BREAKING NEWS

Minggu, 28 September 2014

Berita Menyesak Dada

INI benar-benar tidak menyenangkan. Sekali lagi harus saya luahkan perasaan saya ini. Berita televisi, koran dan berita online dua hari (Jumat- Sabtu, 26-27/ 9) ini benar-benar serasa memekakkan telinga, serasa memedihkan mata dan menyesakkan dada. Tidak enak didengar dan dibaca oleh siapa saja.

Jumat, 26 September 2014

Ingin Jadi Pemimpin, Rela Luangkan Waktu

Pemasangan Tanda Peserta
SESI pertama, setelah pembukaan secara resmi Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK) Pengurus OSIS (Organisasi Siswa Intra Sekolah) SMA Negeri 3 Karimun masa bakti 2014-2015, sore (Kamis, 25/ 09) tadi adalah Manajemen Kepemimpinan. Kebetulan materi ini oleh panitia diminta kepada saya untuk memberikannya maka selepas pembukaan resmi oleh Kepala Sekolah juga, dan istirahat sejenak langsung saja materi itu saya sampaikan. Insyaallah acara akan berlangsung selama tiga hari, hingga Sabtu nanti.

Kamis, 25 September 2014

Guru Ditakuti, Guru (Tak) Dihormati



Suasana Kelas

KETIKA peserta didik (siswa) tampak lebih takut dari pada hormat kepada gurunya, itu sesungguhnya sudah terjadi penyalahgunaan  wewenang oleh guru kepada peserta didiknya. Cara seperti itu bukanlah pendidikan yang baik buat siswa. Rasa takut pada hakikatnya adalah perasaan keterpaksaan diakibatkan penempatan pelaksanaan peraturan yang keliru oleh guru. Kurikulum baru, 2013 yang saat ini sedang diimplementasikan di seluruh Indonesia, tidak menginginkan model seperti itu.

Rabu, 24 September 2014

Tulis Saja Apa yang Terjadi

Pengauatn Kasek
SELAMA beberapa hari mengikuti kegiatan Penguatan Kepala Sekolah (SMP, SMA dan SMK) di Hotel Alisan, ternyata tidak hanya materi penguatan yang disampaikan oleh Pak Tri Harsono Ujianto dan Pak Narta dari Solo itu saja yang didapatkan. Materi yang lebih banyak bersinggungan langsung dengan tugas dan fungsi Kepala Sekolah itu memang sangat terasa dan menyadarkan para pengelola sekolah akan kewajibannya.


Tapi dari beberapa obrolan di luar diskusi materi penguatan, seorang teman sempat membicarakan perihal kebiasaan menulis di kalangan Kepala Sekolah khususnya, di kalangan guru pada umumnya. Saya memang selalu merespon dengan antusias jika ada rekan guru yang berbicara tentang tradisi menulis ini. Saya tahu kalau tingkat dan kemampuan menulis para guru sangatlah rendah. Bukan hanya di Karimun malah secara nasional juga sangat memprihatinkan kemauan dan kemampuan menulis plus membaca para guru.

Kepada Kepala Sekolah yang sudah lama bergolongan IV/a (Guru Pembina) itu sengaja saya tunjukkan beberapa tulisan saya yang ada di blog pribadi. Saya tahu, kebanyakan para guru, khususnya Kepala Sekolah yang ada di daerah ini, rata-rata sudah bergolongan IV/a dalam waktu yang sudah cukup lama. Bahkan ada guru atau Kepala Sekolah yang sudah naik pangkat sejak 17 tahun silam. Saya sendiri tenggelam di golongan itu selama 16 tahun. Sungguh tidak mengenakkan.

Penyebab dari macetnya kenaikan pangkat tersebut disebabkan oleh kemampuan menulis guru yang sangat rendah. Padahal menurut ketentuan, seorang guru tidak dapat mengajukan kenaikan pangkatnya jika tidak bisa membuat karya tulis sebagai bentuk pengembangan profesi. Diperlukan 12 point untuk kenaikan pangkat dari golongan IV/a ke IV/b. Ini berdasarkan ketentuan lama yang saat ini sudah diubah dengan Permeneg PAN-RB No 16/ 2009 yang kewajiban menulis itu malah sudah diwajibkan sejak dari golongan III/b ke III/c.

Oleh karena itulah, rekan Kepala Sekolah yang bertugas di Pulau Kundur ini cukup bersemangat juga ketika saya membicarakan perihal pentingnya menulis di sela-sela diskusi kegiatan Penguatan Kasek itu. Ketika saya menunjukkan hasil tulisan saya yang sudah ratusan judul di blog ini, dia spontan memuji. "Bapak memang rajin menulis," katanya. "Saya nak membuat judul saja kadang sulit," tambahnya. Saya sebenarnya malu dipuji begitu. Apalagi jika diingat begitu terlambatnya saya naik pangkat ke IV/b tersebab karya tulis. Ah, itu tidak masalah. Memberi semangat kepada rekan-rekan seperjuangan itu perlu, kata saya dalam hati.

Spontan saya mengatakan bahwa jika benar-benar ingin serius belajar dan melaksanakan kegiatan tulis-menulis, maka tulis sajalah apa yang sudah dialami. Ini awal pertama yang dapat dilakukan. Jika ada pengalaman, tulislah pengalaman itu. Terserah saja, mau ditulis di buku (manual) atau mau ditulis di PC atau laptop juga bisa. Malah lebih bagus jika mau menulis di laptop secara online yang bisa langsung dibaca orang pada waktu yang sama. Ada banyak blog sosial yang bisa kita manfaatkan untuk menayangkan karya tulis kita. Tulisan kita bisa dinikmati pembaca lainnya.

Bagaimanapun, budaya menulis yang masih sangat rendah di kalangan guru ini memang perlu juga menjadi perhatian Kepala Sekolah. Dan saya selalu mengingatkan rekan-rekan Kepala Sekolah untuk terus-menerus memotivasi para guru untuk menulis. Sekali lagi, tulislah apa yang terjadi di sekitar kita. Pengalaman pribadi, malah lebih mudah untuk mengulangnya dalam bentuk tulisan. Semoga!

Selasa, 23 September 2014

Catatan dari Penguatan Kasek Karimun

SEJAK Senin (22/ 09) hingga Kamis (25/ 09) lusa, bertempat di Hotel Alisan, Karimun berlangsung kegiatan Penguatan Kinerja Kepala Sekolah (SMP. SMA dan SMK) se-Kabupaten Karimun. Diikuti oleh 72 orang pimpinan sekolah se-Kabupaten Berazam ini, kegiatan ini dilaksanakan oleh Dinas Pendidikan Kabupaten Karimun sebagai salah satu program strategisnya.

Minggu, 21 September 2014

Bisakah Semua Guru Tepat Waktu


SEBAGAI Kepala Sekolah, salah satu obsesinya adalah disiplin sekolah berjalan dengan baik. Salah satu disiplin sekolah yang diharapkan berjalan dengan baik adalah disiplin waktu. Seluruh warga sekolah diharapkan datang dan pulang sesuai waktu yang sudah ditetapkan. Masuk belajar dan mengajar, tepat waktu. Istirahat dan masuk kembali, tepat waktu. Bubar dan kembali ke rumah juga tepat waktu.


Namun obsesi ini ternyata tidaklah mudah untuk mewujudkannya. Selalu ada alasan oleh beberapa orang yang belum juga mampu memikul dan menerapkan disiplin waktu itu pada dirinya. Terkadang tidak datang dan terkadang terlambat datang. Terkadang duluan pulang dan terkadang melalaikan tugas dan tanggung jawab.

Kepala Sekolah tidaklah berlebihan berharap, untuk penerapan disiplin waktu ini dapat dimulai dari guru untuk selanjutnya ke siswa. Guru diharapkan menjadi pelopor dan teladan bagi warga sekolah untuk pelaksanaan disiplin waktu. Jika guru sudah mampu menerapkan disiplin waktu dan sudah bisa pula menjadi teladan warga sekolah, khususnya bagi siswa maka program disiplin waktu itu akan dapat dilaksanakan dengan baik.

Menjadi persoalan, ternyata di banyak sekolah, harapan agar guru patuh dan mampu melaksanakan disiplin waktu, ternyata baru sebatas harapan. Masih ditemukan beberapa orang guru yang belum juga mampu menerapkan disiplin waktu dalam menjalankan tugas dan tanggung jawabnya di sekolah. Jujur saya akui, saya masih mencatat beberapa orang guru yang selalu saja mempunyai alasan untuk terlambat datang ke sekolah.

Setelah beberapa menit bel masuk dibunyikan, ternyata masih satu-dua orang bahkan lebih guru yang belum sampai di sekolah. Ada juga guru yang sebenarnya sudah hadir sebelum bel waktu masuk dibunyikan, akan tetapi tidak pula bisa langsung masuk ke kelas ketika bel masuk dibunyikan. Selalu ada alasan dan pekerjaan sambilan yang menghalanginya masuk kelas tepat waktu.

Jika saja semua guru mampu datang tepat waktu dan masuk ke kelas atau ke ruang pembelajaran tepat waktu juga, sungguh akan bangganya sekolah. Bahkan masyarakat pun akan memberikan apresiasi khusus kepada sekolah jika guru mampu membuktikannya. Percayalah, disiplin waktu yang diterapkan oleh guru dalam fungsi dan tanggung jawabnya, pasti akan diikuti pula oleh para peserta didik lainnya. Tapi bisakah?***

Keinginan Semu dari Guru

Pertemuan MGMP
DALAM setiap pertemuan sesama guru, seingat saya selalu ada perbincangan harapan berkaitan dengan jabatan. Maksud saya, jabatan guru. Sebagai abdi penyandang jabatan fungsional, para guru selalu tidak alpa berbicara tentang harapan kenaikan kesejahteraan, misalnya dalam setiap ada pertemuan sesama guru. Dan peningkatan kesejahteraan, selalu pula berkaitan dengan kenaikan pangkat dan jabatannya.

Jumat, 19 September 2014

Konco Pelangkin

Dari Google.com

PERNAH mendengar kosa kata konco dan pelangkin? Mungkin jarang sekali. Dua kata itu memang tidak lazim dipakai dalam percakapan sehari-hari. Tapi itu benar-benar ada dalam bahasa kita, bahasa Indonesia yang baku. Setidak-tidaknya terdapat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) sebagai kamus rujukan utama dalam bahasa kita, Bahasa Indonesia.

Rabu, 17 September 2014

Sikap adalah Martabat: Pesan Buat Siswa

MTQ juga pendidikan sikap
SETELAH Kurikulum 2013 (K13) dilaksanakan, perhatian lebih besar kepada sikap (karakter) peserta didik di sekolah ditingkatkan. Jika sebelumnya penilaian sikap hanya menjadi bagian kecil dari penilaian untuk kriteria keberhasilan peserta didik, maka di K13 porsinya diperbesar. Tiga aspek penilaian yang menjadi acuan berhasil-tidaknya siswa, selain pengetahuan (kognitif) dan keterampilan (psychomotorik) juga sikap (afektif).

Guru dalam mengelola pembelajaran, selain kompetensi yang berkaitan dengan pengetahuan dan keterampilan, kompetensi yang berkaitan dengan sikap juga diperhatikan. Keberhasilan siswa tidak lagi diukur hanya dari pengetahuan saja. Bahkan juga tidak sekadar pengetahuan dan keterampilan saja tapi juga sikap siswa tersebut. Sikap menjadi salah satu aspek penilaian untuk keberhasilan siswa.

Penilaian sikap, sesungguhnya tidak hanya untuk kepentingan penilaian sebagai bukti keberhasilan pembelajaran di sekolah saja. Sesungguhnya penilaian sikap atau karakter atau akhlak/ budi pekerti adalah ukuran dan bukti harga diri dan martabat dari seseorang (siswa) itu sendiri. Sebagai manusia yang memiliki harga diri dan martabat, sesungguhnya ukuran harga diri itu terletak dari sikap itu sendiri. Seorang siswa yang diharapkan kelak menjadi orang terhormat, mestilah belajar menghormati dirinya sedari sekarang.

Untuk itu, para guru akan selalu mengingatkan bahwa penilaian sikap yang dilakukan di sekolah tidak sekadar penilaian untuk keperluan nilai pengisi buku rapor (laporan pendidikan) belaka. Lebih utama dari penilaian sikap yang dikaitkan dengan proses pembelajaran itu adalah untuk menjadikan peserta didik memiliki sikap yang baik dan bermartabat. Tindak-tanduk keseharian dalam kehidupan itulah yang akan menentukan bagaimana sebenarnya harga diri dan martabat seorang siswa. Guru sebagai orang yang diberi tanggung jawab dalam membina dan mengembangkan sikap siswa, dituntut untuk menunaikan tugas berat ini dengan penuh tanggung jawab dan ikhlas. Insyaallah harga diri dan martabat peserta didik akan terbina dengan baik. Semoga!***


Jumat, 12 September 2014

Meluruskan Motivasi Lomba: Pesan ke Siswa

Siswa dalam Satu Lomba
KEBIASAAN memberi uang pembinaan oleh panitia dalam suatu lomba yang melibatkan anak sekolah sedikit banyak telah mengubah motivasi siswa dalam mengikuti lomba tersebut. Dalam lomba atau pertandingan antar pelajar yang mewakili sekolah, misalnya, tidak jarang panitia lomba memberikan uang, selain penghargaan berupa piagam dan atau piala. Dan pemberian uang ini, belakangan telah mengubah cara pandang siswa dalam keikutsertaannya tersebut.

Sesungguhnya keikutsertaan peserta didik dalam sebuah even-even tertentu yang melibatkan sekolah adalah sebagai perwakilan sekolah itu sendiri. Dia ikut dalam lomba atau pertandingan apa saja, adalah atas keputusan sekolah. Bukan karena keputusan siswa semata. Dan keikutsertaan itu merupakan sebuah kepercayaan sekolah kepadanya atas kelebihan keterampilan yang dimilikinya. Sekolahlah yang menentukan sebagai sebuah kepercayaan dan kehormatan.

Ketika seorang siswa dipercaya oleh sekolah mewakili sekolahnya dalam ajang pertandingan atau lomba maka sebenarnya keberadaan siswa tersebut dalam lomba atau pertandingan itu merupakan sebagai penghormatan atas kelebihan dan prestasi yang dimiliki. Dalam lomba baca puisi, misalnya, sekolah mungkin hanya mengirimkan satu atau dua orang sesuai ketentuan lomba yang ditentukan panitia. Dalam pertandingan sepakbola, bola volly, takrau atau apa saja, pastilah sekolah hanya akan mengirimkan jumlah siswa sebanyak yang diminta panitia saja. Dan itu artinya sebuah kehomrtan bagi mereka.

Sikap yang harus dimiliki oleh siswa sebagai duta sekolah adalah bagaimana dia memperjuangkan nama baik sekolah itu di ajang klomba nantinya. Dia tidak perlu berpikir, berapa honor atau gaji yang akan diberi sekolah kepadanya atas keikutsertaannya dalam lomba itu. Sudah dipercaya saja oleh sekolahnya, itu sudah cukup sebagai sebuah penghormatan. Dan sekolah biasanya akan memenuhi berbagai kebutuhan yang diperlukan dalam lomba itu. Dalam lomba gerak jalan, misalnya, sekolah biasanya akan menyediakan seragam (kostum) yang akan dipakai. Makan-minum dan kebutuhan perobatan lainnya juga akan disiapkan sekolah.

Nah, ketika siswa berhasil dalam lomba itu, dan panitia memberikan semacam piagam atau penghargaan atas keberhasilan itu, maka siswa harus melaporkan atau menyerahkannya kepada sekolah yang mengutusnya. Sebagai perwakilan negara, misalnya, kemenangan dalam lomba antar negara itu akan menjadi kebanggaan yang tidak ternilai berbanding materi dari hasil kemenangan itu. Jangan sampai sikap siswa menjadi salah hanya gara-gara keberhasilan dalam lomba. Bagaimanapun, kita bertanding adalah atas nama sekolah atau institusi tempat kita berada.

Beberapa sikap yang ternyata pernah dimiliki siswa tersebab adanya hadiah hasil lomba adalah menganggap hadiah atau penghargaan itu adalah milik pribadinya. Di sinilah kesalahan motivasi yang dimiliki beberapa gelintir siswa. Sikap ini wajib untuk diluruskan. Iangat, siswa bertanding bukanlah sebagai seorang pemain profesional yang digaji oleh klub atau lembaga yang mengutusnya. Jika seorang profesional, itu jelas bahwa hadiah yang diterima ketika bertanding adalah hadiah yang memang menjadi milik pribadinya.

Meluruskan motivasi lomba atau bertanding bagi siswa tentu saja tidak hanya kewajiban pihak tertentu saja. Guru, Kepala Sekolah, Wali Kelas atau siapa saja di sekolah berkewajiban meluruskan sikap dan motivasi ini. Tapi orang tua dan atau masyarakat juga mesti ikut meluruskannya. Sebagai siswa yang dipercaya sekolah, maka motivasi lomba yang utama adalah bagaimana mengharumkan nama sekolah. Tapi di sisi lain, sekolah pun berkewajiban memperhatikan berbagai kebutuhan yang diperlukan dalam rangka menyukseskan lomba tersebut.***

Rabu, 10 September 2014

Tiga Tahun Hanya Lima Puluh

Kadis Jadi Pembina Upacara
JIKA dalam masa tiga tahun benar-benar efektif belajarnya maka tidak ada yang harus dikhawatirkan. Ingat, tiga tahun itu ada enam semester. Di setiap semester, selalu ada evaluasi untuk mengukur ketercapaian materi pelajaran. Jika masih gagal, biasanya diulang atau diremedi lagi hingga benar-benar mengerti. Lalu mengapa harus khawatir?

Begitulah kurang lebih sari amanah Pak Madi (dia disapa begitu, sehari-hari) dalam pidato Amanat Pembina beberapa waktu lalu. Dia ingin meyakinkan seluruh peserta didik yang berdiri khidmat di hadapannya untuk tidak perlu takut dalam menghadapi ujian, khususnya Ujian Nasional (UN). Dia mengingatkan kalau UN memang tidak sekadar keperluan peserta didik tapi juga terkandung keperluan intitusi seperti Dinas Pendidikan bahkan daerah.

Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Karimun, MS Sudarmadi, ketika memberi amanat pada upacara bendera Senin Pagi di SMA Negeri 3 Karimun, Senin (08/ 09/ 14) lalu mengingatkan tentang perlunya kesiapan para siswa dan guru dalam menghadapi Ujian Nasional yang sering dianggap menakutkan. "Mengapa harus takut dan khawatir?" Tanyanya dalam pidato amanatnya di pagi yang cukup cerah itu. Pak Madi, hari itu diundang --sesuai jadwal pembina upacara yang sudah disusun sekolah-- untuk menjadi pembina upacara. Dia datang dengan didampingi Pak Bakri Hasyim (Sekretaris Dinas Pendidikan) dan Pak Rahmad (Ka. UPTD Kec. Meral-Tebing).

Secara khusus Pak Kadis (Kepala Dinas) memberi motivasi kepada siswa untuk benar-benar siap menghadapi UN yang setiap akan selalu ada. Dia menjelaskan bahwa UN yang katanya sangat menakutkan itu sebenarnya tidak perlu menakutkan siswa. Apa yang harus menakutkan? Soal-soal yang dimunculkan dalam UN sudah pasti berasal dari materi pelajaran yang sudah dipelajari. Tidak mungkin soalnya lari dari materi pelajaran, katanya memberi penegasan.

Oleh karena itu, jangan pernah khawatir dengan soal-soal itu. Walaupun setiap siswa mempunyai soal yang berbeda dengan teman-teman lainnya, itu juga tidak harus membuat takut. Kuncinya hanyalah belajar dengan serius. "Ingat, selama tiga tahun kalian belajar, tapi soal yang dikeluarkan hanya sebanyak lima puluh saja. Tidak mungkin tidak bisa menjawabnya," katanya kembali menegaskan. Dia mengingatkan untuk meyakinkan diri masing-masing bahwa para siswa akan mampu menghadapinya. Yakinlah, kalian akan berhasil. Begitulah dia memberi semangat.

Selasa, 09 September 2014

Catatan dari Pelepasan JCH Dinas Pendidikan

Sambutan Kadis
BERTEMPAT di aula SD Negeri 001 Tanjungbalai Karimun, Selasa (09/ 09/ 14) pagi dilangsungkan acara Pelepasan Keberangkatan Jamaah Calon Haji (JCH) di lingkungan Dinas Pendidikan Kabupaten Karimun yang dihadiri oleh para Kepala Sekolah --SD, SLTP, SLTA-- se-Pulau Karimun. Acara, seperti biasa setiap tahun diadakan, dilaksanakan oleh Kantor Dinas Pendidikan Kabupaten Karimun. Atas nama bupati, hadir Wakil Bupati Karimun, H. Aunur Rafiq yang melepas secara resmi.

Acara pelepasan keberangakatan JCH merupakan acara seremoni yang setiap tahun diadakan oleh Kantor Dinas Pendidikan Kabupaten. Semua calon haji yang berada di lingkungan Dinas Pendidikan (guru, tenaga administrasi dan pegawai kantor di Dinas Pendidikan) se-Kabupaten Karimun diundang untuk mengikuti acara ini. Pimpinan Daerah biasanya di diminta melepas secara resmi. Hari ini, karena bupati beralangan, yang datang adalah Wakil Bupati.

Acara dimulai tepat pukul 09.30 walaupun di undangan ditulis pada pukul 09.00 dengan melaksanakana acara 'adat' Tepuk Tepung Tawar. Sebanyak 16 orang JCH yang dapat hadir, diberi tepuk tepung tawar yang dimulai dari Kepala Dinas Pendidikan, MS. Sudarmadi. Sebanyak tujuh orang memberikan tepuk tepung tawar. Wakil yang agak terlambat datang, tidak ikut memberi tepuk tepung tawar.

Selepas acara adat ini, baru dilaksanakan acara inti, pelepasan dimaksud. Diawali dengan pembacaan ayat-ayat suci alquran oleh M. Syafullah, acara dilanjutkan dengan sambutan dari Kepala Dinas dan pengarahan oleh Wakil Bupati Karimun. Sebagai pemuncak acara seremoni ini adalah tausiah agama oleh Ketua MUI Karimun, H. Azhar Hasyim yang dilengkapi dengan doa.

Kepala Dinas Pendidikan dalam sambutannya mengingatkan para JCH untuk menjaga kesehatan dengan baik selama di Tanah Suci. "Kesehatan kita akan sangat mempengaruhi kesempurnaan ibadah haji kita," kata Pak Madi dalam sambutannya. Selain masalah kesehatan, dia juga mengingatkan untuk saling membantu selama menunaikan ibadah haji. Jangan pelit menoloong orang lain, katanya.

Sementara itu, Pak Wabup berpesan agar JCH menjaga nama baik daerah. Doakan juga daerah dan bangsa kita ini agar terus aman dan nyaman kehidupan masyarakatnya. "Kita ke Tanah Suci, tidak semata menunaikan kewajiban haji kita tapi juga membawa dan mepromosikan Tanah Air dan daerah kita," jelasnya. Oleh karena itu dia berharap agar para jamaah benar-benar khusyuk dan hanya memikirkan ibadah saja. Insyaallah kita akan selamat dan sukses dalam ibadah nanti, katanya.

Pak Azhar Hasyim dalam ceramah tausiahnya lebih menekankan kepada tata cara dan mansik haji yang sudah dipelajari sebelum berangkat. Sudah sekian kali mengikuti manasik haji, semoga ilmu itu dapatb diterapkan di sana nanti. Selain niat yang benar, usaha yang baik dengan kesabaran yang tinggi, maka faktor ilmu ini sangatlah penting. Begitu Ketua Majelis Ulama Indonesia Karimun itu berpesan. Dia juga banyak bercerita tentang pengalamannya beberapa kali menunaikan ibadah haji sebagai petugas haji. Di akhir tausiah, dia menutup dengan doa.***

Jumat, 05 September 2014

Sayang Salah Letak

INI pengalaman siswa yang mengaku dan bercerita kepada saya. Menarik, tapi sebenarnya tidak baik. Ini pengalaman yang tidak unik tapi menarik. Harus menjadi perhatian para guru dan peringatan bagi siswa. Ada maksud 'sayang' di dalamnya namun salah meletakkannya.

Syahdan, bertanyalah saya kepada para siswa dalam satu kelas pada suatu pagi. Di hari yang lain juga sudah pernah saya melakukannya di kelas yang lain. Saat itu saya memberi motivasi kepada mereka sebagai pengisi waktu karena guru pada jam itu belum ada. Saya memotivasi mereka bagaimana memeprsiapkan diri menghadapi era persaingan yang sangat keras sekarang dan di waktu-waktu mendatang.

Ketika saya menyebut tentang perlunya kejujuran dan semangat bekerja keras sebagai salah satau modal karakter, saya mencoba bertanya apakah mereka mau jujur jika ditanya sesuatu. Mereka menjawab, akan jujur. Lalu saya bertanya, perihal isu dan berita 'mulut ke mulut' yang menyebutkan bahwa Ujian Nasional (UN) di sekolah-sekolah selalu ada kecurangannya. Kecurangan itu terjadi karena ada guru yang sengaja memberikan kunci jawaban pada saat peserta UN mengikuti UN. Dengan polos mereka mengatakan kejadian yang sebenarnya. Mereka mengaku saja dengan jujur.

Saya mencoba meminta mereka mengangkat tangan, kalau merasa tidak pernah mendapat jawaban yang sengaja diedarkan pada saat mengikuti UN dulu. Saya menanyakan itu kaena mereka masih kelas 10 dan pasti masih teringat kejadian itu. Ternyata tidak ada yang berani mengangkat tangan. Ini kejadian dalam dua kelas yang pernah saya masuk. Tapi dalam satu kelas lainnya, ada dua siswa yang mengatakan kalau dia tidak merasa mendapat jawaban dari siapapun ketika mengikuti UN. Lalu saya tanya, dari mana SMP atau MTs yang bersangkutan. Mereka pun menjelaskan asal sekolahnya. Saya berani menyimpulkan bahwa di banyak sekolah ternyata isu kecurangan UN itu bukanlah isapan jempol belaka. Itu benar-benar terjadi.

Lalu saya mencoba mendiskusikan, mengapa itu terjadi. Ternyata, anak-anak itu dengan polos pula menjelaskan bahwa kejadian itu sebenarnya hanyalah karena sayangnya guru kepada siswanya. Itu pun penjelasan guru yang mereka dengar di sekolahnya. Guru begitu sayangnya kepada para siswanya sehingga dalam ujian yang sangat rahasia, mereka berani menunjukkan jawabannya. Dan itu adalah karena rasa sayang Bapak dan Ibu guru itu. Begitu para siswa itu menjawab sesuai dengan apa yang mereka dengar selama ini.

Lalu saya berpikir, apakah benar para guru meletakkan rasa sayangnya kepada murid-muridnya itu? Haruskah mencurangi ujian yang begitu rahasia dengan alasan rasa sayang? Saya berani mengatakan kalau sayang seperti ini tidaklah pada tempatnya. Ini benar-benar sebuah kesalahan. Dan sayang yang dibuktikan dengan membocorkan UN jelas itu sayang yang salah letak. Sudah saatnya kejadian jelek ini menjadi perhatian pihak sekolah (guru dan Kepala Sekolah) serta harus pula menjadi peringatan bagi para siswa. Jika mereka terus diajar dengan karakter curang ini, maka kecurangan jualah yang akan mereka lakukan kelak di kemudian hari. Nauzubillah!***

Rabu, 03 September 2014

Catatan Kecil dari Pertemuan MGMP Bahasa

Pertemuan MGMP Bahasa
HARI Rabu (03/ 09) ini diadakan pertemuan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Bahasa di SMA Negeri 3 Karimun. MGMP Bahsa Indonesia dan Bahasa Inggeris para pendidik di SMA/ MA se-Kabupaten Karimun (minus Pulau Kundur dan sekitarnya) itu merupakan pertemuan rutin bulanan sesuai jadwal yang sudah ditetapkan sebelumnya.


Banyak materi yang dibicarakan pada pertemuan kali ini. Dua materi penting yang dibicarakan adalah masalah penyusunan RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) untuk Mata P:elajaran Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggeris versi Kurikulum 2013 yang baru saja diterapkan di Kabupaten Berazam ini. Selain itu juga dibicarakan masalah penilaian pembelajaran yang di Kurikulum 2013 juga berbeda dengan kurikulum sebelkumnya. Baik penyusunan RPP maupun masalah penilaian, keduanya berkaitan dengan implementasi Kurikulum 2013 yang bagi para guru masih sesuatu yang baru.

Tapi buat saya ada catatan penting yang ingin saya sampaikan di halaman ini selain catatan pertemuan itu sendiri. Walaupun materi catatan ini tidaklah penting namun saya pandang ini sangatlah penting juga untuk disiarkan. Jadi, selain dua materi yang dibicarakan itu, saya kebetulan berkesempatan pula membicarkan ini dengan dua orang teman yang kebetulan satu jurusan: Bahasa Indonesia. Kedua guru ini mempunyai keinginan yang sama dengan saya: mengembangkan dan terampil menulis.

Yang saya maksud adalah, ketika saya dan dua orang teman itu terlibat pembicaraan yang sangst serius perihal satu hal di luar maateri MGMP itu sendiri. Materi pembicaraan kami itu adalah tentang keinginan dua orang teman ini untukm memiliki blog pribadi. Sebagai guru yang selalu mendorong rekan-rekan guru lain untuk membangun dan mengembangkan budaya literasi, saya menyambut keinginan dan pembicaraan itu.

Kata salah seorang rekan itu, dia minta saya membantu mengajarkan membuat blog pribadi. Saya menyanggupi sebatas kemampuan saya yang sebenarnya sangat sederhana. Saya memang memiliki blog pribadi selama ini untuk tempat saya berkeasi di bidang tulis-menulis. Lalu saya tunjukkan alamat blog poribadi saya itu. Kebetulan pula dia membawa modem yang memungkinkan untuk berselncar di internet.

Dua alamat blog saya di www.mrasyidnur.blogspot.com dan www.mrasyidnur.wordpress.com saya buka saat itu. Dia dapat melihat blog saya itu. Tapi saya jelaskan kalau blog saya itu sangatlah sederhana. Saya memang belum bisa membuat blog yang bagus dan hebat.

Ketika saya mencoba membuka situs blogger.com yang saya tahu menyediakan blog gratis, ternyata modem teman ini tidak mampu membukanya. Mungkin signal waktu itu tidak terlalu kuat. Tapi saya tetap memberikan beberapa penjelasan bagaimana membuka website itu. Saya juga jelaskan bagaimana nanti membukanya dan mendaftarkan diri (register) untuk membuat blog pribadi. Saya sarankan untuk menyiapkan dulu nama blog yang akan didaftarkan.

Rekan ini benar-benar serius ingin memiliki blog pribadi. Saya yakin dia akan melakukannya nanti di rumah atau di sekolah tempat dia mengabdi. Kemauannya yang sangat kuat itu pasti akan menjadi modal yang sangat bagus pula untuk mewujudkan keinginannya. Catatan kecil ini semoga dapat menjadi motivasi juga bagi rean-rekan lain. Semoga!***

Senin, 01 September 2014

Catatan LGJ-45: Gugur tapi Jujur


Salah satu regu peserta LGJ-45 beberapa tahun lalu
DALAM lomba gerak jalan 45 km yang dilaksanakan malam Ahad (30/ 08) lalu, selain regu putra juga ada regu putrid yang mengikuti. Sesuatu yang mengagumkan, tentunya. Ada regu putri yang selama ini dipandang lemah ternyata juga ikut berlomba dalam gerak jalan yang begitu berat. Jarak 45 km (45.000 m) tentu saja sangat berat bagi wanita seusia mereka. Apalagi mereka hanyalah siswi sekolah yang belum terbiasa berjalan begitu jauh.



SMA Negeri 3 Karimun mengirimkan satu regu. Beberapa regu lain adalah dari sekolah lain dan dari beberapa organisasi lainnya. Saya tentu bangga, anak-anak sekolah tempat saya bertugas ikut serta dalam lomba tahunan bersempena peringatan HUT Kemerdekaan RI itu. Saya tidak menduga, selain dua regu putra juga ada satu regu putrid yang mengikuti.

Ketika mereka latihan di sekolah, saya sempat bertanya, apakah mereka benar-benar merasa kuat untuk ikut lomba gerak jalan yang berat itu. Mereka menjawab dengan tegas bahwa mereka sanggup. Saya lalu memberi arahan agar mengikuti lomba ini dengan baik dan sportif. Bahkan secara khusus saya memberi penekanan pada penggantian peserta gerak jalan yang sudah menjadi kebiasaan jelek di Karimun ini. Saya selalu mempersoalkan kebijakan penggantian peserta ini. Menurut saya, seharusnya mereka tidak boleh mengganti peserta. Jika tidak mampu, ya tidak usah memaksakan untuk meneruskan. Hanya saja karena panitia membolehkan pertukaran peserta, maka penggantian itu selalu ada.

Malah lebih celaka, bukan hanya penmggantian resmi yang ditetapkan panitia yang terjadi. Ada juga penggantian tak resmi alias illegal oleh peserta. Guru dan pembina atau peserta dengan sengaja mengadakan penggantian peserta ketika panitia/ juri tidak melihatnya. Penggantian ilegal ini biasanya dilakukan di tempat-tempat gelap dan juri dianggap tidak melihatnya. Inilah kecurangan yang saya anggap tidak mendidik anak-anak muda itu. Padahal tujuan diadakannya Lomba Gerak Jalan (LGJ) 45 ini adalah untuk menanamkan nilai-nilai perjuangan dan semangat 45 itu sendiri. Semangat 45 adalah jargon nilai perjuangan yang dikaitkan dengan perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia.

Itulah sebabnya, saya memberi penekanan pada kejujuran ini. Saya mencabar anak-anak saya di SMA Negeri 3 Karimun untuk tidak berganti peserta dalam LGJ kali ini. Saya tahu kalau kebiasaan mengganti peserta ini memang sudah lumrah dan dianggap biasa saja. Tapi saya ingin yang jujur dan sesuai dengan semangat perjuangan itu sendiri. Apakah mampu? Jika pun tidak sanggup, berjalanlah yang sangggup saja. Itulah yang saya tekankan kepada merreka beberapa hari sebelum LGJ berlangsung.

Ternyata mereka menyanggupinya ketika saya tanya pada kesempatan latihan itu. Mereka berjanji akan berlomba secara jujur. Tidak aka nada penggantian peserta jika di tengah perjalanan ada peserta yang merasa tidak mampu melanjutkannya. Dan ketika regu putriitu  benar-benar tidak mampu melanjutkan perjalanan secara utuh setelah hampir saparoh jalan, akhirnya mereka  benar-benar tidak melanjutkannya. Mereka tidak mau menggantinya dengan peserta lain. Biarlah tidak melanjutkan dari pada berbohong. Demikian mereka berperinsip. Walaupun semula mereka tetap ingin meneruskannya dengan 9 orang peserta saja, tapi akhirnya mereka memutuskan untuk tidak meneruskan LGJ-45 yang mereka ikuti.

Saya benar-benar terharu mendengar pengakuan mereka yang saya dengan dari salah seorang guru itu. Saya bangga karena mereka telah melaksanakan sikap jujur yang saya minta sebelum mereka berlaga di jalan raya. Saya katakan dalam hati, "Walau kalian gugur, tapi kalian telah berlaku jujur, anak-anakku." Saya tidak kecewa mereka tidak sanggup sampai ke garis finish. Biarlah mereka mencoba berlomba dengan kemampuan mereka. Dan ketika kemampuan itu memang terbatas, mereka harus belajar untuk menerimanya. Semoga kelak mereka akan terus bersemangat berjuang dan juga mau menerima hasil perjuangan mereka dengan jujur dan ikhlas. Semoga!***
 
Copyright © 2016 koncopelangkin.com Shared By by NARNO, S.KOM 081372242221.