BREAKING NEWS

Minggu, 30 November 2014

Dari HUT PGRI Moro: Risau Tapi Puas

Tenda VIP Makan Siang
PERINGATAN Hari Ulang Tahun (HUT) Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) ke-69 dan Hari Guru Nasional (HGN) Tahun 2014 diselenggarakan di Kecamatan Moro. Setelah giliran Moro pada 2013 lalu ditunda dan HUT PGRI ke-68 diselenggarakan di Kecamatan Meral (Barat) sebagai strategi menghadapi Pemilu lalu, kini giliran itu sampai juga ke kecamatan yang terkenal sebagai Moro Bersinar itu.

Senin, 24 November 2014

PGRI, Tunjukkan Jati Diri



SEPERTI tahun-tahun sebelumnya, tahun ini guru kembali memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) kelahirannya. Pendidik atawa guru, melalui wadah PGRI (Persatuan Guru Republik Indonesia) akan terus memperingati catatan kelahiran organisasi insan bergelar ‘pahlawan tanpa tanda jasa’ itu. PGRI yang diakui dan dikukuhkan terlahir ke bumi Indonesia sejak 25 November 1945, setiap tahunnya selalu diperingati pada tanggal keramat itu sebagai hari sakti guru Indonesia.

Tahun 2014 ini guru Indonesia akan berulang tahun untuk yang ke-69  kali. Usia sebegitu lama yang seharusnya sudah berkategori sangat tua. Bukan hanya sekadar sudah dewasa. Dari satu generasi ke generasi berikutnya, guru terus melanjutkan perjuangannya sebagai agen perubahan. Peran guru sebagai pengajar sekaligus pendidik terus diemban dalam berbagai rona keadaan.

PGRI yang lahir melalui peristiwa bersejarah 69 tahun lalu tidak terjadi begitu saja. Bermula dari kebutuhan perjuangan kemerdekaan bangsa yang terjajah jauh sebelum datangnya kemerdekaan, di relung hati para guru ikut tumbuh rasa persatuan dan kesatuan untuk perjuangan kemerdekaan itu sendiri. Di zaman Hindia Belanda, sejarah mencatat, guru bahkan sudah memiliki wadah berorganisasi yang bernama PGHB, singkatan dari Persatuan Guru Hindia Belanda. Mereka memang merupakan gabungan guru-guru desa yang berada di sekolah desa dan sekolah rakyat waktu itu.

Dan selain PGHB, dalam sejarah guru juga kita baca ada beberapa organisasi guru lain seperti PGB (Persatuan Guru Bantu), PGD (Perserikatan Guru Desa), PGAs (Persatuan Guru Ambachtsschool), PNs (Persatuan Normaalschool) dan beberapa lagi yang lainnya yang disesuaikan dengan perbedaan keadaan dan kebutuhannya. Perjuangan terus-menerus dari para guru, ini adalah bukti adanya kesadaran kebangsaan dan semangat perjuangan terutama untuk memperjuangkan persamaan hak dan poisi dengan penjajah waktu itu.

Sejarah menjelaskan, pada tahun 1932 ketika intensitas dan kualitas perjuangan bangsa ini kian tinggi, nama PGHB diubah menjadi PGI (Persatuan Guru Indonesia) yang ternyata tidak disenangi Belanda karena menggunakan kata ‘Indonesia’ yang bagi guru itu adalah jiwa dan semangat perjuangan. Namun demikian, wadah ini tetap eksis hingga dibredelnya oleh penjajah Jepang bersamaan kebijakan Jepang yang membekukan organisasi-oraganisasi dan sekolah-sekolah yang ada.

Proklamasi Kemerdekaan –17.08.45– telah menjadi tonggak baru perjuangan guru Indonesia. Dengan semangat 17-08-45 para insan mulia ini mengadakan kongres bersejarahnya di Surakarta seratus hari pasca prokalamasi monumental itu. Kongres Guru Indonesia itu dicatat sejarah terjadi pada 24-25 November 1945. Dan pada hari kedua kongres itulah disepakati dan didirikannya PGRI yang menggabungkan seluruh organisasi guru waktu itu. Bermulalah era perjuangan guru di bawah wadah PGRI.

Dalam sejarah PGRI dijelaskan bahwa ada tiga tujuan yang ‘dipekikkan’ para pahlawan pendidikan bersama pekikan ‘merdeka’ ketika RRI Surakarta dibombardir tentara Inggeris. Ketiga tujuan itu adalah, 1) Mempertahankan dan menyempurnakan RI; 2) Mempertinggi tingkat pendidikan dan pengajaran sesuai dasar-dasar kerakyatan; dan 3) Membela hak dan nasib buruh umumnya, guru khususnya. PGRI benar-benar dijadikan wadah penguat jati diri guru khususnya dan diharapkan akan mampu pula melahirkan generasi terdidik yang mempunyai jati diri yang kuat juga. Inilah sari pati tanggung jawab guru yang mesti terus-menerus diperjuangkan melalui PGRI.

Eksistensi PGRI sebagai wadah perjuangan pendidikan sepanjang masa, telah membuat pemerintah memberikan penghormatan khusus kepada PGRI dengan ditetapkannya hari lahir PGRI itu sebagai Hari Guru Nasional (HGN) terhitung sejak dikeluarkannya Kepres No 78/ 1994. Kini, setiap tanggal kramat itu, para guru Indonesia memperingati lahirnya PGRI sebagai Hari Guru Nasional.

Saat ini sebagian perjuangan guru sudah mampu terwujudkan. Lahirnya Undang-undang No 14/ 2005 tentang Guru dan Dosen setelah sebelumnya juga sudah ada Undang-undang Sisdiknas adalah sebagian keinginan terwujdunya perjuangan guru selama ini. Sebagian guru bahkan juga sudah merasakan kesejahteraan yang memadai dengan diberlakukannya program sertifikasi guru sejak tahun 2007 lalu sebagai implementasi undang-undang tersebut.

Bahwa perjuangan guru belumlah selesai, itu adalah fakta yang ada dan itu adalah perjuangan lanjutan yang tidak boleh dihentikan. Riuh rendah, pro kontra impelementasi Kurikulum 2013 (K13) yang menyebabkan guru bagaikan terbelah-belah, mestinya menjadi fokus PGRI untuk melanjutkan perjuangan. Mustahil kegaduhan penerapan K13 itu akan benar-benar menghasilkan pendidikan yang bermutu untuk bangsa dan generasi ke depan. Padahal ada yang lebih penting untuk dipikirkan PGRI, bagaimana menjadikan guru sebagai pengelola pembelajaran yang menginspirasi siswa.

PGRI sebagai organisasi profesi sudah seharusnya menjadi wadah penguat jati diri guru itu sendiri dalam fungsi dan tanggung jawabnya sekaligus juga untuk penguat jati diri anak bangsa. Integritas guru sebagai pejuang dan pelaksana pendidikan harus tetap dikobarkan menuju masyarakat yang cerdas, mandiri dan berkesejahteraan. PGRI tidak pantas untuk mengiyakan saja semua kebijakan pemegang teraju pendidikan, jika kebijakan itu ternyata tidak sesuai dengan ruh guru itu sendiri. Mari dijadikan, HUT PGRI tahun ini sebagai tonggak penting untuk meluruskan langkah bersama demi pendidikan anak-cucu kita. Guru yang menginspirasi adalah kata kuncinya. Dirgahayu, PGRI. Berjuanglah, Guru! ***
 

Minggu, 23 November 2014

Berlibur, Keluar atau Didalam Negeri?



Pantai Palawan dan Turis Asing

TIDAK selalu ada kesempatan untuk berlibur. Tapi menjelang akhir tahun seperti saat ini adalah waktu yang paling tepat untuk itu. Sekolah-sekolah segera akan menghadapi ujian semester ganjil. Lalu membagi rapor semester untuk seterusnya aka nada libur semester. Kantor-kantor juga akan libur karena  menjelang natal yang berbarengan dengan libur akhir tahun.

Sabtu, 22 November 2014

Jika Mau, Guru Mampu

Latihan di Teriknya Matahari
SESUAI hasil rapat majelis guru, untuk apel bendera Senin Pagi, 24 November 2014 di SMA Negeri 3 Karimun dialihkan ke hari Selasa (25/ 11) yang merupakan tanggal peringatan Hari Guru Nasional dan HUT PGRI ke-69 tahun 2014. Lagi pula, pada 24 November itu ada apel besar dalam rangka HUT PGRI Kabupaten Karimun yang disejalankan dengan peringatan hari Korpri dan hari Kesehatan Karimun.

Karena apel pada 25 November nanti adalah dalam rangka memperingati HUT (Hari Ulang Tahun) PGRI (Persatuan Guru Republik Indonesia) dan Hari Guru Nasional di lingkungan SMA Negeri 3 Karimun maka disepakati pula bahwa yang akan menjadi pelaksana pada upacara bendera itu nanti adalah para guru dan pegawai di lingkungan sekolah ini. Seperti biasanya adalah para siswa sebagai pelaksana maka pada hari bersejarah ini akan dilaksanakan oleh para guru.

Maka didakanlah latihan-latihan untuk persiapan upacara tersebut. Ternyata para guru itu mampu membuktikannya. Mereka memang bisa melaksanakan upacara itu. Pengerek bendera --Bu Nofa, Pak Suhaimi dan Pak Beni-- misalnya, tampak begitu serius melaksanakan latihan. Begitu juga para personel lain seperti komandan upacara (pak Ronal), pembaca undang-undang dan ikrar guru (Bu Vera dan Bu Dewi). Pemimpin lagu adalah Bu Rama yang memimpin semua guru dan pegawai untuk menyanyikan lagu Indonesia Raya

Ada bebrapa hal penting yang menurut saya pantas untuk diapresiasi atas persiapan dan latihan upacara ini. Pertama, kegiatan latihan ini adalah atas prakarsa mereka sendiri. Walaupun kepercayaan memikul beban sebagai pelaksana upacara bendera datangnya dari Kepala Sekolah namun untuk latihan-latihan mereka melaksanakannya sendiri tanpa harus menunggu arahan dari pimpinan sekiolah. Dengan koordinasi bersama para Wakil Kepala Sekolah serta perwira upacara yang sudah dipercaya, mereka mengadakan latihan-latihan bersama dengan serius. Prakarsa tanpa menunggu perintah inilah yang pantas dicontoh.

Kedua, para guru itu berlatih tanpa harus mengorbankan jam belajar yang terlalu banyak. Hanya beberapa menit menjelang bel pulang (14.00) saja mereka meminta waktu kepada anak-anak untuk berlatih. Latihan sendiri terkadang memerlukan waktu antara 50 s.d. 90 menit. Artinya mereka baru pulang ke rumah melwati waktu satu jam lebih selepas bel berbunyi. Mereka mau mengorbankan waktu yang harusnya sudah berkumpul dengan keluarga untuk latihan bersama demi tanggung jawab ini.

Dan masih ada yang juga harus diapresiasi, menurut saya yaitu, ketiga, mereka berlatih di tengah teriknya matahari. Pastilah sangat panas waktu-waktu seperti itu. Antara pukul dua dan tiga siang itu jelas mataharinya masih menusuk kepala jika tidak ada pelindung. Walau musim hujan saat ini, tapi setiap latihan, mataharinya ternyata selalu garang. Teriknya minta ampun. Itulah sebabnya beberapa orang menggunakan tudung kepala atau memakai payung, terutama para penyanyinya ketika latihan. Ini jelas memerlukan ketekunan dan kemauan yang tinggi, baru bisa lancar kegiatannya. Kemauan memang telah mengalahkan segala alangan yang menghadang. Para guru itu memang mampu karena bekal kemauan itu.

Harapan kita, tentu saja pada H-nya nanti upacara ini berjalan dengan baik dan lancar. Lagi pula, jika tidak ada aral mengalang, inysaallah yang akan menjadi pembina upacaranya adalah Pak M. Taufik, Ketua Komisi I (membidangi pendidikan) DPRD Kabupaten Karimun. Tentu saja akan sangat membanggakan jika upacara itu dapat berjalan dengan lancar di hadapan anggota yang terhormat itu. Guru pula sebagai pelaksana, betapa akan bangganya para siswa menyaksikan gurunya membuktikan kemauan dan kemampuannya. Semoga!***

Kamis, 20 November 2014

Bersahabat dengan Buku

CITA-cita dan harapan setiap guru kepada siswanya adalah bagaimana sebuah keberhasilan menerima dan menyerap pembelajaran selama di sekolah dibuktikan dengan kemampuan mandiri, berbudi dan terampil dalam kehidupan sehari-hari. Ketika seorang siswa, kelak sukses dalam menjalani kehidupannya, di situlah rasa haru dan gembira terasa.

Selasa, 18 November 2014

Belum Istirahat Minta Solat

MELAKSANAKAN solat zuhur di sekolah sudah merupakan kelaziman. Bagi sekolah yang jam belajarnya hingga pulang melebihi waktu solat zuhur, warga sekolah akan melaksanakan solat zuhur di sekolah. Alokasi waktu istirahat untuk melaksanakan solat biasanya lebih lama dari pada alokasi waktu istirahat biasa. Sekolah-sekolah yang menerapkan waktu istirahat dua kali sehari --kecuali Jumat-- maka istirahat kedua biasanya disediakan lebih lama dari pada istirahat pertama.

Memperhatikan waktu istirahat kedua yang biasanya disediakan 30 menit, sesungguhnya sudah cukup untuk melaksanakan solat ditambah waktu untuk makan/ minum pada siang itu. Tidak ada alasan siswa atau guru untuk tidak mempunyai waktu melaksanakan solat zuhur di sekolah. Alasan sebagian siswa yang tidak melaksanakan solat zuhur di sekolah karena merasa waktunya pendek, tentu saja tidak dapat diterima. Setiap sekolah sudah menghitung dan menyediakan waktu istirahat siang lebih lama untuk kesempatan melaksanakan solat.

Sayangnya ada indikasi beberapa siswa yang menyalahgunakan waktu solat zuhur untuk meninggalkan kelas lebih cepat dari pada waktu yang sudah ditentukan. Terutama karena waktu solat zuhur saat ini sudah masuk sebelum pukul 12.00 siang, maka dengan alasan untuk melaksanakan solat zuhur beberapa orang siswa meminta izin keluar lebih duluan meskipun bel istirahat belum berbunyi. Alasannya adalah untuk melaksanakan solat, ketika meminta izin keluar kepada guru yang mengajar di kelas.

Lebih jelek lagi, ada pula siswa yang meminta izin keluar 5-10 menit seblum waktu solat masuk. Lalu mereka membunyikan radio atau tape musola sekolah dengan bacaan alquran. Dengan suara mick yang cukup keras tentu saja suara itu akan mengganggu para siswa yang masih mengikuti proses pembelajaran di kelas. Waktu sepuluh menit seharusnya masih bisa dipergunakan untuk melanjutkan proses pembelajaran di ruang kelas.

Sesungguhnya motivasi siswa untuk melaksanakan solat lebih awal itu sangatlah baik. Solat di awal waktu itu tentu saja sangat dianjurkan oleh agama. Tapi jika motivasi siswa untuk permisi meninggalkan kelas hanya sekedar menghindarkan proses pembelajaran, maka tentu saja ini tidak baik. Apala jika ada siswa yang ternyata malah tidak solat sama sekali. Mereka mendahului keluar kelas, benar-benar hanya untuk menghindarkan proses pembelajaran yang sedang berlangsung. Sinyalemen ini pernah disampaikan guru di forum rapat. Artinya mereka minta istirahat sebelum waktu istirahata dengan alasan akan solat, itu hanya tipuan belaka. Na'uzubillah.

Senin, 17 November 2014

Guru, Bertahanlah dalam Semangat




TERKADANG semangat bisa hilang dan tenggelam. Dalam tugas tidak selalu ada semangat yang sesungguhnya diperlukan. Tidak pula selalu jelas mengapa semangat itu hilang. Yang terasa bahwa gairah untuk bekerja tidak setinggi sebelumnya.

Minggu, 16 November 2014

Bersahabat Banyak Manfaat

Persahabatan dalam Kepramukaan
SETIAP orang pati akan menemukan kendala, kesulitan atau apa saja namanya dalam kehidupan sehari-harinya. Tidak akan pernah semua rencana berjalan sesuai selera. Bagaikan perputaran roda yang sekali ke atas dan sekali ke bawah, maka begitu pulalah perjalanan kehidupan manusia.

Sabtu, 15 November 2014

Dari Raker MUI: Lampu Mati Buat Sedih

SELAMA dua hari, 14-15 November 2014 diselenggarakan Rapat Kerja Daerah (Rakerda) Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Kepri di Asrama Haji Tanjungpinang. Melihat jadwal di Buku Panduan Rakerda MUI Kepri, berarti kegiatan ini dipercepat karena pada Tata Tertib Rakerda tercantum tanggal 22 dan 23 November. Boleh jadi menyesuaikan dengan kesempatan dari para pihak yang akan terlibat. Biasanya menyesuaikan dengan  jadwal pejabat.

 Peserta raker terdiri dari 1) Utusan MUI Pusat, 2) Dewan Penasehat, pimpinan harian dan pleno MUI Kepri, 3) Pengurus Lembaga/ Badan MUI Kepri, 4) Pengurus (Ketua/ Sekretaris/ satu anggota) MUI Kabupaten/ Kota se-Kepri, 5) Para peninjau utusan pemerintah (provinsi/ kabupaten dan kota) se-Kepri serta utusan kemenag (provinsi/ kabupaten dan kota). Pada saat pembukaan, para peserta sudah tampak hadir.

Beberapa catatan dari raker ini menarik juga untuk dishare di halaman ini. Catatan pertama selalu masalah waktu yang molor ketika acara pembukaan. Sepertinya tradisi molor waktu ini sudah menjadi kebiasaan yang tidak bisa diubah lagi di negeri ini. Acara dengan level provinsi dan dihadiri oleh Kepri-1 langsung, ternyata molornya waktu ini sangat menyedihkan. Lama sekali. Bukan hanya 10-15 menit molornya tapi ratusan menit.

Hitunglah sendiri. Menurut panitia, acara pembukaan akan dimulai pukul 13.00 (selepas solat jumat), hari Jumat (14/11) itu. Karena kebanyakan peserta menginap di asrama haji dan jumatannya juga di masjid Al-Furqon Asrama Haji maka para peserta, setelah makan siang sudah mulai berdatangan ke ruang acara. Tentu saja kebanyakan peserta akan duduk di bagian belakang dulu. Akibatnya, kursi bagian depan tampak kosong melompong.

Bukan kursi kosong yang menarik. Justeru catatan menariknya adalah ketika acara pembukaan itu baru dimulai pada pukul 14.45 menit. Ayo, berapa menit molornya acara para ulama se-Kepri itu. Dan yang menyebabkan keterlambatannya memang karena Pak Gubernur yang datangnya baru pada jam itu. Benar-benar sangat terlambat datangnya. Bagaimana rakyat akan meneladani tradisi jelek ini.

Akibat keterlambatan memulai acara, menyebabkan ruang acara hampir kosong ditinggalkan peserta pada saat azan asar sekitar pukul tiga sore itu. Padahal saat itu, utusan MUI Pusat (Wakasekjend) tengah menyampaikan pidatonya. Dia harus berhenti berpidato selama azan dimasjid di halaman asrama itu berkumandang. Selepas azan dia melanjutkan pidato beberapa menit saja lagi. Mungkin dia sudah tidak bergairah lagi menyampaikan materi tentang Pembedayaan Ekonomi Umat itu.

Pidato salanjutnya adalah sambutan gubernur yang sekaligus akan membuka secara resmi rakerda ini. Sedih, ketika orang nomor satu itu berpidato, peserta yang tadi keluar solat, masih belum masuk ke ruangan acara. Maka pak gubernur berpidato di hadapan kursi yang lebih separohnya kosong melompong. Hukuman setimpal atas keterlambatannya? Hanya Allah yang Maha Tahu.

Tapi yang lebih menarik untuk dicatat adalah, ketika sesi malam (jadwal pukul 20.00 s.d. 23.00) harus batal total karena lampu mati di asrama haji yang cukup megah itu. Sebenaryna selama proses acara pembukaan, beberapa kali lampu mati. Katanya karena beban yang terlalu berat dan menyebabkan MCB meteran PLN itu jatuh keberatan.. Dan beberapa saat berikutnya, lampu bisa hidup lagi.

Dan lampu yang mati selepas magrib itu, benar-benar mati total. Saya melihat, di sekitar asrama memang tidak ada lagi tumah dan toko yang hidup lampunya kecuali yang menggunakan genset sendiri. Para peserta raker sebenarnya sudah bersiap-siap untuk mengikuti lanjutan raker yang sudah terjadwal dan sudah pula diumumkan panitia ketika menutup acara sesi sore.

Hingga sekitar pukul sepuluh malam, lampu baru menyala. Tapi para peserta   sudah tidak lagi berada di ruangan acara. Dan acara malam itu benar-benar batal dan gagal terlaksana. Panitia dan pihak asrama juga tidak menyediakan lampu alternatif untuk penerangan di ruangan. Sedih dan acara tidak dapat dilaksanakan. Gurauan peserta, terutama peserta dari Kota Tanjungpinang dan Bintan menyeletuk, "Inilah khasnya Tanjungpinang," kata mereka. "Kalau lampu tidak mati, itu bukan Tanjungpinang." Begitu mereka menyindir kotanya sendiri. Peserta lain hanya tersenyum geli.***

Rabu, 12 November 2014

Waktuku, Investasiku

Pengantar:
Artikel ini sudah pernah disiarkan di salah satu harian dan sudah pula menajdi salah satu tulisan dalam buku saya "Menjadi Guru Ideal Bukan Utopia" yang terbit di tahun 2013 lalu. Saya publish kembali di blog ini, jika ada yang berkenan membaca dan belum sempat membacanya sebelumnya. Terima kasih.

Senin, 10 November 2014

Makna Hari Pahlawan Bagi Siswa

MEMPERINGATI hari pahlawan tidak cukup sekedar apel, lalu mendengar amanat pembina tentang hebatnya pahlawan berjuang merebut dan mempertahankan kemerdekaan. Itu baru seremoninya. Berkumpul, disiapkan, hormat bendera lalu mendengarkan amanat pembina tentang kisah pahlawan. Itu sudah biasa. Di kantor Pemerintah atau di sekolah, itu pasti ada.

 Bagi generasi muda yang tengah belajar saat ini, makna pahlawan yang diperingati hari Senin (10/ 11) ini tadi sejatinya menjadi pengingat akan pentingnya menjadi pahlawan pembelajar. Jadilah manusia pintar dan cerdas dengan akhlak (karakter) yang baik dari ketekunan dan semangat belajarnya itu. Itulah sesungguhnya inti memperingati hari pahlawan yang setiap tahun jatuh pada 10 November.

Tanggal penting itu tentu saja akan mengingatkan betapa berani dan gigihnya para pejuang kemerdekaan Indonesia mempertahankan proklamasi yang baru empat bulan dikumandangkan oleh Sukarno- Hatta. Perang Surabaya antara tentara Indonesia melawan tentara Belanda itu adalah perang pertama pejuang Merah-Putih melawan tentara asing setelah kemerdekaan. Dan dunia tahu, ternyata tentara Indonesia sangat pemberani dan gigih sekali. Senjata modern mampu dihadang dengan bambu runcing. Itu memang sejarah emas pahlawan Indonesia.

Kejadian 10 November 1945 itu menjadi pancang abadi dan diperingati sebagai Hari Pahlawan Indonesia hingga hari ini. Di setiap tanggal itu pula di seluruh pelosok negeri diadakan apel bendera dan membacakan kembali sejarah perjuangan pahlawan bangsa. Tapi cukupkah begitu saja? Inilah saatnya generasi muda, para pelajar dan siswa Indonesia untuk merefleksi diri masaing-masing. Pertanyaan sederhanaya, sejauh mana sudah para generasi muda membuktikan kiepahlawanannya dalam posisinya sebagai siswa?

Sekolah dan belajar dengan baik, itu sudah langkah yang benar. Lalu mengembangkan potensi hebat yang pasti ada di setiap diri generasi muda, adalah langkah lanjutan sembari terus kreatif dan inovatif dalam setiap kesempatan apa saja. Hura-hura dan membuang masa di jalan raya, haruslah dijauhkan dari pikiran dan tindakan. Itu hanya akan merusak diri, keluarga dan tentu saja bangsa sendiri.

Apel memperingati Hari Pahlawan sebagaimana hari ini juga diadakan, bukan tidak penting. Mendengarkan amanat dari pembina upacara juga ada gunanya. Tapi akan jauh lebih bermakna jika para siswa yang mengikuti apel lebih mendalami makna hari pahlawan itu sebagai bekal semangat untuk memajukan bangsanya dengan cara menjadi siswa pembelajar, siswa cerdas dan pintar dengan karakter atau akhlak yang baik. Selamat memperingati hari pahlawan, semoga negara kita majum jaya dan rakyatnya sejahtera.***

Minggu, 09 November 2014

Memaksakan Keteladanan




MENURUT satu pendapat mengapa begitu susahnya menjalankan peraturan dan ketentuan oleh masyarakat di negerinya sendiri, konon disebabkan oleh minusnya keteladanan dari para tokoh (pemimpin) dalam menjalankan ketentuan dan peraturan itu. Berbagai pelanggaran yang setiap saat dapat disaksikan, asumsinya itu dikarenakan tidak adanya contoh kepatuhan pada peraturan oleh orang-orang yang seharusnya mencontohkannya. Esensinya, tiada keteladanan dalam penerapan peraturan. 

Selasa, 04 November 2014

Cermin di Waktu Subuh



Jika subuh berlalu seperti sebentar lagi
waktu itu tidak lagi akan pernah bisa bertemu
walau dimana mau dicari
tidak di sini, tidak di situ atau di mana-mana pun kita mau
kecuali Dia yang menjadi penentu
waktu itu pasti akan berlalu


Siang mendatang
matahari pun dah terang
lebih terang dari pada lampu dengan watnya beribu
sayang tiada apa yang akan dapat
bersama subuh yang sudah sangat jauh
waktu subuh tidak kan pernah menunggu

Kita pun tahu
waktu lainnya pun akan segera hilang berlalu
meskipun kita ingin menentang
tapi tiada akan mampu
inilah cermin waktu di waktu subuh
memberi petuah bagi insane yang ingin tahu

Mari mari mari isi hari ini
banyak kerja dan harapan menanti
menanti kita memberi bukti
 
Copyright © 2016 koncopelangkin.com Shared By by NARNO, S.KOM 081372242221.