BREAKING NEWS

Rabu, 30 April 2014

Madrid ke Final Setelah Mencukur Munich Empat Gol



BENAR analisis pengamat bola, kalau laga semifinal kedua antara Bayern Munchen kontra Real Madrid di Allianz Arena, Rabu (30/ 04 di Indonesia) ini bakal sengit dan penuh intrik. Madrid yang berhasil menabung satu gol di Sentiago Bernabeu sepekan lalu diperkirakan akan bermain bertahan sementara Munich diperkirakan akan menyerang habis.


Carlo Ancelotti sudah menjawab sebelum bertanding bahwa anak-anaknya akan bermain menyerang. Dan memang terjadi, kalau Real Madrid tidak sama sekali bertahan. Kick off bermula dari kaki mereka dan bola tidak dikirim ke belakang berlama-lama namun langsung ke depan. Tanda-tanda mareka tidak akan bertahan memang terbukti.

Menit-menit awal penguasaan bola masih berimbang. Sayap kiri dan kanan Bayern beroperasi lumayan agresif membuat pemain bertahan Madrid cukup tertekan. Namun kietenangan lini belakang anak-anak Madrid membuat ancaman ke gawang Ikar Casilas tidak terjadi. Sampai sepuluh menit awal itu suhu pertandingan cukup 'panas' dan sorak-sorai gemuruh pendukung tuan rumah menambah suasana laga sangat enak untuk ditonton (walau saya hanya nonton lewat tivi dengan gambar tak bersih, hehe).

Malapteka mulai terjadi ketika Madrid mendapat berkah tendangan sudut di menit ke-16. Tenndangan terukur Modric disambut Sergio Ramos dengan sundulan super kencang. Bola bak peluru itu jelas tidak akan terbendung oleh Neur, palang pintu terakhir Munich, 0-1 untuk tamu.

Terkejut oleh gol cepat itu, Pep Guardiola mengingatkan anak-anaknya untuk lebih agresif. Tapi hebatnya pertahanan Madrid membuat penyerang-penyerang Munich sama sekali tidak memberikan ancaman apa-apa. Banyak kesalahan yang dilakukan pemain tuan rumah sementara serangan Madrid justeru lebih mengancam meskipun hanya sekali-sekali saja Ronaldo dan Bale menggiring si kulit bundar.

Lima menit setelah gol indah Ramos, Madrid kembali mendapat tendangan bebas dari pelanggaran pemain Muncih. Dan lagi-lagi malapetaka itu datang. Ramos si pengoyak jala pertama, ternyata membuktikan kembali bahwa sundulnya malam ini memang membawa maut bagi tuan rumah, 0-2. Pep tampak sekali gusar menyaksikan gol kedua itu. Agrigate begitu berat, 0-3. Sesuatu yang semakin mustahil untuk dilakukan.

Anak-anak Die Roten memang belum tampak gugup atau putus asa. Mereka masih tetap lebih lama menguasai bola walaupun tidak terlalu memberikan ancaman. Ancaman justeru lebih banyak diberikan oleh Ronaldo di kanan dan Bale di kiri garis pertahanan tuan rumah. Dan dari satu kesalahan pemaian pertahanan Munich, bola dicuri Modric lalu digiring cepat untuk dikirim ke Grate Bale yang membawa bola itu berlari secepat kilat. Selanjutnya bola dikirimkan ke sudut kanan yang diterima Ronaldo yang langsung mencdeploskannya ke gawang tuan rumah. Neur tidak berdaya membendung bola, 0-3.

Babak kedua, anak-anak Muncih kembali menjadikan kesempatan itu untuk usaha maksimal dan kesempatan terakhir untuk membuat keajaiban. Lima gol harus dicari untuk mimpi yang nyaris mustahil itu. Rubben dan Ribery terus mencoba dari kiri dan kanan. Support bola dari rekan-rekannya terus mengalir namun gol tidak juga terjadi. Pep mencoba mengganti dua pemain sekaligus. Daya dobrak ingin ditingkatkan tapi sampai menit ke-78 tidak ada gol. Hanya satu ancaman dari Gotze yang baru saja masuk. Jaraknya yang sudah dekat sekali dengan Ikar Casilas seharusnya menjadikan satu gol. Tapi tendangan kencangnya melambung di atas mistar gawang.

Madrid kelihatan sekali sudah yakin babak final sudah di tangan. Di menit ke-73 Ancelotti tidak ragu mengisitirahatkan Ramos, si pemilik dua gol pembuka pagi ini. Die Roten benar-benar tampak kehilangan jalan menembus gawang madrid. Sepertinya memang sudah game over bagi tuan rumah. Di menit 82 Ancelotti kembali mengistirahatkan Di Maria, menggantinya dengan pemain yang masih baru. Pada menit ke 88 Ronaldo benar-benar membuktikan kehebatannya. Dari kesalahan pemain belakang yang membuat kesalahan dia berkesempatan mendapatkan tendangn bebas persis di dekat garis pinalti. CR-7  menutup babak kedua kedua ini satu lagi indahnya. Tendangan bebas itu menembus pagar hidup anak-anak Die Roten, 0-4.

Pep benar-benar termenung malu. Anak-anaknya dicukur tamu empat gol tambah ampun. Laga krusial ini benar-benar milik tamu, Real Madrid. Walaupun pedih, dia akhirnya menyalami Ancelotti setelah juri meniup fluit pertanda laga sudah usai dengan agrigate 0-5. Syabasya, Real Madrid dan perjuangan masih ada satu langkah untuk mencatat sejarah La Decima.***

Selasa, 29 April 2014

Status FB pun Karya Tulis



BELAJAR dan memulai menulis bisa dari mana dan di mana saja. Ketika tekad untuk belajar dan memulai menulis sudah dimiliki, maka jangan ada keraguan sedikitpun. Mulai saja menulis. Tulislah apa saja. Semakin ragu, semakin tidak menentu. Lama semangatnya akan hilang berlalu.


Ada penulis memberi resep, "Menulislah setiap hari, buktikan apa yang terjadi!" (Om Jay). Ada pula kalimat, "Menulis itu nenyalakan pelita hati." Atau kalimat begini, "Jadilah penulis dan pembaca maka Anda akan menjelajah dunia." Saya tak tahu, itu pernyataan siapa saja. Tapi ada ratusan bahkan ribuan kalimat motivasi dibuat untuk memberi semnagat kepada caloncalon penulis.

Walaupun demikian, ternyata tetap tidak mudah menyuruh seseorang untuk menulis. Bagi kita guru, terasa betul betapa sulitnya menyuruh siswa bahkan sesama teman guru untuk menulis. Berbagai alasan dijadikan penghalang untuk menulis. Dan alasan sepele tapi klasik adalah 'malas' atau 'tidak ada ide'. Sungguh alasan dari dulu hingga sekarang, selalu muncul kalimat ini.

Satu dua bulan ini, saya melihat rekan-rekan guru di sekolah sudah mulai ada sdikit berubah. Sejak hampir satu tahun lalu, ketika lahirnya peraturan yang mewajibkan membuat karya tulis (PTK, misalnya) bagi yang akan naik pangkat, maka motivasi untuk menulis itu semakin diperkuat. Rekan=rekan guru saling mengingatkan. Dan sejak itu pula, para guru sepakat untuk memulainya dengan membuat status yang pendek saja dulu. Isi status tentu saja diharapkan mengenai kejaidan sehari-hari.

Nah, satu dua bulan ini saya melihat ada beberapa guru yang mulai membuat status di akun faceboknya. Lebai? Tidak, karena selama ini ternyata jangankan memanfaatkan facebook untuk komunikasi dan pertemanan, malah ada yang tidak atau belum memiliki akun facebook. Dan ketika sudah ada yang rajin mengisi halaman facebooknya dengan kalimat-kalimat yang juga mengandung pesan, itu artinya sudah ada kemajuan.

Seorang guru menulis begini: "Suatu Pekerjaan apabila tdk segera dikerjakan,maka ianya akan menjadi sesuatu yg sangat memberatkan,bahkan bisa jadi ianya atau tdk akan terselesaikan.Begitu juga sebaliknya,pekerjaan yg segera diselesaikan akan membuat pikiran tenang, jadi sebanyak apapun pekerjaan apabila dikerjakan setahap demi setahap maka pasti akan terselesaikan.untuk itumarilah kita melawan rasa malas yang ada pada diri kita." (Ponila Wati, 29/ 04/ 14). Status ini dikomentari oleh beberapa orang guru. Itu juga bagus sebagai latihan menulis.

Ada juga contoh status seorang guru begini, "Seperti biasa agenda rutin sesudah upacara bendera senin 28 april 2014 pertemuan majlis guru bersama kepala sekolah untuk mengkoreksi perkembangan dan kemajuan sekolah dalam KBM serta bertukar informasi seputar output dan input pastinya.ada beberapa informasi dan koreksi yang di sampaikan pak Rasyid Nur sebagai pimpinan ke majlis guru mengenai..
1.kurangnya minat membaca para siswa siswi sma n3.sumber dari pengunjung pustaka satu hari hanya 4 orang siswa dgn orang yg sama.
2.tetap dan tidak akan berubah menanamkan nilai BUDAYA BERSIH,TERTIB, dan DISIPLIN dengan WAKTu.
3.ini yg tidak bisa di tawar lagi MENYONGSONG KURIKULUM 2013 permendikbut no 81A.
Untuk kls XI dan XII masih menggunakan ktsp sedangkan kls X menggunakan kurikulum 2013 mudah2an sman3 siap dan bisa menjalankan amanah yg di berikan dan di tugaskan oleh dinas pendidikan di karimun....." (Desseriyani Ardys) Tidak dikutip keseluruhannya. Lumayan panjang statusnya.Juga dikomentari oleh beberapa orang lainnya.

Jika guru memang belum mau membuat tulisan yang lebih panjang (lengkap), saya percaya dengan aktif menulis akun facebook pun akan mampu terbina kreativitas tulis-menulisnya. Tentu saja akan menjadi kunci, apakah bisa konsisten secara rutin atau sebaliknya, menggunakan filsafat 'panas, panas tahi ayam?" Jika konsisten dan rutin membuat dan menyampaikan gagasan di status facebook, insyaallah itu juga akan menjadi karya tulis. Tapi harus terus ditingkatkan hingga saatnya menjadi sebuah karya tulisan yang sebenarnya. Banyak membaca? Ya, itu wajib jika ingin mengembangkan keterampilan menulis.***

Senin, 28 April 2014

Barca Menang Meski Memasukkan Bola Lebih Sedikit



LAGA antara Villareal kontra Barcelona pagi Senin (28/ 04 di Indonesia) ini dimenangkan oleh Barcelona walaupun memasukkan bola ke gawang hanya satu sementara Villareal memasukkan bola empat kali. Lazimnya yang lebih banyak memasukkan bola, itulah kesebelasan yang memenangkan pertandingan. Tapi laga pagi tadi itu, justeru sebaliknya. Mengapa?


Biasalah, karena Villareal tidak hanya menjebol gawang lawannya tapi juga --tak sengaja-- memasukkan si kulita bundar ke gawang sendiri. Itu pun dapat dimaklumi karena laga krusial antara si kuning dengan si jalur merah-biru itu berlangsung di bawah tekanan anak-anak Barca.

Dari menit-menit awal, Barca menekan habis tuan rumah. Di bawah gemuruh penonton tuan yang memadati stadion kebanggaan Villarreal, Barca tidak sedikitpun mengendorkan tekanan. Tapi justru yang beruntung adalah tuan rumah. Dari serangan balik di ujung waktu babak pertama itu Cani dengan sontekan terukurnya menjebol gawang Jose Manuel Pinto di sebelah kiri, 1-0 untuk tuan rumah.

Di babak kedua, tekan kian hebat. Serangan bergelombang bertubi-tubi datang. Anak-anak Villarreal kian keteteran. Tapi Messi dan kawan-kawan selalu kandas. Beberapa peluang emas tidak satupun menjadi gol. Sekali lagi, justeru tuan rumah membuat pelatih barca termenung. Pada menit 58 atau 60 itu Trigueros menjhebol gawang Pinto sekali lagi dengan sundulan kerasnya, 2-0.

Laga terus beralngsung keras. Dengan amunisi baru, Barca menambah daya gedor. Dan pada menit ke-65, tim tamu mendapat hasilnya. Bola kencang dari pemain Barca, tertahan di kaki Paulista dan meluru masuk ke gawang sendiri, 2-1. Pemain Barca tidak terlalu merayakan gol itu tapi langsung mengambil bola untuk dibawa ke titik tengah. Tentu saja mereka tidak sabar untuk mencari gol penyamaan.

Benar saja, gol penyamaan itu datang. Dan gol itu, lagi-lagi 'hadiah' dari tuan rumah. Umpan Dani Alves disambut oleh salah seorang pemain Villarreal dengan tidak sengaja. Bola itu pun meluncur kencang ke gawang sendiri lagi, 2-2. Pemain Barca mulai sedikit merayakan gol kedua itu. Tapi mereka masih terus menekan.

Tekanan demi tekanan membuat anak-anak Villarreal kian tersudut. Serangan cepat Barca membawa si kulit bundar ke area pinalti tuan rumah. Dalam sebuah kemelut pada menit 83 itu, Messi mendapat bola lambung sedikit dan dikontrol sedikit lalu diceploskan ke gawang yang sudah tinggal dua meter saja di depannya, 2-3. Barulah para pemain Barca berpelukan dengan gol kemenangan itu.

Tuan benar-benar menderita. Sudah unggul dua gol dan memasukkan bola sampai empat kali, justeru harus tertunduk lesu meninggalkan lapangan sendiri. Villarreal bukan tidak beruntung tapi Barca memang menerima kerja kerasnya dengan sebuah kemenangan yang sangat diharapkan. Persaingan merebut tropi La Liga memang belum berakhir. Tiga klub, Atleco Madrid, Real Madrid dan Barca sendiri masih berpeluang. Jadi, kemenangan ini sungguh penting buat Barca. Selamat, Barca. Kalian sudah dibantu tuan rumah.***

Kamis, 24 April 2014

Rasa Bangga bukan Rasa Berjasa

KERJA keras dan usaha terus-menerus dalam mengembangkan sekolah akan menghasilkan sekolah yang baik. Tidak ada sekolah yang berhasil menjadi sekolah kebanggaan tanpa kerja keras dan bersungguh-sungguh dari Kepala Sekolah, Guru, Pegawai dan siswa bahkan orang tua dan masyarakatnya. Semua komponen sekolah, jika secara bersama-sama secara harmonis melaksanakan fungsi dan tanggung jawabnya maka akan lahirlah sekolah yang terbaik.


Sekolah yang baik dengan berbagai sebutan seumpama sekolah unggul, sekolah teladan, sekolah binaan, dll pada dasarnya adalah sekolah dengan pengelolaan yang benar oleh semua komponennya. Mengutip pendapat para ahli, sekolah unggul itu akan bermula dari perumusan visi-misi yang jelas. Visi-misi yang singkat tapi cukup menantang untuk direalisasikan akan membuat komponen sekolah dengan mudah merealisasikannya.

Pada umumnya, sekolah seperti itu akan memulai segalanya dari pemahaman kebiasaan (kultur) sekolah itu sendiri. Sebagai sebuah institusi dengan orang-orang yang ada di dalam dan di sekitarnya, ditambah dengan fakta pendukung yang ada, maka akan diketahuilah kultur seperti apa yang dimiliki sekolah tersebut. Dari situlah perencanaan dan persiapan pelaksanaan akan dimulai. Lebih dari itu, sekolah yang baik juga adalah sekolah yang menghargai profesi guru dan tenaga administrasi lainnya. Kolaborasi pekerjaan tidak hanya dengan komponen yang ada di sekolah tapi juga dengan masyarakat lainnya.

Ketika sebuah sekolah mampu meraih predikat terbaik dan mendapat temnpat di hati masyarakat, tidak jarang ada saja pihak-pihak tertentu yang akan membusungkan dadanya. Merasa banyak melakukan sesuatu untuk kemajuan sekolah, lalu timbullah rasa bangga yang diikuti perasaan berjasa. Perasaan berjasa inilah yang seharusnya tidak perlu dimunculkan.

Boleh saja ada yang merasa bangga atas prestasi sekolah yang dikelola. Boleh saja hati senang dan puas atas keberhasilan sekolah tempat bekerja. Itulah perasaan yang pantas untuk dinikmati atas segala usaha dan jasa yang sudah diberikan. Perasaan bangga akan membuat semangat bertambah kuat untuk menghadapi tugas-tugas berat ke depannya.

Tapi jika perasaan bangga atas segala usaha itu diikuti pula oleh perasaan berjasa, di situlah akan timbul perasaan lain yang tidak baik, yaitu perasaan sombong dan angkuh. Terlalu membanggakan segala usaha yang sudah dilakukan, akan membuat seseorang merasa dirinya lebih penting dari pada orang lain. Jika itu terjadi, akan bermulalah kerusakan yang lebih parah ke depannya. Kecendrungan untuk tidak lagi saling mengharai akan merasuki perasaan. Kolaborasi yang sudah mesra selama itu akan rusak serasa tidak diperlukan lagi. Itulah sebabnya tidak tepat perasaan berjasa. Tapi cukuplah merasa bangga saja dengan segala yang sudah diberikan.***

Rabu, 23 April 2014

Jika Sudah Memberi, Mintalah

LAZIMNYA jangan meminta apa-apa kalau sudah memberi. Pemberian yang ikhlas adalah pemberian yang tidak pernah diingat-ingat lagi. Tidak ada keinginan untuk meminta-minta atas apa yang pernah diberi. Kalau perlu memberi itu dalam keadaan sembunyi-sembunyi agar tidak ada yang tahu. Dengan begitu tidak ada keinginan untuk meminta apapun atas pemberian itu. Dalam agama bahkan diibaratkan bagaikan tangan kanan memberi tapi tangan kiri tidak mengetahui. Begitulah tersembunyinya pemberian supaya tidak ada keinginan untuk minta dibalas.

Tapi konsep itu sepertinya tidak bisa diterapkan begitu saja dalam hiruk-pikuk Pemilu lalu itu. Justru apa yang diberikan dalam Pemilu haruslah dimintakan pertanggungjawaban pemberian itu. Bukankah ada yang sudah memberi dan kini (pasca Pemilu) pemberian itu wajib diminta buktinya? Kepada siapa memberi maka kepada orang itu dia harus meminta bukti. Dan orang yang pernah merasa diberi wajib memberi buktinya kembali.

Kata Bambang W, salah seorang pimpinan KPK, "Jika Anda sudah memberi, maka mintalah kembali apa bukti yang akan mereka beri." Bambang mengatakan begitu untuk menagih janji-janji dari para caleg yang telah kita beri suara. Mereka harus membalas 'budi' suara yang kita beri. Dia menyarankan kepada setiap masyarakat pemberi (suara) untuk meminta (janji-janji yang pernah ditawarkan) oleh caleg kepada yang memberi suara. Bukankah penerima suara kita itu berani berjanji, kalau kita memberikan suara (pilihan) kepada mereka maka mereka (baca: Caleg) itu akan memenuhi keinginan kita? Saya setuju ide Ketua KPK itu. Pada umumnya yang mereka janjikan adalah akan memberi kemudahan dalam berbagai urusan dan kebutuhan masyarakat setelah mereka duduk sebagai anggota DPR/ DPRD.

Pasti kita ingat ketika mereka berkampanye, para caleg itu selalu memberi janji-janji akan lebih mementingkan kepentingan masyarakat dari kepentingan diri atau kelompoknya. Ada yang akan membantu membangun berbagai fasilitas di suatu daerah dan ada pula yang memberi janji akan membantu di bidang sosial dan pendidikan, misalnya. Intinya mereka akan lebih mengutamakan kesejahteraan rakyat dalam setiap membuat keputusan di parlemen. Benarkah akan begitu?

Kini, setelah Pemilu usai, KPU pun sudah mengumumkan para caleg yang akan menduduki kursi Parlemen periode 2014-2019 yang akan datang. Maka tibalah saatnya rakyat meminta janji-janji itu kembali. Benarkah kata Bamang, kalau sudah memberi maka mintalah kembali. Artinya, kita sudah memberi suara kita kepada merekia maka kini kita minta bukti janji-jnaji yang pernah mereka umbar kepada kita. Ini perlu terus ditagih agar mereka tidak lupa. Jangan pernah percaya begitu saja tanpa memintanya. Sekali lagi, mereka cenderung akan lupa kalau sudah keenakan duduk di kursi empuknya. Ayo, mari kita tagih janji itu.***

Senin, 21 April 2014

Peringatilah Kartini dengan Menulis


CATATAN seorang teman di website Guraru, yang menjelaskan bahwa Kartini, pahlawan wanita Indonesia itu dikenang tersebab tulisan-tulisannya. Saya setuju, itu. Dan bahwa saat ini ternyata Kartini lebih identik dengan kebaya, itu pun fakta. Saya juga tidak akan membantah. Lalu, jika ada yang menambah penjelasan kalau wanita yang lebih hebat dari pada Kartini juga ada, itu pun tidak masalah. Diskusi tentang Kartini akan selalu hidup di mana-mana dan entah sampai bila-bila masa.

Hari ini, Senin (21/ 04/ 14) kembali bangsa Indonesia  memperingati Hari Lahirnya Ibu Kartini, sang yang disebuat sebagai wanita perintis emansipasi. Kembali pula di mana-mana ada acara lomba dan acara-acara lainnya yang menonjolkan pakaian kebaya. Sebuah sekolah yang tengah melaksanakan perpisahan kelas akhir juga menyarankan warga sekolah untuk menggunakan kebaya. Para penyiar, guru dan pegawai serta wanita-wanita lainnya hari ini juga ramai yang menggunakan kebaya sebagai pakaiannya.

Apakah Kartini identik dengan kebaya? Itulah yang tertanam di pikiran wanita-wanita Indonesia. Remaja-remaja wanita yang jika ada lomba yang diselenggarakan sekolah atau lembaga-lembaga tertentu juga menggunakan kebaya sebagai pakaian khasnya, jelas akan selalu menganggap Kartini adalah kebaya. Menyebut dan melihat Kartini maka yang selalu menonjol adalah kebaya. Anak kecil sampai yang tua renta, jika ada dan mengikuti acara maka akan memakai stelan kebaya.

Tidak ada yang salah dengan pakaian khas daerah yang bernama kebaya itu. Tapi sebenarnya ada esensi yang lebih utama yang sejatinya diketahui generasi muda wanita atau kita semua berkenaan dengan Kartini. Sesungguhnya Kartini memang terkenal karena catatan-catatan atau tulisan-tulisannya. Tulisan berupa surat-surat pribadi yang dia kirimkan ke sahabatnya di belahan bumi sana, itulah yang membuat namanya dikenal. Buku Habis Gelap Terbitlah Terang yang merupakan kumpulan surat-surat itu telah membuat namanya terkenal kemana-mana. Dan buku yang pertama terbit dalam Bahasa Belanda itu, telah membuat orang terkagum-kagum dengan pikiran-pikiran Kartini yang dinobatkan sebagai wanita Indonesia pertama yang memperjuangkan nasib wanita.

Terlepas dari masih banyaknya wanita Indonesia seangkatan Kartini bahkan lebih duluan dari Kartini yang ternyata juga berjasa sangat besar dan hebat untuk kemanusiaan, nyatanya Kartini sudah terlanjur kita akui kehebatannya. Dia adalah pahlawan Nasional yang diakui sejarah bangsa kita. Biarlah itu menjadi sejarah. Dan ahli sejarah pula yang akan meluruskan jika ada yang harus diluruskan.

Buat guru dan siswa bahkan siapa, tentunya, kenyataan Kartini terkenal tersebab surat-suratnya kiranya akan menjadi penyemangat buat kita untuk menjadikan budaya menulis sebagai bagian dari keseharian kita. Biarlah hari ini kita tidak terkenal atau belum dikenal walaupun sudah mencoba menulis juga. Kita percaya tulisan-tulisan yang tersebar dimana-mana itu akan mencatatkan nama penulisanya di hati para pembaca. Dan jika kita ingin memperingati Kartini, marilah kita peringati dengan menulis juga sebagaimana Kartini dulu juga menulis. Jika belum terbiasa menulis, marilah momen peringatan Kartini ini dijadikan tonggak untuk memulai kreativitas menulis. Kartini memang terkenal karena tulisannya itu.

Kita tidak harus memperdebatkan kebaya yang sekarang lebih terkenal dari pada Kartininya. Kita juga tidak berkompeten untuk menyanggah keabsahan kepahlawanan Kartini karena diduga ada wanita lain yang lebih hebat. Yang cukup penting buat kita adalah bahwa Kartini terkenal karena surat-suratnya, dan surat-surat itu adalah bukti autentik perihal kreativitas menulis Kartini, maka pesan penting ini seharusnya kita ambil. Mari, walaupun terus merasa belajar menulis, tapi teurs sajalah kita menulis. Mari memperingati Kartini dengan membina dan mengembangkan aktivitas menulis kita. Wallohu a'alam. ***

Jumat, 18 April 2014

Diantar dan Dijemput Hujan

BOLEH disebut istimewa perjalanan kali ini. Berangkat dari Pelabuhan Karimun di tengah hujan sangat lebat dan menjelang ke Hotel Komfort Tanjungpinang juga disambut dengan guyuran hujan yang sangat lebat. Berdua dengan Kepala SMK Negeri 1 Karimun, Agus Priombodo kami berangkat dari Karimun ke Batam dengan KM Mikonata. Lalu bersama ke Punggur naik taksi untuk terus menyeberang ke Tanjungpinang dengan KM Marina. Dari pelabuhan Byintan Pura Tanjungpinang terus ke Hotel Comfort dengan naik taksi yang ternyata hujan lebat menyambut kami kembali, tujuh menit menjelang sampai.

Perjalanan dari Karimun ke Tanjungpinang sampai ke Hotel Comfort sebenarnya cukup lama. Setengah hari perjalanan. Tapi hujan itu hanya di awal dan diakhir saja. Ketika sampai di pelabuhan domestik Karimun sekitar pukul 08.00 pagi belum ada hujan. Dari rumah (Meral) naik kenderaan kurang lebih 15 menit ke pelabuhan tidak ada hujan. Satu jam duduk sambil menunggu trayek kapal ke Batam juga tidak hujan. Baru beberapa menit menjelang pukul 09.00, saat kami akan naik ke kapal turun hujan sangat lebat itu. Kami harus basah merempuh hujan menjelang masuk kapal.

Saya dan Pak Agus sempat berpikir, apakah akan terus berangkat atau menunggu hujan reda. Ada kekhawatiran angin di laut. Takut gelombang bergelora dan akan menggoyang kapal kami. Saya memang takut sekali jika naik kapal di musim angin. Tapi akhirnya, dengan mengucapkan 'bismillah' kami berangkat saja. Ticket juga sudah dibeli untuk ke Sekupang, Batam walaupun kami tak dapat duduk karena kelebihan penumpang. Teksi di Batam pun sudah ditelpon untuk berangkat ke Punggur dari Sekupang nanti.

Tepat pukul 09.15 kapal yang tidak terlalu besar itu bergerak menuju Batam. Hanya beberapa menit saja ternyata hujan sudah reda. Sampai di Sekupang Batam sekitar pukul 10.30 sama sekali juga tidak hujan. Sopir taksi yang sudah kami kontak sedari Karimun tadi sudah menunggu. Lalu kami berangkat menuju Pelabuhan Punggur. Kurang lebih satu jam kami sudah sampai. Tanpa banyak membuang waktu, membeli ticket Marina yang sudah mau lepas tali, akhirnya kami berangkat ke Tanjungpinang.

Kurang lebih satu jam mengharungi laut Punggur ke Tanjungpinang, kami pun sampai ke Ibu Kota Provinsi Kepri itu. Sama sekali tidak ada hujan di sini. Mata hari juga bercahaya ketika kami keluar dari kapal. Berhenti sebentar di kafe pelabuhan itu, makan siang dan perjalanan dilanjutkan ke Hotel Comfort. Dengan mencarter taksi (Avanza) kami pun meninggalkan pelabuhan. Tidak ada hujan di sini. Hujan baru berjumpa dan menyambut kami beberapa menit menjelang sampai. Hujannya benar-benar lebat. Di atas jalan yang kami lalui dipenuhi genangan air menguning oleh tanah. Ah, hujan mengantar dari Karimun dan hujan lagi menyambut di Tanjungpinang, kata saya dalam hati. Mungkin ini pertanda berkah dari Tuhan, begitu saya menenangkan hati.

Hari Jumat (18/ 04) ini saya berangkat ke Tanjungpinang bersama beberapa orang Kepala Sekolah lainnya dalam rangka akan mengikuti kegiatan Pelatihan Instruktur Nasional Diklat Kurikulum 2013 Bagi Kepala Sekolah di Kepri. Sebagai salah seorang calon yang diusulkan Dinas Pendidikan Kabupaten Karimun ke LPMP Provinsi Kepri saya ikut saja. Ada 9 orang Kepala Sekolah (SD, SMP, SMA dan SMK) se-Kabupaten Karimun yang dikirim ke Tanjungpinang. Bersama 60 orang Kepala Sekolah lainnya se-Provinsi Kepri  kami akan ikut dalam kegiatan yang diadakan di Hotel Comfort selama lima hari ke depan.

Dalam kebanggaan dan kekhawatiran serta rasa tanggung jawab yang besar, kepergian ini tentu saja memiliki makna yang cukup besar buat saya. Entahlah rekan-rekan yang lain. Dan hujan yang mengantarkan kami ketika akan masuk kapal di Tanjungbalai Karimun serta disambut lagi oleh guyuran hujan lebat menjelang sampai di hotel, bukanlah tanpa makna. Sekurang-kurangnya, kemarau panjang yang membayang empat bulan lamanya beberapa waktu lalu itu, membuat kami dalam taksi itu merasa senang saja. Bahkan sopir kami menyebut hujan itu sebagai berkah karena dia dulu-dulunya tidak pernah membeli air di rumah tapi kemarau kemarin katanya dia sampai harus membeli air. Maka hujan yang menyambut kami menjelang ke hotel, sekaligus mengotorkan avanza veloz barunya, tidak membuat sopir itu kecewa. Hujan oh hujan!

Kamis, 17 April 2014

Barcelona Tambah Merana

BARCELONA tambah merana. Ya, itu tidak berlebihan dan bukan karena perasaana fans yang marah. Setelah tersingkir dari perebutan Piala Champions yang mendekati final, Barca menderita di tangan Grenada yang berperingkat jauh di bawah di La Liga. Dan Barca harus turun ke peringkat tiga di bawah Madrid dan klub sekotanya, Atletico Madrid yang memuncaki klasmen sementara La Liga.


Angka 1-2 untuk kemenangan Real Madrid di Copa Del Ray yang dimainkan hari Rabu (dini hari Kamis, 17/ 04/ 14 Indonesia) sebenarnya tidaklah angka mutlak. Bukan kekalahan mutlak, melihat angka itu. Tapi kemenangan tetaplah kemenangan. Bagi Barca elclasico pagi tadi itu tidak sekedar misi mengembalikan nama besar Elbarca yang mengalami kekalahan dua kali berturut-turut dalam laga terakhir mereka tapi ada piala yang diperebutkan.

Laga pagi Kamis ini adalah laga final yang tentu saja akan mencatatkan nama klub ini sebagai juara edisi 2014 ini. Tapi apa daya. Pertandingan yang mereka kuasai dan sangat mendominasi permainan dan penguasaan bola ternyata menambah merananya merreka. Bagaimana menegakkan kepala di hadapan pendukung fanatiknya, jika harus kalah. Mereka dan para fansnya harus melupakan piala itu.

Bagi yang menyaksikan laga itu mungkin tidak berpikir Barca akan kalah. Real Madrid yang di menit ke-11 sudah menjebol gawang Pinto kelihatan sekali lebih banyak menunggu bola. Di awal-awal laga memang kelihatan keduanya mencoba saling serang. Ciri Barcelona yang menguasai bola dari kaki ke kaki tidak dibiarkan begitu saja oleh anak-anak Madrid. Tapi pasca Di Maria menjebol gawang Barca itu nyata anak-anak Madrid sedikit mengendorkan serangan. Gaya bertahan dengan serangan balik yang tajam, itulah yang mereka peragakan.

Pasti penonton akan deg-degan dengan serangan bertubi-tubi dari Barca. Sepertinya balasan satu gol itu hanya menunggu waktu saja melihat agresivitas serangan Barca. Tapi ternyata gol tidak juga tercipta. Barca masih tetap merana sampai fluit panjang di ujung babak pertama. Barulah di babak kedua, menit 69 gol balasan tiba. Sundulan Marc Batra yang menerima bola lambung dari tendangan sudut, berhasil mengecoh Ikar Casilas. Bola itu meluru ke sudut kiri penjaga gawang sednior Madrid. Bola itu memang sulit untuk dijangkau.

Asa yang hidup oleh gol balasan itu ternyata tidak bertahan hingga penutup laga. Alih-alih mendapat gol tambahan untuk meraih kemenangan, Barca justeru kecolongan. Lima menit menjelang waktu normal habis, Bale yang mendapat bola menusuk, dia tusukkan lagi bola itu ke depan. Larinya yang memang terkenal kencang, tidak dapat dikejar oleh pemaian bertahan Barca yang mencoba mengapitnya. Bale berlari terus menuju gawang dan menyodorkan bola itu dengan tenang ke selangkang Pinto, 1-2 untuk Madrid. Pemain-pemain Madrid berpelukan dan berhamburan ke salah satu sisi lapangan untuk merayakan gol itu.

Merana oh merana. Barca yang perakasa memang layak merana. Beberapa menit sebelum gol kedua Madrid sebenarnya Neymar sudah memberi harapan besar kepada klubnya. Dia suda berhasil melewati pemain belakang Madrid. Bola pun sudah disonekkan ke gawang Casilas. Tapi nasib merana benar-benar membuat merana. Bola itu mengenai tiang kanan gawang Ikar Casilas. Bola yang 99 persen masuk itu, tidak jadi membuahkan gol. Akhirnya, ya merana saja yang didapatkan. Semoga Barca tidak putus asa. Jika tahun ini puasa gelar, tahun-tahun nanti masih ada. Ayo, Barca jangan mau merana.***
Seperti sudah diposting di  http://olahraga.kompasiana.com/bola/2014/04/17/barcelona-tambah-merana-648470.html
 
Copyright © 2016 koncopelangkin.com Shared By by NARNO, S.KOM 081372242221.