnya dapat menjadi dasar bagi manusia bahwa sebenarnya setiap kesalahan dapat diubah selama yang bersangkutan mau bertekad untuk mengubahnya. Harus diyakinkan diri bahwa kesalahan-kesalahan itu sangat merugikan, mencelakakan atau akan merusak kehidupan itu sendiri. Maka tekad untuk berubah adalah kunci dan jalan keluarnya.

Jadi, yakinlah bahwa setiap kita bisa berubah menjadi baik jika kita benar-benar mau mengubahnya. Jangan ragu apalagi malu untuk berubah. Apapun yang kita mau, sesungguhnya tergantung kepada kita juga. Kata peribahasa kita, "Dimana ada kemauan, di situ ada jalan." Artinya tetap akan bisa selama kita ada usaha. Semoga!***

Senin, 19 Januari 2015

Mau Tapi Tak Maju

Foto dari Google.com
SALAH satu agenda yang diusulkan anggota MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran) IPS Kelompok B (Ekonomi/ Geografi) SMA/ MA Kabupaten Karimun pada pertemuan MGMP hari Sabtu (17/ 01) adalah menyusun PTK (Penelitian Tindakan Kelas). Agenda ini direncanakan pada salah satu pertemuan dalam agenda kegiatan tahun 2015 bulan-bulan yang akan datang.

Saya mengerti maksud dimasukkannya agenda penyusunan PTK adalah karena setiap guru memang wajib mengerti dan mampu membuat PTK dalam tugas dan fungsinya sebagai guru. Kewajiban itu bukan sekadar untuk keperluan kenaikan pangkat semata, tetapi yang lebih utama adalah untuk refleksi diri setiap guru dalam proses pembelajaran yang dilakukan.

Seorang guru (pendidik) harus terus-menerus menilai dirinya sendiri dalam melaksanakan tugas dan fungsinya sebagai guru, terutama berkaitan dengan proses pembelajaran yang dikelola. Tidak jarang ditemukan di kelas, betapa banyaknya kelemahan dan kekurangan baik dari guru sendiri maupun dari peserta didik atau siswanya. Kelemahan dan kekurangan itu biasanya berujung pada rendahnya daya serap peserta didik dalam menerima materi pelajaran.

PTK adalah penelitian yang bersifat praktis yang dilakukan guru (pendidik) di kelasnya dalam usaha memperbaiki mutu pembelajaran yang dikelolanya. Jadi, tujuan PTK dilakukan adalah untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas pembelajaran serta membantu memberdayakan guru dalam memecahkan masalah pembelajaran di kelasnya. Begitulah para pakar menjelaskan. Seperti dikatakan Muslich atau Suyanto, misalnya, bahwa tujuan PTK itu adalah untuk meningkatkan dan atau memperbaiki praktik pembelajaran di kelas. Selain itu juga dapat meningkatkan relevansi pendidikan, meningkatkan mutu pendidikan, dan efisiensi pengelolaan pendidikan itu sendiri.

Begitu pentingnya membuat PTK maka tidak ada alasan bagi seorang guru untuk tidak mengerti atau tidak bisa melakukannya. Sekali lagi, melaksanakan PTK tidak semata untuk keperluan kenaikan pangkat saja. Tapi jauh lebih penting adalah untuk membuat penilaian sendiri terhadap proses pembelajaran yang dilakukan untuk mampu memperbaikinya jika masih dinilai belum tercapai sesuai harapan.

Maka, ketika rekan-rekan dalam MGMP memasukkan pelatihan penyusunan PTK dalam salah satu agenda kegiatan pertemuannya di tahun 2015 ini, tentu saja itu merupakan sesuatu yang bagus dan cerdas. Ada kesadaran bahwa materi ini penting. Masalahnya, dan ini yang membuat saya ragu dan ragu: mau tapi seperti tidak mau. Saya menyebutnya, 'mau tapi tak maju' juga. Itu yang selama ini terjadi.

Yang saya maksud tidak maju adalah karena selama ini (paling tidak sampai pertemuan MGMP terakhir itu) saya belum melihat rekan-rekan guru itu benar-benar serius untuk mau belajar menyusun PTK. Hal ini karena sebagian besar rekan-rekan guru itu tidak membuktikan kemauannya yang tinggi untuk belajar menulis. Belum kelihatan budaya menulis itu dalam aktivitas sehari-hari sebagai guru.

Kita tahu, untuk niat dan minat menulis tidak cukup niat dan minat saja jika benar-benar ingin menjadi penulis. Sekurang-kurangnya untuk menulis laporan PTK itu, misalnya tetap saja diperlukan kemauan yang keras dan tegas untuk menulis. Salah satu bukti kemauan yang keras dana tegas itu adalah dengan memaksakan diri untuk terus-menerus membuat tulisan meskipun hanya tulisan pendek. Budaya literasi itu wajib dimiliki. Inilah kunci.

Seorang guru yang benar-benar ingin membuat PTK atau karya tulis lainnya, hanya akan tercapai jika secara rutin menulis dalam usaha untuk berlatih. Bisa dimulai dengan menulis di media sosial seperti facebook atau twiter, misalnya. Lalu mengelola blog pribadi atau menulis di blog bersama.

Dengan setiap waktu-waktu tertentu menulis dengan kosnsisten, maka giliran nanti membuat laporan PTK tentu saja akan mudah melakukannya. Sebaliknya, jika hanya kemauan (di mulut) saja ingin membuat PTK tapi tidak mencoba menulis secara rutin, maka itu artinya 'hanya mau tapi tidak juga maju' alias tidak benar-benar mau belajar menulis. Sudah pasti tidak akan tercapai keinginan untuk membuat PTK itu.

Haruskah berubah? Ya, maksudnya dari tidak mau wajib mau dan buktikan kemauannya dengan senantiasa melahirkan tulisan setiap saat, setiap hari, meskipun hanya tulisan pendek saja. Tekad ini akan berguna dan akan membantu rencana 'membicarakan PTK' dalam pertemuan MGMP itu nanti. Semoga!

Minggu, 18 Januari 2015

Mendapat Seat Umroh Karena Pertemanan

BERMULA dari keinginan isteri saya dan adik-adiknya untuk membiayai umroh ayah dan ibunya, plus keinginan ayah dan ibu mertua juga untuk pergi beribadah umroh, saya merasa berutang untuk mencari travel yang masih membuka kesempatan untuk ke Tanah Suci itu dalam waktu yang tidak terlalu lama.

Kamis, 15 Januari 2015

Dua Hari di Hatyai

MASIH catatan tentang liburan akhir tahun. Memang sudah berlalu beberapa waktu. Tapi catatan ini belum sempat dipublish di halaman ini. Tiga catatan sebelumnya berkisah seputar liburan di Thailand (Hatyai) dan Malaysia (KL- Johor) itu. Maka sebelum catatan lain diposting, catatan tersisa ini tidak berlebihan didahulukan.


Sesampainya di perbatasan Malaysia- Thailand, di daerah Bukit Kayu Hitam setelah melanjutkan perjalanan dengan bus kurang lebih satu jam dari peristirahatan Kurun Kedah tadi, semua penumnpang turun. Pemandu wisata mengingatkan kepada kami bahwa nanti kita tidak perlu menurunkan tas pakaian dari bagasi mobil. Persiapkan saja pasport dan kartu yang sudah disediakan di dalam pasport untuk dicap pertanda keluar dari Malaysia.

Selepas melewati imigrasi Bukit Kayu Hitam, sekali lagi kami harus turun dari bus. Kini bus kami sudah sampai di perbatasan Thailand, untuk masuk wilayah Thailand Selatan itu. Jarak antara perbatasan Malaysia dengan Thailand tempat pemeriksaan pasport pertanda keluar dari Malaysia, hanya kurang lebih satu jam perjalanan juga. Kami pun turun kembali untuk sekali lagi memeriksakan pasport. Kali ini pertanda kita masuk ke negara Thailand.

Tidak Profesional
Ini pengalaman buruk kedua saya setelah saya rasakan di imigrasi Kukup Malaysia, kemarin sorenya. Kalau di perbatasan Indonesia- Malaysia itu masalah diskriminasi antara penduduk Malaysia dan kami dari Indonesia dalam memeriksa pasport, maka di perbatasan Thailand ini adalah masalah lambatnya pemeriksaan (cap) pasport oleh pegawai imig rasi Thailand itu.

Bayangkan saja, sekitar pukul 09.58 kami sudah sampai di perbatasan dan langsung antri bersama warga negara lain yang juga akan masuk Thailand. Sepuluh menit, dua puluh menit, setengah jam berlalu begitu saja. Giliran mendapat cap pasport belum juga kunjung sampai. Saya melihat, dari begitu banyak konter untuk memeriksa pasport, ternyata yang buka hanya tiga saja. Ratusan orang menunggu antri panjang.

Lebih menjengkelkan lagi karena sebentar-sebentar posisi antri berubah-ubah. Mula-mula di konter A, lalu tiba-tiba disuruh pindah ke konter B atau lainnya yang katanya petugasnya baru saja masuk. Belum lagi sampai ke ujung sana, barisan antrian kami disuruh pindah lagi ke konter lain. Sungguh tidak menyenangkan cara-cara petugas imigrasi Thailand ini. Hampir tiga jam kami terkendala di pintu masuk wilayah Thailand itu. Hampir pukul satu siang, baru kami selesai urusan pasport itu. Waktu yang terlalu untuk urusan cap pasport. Sungguh tidak profesional, kata saya dalam hati.

Selesai antrian yang panjang waktu itu, kami melanjutkan perjalanan.Inilah hari pertama kami berada di Hatyai, Thailand. Untuk tidak membuang-buang waktu, dua bus kami sepakat untuk langsung berkunjung ke tempat-tempat wisata yang sempat. Kami tidak masuk ke hotel terlebih dahulu. Itu artinya pakaian yang ada di badan adalah pakaian yang sudah berganti/ tetap sejak dari Kurun Kedah pagi tadi.

Di Provinsi Songkhla kami mengawali liburan dengan makan siang bersama di salah satu kedai yang dikelola oleh para muslim Thailand. Di Thailand memang harus dipastikan dulu apakah kedai penjual makanan/ minuman itu halal atau tidak. Dengan penduduk mayoritas non muslim, maka tempat-tempat makan dan minum yang halal tidaklah terlalu banyak seperti di Indonesia. Dengan menu ala Thailand, kami makan dengan sistem layan-diri. Mengambil sendiri nasi dan lauk-pauk yang diinginkan. Selesai makan dibayar masing-masing. Dengan uang 50-80 bath, kami sudah cukup kenyang makannya.

Selesai makan siang (waktunya sudah agak sore) lalu berkeliling-keliling dengan 'bus pesiaran' itu untuk selanjutnya ke hotel, tempat menginap. Kami menginap di Hatyai Hotel Hotel yang berada di kota Hatyai. Sewa hotel sudah menjadi tanggung jawab panitia (trevel) yang uangnya sudah termasuk ke dalam biaya perjalanan.

Hari Selasa (30/12) kami melanjutkan liburan di Thai. Sesuai jadwal, selama dua hari ini kami berada di Songkhla, Thailand. Pagi ini kami mengawali perjalanan dengan mengunjungi lokasi wisata Taman Budha Tidur (sleeping budha) kata orang di sana. Ternyata maksudnya adalah patung budha yang tengah tidur. Dengan ukuran --saya menduga kurang lebih 60 meter, panjang-- patung berwarna emas itu tampak begitu besar. Kami mengambil foto dan bverfoto bersama atau sendiri-sendiri di sana.

Selanjutnya kami pergi ke Pantai Songkhla, pantai yang sangat terkenal di Selatan Thailand itu. Meskipun tidak seramai di Pantai Pukhet dan beberapa pantai lainnya, namun di Songkhlah dengan penduduk yang muslim, terasa lebih familiar dengan kami. Ada dua lokasi pantai yang kami kunjungi. Dengan naik bus terbuka, kami berkeliling di sini meniikmati pemandanagan alam dan pantai yang indah.

Sebelum ke hotel kami masih sempat ke Taman Gajah, Chang Puak Camp. Di sini ada beberapa alternatif hiburan dan permainan selain menyaksikan gajah-gajah yang sangat besar itu. Kita dapat memberi makan gajah dengan membeli pisang yang sudah disediakan oleh pengelola. Sungguh menakjubkan atas pengelolaan dan layanan oleh para pengelola taman itu.

Sebenarnya masih ada beberapa lokasi wisata yang belum sempat kami kunjungi. Karena sudah agak sore, kami melanjutkan kembali ke hotel untuk istirahat. Malamnya kami hanya di hotel atau jika ingin keluar, itu menjadi acara sendiri-sendiri. Besoknya, kami melanjutkan perjalanan ke Malaysia. Targetnya KL untuk bermalam tahun baru. Dua hari Hatyai, sebenarnya terasa masih singkat. Semoga kelak ada waktu lagi akan ke sana.***

Senin, 12 Januari 2015

Berkemah itu Menguatkan

PADA hari Jumat (09/ 01/ 15) lalu dibuka secara resmi Perkemahan Jumat-Sabtu-Minggu (Perjusami) oleh Ketua Harian Kwarcab Pramuka Karimun, Pak TS Arif Fadhillah. Perjusami yang berlebel 'Perkemahan Bakti Sosial' itu dilaksanakan oleh Kwarran (Kwartir Ranting) Kundur Barat (Kuba) dengan mengambil lokasi di Bumi Perkemahan (Buper) Lapangan Padang Kundur, Kuba.

Selasa, 06 Januari 2015

Melihat Budha Tertidur (Catatan Liburan)

SETELAH sampai di Hatyai, Thailand, Senin (29/ 12) itu seharian rombongan kami --dua bus-- berkeliling di kota selatan Thailand itu. Hingga menjelang sore kami masih melanjutkan perjalanan liburan dari Malaysia itu. Kami sengaja tidak check in ke hotel duluan sesampainya di Hatyai. Demi menghemat waktu, semua kami sepakat melanjutkan perjalanan liburan itu seputar kota Hatyai.

Sabtu, 03 Januari 2015

Catatan Liburan: Solat di Masjid Pakistan

TIDAK pernah saya bayangkan sebelumnya kalau saya akan solat di masjid Pakistan itu. Ketika berjalan-jalan sore dengan isteri tercinta, saya melihat masjid itu. Padahal saya tahu kalau mencari masjid sangatlah sulit di situ. Saya katakan kepada isteri, bahwa nanti saya mau solat di masjid itu. Tentu saja isteri saya tidak akan menolaknya.

Jumat, 02 Januari 2015

Liburan untuk Persahabatan

Wisata Belanja dengan Sahabat
SETIAP liburan di akhir tahun, selalu ada tawaran dari teman-teman untuk ikut bersama dalam liburan akhir tahun itu. Baik berlibur di dalam negeri maupun pergi keluar negeri, tetap saja ada tawaran. Sebagai guru, libur akhir tahun yang bersamaan dengan libur semester ganjil, tawaran untuk berjalan-jalan terasa lebih menarik dari pada libur di akhir semester genap atau pasca kenaikan kelas.

Satu Malam di ‘Bas Pesiaran’


SUDAH menjadi  kebiasaan tak resmi, jadwal perjalanan liburan orang-orang Karimun ke Malaysia atau ke Thailand, pada hari pertama perjalanan biasanya berrmalam di mobil saja. Saya menyebutnya 'Satu Malam di Bas Pesiaran’. Istilah bas pesiaran sendiri adalah padanan kata 'bus pariwisata' di Indonesia.

 Bermalam di dalam bus ini biasanya jika memulai perjalanan di waktu siang atau menjelang petang meninggalkan pelabuhan Tanjungbalai Karimun. Perjalanan laut Karimun- Kukup, kurang lebih 50 menit maka bisanya perjalanan liburan akan dimulai menjelang atau sesudah magrib suesampainya di Tanah Melayu itu.

Perjalanan liburan tahun ini juga sama. Setelah rombongan kami sampai di Kukup, Johor, Malaysia sekitar pukul 17.30 WIB (18.30 WM), rombongan meneruskan perjalanan menggunakan bus alias bas, istilah orang Malaysia. Setelah semua peserta lengkap menaiki bus pariwisata yang sudah disiapkan maka bus pun bergerak. Sebelum berangkat, ada yang sempat melaksanakan solat magrib di surau Kukup Johor dan ada pula yang berniat akan melaksanakan solatnya di tempat peristirahatan pertama nantinya. Biasanya di sana langsung melaksanakan solat Isya dan Magrib dengan jamak ta’khir saja.Saya sendiri masih sempat menunaikan Magrib dan Isya --jama'-- di surau ini.

Berbeda dengan rute perjalanan yang mengambil waktu pagi baik via Singapura ataupun di Kukup ini, biasanya perjalanannya akan dimulai pagi hari. Dari Karimun berangkat sekitar pukul 07.30 WIB (mengikuti trayek kapal laut) meneruskan ke pelabuhan Internasional Sentosa, Singapura yang biasanya memerlukan waktu kurang lebih satu jam. Dari Singpaura melanjutkan ke Malaysia melalui Johor Baru dengan menggunakan bus pariwisata juga. Atau jika menggunakan rute Kukup, perjalanannya sama tapi waktunya berbeda.

Sore Ahad (28/ 12) itu adalah hari pertama perjalanan liburan yang direncanakan lima hari dan empat malam ini. Rombongan kami ada dua bus yang setiap busnya hanya diisi kurang lebih 40 orang. Dengan biaya Rp 2.000.000 (dua juta rupiah) untuk transport laut/ darat per orang (tidak termasuk makan) tahun ini rombongan liburan kami berjumlah 77 orang. Kabarnya di rombongan travel lain ada juga yang mengutip biaya sebesar Rp 2.500.000 per orang yang biasanya disesuaikan dengan pengeluaran di perjalanan nanti.

Menikmati liburan adalah harapan pertama setiap kali ada perjalanan seperti ini. Dalam perjalanan akhir tahun kali ini, kenikmatan hari pertama adalah kenikmatan bermalam di dalam bus itu.Bagaikan menginap di hotel bergerak, peserta liburan akan terlelap setelah makan malam. Dan istirahat pertama setelah berangkat sore tadi adalah di kawasan peristirahatan Machap, Johor. Seperti di tempat-tempat peristirahatan lainnya, di sini sudah tersedia berbagai makanan dan jajanan serta fasilitas umum lainnya.

Tepat pukul 20.20 WIB (21.20 WM) mobil kami sampai di Machap. Sebagian kami ada yang langsung ke gerai makanan yang berderet  rapi. Sebagian lainnya terlebih dahulu ke kamar mandi, toilet atau sekedar mengambil wudhuk untuk solat magrib sekaligus Isya secara jamak. Nyamannya berhenti di sini bukan saja karena makanan yang tersedia adalah makan yang masih panas tapi juga ada banyak jajajan lainnya seperti buah-buahan, kueh-mueh dan aneka minuman. Selain ke toilet, ke surau atau ke kamar mandi, tentu saja makanan dan minuman itu harus dibayar. Bahkan di sini juga tersedia kursi elektrik untuk sekedar memijit punggung, tengkuk dan kaki. Lagi-lagi tentu harus dibayar. Malah untuk menimbang badan pun ada yang juga harus dibayar. Semuanya serba swalayan alias tidak ada pelayannya. Cukup memasukkan uang ringgit saja, maka fasilitas itu akan beroperasi sesuai keinginan kita.

Kurang lebih satu jam setengah, bus kembali bergerak. Masing-masing kami masuk ke bus masing-masing seperti awal tadi. Dengan perut yang sudah kenyang, dihibur oleh lagu dan film lewat layar kaca di dalam mobil ber-Ac itu, tentu saja mata mulai mengantuk. Tanpa sadar, tentu saja kami semua akan tertidur kecuali sopir dan seorang sopir serap yang duduk di sebelah kirinya. Jika tengah malam ada yang akan buang hajat, dapat melaporkan ke pemandu wisata yuang juga tersedia dalam bus itu.

Tidak terasa, mobil kami berhenti di daerah Paguh untuk memberi kesempatan penumpang buang air. Saat itu waktu menunjukkan pukul 22.30 WIB. Sebagian kami ada yang turun ke toilet dan sebagian tetap melanjutkan mimpinya. Selanjutnya bus berjalan kembali. Perjalanan ini akan berlanjut hingga esok hari sampai mendekati perbatasan Malaysia Thailand.

Sekitar pukul 02.30 WIB, mobil kami berhenti sekali lagi. Kali ini untuk mengisi bahan bakar di daerah Tapa, Perak. Yang menarik saya lihat, sopirnya mengisi bahan bakar sendiri tanpa ada pelayan pangkalan bahan bakar itu. Tidak ada juga antri karena jam seperti itu tidak banyak mobil yang akan mengisi bahan bakar. Bus Pariwisata 'Rajawali Bintang Trevel' bernomor plat NJV 1001 itu itu melanjutkan perjalanan setelah selesai mengisi bahan bakar.

Sekita pukul 06.00 hari Senin (29/ 12) itu bus kami berhenti di tempat peristirahatan Kurun, Kedah. Mobil kami agak lambat sampai karena sepanjang malam itu hujan dan lajunya tidak bisa maksimal. Setelah mandi (bagi yang mandi) atau sekedar buang air besar lalu berwudhuk dan solat, kami istirahat untuk sarapan pagi. Sepagi itu, ternyata bahan makanan dan minuman sudah tersedia. Kedai-kedai itu memang terbuka 24 jam untuk melayani wisatwaran yang datang dan pergi lewati jaln tol itu. Tiada kekhawatiran akan kelaparan selama perjalanan di sepanjang jalan tol di Malaysia ini.

Satu malam di dalam bus itu terasa cukup nikmat. Walaupun badan terasa letih karena tidur sambil duduk atau sekadar memiringkan sandaran kursi, rasanya perjalanan liburan ini cukup memuaskan kami. Sejak berangkat dari Kukup sorenya hingga pagi itu, kami menikmati saja tidur dalam 'bas pesiaran' itu bagaikan tidur dalam hotel yang bergerak. (bersambung)
 
Copyright © 2016 koncopelangkin.com Shared By by NARNO, S.KOM 081372242221.