BREAKING NEWS

Minggu, 29 Juni 2014

Tegang dan Menang: Brazil 4, Chile 3



BABAK 16 besar Piala Dunia Brazil 2014 sudah dimulai. Sabtu (28/ 06) ini laga perdananya adalah partai antara tuan rumah Brazil sebagai juara grup A yang bentrok dengan Chile sebagai posisi kedua grup B. Kick off yang dimulai tepat pukul 23.00 WIB tentu saja ditunggu oleh seluruh penggemar si kulit bundar sejagat raya.

Prediksi partai awal ini akan panas dan keras, benar-benar terjadi. Kedua kesebelasan langsung menggebrak ke garis pertahan lawan masing-masing. Di awal babak pertama ini kedua kesebelasan benar-benar memberikan tontonan yang merangsang. Kedua penggemar dan pendukung kesebelasan pasti sangat deg-degan menyaksikan Naymar dan kawan-kawan di satu kubu dan Alexi Sanchez dan kawan-kawan di kubu seberang yang saling adu pacu menggiring bola.

Beberapa peluang mulai terbuka tapi sampai sepuluh menit awal belum satupun gol tercipta. Gol baru lahir ketika pada menit ke-17 Brazil mendapat jatah tendangan sudut. Naymar mengirim bola terukur ke lapangan tengah gawang Chile. Bola disambut Hulk yang meluncur ke sudut kiri tiang gawang Claudio Bravo dan disambut David Luiz untuk diceploskan ke dalam gawang, 1-0 untuk tuan rumah, Brazil.

Kemasukan satu gol membuat para pemain Chile bagaikan tersengat lebah tawon. Sanchez dan penyerang lainnya menambah daya gedor. Brazil yang sedikit mengendorkan tekanan justeru memberi keuntungan buat anak-anak Chile. Bola tampak lebih lama di kaki para pemain tamu.  Dan dari satu kesalahan pemain belakang Brazil, Sanchez mendapat bola tidak jauh dari mulut gawang Julio Cesar. Dengan cerdik pemain Barselona itu menyodorkan bola datar ke arah kanan kiper Brazil. Cesar tidak mampu menjangkau bola dan mengoyak jalanya, 1-1 pada menit ke-32 itu.

Brazil kembali bangkit.  Tekanan kembali diberikan ke kubu Chile. Pada menit ke-38 Naymar hampir saja membuat Brazil kembali unggul. Sundulannya ke kiri gawang Chile terhalang oleh salah seorang pemain belakang. Dan hanya menghasilkan tendangan penjuru. Pada menit ke-42 Dani Alves juga memberikan ancaman. Tendangan kerasnya berhasil ditepis oleh Bravo. Gol tidak tercipta lagi hingga babak pertama usai.
Di babak kedua Brazil kembali berinisiatif menyerang. Sebaliknya Chile juga tetap melayani permainan terbuka tuan rumah. Pada menit ke-54 Brazil berhasil mengoyak jala gawang chili lewat kaki kiri Hulk. Tapi wasit tidak mengakui gol itu. Hulk dianggap terlebih dahulu menyentuh bola dengan tangan sebelum mengoyak jala gawang Bravo. Bahkan penyerang Brazil itu dihadiahi kartu kuning oleh wasit. Stand tidak berubah.

Laga dua negara Amerika Latin ini benar-benar menegangkan. Menit per menit kedua kubu saling beradu taktik dan teknik. Kecuali penjaga gawang, sepuluh pemain dari kedua kesebelasan benar-benar sibuk dan bergerak terus meperebutkan si kulit bundar. Penonton dibuat tegang menanti gol datang. Hingga menit 70 keadaan belum juga berubah dengan Brazil masih tetap menghendalikan permainan.

Pada menit ke-74 Brazil sekali lagi mendapat kesempatan mengubah skor. Hulk yang menggiring bola dari rusuk kanan Chile berhasil melambungkan bola ke tengah area pertahanan Chile. Jo yang sebanrnya sudah bebas gagal meneruskan bola itu ke mulut gawang. Padahal dia sudah berhadapan mulut gawang yang menganga lebar.

Peluang tuan rumah lahir dari kepala Naymar pada menit 80. Tapi bola tepat mengarah ke penjaga gawang Chile. Begitu pula menit 83 yang hampir saja mengubah keadaan. Tendangan kencang penyerang dari kanan lapangan Chile masih berhasil ditepis penjaga gawang. Walaupun sekali-sekali Chile tetap memberikan perlawanan namun Brazil tetap lebih menguasai bola. Beberapa pemain pengganti masuk dari masing-masing kesebelasan. Tapi gol belum juga tercipta hingga menit ke-87. Tiga menit lagi waktu normal akan berakhir.
Betul, sampai berakhir babak kedua, gol tidak juga tercipta. Gol harus dicari pada waktu tambahan. Dan ketika fluit kembali ditiup pertanda babak tambahan dimulai, Brazil kembali berinisiatif. Di dua menit pertama Hulk sudah merangsek naik dari rusuk kanan lawan. Langkahnya dihentikan oleh dua orang bek kanan Chile yang menyebabkan tendangan bebas. Naymar mengambilnya tapi hanya menghasilkan tendangan sudut.
Lima belas menit tambahan waktu di babak pertama Brazil terus menekan. Beberapa kali gawang Chile terancam oleh Naymar dan kawan-kawan. Tapi tetap buntu dengan kecemerlangan penjaga gawang tamu itu. Permaian berlanjut ke babak kedua waktu tambahan.  Di babak kedua ini William masuk menggantikan Oscar. Tampak Brazil memerlukan penyerang yang masih fresh.

Menit pertama babak kedua ini Brazil langsung mendapat sepakan penjuru. Naymar mengirim bola ke tengah. Sayangnya sundulan salah seorang penyerang Brazil terlalu tinggi. Pertahanan Chile masih kokoh. Bahkan karena salah seorang pemain bertahan cedera, Chile menggantinya dengan yang lebih segar. Kelihatannya Chile akan memaksa adu pinalti.

Ketegangan kembali terjadi pada menit-menit akhir waktu tambahan. Tendangan kencang penyerang Chile hampir saja mengoyak jala gawang Cesar tapi bola itu membentur tiang atas gawang. Brazil pun mendapatkan kesempatan untuk memcah kebuntuan namun gol tidak tercipta. Akhirnya pemenangnya harus ditentukan dengan adu pinalti. Pada drama adu pinalti pun ketegangan terus berlangsung mengingat beberapa penendang tidak berhasil menjebol gawang yang jarangnya hanya 11 meter saja. Skor terakhir 4-2 untuk kemenangan  Brazil  setelah tendangan Chile juga gagal karena membentur tiang. Brazil berhak maju ke babak perempat final setelah imbang 1-1 selama 120 menit. Tegang, tegang dan yang menang adalah Brazil untuk maju ke babak berikutnya.***

Jumat, 27 Juni 2014

Tunjangan Profesi dan Absensi Guru

Pembelajaran di salah satu kelas
DINAS Pendidikan mengirimkan semacam edaran (permintaan) ke sekolah-sekolah, agar para guru penerima tunjangan proifesi yang ada di sekolah untuk melaporkan bukti kehadirannya dalam melaksanakan tugas pembelajaran. Para Kepala Sekolah diingatkan untuk membuat laporan guru tersebut sebagai persyaratan pembayaran tunjangan profesi selanjutnya.

Dengan pengumuman itu setiap guru membuat laporan yang ditandatangani Kepala Sekolah berupa, 1) Pernyataan Melaksanakan Tugas; 2) Bukti Absensi; dan 3) Catatan Batas Pelajaran yang kesemuanya dimasukkan ke dalam map bertulang. Selain point pertama yang langsung dibuat para guru, point dua dan tiga cukup berupa fotokopy absensi dan batas pelajaran saja.

Pada surat Pernyataan Melaksanakan Tugas (PMT) ada data jumlah jam mengajar per bulan (selama satu semester) dengan merincinya per minggu dan keterangan tidak melaksanakan tugas karena alasan tertentu (sakit, izin pelatihan dll) selain data nama, NIP, Tempat Tugas dan Mata Pelajaran yang diampu. Di situ harus juga dijelaskan keterangan tugas tambahan yang dihitung sebagai pengganti (equevalen) jam mengajar untuk mencukupkan minimal 24 jam pelajaran seperti sebagai Kepala Sekolah, Wakil Kepala Sekolah, Pengelola Labor dll.

Foto kopy absensi dan buku batas pelajaran adalah sebagai bukti bahwa guru benar-benar hadir setiap hari dan melaksanakan tugas pembelajarannya sebagaimana tercantum pada buku batas. Tentu saja, jika sekolah tidak menyediakan buku batas di setiap kelas, akan sulit membuktikan bahwa guru benar-benar melaksanakan tugasnya. Atau jika guru tidak/ lupa mengisi buku batas maka data itu tidak akan ada. Dalam keadaan seperti ini, bisa saja sekolah akhirnya merekayasa data-data yang diminta pihak Dinas Pendidikan.

Rekayasa akan terjadi karena sekolah memaksa sesuatu yang tidak ada menjadi ada. Jika buku batas tidak ada dan atau guru tidak mengisinya maka ketika data itu diperlukan, tentu saja akan dibuatlah seolah-olah ada. Buku batas yang tadinya tidak pernah ada lalu buru-buru dibuat sekolah untuk difotokopi para guru. Atau jika pun ada tapi tidak pernah diisi selama ini, maka akan diisilah seadanya untuk keperluan yang sama. Tentu saja ini tidak baik dan menjadi bukti bahwa sekolah atau para guru tidak melaksanakan tanggung jawabnya dengan baik dan benar.

Di luar bukti kelalaian sekolah dan atau guru yang sejatinya memang harus direformasi, sesungguhnya kebijakan mengumpulkan data-data yang dikaitkan dengan pembayaran tunjangan profesi guru juga dapat mendatangkan perasaan gundah dan jengkel para guru. Bagi guru-guru yang sudah sepenuh hati bekerja, sudah juga hadir dan bekerja sesuai ketentuan yang ada, kebijakan ini boleh jadi dianganggap sebagai kebijakan yang mengada-ada. Tugas mengumpulkan dan melaporkan pelaksanaan pekerjaan ini seharusnya cukup dilakukan oleh sekolah saja. Tidak perlu membebani guru secara perorangan.

Kebiajakan membuat laporan pekerjaan yang dikaitkan dengan tunjangan profesi ini memang mengharuskan setiap guru untuk mengurusnya sendiri. Tidak cukup menyiapkan berkas-berkas itu saja di sekolah tapi berkas itu harus pula diantarkan sendiri ke Dinas Pendidikan Kabupaten. Guru wajib datang langsung karena setelah berkas itu dianggap valid, setiap guru wajib pula menandatangani amprah bukti pembayaran tunjangan profesi yang uangnya sudah ditranfer ke rekening masing-masing. Bukti panandatanganan amprah itulah konon yang akan dipakai Dinas Pendidikan untuk menyalurkan tunjangan triwulan berikutnya.

Repotnya kebijakan ini, karena pihak Dinas Pendidikan tidak mengirimkan amprah itu ke sekolah-sekolah yang jaraknya sangat jauh dari kantor. Sebagai kabupaten dengan ratusan pulau kebijakan seperti ini tidaklah bijak khususnya bagi guru-guru yang berada di luar pulau. Bayangkan setiap guru yang mengajar nun jauh di pulau-pulau di luar kota kabupaten, harus datang ke kantor hanya untuk menandatangani amparah bukti pembayaran tunjangan profesi. Dan jika guru harus meninggalkan sekolah, itu artinya dia tidak dapat menunaikan tugasnya. Artinya guru tetap saja akan meninggalkan sekolah sekurang-kurangnya satu hari.

Beberapa langkah berikut perlu dipertimbangkan sebagai jalan tengah. Pertama, pastikan bahwa semua sekolah telah melaksanakan semua manajemen administrasinya dengan benar. Absensi guru, agenda mengajar guru, buku batas pelajaran, laporan bulanan, dan lain-lain sudah dilaksanakan sekolah dengan baik dan benar. Jika perlu dengan format yang standar keluaran Dinas Pendidikan sendiri. Pihak Dinas Pendidikan memonitor ini melalui pengawas satuan pendidikan yang sudah ada dan  atau monitornya melalui laporan bulanan yang harus dilaporkan sekolah. Jika semua laporan sudah ada, tidak perlu lagi guru membuat laporan secara perorangan.

Dengan fasilitas yang sudah cukup modern saat ini, pengelolaan administrasi sekolah tidaklah akan memakan waktu yang banyak. Fasilitas dan alat-alat informasi dan komunikasi akan membantu sekolah- sekolah di satu pihak dan Dinas Pendidikan di pihak lain. Semua laporan dapat dengan mudah tersampaikan. Tentu saja akurasi laporan itu tetap harus dicek dan diverifikasi ke sekolah oleh para pengawas satuan pendidikan.

Kedua, jika amprah harus ditandatangani guru --padahal uanganya sudah ditransfer ke rekening masing-masing guru-- maka sebaiknya amprah itu dikirimkan ke sekolah masing-masing untuk dikumpulkan kembali ke kantor. Tugas ini tentu cukup dilaksanakan oleh sekolah tanpa harus melibatkan guru secara langsung. Tapi jika amparah itu tidak bisa dibawa-bawa atau tidak bisa dikirimkan secara terbatas ke sekolah-sekolah, maka sekolah dan atau Dinas Pendidikan harus memfasilitasi perjalanan guru dari sekolah ke kantor yang boleh jadi memerlukan biaya dan itu pun harus dilakukan di waktu libur.

Bagi guru, pekerjaan tambahan membuat laporan absensi sebagai persyaratan menerima tunjangan profesi tidaklah terlalu berat. Tidak ada guru yang akan menolaknya. Dapat dipastikan, jika ada tugas-tugas tambahan sebagai persyaratan penerimaan tunjangan profesi, sejatinya guru tidak akan keberatan. Tapi memberi kemudahan bagi guru dalam melaksanakan setiap tugas tamabahan kiranya merupakan kesajiban sekolah dan atau Dinas Pendidikan. Ayo, rekanp-rekan gru. Mari kita bekerja dengan baik demi anak-anak emas bangsa  dan daerah kita.***

Minggu, 22 Juni 2014

Debat Kandidat: Mustahil, Pak Capres

DEBAT capres Ahad malam (22/ 06) ini lumayan menarik. Berbanading dua sesi debat sebelumnya, debat ketiga yang dimoderatori oleh Prof. Hikmahanto Juwana ini rasanya lebih hidup dan terasa juga lebih luwes. Baik pertanyaan dari modertor maupun pertanyaan sesama kandidat meluncur dengan lancar dan juga dapat terjawab dengan baik dan memuaskan. Para pendukung kedua capres juga tertib dengan sorak-sorainya.

 Bukan tak ada jawaban yang tidak atau kurang memuaskan. Baik oleh penonton di studio maupun yang di rumah, pasti merasakan adanya jawaban yang tidak sesuai dengan harapan. Moderator pun pasti juga akan merasakan dan memberikan penilaian yang sama. Salah satu jawaban yang mungkin kita dengar kurang logis dari salah seorang capres adalah ketika jawaban yang berkaitan dengan perlindungan TKI (Tenaga Kerja Indonesia) di Luar Negeri. Jawaban ini sepertinya ngawur atau setidak-tidaknya si capres tidak mengerti teknis tugas yang dia maksudkan. Pernyataan ini saya tangkap dari statemen salah seorang narasumber yang tampil di Televisi Blomberg yang juga menyiarkan secara langsung debat Prabowo- Jokowi. Menjawab pertanyaan reporter televisi, dia menyimpulkan kalau capres ini tidak mengerti teknis tugas kedubes di Luar Negeri.

Ketika salah seorang capres mengatakan bahwa untuk mengawasi TKI di Luar Negeri itu adalah tanggung jawab dan merupakan tugas dari KBRI di negara tersebut, mungkin itu benar adanya. Hanya saja jika calon presiden (jika nanti menjadi presiden) akan menugaskan kepada Dubes dan para pegawai Kedubes di suatu yang harus mengawasi setiap TKI yang ada di negara tersebut, tentu saja di sinilah ngawurnya jawaban sang capres. Itu yang dikatakan Pak Joko (kalau tak salah nama) di televisi itu. Mustahil seorang Dubes dengan beberapa pegawainya akan mampu mengawasi para pekerja yang jumlahnya bisa ratusan ribu bahkan jutaan itu.  Saya sangat sependapat dengan pernyataan komentator itu. Saya juga menganggap capres ini hanya asal ingin menyenangkan telinga pendukung danatau telinga TKI saja. Itu jelas tidak mungkin.

Untuk melindungin dan memberdayakan TKI yang bekerja di Luar Negeri, satu-satunya strategi adalah dengan memberikan bekal pengetahuan dan keterampilan yang memadai bagi setiap TKI. Untuk strategi ini, kedua capres sepertinya sependapat. Diplomasi Pemerintah adalah untuk memastikan bahwa di negara tersebut memang ada tata aturan atau perundangan yang melindungi tenaga kerja asing. Itu memang penting dan harus menjadi tanggung jawab Pemerintah untuk memastikannya.

Tapi jika setiap permasalahan TKI harus diawasi oleh pegawai kedutaan besar itu, ya tentu saja tidak mungkin. Itu musatahil, Pak Capres! Adalah menjadi msutahil jika demi keamanan dan keselamatan para TKI, mereka setiap saat harus diperhatikan oleh para pegawai kedubes. Jelas tidak bisa. Hanya dengan inisiatif para TKI-lah sebenarnya yang harus melapor ke perwakilan negaranya perihal keadaan dirinya. Bukan pegawai kedubes yang harus mencari mereka. Sekali lagi, itu mustahil, Pak Capres.***

Jumat, 20 Juni 2014

Catatan dari Pelatihan Implementasi K13

Diskusi antar Kasek di salah satu ruang
SEJAK Rabu (18/ 06) lalu kegiatan Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 bagi Kepala Sekolah (SD, SLTP dan SLTA) se-Kabupaten Karimun berjalan lancar sampai hari ini. Kegiatan ini akan dilaksanakan sampai Sabtu (21/ 06) besok sesuai jadwal yang sudah disampaikan ke peserta ketika acara pembukaan, Rabu lalu itu. Kepala Dinas Pendidikan Karimun, MS Sudarmadi membuka secara resmi di aula terbuka SMP Negeri 1 Karimun dengan didampingi Kepala LPMP Provinsi Kepri yang diwakili oleh salah seorang pegawai strukturalnya.


Ada beberapa kesan saya dalam mengikuti kegiatan penting ini. LPMP (Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan) Provinsi Kepri sebagai penyelenggara kelihatan sekali kesulitan yang dialaminya. Beberapa orang dari LPMP yang diberi amanah untuk melaksanakan acara ini di Karimun, harus datang terlambat pada hari pertama pembukaan itu. Acara pembukaan yang seharusnya dimulai pada pukul 08.00 ternyata baru bisa dilaksanakan di atas pukul 09.30. Itu berapa lama tertundanya. Kasihan Kepala Sekolah yang sudah datang sebelum pukul 08.00 karena undangannya pada pukul 07.30. Bahkan ada juga yang datang tepat pukul 07.30 itu.

Kesulitan untuk datang tepat waktu adalah kesulitan yang disebabkan oleh transportasi Tanjungpinang- Karimun. Bisa jadi mereka tidak bisa datang satu sebelumnya karena mungkin juga ada kesibukan lain di Tanjungpinang. Saya tahu, kapal trayek Tanjungpinang ke Karimun memang tidak selalu ada setiap saat. Biasanya hanya ada satu kali saja dari dan ke kedua kota itu. Dari Karimun biasanya pada pagi sekitar pukul 07.30 sebaliknya dari Tanjungpinang ke Karimun pada subuh hari sekitar pukul 06.00. Jika trayek itu tidak bisa maka harus menggunakan jalur Tanjungpinang- Batam- Karimun. Artinya jarak dan biayanya akana bertambah. Itu kenyataan pertama yang kesannya tidak baik.

Itu kesan pertama. Walaupun itu kesan kurang bagus, tapi tidak masalah disebut di sini. Kesan lainnya, kesiapan anggaran kelihatannya juga tidak memadai. LPMP kabarnya tidak memiliki dana cukup untuk melaksanakan kegiatan ini dengan cara yang lebih baik. Dengan sasaran Kepala Sekolah 200-an orang, LPMP tentu saja tidak sanggupmemanggil semuanya ke Tanjungpinang, misalnya. LPMP hanya mampu memanggil beberapa orang saja untuk dilatih menjadi instruktur. Instruktur yang sudah pernah dipanggil ke Tanjungpinang inilah yang sekarang diberi tugas untuk menjadi fasilitator bagi para Kepala Sekolah di Kabupaten Karimun.

Kekurangan biaya juga dapat dilihat dari makanan dan snack yang disedikan. Makan siang, hanya berupa nasi kotak yang menunya cukup sederhana. Tapi tentu saja itu sudah sangat bagus buat para Kepala Sekolah. Perinsipnya, bukan pada makanan dan minuman yang didipatkan tapi pada ilmu dan wawasan yang diperoleh selama pelatihan. Bagaimanapun, rekan-rekan Kepala Sekolah sangat membutuhkan ilmu dan wawasan ini sebagai prasyarat pelaksanaan Kurikulum 2013 di awal Tahun Pelajaran (TP) 2014/ 2015 nanti.  Awal TP sudah tingga satu bulan saja lagi dan kurikulum baru itu harus tetap dilaksanakan di sekolah masing-masing. Artinya, tidak ada jalan lain kecuali para Kepala Seklolah wajib memahami ini semua.

Catatan penting dan pantas untuk dicontoh adalah bagaimana rekan-rekan Kepala Sekolah begitu antusias dalam mengikuti kegiatan. Terlepas dari beberapa orang yang masih menyedihkan (ada yang ternyata tidak bisa mengoperasikan laptop) tapi sebagian besar rekan-rekan Kepala Sekolah mengikuti dengan baik sekali. Begitu banyak tugas dan latihan yang wajib dikerjakan, ternyata semuanya dapat dilaksanakan dengan baik. Ini sangat membanggakan menurut saya. Semoga saja pelatihan ini benar-benar membantu para Kepala Sekolah dalam mengimplementasikan kurikulum baru itu dengan baik.***

Minggu, 15 Juni 2014

Karena Bola, Libur Malah Lembur

Lembur
Malam Ahad hingga pagi Ahad (15/ 06) ini lembur
Nonton piala dunia di rumah mertua
Dari malam hingga ke ujung malam
Ada beberapa partai laga di Brazil sana


Alhamdulillah dapat juga menyaksikannya
Antara tidur dengan tidak mata terus memlototi layar kaca
Siaran piala dunia yang adanya
Hanya sekali dalam empat tahunnya
Kesempatan libur dipakai untuk nonton lembur


Catatan mirip puisi itu merupakan bunyi status facebook -https://www.facebook.com/mrasyidnur-- saya pada hari Ahad (15/ 06) ini. Saya menulisnya sebagai ungkapan rasa puas sekaligus ngantuk di pagi hari selepas menyaksikan tiga partai laga piala dunia yang berlangsung di Brazil sana. Seperti hari-hari biasa, saya memang tetap menyempatkan menulis satu dua kalimat --apa saja-- di dunia maya. Jika tidak sempat menulisnya di blog pribadi atau blog sosial lainnya, saya akan menulisnya di akun facebook saja. Sekalian tetap menyambung silaturrahim di dunia maya.

Jujur saja, kesempatan menonton pertandingan sepakbola ini buat saya sangatlah berarti. Sebagai penyuka sepakbola (dulu, ketika masih muda juga ikut-ikut bermain bola) kesempatan menyaksikan laga piala dunia tahun 2014 ini terasa sebagai kesempatan yang penuh harga. Ternyata untuk menyaksikan piala dunia tahun ini buat saya tidaklah mudah seperti empat tahun lalu itu. Itu semua tersebab untuk menyaksikan tayangan langsung piala dunia memang tida ada di semua televisi.

Sudah sama-sama kita ketahui, bahwa hak siar Piala Dunia Brazil ini hanya ada di televisi milik Bakri, Tv One dan Anteve saja. Di chanel lain tidak akan ada. Dan repotnya lagi, tidak pula disiarkan di saluran biasa yang sudah lazim ditonton. Tv One dan Anteve hanya menyiarkan di saluran tertentu yang memang hanya bisa jika sudah berbayar. Dengan antena parabola biasa, yang setiap saat kita menyaksikan berita Tv One dan Anteve itu, ternyata ketika siaran langsung ditayangkan, chanel tersebut langsung kabur, terblok dan hanya ada kalimat, "Maaf untuk ketidaknyaman Anda....dst..."

Sesungguhnya dengan Tv Kabel yang disalurkan oleh perusahaan tertentu, tayangan langsung sepakbola Piala Dunia itu dapat dinikmati. Tapi bagi yang belum kebagian (masuk) ke rumahnya jarinagn televisi ini, maka tetap saja tidak akan dapat menyaksikan tayangan Piala Dunia tersebut. Inilah yang saya alami saat ini. Di rumah saya, belum terjangkau juga oleh jaringan Tv Kabel itu.

Tersebab belum adanya jaringan televisi yang memiliki hak siar di rumah itulah saya harus mencari di tempat lain untuk dapat menyaksikan tayangan siaran langsung. Ketika di malam pertama, pembukaan dan pertandingan tuan rumah, Brazil melawan Kroasia saya tidak keluar rumah, saya sama sekali tidak menyaksikan pertandingan perdana itu. Padahal, semua penggila bola pasti ingin menyaksikan 'pasukan samba' bermain bola. Apaboleh buat, pertandingan awal itu berlalu begitu saja. Hanya dari berita-beritalah info laga itu didapatkan.

Ketika malam kedua ada laga hebat antara Belanda kontra Spanyol, saya benar-benar tidak sabar berdiam di rumah. Televisi yang ada di rumah, sama sekali tidak menyiarkan tayangan itu. Maka pada pukul 03.00 didinihari itu saya keluar rumah dan mencari tempat menyaksikannya. Kebetulan di kedai-kedai kopi atau kafe-kafe di luar sana memang ada acara nonton bersama yang disediakan oleh pemilik kafe atau kedai itu. Jadilah saya dapat melihat pertandingan penuh kejutan antara Sang Juara, Spanyol dengan Belanda yang berkesudahan 5-1 untuk keunggulan Negeri Tulif itu.

Pada Sabtu malam, saya benar-benar memanfaatkan waktu libur itu untuk menyaksikan pertandingan Piala Dunia. Dari awal tayangan sekitar pukul 22.00 hingga menjelang subuh dan selepas subuh besoknya, saya duduk di depan televisi. Saya tahu malam Ahad ini ada pertandingan antara Kolumia vs Yunani, Uruguai vs Kosta Rika, Inggeris vs Italy. Bahkan di pagi harinya masih ada laga Jepang melawan Pantai Gading. Alhamdulillah keseluruhan laga itu saya paksa untuk menyaksikannya. Saya benar-benar lembur demi bola itu. Saya tak ingat, jam-jam mana saya tertidur antara pukul sepuluh malam hingga pagi itu. Tapi saya yakin, saya pasti tertidur karena ada momen-momen tertentu yang saya tidak tahu. Itu berarti saya benar-benar tertidur di depan televisi itu. Saya bergumam dalam, beginilah demi bola; bersedia lembur meskipun libur.***  

Rabu, 11 Juni 2014

Satu Jam Saja di Batam

Demo Anti Syiah di Halam Kantor Bupati Karimun
BERMULA dari demo anti Syi'ah yang dilakukan oleh Forum Pembela Ahlussunnah Waljamaah (FPAW) Karimun hari Selasa (10/ 06) kemarin, lalu berlanjut dengan dialog antara perwakilan FPAW dengan Pemerintah Karimun di ruang rapat Kantor Bupati Karimun, terungkap kerja-kerja MUI (Majelis Ulama Indonesia) Karimun yang terbengkalai. Atas desakan perwakilan forum Pemerintah dan pengurus MUI merasa ikut bersalah.

Inti masalah yang dipersoalkan oleh peserta demo itu adalah bukti tindakan tegas Pemerintah Karimun terhadap keberadaan aliran syiah yang ada di Karimun. Mereka dengan tegas dan berapi-api meminta agar Pemerintah Karimun menertibkan dan atau melarang syiah berada di kabupaten 'berazam' ini. Menurut para pendemo, syiah sudah jelas sesat dan sudah meresahkan masyarakat. Lalu mengapa pemerintah tidak bertindak juga? Pemerintah ini lembek, MUI ini tak ada guna, begitu bunyi pernyataan peserta demo di siang terik itu.

Lebih jauh para orator demonstran itu mengancam akan bertindak lebih keras dengan caranya sendiri jika Pemerintah atau polisi tidak bertindak menertibkan syiah. Inilah yang mengkhawatirkan bupati, wakil bupati dan sekda yang kebetulan ikut dalam pertemuan itu. Pemerintah tidak ingin keadaan kondusif yang sudah ada saat ini tidak sampai rusak oleh tangan-tangan anarkis. Itulah sebabnya mereka diterima untuk berdialog di ruang rapat yang mewah itu. Bupati ingin semuanya damai dan berjalan dengan baik.

Pada rapat yang juga dihadiri oleh Kapolres dan Kajati Karimun, disepakati kalau Pemerintah akan bertindak jika ada legalitas yang sah, misalnya adanya fatwa sesat dari MUI. Oleh karena itu, MUI yang sejak dua bulan sebelumnya sudah berencana akan mengirimkan surat berisi 'pernyataan sikap menolak' dari masyarakat muslim atas keberadaan syiah, berjanji akan segera mengirimkan surat tersebut. Dan pada pertemuan itu, perwakilan forum meminta waktu yang pasti dari Pemerintah dan MUI Karimun untuk melakukan tanggung jawabnya.

Itulah sebabnya, satu hari sesudah demo itu, Rabu (11/ 06) ini saya --selaku sekretaris MUI Karimun-- berusaha menyelesaikan surat-surat yang diperlukan itu. Setelah ke sekolah dari pukul tujuh hingga pukul 08.30 pagi, lalu saya beralih meja ke Kantor MUI, di Gedung Jamiatulbirri Masjid Agung Karimun untuk menyelesaikan surat-surat tersebut. Saya harus bekerja langsung karena staf sekretaris sudah tidak ada lagi. Setengah hari menyelesaikan surat-menyurat lalu saya harus ke Batam untuk meminta tanda tangan Ketua MUI yang kebetulan saat ini berada di Batam. Dia menjadi bagian dari Kafilah MTQ Provinsi Kepri. Dia baru akan kembali ke Karimun setelah MTQ Nasional ke-25 itu selesai.

Agar tidak berlama-lama menunggu maka saya pergi langsung ke Batam membawa surat itu. Sehabis zuhur, saya meluncur ke pelabuhan untuk menyeberang ke Sekupang Batam. Pukul 14.45 saya sudah sampai di Sekupang dengan menumpang very Dumai Line. lalu meneruskan perjalanan dengan teksi ke Hotel Vista di Batam Center. Pak Azhar, Ketua MUI itu ada di sana. Jadi, saya harus ke sana membawa surat yang akan dikirimkan ke Bupati, Gubernur dan Ketua MUI Provinsi Kepri.

Setelah ditandatangani dan ngobrol sebentar, saya kembali ke Sekupang Batam. Pukul 15.45 saya sudah kembali naik kapal. Ternyata kapalnya sama dengan yang tadi, Dumai Line. Pukul 16.00 kapal sudah bergerak meninggalkan pelabuhan Sekupang. Saya merasa senang walaupun cukup lelah karena bola-balik Karimun- Batam dalam waktu yang cukup pendek. Satu jam saja saya di Batam, demi surat-surat itu. Semoga tidak sia-sia kerja yang melelahkan ini.***

Minggu, 08 Juni 2014

PT Saipem Memberi Harapan

Pimpinan Saipem dan Bupati Karimun di SMAN 3 Karimun
SABTU (07/ 06) lalu tujuh orang petinggi PT. Saipem berkunjung ke beberapa sekolah di Karimun. Salah satu sekolah itu adalah SMA Negeri 3 Karimun. SMA yang lokasinya tidak jauh dari lokasi perusahaan Italy itu mendapat kunjungan pada pukul 10.00 pagi setelah sebelumnya para karyawan ini melakukan kegiatan yang sama di sekolah lain.


Sosialisasi yang dilakukan perusahaan ini dimaksudkan untuk memberikan informasi mengenai perusahaan dengan aset triliunan rupiah itu. Sebagai sebuah perusahan besar dengan karyawan ribuan orang, PT. Saipem memang sudah membuktikan komitmennya dalam membantu masyarakat setempat. Terutama bagi sekolah-sekolah yang ada di Karimun khususnya yang berdekatan langsung dengan lokasi perusahaan, PT. Saipem sudah banyak memberikan bantuan.

Untuk SMA Negeri 3 Karimun, misalnya perusahaan ini sudah memberikan bantuan berupa pembuatan lapangan olahraga (sepak bola) dan pembangunan kantin sehat. Dengan dana ratusan juta rupiah, SLTA negeri satu-satunya di kecamatan Meral ini kini sudah bisa melaksanakan kegiatan olahraga di tempat yang memadai. Kantin yang dibangun juga sudah membantu sekolah untuk memiliki kantin yang layak.

Kehadiran petinggi pada Sabtu pagi itu lebih kepada usaha perusahaan ini untuk memberi penjelasan kepada para siswa perihal peluang-peluang yang ada di PT. Saipem. Dari ribuan tenaga kerja yang saat ini mencari rezeki di perusahaan ini kebanyakan karyawan lapangannya memang sudah merupakan penduduk Karimun dan sekitarnya. Tapi untuk level-level manajer atau setingkat itu kebanyakan tenaga kerjanya didatangkan dari luar Karimun.

Di awal penjelasannya, Ibu Diko yang menjadi pemimpinan dalam rombongan sosialisasi ini mengatakan kalau anak-anak muda yang dia bawa saat itu keseluruhannya adalah dari luar Karimun. Mereka adalah para karyawan dengan gaji yang cukup tinggi di peruysahaan. Dan mereka semuanya dari luar Karimun. Ada yang dari Semarang, Surabaya, Medan atau dari Padang. Mengapa mereka? Tanya Bu Diko, karena mereka yang berkompeten dan kami butuhkan saat ini. Anak-anak Karimun belum ada yang mengajukan lamaran dengan kualifikasi kompetensi seperti itu.

Itu sebabnya rombongan ini datang ke sekolah-sekolah di Karimun untuk memberikan peluang kepada para siswa untuk melanjutkan pendidikan ke jurusan-jurusan yang sesuai dengan kebutuhan Pt. Saipem. Fakultas yang disarankan adalah Fakultas Teknik dengan beberapa juruasan yang sesuai. Jangan dilewatkan begitu saja kesempatan dan harapan ini, kata Bu Diko di depan 167 orang siswa kelas XI SMA Negeri 3 Karimun.

Selasa, 03 Juni 2014

Kepala Sekolah Belajar Menjadi Anak-anak

Permainan Seribu Semut
MEMASUKI hari kelima, Selasa (03/ 06) ini, Bimtek Pendidikan Karakter Kepala Sekolah (SLTA) se-Provinsi Kepri di Hotel Aston, Tanjungpinang sudah mulai menampakkan beberapa orang peserta yang mengalami masalah. Masalah utama itu adalah kebugaran tubuh yang mulai menurun. Untuk sesi kegiatan pagi ini, misalnya tiga orang Kepala Sekolah hanya bisa menyaksikan rekan-rekan lain berkegiatan di tepi lapangan sementara rekan-rekan lain berjingkrak-jingkrak di lapangan olahraga.

Hari keempat --Senin, 02/ 06-- kemarin, sebenarnya sudah ada dua orang yang minta izin tidak ikut aktivitas tersebab keluhan badan yang tidak fit. Informasinya, satu orang karena gula darahnya naik melebihi ambang batas dan yang satunya lagi kolesterol yang juga tak terkontrol. Keduanya tentu diizinkan untuk tidak ikut kegiatan walaupun kegiatannya hanya mengikuti sesi ceramah/ diskusi dengan narasumber. Satu orang lainnya, kabarnya karena asam uratnya juga kambuh.

Kemarin itu dengan materi "Peraturan, Kebijakan dan Implementasi Pengelolaan PTK Dikmen" yang disampaikan oleh Ibu Dra. Maria Widiani, MA (Kasubdit Pembinaan SMA Direktorat P2TK Dikmen, Kemdikbud) sejatinya harus diikuti oleh semua peserta yang notabene adalah Kepala Sekolah. Materi ini sangat penting karena menyangkut keberadaan pendidik (guru) dan tenaga kependidikan (pegawai) di sekolah yang dipimpin. Tapi karena sakit itu, ya para sahabat itu terpaksa tidak ikut.

Saya tidak bermaksud mengulas masalah penyakit itu di sini. Pastilah ini hanya masalah yang lazim pada setiap kesempatan pelatihan dengan peserta para Kepala Sekolah. Dengan usia rata-rata di atas 40 atau 50 tahun, tentu saja penyakit-penyakit seperti kolesterol, diabtes, darah tinggi, asam urat dan beberapa penyakit lainnya akan rentan untuk kambuh jika tidak cerdas menjalani kehidupan di hotel dengan makanan yang cenderung banyak lemak. Itu biarlah menjadi perhatian dan pelajaran para petinggi sekolah itu. Ada catatan lain yang justeru menurut saya layak untuk diulas di sini.

Sesungguhnya ada banyak kegiatan yang benar-benar sangat bermanfaat untuk para Kepala Sekolah dalam kegiatan sepekan ini. Meskipun beberapa orang rekan mengatakan bahwa kegiatan ini terasa terlalu banyak unsur bermainnya, namun sesungguhnya dalam permainan itulah para pimpinan sekolah ini dilatih kembali untuk memiliki sikap-sikap mulia yang sangat dibutuhkan ketika memimpin sekolah. Terasa seperti kembali ke fase anak-anak, memang tapi begitulah ternyata cara yang dipakai para trainer dalam memberikan pendidikan karakter ini. Para Kepala Sekolah diminta untuk berpraktik dalam beberapa kegiatan yang mirip bermain-main agar para Kepala Sekolah memiliki dan mengembangkan karakternya untuk kemajuan sekolah.

Beberapa kegiatan yang sudah dilaksanakan bersama trainer dari LP2KS Kemdikbud antara lain misalnya, 1) bermain menara; 2) bermain pesawat; 3) bermain peragaan; 4) bermain de laila de lion; 5) bermain rumah kijang; 6) permainan seribu semut dan banyak lagi. Tidak kurang 13 macam permainan yang sepintas adalah permainan anak-anak, namun harus dimainkan oleh para Kepala Sekolah ini.

Ketika trainer menjelaskan permainan pesawat terbang kertas, tentu saja semua peserta akan teringat bahwa pesawat terbang kertas itu adalah mainan anak-anak kecil. Tapi itu adalah salah satu praktik penerapan karakter yang wajib dibuktikan oleh para Kepala Sekolah. Kepala Sekolah yang sudah tua-tua itu memang harus belajar kembali menjadi 'anak-anak' secara berkelompok. Dengan kerja kelompok (sesuai kelompok suku yang sudah ditetapkan di awal pertemuan) kepala suku tiap kelompok diberi instruksi oleh trainer untuk disampaikan kepada anggota suku. Perintahnya membuat pesawat kertas dengan disain yang sudah ditentukan. Dalam bekerja ada beberapa syarat (perintah aturan) yang wajib dipatuhi. Misalnya tidak boleh bersuara, tidak boleh bertanya dan lain sebagainya. Padahal trainernya selalu menggoda peserta yang sedang bekerja.

Begitu juga ketika mengikuti permnainan menara. Dengan material pipet minuman, setiap kelompok diminta membuat menara setinggi mungkin dengan kokoh dan tentu saja indah. Apakah kelompook ini bisa bekerja sama tanpa bersuara, tanpa menggunakan alat selain pipet dan gunting? Ternyata cukup sulit melewatinya dengan baik dan lancar. Namun itulah yang harus dilakukan oleh para Kepala Sekolah. Setiap permainan memiliki tingkat kesulitan dan tantangan tersendiri. Dan setiap permainan pun memiliki kandaungan nilai-nilai karakter yang baik. Sikap jujur, bersemangat, bekerja sama, tanggung jawab, tenang, kerja keras dan banyak lagi sikap yang dapat dikembangkan dalam permainan ini.

Jadi, tujuan para trainer memberikan berbagai permainan anak-anak itu pada hakikatnya adalah untuk mengembalikan daya ingat para Kepala Sekolah sekaligus menunjukkan bagaimana sikap-sikap mulia itu dilaksanakan. Bagaimana mengimpelementasikannya nanti di satuan pendidikan masing-masing, itulah tujuan utama dari semua permainan tersebut. Semoga saja para Kepala Sekolah dapat menyerapnya dengan baik dan dapat pula mengimplementasikannya di sekolah nanti di sekolah masing-masing.***

Minggu, 01 Juni 2014

Mendidik Kepala Sekolah Berkarakter

Sesaat menjelang acara pembukaan
DI DEPAN sana tertulis "Bimtek Kepala Sekolah SLTA dalam Pengembangan Pendidikan Karakter Bangsa se-Provinsi Kepulauan Riau Tahun 2014." Hari itu, Jumat (30/ 05) malam sekitar pukul 20.00 WIB di Hotel Aston, Tanjungpinang sedang berlangsung Pembukaan Bimbingan Teknis (Bimtek) Pendidikan Karakter yang diikuti oleh 80 orang Kepala Sekolah (SMA/ MA/ SMK) negeri/ swasta se-Provinsi Kepulauan Riau. Duduk di depan itu Kepala Dinas Pendidikan Prov. Kepri, Yatim Mustafa yang akan membuka acara secara resmi dan seorang lagi, Ketua Panitia kegiatan.


Di antara 80 orang Kepala Sekolah yang sudah diundang untuk datang, sebenarnya masih ada beberapa orang lagi yang belum hadir. Tapi sesuai jadwal, malam ini acara pembukaan akan dilaksanakan dan akan dilanjutkan/ diisi dengan sesi pertama, penyampaian materi oleh Kepala Dinas Provinsi dengan judul "Kebijakan Pendidikan Provinsi Kepulauan Riau". Dalam penyampaian materi oleh Kepala Dinas, dia menguraikan pentingnya karakter bagi para Kepala Sekolah dan warga sekolah secara umum. Kepala Sekolah, katanya akan menjadi penentu utrama, apakah pendidikan karakter akan sukses di sekolah atau tidak.

Berulang-ulang Kepala Dinas mengingatkan pentingnya para pemimpin sekolah terlebih dahulu memahami dan melaksanakan karakter itu dalam kesehariannya sebelum nanti menjelaskan dan meminta warga sekolah lainnya untuk melaksanakan. Bagaimana mungkin menyuruh para guru, pegawai atau siswa melaksanakan karakter bangsa sebelum Kepala Sekolah melaksanakannya, tanyanya tanpa meminta jawaban kepada para peserta yang mendengar sambutan dan materinya. "Maka selama empat atau lima hari ini, para Kepala Sekolah di sini harus belajar dulu untuk berkarakter," katanya tanpa bermaksud menyimpulkan bahwa para Kepala Sekolah ini tidak atau belum berkarakter sebelum berkumpul di Ibu Kota Provinsi ini.

Tentu saja para Kepala Sekolah memahami maksud pimpinan Kantor Dinas Pendidikan Provinsi itu. Harus diakui bahwa karakter adalah modal utama dalam membangunan sebuah sekolah. Sekolah akan maju dan berkembang serta bermutu jika warga sekolah tersebut memiliki dan membuktikan karakter diri masing-masing. Mulai dari Kepala Sekolah hingga siswa, wajib untuk memiliki karakter yang baik. Sifat-sifat seperti jujur, bersemangat, bertanggung jawab, disiplin, kerja keras dan lain-lainnya itu merupakan beberapa nilai-nilai karakter yang wajib diterapkan di sekolah.

Saya setuju dengan peringatan Kepala Dinas itu bahwa selama di hotel mewah ini hendaknya para pimpinan sekolah mampu membuktikan dan menunjukkan bahwa dia memang memiliki karakter yang layak untuk untuk ditedladani oleh warga sekolah nantinya sekembali dari pelatihan ini. Selama training ini pasti akan dituntut untuk disiplin atau tepat waktu masuk, misalnya. Atau juga disiplin antri ketika akan makan atau istirahat coffebreak. Begitu pula berpakaian dan disiplin dalam mengikuti sesi-sesi kegiatan. Semua itu harus mampu diikuti oleh para peserta dengan penbuh disiplin.

Sebelum pidato Kepala Dinas, Ketua Panitia terlebih dahulu menyampaikan laporannya. Dalam laporannya, dia menjelaskan maksud dan tujuan dilaksanakannya Bimtek ini. Ada empat tujuan yang dipaparkannya di depan Kepala Dinas dan para peserta. 1) Untuk meningkatkan profesionalisme Kepala Sekolah dalam mengembangkan Pendidikan Karakter Bangsa di Sekolah; 2) Untuk meningkatkan pengetahuan dan sikap Kepala Sekolah dalam menjadikan sekolah yang berkarakter; 3) Untuk meningkatkan motivasi Kepala Sekolah dalam menjadikan sekolah yang berkarakter; dan 4) Sebagai wahana tukar pikiranb tentang bidang tugas antara sesama peserta, dan peserta dengan narasumber.

Jika tujuan itu dapat tercapai selama berlangsungnya kegiatan ini, tentu saja akan menjadikan sekolah yang ada di provinsi 'segantang lada' ini nantinya menjadi sekolah yang berkarakter. Kokoh dalam pendirian yang baik, bervisi unggul dan mampu meningkatkan mutu pendidikannya. Semoga.***
 
Copyright © 2016 koncopelangkin.com Shared By by NARNO, S.KOM 081372242221.