BREAKING NEWS

Kamis, 29 Mei 2014

Jomplangnya Nilai UN dan NS

Pelaksanaan UN 2007
SEKOLAH-sekolah yang siswanya berhasil lulus 100 persen dalam UN (Ujian Nasional) tahun 2014 ini tentu saja sangat bangga. Kerja keras selama satu tahun bahkan tiga tahun itu terasa 'berbalas' dengan pengumuman 20 Mei lalu itu. Sebaliknya bagi sekolah yang belum bisa meluluskan seluruh siswanya tentu saja akan menyisakan kesedihan. Bukan hanya siswa dan orang tua saja yang sedih tapi juga pihak sekolah.


Kelulusan ditentukan oleh beberapa kriteria, antara lain, a) telah menyelesaikan seluruh program pembelajaran; b) telah memperoleh nilai minimal baik pada penilaian akhir untuk seluruh Mata Pelajaran (MP) kelompok MP Agama dan Akhlak, kelompok MP Kewarganegaraan dan Kepribadian, kelompok MP Estetika, MP Penjaskes; c) telah lulus Ujian Sekolah/ Madrasah; dan d) telah lulus UN. Kriteraia ini sudah ditetapkan baik dalam Dokumen Kurikulum maupun dalam POS (Prosedur Operasional Standar) UN.

Point a , b, dan c selalu tidak menjadi masalah karena lebih kepada kinerja sekolah langsung. Sekolah yang menentukan dan menetapkan gagal-tidaknya ketiga kriteria ini. Tapi untuk point d selalunya sekolah merasa tidak berdaya dengan alasan koreksinya tidak di sekolah. Inilah kesalahkaprahan selama ini yang membuat sekolah juga salah langkah.

Akibat kesdalahan pandangan terhadap kriteria keempat ini maka sekolah lalu merekayasa tiga point kriteria pertama. Penghitungan kelulusan yang menggunakan kombinasi nilai-nilai sekolah (NS) yang diambilkan dari nilai-nilai rapor semester 3, 4 dan 5 plus nilai Ujian Sekolah (40 persen) lalu ditambah dengan nilai Ujian Nasional (UN) dengan persentase 60 persen, maka terjadilah rekayasa nilai pada bagian NS. Sekolah-sekolah yang ketakutan siswanya tidak lulus UN, mendongkrak nilai rapor dan nilai sekolah setinggi-tingginya. Ini karena nanti akan menjadi penentu kelulusan (40 persen).

Yang terjadi tentu saja, jika sekolah tidak mampu meningkatkan nilai UN maka akan terjadilah perbedaan yang sangat mencolok antara nilai UN dan NS. Seperti pernah dipresentasikan oleh pejabat di Kantor Dinas Pendidikan Provinsi (Kepri) beberapa waktu lalu. Dia menunjukkan grafik nilai antara UN dan dan NS yang ada selama ini yang menunjukkan grafik yang tidak sehat dan tidak normal.

Di satu sisi, grafik nilai-nilai NS menunjukkan rata-rata di atas angka 8 (delapan). Bahkan ada sekolah-sekolah tertentu memberikan nilai rata-rata di atas 9 (sembilan). Nilai-nilai setinggi langit itu tentu saja dimaksudkan untuk mengantisipasi nilai yang akan rendah. Dan memang benar tergambar dari grafik itu bahwa rata-rata nilai UN hanya di bawah angka 3 (tiga). Betapa jauhnya jarak perolehan nilai UN dengan NS. Masihkan itu sehat?

Seandainya saja interval nilai UN dan NS itu hanya antara dua atau tiga tangga saja, dapatlah dimaklumi. Jika intervalnya sudah melebihi lima angka, maka jelaslah di sini bahwa sekolah sudah merekayasa nila-nilai yang diberikan sekolah tersebut. Tentu saja strategi ini akan merusak pendidikan itu sendiri. Hanya dengan alasan kelulusan, sekolah berani merusak pendidikan secarfa keseluruhan. Tidak pada tempatnya cara ini dilakukan sekolah. Cara terbaiknya seharusnya membnerikan pembelajaran yang terbaik kepada perserta didik agar mereka mampu menjawab UN dengan baik dan memberikan nilai apa adanya untuk nilai-nilai rapor. Selebihnya semua pihak mau menerima hasil UN itu dengan lapang dada.***

Senin, 26 Mei 2014

Dari Dekat Persiapan Akreditasi Sekolah

Ibu Mami memberikan penjelasan kepada para guru
MENURUT tanggal dan bulan pada sertifikat akreditasi sekolah --SMA Negeri 3 Karimun-- akan berakhir pada bulan November 2014 tahun nanti. Seperti sekolah lainnya, SMA satu-satunya di Kecamatan Meral ini tidak ingin akreditasi sekolah mati tanpa diperbaharui secepatnya. Maka Kepala Sekolah segera melaporkannya ke Dinas Pendidikan.


Di awal tahun 2014 lalu diadakan sosialisasi rencana akreditasi ulang ini. Semua guru diberi pembekalan untuk menjadi bagian dari tim akreditasi sekolah. Setelah beberapa kali dibicarakan di intern sekolah akhirnya sekolah membentuk tim akreditasi sekolah setelah mendapat kepastian dari Dinas Pendidikan Karimun bahwa SMA Negeri 3 Karimun akan diikutkan akreditasi pada tahun 2014 ini.

Kepala Sekolah menunjuk Mega Sursanti, SPd sebagai Ketua Tim dengan Sekretaris, Drs. Yulius. Koordinator Tim, sesuai dengan jabatannya adalah Verajosiati Rompas yang merupakan Wakil Kepalam Sekolah Urusan Sarana Prasarana. Panitia Akreditasi ini dilengkapi dengan delapan orang koordintaor bidang sesuai Standar Pendidikan yang ada di Peraturan Pemerintah tentang Standar Nasional Pendidikan.

Setelah bekerja satu pekan ini, pada hari Senin (26/ 05) ini Tim Akreditasi mencoba mengevaluasi pekerjaan yang sudah dilaksanakan. Dengan mengundang Pengawas Pendidikan dari Kantor Dinas Pendidikan Karimun para guru yang terlibat mempersiapkan segala bukti pisik dari kelengkapan dokumen yang diperlukan tampak sibuk dan bersemangat sekali melaksanakan tugas. Bersama Ibu Wis, Ibu Mamik dan Ibu Suzana (pengawas) para guru dibawah ketua tim mencoba saling memberi informasi dan bertanya. Ibu-ibu pengawas dengan telaten pun menjelaskan apa saja yang tidak boleh terlupakan sebagai bahan akreditasi tersebut.

Kepala Sekolah yang memimpin pertemuan ini memberikan pengarahan kepada semua guru untuk berhati-hati dan bersungguh-sungguh melaksanakan tugas dan kewajibannya. Sekolah ingin akreditasi kedua ini mendapatkan hasil maksimal, yaitu dengan nilai A setelah pada akreditasi pertama hanya mampu meraih nilai B. Nilai maksimal itu akan ditentukan oleh semua bukti pisik sesuai instrumen yang sudah ditetapkan oleh BAP (Badan Akreditasi Provinsi) Kepri. Semoga saja hasil maksimal itu dapat diraih.***
Bu Wis (baju hitam) dan Bu Suzana bersama tim akreditasi

Selasa, 20 Mei 2014

Tangis Pilu yang Tak Perlu

Penyerahan UN beberapa tahun lalu


PENGUMUMAN hasil UN (Ujian Nasional) tingkat SMA/ MA/ SMK sudah diumumkan sore (Selasa, 20/ 05) tadi secara serentak di seluruh Tanah Air. Di Kabupaten Karimun, sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, pengumuman kelulusan dilaksanakan sore hari, pukul 16.00 WIB setelah rapat penentuan kelulusan pada pagi menjelang siang hari yang sama.


Menurut laporan Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Karimun, MS Sudarmadi ketika menyerahkan hasil UN kepada Kepala Sekolah se-Kabupaten Karimun hari Senin (19/ 05) lalu, "Tingkat kelulusan UN SMA/ MA/  SMK pada tahun ini sedikit menurun. Begitu kata Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI," katanya di SMA Negeri 1 Karimun ketika memberi pengarahan sebelum penyerahan hasil UN. Kabupaten Karimun sendiri, menurut Pak Kadis, alhamdulillah mampu menaikkan peringkatnya dari peringkat ke-5 pada tahun lalu menjadi peringkat ke-3 dari tujuh kabupaten/ kota se-Porvinsi Kepri pada tahun 2014 ini. "Target Kantor Dinas Kabupaten kelulusan sebesar 99 koma sekian persen alhamdulillah sudah tercapai," katanya. Dan karena bukan 100 persen itu berarti masih ada peserta UN yang gagal di Karimun.

Nah, pengumuman di salah satu SMA di Pulau Karimun sore tadi itu, memperlihatkan pemandangan yang cukup mengharukan. Setelah Kepala Sekolah memberi pengarahan dan mengumumkan siswa yang meraih nilai tertinggi, selanjutnya para Wali Kelas menyerahkan ampelop berisi pengumuman kelulusan. Setiap satu orang siswa mendapatkan satu ampelop yang berisi keterangan lulus atau tidak lulus yang dilengkapi dengan nilainya. Pada saat itulah pecah tangis haru dari para siswa yang gagal lulus. Terasa pilu juga hati menyaksikan beberapa orang siswa yang tidak lulus itu. Mereka menangis sesunggukan. Beberapa orang guru memeluk mereka untuk menenangkan. Tapi mereka tetap saja tidak bisa tenang. Sementara para rekannya bergembira dan haru, tapi mereka tidak lulus jelas akan membuat mereka sedih.

Memang dapat dipahami kalau mereka sangat berduka dan sedih. Dari seratusan peserta yang ikut dalam UN kali ini, hanya tiga orang di sekolah ini yang tidak lulus. Ketiganya juga dari Jurusan Ilmu-ilmu Sosial. Memang, di sekolah lain ada juga yang tidak lulus sampai empat atau enam orang per sekolah. Begitu Kepala Dinas menjelaskan kemarin. Tentu saja mereka sangat pilu hatinya menerima kenyataan tidak lulus di tengah-tengah temannya yang lulus. Tapi apakah ada gunanya menagis saat itu? Tidak ada gunanynya.

Sangat sudah terlambat jika baru menangis pada saat pengumuman. Sejatinya para siswa menangis dan menyesali diri jauh-jauh hari. Bukankah para guru sudah mengingatkan bahwa untuk menghadapi UN mestilah dengan persiapan yang cukup? Tidakkah peringatan itu sudah disampaikan jauh-jauh hari? Di awal tahun di kelas XII sesungguhnya sudah diingatkan untuk lebih meningkatkan kesungguhan untuk belajar. Bahkan sejak dari kelas X pun sudah diingatkan kalau nanti aka nada UN yang masih menjadi momok itu.

Sayangnya masih ada siswa yang tidak juga bersungguh-sungguh dalam kesehariannya di sekolah. Kini setelah sampai di ujung perjalanan, artinya ‘nasi sudah menjadi bubur’ maka hasil apapun mestilah diterima. Tidak perlu menangis. Itu tidak perlu. Itu hanya akan menambah kerugian sendiri. Mendingan pikirkan kesempatan untuk mengulang kembali untuk satu tahun lagi. Coba lebih bersungguh-sungguh. Jika tidak juga, masih ada peluang ikut Paket C di bulan Agustus nanti. maka jangan bersedih lagi, wahai calon generasi pengganti.!***

Sabtu, 17 Mei 2014

Ketika Sehat Menjadi ‘Mahal’


SEJATINYA sehat itu tidaklah mahal. Tidak harus menghabiskan uang atau belanja yang banyak. Tapi kelalaian dan keteledoran dalam menjalani hidup dan kehidupan dapat membuat biaya kesehatan menjadi mahal dirasakan. Ketika semuanya sudah terlanjur ‘keliru’ maka harga kesehatan tidak lagi bisa diukur dengan uang. Uang malah menjadi tidak berharga, berapapun besarnya.


Sepekan yang lalu saya ikut bergabung dengan seorang teman yang duluan bergabung ke dalam 4Life, sebuah kelompok Multilevel Marketing di bidang kesehatan. Ikut 4Life (For Life), maksud saya adalah untuk memahami dan mencoba, sejauh mana produk ini sebenarnya memberikan kenyamanan badan sebagaimana dijelaskan oleh beberapa orang member 4Life yang sudah bergabung ke dalam perusahaan ini.

Jujur saja, saya penasaran mendengar penjelasan mereka yang begitu mencengangkan. Saya benar-benar ingin tahu mengapa begitu antusiasnya mereka bergabung dengan 4Life. Saya teringat, saya sudah pernah bergabung dengan Herbalife, Tiansi, dan beberapa perusahaan kesehatan yang menggunakan sistem MLM. Ketika bergabung di awal-awal, saya begitu bergairah. Tapi di ujung-ujungnya saya tidak mampu menjalankannya sesuai rencana. Akahirnya saya hanya menjadi konsumen yang memanfaatkan produk-produk itu untuk kesehatan sendiri. Tentu saja itu tidak ada salahnya.

Kini saya bergabung dengan 4Life setelah mengikuti tiga kali seminar kesehatan yang membahas kehebatan produk baru ini. Menurut Nchek Ikram Din (seorang member 4Life asal Singapura yang sudah bergabung sejak sepuluh tahun yang lalu) bahwa produk-produk yang dihasilkan perusahaan asal Amerika ini adalah satu-satunya produk yang istimewa ada saat ini. Dia menyebut ‘molekul ajaib’ 4Life Transfer Factor ini sebagai produk kesehatan yang benar-benar ampuh.  Menurut penelitian, konon produk ini mampu meningkatkan system kekebalan tubuh hingga 437 persen. Sungguh luar biasa.

Tanpa ragu saya pun ikut join. Bergabung dengan menjadi member baru, untuk membuktikan penjelasannya itu. Bersama Pak Riadul Afkar yang sudah duluan masuk (sebelum saya) bergabung, saya ikut. Saya beranikan mengeluarkan modal kurang lebih 8 juta rupiah untuk ikut menjadi member dengan langsung di level diamond. Jujur saja, meskipun saya akan berusaha kelak menjalankan unsur bisnisnya namun saya bergabung lebih karena ingin mencoba produk ini untuk konsumsi sendiri terlebih dahulu.

Sebagai orang yang sudah mendekati usia senja (saat ini saya sudah 57 tahun) saya ingin kesehatan badan saya terjaga. Selama ini saya sudah mengonsumsi berbagai suplemen, herbal dan banyak vitamin untuk menjaga kesehatan selain menjalani pola hidup sehat dengan olahraga secara rutin. Saya selalu percaya kalau berbagai suplemen itu ada gunanya untuk badan kita asal pola hidup sehat tetap dijaga.

Kini, dengan memahami 4life lebih dekat saya juga akan memanfaatkan produk yang relatif mahal ini untuk konsumsi sendiri selain akan berusaha memperkenalkannya kepada rekan-rekan lain sebagai prospektif bisnis. Jika kelak saya bisa membuktikan manfaat dan khasiat produk ini, saya tentu akan meneruskannya kepada sahabat-sahabat lain. Intinya, saya ingin mengajak (berbuat) orang lain sehat untuk membuat diri saya sehat, tentunya.

Sekedar informasi yang saya simak dari penjelasan para member serta brosur yang saya baca, ternyata begitu luar biasanya manfaat yang akan dirasakan dari mengunsumsi produk ini. Sebagai sebuah produk yang akan meningkatkan sistem kekebalan tubuh, begitu mencengangkan kemampuan 4Life berbanding produk-produk lain. Menurut hasil uji laboratorium independen pada peningkatan kekebalan tubuh, ada beberapa produk dengan kemampuan peningkatan kekebalan tubuh yang luar biasa hebat. Misalnya, mangosteen (76%), IP 6 (49%), Plant Polysacharide (48%), Echinacea (43%), Bovine Clostrum (26%), Noni (15%) dan banyak lagi yang rata-rata di bawah 15 persen. Tahukah Anda? Ternyata 4Life Transfer Factor mampu meningkatkan sampai 283% sementara 4Life Transfer Factor Plus malah bisa hingga 437%. Sungguh luar biasa. Itulah sebebnya saya ingin mencobanya.

Apakah Anda ingin menyehatkan diri sendiri? Atau, apakah Anda ingin biaya sehat yang relatif murah? Untuk yang pertama mari bersama juga menyehatkan sahabat-sahabat lainnya. Moto 'together, building people' yang diusung 4Life Transfeer Factor layak untuk kita buktikan. Tapi untuk jawaban yang kedua, mulailah mengunsumsi produk ajaib ini secara teratur. Walaupun sepertinya berharga mahal, tapi itu tidak seberapa dibanding jika kelak terjangkit penyakit parah yang justeru memerlukan biaya yang jauh lebih mahal.***

Rabu, 14 Mei 2014

Kurangi 'Gaptek' dengan Medsos

DALAM pertemuan rutin pasca Apel Senin Pagi kemarin (Senin, 12/ 05) saya bertanya kepada rekan-rekan guru di sekolah. "Apakah semua guru sudah punya akun FB?" Maksud saya menanyakan facebook itu adalah untuk memberikan apresiasi kepada beberapa guru yang telah menggunakan akun FB-nya sebagai salah satu sarana mengembangkan kreativitas tulis-menlis.


Beberapa waktu lalu saya memang  pernah menyarankan kepada teman-teman guru untuk memiliki akun media sosial (medsos) seperti facebook, twitter, linkedIn, instigram, friendster, dan banyak lagi (sesuai kebutuhan masing-masing). Karena saya lebih sering memakai facebook dari pada medsos lainnya, saya pun lebih sering menyebut websos ciptaan Zuckerberg itu dalam keseharian. Dan beberapa rekan guru yang sudah menjalin pertemanan dengan saya melalui FB, sering saya sebut-sebut. Maksud saya agar medsos itu terus dipakai sebagai usaha mengurangi perasaan 'tak mampu' menggunakan teknologi komunikasi dalam keseharian.

Sebagai guru, sesungguhnya fasilitas teknologi seperti PC, laptop,ipad, dan lainnya tidak lagi dapat dinapikan dalam kesehariannya. Produk-produk pintar seperti itu akan menjadi bagian keseharian semua orang termasuk guru. Bagi guru sendiri, sarana informasi dan komunikasi itu tidak lagi sekedar berguna dalam kehidupan keseharian di luar sekolah tapi akan sangat berguna dalam tugas di sekolah itu sendiri. Komputer dan sejenisnya sejatinya adalah alat bantu pembelajaran yang sangat ampuh dewasa ini. Abad teknologi ini memang sudah bersama kita saat ini.

Tapi harus diakui, di tengah gempuran membludaknya produk-produk komputer dan yang sejenis, justeru masih ada rekan-rekan guru yang belum atau tidak mampu memanfaatkannya. Masih ada di antara guru yang tidak saja belum memiliki alat-alat itu tapi malah ada yang sudah memiliki namun belum mampu mengoperasikannya alias gaptek (gagap teknologi). Istilah gaptek akhirnya menjadi sebutan keseharian buat rekan-rekan guru yang tidak bisa menggunakan komputer.

Dewasa ini ada banyak medsos yang dengan mudah diakses melalui HP yang seharusnya dapat dijadikan strategi untuk menghilangkan --setidak-tidaknya mengurangi-- gaptek di kalangan guru. Sebutlah facebook, misalnya saat ini sudah dengan mudah diakses di HP yang setiap orang (guru) pasti sudah memilikinya. Dewasa ini sudah tidak ada lagi di antara kita yng tidak memiliki HP. Bahkan menurut penelitian, Indonesia adalah pengguna HP yang paling banyak di dunia. Bahkan jumlah HP di Indonesia melebihi jumlah pengguna HP itu sendiri. Artinya, rata-rata setiap orang memakai HP lebih dari satu buah.

Persoalan guru gaptek, bukanlah berita baru dan aneh. Di setiap sekolah, diperkirakan masih ada satu-dua atau beberapa orang guru yang gaptek. Menyongsong dan atau bersama abad teknologi informasi komunikasi dewasa ini, jika tidak mampu --sekurang-kurangnya-- mengoperasikan komputer, betapa akan menyedihkannya guru tersebut. Bagaimana guru mengelola dan melaksanakan pembelajaran tanpa alat canggih itu? Betapa akan sulitnya.

Oleh karena itu, membiasakan diri untuk familiar dengan medsos, sesungguhnya dapat membantu guru itu sendiri untuk terbiasa dengan alat-alat sejenisnya. Tidak hanya dapat mengurangi dan atau menghilangkan gaptek namun medsos juga akan berguna dalam usaha berlatih dalam kreativitas tulis-menulis. Semoga!

Jumat, 09 Mei 2014

Jadikan UN Penangkal Korupsi

UJIAN Nasional (UN) Tahun Pelajaran 2013/ 2014 untuk tingkat SLTP baru saja usai sehari yang lalu. Untuk tingkat SLTA (SMA/ MA/ SMK) juga sudah selesai kurang lebih sebulan sebelumnya. Terlepas dari beberapa kelemahan pelaksanaan UN, kegiatan akhir tahunan satuan pendidikan itu sudah berjalan sesuai rencana. Beberapa kekeliruan dalam pelaksanaan seperti keterlambatan distribusi soal, kesalahan cetak soal dan atau heboh penggunaan nama salah seorang capres dari salah satu partai dalam soal, tidak membuat pelaksanaan UN dibatalkan.


Diantara pro-kontra pelaksanaan UN sebenarnya ada satu sikap keliru yang terbawa dalam pelaksanaan UN selama ini. Sikap itu adalah sikap tidak/ belum jujur dari pihak-pihak tertentu dalam pelaksanaan UN. Masih kita dengar atau kita baca di media masa bahwa masih terjadi kebocoran soal UN. Ada kunci jawaban yang beredar sebelum UN dimulai. Ada calo yang berkeliaran 'menjajakan' kunci jawaban. Entah benar entah tidak kunci jawaban yang beredar itu adalah benar-benar kunci jawaban dari soal yang akan diujikan, tidak ada penjelasan. Tapi Mendikbud M. Nuh menjamin kalau soal UN tidak ada yang bocor. Benarkah jaminan itu?

Jika saja UN disikapi secara seragam oleh seluruh stakeholders, sesungguhnya UN dapat membina sikap jujur bagi semua kita. Pemangku kepentingan UN sesungguhnya tidak hanya peserta didik semata. Semua orang sebenarnya akan berkepentingan dengan UN.  Sebutlah guru, Kepala Sekolah, pegawai (di sekolah) lalu orang tua, keluarga, masyarakat (di rumah) dan tentu juga Pemerintah atau penguasa.

Jika UN berjalan dengan baik, keseluruhan pihak itu akan merasa senang dan puas. Sebaliknya jika UN kacau dan mendatangkan mudhorat, maka pihak-pihak itu juga akan merasa tidak puas. Tidak ada pihak dalam masyarakat yang akan benar-benar terlepas dari kaitan UN.

Pertanyaannya, sudahkah semua pihak itu sepakat dalam satu kata bahwa UN harus berjalan sesuai dengan peraturan dan ketentuan yang ada? Mungkin sebagian sudah setuju. Tapi mungkin sebagian masih belum mau dengan berbagai alasan. Bahkan ada pihak-pihak tertentu malah minta UN dihapuskan saja. Alasannya sederhana, anak-anak trauma dan takut tidak lulus.

Jika alasan tidak lulus itu disikapi dengan benar, juga tidak ada masalah. Tapi akan menjadi masalah jika tidak lulus itu dianggap sebagai sebuah hukuman. Seharusnya lulus atau tidak lulus adalah konsekuensi dari proses pembelajaran yang sudah dilalui oleh peserta didik. Artinya, jika semua jalur dan prosedur yang benar dalam pembelajaran diikuti dengan baik dan benar maka sebenarnya seorang siswa pasti akan lulus dalam UN. Tapi jika sebaliknya maka tentu saja tidak akan lulus.

Jadi, UN sebenarnya dapat membina sikap jujur, lurus, bertanggung jawab dan penuh semangat. Kejujuran inilah yang kelak membuat mereka bertindak benar sesuai aturan. Dan ketika kebenaran dan kejujuran sudah menjadi bagian dari kehidupan mereka maka secara otomatis, para siswa ini kelak tidak lagi akan melakukan kecurang-kecurangan dalam hidup dan kehidupannya.

Di sinilah nanti akan terlihat dan terbukti bahwa UN sebenarnya dapat menjadi penangkal sikap koruptif dan manipulatif yang pada hari-hari sekarang ini begitu banyak dilakukan bangsa ini. Artinya, UN sesungguhnya dapat menjadi pembelajaran dalam menangkal korupsi, insyaallah. Syaratnya, ya UN yang baru saja berlalu itu wajib dilaksanakan dengan baik dan benar. Jangan lagi karena memaksakan 'harus lulus' maka segala cara dilakukan siswa atau sekolah. Tidak merasa berdosa melakukan kecurangan dalam UN, inilah bahaya dan sifat tindakan koruptif akan terus ada. Sekali lagi, ini harus diubah. Jadikan UN sebagai pembelajaran jujuran untuk memupus korupsi di negeri ini.***



Selasa, 06 Mei 2014

(puisi) telanjangkanlah kami, tuhan


Ya Tuhan telanjangkanlah kami, bangsa ini
jangan sedikit seperti ini, bukakan semuanya sekali
biar kami tahu diri, siapa sesungguhnya kami ini

Itulah doa khusyuk kami yang ingin kami ucapkan saat ini 

Bukan  putus asa bukan sudah bosan menyaksikan kepura-puraan bangsa ini
terlalu banyak bohongnya dan itu ditutup pakai baju kotor sikap munafik kami
andai saja bangsa ini mau lebih terbuka lagi 
dengan keteledoran-keteledoran yang pasti
tidak akan bangsa kami seperti ini

bagaimana bangsa yang kata orang asing adalah bangsa yang kaya 
karena di laut ada ikan dan buaya yang kulitnya indah, di darat ada tumbuhan dan singa 
mataharinya juga bersinar siang mengganti bulan di waktu malam tapi kami
bisa menderita sepanjang masa
konon penyebabnya adalah karena banyaknya orang-orang tak bertanggung jawab 
yang kerjanya hanya berbuat kekeliruan dan kerusakan 
kemungkaran selalu berhasil ditutup dengan baik 
tapi syukurlah, kini sudah terbongkar macam-macam kemungkaran 

ada korupsi ada pencuri ada maksiat
orang berbuat jahat dan tidak juga dilaknat
kemarin-kemarin sebelumnya lagi,  juga banyak kasus kebobrokan yang terbongkar 
dan banyak lagi

ya tuhan 
telanjangkanlah kami dari kebohongan ini
biarlah kami mengerti akan dosa-dosa ini
jika tobat kami tidak juga kami tekadkan hari ini
atau besok dan entah berapa hari lagi
telanjangkanlah kami
kami tidak ingin mati dalam seribu dosa yang menimpa kami***

Sabtu, 03 Mei 2014

Surat Pendek buat Anakku, Ilfa



KEPADA Ananda, Ilfa di Tanjungpinang
Pada saat Bapak menulis surat ini, baru saja beberapa hari lalu Bapak mendapat informasi melalui pesan singkat (SMS) perihal kejayaanmu dalam ajang Festival Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) tingak SLTA di Ibu Kota provinsi, Tanjungpinang. Agak lambat menulis surat ini karena kesibukan-kesibukan di sini. Bahkan boleh jadi, Ananda sudah kembali ke Karimun, hehe. Tapi Bapak akan teruskan menulis surat terbuka ini karena bisa juga berguna untuk pembaca lainnya.


Bapak ingat, Ananda Ilfa dan Syarif kemarin itu berangkat bersama beberapa orang lagi teman-teman dari sekolah lain se-Kabupaten Karimun ini untuk menmgikuti fesitival tingkat provinsi itu. Kami yang ditinggal di sekolah tentu saja berharap sekaligus berdoa semoga kalian semua yang menjadi duta kabupaten sukses dalam festival itu. Kalian adalah duta kabupaten yang dipercaya Pemerintah Daerah Karimun setelah sukses dalam ajang yang sama di tingkat kabupaten pada tahun 2014 ini.

Informasi yang Ananda sampaikan lewat SMS ke salah seorang guru dan guru itu menyampaikannya pula kepada kami para guru, akhirnya kami tahu bahwa Ananda Ilfa sukses menyabet juara pertama mengalahkan duta Kota Batam dan Kabupaten Bintan yang harus puas di tempat kedua dan ketiga. Kami di sini tentu saja sangat bangga dan puas karena Ananda sukses dan mampu mengalahkan sahabat-sahabat dari tujuh kabupaten/ kota se-Provinsi Kepri dalam lomba membaca puisi.

Sebenarnya yang membuat Bapak dan para guru lain senang dan puas, disamping kesuksesan Ananda menggondol tropi itu, lebih-lebih lagi adalah karena informnasi itu langsung dapat Bapak terima hanya beberapa saat setelah Ananda mendapatkan juara itu. Begitu cepatnya berita kesuksesan itu sampai ke Karimun yang jaraknya dari Tanjungpinang membutuhkan empat jam perjalanan laut. Memamng tidak aneh, karena ada HP (Hand Phone) yang menyambungkannya. Tapi di sinilah Bapak ingin berbagi perasaan dan pikiran. Surat ini juga Bapak harapkan dibaca oleh guru-gurumu atau teman-temanmu yang lain,  entah dimana saja mereka berada saat ini.

Ananda, Ilfa. Satu imej yang terlanjur jelek mengenai HP di sekolah selama ini adalah 'larangan' membawa HP ke kelas, bahkan ke sekolah. Pernah suatu waktu, sekolah-sekolah melarang siswanya membawa HP. Malah larangan itu tertuang jelas dalam tata tertib sekolah. Bukan hanya di sekolah kita tapi hampir di banyak sekolah. Ananda tentu masih ingat, sekolah kita juga melarangnya, dulu.

Kini HP tidak harus dilarang lagi. Selain untuk komunikasi seperti yang Ananda lakukan itu, HP pun sudah sangat berkembang pemanfaatannya. Melalui HP berbagai informasi sudah dapat diakses dengan mudah. Bukan hanya HP-HP yang smart saja yang memudahkan kita berkomunikasi dan mencari informasi tapi HP yang sudah jadul pun sangat membantu. Makanya, tidak saatnya lagi pelarangan HP buat siswa di sekolah.

Perihal penyalahgunaan HP oleh siswa untuk keperluan yang tidak positif seperti untuk mengakses situs-situs 'jorok' atau sekedar menyimpan foto atau video jorok, itu tidak boleh. Sekolah pasti akan memberi sanksi bagi siswa-siswa yang melakukannya. Sekolah juga sudah berkoordinasi dengan orang tua di rumah untuk saling mengingatkan penylahgunaan HP untuk keperluan yang tidak baik itu.

Mungkin surat ini malah menjadi tidak singkat karena Bapak terbawa haru ataas prestasi Ananda itu. Semoga prestasi itu semakin meningkat di masa-masa yang akan datang. Teman-teman lain juga semoga akan terinspiriasi dengan prestasi di tingkat provinsi itu. Tentu saja nanti akan ada kesempatan membuktikan kemampuanmu di tingkat Nasional. Berlatihlah terus agar kemampuan itu semakin hebat.

Demikainlah Bapak sampaikan. Syabasy dan selamat untuk Ananda Ilfa dan seluruh teman-teman lainnya yang ikut dalam ajang lomba ini.***
 
Copyright © 2016 koncopelangkin.com Shared By by NARNO, S.KOM 081372242221.