BREAKING NEWS

Kamis, 31 Juli 2014

Sungai Kampar itu Masih Jernih (3)

MALAM ini, saya dan isteri akan bermalam (menginap) di rumah adik saya, Syamsiar. Setelah berbuka tadi dan mandi selepas magrib, baru terasa segarnya badan ini. Makan malam bersama --Syamsiar dan anak-anaknya, Syamsidah (adik saya yang lainnya) dan anak-anaknya, Khairul Amri dan seorang anaknya-- terasa enak sekali. Menu lauk pantau (sejenis ikan sungai) yang dimasak asam pedas, sungguh terasa enak. Menu lauk dan sayur (krabu) yang disiapkan Syamsiar malam ini mengingatkan saya masa-masa kecil dulu. Inilah kebiasaan masakan tradisi di rumah orang tua saya.

Sambil istirahat selepas makan malam, kami berbicara berbagai hal. Dari saling bertanya tentang kabar dan kesehatan sampai kepada hal-hal ringan lainnya. Kami belum berbicara masalah-masalah yang berat dan penting lainnya. Sebenarnya memang ada yang akan kami bicarakan malam ini seperti sudah saya sampaikan lewat telpon sebelum sampai di kampung.

Tidak lama kami mengobrol itu. Pukul 19.20 itu kami bersiap-siap mau ke masjid. Ternyata selama Ramadhan ini tidak lagi ada solat Isya dan tarwih di surau Binuang yang berjarak hanya 20 meter dari rumah tua, rumah peninggalan orang tua itu. Menurut adik saya, disepakati bahwa untuk tarwih tahun ini dipusatkan di masjid saja. Jadi, surau Binuang dan surau Kobuo Botiang yang selama ini juga menyelenggarakan solat Isya dan tarwih selama Ramadhan, sudah tidak lagi melaksanakannya.

Sebelum selesai azan Isya saya dan Khairul Amri sudah sampai di masjid yang berjarak kurang lebih 400-an meter dari rumah itu. Setelah azan tentu saja melaksanakan solat sunah qobla Isya dan selanjutnya solat Isya. Dan yang mengejutkan saya malam ini, oleh beberapa orang jamaah meminta saya menjadi imam solat tarwih. Saya tidak menduga karena untuk solat Isyanya sudah diimami oleh imam setempat. Biasanya, jika pun saya diminta menjadi imam, akan diberitahukan sebelum solat Isya. Ketika solat sudah berlangsung, saya mengira bahwa imam itu akan meneruskan memimpin solat tarwihnya.

Tentu saja saya tidak akan menolak menjadi imam. Saya ingat, setiap saya berkesempatan pulang kampung, saya memang selalu ditawarkan untuk menjadi imam solat berjamaah di masjid atau di surau di kampung itu. Sebagai mantan guru mengaji di kampung, dulunya, saya tentu tidak mungkin menolak tawaran seperti itu. Dan malam ini, walaupun jumlah rakaat solatnya 23 (20 tarwih plus 3 witir) saya tetap tidak akan menolak. Di masjid Ubudiyah, dekat tempat tinggal saya di Meral Karimun memang hanya 8 rakaat saja. Tapi saya sendiri sudah terbiasa melaksanakan solat tarwih 20 rakaat itu.

Kurang lebih satu jam pelaksanaan solat Isya dan tarwih plus tausiah singkat oleh salah seorang siswa di kampung itu, jamaah pun bubar. Ada yang melanjutkan tadarus di masjid itu dan lebih banyak yang kembali pulang ke rumah. Saya sendiri kembali ke rumah dengan naik motor bersama Khairul Amri.

Sampai di rumah, kembali kami minum-minum alakadarnya sambil mengobrol. Kesempatan ini, sesuai rencana kami --anak-beranak-- memang akan membicarakan persoalan emas peninggalan orang tua (ibu) saya yang selama ini kami kelola dengan tujuan dimanfaatkan bersama. Emas itu merupakan peninggalan Ibu saya yang ternyata ketika berpulang ke rahmatullah beberapa waktu lalu itu, dia meninggalkan perhiasan emas sebanyak 12 emas. Dan kami sepakat emas itu tidak akan dijual tapi akan kami kelola (pinjam-pakai) oleh siapa saja di antara kami yang memerlukannya.

Eams itu dapat dipinjam oleh kami (anak dan cucunya) untuk keperluan masing-masing dengan kesepakatan harus tetap dikembalikan dalam jangka waktu tertentu. Jika mampu, dikembalikan dengan kelebihan seberapa mampu. Dan kini, emas yang awalnya hanya 12 emas itu kini sudah menjadi 17 emas selama berbreapa tahun dipinjam secara bergiliran. Emas itulah yang kami diskusikan kembali tata cara peminjamannya.

Selain membicrakan persoalan emas warisan itu saya juga menyempatkan memberi nasihat kepada seluruh anak-anak kemenakan dan adik-adik yang hadir. Secara khusus kembali saya mengingatkan kesepakatan dalam keluarga besar ini bahwa yang berkecukupan wajib membantu keluarga yang berkehidupan sederhana. Bantuan secara khusus untuk pendidikan minimal sampai tingkat SLTA tetap dijalankan. Misi ini sudah dijalankan sejak saya menjadi pegawai negeri. Saya adalah satu-satunya waktu itu yang menjadi pegawai negeri. Sejak itu pula keluarga besar kami sepakat untuk saling membantu dalam hal pendidikan.

Pembicaraan malam ini memakan waktu lumayan lama. Anak Syamsiar, anak Syamsidah dan Syamsiah semuanya berkumpul di rumah itu. Mnejelang tengah malam itu, mereka tetap serius mendengarkan nasihat saya. Saya dan Khairul yang saling mengisi nasihat, mengingatkan betapa pentingnya pendidikan dalam keluarga. Hanya dengan pendidikanlah kita akan mampu menjalani kehidupanm dengan baik. Tepat pukul 24.35 barulah kami istirahat untuk tidur. Saya teringat, besok saya akan mandi ke sungai yang tidak jauh di belakjang rumah sana. Sore tadi memang belum jadi berkesempatan mandi di sungai karena kemalam sampai di kampung. (bersmabung)

Bisakah Prabowo dan Jokowi (Merasa) Bersatu (lagi)?

JIKA membaca aneka statemen dan komentar yang mengikutinya, 'kompetisi' Pilpres yang menampilkan hanya dua kandidat --Prabowo dan Jokowi-- pada 9 Juli 2014 lalu seperti akan berujung pada permusuhan 'berjangka lama' antara keduanya. Meskipun nuansa 'permusuhan' itu lebih banyak disebabkan oleh mulut-mulut usil orang-orang di sekitar keduanya, namun kita membaca di media massa serasa Prabowo dan Jokowi tidak lagi akan bisa didamaikan. Berita-berita dan komentar pra Pilpres itu bagaikan berita menjelang laga Muhammad Ali kontra Joe Frazier 1975 lalu.

Belum tentu juga Prabowo memusuhi Jokowi atau sebaliknya. Tapi komentar para pendukung dan atau tim pemenangan keduanya, cukup memerahkan telinga orang luar. Yang berdiri netral di antara kedua kubu merasakan betapa seolah-olah mantan Danjen Kopassus itu akan melabrak Wako Solo itu. Jokowi sendiri dengan gaya lembutnya juga dikonotasikan oleh para pendukungnya seolah-olah akan menjauhi Prabowo.
Riak dan legu-legah tafsir permusuhan Prabowo dengan Jokowi juga dikait-kaitkan dengan karakter Megawati, sang arsitek majunya Jokowi menjadi capres. Selama ini masyarakat memang mengimejkan Mega sebagai tokoh pendendam. Mungkin saja penafsiran ini dikarenakan putusnya hubungan Megawati yang mantan presiden dengan SBY yang mantan pembantunya karena Mega yang tidak mau. Tidak tersambungnya hubungan itu juga dianggap masyarakat karena Mega yang keras dan tidak mau menyambungkan kembali tali komunikasi yang terputus itu.

Ketika aneka kampanye hitam ditumbuhsuburkan kedua kubu terhadap lawan kompetisi Pilpresnya menjelang Pilpres lalu, tensi permusuhan kedua capres seolah-olah sampai ke level yang sangat membahayakan. Menangisnya Mega ketika menggelar konfresnsi pers menyambut pengumuman kemenangan Jokowi-Jk versi quick kount 9 Juli lalu juga diartikan sebagai pelampiasan emosi tingkat tinggi terhadap kesuksesan pengajuan nama Jokowi oleh PDIP. Lewat air mata emosional itu juga seolah terkirimkan pesan bahwa kubu Jokowi akan menunjukkan kehebatannya. Dan tensi permusuhan dengan Prabowo tidak akan mudah reda begitu saja.

Kini Ramadhan sudah berlalu dan Syawal sudah tiba. Hari fitri yang mengandung makna kembalinya muslim ke asal kesuciannya ketika lahir ke bumi tidak pantas untuk dinodai lagi. Bulan mulia pelembut amarah itu telah menempa umat muslim tanpa perbedaan warna kulit, suku, ras atau asal-usul daerah sebulan penuh. Hanya takwa sajalah yang akan membuat muslim berbeda di hadapan Tuhan. Prabowo dan Jokowi yang notabene adalah muslim tentu memahami faedah keberadaan bulan puasa. Tapi apakah keduanya akan merasa bersatu lagi seperti jauh hari sebelum keduanya dicalonkan partai untuk menjadi calon presiden 2014-2019? Inilah pertanyaan kita sebagai masyarakat biasa.

Ketika keduanya masih saling berebut simpati baik sebelum maupun selama masa kampanye, boleh saja masyarakat saling berbeda pilihan dan pandangan. Bahkan tidak mustahil, di level akar rumput juga muncul permusuhan karena mempertahankan pilihan calon presiden. Itu semua sudah dilewati. Saat ini, sambil menanti hasil gugatan pihak Prabowo di MK, masyarakat sudah dapat menerima hasil Pilpres yang diumumkan oleh KPU itu. Jikapun nanti MK membuat keputusan yang berbeda dengan KPU karena memandang ada fakta yang dapat mengubah keputusan itu, masyarakat pun akan mampu menerimanya. Permusuhan tidak perlu lagi.

Maka tidak berlebihan masyarkat berharap kiranya Prabowo- Jokowi dapat bersatu demi bangsa dan rakyat bangsanya. Salah satu pihak boleh saja tidak menjadi pemegang tampuk pemerintahan namun menguburkan permusuhan adalah keharusan. Jika permusuhan tetap dipertahankan, tentu saja bangsa dan rakyat yang akan menjadi korban. Dan persatuan yang kita harapkan tentu saja tidak hanya sebagai pemanis bibir belaka. Persatuan itu wajib menjadi bagian dari perasaan masing-masing kubu. Perasaan bersatu dengan pemikiran yang cerdas itulah yang akan membuat bangsa dan rakyat Indonesia akan maju pesat dan mandiri serta akan dihargai oleh bangsa lain. Semoga!*** 

Rabu, 30 Juli 2014

Sungai Kampar itu Masih Jernih (2)

SEKITAR pukul 13.00 (Sabtu) itu saya dan isteri sudah istirahat di rumah Kak Syamsinar (almh) itu. Opy, anak saya yang paling bungsu yang kebetulan ikut bersama saya dan isteri juga istirahat di rumah itu. Bersama Rahmat dia ngobrol di ruang tengah sementara saya dan isteri istirahat di ruang depan. Sebelumnya kami melaksanakan sholat zubur karena mobil kami tidak berhenti (istirahat)di perjalanan dari Butun tadi.

Sekitar pukul 15.00, sesuai janji dengan Khairul Amri kami bersiap-siap menuju kampung halaman. Khairul Amri --wartawan Riau Pos, Pekanbaru-- itu adalah ponakan saya, anak kandung Kak Syamsinar yang dulu sekolah (MTs) tinggal bersama di Tanjungbatu. Dia menjemput kami ke Jalan Pangeran Hidayat dengan mobil avanza miliknya. Kami berharap nanti akan mandi sore (menjelang berbuaka puasa) di Sungai Kampar yang jernih itu. Sudah terbayang oleh saya sejuknya air sungai yang mengalir deras di belakang rumah orang tua saya.

Sayangnya, karena dari Pangeran Hidayat kami harus terlebih ke rumah Syamsiah (adik saya yang paling bungsu) untuk menjemputnya ikut bersama ke kampung, dan dari rumahnya yang cukup jauh itu kembali lagi ke rumah Khairul Amri untuk menjemput anaknya Fia yang juga mau ikut ke kampung, akhirnya jadwal berangkat kami agak tertunda. Solat Asar harus kami tunaikan di rumah Syamsiah karena waktu sudah beberapa menit yang lalu masuknya waktu itu. Padahal tadinya berpikir akan melaksanakan solat di kampung saja.

Lewat pukul lima sore baru kami akhirnya berangkat meninggalkan kediaman Khairul Amri untuk menuju Kampung Kabun alias Limau Manis. Menurut perkiraan saya, jarak ke kampung sana akan dapat ditempuh dalam waktu 40-an menit. Artinya masih ada sisa waktu kurang lebih setengah jam menjelang berbuka di kampung halaman. Ternyata perkiraan saya itu meleset. Saya tidak tahu bahwa kemacetan di jalan itu tidak hanya khas kota-kota besar (termasuk Pekanbaru yang saya saksikan tadi siang)  tapi juga di jalan raya Pekanbaru- Bangkinang yang dulu sangat lengang. Begitu macetnya jalan itu sampai-sampai Khairul ketik menyetir mobilnya haris sedikit menyenggol sebuah mobil lain pada saat akan memotong mobil tersebut. Kami agak khawtir juga dengan kejadian itu.

Akhirnya beberapa menit menjelang berbuka puasa baru kami sampai di Binuang, Kabun, Airtiris yang kini sudah bernama Desa Limau Manis Kecamatan Kampar itu. Kami sama sekali tidak sempat lagi mandi apa lagi pergi ke sungai menjelang berbuka itu. Berarti dari pagi (bahkan dari malamnya) saya dan isteri belum mandi hari itu. Niat kami ingin mandi di jernihnya air sungai sore itu tidak kesampaian. Tidak lama, sirene pertanda waktu berbuka sudah masuk, sudah berbunyi. Kami semua berbuka di rumah Syamsiar, adik saya yang satu lagi. Syamsiar adalah anak ketiga dari kami lima bersaudara. Suasana gerah karena masih berkeringat dan baju yang sudah tidak nyaman lagi, tidak menghalangi kami berbuka puasa sore itu. (bersambung)

Kamis, 24 Juli 2014

Sungai Kampar itu Masih Jernih (1)

HARI Jumat (18/ 07) sepekan lalu saya berkesempatan pulang kampung ke Desa Limau Manis, Kecamatan Kampar. Desa Limanis dulu bernama Kampung Kabun, Desa Airtiris dengan kecamatan yang sama. Tapi setelah beberapa kali pemekaran daerah selama reformasi ini, desa Kampung Kabun Airtirs (yang tertulis dalam ijazah SD saya) itu sudah berganti nama dengan Desa Limau Manis. Termasuk pula kedalam Desa Limau Manis adalah Kampung Pulau Pandak.
Ah, nama itu mungkin tidak terlalu penting didiskusikan. Yang pasti, tanah 'tumpah darah' kelahiran saya itu memang tidak lagi persis seperti dua puluh atau tiga puluh tahun lalu. Ketika saya masih kecil, saat saya masih bermastautin di sini (sejak lahir hingga 1975) saya ingat kampung Kabun masih banyak padi ditanam masyarakat. Lalu berubah tanamannya menjadi limau manis. Tapi pelan dan pasti tanah garapan itu berubah menjadi onggokan batu, berubah menjadi rumah-rumah penduduk.

Walapun tanah pertanian kian berkurang, namun air sungainya tetaplah jernih. Airnya mengalir deras dari hulu ke hilir. Batu-batunya berwarna hitam dengan ukuran sekepalan tangan dan juga dengan ukuran yang lebih kecil. Batu-batu ini menjadi salah satu mata pencaharian masyarakat selain ikan di dalamnya. Jernihnya air sungan Kampar yang mengalir tidak jauh dari rumah orang tua saya, itulah khas dan keindahan yang selalu dirindukan dari Karimun, tempat saya bermastautin saat ini. Dan menjelang akhir Ramadhan 1435 ini saya berkesempatan kembali pulang kampung, melihat dan mandi di sungai di belakang rumah almarhum/ mah orang tua. Sabtu sore itu, saya dan isteri sampai kembali di rumah tua kedua orang tua yang sudah tidak berpenghuni lagi.

Perjalanan saya isteri dari Tanjungbalai Karimun adalah menaiki kapal roro. Jumat malam itu kapal berangkat agak lambat karena menunggu penumpang kapal roro dari Tanjungpinang. Pukul 22.00 baru kapal bergerak. Dan besoknya, sekitar pukul 08.30 kapal itu sudah merapat di pelabuhan Mangkapan Butun, Siak. Dengan naik trevel (angkutan darat) kami bersama para penumpang lainnya bergerak menuju Pekanbaru. Saya dan isteri sebelum meneruskan ke Limau Manis itu, singgah terlebih dahulu di Jalan Pangeran Hidayat Pekanbaru, rumah almarhumah kakak saya, Syamsinar. Rumah itu sekarang dihuni oleh dua anaknya, Si Ab dan Ramhat. (bersambung)

Rabu, 16 Juli 2014

Catatan dari MOS dan Pesantren Kilat: Jujurlah, Anakku

Pemasangan Nama Peserta MOS
KETIKA memberi amanat pada upacara Senin Pagi (tanpa pengibaran bendera merah-putih) dalam acara pembukaan MOS (Masa Orientasi Siswa) yang disejalankan dengan pembukaan Pesantren Kilat SMA Negeri 3 Karimun, saya kembali mengingatkan para siswa untuk benar-benar menunjukkan sikap yang jujur. MOS yang kebetulan disejalankan dengan kegiatan peseantren kilat (bagi siswa kelas XI- XII) sejatinya menjadi MOS yang bernuansa agama.

Ternyata nuasa agama itu tidak tergambar. Harapan akan kejujuran anak-anak karena berkaitan dengan suasana Ramadhan, ternyata tidak juga terwujud harapan itu. Jika yang tidak memperlihatkan kejujuran itu adalah kelas XI dan atau kelas XII sedikit dapat juga dimaklumi. Namanya juga siswa yang sudah memahami sekolahnya. Tapi jika kelas X yang baru saja mendaftar? Hah, inilah yang menyedihkan.

Alkisah, Senin (14/ 07) lalu itu adalah hari pertama masuk sekolah di awal Tahun Pelejaran baru, 2014/ 2015. Menjelang puasa lalu kebetulan adalah libur semester genap, kenaikan kelas. Kebetulan awal tahun baru ini bertepatan dengan puasa Ramadhan. Siswa kelas X yang baru saja selesai proses pendaftaran, seperti biasa harus mengikuti MOS. Sementara kelas XI dan XII tentu saja akan mengikuti kegiatan pesantren kelat.

Catatan jelek yang saya lihat adalah masih adanya beberapa siswa yang ternyata belum juga masuk sekolah walaupun sudah hari kedua. Catatan Senin dan Selasa dari panitia MOS dan Pesantren Kilat, ternyata masih terdapat beberapa siswa yang tidak/ belum masuk. Saya minta agar data absensi itu dicari tahu, apa penyebabnya. Untuk siswa kelas XI dan XII tentu saja mereka harus mendaftar ulang sebagaimna tahun-tahun lalu. Nah, ternyata sampai hari kedua, masih ada beberapa yang belum datang melapor ke sekolah. Tapi ini dapat dimaklumi menurut saya.

Yang justeru membuat saya terkejut adalah calon siswa peserta MOS yang juga ada beberapa orang yang tidak atau belum hadir dalam dua hari kegiatan MOS itu. Dan ketika panitia mencoba mencari informasi ke keluarganya, justeru ada keluarga (orang tua) yang mengatakan kalau anaknya sudah ke sekolah. Dalam dua hari, katanya anaknya berangkat dari rumah untuk ke sekolah. Tapi anehnya, di sekolah tidak ada. Inilah yang saya maksud anak-anak ini tidak bisa jujur. Tentu saja ini sangat jelek. Di rumah mengaku ke sekolah. Tapi di sekolah tidak ada.

Pesan saya pada pengarahan 'pembukaan' Senin lalu itu ternyata hanya bagaikan angin lalu saja. Saya berpesan, "Buktikanlah, anakku kalau kalian adalah siswa yang jujur dan bertanggung jawab." Begitu pesan saya waktu itu. Tapi ternyata itu sia-sia saja. Hari ini MOS sudah ditutup untuk program selama Ramadhan. Dan akan disambung nanti di luar Ramadhan dalam bentuk kegiatan lapangan seperti Baris-Berbaris dan Program Kepramukaan. Tapi untuk tahap pertama ini sudah ditutup siang tadi. Ternyatra, kejujuran itu memang sulit sekali untuk membuktikannya.***

Minggu, 13 Juli 2014

Semangat Shaf 'Panas Tahi Ayam'

Salah Satu Masjid di Meral
ISTILAH panas, panas tahi ayam adalah ungkapan kepada keadaan yang kehebatannya hanya sebentar saja. Tidak bertahan lama. Ungkapan ini dimaksudkan untuk menyebut sesuatu yang tidak baik karena tidak konsisten meskipun di awalnya seolah-olah baik.


Semangat shaf 'panas tahi ayam' yang saya pakai sebagai titel tulisan ini maksudnya adalah keadaan bersemangatnya jumlah shaf ketika solat berjamaah namun hanya bertahan beberapa sat saja. Dan solat berjamaah yang saya maksud lebih sepesifik kepada solat tarwih yang pada hari-hari ini sudah memasuki separoh dari bulan Ramadhan 1435 itu. Di separoh bulan inilah tiba-tiba hati saya mendesah risau, mengapa belum separoh jumlah jamaah tarwihnya sudah jauh berkurang?

Saya ingat dua pekan lalu, ketika malam-malam awal digelarnya solat tarwih di musolla atau masjid, betapa ramai dan penuhnya musolla atau masjid. Baik masjid di tempat saya tinggal maupun masjid-masjid yang kebetulan saya kunjungi karena mendapat giliran bertausiah sesuai jadwal. Hampir semua musola atau masjid, waktu itu penuh-sesak oleh umat untuk berjamaah tarwih. Sangat membanggakan dan mengharukan. Setahun lalu di awal-awal Ramadhan masyarakat memenuhi musolla atau masjid, dan baru setahun berikutnya lagi masjid atau musolla itu terasa kecil dan sempit waktu itu. Rasanya senang sekali melihat penuh-sesaknya tempat-tempat solat berjamaah.

Para penceramah yang silih berganti datang tentu saja sangat bangga dan mengapresiasi jamaah yang membludak hingga ke teras atau kaki lima masjid atau musolla. Kita saling membanggakan dan saling memberi semangat atas begitu penbuhnya masjid atau musolla. Shaf-shaf yang di hari-hari biasa hanya terisi di barisan pertama, kini hingga tiada lagi ruang kosong. Umat berjubel di dalam masjid.

Tapi ternyata itu hanya bertahan satu pekan. Hari-hari berikutnya pelan dan pasti jumlah jamaah kian surut. Beberapa masjid yang saya kunjungi ternyata sama dengan masjid di sekita rumah saya. Shaf belakang yang kemarin dipenuhi jamaah, kini sudah mulai lowong. Dan pada malam-malam menjelang dua pekan ini, ternyata jumlah jamaah terus berkurang. Itulah sebabnya catatan ini meluncur di hadapan Anda, pembaca.

Saya heran, mengapa berkah dan maghfirah Ramadhan yang dijanjikan Allah tidak cukup memotivasi jamaah untuk terus bertahan. Hanya satu bulan Ramadhan ini. Satu bulan saja. Mengapa tidak sabar? Ah, mungkin setiap individu memiliki cara pandang yang berbeda-beda. Pahala dan ampunan dosa yang dijanjikan bolehg jadi tidak cukup menarik. Jangan-jangan, kemarin-kemarin itu hanya karena ikut-ikutan saja, entahlah.

Tapi sejatinya, di luar pahala dan ampunan dosa yang dijanjikan Allah, jamaah dapat memanfaatkan sholat berjamaah di bgulan puasa ini untuk lebgih menimngkatkan silaturrahim sesama muslim. Bukankah kata Allah bahwa orang-orang mukmin itu adalah bersaudara? Dan kesempatan mempererat tali persaudaraan seharusnya adalah dalam bulan yang mulia ini. Tapi mengapa shaf terus berkurang? Memang benarlah ungkapan di atas bahwa ramainya jamaah di awal Ramadhan hanya sekadar panas panas tahi ayam. Hanya panas ketika saat keluar saja. Setelah itu sudah langsung sejuk. Haruskah kenyataan ini dibiarkan terus?***

Selasa, 08 Juli 2014

Pengalaman Spektakuler Mengikuti Diklat Online

TERHITUNG sejak tanggal 29 Juni lalu saya mengikuti pelatihan yang bertitel 'Diklat Online Guru Melek IT' hingga hari ini. Masih sisa dua hari lagi sesuai jadwal. Diklat ini akan berakhir pada 10 Juli lusa. Ada dua belas hari waktu yang diberikan untuk mengikutinya. Saya sendiri adalah angkatan ketiga. Dua angkatan sebelumnya dilaksanakan sejak awal Juni lalu. Masing-masing angkatan sama mendapatkan alokasi waktu, 12 hari.



Di angkatan pertama ada seorang teman yang membuat tulisan dengan menggunakan kata 'dahsyat' sebagai ungkapan perasaan bangga dan puasanya setelah mengikuti diklat yang difasilitasi oleh Pak Sukani ini.Tulisan yang ditulis Bu Etna itu dan dipublish di blog guru ini mendapat tanggapan dan pengunjung yang luar biasa. Bukan saja karena isinya yang menarik tapi juga cara dia menguraikan pengalamannya itu yang juga memiliki daya tarik tersendiri.

Saya sudah menjalani diklat ini hingga hari kesepuluh. Jujur saja, saya benar-benar memperoleh pengalaman hebat. Saya tidak segan menyebutnya sebagai pengalaman spektakuler. Bukan karena saya merasa sukses dalam mengikutinya tapi justeru betapa beratnya tantangan dan perjuangan yang saya rasakan. Sebagai orang yang merasa dirinya berkategori 'gaptek' IT, lalu memberanikan diri mengikuti pelatihan penggunaan IT yang begitu dahsyat laju kemajuannya, saya sebenarnya tidak cukup modal awal untuk mengikutinya. Tapi saya tetap mencobanya.

Ada target lain, selain untuk usaha menambah pengetahuan dan pengalaman di bidang IT ini. Secara pribadi (guru) saya sungguh sangat membutuhkan pengalaman dan pengetahuan dalam pembelajaran diklat ini. Tapi sebagai guru yang dituakan di sebuah sekolah, saya justeru merasa jauh lebih penting untuk mengikuti pelatihan ini. Guru-guru di sekitar saya dan guru-guru muda yang begitu potensi untuk berkembang, saya harapkan termotivasi dengan keikutsertaan saya ini. Target ini justeru sangat penting menurut saya.

Usia yang sudah mendekati pensiun sebagai PNS memang tidak membuat saya surut untuk belajar. Apalagi jika perinsip 'belajar-mengajar sepanjang hayat' akan diamalkan, maka sesungguhnya tidak ada kata 'akhir' dalam menimba ilmu. Apapun caranya, menuntut ilmu memang tidak boleh dihentikan oleh usia yang tua. Berkali-kali Bu Etna memberi motivasi untuk masalah ini. Dan saya sangat setuju sekaligus berharap rekan-rekan guru-guru muda jauh lebih bersemangat.

Pengalaman selama sepuluh hari ini, saya benar-benar merasa keteteran mengikutinya. Selain karena memang lumayan padat tugas dan kegiatan sekolah dan kemasyarakatan dalam waktu bersamaan, tapi yang membuat saya begitu tertantang oleh kegiatan ini adalah karena modal awal yang kurang saya miliki itu tadi. Akibatnya, saya lebih banyak bertanya kepada sesama rekan peserta pelatihan dan juga kepada fasilitator sendiri, Pak Sukani. Bahkan saya beberapa kali SMS dan telpon langsung ke Pak Sukani untuk bertanya hal-hal yang saya kurang pahami. Saya tidak segan untuk menyatakan kekurangan dan kelemahan saya itu.

Harus saya akui, fasilitas dan atau sofware seperti e-learning.edu20, ispiring, snapshot, camtasia studio, digibook dan banyak lagi, adalah nama-nama yang sama sekali baru dalam keseharian saya. Sofware yang bagi guru di tempat lain sudah lazim dipergunakan untuk mendukung pembelajaran, tapi jujur saja, di diklat online inilah saya mengenalnya. Itulah spektakulernya pengalaman ini menurut saya. Terlepas dari belum maksimalnya kemampuan saya menyerap pengetahuan dan pengalaman diklat ini, tapi buat saya ini tetaplah sebagai sesuatu yang sangat penting. Semoga kelak saya mampu terus mengembangkannya nanti pasca diklat ini.***
 
Copyright © 2016 koncopelangkin.com Shared By by NARNO, S.KOM 081372242221.