BREAKING NEWS

Rabu, 26 Februari 2014

Catatan dari Peresmian Kantor Baznas Karimun

SIANG Senin (24/ 02/ 14) lalu, Wakil Bupati Karimun, H. Aunur Rafiq, atas nama Bupati Karimun meresmikan penggunaan gedung baru Baznas (Badan Amil Zakat Nasional) Kabupaten Karimun. Gedung yang berlokasi tidak jauh dari Masjid Agung Poros (Jalan Sukarno- Hatta) Karimun itu tampak megah dengan nuansa warna hijau. Gedung baru yang berdekatan dengan Rumah Tahfiz Annamira Karimun itu dibangun oleh Pemda Karimun dengan anggaran sebesar Rp ......sebagai bentuk perhatian yang besar kepada lembaga pengumpul dan penyalur zakat, inafak dan sedekah masyarakat Kabupaten Karimun itu.


Sejak Baznas (dulu disebut BAZDA) berdiri pada tahun 2007, lembaga ini terus berkembang. Dari tidak memiliki sekretariat (kantor) akhirnya memiliki sekretariat. Semula berkantor di salah satu ruang Gedung Jami'atul Birri, Masjid Agung Kabupaten Karimun. Di bawah kendali Ketua Baznas, H. Atan AS lembaga pengumpul dana muzakki ini berkembang pesat. Animo masyarakat terus meningkat untuk membayarkan zakat, infaq dan sedekahnya melalui Baznas Karimun. Setiap tahun terus meningkat jumlah dana yang berhasil dikumpulkan dan sekaligus didistribusikan.

Dari data yang dikeluarkan Baznas Karimun tercatat bahwa pada tahun 2013 lalu jumlah zakat dan infaq yang berhasil dikumpulkan adalah Rp 296.563.950 (zakat mal); Rp 789.548.184 (zakat profesi) dan Rp 24.239.585 (infaq/ sedekah). Jika dijumlahkan seluruhnya Rp 1.110.351.719 (satu miliar seratus sepuluh juta tiga ratus lima puluh satu ribu tujuah ratus sembilan belas rupiah). Sungguh fantastis. Uang itu sudah disalurkan kepada yang berhak (mustahik) dalam tiga periode, masing-masing Rp 300 jt, Rp 305 jt dan Rp 500 jt.

Menurut data yang diedarkan Baznas Karimun, ada 10.838 orang mustahik yang menerima distribusi zakat tersebut. Selain dalam bentuk dana habis (dari zakat) penyalurannya juga ada dalam bentuk dana pengembangan usaha. Bantuan ini diberikan kepada para pengusaha kecil untuk mengembangkan usahanya. Dana yang dipakai juga merupakan dana sedekah atau infaq. Bukan dari dana zakat karena dana zakat sepenuhnya diberikan kepada asnab yang sudah ditetapkan dalam Alquran.

Prestasi itulah yang membuat Pemda Karimun sangat mengapresiasi kinerja pengurus Baznas Karimun. Akhirnya Pemda tidak hanya memberikan ruangan untuk sekretariat tapi kini sudah dibangunkan sebuah gedung megah untuk berkantor sendiri. Dengan kantor sendiri, diharapkan Baznas Karimun semakin berkembang dan dapat membantu Pemda dalam usaha mengentaskan dan mengurangi masyarakat miskin di kabupaten berazam ini.

Pak Wabup yang menyampaikan pidato dalam acaera peresmian mengingatkan betapa pentingnya peranan Baznas dalam usaha mengurangi kemiskinan. Diharapkan kelak para mustahik itu berubah menjadi muzakki. Baznas juga perlu memberikan pembinaan kepada para mustahik agar bermental orang kaya. Tidak selamanya menjadi orang miskin. Jika ada modal usaha yang diberikan Baznas, diharapkan modal itu berkembang dan nantinya mampu pula berzakat (muzakki) tidak selalu menjadi penerima zakat (mustahik) saja. Semoga!***

Selasa, 25 Februari 2014

Baznas, Kurangilah Masyarakat Miskin

"SEJATINYA Baznas Karimun mengurangi jumlah masyarakat miskin di kabupaten ini." Itu salah satu pesan Wabup (Wakil Bupati) Karimun, H. Aunur Rafiq, siang Senin (24/ 02/ 14) ketika meresmikan penggunaan gedung baru, kantor Baznas Karimun. Di hadapan Ketua Baznas Karimun, H. Atan AS, Kakankemenag Karimun, H. Afrizal dan para undangan lainnya, Aunur Rafiq dalam sambutannya memberikan beberapa pesan dan harapan kepada pengurus Baznas Karimun.

Pemerintah Daerah berkepentingan sekaligus berkewajiban meningkatkan kesejahteraan rakyatnya. Pemerintah selalu dan akan selalu membuat program pengentasan kemiskinan dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Untuk itu,semua pihak hendaklah saling bahu-membahu menyukseskan program ini. Dan Baznas berkesempatan membuktikan jati dirinya dalam rangka mengurangi angka kemiuskinan ini. Begitu inti sambutan orang nomor dua di Karimun itu.

Benar apa yang disampaikan Pak Rafiq. Dan Baznas selama ini memang sudah melakukannya. Dari sekian ratus juta uang dari para muzakki kabupaten, tidak semua uang itu berupa zakat. Ada juga dana berupa sedekah dan inafaq. Jika uang zakat sudah diperuntukkan untuk delapan asnab yang sudah ditentukan maka uang yang terakhir ini dapat pula diberikan kepada para masyarakat yang ingin mengembangkan usahanya. Biarpun tidak terlalu miskin, tapi demi pengembangan usaha (dagang, dll) maka Baznas dapat memberinya. Harapan selanjutnya, kelak mereka ini dapat pula memberikan sebagian rezeki dari usahanya menjadi zakat atau infak dan sedekah.

Jika orang miskin dapat dikurangi dengan pemberian zakat ini maka diharapkan jumlah penduduk miskin semakin hari semakin berkurang. Pemerintah harus terus mendorong lembaga ini untuk mengurangi rakyat miskin di daerah ini. Berulang-ulang Pak Wabup mengingatkan ini dalam sambutan peresmiannya.

Semoga dengan peresmian gedung baru ini, Baznas Karimun semakin bersemangat melanjutkan program-program yang sudah disusun selama ini. Amiin.***

Minggu, 23 Februari 2014

Surat untuk Guru: Berharaplah Anak Didik Punya Blog



SAYA --menurut saya-- tidaklah mahir menggunakan PC atau laptop. Balckbarry, iPhon,  iPad atau gedget canggih lainnya saya juga tidak punya. Sebagai guru, kebutuhan penggunaan teknologi elektronik ini saya pelajari secara otodidak saja karena kebutuhan profesional. Meski sudah puluhan tahun bisa mengoperasikan komputer tapi itu baru pada program word, exel dan power point. Itulah program utama yang memang dibutuhkan guru.


Perkembangan TIK yang begitu pesat membuat kemampuan dan keterampilan menggunkan alat canggih ini tidak bisa dielakkan. Dewasa ini, hampir semua orang di semua keadaan dan di semua situasi tidak lagi bisa melepaskan dirinya dari teknologi yang bernama komputer ini. Dengan jaringan internet yang sudah ada hampir di merata tempat, sudah pasti komunikasi melalui teknologi ini menjadi bagian kehidupan sehari-hari.
Sementara secara pribadi saya sesungguhnya belumlah terlalu mahir dalam mengoperasikan komputer justeru saya bermimpi bagaimana anak-didik saya mampu melakukannya lebih hebat. Saya malah bermimpi anak didik saya masing-masing memiliki blog pribadi tempat mereka berkreasi di bidang teknologi informasi dan komunikasi ini.

Punya blog saja sebenarnya belumlah ideal. Harapan sebenarnya adalah mereka menjadi bloger. Punya blog dengan menjadi bloger tentu berbeda. Sekedar memiliki akaunt blog saja jelas tidak lebih sulit. Kita tinggal mendaftar di situs tertentu (berbayar atau gratis) untuk membuat blog. Dengan mengikuti semua langkah yang sudah ditentukan, membuat blog tidaklah sulit. Buat nama yang diinginkan dan itu dapat diakses setiap saat selama admin situs yang dipakai memandang bahwa blog yang kita buat tidak ada masalah.
Setelah blog dimiliki lalu mau diapakan? Jika ternyata halaman blog hanya halaman standar yang memang sudah disediakan scara gratis oleh situs-situs tertentu itu dan tidak benar-benar dipakai untuk membuat dan menyampaikan informasi kepada pembaca lain, maka itulah yang disebut memiliki blog. Ini saja belum dapat disebut sebagai bloger. Jika pun status itu mau dipakai, itu pun baru bloger pasif. Yang saya maksud istilah bloger di sini adalah bloger aktif.

Bagi para peserta didik kita, memiliki blog saja di tahap awal tentu itu sudah bagus. Setiap guru TIK masuk di kelas dapat meminta anak untuk membukanya, lalu menjadikan itu sebagai bagian dari kegiatan pembelajaran TIK di kelas. Artinya, memiliki blog ksong pun tetap itu mempunyai nuilai tertentu bagi siswa dan guru itu sendiri.

Persoalannya, sudahkah peserta didik kita memiliki blog pribadi? Atau, sudahkah guru menyuruh, meminta atau mengajarkan membuat blog pribadi peserta didiknya? Jangan-jangan guru pun belum memiliki blog pribadi seperti pernah ditulis seorang kompasianer yang sudah terkenal sebagai bloger.

Andai saja blog-blog  pribadi itu dibuka (sendiri, sekurang-kurangnya) maka itu berarti akan timbul juga kecintaan siswa kepada dunia internet yang selanjutnya jika dia aktif menulis, akan timbul pula kecintaannya pada dunia tulis-menulis. Sangat besar manfaat yang akan diterima peserta didik dan guru andai setiap peserta didik itu punya blog pribadi. Guru sendiri tentu akan memberi reward tertentu kepada mereka.
Harapan peserta didik memiliki blog pribadi tentu saja tidak bisa disandarkan harapannya hanya kepada guru TIK saja. Semua guru mesti berpartisipasi mendorong anak didiknya untuk memiliki blog pribadi. Tentu saja hal-hal berikut akan mempengaruhi hajat besar ini:
1) Apakah gurunya sudah memiliki blog pribadi terlebih dahulu? Ini sangat berpengaruh kepada anak didik kita. Bagaimana memotivasi anak didik untuk memiliki blog sendiri jika gurunya tidak/ belum punya blog sendiri. Itu akan berpengaruh besar kepada anak didik.
2) Guru TIK adalah tenaga profesional di bidang TIK di sekolah yang akan memberi warna kepemilikan blog pribadi peserta didik ini. Walaupun alokasi waktu jam TIK hanya dua kali tatap muka dalam setiap minggu, itu tidak bisa menjadi alasan untuk tidak cukup dalam mengajarkan pembuatan blog. Waktu-waktu esktra kurikuler dapat diprogramkan untuk ini.
3) Kepala Sekolah harus mendorong semua guru di bawah kepemimpinannya untuk memiliki blog. Itu berarti, Kepala Sekolah sendiri wajib terlebih dahulu memiliki blog pribadi. Pertanyaannya, apakah Kepala Sekolah juga mau dan sudah memiliki blog sendiri?
4) Pihak Dinas Pendidikan harus pula memberi dorongan konkret dalam mengembangkan TIK di sekolah-sekolah terutama di sekolah setingkat sekolah menengah (Pertama/ Atas). Lomba-lomba membuat blog antar peserta didik harus diperbanyak.

Dan tentu saja masih ada beberapa kemungkinan lain yang akan berpengaruh terhadap harapan agar anak-didik memiliki blog pribadi. Semoga!***
Dimuat ulang dari:  http://edukasi.kompasiana.com/2012/09/10/surat-untuk-guru-berharaplah-anak-didik-punya-blog-485130.html

Sabtu, 22 Februari 2014

K-2, Setelah Lulus Lalu Mundur

BERITA sebuah harian pada hari Jumat (21/ 02) lalu menginformasikan adanya beberapa orang Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) K-2 (Kategori Dua) di lingkungan Pemda Karimun yang mundur. Mereka mundur, konon tersangkut dugaan pemalsuan data-data sebagai tenaga honorer. Kelompok honorer K-2 yang telah diumumkan Pemerintah Pusat beberapa hari lalu, di Pemda Karimun mendapatkan jatah lumayan jumlahnya walaupun tidak senmuanya dinyatakan lulus.

Setelah beberapa hari diumumkan dan diadakan verifikasi ulang terhadap data-data tenaga honorer ini diduga ada beberapa orang yang memalsukan datanya. Bahkan tersebar pula berita bahwa beberapa orang diantara yang diduga bermasalah tapi dinyatakan lulus itu sudah pernah dilaporkan oleh salah satu LSM ke pihak kepolisian. Namun kasusnya terendap begitu saja. Kini, setelah ada pengumuman ternyata sebagian diantara mereka malah dinyatakan lulus dan akan diberi NIP sebagai PNS.

Apakah karena kasus dugaan pemalsuan data atau karena sebab lain, yang pasti setelah pejabat berwewenang melaksanakan veryfikasi ulang terhadap nama-nama honorer yang dinyatakan lulus itu, diberitakan ada beberapa orang yang menyatakabn mundur. Karena mundur sendiri atau mendapat tekanan agar mundur, hanya pihak-pihak terkait itulah yang tahu.

Pertanyaan yang muncul adalah bagaimana para tenaga honorer ini bisa terus diproses jika mereka menggunakan data palsu? Bagaimana tim seleksi sejak dari bawah bisa kecolongan hingga namnya tetap muncul sampai ke proses  akhir.  Dan akhirnya mereka dinyatakan lulus untuk segera diangkat menjadi PNS di republik ini.

Jika tim seleksi daerah merasa tertipu sehingga berkas-berkasnya tetap terkirim ke Pusat sana, apakah itu berarti oknum tenaga honorer ini saja yang bersalah karena telah menipu? Tentu saja tidak. Pasti juga ada oknum lain yang menyebabkan aksi penipuan data itu berjalan dengan mulus. Pertanyaan berikutnya, siapa yang mengeluarkan dan mengesahkan data-data palsu itu? Mereka seharusnya juga perlu diminta pertanggungjawabannya.

Di sisi lain, pengunduran diri oknum honorer K-2 yang terlanjur dinyatakan lulus itu tidak akan menghilangkan begitu saja pelanggaran hukum yang telah mereka lakukan. Jika pemalsuan data itu adalah atas kerja sama antara oknum honorer dengan pihak-pihak yang membantunya maka pihak-pihak itu harus ikut bertanggung jawab. Pihak penegak hukum seharusnya memproses pelanggaran hukum ini.

Harus diingat bahwa akibat pelanggaran hukum dalam bentuk pemalsuan data yang dilakukan oknum-oknum ini tentu saja sudah menyebabkan hilangnya kesempatan honorer lain yang kemnungkinan bisa lulus tapi tidak bisa karena kuota yang sudah ditetapkan oleh Pusat. Jika umpama ada kuota seratus orang, maka kuota ini akan ditutup pada garis angka seratus sesuai nilai yang ditentukan walaupun yang berhak untuk diajukan lebih banyak. Kini kesempatan itu tertutup karena adanya oknum pemalsu ini.

Diharapkan aparat hukum bertindak cepat dan tegas untuk menelisik pelanggaran hukum ini. Harus dijadikan kasus ini sebagai pembelajaran oleh masyarakat untuk masa-masa mendatang. Pemerintah Daerah juga harus proaktif mendorong pemberisahan nama baiknya agar tidak dituding ikut bermain dalam kasus ini.***   
  

Selasa, 18 Februari 2014

Pengembangan Diri Guru dan Tradisi Membaca

BEBERAPA kali sudah mengikuti pelatihan. Berbagai penataran dan sejenisnya selalu juga diikuti. Kegiatan MGMP pun tidak diabaikan. Tapi mengapa merasa tidak berkembang dan tidak bertambah meningkat juga profesionalitas dalam mengajar? Mengapa tetap susah mengaktifkan anak dalam pembelajaran? Kurang lebih seperti itu curhat beberapa guru ketika ngobrol-ngobrol ringan di satu pertemuan sesama guru beberapa waktu lalu.

Sebagai sesama guru, saya memahmi kegalauan rekan-rekan ini. Masa kerja sebagai guru (PNS) juga sudah lumayan lama. Dalam golongan III/ C senior, berarti tiak kurang masa kerja antara 7-8 tahun. Itu bukan waktu yang sebentar.  Sayang memang jika rekan-rekan guru ini belum juga merasa enjoy dalam tugas. Masih merasa belum mampu menciptakan kelas yang efektif dan atraktif sebagaimana tuntutan pembelajaran yang menyenangkan.

Sesungguhnya merasa kekurangan dan merasa belum berkembang dalam mengemban tugas sebagai guru, itu adalah sesuatu yang positif. Menurut saya sikap merasa belum juga mampu menjadi guru yang baik, itu adalah sikap sportif yang positif walaupun bernilai negatif karena kemampuan pengembangan dirinya tidak berjalan dengan baik. Ada pengakuan sendiri atas kekurangan dan kelemahan dalam menjalankan tugas tentu saja sesuatu yang baik.

Tentu saja perasaan itu tidak boleh diendap begitu saja. Tidak boleh guru membiarkan dirinya dalam ketidakmampuan terus-menerus dalam melaksanakan fungsi dan tanggung jawab sebagai guru. Tercapainya predikat guru profesional dalam arti berkemampuan dalam melaksanbakan fungsi dan tanggung jawab sebagai pendidik dengan baik, harus terus diusahakan.

Mungkin banyak cara dan strategi yang dapat dilakukan. Berdiskusi dan saling berkomunuikasi antara satu guru dengan lainnya, adalah salah satunya. Tapi mengembangkan tradisi membaca adalah dasar dari segala usaha itu. Berkomunikasi dengan berbagai fasilitas yang tersedia saat ini memungkinkan dan memudahkan para guru untuk saling memberi dan menerima dalam komuniukasinya. Tapi budaya membaca tetap akan menjadi kunci dari usaha pengembangan diri itu. Maka jangan pernah berhenti membaca. Hanya membacalah yang akan membuat guru banyak tahu dan kian mengerti kalau dia masih banyak yang perlu diketahui. Ayo, mari terus mengembangkan budaya membaca terutama pada anak-anak kita.***

Rabu, 12 Februari 2014

Rendahnya Minat Baca Siswa

Dari Google.com
KEINGINAN untuk meningkatkan minat membaca di kalangan peserta didik di sekolah ternyata tidak mudah mewujudkannya. Dari program guru --Mata Pelajaran/ Kelas-- hingga program sekolah untuk membuat para peserta didik memiliki minat baca selalu terbentur pada belum adanya budaya membaca di kalangan siswa. Inilah fakta bahwa budaya membaca itu memang belum juga ada.
Saya setuju, rendahnya minat membaca suatu bangsa akan tercermin dari rendahnya minat membaca masyarakatnya. Dan rendahnya minat membaca masyarakat dapat diukur dan dilihat dari seberapa besar minat membaca para peserta didik di sekolah. Tinggi-rendahnya minat membaca warga sekolah secara langsung akan menentukan minat membaca masyarakat sebagai stake holder sekolah itu sendiri.

Termasuk sebagai indikator minat membaca warga sekolah adalah minat membaca guru dan pegawai yang ada di sekolah. Tidak hanya minat membaca para siswanya saja yang dijadikan tolok ukur. Komponen warga sekolah lainnya, dimulai dari Kepala sekolah, guru, staf TU dan tentu saja peserta didik sendiri akan menjadi ukuran seberapa tinggi minat membaca warga sekolah.

Untuk melihat rendahnya minat membaca di sekolah dengan mudah dapat diukur dari daftar kunjungan warga sekolah ke Perpustakaan sekolah sendiri. Inilah yang memprihatinkan. Ternyata sampai saat ini, terbukti tingkat kunjungan warga sekolah ke Perpustakaan Sekolah secara umum sangatlah rendah. Rata-rata warga sekolah yang mengunjungi perpustakaan di sekolahnya tergolong kecil. Terlebih-lebih sekolah-sekolah yang berada di daerah-daerah, warga sekolahnya juga masih merasa jauh dari perpustakaan. Perpusatakaan masih belum menjadi tempat yang menyenangkan. Pengunjungnya masih sangat rendah.

Di SMA Negeri 3 Karimun, misalnya (tempat saya mengabdi) tingkat kunjungan warga sekolah di Perpusatakaan rata-rata per harinya hanya antara 9 (sembilan) orang sampai 22 orang dari 400-an orang siswa dan 40-an orang guru dan staf yang ada di sekolah. Dalam satu bulan berarti hanya ada pengunjung perpusatakaan antara 225 - 550 orang. Artinya setiap harinya hanya ada kurang lebih 5,8 persen saja warga sekolah sebagai pengunjung perpustakaan. (data: bulan Januari 2014). Sangat menyedihkan fakta itu.

Di sekolah-sekolah lain di Pulau Karimun khususnya, persentase kunjungan ke perpusatakaannya juga tidak jauh berbeda. Begitu pula di SMA Negeri 1 Moro (di Pulau dan Kecamatan Moro) pengunjung perpusatakaannya hanya antara 10 hingga 15 orang setiap harinya. Sementrara data di Perpustakaan SMA Negeri 1 Kundur (Pulau Kundur) pengunjung perpusatakaannya juga hanya antara 6- 63 orang per harinya.  Padahal siswanya 500 orang lebih ditambah guru dan pegawai sebanyak 50-an orang. Itulah bukti rendahnya minat baca warga sekolah khususnya siswa, di Kabupaten Karimun.

Mengapa tingkat dan minat membaca siswa begitu rendah? Beberapa kemungkinan penyebab rendahnya minat baca siswa antara lain, 1) Kurangnya dorongan dari para guru agar para siswa mau membaca secara rutin. Jika semua guru (pengampu Mata Pelajaran apapun) memberikan dorongan secara bersama dengan selalu mengaitkan kegiatan membaca dengan proses pembelajaran dan pemberian penilaian maka para peserta didik dipastikan akan memaksakan dirinya untuk secara rutin membaca. Meskipun di tahap awal merasa terpaksa namun lama-kelamaan akan menjadi kebiasaan. Di situlah timbulnya kebudayaan: budaya membaca.

Guru bisa mendorong siswa untuk membaca dengan berbagai cara. Selain pemberian nilai pelajaran yang diampu, juga bisa dalam bentuk-bentuk lomba atau pembuatan laporan dari buku-buku yang sudah dibaca. Program membaca buku satu bulan atau setiap satu pekan satu buku, misalnya tentu saja harus digalakkan. Dengan saling berkoordinasi antara satu guru dengan guru lainnya, anak-anak dapat diatur waktu dan tema buku bacaannnya oleh para guru. Tapi yang lebih penting dalam pemberian dorongan ini adalah bagaimana seorang guru mencontohkan langsung bahwa guru sendiri adalah pemnbaca-pembaca buku yang aktif.

2) Penyebab lainnya adalah kurang menariknya perpustakaan sekolah bagi siswa. Hal ini bisa disebabkan oleh suasana di ruang perpusatakaan yang kurang nyaman atau bisa juga karena koleksi buku-buku yang tersedia tidak memadai. Banyak sekolah yang kurang terampil mengelola perpusatakaan. Penyebab utamanya adalah karena belum adanya guru sebagai pustakawan yang bertugas di perpustakaan. Kebanyakan Perpustakaan Sekolah dikelola oleh para guru Mata Pelajaran tertentu yang kebetulan jumlah jam mengajarnya belum tercukupkan oleh jam pelajaran yang ada. Kepala Sekolah menugaskannya sebagai pengelola perpusatakaan.

Selain faktor-faktor yang terjadi di sekolah, penyebab rendahnya minat membaca siswa bisa juga pengaruh dari orang tua atau keluarga. Keluarga dengan tingkat pendidikan yang rendah, dengan budaya membaca yang rendah juga akan menyebabkan anak-anak mereka tidak memiliki tradisi membaca pula. Orang tua tidak membiasakan putra-putrinya sedari kecil untuk membaca maka ketika berada di bangku sekolah juga tidak akan terbiasa membaca.

Sudah seharusnya sekolah dan guru khususnya untuk membuat strategi jitu agar siswa-wi terbiasa membaca. Gerakan membaca di sekolah-sekolah wajib digalakkan. Lomba-lomba membaca sekaligus lomba menulis di kalangan siswa harus terus dilaksanakan. Kewajiban membaca dengan pengawasan dan evaluasi oleh para guru juga akan membantu gerakan membaca sekolah. Apapaun bentuk kegiatan, jangan lupa pemberian penghargaan atas prestasi siswa yang menunjukkan kemampuan dan kemauan membacanya.
Lebih dari itu senua, teladan dari guru adalah kunci utama untuk suksesnya semua program yang ada. ***

Jumat, 07 Februari 2014

Mari Belajar dari Timnas U-19



ISTIRAHAT sambil menyaksikan --via layar kaca-- laga ‘uci coba’ bertitel  TOUR INDONESIA TIMNAS U-19 antara Kesebelasan Garuda Muda PSSI U-19 menghadapi kesebelsan Pra PON DIY, Jumat, 07/ 02/14 malam ini,  saya mencoba mengamati sekaligus ingin menjadikan permainan anak-anakmuda harapan bangsa Timnas U-19 ini sebagai sebuah pembelajaran. Kuno, ah. Biar saja. Ini penting menurut saya.


Dalam dua kali uji coba sebelumnya, anak-anak Indra Syafri bermain begitu hebat. Pembelajaran yang dapat dipetik dari mereka bahwa jika bersungguh-sunjgguh dalam melaksanakann tugas maka hasilnya akan memuaskan. Selain bersungguh-sungguh mereka juga mampu bekerja sama dengan baik. Kerjasama sebelas orang pemain itu mereka buktikan dengan baik dan berbuah manis.

Pemain bertahan begitu solid. Menjaga gawang, jika sesekali terlepas bola mnelewati pemain belakang, dia akan dengan sigap mengamankan gawangnya. Maka tidak heran mereka tidak mudah kebobolan dalam dua laga itu. Mereka memanangkan laga uji coba itu. Kita semua berdecak kagum. Di pundak mereka sudah ada beban membawa marwah merah-putih untuk beberapa even ke depan.

Pemain tengah dan penyerang juga begitu agresip dalam melaksanakan tugas. Ketika melawan PSS Sleman, Senin (03/02) lalu, misalnya mereka membobol gawang lawannya dengan tampak begitu mudah. Dan ketika menghadap Persiba Bantul mereka juga mampu mendominasi permainan dan membobol gawang anak-anak Bantul dengan kelihatan juga mudah. Tentu saja itu karena begitu hebatnya para pemain tengah dan penyerang mereka.

Nah, pada laga ketiga Jumat malam ini mereka melawan kesebalsan tuan rumah Pra PON DIY. Pasti kita setuju kalau mereka sangat mengecewakan khususnya di babak pertama. Tidak kelihatan kehebatan yang bisa menjadi pembelajaran kita di babak pertama ini. Mereka malah benar-benar diberi pelajaran berharga oleh anak-anak Jogya di laga ketiga ini. Tetap pembelajaran buat kita: jika tidak bersungguh-sungguh maka hasilnya akan mengecewakan.  

Mari kita ulang laga itu. Laga, sejak pluit pertama ditiup, kelihatan anak-anak garuda di satu sisi seperti agak memandang remeh sementara di sisi lain anak-anak Yogya justeru lebih serius. Mereka memburu si kulit bunar kemanapun bola berlari. Sementara anak-anak ‘berbaju merah’ lebih santai tampaknya. Akhirnya, pada menit ke-18 anak-anak garuda muda sudah mendapt pelajaran pertama dengan dibobolnya gawang mereka.

Anak-anak Pra PON tetap bergelora sementara anak-anak Indra Syafri masih terlalu banyak berbuat salah. Suka offside penyerangnya dan suka kacau pemain bertahannya. Maka menit ke-26 kembali DIY member ancaman serius.  Salah seorang penyerangnya berhasil melewati pemain belakang U-19 di sebelah kiri. Dan kiper U-19 harus berjibaku merebut bola itu agar tidak bobol kembali.

Ternyata pemain Yogya terus tambah menggila. Pada menit ke-41 kembali gawang anak-anak U19 terancam.   Penyerang  sudah berhadapan sendiri. Sayang tendangannya melayang tinggi.  Selamat juga gawang anak-anak garuda muda. Tapi pada menit ke-42  anak-anak Yopgya lewat kaki Martinus Mardianto, kembali membopbol gawang anak-anak garuda. Mereka hanya butuh satu menit dari ancaman sebelumnya untuk member pelajaran baru kepada tim Garuda.

Syukurlah, di menit-menit terakhir babak pertama dapat kesempatan mengurangi rasa malu. Pada menit ke-44 Reza Pahlevi mampu memeprkecil ketertinggalan melalui sundulan kepalanya setelah mendapat umpan dari tendangan bebas temannya. Penonton bersorak dan Indra Syafri sedikit bernafas lega. Dan babak pertama ini ditutup dengan kedudukan 2-1 untuk kemenangan Pra PON DIY.

Di babak kedua, Alhamdulillah anak-anak muda harapan bangsa ini mampu keluar dari tekanan. Kini mereka yang mulai menekan. Mereka kembali cerdas bekerja sama dan bertahan juga mulai solid. Para penyerang sudah tidak terlalu egois. Dan dari perubahan itulah akhirnya mereka mulai menghasilkan gol. Dua gola yang mereka ceploskan ke gawang lawan, adalah berkat perubahan itu. 

Pelejaran berharaga dari permainan anak-anak U-19 adalah bahwa hanya kembali dengan bersungguh-sungguh serta bersemangat pantang menyerah itulah mereka mampu bangkit. Ini sangat penting, karena sebenarnya mereka sudah memiliki kemampuan untuk itu. Hanya saja, ketika di babak pertama mereka tidak menggunakan kemampuan itu maka mereka akan merasakan penderitaan itu.  Gol-gol yang mereka raih di ujung babak kedua yang mengubah posisi dari kalah menjadi memang, adalah gol yang lahir dari semangat membara yang kembali bergelora. Selamat, anak muda. Berilah terus inspirasi kemenangan itu untuk kami semua.***

Kamis, 06 Februari 2014

Bukan di Kertas Tapi di Kelas

SEKOLAH-sekolah kembali mendapat edaran dari Dinas Pendidikan Kabupaten di awal tahun ini. Kepala Sekolah diminta untuk mengusulkan para guru yang sudah memiliki sertifikat sebagai guru profesional ke Dinas Pendidikan agar dapat dibayarkan tunjangan profesinya. Dengan syarat-syarat yang sudah disampaikan, Kepala Sekolah diingatkan untuk segera mengirimkan berkas itu paling lambat pada akhir Feburari ini.

Ada beberapa berkas yang wajib dilampirkan oleh setiap guru yang akan diusulkan Kepala Sekolah. Selain fotokopy sertifikat sebagai guru profesional yang dilegalisasi oleh PT yang mengeluarkan juga harus melampirkan fotokopy ijazah/ akta IV, SK pertama dan SK terakhir, SK Kenaikan Gaji Berkala, NUPTK, NRG, Surat Keterangan Mengajar minimal 24 jam dilengkapi SK Mengajar, buku bank dan seabrek syarat lainnya lagi. Semua berkas itu menjadi dasar oleh Pemerintah untuk membuktikan bahwa guru bersangkutan adalah guru profesional. Dan dengan itu layak untuk mendapatkan tunjangan sebesar gaji yang sudah diterima per bulannya. Guru bersangkutan dianggap sudah profesional.

Komitmen Pemerintah untuk membayar tunjangan profesi guru adalah kebijakan yang sudah sangat lama ditunggu-tunggu. Bermulanya kebijakan penetapan guru profesional ini sejak tahun 2007 lalu memang menjadi tonggak penting dalam usaha meningkatkan kesejahteraan guru. Pelan-pelan imej guru sebagai profesi 'buangan' mulai berubah menjadi profesi bergengsi dan menjadi buruan. Meskipun belum kelihatan pengaruh pemberian tunjangan profesi guru dalam kinerja guru untuk meningkatkan mutu pendidikan, namun keinginan guru untuk mendapatkan sertifikat profesi sebagai bukti guru profesional semakin tinggi. Berbagai cara terkadang ditempuh untuk mendapatkan selembar kertas yang bernama sertifikat profesi itu. Dan dengan sertifikat itu seorang guru berhak disebut sebagai guru profesional.

Pertanyaannya, apakah profesionalisme guru dapat diukur hanya dengan sertifikat serta seabrek syarat yang harus dipenuhi guru dalam rangka mendapatkan tunjangan profesi itu? Jawabnya tentu tidak. Segala yang tertulis di kertas itu baru sebatas tanda dan bukti di atas kertas belaka. Sesungguhnya ukuran dan bukti profesionalisme seorang guru itu ada di dalam ruangan kelas atau ruangan pembelajran lainnya.

Ukuran seorang guru itu sudah profesional atau belum tentu saja akan ditentukan ketika guru melaksanakan fungsi dan tanggung jawabnya sebagai pendidik yang profesional di kelas. Dapatkah guru mengelola pembelajaran dengan baik untuk melahirkan anak-anak yang kreatif dan inovatif serta menguasai materi yang diberikan guru? Itulah kunci untuk mengukur profesionalisme seorang guru. Guru profesional bukanlah di kertas tapi di kelas (baca: dalam mengelola pembelajaran).***

Senin, 03 Februari 2014

Contoh yang Tidak Baik

TEPAT pukul 07.00 bel dibunyikan. Seperti Senin sebelum-sebelumnya, Senin (03/02) ini Apel Senin Pagi segera akan dimulai. Tapi pagi ini, agak berbeda. Pembina Upacara bukan Kepala Sekolah atau guru yang mewakili Kepala Sekolah.


Hari ini, sesuai rencana akan bertindak sebagai Pembina Upacara adalah Camat Meral, Eko Riswanto. Itulah sebabnya sebelum bel dibunyikan, para siswa sebagai peserta dan petugas upacara sudah bersiap-siap di halaman sekolah. Wakil Kepala Sekolah Urusan Kesiswaan sudah memberitahukan melalui pengeras suara supaya para peserta upacara segera bersiap-siap karena akan ada tamu itu.

Lima menit sudah berlalu. Selain para siswa, guru-guru SMA Negeri 3 Karimun juga sudah berbaris rapi di tempat biasa, sebelah kiri podium Pembina Upacara. Hanya tamu dari luar yang kebetulan sudah hadir duluan yang belum mengambil posisi barisan. Ada Kepala UPTD Meral- Tebing, ada Kepala Puskeasmas Meral dan seorang stafnya, ada tiga orang Pengawas Pendidikan yang juga bersiap akan mengikuti Upacara Bendera Senin Pagi. Sayangnya Pak Camat belum juga datang. Kata Kepala UPTD, Rahmat yang mencoba menelpon petinggi kecamatan itu mengatakan bahwa camat sudah di jalan.

Di halaman para siswa sudah memulai upacara dengan bagian pendahuluan. Setelah setiap ketua regu menyiapkan barisannya masing-masing, memberi hormat kepada Pemimpin Upacra dan melapor, lalu peserta upacara diambil alih oleh Pemimpin Upacra. Kemudian peserta diistirahatkan sambil menunggu pembina yang belum juga datang.

Beberapa guru dan pengawas yang hadir sudah mulai gelisah. Waktu upacara sudah berlalu 10 menit. Ada juga kekhawatiran, kalau-kalau peserta upacara (siswa) akan memnganggap sekolah tidak lagi disiplin. Biasanya persis pukul 07.00 itu upacara langsung dimulai. Jika ada yang terlambat akan diproses dan diberi sanksi. Jika sekarang sudah berlalu 10 menit, takutnya mereka akan mempersoalkannya. Begitu beberapa di antara guru dan pengawas berbisik-bisik.

Akhirnya upacara bendera itu dilanjutkan setelah Sekcam muncul. Saat itu sudah pukul 07.13. Pembawa acara langsung mempersilakan Pembina Upacara mengambil tempat. Acara dimulai dengan penghormatan kepada Pembina Upacara dan diteruskan menaikkan sang merah putih lalu acara-acara lainnya sesuai tertib acara yang sudah disusun.

Selepas acara selesai, ternyata tadi ketika bendera sudah dinaikkan, Pak Camat baru datang. Menurut guru piket di depan sekolah, Pak Camat kembali lagi ke kantor karena sudah ada Sekcam sebagai pembina. Tentu saja berita itu sedikit membuat suasana sedikit tegang. Pak Sekcam yang sudah selesai dengan tugasnya, ternyata merasa bersalah juga. Khawatir nanti camatnya tersinggung. Sekcam memang tidak bisa berbuat apa-apa, karena sesaat dia sampai tadi, langsung dipanggi naik podium upacara. Semua peserta upacara memang sudah siap sebelum dia sampai. Tidak ada lagi diskusi dan sebagainya.

Ini kejadian kedua, seorang pembina tidak jadi ikut upacara karena terlambat. Bahkan sebelumnya adalah seorang polisi dari Polres Karimun. Sekolah sudah memberitahukan bahwa jadwal upacara adalah tepat pukul 07.00 WIB. Dan karena tidak ada keberatan dengan jadwal waktu itu maka ketika datang terlambat, tentu saja upacara harus tetap dilaksanakan. Salahkah sekolah? Tentu saja tidak. Ini adalah bagian disiplin sekolah yang memang sudah diterapkan. Tidak baik jika itu harus berubah karena keterlambatan.

Bagi sekolah, pejabat yang sudah sepakat akan datang tepat waktu tapi akhirnya tidak datang sesuai waktu, akan memberi kesan yang tidak baik. Para siswa juga akan mendapatkan contoh yang tidak baik dari pejabat itu. Sungguh akan merugikan semua pihak. Sekolah akan dirugikan sementara si pejabat juga akan dirugikan karena akan dinilai tidak disiplin oleh para siswa.

Seharusnya, jika sudah tahu dan sepakat bahwa upacara akan dimulai sesuai jadwal maka ikutilah jadwal itu. Komitmen akan jadwal tentu akan memberikan kesan yang baik bagi sekolah, khususnya bagi para siswa yang sangat memerlukan contoh dari kita sebagai orang tua atau gurunya. Semoga ke depan, keterlambatan seperti ini tidak terulang lagi.***

Minggu, 02 Februari 2014

Boleh, Dicoba Saja

BOLEH dicoba dulu, ya coba saja. Selama tidak dilarang melakukannya, mengapa takut melakukannya. Keberanian mencoba sudah sebagian dari keberhasilan. Kekhawatiran dan ketakutan mencobanya justeru akan merugikan.


Perinsip 'berani mencoba' seperti itu sebenarnya sudah diajarkan sejak lama kepada kita. Ketika masih kecil orang tua atau guru selalu memberi semangat agar berani melakukan apa saja selama itu tidak dilarang. Guru-guru akan memberi penghargaan tersendiri bagi siapa saja yang berani mencoba dan berhasil melakukannya.

Bahwa sebagian orang tua atau bahkan guru masih ada yang suka melarang-larang, itu memang benar adanya. Dibuat ini, tidak boleh. Dibuat itu juga tidak boleh. Anak-anak lebih diajarkan untuk mengikuti saja, diam saja dengan sopan dan santun, dan tidak boleh melakukan apapun jika tidak disuruh. Akibatnya tentu saja perkembangan kreativitas menjadi lamban bahkan tidak akan berkembang sama sekali. Masih ada? Mungkin masih ada.

Kini, dengan kemajuan berbagai bidang, perinsip 'berani mencoba' benar-benar diminta untuk dikembangsuburkan. Di sekolah, dengan implementasi Kurikulum 2013, misalnya, para guru benar-benar dituntut untuk mengembangkan sikap kreatif dan inovatif peserta didik. Tentu saja tidak semudah membalikkan telapak tangan. Dan tuntuntan kurikulum itu hanyalah bagian kecil dari perinsip 'berani mencoba' yang wajib dikembangkan.

Benar kalau itu ternyata tidaklah mudah. Benar juga, tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Ada banyak hambatan dan tantangan untuk memulai dan melaksanakan perinsip itu. Selalu ada sandungan jika tidak benar-benar kuat berperinsip untuk membuktikan. Sebagai kurikulum baru, selalu akan ada persoalan.

Malah dari laporan dan keluhan para guru yang sekolahnya sudah melaksanakan kurikulum baru itu sejak awal Tahun Pelajaran 2013/ 2014, ternyata betapa tidak mudahnya mengelola pembelajaran dengan perinsip kreatif dan inovatif bagi anak-didik. Bukan saja sulit bagi guru-guru yang sedari awal memang tidak kreatif, bahkan buat guru-guru yang sudah terbiasa kreatif saja masih sangat sulit mengembangkan sikap kreatif dan inovatif bagi peserta didik.

Kecenderungan anak-anak menunggu dan menerima apa adanya dari guru selama ini  ternyata tidak serta-merta bisa berubah dengan implementasi kurikulum baru ini. Di satu sisi, anak-anak sendiri memang belum terbiasa kreatif sementara di sisi lain justeru gurunya belum bisa meneladankan bukti kreatif dan inovatif itu sendiri.

Kini, dengan perkambangan dan kemajuan berbagai hal, hanya sikap berani mencoba itulah yang akan menjawabnya. Lihatlah anak-anak kita yang masih kecil, jika orang tuanya percaya untuk memberikan perangkat teknologi seperti HP (dengan berbagai model dan teknologinya) maka akan kelihatan sekali kalau mereka jauh lebih cepat mengerti dan mampu mengaplikasikannya. Ketika orang tua masih bingung untuk menjalankan berbagai fasilitas yang di alat itu, justeru anak-anak lebih cepat mahirnya. Kuncinya hanya dengan memberi kesempatan kepadanya untuk mencaoba.

Maka jika segala apa saja yang ingin dilakukan dan dicoba oleh anak-anak, silakan saja mencobanya. Orang tua atau guru tinggal membimbing dan mengawasinya agar tidak menyalahgunakan perinsip itu. Beberapa guraruer yang menayangkan catatannya di halaman ini, sudah banyak yang membuktikannya baik di sekolah mapun di rumah, untuk anak sendiri. Semoga perinsip itu mampu memajukan dan mengembangkan berpikir dan bertindak anak-anak kita. Amiin.***

 
Copyright © 2016 koncopelangkin.com Shared By by NARNO, S.KOM 081372242221.