BREAKING NEWS

Selasa, 30 Desember 2014

Catatan Liburan Akhir Tahun



ALHAMDULILLAH, di akhir tahun 2014 ini kembali saya dapat ikut bersama rekan-rekan lain untk berlibur. Sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, tiap tahun selalu ada waktu untuk mengakhiri tahun dan membukanya kembali di negeri seberang. Tahun 2009 kemi berliburke Pulau Pinang, Malaysia, sementara tahun 2010 ke Langkawi dan 2011 ke Hatyai, Songkhla, Thailand.

Pada tahun 2012 tidak bisa pergi karena ada kegiatan lain sementara pada tahun 2013 lalu juga tidak bisa kemana-mana tersebab isteri saya dalam keadaan sakit. Itulah sebabnya liburan tahun 2014 ini, ketika teman-teman mengajak kembali ke negeri seberang, saya dan isteri langsung mendaftar. Dengan biaya yang tidak terlalu besar, saya ikut bersama 80-an rekan-rekan lain. Jadwal dan rencana perjalanan di akhir tahun 2014 ini adalah kembali bermalam tahun baru di KL (Kuala Lumpur) setelah dua malam sebelumnya direncanakan di negeri gajah, Thailand. Sesuai rencana rombongan kami akan berangkat pada hari Ahad, 28 Desember 2014 dan akan kembali ke Karimun pada 2 Januari 2015.

Pada hari Ahad sore itu kami sudah berkumpul di Pelabuhan Internasional Karimun. Masing-masing kami sudah memegang pasport dan ticket KM Tuah 2, trayek Karimun- Kukup, Johor Baru, Malaysia. Saya tahu, selain rombongan kami masih ada beberapa rombongan lainnya dari Karimun yang akan berlibur ke negeri seberang. Ada yang menyeberang dari Karimun menuju Singapura baru melanjutkan ke Malaysia, khususnya ke KL dengan beberapa tujuan liburannya. Dan ada  yang ke destinasi lain di Malaysia atau Thailand. Sementara kami merencanakan akan ke Hatyai, Songkhla melalui Malaysia, Menjelang akhir tahun kembali ke Malaysia khususnya ke KL untuk menghabiskan malam tahun baru.

Tepat pukul 16,30 kapal yang menetap di Terminal Feri Antarabangsa Kukup, Pontian, Johor, Malaysia itu bergerak meninggalkan pelabuhan Tanjungbalai Karimun. Bersama ratusan penumpang lain (termasuk warga Malaysia yang pulang berlibur dari Karimun) kami berbaur dalam kapal yang diageni oleh perusahaan Penaga Timur (M) SDN Berhad it. Tent saja begitu menyenangkan memulai perjalanan liburan lima hari it.

Imgirasi Malaysia Ternyata Diskrminasi
Setelah kurang lebih 55 menit mengharungi lautan Karimun dan Kukup, kapal dengan dominasi warna putih dan kuning itu merapat di pelabuhan Kukup, Johor, Malaysia. Sebentar lagi para penumpang kapal akan keluar untuk menuju ke pintu masuk Malaysia yang tentu saja dijaga para petugas dari imigrasi. Satu hal yang biasanya menjengkelkan di pelabuhan adalah ketika harus antri berlama-lama menanti pasport dicap oleh pegawai imigrasi. Apalagi jika penumpang Indonesia bergabung dengan penumpang Malaysia di kapal yang sama, biasanya pengurusan cap pasport itu akan menimbulkan rasa cemburu dari penumpang Indonesia.

Apa yang saya khawatirkan perihal kemungkinan berlaku diskriminasinya pegawai imigrasi Malaysia di pelabuhan Internasional itu benar-benar terjadi. Meskipun rombongan kami yang akan berlibur akhir tahun sudah menggunakan pakaian seragam plus ada bad nama tergantung di dada, tetap saja kami harus menunggu seluruh warga Malaysia diproses terlebih dahulu. Kami yang dari Indonesia benar-benar dibuat jengkel oleh para pengatur antri di pelabuhan itu. Walapun kami (orang Indonesia) lebih duluan keluar dari kapal dan lebih duluan berdiri antri untuk cap pasport, ternyata oleh dua orang  pria yang mengatur antri itu tetap saja meminta kami bersabar sampai selesai pemilik paspor warna merah itu tuntas dicap. Ini benar-benar diskriminasi, kata saya sambil menggerutu. Padahal saya melihat di pelabuhan Karimun tidak ada perbedaan perlakuan oleh pegawai imgrasi yang bertugas di pelabuhan terhadap semua penunmpang yang akan masuk/ keluar dari pelabuhan Internasional itu.

Meskipun jengkel di hati, kami memang harus sabar. Boleh jadi inilah cara pemerintah atau pengelola antrian di pelabuhan Malaysia itu untuk memanjakan rakyatnya. Kalau saja pejabat Indonesia juga demikian, tentu saja rakyat Indonesia akan bisa dan akan belajar pula bagaimana mengajarkan rakyatnya menjadi tuan di negerinya sendiri. Sebagai tamu di negeri orang, kami memang harus menerima dan bersabar saja atas perlakuan itu. Liburan ini akan tetap kami lanjutkan. (bersambung)

Minggu, 28 Desember 2014

Ketika Guru Berlibur

Liburan di Singapura
LIBUR akhir tahun yang bertepatan dengan libur semester pasca penyerahan rapor pendidikan bagi guru sangatlah penting. Dari tiga kali libur dalam setahun (libur semester genap, libur puasa dan libur semester ganjil) maka yang terakhir ini selalu lebih terasa penting karena berbarengan dengan libur penutup tahun.


Bagi kantor atau instansi tertentu, libur akhir tahun yang dikaitkan pula dengan perayaan natal tentu juga mempunyai kesan tertentu. Banyak pegawai yang mengambil cuti untuk menikmati libur agak lebih lama. Begitu juga dengan guru atau pendidik yang sering memanfaatkan libur akhir tahun untuk bepergian ke luar kota atau kembali ke kampung halaman --yang merantau-- untuk berjumpa sanak keluarga.

Sejatinya berlibur bagi guru tidak sekadar menikmati masa istirahat dengan urusan-urusan sekolah, atau tidak juga sekadar kesempatan bersilaturrahim dengan keluarga saja. Bagi seorang guru, berlibur juga memiliki nilai pembelajaran dan kesempatan menambah wawasan dan pengalaman untuk diserap dan dikembangkan nanti setelah kembali ke sekolah. Apa yang dilihat dan didengar selama dalam perjalanan adalah bahan penting yang akan membantu guru dalam pembelajaran nanti.

Pengalaman menarik selama berlibur itu pastilah pengalaman yang layak untuk diceritakan kembali nanti ketika sudah kembali ke sekolah. Pengalaman dan kesan selama berlibur itu boleh jadi akan menjadi inspirasi baru bagi para siswa di kelas nanti. Jika pun sebagian siswa ikut bersama dalam liburan yang dilakukan, misalnya, tetap saja ada siswa lain yang tidak menyertainya. Artinya pasti pengalaman itu dapat dikisahkan juga kepada siswa lain yang tidak ikut serta.

Berbagi pengalaman oleh guru dapat dengan membuat catatan-catatan perjalanan itu sendiri. Ini berarti guru tersebut sekaligus berkesempatan melatih diri untuk membina dan mengembangkan keterampilan menulisnya. Jika selama ini untuk mencari dan mendapatkan ide-ide segar yang akan ditulis terasa sangat sulit maka dengan pengalaman perjalanan selama berlibur, pastilah akan melimpah ide dan inspirasi yang dapat ditulis.

Selain ditulis, pengalaman selama berlibur juga dapat disampaikan secara langsung melalui berbicara. Bagi guru Bahasa Indonesia, keterampilan berbicara juga salah satu materi pembelajaran yang layak dikembangkan atas dasar pengalaman perjalanan dalam liburan. Begitu juga bagi guru mata pelajaran lainnya. Pengalaman selama liburan pastilah akan dapat dikaitkan dengan materi pembelajaran masing-masing.

Beberapa orang teman guru di Karimun, di akhir tahun 2014 ini menginformasikan rencana liburannya ke beberapa tempat. Ada yang berangkat ke Pulau Sumatera seperti ke Kota Padang (Sumatera Barat), ke Medan, Brestagi dan Danau Toba (Sumataera Utara) dan ada juga yang agak dekat, ke Pekanbaru (Riau). Selain ke Sumatera ada juga yang akan berlibur ke Tanah Jawa (Jakarta, Bandung, Surabaya dan beberapa kota lainnya) dan bahkan ada pula yang lebih dekat ke Karimun namun harus menggunakan pasport seperti ke Singapura, Malaysia dan Thailand.

Bagi guru, kemanapun ia berlibur pastilah itu pengalaman penting yang akan berguna nantinya ketika sudah kembali ke sekolah. Awal tahun baru 2015 adalah masa kembali ke sekolah. Dan pengalaman masa libur tentu saja tidak akan dibiarkan berlalu begitu saja. Untuk itu, jika harus membuat catatan-catatan kecil, membawa kamera dan atau media perekam (suara/ gambar) lainnya misalnya, silakan. Jangan sampai momen-momen penting selama berlibur hilang tiada kesan. Ayo, selamat berlibur rekan-rekan guru semua. Selamat menyambut tahun baru dengan semangat baru juga.***

Jumat, 26 Desember 2014

Tamu dari Malaysia, Ujian Tuan Rumah

SEJAK Jumat (19/ 12) sore itu, tenda sudah terpasang. Tamu dari Sekolah Menengah Kebangsaan Agama (SMKA) Nebong Tebal Seberang Perai, Pulau Pinang, Malaysia itu baru akan datang hari Ahad (21/ 12) tiga hari lagi. Panitia penyambutan tamu yang terdiri dari para guru/ pegawai SMA Negeri 3 Karimun --sebagai tuan rumah-- tidak mau mengambil risiko. Dengan kerja keras dari awal-awal, diharapkan segala persiapan dapat berjalan dengan baik.


Pada hari Sabtu dan Ahad, semua panitia bekerja maksimal untuk persiapan. Tenda yang dipasang di halaman, selain tenda untuk tamu duduk juga ada tenda untuk pentas. Panitia merencanakan acara seremoni dan hiburannya akan dilaksanakan di halaman sekolah mengingat SMA Negeri 3 Karimun memang belum memiliki aula. Selama ini, jika akan melaksanakan acara-acara hanya bisa di ruang kelas atau di musolla jika pesertanya lebih banyak. Dan jika tidak memungkinkan maka dilaksanakan di halaman sekolah dengan memasang (meminjam) tenda.

Tamu dari seberang --sesuai jadwal-- akan datang pada hari Senin, 22 Desember 2014. Ketika mereka sampai di Karimun pada hari Ahad itu, rombongan dari Malaysia akan langsung ke hotel, tempat mereka menginap selama tiga hari di Karimun. Artinya acara pokok di SMA Negeri 3 Karimun akan dilaksanakan besoknya. Persiapan selama tiga hari itu oleh panitia benar-benar dioptimalkan agar acaranya berjalan dengan baik dan lancar.

Hingga hari Ahad itu para panitia masih sibuk di sekolah. Pada saat guru-guru lain mungkin beristirahat di rumah, para panitia penyambutan tamu justeru masih sibuk di sekolah. Dari pagi hingga sore tetap berada di sekolah. Targetnya, acara esok hari jangan sampai gagal dan memalukan. Pentas sudah dihias dan alat pengeras suara juga sudah tersedia. Cuaca pun kelihatannya bagus dan cerah.

Ternyata keesokan harinya, cuaca berubah 180 derajat dari harapan. Meskipun saat ini bulan penghujan, namun beberapa hari dalam pekan-pekan itu cuacanya cukup cerah dan panas bersinar. Harapannya pada hari Senin itu juga akan panas. Tapi Tuhan berkehendak lain. Meskipun malamnya masih bertahan tidak hujan namun mendung yang bertahan sedari malam itu benar-benar pecah di pagi harinya.

Dimulai dengan sedikit gerimis, gerimis dan agak lebat lalu reda sebentar. Panitia masih berharap acara dapat terlaksana di halaman, di bawah tenda yang sudah dipersiapkan. Ternyata oh ternyata, gerimis itu hanya pembuka. Hujan pun tak tertahankan. Dan walapun pagi sekitar pukul 07.45 itu hujan seperti akan reda, panitia tidak bisa lagi berjudi dengan berharap hujan akan benar-benar berhenti. Akhirnya diputuskan untuk dipindahkan ke ruangan saja.

Di sinilah ujian terberat itu dirasakan panitia. Di saat beberapa undangan sudah mulai berdatangan (Pak Camat Meral, Ka UPTD Meral-Tebing dan beberapa lainnya, sudah mulai hadir) di sekolah, panitia harus memindahkan berbagai fasilitas ke ruangan majelis guru. Ruangan ini dipilih karena inilah ruangan terdekat dari pentas. Panitia benar-benar diuji kesabaran dan ketangguhannya. Tepat pukul 08.15 segala sesuatunya, alhamdulillah dapat diselesaikan. Kepala Dinas, Sekretaris Dinas dan Kabid Dikmen yang datang langsung masuk ke ruangan yang disediakan mendadak itu. Dan tidak lama, barulah tetamu dari Malaysia hadir dan disambut dengan tabuhan kompang oleh grup kompang SMA Negeri 3 Karimun.

Meskipun akhirnya berpindah ke ruangan yang lebih sempit, namun secara keseluruhan acara muhibbah antara warga SMA Negeri 3 Karimun dengan tamunya dari Malaysia, SMKA Nebong Tebal, Seberang Perai Pulau Pinang itu berjalan dengan lancar dan aman. Dari tari persembahan pada acara seremoni pembukaan sampai ke beberapa acara kesenian dan budaya dari dua sekolah, dapat berjalan dengan lancar. Dalam suasana masih sedikit gerimis, berbagai atraksi budaya dan seni itu akhirnya dilaksanakan juga di arena pentas yang sudah disediakan di halaman sekolah. Hanya acara perbahasan --dari Malaysia-- dan berbalas pantun saja yang dilaksanakan di musolla. Terima kasih, panitia dan terima kasih juga kepada tamu sekolah yang berkenan datang ke SMA Negeri 3 Karimun.***

 

Kamis, 25 Desember 2014

Silaturrahim itu Bermula dari Website

KETIKA via email sekolah, SMA Negeri 3 Karimun mendapat informasi akan kedatangan tamu dari salah satu sekolah di Pulau Pinang, Malaysia, saya dan beberapa rekan guru merasa gembira. Berarti tahun 2014 ini kami kembali akan kedatangan tamu dari negeri seberang sebagaimana tahun lalu juga ada kunjungan muhibah dari negeri jiran itu.

Senin, 22 Desember 2014

Pesan untuk Ibu di Hari Ibu



PESAN Untuk Ibu dari Jauh, adalah sebait puisi yang saya tulis beberapa waktu lalu. Malam ini, tidak sengaja saya menemukannya di file lama ketika saya mencari-cari tulisan-tulisan lama. Ketika coretan ini saya ulang baca, dan kebetulan pada hari Senin (22/ 12) ini adalah hari bersejarah buat ibu: inilah Hari Ibu yang setiap tahun diperingati selalu.


Setelah berpikir sejenak, saya memutuskan untuk dipublish kembali di blog guru kesayangan ini. Sebagai mengetuk hati sendiri untuk terus mengenang jasa-jasa ibu, maka saya posting puisi ini. Tentu saja saya berharap, pengakuan akan betapa besarnya jasa ibu ini dapat mengetuk hati siapa saja. Ibu adalah guru utama buat siapa saja. Selamat menikmati:

pesan untuk ibu di hari ibu
tidak pernah aku lupa pada 
jasa-jasa yang tiada duanya 
ketika aku tiada menjadi ada 
karenanya  
emak yang kini renta di desa
nun jauh di sana 

bertahun-tahun emak memelihara 
merawat  menyuapi dan membelai kami
malam siang dan pagi hari 
tiada henti karena apa pun terjadi 
memandikan kami di kali 
walau jauh dari gubuk kami
emak berjalan kaki membawa kami
ke tepian mandi nan jernih 

emak terkadang tidak makan nasi 
yang ada hanya ubi 
tanaman yang disiram keringat setiap hari dari pagi ke pagi
adalah pengganti nasi 

emak tidak juga berhenti 
emak tetap bekerja untuk kami lima orang anaknya
emak tetap berdoa untuk ayah yang meninggalkannya dan kami anak-anaknya

kini aku sudah pergi meninggalkan emak dan adik-adik 
bertahun-tahun sudah tidak serumah lagi 
di gubuk lapuk yang dulu membesarkan kami 
emak hanya kudengar suaranya dari henpon tetangga 
aku tidak jua mengirimkan henpon untuknya sendiri

jika ada kumpulan recehan yang berlebih 
dari menjual barang rongsokan dan besi karatan 
atau dari koran bekas yang dikumpulkan
uang itu itu tidak cukup untuk menambah 
hasil kebun yang ditanam bersama 
adik-adikku juga sudah tidak lagi bersekolah
membantu ibu mencangkul karena sudah tamat sekolah
masuk SMA apa lagi kuliah tiada biaya 

hari ini 
seharusnya aku mencium emakku 
tapi emak sangat jauh di sana
aku tidak bisa pulang karena ongkos tiada 
aku juga tidak bisa mengirimkan uang untuk membantu emak di sana 
maafkan anakmu, ibu 
maafkan karena belum bisa juga berterima kasih
sebagaimana pesan ibu bapak guru, dulu 
oh ibu, jangan tutup pintu syurga yang emak simpan itu
anakmu akan kembali entah berapa tahun lagi

Tiada lain harapan saya tentu nya selain sebagai salah cara untuk mengenang Ibu pada hari ibu seperti hari ini. Selamat Hari Ibu, semoga semua ibu-ibu mendapat kekuatan dari Yang Mahakuasa, amiin.***

Kuliah Tanpa Biaya, Bisa

Dari Google.om
SIAPA yang tidak ingin kuliah? Tidak ada. Siapa yang tidak ingin kuliah tanpa biaya? Jawabnya juga tidak ada. Hampir semua orang ingin melanjutkan pendidikannya ke Perguruan Tinggi (PT). Apalagi jika kuliahnya dengan biaya yang ditanggung orang lain alias dibantu. Pastilah semua orang mau.

Sabtu, 20 Desember 2014

Rakit itu Adalah Jembatan Bergerak

Rakit Limau Manis-Muarajalai
PENGALAMAN menarik yang saya rasakan ketika pulang kampung beberapa waktu lalu adalah ketika saya berkunjung ke rumah saudara dan harus menyeberangi sungai. Saya menyeberangi sungai dengan membawa sepeda motor menggunakan rakit. Bagaikan di atas jembatan bergerak, saya duduk di atas sepeda motor sambil menyeberangi sungai Kampar yang terkenal arusnya yang deras.

PTK itu Menguji Kejujuran

SETELAH dua hari, Kamis-Jumat (18-19/ 12) mengikuti Diklat Pembekalan Penelitian Tindakan Kelas yang diselenggarakan oleh LPMP (Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan) Provinsi Kepri, banyak pengetahuan dan banyak pula pengalaman yang didapatkan. Dua puluh orang peserta yang serius selama dua hari itu, merasakan betapa pentingnya pelatihan ini.

Selain mempelajari dan mempraktikkan bagaimana menyusun laporan PTK sesungguhnya pelatihan ini sekaligus mengulangcerahkan cara pandang dan cara tindak para guru dalam mengemban tugas dan tranggung jawab. Sesungguhnya perinsip utama dalam penyusunan PTK adalah kejujuran. Seperti tuntutan kepada guru dalam melaksanakan tugas, selain semangat dan motivasi juga integritas dan kejujuran. Begitu kurang lebih diingatkan narasumber dalam pelatihan ini.

Lebih jauh menurut  para nara sumber bahwa kejujuran ini pulalah yang menajdi penekanan penting dalam merancang dan melaksanakan penelitian tindakan kelas. Setiap menjelaskan berbagai teori  setiap itu pula persoalan kejujuran diingatkan oleh nara sumber. Mengapa demikian?

Karena ternyata masih terdengar sinyalemen kalau sebagian guru --mungkin sebagian kecil atau sebagian besar-- yang tidak atau belum jujur dalam menjalankan tugas sebagai pendidik. Dalam memberi nilai misalnya, masih terdengar sekadar memberi nilai saja tanpa menggambarkan kompeten yang sebenarnya. Konon masih ada, tanpa diperiksa lembaran ujiannya, tiba-tiba muncul nilainya. Nilai rendah malah dinaikkan begitu saja. Dengan alasan menolong siswa, guru memberi nilai tinggi meskipun itu bukan cerminan kemampuannya.

Sesungguhnya, jika target nilai tinggi yang dinginkan tentu saja caranya bukan dengan mengubah atau merekayasa nilai siswa. Seharusnya kepada setiap siswa yang belum kompeten, jalannya adalah dengan mengulang kembali pembelajaran atau pemberian materi dalam satu kegiatan remedial. Bukan dengan serta-merta mengubah nilainya sesuai keinginan. Padahal perinsip pemberian nilai itu adalah faktual dan otentik.

Reekasaya nilai seperti itu memang tidak selalu sepenuhnya karena guru saja. Malah terdengar juga atas perintah Kepala Sekolah yang menginginkan seolah-olah siswanya baik-baik saja. Keinginan untuk menghasilkan nilai yang baik bukan saja keinginan Kepala Sekolah tapi juga keinginan semua pemangku kepentingan pendidikan itu sendiri: orang tua dan masyarakat. Namun cara memperolehnya bukan dengan rekayasa.

Mengubah sikap inilah yang menurut nara sumber pelatihan PTK perlu menjadi perhatian. Dalam melaksanakan penelitian dan laporan PTK tentu saja akan sangat berbahaya jika tidak didasarkan perinsip kejujuran. Tujuan PTK salah satunya adalah untuk menemukan kekurangan dan kelemahan seorang guru dalam mengelola pembelajaran. Dari pengakuan kelemahan itu pula guru akan mencarikan solusi dalam bentukan tindakan.

Jika kebohongan-kebohongan seperti itu tetap dupertahankan dalam keseharian guru, bagaimana seorang guru akan mampu membuat laporan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) itu? Saya pikir pesan dari nara sumber perihal perlunya kejujuran dalam melaksanakan PTK adalah pesan pokok dari semua materi yang disampaikan. Hanya PTK yang laksanakan dengan perinsip kejujuranlah yang akan melahirkan PTK yang bermutu. Semoga!***

Sabtu, 13 Desember 2014

Beratnya Ujian Ini: Adikku Pergi

BELUM terlalu lama rasanya. Baru beberapa bulan lalu, dalam ingatan, kakak kandung saya, Syamsinar (foto paling kanan/ di belakang saya) pergi untuk selamanya. Hari ini, Sabtu, 13 Desember 2014 adik kandung saya pula pergi untuk tidak akan pernah kembali lagi. Ujian ini terasa amat berat. Saya harus kuat menerimanya.

Kamis, 11 Desember 2014

K-13 dalam KTSP

SETELAH Menbuddikdasmen, Anies Baswedan mengeluarkan surat bernomor  179342/MPK/KR/2014 tanggal 5 Desember 2014 tentang penundaan implementasi K-13 (Kurikulum 2013) bagi sekolah-sekolah yang baru memulainya pada Tahun Pelajaran (TP) 2014/ 2015 dan meneruskan pelaksanaannya bagi sekolah-sekolah yang sudah memulai pada TP 2013/ 2014 maka berbagai reaksi bermunculan. Pro dan kontra tidak dapat dielakkan.

Pihak-pihak yang sedari awal tidak menyukai keputusan (mantan) Mendikbud, M. Nuh untuk melaksanakan K-13 setahun lalu bagaikan mendapat amunisi baru untuk menolaknya dan bersuara lagi hari-hari belakangan ini. Ditambah penentang yang muncul ketika implementasi K-13 tiba-tiba diberlakukan bagi siswa kelas XI TP 2014/ 2015 maka semakin riuh-rendahlah yang mempersoalkan berlakuknya K-13 itu. Penolakan dari berbagai pihak bagaikan air bah mengalir setiap hari di seantero berita.

Agak sedih juga, dari komentar dan kicauan sebagian guru di media sosial, ternyata ada pula guru yang bersuka-cita atas penundaan ini. Tanpa mengetahui lebih dalam alasan penundaan itu, malah ada guru yang bersorak karena berharap K-13 diganti dan tidak perlu dilaksanakan saja. Harapannya bukan ditunda tapi dibatalkan.

Bagi sekolah, selain kebijakan yang dikeluarkan Pemerintah Pusat (Kembudikdasmen), acuan pelaksanannya tentu saja diatur di daerah. Dinas Pendidikan Kabupaten adalah ujung tombak pemegang dan pengendali kebijakan dalam pelaksanaan kurikulum itu. Sedihnya, kontroversi pro-kontra penundaan implementasi K-13 ternyata tidak diikuti begitu saja oleh semua daerah sebagaimana dijelaskan dalam surat Menbuddikdasmen itu. Ada pula daerah yang justseru dengan tegas tidak mengikuti bunyi surat itu.

Jawa Timur, konon sudah membuat kesepakatan seluruh Dinas Kabupatennya untuk terus melaksanakan K-13 sebagaimana sudah dilaksanakan pada TP 2013/ 2014 dan 2014/ 2015 ini. Itu berarti, penegasan menteri agar menunda bagi sekolah (kelas) yang baru memulainya pada tahun ini, tidak diikuti. Sekolah (daerah) itu artinya menolak surat Pak Menteri itu. Tidakkah ini akan memalukan Pemerintah Pusat?

Terlepas dari pro-kontra respon isi surat Menbuddikdasmen, seharusnya bagi sekolah proses pembelajaran yang sudah dilaksanakan dengan acuan K-13 dalam satu semester ini tidak perlu terlalu dirisaukan ketika di semester genap nanti harus kembali ke KTSP (K-2006) itu. Sesungguhnya pendekatan dan strategi pembelajaran sebagaimana dituntut pada K-13, itu juga yang sudah ada pada KTSP. Pusat pembelajaran pada siswa, misalnya, itu sudah lama dituntut sebelum K-13 diterapkan. Penilaian yang lebih menekankan pada data dan fakta (outentik) juga sudah dituntut pada KTSP meskipun guru juga yang melalaikannya. 

Selain itu, pendekatan sanitifik dengan ciri 5-M itu juga tidak berlebihan jika guru tetap menerapkannya pada K-2006 nanti. Jika ada yang berubah hanyalah struktur Mata Pelajaran yang kembali akan memperlakukan TIK/ KKPI, misalnya sebagai sebuah mata pelajaran.Tentang harapan peserta didik lebih kreatif dan inovatif pun sangat diharapkan pada KTSP. Lalu apa yang harus dikhawatirkan?

Jadi, K-13 itu tidak berlebihan disebut sebagai kelanjutan dan pengembangan dari KTSP yang sudah familiar dengan guru. Yang harus dikhawatirkan justeru jika ada guru yang tidak siap untuk terus mengembangkan dirinya secara terus-menerus sebagai usaha untuk mengembangkan diri peserta didik. Guru tidak boleh stagnan dengan model dan cara mengajar yang sudah mapan pada diri sendiri. Pengembangan diri secara berkelanjutan adalah keharusan yang tidak bisa dinapikan. Maka, mari kita tunaikan kewajiban kita dengan sebaik mungkin yang bisa dilakukan.***


Rabu, 10 Desember 2014

Komunikasi dalam Keluarga

PENTING untuk dipertahankan komunikasi dalam keluarga yang kebetulan berjauhan tempat. Tempat tinggal tidak selalu bisa sama atau berdekatan dalam satu daerah. Setelah berkeluarga, tidak jarang antar saudara itu bertempat tinggal di daerah yang berjauhan.

Selasa, 09 Desember 2014

Memisahkan Tempat Duduk agar Jujur dalam Ujian

UNTUK melatih peserta didik melakukan ujian dengan jujur dan bertanggung jawab, setiap penyelenggara ujian melakukan berbagai cara. Selain menetapkan pengawas ruang ujian --sendiri atau berdua-- juga dengan mengatur tempat duduk peserta ujian yang mengurangi kemungkinan peserta ujian saling mencontek. Tempat duduk dengan jarak tertentu atau dengan menggabungkan siswa yang tidak satu kelas dalam satu ruangan ujian juga menjadi alternatif.

Seperti yang dilakukan oleh SMA Negeri 3 Karimun dan beberapa sekolah lainnya, panitia ujian membuat kebijakan menggabungkan siswa yang berbeda kelas dalam satu kelas/ ruangan ujian. Tanpa harus menggeser  meja/ kursi di kelas tersebut untuk menambah jarak antar meja/ kursi, siswa cukup duduk di kursi yang ada dengan kelas yang berbeda. Para peserta ujian yang sama kelasnya secara otomatis tidak lagi duduk berdekatan karena diatur nomor mejanya agar yang berada di sisi kiri-kanan-muka-belakang bukan siswa yang satu kelas.

Kebijakan ini ternyata mampu mengubah perilaku siswa dari kebiasaan mencontek dalam ujian menjadi tidak atau berkurang keinginan menconteknya. Meskipun data ini bersifat relatif dan jumlahnya juga belum terlalu signifikan berbanding jumlah perserta ujian dalam satu ruanga, namun data berupa informasi lisan dari para guru pengawas itu dapat dijadikan dasar konklusi bahwa kebijakan menggabungkan kelas yang berda dalam satu ruang ujian dapat menyebabkan peserta ujian berkurang kesempatannya untuk mencontek.

Mengurangi atau menutup kesempatan peserta ujian untuk saling mencotek, sesungguhnya akan membuat para siswa akan terlatih untuk tidak mencontek. Latihan-latihan ini yang di tahap awal mungkin merasa terpaksa, diharapkan suatu saat nanti menjadi kebiasaan dan kesadaran sendiri. Itu berarti, mengatur tempat duduk ujian dengan tidak menempatkan siswa dalam satu rombel untuk duduk berdekatan dapat menjadi latihan mereka untuk ujian secara jujur.

Bagi guru pengawas ruangan, sangat diharapkan ketelitian dan kejeliannya untuk menutup kemungkinan para siswa masih berusaha untuk saling mencontek walaupun sudah duduk agak berjauhan. Bagi peserta didik yang sudah terbiasa mencontek, boleh jadi jarak yang relatif jauh itu pun masih bisa dimanfaatkan untuk saling memberi dan menerima jawaban ujian. Maka pengawas wsajib menghentikan ini dengan cara menegur mereka. Dasar ketegasan pengawas ini sudah jelas tertulis dalam Tata Tertib Peserta Ujian. Itulah dasar hukum yang harus dipakai pengawas.

Yang ingin ditegaskan di sini adalah bahwa selain ketegasan pengawas, pengaturan kursi/ meja dan  menyiapkan soal-soal yang berbeda --standarnya sama-- untuk setiap peserta ujian dalam satu ruang ujian, maka dengan menempatkan siswa yang berbeda kelas/ rombel dalam satu ruang ujian adalah cara yang dapat mengurangi kesempatan siswa untuk mencontek. Dengan itu pula diharapkan para peserta ujian akan terlatih untuk berlaku jujur dalam mengikuti ujian. Semoga.

Senin, 08 Desember 2014

Ujian dan Sahabat nan Jahat

HARI Senin (08/ 12/ 14) ini adalah hari pertama Ujian Akhir Semester Ganjil (UAS-G) Tahun Pelajaran (TP) 2014/ 2015 di lingkungan Dinas Pendidikan Kabupaten Karimun. Meskipun menurut kalender pendidikan Dinas Pendidikan Provinsi Kepri UAS-G baru dimulai pekan depan, Karimun mengambil jalan tengah dengan mempercepatnya pekan ini. Konon kabarnya, ada juga kabupaten atau daerah lain yang sudah menyelesaikan UAS-G sepekan lalu.

Bagi peserta didik, ujian ini tentu saja sangat penting sekaligus mengkhawatirkan. Penting, karena nilai-nilai yang akan diperoleh adalah nilai-nilai yang akan masuk ke dokumen Buku Rapor. Artinya akan abadi dan akan menentukan juga perhitungan prestasi akademik selanjutnya. Khawatir, karena ada pertanyaan, "Sudah siapkah para siswa?" Ini pertanyaan pendek dan sederhana tapi konsekuensinya sangat besar.

Dari pengalaman masa-masa lalu, UAS sering melahirkan kisah-kisah menarik, unik dan terkadang jelek. Catatan itu tidak jauh berbeda dengan kejadian-kejadin ketika berlangsungnya UN (Ujian Nasional). Yang unik adalah karena ada juga para siswa --ketahuan-- yang mencoba membuat catatan pada badannya seperti di lengan atau paha yang tertutup pakaian, misalnya. Lalu ketika ujian, lengan baju atau celana/ rok dibuka untuk melihat catatan tersebut. Lucu, kan?

Pengalaman lainnya adalah kebiasaan beberapa siswa yang suka mencontek atau saling berbagi dalam ujian. Walaupun sekolah melarang --ada dalam tata tertib ujian-- tapi para siswa tetap saja melakukannya. Jika pengawas ruang tidak awas dan tidak tegas maka kebiasaan ini bahkan dapat menimbulkan keriuhan dalam ruang ujian. Ruang ujian bisa saja menjadi semacam pasar kecil.

Apapun usaha yang dilakukan dalam ujian, jika itu dilarang, seharusnya para siswa tidak boleh melakukannya. Membuat catatan, saling mencontek dan yang sejenisnya, sama sekali tidak dibenarkan dalam ujian. Kebiasaan jelek ini sangat berbahaya untuk masa depan siswa dan masa depan bangsa secara umum. Dan walapun saling mencontek itu dilakukan sesama sahabat atau teman, tetap saja itu tidak baik. Bersahabat, tentu saja tidak di situ letaknya.

Di sinilah perlu keberanian siswa untuk meluruskan cara berpikirnya. Sahabat yang baik, sejatinya tidak menjerumuskan temannya dengan cara memberi atau menerima jawaban yang tidak legal dalam ujian. Harus diingat bahwa mencontek itu haram hukumnya dari sisi agama. Baik yang memberi/ membocorkan jawaban maupun yang menerima (meminta) jawaban, tetap salah kedua-duanya. Sisi agama atau sis etika dan peraturan sekolah, tetap saja itu salah. Bersahabat dalam ujian tidak harus saling melanggar peraturan.

Teman-teman yang secara sengaja mencontek dan secara sengaja juga memberi jawaban kepada temannya, sebenarnya orang itu dapat disebut sebagai sahabat yang jahat. Sahabat seperti ini sama saja dengan ingin menghancurkan akhlak atau sikap temannya sendiri. Padahal sikap yang baik adalah kunci utama untuk kebaikan bangsa ke depan. Sebaliknya, bangsa ini akan terus rusak dan hancur jika sikap generasi mudanya sudah dirusak sejak masih masih muda saat ini.***

Minggu, 07 Desember 2014

Mereka Berhaji di Masjid Agung

LOMBA manasik haji antar siswa pada hakikatnya dimaksudkan untuk memberikan pemahaman yang lebih mendalam kepada peserta didik mengenai tata cara dan praktik haji. Bagi sekolah, keikutsertaan dalam lomba --apa saja, termasuk manasik haji--  adalah untuk membuktikan kemauan dan kemampuan peserta didiknya dalam memahami dan melaksanakan prkatik haji. Bagi sekolah juga sekaligus promosi diri untuk berbagai kegiatan siswa.

Sabtu, 06 Desember 2014

Surat Mendikbud: K-13 Tunda Dulu

AKHIRNYA Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI, Anies Baswedan mengeluarkan surat yang secara khusus ditujukan ke Kepala Sekolah di seluruh Indonesia. Surat bernomor 179342/MPK/KR/2014 tanggal 5 Desember 2014 meminta Kepala Sekolah menunda dulu penerapan Kurikulum 2013 (K-13) bagi sekolah-sekolah yang baru memulainya pada TP 2014/ 2015 ini. 


Tapi bagi sekolah yang sudah menerapkannya sejak tahun lalu yang berarti sudah memasuki semester ketiga, maka sekolah ini dapat terus melanjutkannya. Nantinya sekolah-sekolah ini akan menjadi acuan bagi sekolah-sekolah di sekitarnya setelah Pemerintah memutuskan untuk mengimplementasikannya secara menyeluruh. Bunyi surat itu selengkapnya adalah: 


Nomor : 179342/MPK/KR/2014 5 Desember 2014
Hal : Pelaksanaan Kurikulum 2013
Yth. Ibu / Bapak Kepala Sekolah
di
Seluruh Indonesia

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Salam sejahtera bagi kita semua.

Semoga Ibu dan Bapak Kepala Sekolah dalam keadaan sehat walafiat, penuh semangat dan bahagia saat surat ini sampai. Puji dan syukur selalu kita panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala limpahan rahmat dan hidayahnya pada Ibu dan Bapak serta semua Pendidik dan Tenaga Kependidikan yang telah menjadi pendorong kemajuan bangsa Indonesia lewat dunia pendidikan.

Melalui surat ini, saya ingin mengabarkan terlebih dahulu kepada Kepala Sekolah tentang Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan terkait dengan pelaksanaan Kurikulum 2013, sebelum keputusan ini diumumkan kepada masyarakat melalui media massa.
Sebelum tiba pada keputusan ini, saya telah memberi tugas kepada Tim Evaluasi Implementasi Kurikulum 2013 untuk membuat kajian mengenai penerapan Kurikulum 2013 yang sudah berjalan dan menyusun rekomendasi tentang penerapan kurikulum tersebut ke depannya.

Harus diakui bahwa kita menghadapi masalah yang tidak sederhana karena Kurikulum 2013 ini diproses secara amat cepat dan bahkan sudah ditetapkan untuk dilaksanakan di seluruh tanah air sebelum kurikulum tersebut pernah dievaluasi secara lengkap dan menyeluruh.

Seperti kita ketahui, Kurikulum 2013 diterapkan di 6.221 sekolah sejak Tahun Pelajaran 2013/2014 dan di semua sekolah di seluruh tanah air pada Tahun Pelajaran 2014/2015. Sementara itu, Peraturan Menteri nomor 159 Tahun 2014 tentang evaluasi Kurikulum 2013 baru dikeluarkan tanggal 14 Oktober 2014, yaitu tiga bulan sesudah Kurikulum 2013 dilaksanakan di seluruh Indonesia.

Pada Pasal 2 ayat 2 dalam Peraturan Menteri nomor 159 Tahun 2014 itu menyebutkan bahwa Evaluasi Kurikulum bertujuan untuk mendapatkan informasi mengenai:
1. Kesesuaian antara Ide Kurikulum dan Desain Kurikulum;
2. Kesesuaian antara Desain Kurikulum dan Dokumen Kurikulum;
3. Kesesuaian antara Dokumen Kurikulum dan Implementasi Kurikulum; dan
4. Kesesuaian antara Ide Kurikulum, Hasil Kurikulum, dan Dampak Kurikulum.

Alangkah bijaksana bila evaluasi sebagaimana dicantumkan dalam pasal 2 ayat 2 dilakukan secara lengkap dan menyeluruh sebelum kurikulum baru ini diterapkan di seluruh sekolah. Konsekuensi dari penerapan menyeluruh sebelum evaluasi lengkap adalah bermunculannya masalah-masalah yang sesungguhnya bisa dihindari jika proses perubahan dilakukan secara lebih seksama dan tak terburu-buru.

Berbagai masalah konseptual yang dihadapi antara lain mulai dari soal ketidakselarasan antara ide dengan desain kurikulum hingga soal ketidakselarasan gagasan dengan isi buku teks. Sedangkan masalah teknis penerapan seperti berbeda-bedanya kesiapan sekolah dan guru, belum meratanya dan tuntasnya pelatihan guru dan kepala sekolah, serta penyediaan buku pun belum tertangani dengan baik. Anak-anak, guru dan orang tua pula yang akhirnya harus menghadapi konsekuensi atas ketergesa-gesaan penerapan sebuah kurikulum. Segala permasalahan itu memang ikut melandasi pengambilan keputusan terkait penerapan Kurikulum 2013
kedepan, namun yang menjadi pertimbangan utama dalam pengambilan keputusan ini adalah kepentingan anak-anak kita.

Maka dengan memperhatikan rekomendasi tim evaluasi implementasi kurikulum, serta diskusi dengan berbagai pemangku kepentingan, saya memutuskan untuk:
1. Menghentikan pelaksanaan Kurikulum 2013 di sekolah-sekolah yang baru menerapkan satu semester, yaitu sejak Tahun Pelajaran 2014/2015. Sekolah-sekolah ini supaya kembali menggunakan Kurikulum 2006. Bagi Ibu/Bapak kepala sekolah yang sekolahnya termasuk kategori ini, mohon persiapkan sekolah untuk kembali menggunakan Kurikulum 2006 mulai semester genap Tahun Pelajaran 2014/2015. Harap diingat, bahwa berbagai konsep yang ditegaskan kembali di Kurikulum 2013 sebenarnya telah diakomodasi dalam Kurikulum 2006, semisal penilaian otentik, pembelajaran tematik terpadu, dll. Oleh karena itu, tidak ada alasan bagi guru-guru di sekolah untuk tidak mengembangkan metode pembelajaran di kelas. Kreatifitas dan keberanian guru untuk berinovasi dan keluar dari praktik-pratik lawas adalah kunci bagi pergerakan pendidikan Indonesia.

2. Tetap menerapkan Kurikulum 2013 di sekolah-sekolah yang telah tiga semester ini menerapkan, yaitu sejak Tahun Pelajaran 2013/2014 dan menjadikan sekolah-sekolah tersebut sebagai sekolah pengembangan dan percontohan penerapan Kurikulum 2013. Pada saat Kurikulum 2013 telah diperbaiki dan dimatangkan lalu sekolah-sekolah ini (dan sekolah-sekolah lain yang ditetapkan oleh Pemerintah) dimulai proses penyebaran penerapan Kurikulum 2013 ke sekolah lain di sekitarnya. Bagi Ibu dan Bapak kepala sekolah yang sekolahnya termasuk kategori ini, harap bersiap untuk menjadi sekolah pengembangan dan percontohan Kurikulum 2013. Kami akan bekerja sama dengan Ibu/Bapak untuk mematangkan Kurikulum 2013 sehingga siap diterapkan secara nasional dan disebarkan dari sekolah yang Ibu dan Bapak pimpin sekarang. Catatan tambahan untuk poin kedua ini adalah sekolah yang keberatan menjadi sekolah pengembangan dan percontohan Kurikulum 2013, dengan alasan ketidaksiapan dan demi kepentingan siswa, dapat mengajukan diri kepada Kemdikbud untuk dikecualikan.

3. Mengembalikan tugas pengembangan Kurikulum 2013 kepada Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI. Pengembangan Kurikulum tidak ditangani oleh tim ad hoc yang bekerja jangka pendek. Kemdikbud akan melakukan perbaikan mendasar terhadap Kurikulum 2013 agar dapat dijalankan dengan baik oleh guru-guru kita di dalam kelas, serta mampu menjadikan proses belajar di sekolah sebagai proses yang menyenangkan bagi siswa-siswa kita.

Kita semua menyadari bahwa kurikulum pendidikan nasional memang harus terus menerus dikaji sesuai dengan waktu dan konteks pendidikan di Indonesia untuk mendapat hasil terbaik bagi peserta didik. Perbaikan kurikulum ini mengacu pada satu tujuan utama, yaitu untuk meningkatkan mutu ekosistem pendidikan Indonesia agar anak-anak kita sebagai manusia utama penentu masa depan negara dapat menjadi insan bangsa yang: (1) beriman dan bertakwa kepadaTuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, mandiri, demokratis, bertanggung jawab; (2) menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi; dan (3) cakap dan kreatif dalam bekerja. Adalah tugas kita semua untuk bergandengan tangan memastikan tujuan ini dapat tercapai, demi anak-anak kita.

Pada akhirnya kunci untuk pengembangan kualitas pendidikan adalah pada guru. Kita tidak boleh memandang bahwa pergantian kurikulum secara otomatis akan meningkatkan kualitas pendidikan. Bagaimanapun juga di tangan gurulah proses peningkatan itu bisa terjadi dan di tangan Kepala Sekolah yang baik dapat terjadi peningkatan kualitas ekosistem pendidikan di sekolah yang baik pula. Peningkatan kompetensi guru, kepala sekolah dan tenaga kependidikan akan makin digalakkan sembari kurikulum ini diperbaiki dan dikembangkan.

Pada kesempatan ini pula, saya juga mengucapkan apreasiasi yang setinggi-tingginya atas dedikasi yang telah Ibu dan Bapak Kepala Sekolah berikan demi majunya pendidikan di negeri kita ini. Dibawah bimbingan Ibu dan Bapak-lah masa depan pendidikan, pembelajaran, dan pembudayaan anak-anak kita akan terus tumbuh dan berkembang. Semoga berkenan menyampaikan salam hangat dan hormat dari saya kepada semua guru dan tenaga kependidikan di sekolah yang dipimpin oleh Ibu dan Bapak. Bangsa ini menitipkan tugas penting dan mulia pada ibu dan bapak sekalian untuk membuat masa depan lebih baik. Semoga Tuhan Yang Maha Esa selalu melindungi kita semua dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan dan kebudayaan nasional.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Jakarta, 5 Desember 2014
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan,
Anies Baswedan

 Semoga surat yang saya baca tadinya via FB ini dapat menjadi awal berpikir ulang tentang implementasi K-13 yang selama satu semester ini terasa begitu membingungkan dan memberatkan. Dan sebenarnya penerapan K-13 tidaklah jauh berbeda dengan KTSP yang strtegi dan pendekatannya kurang lebih sama. Hanya saja, para guru selama ini tidak terlalu memperhatikannya. Semoga ke depan garda terdepan yang bernama guru, pahlawan yang begitu besar jasanya, akan lebih siap menghadapi perubahan ini. Semoga!*** 
*Artikel yang sama di:  http://koncopelangkin.blogspot.com/2014/12/k-13-tunda-dulu.html#more
 
Copyright © 2016 koncopelangkin.com Shared By by NARNO, S.KOM 081372242221.