BREAKING NEWS

Senin, 31 Maret 2014

Motivasi yang Asli adalah Teladan

KESULITAN memotivasi, salah satunya disebabkan oleh ketidakmampuan teladan motivasi. Ketidakmampuan memberi teladan oleh si pemberi motivasi untuk mencontohkan apa yang diharapkan adalah kegagalan awal dari hajat memberi motivasi. Tidak jarang, seorang guru, misalnya yang memberi motivasi siswanya justeru memunculkan antipati dari siswa karena guru gagal membuktikan apa yang diharapkan dari motivasi itu sendiri.


Seorang guru Pendidikan Agama (Islam) misalnya tidak akan berhasil memotivasi peserta didiknya untuk melaksanakan praktek ibadah jika anak-didik tidak mendapatkan teladan dari guru dalam praktek ibadah tersebut. Bagaimana berharap kepada anak-didik untuk taat solat atau berpuasa jika siswanya tidak yakin kalau gurunya sudah lebih dahulu melakukan. Jika di sekolah ada program solat berjamaah --zuhur atau asar-- misalnya, tapi oleh para siswa, guru-gurunya tidak terlihat melakukannya maka siswanya juga tidak akan tertarik untuk melakukannya. Tidak bisa dengan motivasi verbal saja.

Begitu juga guru Bahasa Indonesia misalnya, ketika memberi motivasi untuk terampil menulis atau membaca. Tidak akan mudah bahkan tidak akan bisa jika gurunya sendiri tidak bisa memberi teladan tentang menulis dan membaca. Gurunya boleh saja berbuih-buih memberi motivasi bagaimana hebatnya seorang penulis. Orang seperti Edgar Allen Poe, John Updike, JK Rolling atau Andre Hirata dan beberapa nama top di Tanah Air boleh saja disebut sebagai penguat contoh. Guru boleh saja mengatakan bahwa orang-orang itu menjadi terkenal dan kaya-raya kaena terampil menulis.

Persoalannya adalah apakah gurunya sendiri mampu meneladankan membaca dan menulis? Teladan itulah sebenarnya yang menjadi kunci dari berhasil-tidaknya motivasi yang diberi. Sekurang-kurangnya guru dapat membuktikan bahwa dia memang rutin membaca. Katakanlah dengan berlangganan koran atau majalah. atau bisa dengan menunjukkan bukti membeli buku secara rutin untuk dibaca. Dengan begitu, siswa akan percaya bahwa gurunya memang suka membaca. Dan ketika guru tersebut memotivasi siswanya untuk membaca tentu saja siswa akan terpengaruh dan akan termotivasi untuk membaca.

Hal yang sama juga berlaku untuk keterampilan menulis. Guru yang memotivasi siswanya menulis, akan lebih mudah jika guru bersangkutan dapat menunjukkan bahwa dia juga belajar dan bisa menulis. Sejelek dan sesederhana apapun karya tulis yang dibuatnya, itu adalah bukti bahwa guru tersebut sudah melakukan kreativitas menulis. Dan jika guru tersebut memotivasi siswanya untuk menulis, ada kemungkinan para siswanya akan percaya dan akan termotivasi.

Mungkin tepat analogi memandikan kambing atau kuda. Seorang penggembala kuda yang ingin memandikan kudanya maka dia sendiri harus masuk terlebih dahulu ke dalam sungainya. Kuda itu harus ditarik dengan talinya. Tidak bisa berharap kudanya akan mandi sendiri. Tapi harus ditarik dan dibuktikan bahwa tuannya juga masuk ke dalam sungai. Dengan begitu barulah kudanya akan mandi.

Dalam hal memberi motivasi, mungkin tidak seekstrim itu. Mungkin saja seseorang termotivasi dengan kalimat-kalimat tertentu oleh sang motivator walaupun tanpa membuktikannya sendiri. Tapi tetaplah akan lebih baik dan meyakinkan sasaran motivasi jika si pemberi motivasi memang sudah membuktikan apa yang dia harapkan kepada orang yang diberi motivasi. Singkatnya, lakukan terlebih dahulu baru menyuruh kepada orang lain. Itulah kunci dari motivasi, yaitu teladan.***

Minggu, 30 Maret 2014

Disiplin Kok Ditanya

INI pengalaman seorang guru. Saya tahu dia cukup disiplin dalam menjalankan tugas di sekolah. Datang selalu lebih awal dari pada rekan-rekannya yang lain. Sekolah masuk untuk belajar pukul 07.15 (WIB) tapi dia sudah hadir di sekolah pada pukul 06.40. Setiap datang pagi, dialah yang pertama mencecahkan jempolnya di pinger spot sekolah tempat dia mengabdi. Kalaupun ada yang mendahuluinya, itu adalah para guru atau pegawai Tata Usaha yang bertempat tinggal di perumahan sekolah. Mereka biasanya 'cap jempol'sebentar lalu pulang lagi. Tapi guru ini memang datang pagi dari rumahnya yang cukup jauh dari sekolah.

Baru-baru ini pendidik ini 'curhat' dan sedikit mengeluh kepada saya. Katanya, kebiasaannya datang lebih pagi justeru dipertanyakan oleh sebagian teman-temannya. Bukan hanya kehadiran lebih awal itu yang seolah-olah dipertanyakan malah beberapa kebiasaannya yang lain, yang menurutnya justeru mengikuti disiplin sekolah juga ditanya-tanya. Pertanyaan itu serasa mengganggu, katanya.

Sekali waktu, rekan-rekannya bertanya, "Masuk juga?" Ketika itu dia mau masuk kelas untuk mengajar pada jam pelajaran di suatu siang. Rupanya beberapa guru lain sudah tidak masuk kelas lagi khususnya di kelas akhir sejak telah selesainya Ujian Sekolah (US) sepekan sebelumnya. Rupanya ada kebiasaan jelek di sini, kalau sudah selesai US para guru kelas yang mengajar Mata Pelajaran (MP) yang di-US-kan tidak masuk lagi. Alasannya MP itu sudah diambil nilainya. Hanya guru-guru yang mengajar MP Ujian Nasional (UN) saja lagi yang masuk masuk. Herannya, sekolah juga tidaki mempermasalahkan kebiasaan jelek ini.

Cilakanya, guru UN juga tidak mau masuk kelas mengisi jam-jam pelajaran MP yang sudah di-US-kan itu. Tentu saja akan ada jam-jam kosong di kelas-kelas tertentu. Ini tentu tidak baik karena jika guru tidak ada di kelas, kelas itu akan ribut dan dapat mengganggu kelas di sebelahnya. Nah, guru --yang saya ceritakan-- ini ternyata mau tetap masuk di kelas-kelas yang memang dia guru US-nya. Kebetulan pula dia juga mengajar MP yang di-US-kan. Dengan alasan untuk perbaikan nilai, dia tetap masuk. Tapi itu tadi, justeru guru-guru lain mempertanyakannya. Mengapa juga harus masuk lagi.

Dalam pengalaman lain, katanya dia selalu juga ditanya kalau tidak masuk kelas. Padahal pada saat itu dia memang tidak ada jam mengajar. Dia merasa aneh, mengapa kalau dia tidak masuk kelas, kok ditanya. Tapi ada banyak guru lain yang jelas-jelas ada jam mengajar tapi tidak masuk kelas, malah tidak ada yang bertanya. Sepertinya guru itu tenang-tenang saja membiarkan kelasnya. Kita disiplin, kok ditanya, keluhnya.

Ada banyak kegelisahannya yang dia lihat dan rasakan di sekolahnya. Dia sampaikan itu kepada saya kiaena semakin hari dia merasa semakin tidak baik.Dia khawatir, para siswa juga akan terbawa dan terikut-ikut melakukan pelanggaran dan akan dianggap itu hal biasa. Saat ini saja, para siswa sudah tidak bertanya ke piket, misalnya mengapa gurunya tidak masuk. Mereka kebanyakannya apatis saja terhadap indisipliner itu. Sungguh akan merusak, jika tidak ada perubahan, katanya.

Saya hanya menyarankan, laksanakan saja tugas dan tanggung jawab dengan ikhlas. Jangan terpengaruh oleh beberapa oknum yang (jika memang ada) tidak disiplin itu. Tanggung jawab mendidik, sesungguhnya tidak semata karena Kepala Sekolah atau Kepala Dinas tapi jauh lebih penting adalah tanggung jawab kepada masyarakat bahkan kepada Tuhan.  Jadi, laksanakan saja aturan dan disiplin itu sesuai ketentuannya. Begitu, kan?***

Sabtu, 29 Maret 2014

Jangan Ragu, Anakku

PAGI Sabtu (29/ 03) ini saya berkesempatan memberi motivasi kepada seluruh siswa kelas XII. Sebagai hari terakhir menggunakan kostum baju kurung Melayu (biasanya kostum olahraga) bersempena pelaksanaan MTQ ke-5 Provinsi Kepri di Karimun, siswa/wi hari ini tidak melaksanakan program Senam Pagi Sabtu Pagi. Selepas apel, para siswa (kelas X dan XI) melaksanakan kegiatan eskul yang bersifat teoritis. Sementara kelas XII seperti biasa bersama guru BP/ BK mendengarkan bimbingan dan pengarahan di ruang musolla. Oleh guru BP/ BK saya diminta memberi pengarahan.

Karena topik pengarahan mengenai Ujian Nasional (UN) maka yang pertama saya tanya, apakah para siswa sudah siap untuk menghadapi UN medio April nanti? Ternyata tidak serempak mereka menjawab. Bahkan saya menangkap kesan mereka agak ragu-ragu atas pertanyaan saya itu. Dan saya tidak memkasa menjawab lagi. Saya justeru langsung memberi jawaban sendiri dengan mengajak mereka untuk siap dan siap. Harus tetap siap. Tidak ada kata tidak siap karena waktunya memang hanya tinggal dua pekan saja lagi.

Dalam diskusi selanjutnya, saya menyimpulkan kalau sebagian mereka memang belum benar-benar 'siap tempur' menjelang UN itu. Ketika saya katakan bahwa nilai UN nanti akan menjadi salah satu komponen di samping nilai sekolah (Nilai Rapor plus Nilai US) mereka juga tidak terlalu yakin akan sukses. Keraguan akan UN yang selalu menakutkan, membuat mereka bertambah ragu. Mungkin mereka terlalu sering menerima informasi 'menakutkan' dari pada menyenangkan berkaitan dengan UN.

Inilah salah satu kegagalan sebenarnya dari para guru. Kesalahan menyampaikan informasi tentang UN dan segala seluk-beluk pelaksanaannya oleh guru membuat masih ada siswa yang terlalu takut UN. Terlalu fokus memikirkan kelulusan membuat mereka malah tidak fokus mempersiapkan proses kelulusan/ ketidaklulusan itu sendiri.

Sesungguhnya mereka tidak perlu merasa takut. Kelulusan dan atau ketidaklulusan pada hakikatnya adalah konsekuensi dari proses pembelajaran yang sudah mereka lalui selama enam semester sebelumnya. Dalam enam semester (tiga tahun pelajaran) mereka melalui dan melakukan proses pembelajaran untuk Mata Pelajaran yang akan di-UN-kan  itu. Soal UN yang hanya 40-50 soal saja dari sekian banyak materi yang sudah diajarkan, tidak seharusnya membuat mereka takut dan khawatir.

Jika saja proses pembelajaran dilalui dengan baik tahap demi tahap, tidak perlu ada materi yang menakutkan. Jika saja guru mengelola dan memberikan pembelajaran yang baik, tentu saja materi itu akan tuntas terberikan. Jika saja para siswa mengikuti proses pembelajara dengan baik, sudah pasti akan terserap materi pelajaran itu dengan baik. Singkatnya, selama proses pembelajaran siswa dan guru berkesempatan membahas dan mendiskusikan semua materi itu dengan baik maka hasilnya juga akan memuaskan.

Lalu mengapa harus merisaukan UN dengan hanya 40-50 soal yang akan diujikan? Bukankah jika guru atau siswa merasa belum tuntas untuk materi-materiyang selama itu dipalajari, juga sudah dilakukan remidi-remidinya? Jadi, tidak seharusnya ada keraguan oleh para siswa dalam enghadapi UN. Percayalah, anak-anakku. Kalian tidak perlu ragu apalagi takut!***

Jumat, 28 Maret 2014

Tugu Piala Juara

KETIKA ide Bupati Karimun untuk membuat semacam monumen MTQ (Musabaqoh Tilawatil Quran) sebagai bukti kesuksesan Karimun dalam mengikuti MTQ selama ini, masyarakat dan beberapa pejabat langsung menyambut dengan antusias. Setiap kali ada kesempatan memberi sambutan atau pernyataan, bupati selalu menyebut dan mengulangi ide itu. Tampak sekali dia ingin membuat dan memberi kesan abadi atas keberhasilan Karimun dalam even-even MTQ selama ini.

Keberhasilan Kabupaten Karimun kembali memboyong Piala Bergilir Juara Umum di Kabupaten Bintan pada tahun 2012 setelah sebelumnya di Batam (2010) memang menjadi awal ide bupati itu muncul. Sebagai orang yang konsens dengan pembinaan dan pengembangan alquran, Pak Nurdin ingin agar bukti keberhasilan di bidang alquran dimonumenkan. Sedari dia berposisi sebagai Wakil Bupati yang sekaligus menjadi Ketua Umum LPTQ (Lembaga Pengembangan Tilawatil Quran) Kabupaten Karimun di era HM. Sani menjadi bupati, Pak Nurdin tampak sekali keseriusannya di bidang alquran. Selalu ada ide-ide bernasnya dalam pengembangan dan pembinaan alquran seumpama memperbanyak lembaga tempat belajar alquran seperti TPQ.

Munculnya ide membuat monumen alquran adalah salah satunya. Akhirnya diputuskan membuat tugu alquran berupa piala dengan menjadikan Piala Bergilir Juara Umum itu sebagai modelnya. Nama tugu itu pun beredar dari mulut ke mulut di tengah-tengah masyarakat.Bersempena persiapan sebagai tuan rumah MTQ ke-5 Provinsi Kepri sejak medio tahun 2012 lalu nama-nama tugu yang akan dibangun ada bermacam-macam. Sekali waktu muncul nama Tugu Imtak (Iman dan Takwa) dengan mengambil nama azam pertama dari empat azam penggerak pembangunan Karimun. Bupati pun beberapa kali menyebut tugu yang akan dibangun itu bernama Tugu Imtak.

Tapi di dalam masayarkat dan beberapa pejabat ada juga nama lain seperti Tugu Alquran, Tugu MTQ, Tugu LPTQ dan beberapa nama lain. Dan dalam perjalannya, dalam beberapa kali rapat di Kantor Bupati, nama Tugu MTQ semakin banyak digunakan selain nama Tugu Imtak. Akhirnya, bupati memberi nama tugu itu dengan nama Tugu MTQ. Dia menyebut nama itu ketika Sekda Karimun memimpin rapat persiapan akhir menjelang diselenggarakannya MTQ Provinsi beberapa waktu lalu. Maka nama Tugu MTQ itulah akhjirnya yang disebut dalam ucapan-ucapan selanjutnya. Bahkan ketika MURI memberi pigama atas tugu yang dianggap pertama ada di Indonesia itu, nama Tugu MTQ juga yang disebut.

Nama itu sangat bagus. Dengan nama itu masyarakat akan selalu ingat bahwa tugu itu lahir atas keberhasilan putra-putri Karimun dalam berbagai MTQ --Kabupaten, Provinsi, Nasional bahkan Inaternasional-- selama ini. Pada tugu itu sengaja diukir nama-nama anak-anak Karimun yang sukses menjadi juara di berbagai ajang MTQ itu. Siapa saja yang pernah menjadi juara maka namanya akan ditorehkan di sana.

Oleh karena itu, saya mengusulkan nama tugu itu menjadi Tugu Piala Juara. Mengapa menyebut piala? Karena tugu itu memang replika piala yang pernah raih oleh putra-putri Karimun dalam MTQ selama ini. Lebih spesifiknya, piala itu adalah piala juara, yaitu juara umum se-provinsi yang dipertahankan selama tiga kali berturut-turut. Piala Juara Umum yang sudah tiga kali diraih Karimun itulah yang oleh bupati dibangun dalam ukurun besar yang kita kenal sebagai Tugu MTQ itu. Sekali lagi, saya setuju namanya lebih keren menjadi Tugu Piala Juara. Pialanya sendiri ada di Karimun sebagai pemilik untuk selama-lamanya.***

Kamis, 27 Maret 2014

Catatan Tersisa Rakor Dinas Pendidikan Kepri

PADA hari Senin, Selasa dan Rabu (24-25 dan 26 Maret 2014) lalu bertempat di Hotel Goodway Batam, dilangsungkan Rakor (Rapat Koordinasi) Dinas Pendidikan Provinsi Kepulauan Riau (Kepri). Rapat yang diikuti oleh seluruh Kepala Dinas plus Kabid- Kasi Dinas Pendidikan Kabupaten se-Kepri dan para Kepala Sekolah --TK, SD, SLTP dan SLTA-- se-Kepri itu dibuka oleh Gubernur Kepri, HM. Sani. Ketika acara pembukaan juga dihadiri oleh para pejabat tinggi Kepri lainnya seperti Ketua DPRD Provinsi Kepri, beberapa Pimpinan FKPD Provinsi, Sekda Provinsi Kepri dan beberapa lagi.

Rakor ini tentu saja memakai biaya yang tidak sedikit. Tapi untuk tujuan rakor yang terdengar mulia (ada 10 tujuan yang ingin dicapai) seperti disampaikan Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Kepri, Yatim Mustafa. Kata Yatim, ada sepuluh tujuan yang ingin dicapai dalam rakor ini, antara lain 1) Meningkatkan kesamaan persepsi dan pemahaman akan tugas dan fungsi Dinas Pendidikan sebagai stakeholders pendidikan; 2) Membahas tentang persiapan penyelenggaraan Ujian Nasional Tahun Pelajaran 2013/ 2014; 3) Memelihara dan memantapkan koordinasi dan kerjasama antara Dinas Pendidikan Provinsi dan Dinas Pendidikan Kabupaten/ Kota dan antar Dinas Pendidikan Kabupaten/ Kota.

Saya tidak ingin mencatat semua tujuan yang tertuang dalam Buku Panduan itu. Saya percaya semua rencana tujuan itu sangatlah bagus dan patut untuk dibicarakan. Yang justeru saya khawatirkan adalah apakah memungkinkan untuk membahas begitu banyak harapan yang akan dibahas dalam waktu yang relatif singkat. Alokasi waktu hari pertama (Senin) misalnya hanya untuk pendaftaran (check in) peserta di hotel dan seremoni pembukaan malamnya. Hari kedua terjadwal pemberian materi dan diskusi oleh beberapa narasumber seperti oleh Wakil Ketua DPR RI Komisi X yang akan membahas masalah Kebijakan Penganggaran Pendidikan. Ada juga materi Implementasi Kurikulum 2013 oleh Kepala LPMP Keperi dan beberapa materi lagi.

Di hari kedua ini juga ada jadwal ekspos dari Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten/ Kota se-Provinsi Kepri. Berapa lama waktu yang akan tersedia untuk tujuh kabupaten/ kota yang ada. Dan tentu saja ekspos dari Dinas Pendidikan Provinsi juga memerlukan waktu. Lalu bagaimana membagi waktunya?

Di hari ketiga terjadwal penyampaian laporan hasil diskusi kelompok. Hanya setengah hari alokasi waktunya. Akankah cukup? Tentu tidak akan cukup. Tapi itulah yang membuat saya sebenarnya agak ragu, apakah rakor ini akan menghasilkan sesuatu yang baik demi kemajuan pendidikan di Kepri atau akan sekedar menghambur-hamburkan anggaran belaka. Itulah yang saya khawatirkan.

Sayangnya saya tidak bisa membuktikan kekhawatiran saya itu. Kami para Kepala Sekolah sudah boleh meninggalkan hotel (tenmpat rakor) pada siang hari keduanya. Setelah penyampaian materi itu kami para Kepala Sekolah yang mendominasi jumlah peserta, sudah tidak lagi harus ikut rakor. Yang melanjutkan rakor adalah para pejabat di Dinas Pendidikan saja lagi. Lalu apa hasilnya? Entahlah. Sampai setengah hari kedua, kami mendengarkan pemaparan dari tiga narasumber itu saja. Semoga saja lanjutan rakor itu benar-benar menghasilkan sesuatu yang diperlukan pendidikan di provinsi 'segantang lada' ini. Amin!***

Rabu, 26 Maret 2014

Teguran Magrib

SORE Selasa (25/ 03/ 14) itu saya ke stand bazar dan pameran MTQ. Ini kali kedua kesempatan datang dan melihat-lihat. Kaena sibuk, memang tidak selalu ada waktu walaupun hati mau. Sebelumnya pergi dengan isteri hanya dapat melihat beberapa stand saja. Belum semua sempat melihat-lihatnya. Makanya sore itu saya kembali membawa isteri untuk melihat-lihat lagi.

Mungkin keasyikan menyaksikan begitu hebatnya stand-stand pameran bersempena MTQ (Musbaqoh Tilawatil Quran) ke-5 Provinsi Kepri di Karimun itu saya lupa kalau waktu solat magrib sudah hampir sampai. Segera saya mengajak isteri untuk segera pulang ke rumah dari pada nanti kemalaman dan terpaksa lagi magrib di jalanan (masjid yang ada di jalan, bukan masjid dekat rumah) seperti pengalaman sebelumnya. Kami berusaha terburu-buru menuju parkir untuk mengambil mobil. Saya pikir sebentar lagi akan terdengar azan dari kejauhan.

Saya tentu saja semakin ingin cepat-cepat meninggalkan lokasi parkir. Pasti akan menjadi masbuk jika pun terkejar solat berjamaah di masjid atau musolla kalau tidak berusaha cepat. Dalam kekalutan waktu yang terjepit itu saya melakukan kesalahan ketika berusaha memutar arah mobil. Saat saya memundurkan mobil itu ternyata saya tidak awas kalau di belakang ada mobil lain. Zuzuki Ertiga warna putih itu tersenggol sedikit dan menyebabkan bagian belakangnya yang beradu dengan bagian belakang mobil saya sedikit rusak. Asesoris warna merah yang menempel di bagian mobil itu pecah dan lepas dari tempatnya.

Saya berusaha melihat dan seorang tukang parkir yang melihat saya mengatakan kalau mobil putih itu sedikit lecet. Padahal mobil saya juga mengalami lecet catnya. Saya berusaha menenangkan tukang parkir itu. Pemilik mobilonya saya tidak melihat waktu itu. Saya minta tukang parkir itu tenang saja. Dan setelah membayar uang parkir saya berusaha pergi. Tapi saya tinggalkan pesan jika pemilik Ertiga itu tahu, katakan saja saya.

Rupanya si pemilik mobil itu tahu dan berusaha mengejar saya yang menuju ke arah jalan besar sana. Sekitar 200-an meter dari situ, saya melihat --melalui kaca spion-- mobil putih itu di belakang saya sambil membunyikan klakson. Saya tahu itu adalah dia maka saya berhenti menjelang ke jalan raya Teluk Air itu. Lalu kami berdebat sebentar. Dia minta saya bertanggung jawab. Saya tegaskan kalau saya akan bertanggung jawab. Tapi karena mau magrib, saya minta diselesaikan besoknya saja. Lalu saya meninggalkan nomor HP saya. Dan kami sepakat besok (Rabu) kembali bertemu.

Bagi saya, peristiwa ini adalah musibah kecil yang menjadi peringatan buat saya. Seharusnya saya tidak lagi di lokasi pamaeran menjelang magrib itu. Tapi karena asyik dan lupa akhirnya membuat saya terburu-buru waktu memutar mobil. Dan terjadilah peristiwa itu. Ah, mungkin Tuhan memberi peringatan, kata saya dalam hati menjelang sampai di rumah. Akhirnya saya juga tidak sempat ke masjid untuk berjamaah.***

Sabtu, 22 Maret 2014

Pawai Ta'aruf Teramai

SEJAK dilaksanakannya MTQ (Musabaqoh Tilawatil Quran) pertama (2006) di Tanjung Pinang, Ibu Kota Provinsi Kepri hingga MTQ ke-5 di Kabupetn Karimun pada tahun 2014 ini, seingat saya inilah pawai ta'aruf yang paling ramai diikuti peserta. Belum ada peserta pawai hingga kurang lebih 17-an ribu orang peserta. Karimun ternyata mampu mendatangkan peserta pawai sebanyak itu walaupun sebagian besarnya adalah masyarakat kabupaten ini.

Baik di Natuna (2008), di Batam (2010) maupun terakhir di Bintan (2012) lalu jumlah peserta pawai ta'arufnya rata-rata hanya antara 2.000 s.d. 4.000 orang saja secara keseluruhannya. Sementara pada tahun ini menurut laporan panitia pawai ta'aruf diikuti oleh 17-an orang peserta dengan 15-an ribu orang adalah peserta tuan rumah, Karimun. Kafilah Karimun dengan berbagai komponen peserta pawainya mengular dari Panggung Rakyat Kemuning Costal Area hingga ke jalan di depan Masjid Bairurhman sana. Luar biasa panjangnya.

Bukti bahwa pawai ta'aruf ini adalah pawai teramai dan terpanjang di Indonesia maka Karimun pada MTQ ke-5 Provinsi Kepri ini oleh MURI (Musium Rekor Indonesia) diberi sertfikat penghargaan. Penghargaan rekor sebagai pawai terbanyak jumlah pesertanya karena mencapai angka 17-an ribu orang peserta. Konon selama ini belum pernah menyentuh angka 5.000 orang. Dan jika angka itu terpecahkan maka penghargaan itu bisa diperoleh. Sementara pawai Kamis (20/ 03/ 14) lalu itu malah tiga kali lebih besar dari pada angka itu.

Selain penghargaan MURI sebagai pawai terbanyak, ternyak Pemda Karimun juga mendapat sertifikat MURI itu berkaitan dengan keberhasilan Pemda Karimun membangun Tugu MTQ di areal Costal Area yang diresmikan pada momen MTQ ini. Ternyata tugu berbentuk Piala Bergilir MTQ Provinsi itu adalah tugu pertama yang dibangun di Indonesia selama ini. Maka Karimun berhak mendapatkan penghargaan itu. Tentu saja hanya MURI yang bisa memutuskan begitu.

Dan tentu saja diharapkan penghargaan bergengsi itu menjadi awal bukan menjadi akhir usaha Karimun dalam mensyiarkan alquran di tengah-tengah masyarakat. Sebagai negeri berazam dengan 'iman dan takwa' sebagai dasar utamanya dalam pembangunan maka penghargaan itu haruslah melecut masyarakat semuanya untuk terus mengamalkan isi kandungan alquran. Jangan pula helat besar yang menelan biasa besar, dengan keterlibatan masayarkat yang ramai serta menghasilkan penghargaan dari MURI menjadi sia-sia tersebab masyarakatnya malah meninggalkan alquran dalam kehidupannya. Na'uzubillah!***

Sabtu, 15 Maret 2014

Empat Sukses MTQ Provinsi

PEMERINTAH Daerah Karimun melalui Panitia Pelaksana MTQ (Musabaqah Tilawatil Quran) Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) sudah bulat bertekad. Karimun sebagai tuan rumah MTQ dua tahunan Provinsi Kepri sangat ingin agar pelaksanaan MTQ sukses. Tidak main-main, bupati meminta masyarakat Karimun khususnya panitia pelaksana untuk benar-benar bekerja keras demi suksesnya MTQ penuh makna ini.

Ada tiga sukses (tri sukses) yang dicanangkan Pemerintah dalam bekerja melaksanakan kegiatan MTQ kali ini. Mungkin sudah merupakan harapan klasik bagi tuan rumah manapun ketika diberi kepercayaan menjadi pelaksana even sebesar MTQ Provinsi ini untuk sukses. Tiga sukses yang menjadi moto pelaksanaan MTQ ke-5 Provinsi Kepri di Karimun adalah, 1) sukses sebagai tuan rumah; 2) sukses sebagai pelaksana dan 3) sukses sebagai juara. Sangat mulia.

Dalam beberapa kesempatan, baik bupati sebagai penanggung jawab penyelenggara maupun wakil bupati atau Sekda sebagai Ketua Panitia Pelaksana menjelaskan 'tri sukses' itu. Sukses pertama adalah sukses sebagai tuan rumah. Maksudnya adalah agar Karimun sebagai kabupaten yang mendapat giliran kepercayaan dari masyarakat Kepri diharapkan mampu menjadi tuan rumah yang baik selama MTQ berlangsung. Dengan enam kabupaten/ kota sebagai tamu yang akan datang ke bumi berazam, jelas sangat berat untuk membuat para tamu itu senang dan bahagia berada di Karimun selama pelaksanaan MTQ.

Sebagai tuan rumah, kata bupati, Karimun harus bisa melayani dan menyediakan segala keperluan tamu. Hotel atau tempat tinggal, makan-minum, transportasi dan aneka kebutuhan lainnya, kiranya mampu disediakan oleh tuan rumah. Dengan begitu banyaknya tamu nantinya, jika pemerintah dan masyarakat tidak bahu-membahu dalam melaksanakannya tentu saja tidak tercapai harapan sebagai tuan rumah yang baik itu. Inilah yang selalu diingatkan bupati dalam setiap kesempatan berbicara kepada masyarakat baik langsung mapun melalui media masa.

Sukses kedua adalah sukses dalam penyelenggaraannya. Artinya panitia wajib melaksanakan kegiatan ini dengan sebaik-baiknya. Dari masa pendaftaran sampai ke acara pambukaan dan acara pokok serta penutupan diharapkan jangan terjadi hal-hal yang tidak diharapkan. Bupati bahkan mengingatkan sampai ke hal-hal teknis seperti penyiapan pengeras suara (mick), penerangan (lampu) dan lain-lainnya. Jika perlu buatlah pelaksanaan itu sebaik mungkin  sehingga semua orang, khususnya tamu terkesan dan kagum mengikuti pelaksanaan kegiatannya. Bayangkan jika dalam salah satu kegiatan lomba atau di acara pembukaan/ penutupan terjadi gangguan mick atau lampu yang mati, jelas itu akan sangat memalukan. Ini jangan terjadi, kata bupati.

Lalu sukses ketiga, sukses sebagai juara, maksudnya bagaimana Karimun mampu menampilkan pesertanya dengan prima sehingga oleh Dewan Hakim diberi predikat terbaik. Tentu tidak mudah karena akan tergantung sejauh mana kesiapan peserta MTQ Kafilah Karimun. Apakah mereka akan mampu tampil lebih baik dari pada peserta kabupaten/ kota lain? Itulah pertanyaan pokoknya. Jika bisa lebih hebat dari pada utusan kabupaten/ kota lainnya maka itulah baru disebut sebagai sukses ketiga.

Untuk sukses ketiga ini ada misi khusus dari Pemda Karimun. Setelah dua kali berturut-turut (2010 di Kota Batam dan 2012 di Bintan) Kabupaten Karimun mampu menyabet predikat Juara Umum, bupati berharap agar di kali ketiga (2014) ini Karimun kembali mampu merebut Juara Umum. Mengapa? Karena jika mampu mempertahankan Piala Bergilir Provinsi untuk ketiga kali berturut-turut maka --sesuai ketentuan-- piala itu akan menjadi milik Karimun untuk selamanya. Dan untuk target besar ini bahkan bupati sudah membuat 'monumen' Tugu MTQ berbentuk piala juara umum dengan ukuran sangat besar berbanding piala aslinya yang rencananya akan diresmikan bersempena pelaksanaan MTQ ke-5 ini. Tugu itu dibangun di saimpang tiga Jalan Costal Area yang merupakan lokasi wisata baru di Kota Karimun.

Saya sendiri --mungkin juga lainnya-- berpikir tidak cukup hanya sampai batas tiga sukses saja. Ada satu 'sukses' yang jauh lebih penting dari pada sukses yang sudah dijelaskan. Itulah sukses pribadi dalam mengamalkan isi-kandungan alquran itu sendiri. Betapa tidak akan bernilainya tri sukses itu jika ternyata MTQ ini hanya sekedar lomba saja. Di dalam ajang lomba dua tahunan yang menguras dana rakyat begitu besar, tidak akan cukup bermakna jika ternyata masyarakat tidak menjadikan momen ini sekaligus sebagai kesempatan untuk mengamalkan isi dan kandungan alquran. Alquran dibacakan (tartil/ tilawah), dilukis (kaligrafi/ khoth) atau disyarahkan (syarhil) tapi jika alquran tidak diamalkan, apalah artinya MTQ ini.

Carut-marut pelanggaran hukum baik hukum negara maupun hukum agama oleh rakyat bangsa ini, merupakan bukti betapa isi kandungan alquran belum teraplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Korupsi, manipulasi, pencurian dan perampokan, malas beker dan tidak jujur, serta banyak lagi, itulah bukti bahwa bangsa ini memerlukan pedoman kehidupan seperti alquran. Maka seharusnya perlu ditambahkan tiga sukses itu menjadi empat sukses. Dan sukses keempat adalah sukses yang teramat penting untuk dibuktikan. Semoga masyarakat Karimun mampu memlopori sukses keempat ini. Insyaallah akan menjadi contoh pada MTQ yang akan datang di daerah lainnya. Semoga!***

Kamis, 13 Maret 2014

Memakai Waktu Kritis Menjelang UN

TRY OUT (TO) pertama dan kedua SMA/ MA/ SMK se- Kabupaten Karimun sudah selesai beberapa yang lalu. Pekan ini tengah berlangsung Ujian Sekolah (US) yang merupakan bagian dari Ujian Nasional. Hasil-hasil TO (1 dan 2) sudah lama diketahui. Sangat menyedihkan karena hanya beberapa orang siswa saja yang mampu mendapatkan nilai yang memadai. Lebih banyak yang tidak lulus lagi.

 Hasil US sampai hari ini, Kamis (13/ 03) juga sudah diketahui oleh guru walaupun mungkin orang tua belum semua yang mengetahui. Korektor sudah menyetorkan hasil koreksinya kepada panitia untuk diteruskan ke Kepala Sekolah. Dan ternyata nilai-nilai yang diperoleh sudah jauh lebih baik dari pada hasil TO yang lalu. Dari pengamatan tampak bahwa jumlah siswa yang berhasil sudah memuaskan. Hanya beberapa saja lagi yang masih gagal. Kalau hasil TO sengaja disosialisasikan kepada orang tua siswa sekaligus sebagai sosialisasi UN maka hasil US tidak lagi akan disosialisasikan kepada orang tua.

Bagi siswa peserta TO dan US yang dalam waktu sebentar lagi akan melaksanakan UN (Ujian Nasional) hasil TO dan US ini sangat penting. Kalau hasil TO dipakai sebagai warning untuk menghadapi US dan UN maka hasil US sudah merupakan nilai yang akan mempengaruhi kelulusan. Nilai-nilai ini akan masuk salah satu komponen kelulusan selain nilai rapor (SM 2, 3, 4, dan 5) dan UN yang akan dilaksanakan pada 14 April nanti.

Walaupun hasil TO itu belum akan memuaskan namun justeru di situlah letak urgensinya bagi siswa. Semakin rendah bahkan tidak lulus hasil TO seorang siswa, itu sejatinya semakin baik buat siswa yang ingin mengulang untuk belajar kembali. Dengan nilai yang masih rendah diharapkan para siswa benar-benr tahu di mana kekurangan materi yang belum dikuasai.

Bagi seorang siswa yang memperoleh nilai-nilai yang baik sebenarnya bagus-bagus saja. Tapi jika karena perolehan nilai yang bagus membuat mereka lalai dan memandang enetng waktu-waktu yang tersisa menjelang UN, di sinilah jeleknya. Sebaliknya bagi siswa yang mendapatkan nilai belum memuaskan, diharapkan segera menyadari dan segera mencari tahu materi apa saja yang ternyata gagal.

Sekolah di sisi lain, segera pula harus membuat terobosan baru dan itu tentu saja sudah dilakukan menjelang US kemarin itu. Dan terbukti hasil US jauh lebih baik dari pada hasil TO. Itu bukti bahwa pasca TO sekolah kembali menggenjot para siswa untuk belajar lebih intensif sehingga menghadapi US mereka lebih.

Tapi yang juga tidak kurang pentingnya adalah persiapan para siswa menghadapi UN yang sudah sangat dekat waktunya. Waktu-waktu yang tinggal beberapa hari saja lagi menjelang medio April itu sangat berguna bagi siswa. Walaupun waktunya sudah sangat kritis dalam artinya sudah sangat mepet menjelang UN, para siswa wajib memanfaatkan waktu ini dengan sebaikbaiknya. Dengan begitu kesiapan diri menghadapi UN nanti benar-benar oke. jangan sampai ada penyesalan. Maka pakailah waktu kritis ini dengan sebaik-baiknya.***

Minggu, 09 Maret 2014

Surat Buat Pak Tjipto: Bapak Tak Berbohong

"SAYA ditelpon Pak Menteri dan Pak Wamen, saya katakan 'Maaf, Pak saya ada kegiatan lain. Kalau saya tidak katakan begitu, saya disuruh ketemu belyau-belyau itu." Begitu antara lain Pak Tjipto Sumadi membuka pembicaraan, Sabtu (08/ 03) sekitar pukul 13.30 WIB di Geudng Nasional, Karimun, Kepri, dalam satu acara Rakor (Rapat Koordinasi) Dinas Pendidikan Kabupaten Karimun. Pejabat teras Kemdikbud RI yang paling bertanggung jawab di bidang Kurikulum itu hadir di Kabupaten Karimun sebagai narasumber dalam kegiatan Rakor dan Evaluasi Pembangunan Pendidikan untuk Implementasi Kurikulum 2013 di Kabupaten Karimun. Rakor diadakan oleh Dinas Pendidikan Karimun.


Dalam waktu yang sangat sempit, Pak Tjipto menyempatkan diri datang memenuhi undangan Kepala Dinas (Kadis) Pendidikan Kabupaten Karimun, MS. Sudarmadi dalam acara tahunan yang sangat penting ini. Sebenarnya, menurut Pak Tjipto dia harus tetap berada di Jakarta saat itu. Pak Mendikbud mempunyai acara yang sangat padat. Pak Wamen (Wakil Menteri) juga demikian. "Bahkan besok (Ahad, 09/ 03: penulis) Pak Wamen harus ke Kalimantan untuk membuka satu acara yang juga berkaitan dengan implementasi kurikulum 2013," katanya. Jadi, katanya dia harus menjaga 'gawang' di Jakarta. "Kalau saya tidak menyebut saya ada kegiatan lain, pasti akan langsung dipanggil menghadap saat itu juga. Nama juga pembantu. Makanya saya sedikiit berbohong," guraunya ketika memulai pembicaraan.

Menurut saya, Pak Tjipto tidak berbohong. Malah saya mengapresiasi dan sangat menghormati keberaniannya untuk memenuhi permintaan keluarga besar pendidik dan tenaga kependidikan Karimun --via Dinas Pendidikan-- untuk menjelaskan kurikulum baru yang baru diimplementasi secara terbatas di beberapa sekolah sejak awal tahun pelajaran 2013/ 2014 lalu itu. Karimun sendiri belum melaksanakannya di tahun pertama itu. Jadi, Pak Kadis bertekad akan melaksanakannya secara keseluruhan (semua sekolah, tanpa kecuali) pada tahun pelajaran baru nanti.

Karena dia harus kembali berada di Jakarta pada sore Sabtu sementara Jumat malamnya masih berada di Jakarta maka dia hanya bisa berangkat Sabtu pagi menjelang siang. Dan sore, pada penerbangan sekitar pukul 17.00 harus sudah berangkat lagi ke Jakarta. Bayangkan lokasi Karimun yang memerlukan waktu minimal 2.5 jam dari Bandara Hang Nadim, Batam (karena Batam- Karimun harus menggunakan very lagi) maka Pak Tjipto hanya punya waktu sangat pendek di Karimun. Tiba di Tanjungbalai Karimun sekitar pukul 11.00, lalu istirahat sebentar dan pada sesi siang --pukul 13.15-- dia harus mengisi dengan menggeser dua narasumber lainnya. Hanya kurang lebih 90 menit saja dia sempat berada di ruang rapat lalu berangkat kembali (memakai kapal laut lagi) menuju Sekupang Batam untuk terus ke Hang Nadim. Dari Hang Nadim terus ke Jakarta.

Dalam kekaguman saya mendengar materi yang disampaikannya, terpikir juga oloeh saya kalimat pembukanya di awal dia berbicara itu tado. Jika dia mengatakan harus berbohong demi Karimun, saya menganggap dia tidak berbohong. Dengan mengatakan 'saya ada kegiatan lain' kepada Pak Menteri dan Pak Wakil Menteri, dan kedua petinggi Kemdikbud itu tidak lagi bertanya apa-apa, artinya tidak ada kebohongan di sini. Jika pun dia tidak melaporkan rencananya untuk ke Karimun di akhir pekan (Sabtu) seperti itu, itu juga bukan berbohong. Apalagi katanya dia akan melaporkan bahwa dia telah memberikan materi (sekalian sosialisasi) Kurikulum 2013 yang kontroversi itu sekembalinya ke Jakarta, maka menurut saya Pak Tjipto tidak perlu merasa berbohong.

Saya dan semua keluarga besar pendidikan di Karimun tentu saja sangat berterima kasih kepada Pak Tjipto yang menyempatkan diri hadir dalam acara resmi Dinas Pendidikan Karimun itu. Saya tahu, selevel direktur pun di kementerian juga akan sama sibuknya dengan menteri atau wakil menteri. Suka atau tidak suka, Kurikulum baru ini sudah dilaksanakan. Dan Karimun yang menunda implementasinya pada awal tahun baru nanti, sangat memerlukan penjelasan yang akurat dan dari tangan pertama perihal kurikulum ini. Jadi, Bapak tidak berbohong.***

Sabtu, 08 Maret 2014

Catatan dari Rakor Dinas Pendidikan Karimun

RAPAT Koordinasi (Rakor) dan Evaluasi Pembangunan Pendidikan Dinas Pendidikan Kabupaten Karimun tahun 2014 ini diikuti hampir 300 orang Kepala Sekolah se-Kabupaten Karimun. Dari Kepala/ Pimpinan TK (Taman Kana-kanak) sampai ke SLTA diikutkan dalam Rakor ini. Rakor berlangsung di Gedung Nasional, Tanjungbalai Karimun.

Dimulai dengan pendaftaran peserta pada hari Jumat (07/ 03) lalu, sesuai jadwal di Buku Panduan Rakor kegiatan pertama adalah Pra Rakor yang seharusnya dilakansakan pada pukul 19.30 (Jumat Malam) lalu. Tapi acara pertama yang sudah terjadwal ini tidak jadi dilaksanakan. Sebagian para peserta yang tidak tahu pembatalan acara ini banyak yang terlanjur datang. Malam ini tidak ada acara.

Besoknya, pukul 08.00 --sesuai jadwal juga-- adalah Pembukaan Rakor yang langsung akan dibuka Bupati Karimun. Sayangnya, jadwal ini sedikit molor. Mungkin sudah menjadi tradisi bahwa waktu kegiatan selalu saja terlambat dari jawal yang sudah ada. Akhirnya kegiatan baru dimulai pada 09.00 WIB alias molor satu jam. Dan karena bupati beralangan hadir maka yang membuka Rakor adalah Wakil Bupati Karimun, H. Aunur Rafiq.

Saya melihat, selain seluruh Kepala Sekolah --TK, SD, SMP, SMA, SMK-- hadir juga pada pembukaan Rakor ini antara lain, para Pengawas Satuan Pendidikan di Lingkungan Dinas Pendidikan Karimun, Ketua Dewan Pendidikan Kabupaten Karimun, Ketua Dewan Kehormatan Guru Indonesia Kabupaten Karimun dan beberapa pejabat daerah dan tokoh masyarakat Karimun. Mantan Sekretaris Daerah Karimun, Anwar Hasyim juga tampak hadir di barisan paling depan itu.

Acara pembukaan diawali dengan mengumandangkan Lagu Indonesia Raya oleh seluruh hadirian yang dipimpin oleh Riva Nurilla (Ka SD Negeri 013 Teluk Air, Kecamatan Karimun). Selanjtunya doa yang dipandu oleh Pak Saiman, salah seorang pengawas. Sebelum Wakil Bupati memberikan sambutan dan pengarahan yang sekaligus akan membuka secara resmi, Kepala Dinas Pendidikan Karimun, MS Sudarmadi terlebih dahulu memberikan laporan.

Dalam laporan setengah jam lebih itu, Pak Kadis menjelaskan panjang lebar berbagai hal pendidikan di Kabupaten Karimun. Dimulai dengan penjelasan perihal latar belakang dan  tujuan diadakannya Rakor serta para pihak yang terlebih dalam Rakor sampai kepada situasi pendidikan terkini di Karimun.  Dijelaskan juga menbgenai rencana implementasi Kurikulum 2013 yang akan dilaksanakan pada awal tahun pelajaran baru nanti. Karimun memang belum melaksanakan Kurikulum 2013 pada Tahun Pelajaran (TP) 2013/ 2014 lalu walaupun di beberapa sekolah di kabupaten lain di Provinsi Kepri sudah melaksanakannya. Oleh karena itu pada TP 2014/ 2015 yang akan datang Karimun berencana akan melaksanakannya untuk semua sekolah. "Ini pekerjaan berat dengan biaya yang juga sangat berat," kata Pak Kadis dalam laporannya.

Setelah laporan Kepala Dinas dilanjutkan dengan Sambutan dan Pengarahan oleh Wakil Bupati. Pak Aunur Rafiq dalam sambutan pengarahannya menjelaskan kembali tentang pentingnya Rakor dalam sebuah organisasi. "Sayangnya, waktu Rakor ini tidak maching dengan Musrembang yang baru saja ditutup semalam," kata Pak Wabup. Pak Rafiq mengatakan bahwa hasil-hasil Rakor ini kan nantinya akan diusulkan menjadi bagian dari pembangunan Karimun secara keseluruhan. Jadi, jika ini dilakukan sebelum Musrembang tentu saja akan dengan mudah memasukkannya ke bagian rencana pembangunan yang sudah ditetapkan di Musrembang itu.

Namun demikian, kata Pak Wabup masih ada kesempatan untuk menyesuaikannya. Walau agak terlambat, bahan-bahan itu masih bisa diolah kembali agar hasil Rakor ini nanti tidak sia-sia. Panjang lebar Wabup menguraikan tentang perlunya pendidikan bermutu. Dengan mengaitkannya dengan visi-misi kabupaten Karimun, Pak Wabup mengingatkan bahwa untuk mencapainya diperlukan pendidik dan tenaga kependidikan yang profesional. Untuk itu, Dinas Pendidikan diingatkannya untuk terus memberikan pembinaan kepada para guru yang dari sedi jumlah sudah cukup walaupun penyebarannya belum merata.***

Minggu, 02 Maret 2014

Video Pembelajaran untuk Kemudahan Pembelajaran

Hari ini, Ahad (02/ 03) saya menulis di http://guraru.org/guru-berbagi/video-pembelajaran-matematik/#comment-33939 website 'guraru' perihal video pembelajaran, sesuai tema yang sudah ditetapkan. Saya ingin tulisan itu juga bisa dibaca pengunjung blog ini. Berikut tulisannya:

MEDIA pembelajaran pada dasarnya dibuat untuk membantu guru mengelola dan menyampaikan materi pembelajaran. Proses pembelajaran dengan atau tanpa media pembelajaran tentu saja akan berbeda hasilnya. Sebagai media, dia akan membantu menjembatani kehendak pendidik dan harapan peserta didik dalam satu proses pembelajaran walaupun pada hakikatnya pendidik bisa saja langsung menyampaikan materinya tanpa media kepada peserta didik.

Salah satu media pembelajaran yang dapat dan semakin banyak dipergunakan guru saat ini adalah video. Baik digital maupun analog, video yang dapat juga disebut sebagai 'gambar bergerak' pada hakikatnya adalah teknologi untuk menangkap dan merekam sekaligus memproses dan mentransmisikan gambar-gambar tersebut untuk ditampilkan kembali sebagai mana aslinya pada waktu dan tempat lain dalam bentuk gambar.

Memang tidak dapat disangkal bahwa revolusi Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) sudah sangat dahsyat dewasa ini. Kedalamnya termasuk perkembangan dan kemajuan video itu sendiri. Pengaruh TIK --termasuk video-- sendiri sudah sangat kuat dalam kehidupan manusia yang di dalamnya ada kita, para guru. Bagi guru, video ternyata dan tentu saja sangat berguna dan dapat dipergunakan sebagai media pembelajaran.

Sebagai media dengan peran penghubung antara kehendak guru (menyampaikan materi) dan harapan siswa (menyerap materi pembelajaran) maka kunci utama dalam membuat dan memanfaatkan media pembelajaran adalah memastikan bahwa media pembelajaran itu benar-benar mampu menjadi perantara yang baik. Artinya, media pembelajaran yang dipergunakan ketika mengelola proses pembelajaran adalah media pembelajaran yang dapat mengantarkan guru sebagai pengguna teknolgi dengan maksud tercapainya efektivitas dan efisiensi pengelolaan pembelajaran itu sendiri.

Jika video pembelajaran sudah dipilih menjadi media pembelajaran sebagai usaha mewujudkan pengelolaan pembelajaran yang berbasis TIK maka guru dituntut untuk memastikan bahwa media pembelajaran itu benar-benar mampu menjembatani fungsi guru sebagai pendidik, pengajar dan pembimbing dengan hak-hak peserta didik untuk mendapatkan pendidikan dalam proses pembelajaran yang baik dan menyenangkan itu.

Beberapa perinsip yang sudah dikemukakan Raharjo (1988) dalam membuat media pembelajaran perlu juga menjadi sebagian dari pegangan guru. Menurutnya bahwa media yang akan dipilih dan dibuat hendaklah jelas peruntukan penggunaannya (untuk siapa, untuk keperluan apa dan dimana akan dipergunakan). Dalam hal ini tentu saja media (video) pembelajaran yang akan dibuat adalah untuk peserta didik kita dengan perbedaan tingkat kelas dan pengatahuannya. Waktu dan tempat penggunaanny sudah pasti akan dipakai di sekolah (ruang pembelajaran) kita. Dengan mempertimbangkan beberapa keadaan dan ketentuan yang ada itu, kita harapkan media yang dibuat dan dipilih akan bisa dipergunakan secara maksimal mendukung tercapainya tujuan pembelajaran yang sudah ditetapkan.

Sebagai guru kita memang tidak bisa lari dari keharusan membuat media pembelajaran termasuk media seumpama video. Dengan harapan agar kita mampu mencapai tujuan pembelajaran yang optimal itu maka melengkapi pengelolaan pembelajaran dengan media pembelajaran semacam video adalah menjadi sebuah keniscayaan. Sudah banyak dan sering dikemukakan bahwa manfaat media pembelajaran (termasuk video) itu sangat banyak dan luas. Manfaat itu misalnya, 1) dapat memaksimalkan pencapaian tujuan pembelajaran; 2) memberi kemudahan dalam proses pembelajaran untuk mencapai efektivitas dan efisiensi pembelajaran; 3) mampu merangsang peserta didik untuk mandiri dan saling berinteraksi; 4) akan meningkatkan motivasi dan daya serap peerta didik; dan pasti masih banyak lagi manfaatnya.

Dari catatan sederhana itu dapat disimpulkan bahwa pada hakikatnya penggunaan video pembelajaran (termasuk media pembelajaran lainnya) adalah agar sebagian atau semua pesan yang akan disampaikan dalam pembelajaran yang akan dilakukan dapat tersampaikan melalui media tersebut. Selain itu diharapkan media itu akan menciptakan kemudahan dalam proses pengelolaan pembelajaran. Kemudahan yang diharapkan guru sesungguhnya adalah kemudahan bagi peserta didik dalam menerima materi pembelajaran itu sendiri. Kemudahan bagi guru, walaupun juga diharapkan tapi yang diutamakan adalah kemudahan bagi siswa sendiri.*** (dari berbagai sumber)

Sabtu, 01 Maret 2014

Catatan Perjalanan Pertemuan MKKS



PERJALANAN untuk pertemuan MKKS (Musyawarah Kerja Kepala Sekolah) SMA/ MA hari ini, Sabtu (01/ 03) merupakan perjalanan yang terberat berbanding pertemuan-pertemuan sebelumnya. Pertemuan MKKS yang digilirkan dari satu sekolah ke sekolah lainnya membuat perjalanan menuju sekolah tempat pertemuan mermpunyai catatannnya sendiri-sendiri.


Untuk pertemuan bulan Maret 2014 ini, misalnya sesuai jadwal yang sudah ditetapkan sebelumnya, pertemuan akan dilaksanakan di SMA Negeri 2 Moro, di Dusun Niur Kecamatan Moro. Sekolah yang baru berdiri tiga tahun lalu itu memang berlokasi di tempat yang terbilang jauh dari kota kecamatan. Berada di Pulau Combol, Sugi, Kecamatan Moro, sekolah ini memerlukan perjalanan laut lebih dari satu jam dari Pelabuhan Moro ke Pelabuhan Niur Permai, Dusun Niur. Para Kepala Sekolah yang berada di Pulau Karimun (tujuh sekolah) bahkan harus berangkat dari Pelabuhan Karimun menuju Pelabuhan Moro terlebih dahulu baru melanjutkan perjalanan laut ke Dusun Niur itu. Sungguh perjalanan yang cukup melelahkan.

Kami yang berada di Pulau Karimun, pagi-pagi sekitar pukul 07.30 sudah berangkat dari Pelabuhan Domestik Tanjungbalai Karimun. Dengan menumpang KM Kurnia Jaya kami berangkat dan sampai di Pelabuhan Moro pukul 08.40. Istirahat sebentar, kami meneruskan perjalanan laut dengan menggunakan bot pancung pada pukul 08.50. Tepat pukul 10.00 kami sampai di Desa Niur, lokasi sekolah. Kami disambut dengan bunyi kompang yang dibawakan oleh para siswa/ wi SMA Negeri 2 Moro. Dan pukul 10.10 WIB kegiatan MKKS sudah dimulai.

Perjalanan laut satu jam antara Karimun ke Moro sebenarnya tidaklah terlalu berat. Gelombang laut tidak terlalu kuat. Tapi penumpang yang padat dengan kapal yang tergolong kecil, membuat kenyamanan perjalanan ini agak terganggu. Tidak terasa juga ada pendingin udara di ruangan yang rada pengap itu. Alhamdulillah, perjalanan lancar dan selamat dengan aman sampai di Moro.

Jika pelayaran Karimun- Moro aman dan lancar tapi pelayaran dari Moro ke Niur sedikit menegangkan. Dengan naik bot pancung yang relatif kecil (lebar satu meter setengah saja, panjang antara 6-7 meter hanya beratap kembes) rasanya menaiki bot ini sangat menakutkan. Gelombang memang tidak terlalu kuat. Namun kami harus rela tersiram percikan air laut yang terbawa angin ke dalam kapal. Maklum, botnya tidak berdinding dan tidak juga beratap permanen. Perjuangan yang menegangkan, kata saya dalam hati. Padahal saya saya sudah sangat biasa naik motor seperti ini. Bertugas di pulau-pulau kecil seperti di Kabupaten Karimun, harus mau dan mampu menggunakan kenderaan seperti ini.

Selain siraman air laut, perjalanan yang jauh dengan satu jam lebih perjalanan juga membuat satu ketakutan tersendiri bagi kami para Kepala Sekolah. Kami cukup merasa tegang berada dalam bot kecil itu. Beberapa orang di antara kami bahkan tidak berani berbicara apalagi bergurau sebagaimana biasanya. Jelas itu karena merasa takut. Terbayang jika bot ini oleng dan  masuk air. Kami sama sekali juga tidak dilengkapi dengan pelampung oleh kapten bot itu. Dan jika terjadi sesuatu (karam, misalnya) tentu saja kami akan mati konyol di laut yang amat dalam itu. Itulah yang menakutkan kami.

Tapi alhamdulillah kami selamat sampai di Pelabuhan Niur Permai di Dusun Niur. Para siswa SMA Negeri 2 Moro yang sudah menunggu sejak beberapa menit sebelumnya bersama para guru, tampak lega karena kami sudah sampai. Dengan tepukan kompang, mereka menyambut kami bagaikan pejabat teras kabupaten yang dating berkunjung. Seingat saya, inilah pertama kali para Kepala Sekolah disambut kompang dalam perjalanan pertemuan MKKS yang memang rutin setiap bulan. Kali ini terasa istimewa pertemuan ini.

Dari pelabuhan kami berjalan kaki beberapa menit lalu kami diantar dengan menggunakan kenderaan roda dua. Sejumlah siswa dan guru yang memiliki kendaraan bermotor membawa kami kami menuju SMA Negeri 2 Moro yang berjarak kurang lebih satu kilo meter dari pelabuhan.

Istirahat sebenar pertemuan pun dilaksanakan sesuai agenda yang sudah ditetapkan sebelumnya. Pertemuan berjalan dengan lancer sampai menjelang waktu zuhur. Selepas zuhur di masjid Dusun Niur kami kembali naik bot yang sama menuju Moro. Dan dari Moro –para Kepala Sekolah yang bertugas di Pulau Karimun dan sekitarnya-- meneruskan perjalanan laut lagi ke Karimun. Sekali lagi, alhamdulillah, pejalanan kami berjalan dengan lancar dan aman walaupun cukup menakutkan. Pertemuan dengan segala agendanya juga tercapai dengan baik. Sykur sekali! ***

 
Copyright © 2016 koncopelangkin.com Shared By by NARNO, S.KOM 081372242221.