BREAKING NEWS

Jumat, 31 Januari 2014

Libur Bukan untuk Tidur

HARI ini, 31 Januari 2014 adalah hari pertama tahun kalender China. Orang menyebutnya dengan tahun baru Imlek. Orang Tionghoa menyebut Tahun Baru Imlek atau kita kenal juga sebagai tahun baru China. Kalau dulu, sebelum Gusdur menjadi presiden tidak ada libur resmi untuk Tahun Baru Imlek tapi kini sudah berubah. Sekarang sudah ditetapkan oleh Pemerintah bahwa di Tahun Baru Imlek juga libur Nasional. Itulah libur Imlek.


Di Karimun, seperti juga di daerah lain yang komunitas Tionghoanya cukup ramai libur Imlek cukup berpengaruh. Terasa sekali libur ini berpengaruh pada kehidupan sehari-hari. Lihatlah kesibukan di jalan-jalan cukup ramai. Malam tadi, sebagai malam tahun baru bahkan di tempat-tempat tertentu diadakan persembahyangan oleh komunitas Tionghoa khususnya di klenteng-klenteng yang ada. Ada juga yang mereka lakukan di rumah-rumah sendiri. Dengan ritual tertentu, mereka menutupnya dengan pembakaran kembang api. Suara kembang api yang menyerupai bunyi marcon memekakkan telinga itu menandai ritual Tahun Baru Imlek.

Bagi non Tionghoa, libur Imlek juga ikut menikmati libur resmi dari Pemerintah ini. Sekolah-sekolah libur. Begitu juga kantor-kantor Pmerintah dan swasta lainnya.  Lalu apakah masyarakat non Tionghoa akan tidur saja? Terutama para siswa atau guru akan berdiam diri sajakah di rumah? Tentu saja tidak. Ada banyak yang dapat dilakukan.

Pekerjaan rumah yang ketika sekolah atau hari tak libur, belum dapat dikerjakan, justeru inilah kesempatan melakukannya. Hari Libur ini tidak elok kalau hanya dipakai untuk istirahat saja. Biarlah saudara-saudara Tionghoa kita melaksanakan kegiatan-kegiatan keagamannya, sementara kita yang mendapat kesempatan berlibur, mari tetap melakukan aktivitas lainnya.

Pokoknya banyak aktivitas yang dapat dilakukan. Jika pun tidak sempat keluar kota untuk berlibur, pekerjaan di rumah juga sangat banyak menanti kita. Pokoknya, libur ini bukan untuk sekadar istirahat belaka. Bagi aktivis dan penulis, kesempatan libur imlek justeru adalah waktu yang baik untuk terus menulis. Tulisan ini hanyalah sekedar mengingatkan bahwa kita memang tidak liburnya untuk menyampaikan apa saja.***

Kamis, 30 Januari 2014

Oleh-oleh Poltek Batam untuk Siswa

HARI Rabu (29/ 01) kemarin saya bersama para Kepala Sekolah se-Provinsi Kepri --yang diundang-- hadir di Batam. Kami mengikuti Sosialisasi Penerimaan Mahasiswa Baru Politeknik Negeri Batam. Hadir di situ dari Tanjungpinang, Lingga, Kota Batam sendiri dan dari beberapa sekolah di kabupaten lainnya. Termasuk saya dan 8 orang Kepala Sekolah/ utusan Kepala Sekolah dari Karimun. Dari Karimun kami berangkat bersama dari pelabuhan domestik Tanjungbalai Karimun. Pukul 07.30 kami sudah bergerak bersama kapal Mikonatalia menuju pelabuhan Sekupang Batam.

Sampai di Sekupang sekitar pukul 09.15 kami langsung menuju ke Poltek Batam bersama penjemput yang sudah disediakan pihak Poltek. Sekitar pukul 10 kami sampai dan istirahat sejenak sambil menikmati hidangan sarapan pagi yang disediakan pihak kampus. "Lumayan, ada rebus kacang tanah, ubi rambat alias keledek," kata saya sambil menuangkan teh hangat ke gelas plastik yang sudah ada. Kurang lebih setengah jam berikutnya acara pun dimulai.

Direktur Poltek Batam,bersama tiga orang pembantu direktur menjadi penyaji materi sosialisasi. Kurang lebih dua jam keempat petinggi Poltek Negeri Batam memberi penjelasan plus tanya-jawab dari peserta, acara dilanjutkan dengan makan bersama di kantin Poltek Batam lalu solat dan istirahat. Kegiatan terakhir adalah simulasi aplikasi website untuk pendaftaran calon mahasiswa di labor komputer Poltek Batam.

Bagi saya, keikutsertaan ini cukup penting. Walaupun ini sudah untuk ke sekian kali saya ikut tapi setiap tahun selalu ada perkembangan dan kemajuan yang dirasakan. Saat ini, setelah era manual berlalu, para calon mahasiswa (di mana saja) di Indonesia sudah tidak perlu lagi susah-susah datang ke kampus yang diinginkan, termasuk yang ingin ke Poltek Batam ini. Para siswa SLTA yang sudah bertekad akan kuliah, tinggal memilih kampusnya. Ingin yang negeri atau yang swasta juga terserah. Tapi satu hal yang jelas adalah para calon mahasiswa ini cukup medaftar melalui internet saja. Tingga mengklik website yang diinginkan dan lalu mendaftar di sana.

Oleh-oleh yang perlu diambil dan dipahami para cama ini adalah bahwa tidak bisa lagi 'tidak mengerti' alias 'gaptek' teknologi komputer. Di sisi lain, sekolah tempat peserta didik bersekolah juga harus proaktif mendaftakrkan sekolah sekaligus mendaftarkan para siswanya untuk menjadi calon mahasiswa di tempat yang mereka suka. Jika sekolah tidak terdaftar otomatis tidak bisa merekomendasikan siswanya. Artinya para siswanya juga tidak akan pernah bisa mendaftar secara online tersebut.

Jadi, rajin-rajinlah membuka website PT yang diinginkan sebagai bagian mengenali profil kampus tersebut. Selanjutnya dibuka pula website pendaftaran yang sudah terkoneksi secara Nasional. Ingin kuliah di Jawa, di Sumatera atau di daerah mana di Tanah Air, tinggak klik websitenya saja. Lalu registrasi dan akan terdaftarlah di tempat yang diinginkan tersebut. Selamat berjuang anak-anak semua. Di tangan kalian, negara yang maha besar dan luas ini tergantung masa depan dan kemajuannya.***

Selasa, 28 Januari 2014

Wali Kelas Jangan Memelas

BOLEH percaya boleh juga tidak.  Tapi ini benar-benar ada. Nyata. Di sebuah sekolah (ini yang diberi tahu ke saya, mungkin juga ada yang saya tidak tahu karena tidak diberi tahu) ada para wali kelas melakukan tindakan yang memalukan. Mereka berusaha untuk menyuruh anak-anak di kelasnya agar mengumpulkan uang atau membelikan apa saja untuk dihadiahkan kepada para wali kelas masing-masing. Artinya untuk diri mereka masing-masing sebagai wali kelas.


 Dengan memanfaatkan persiapan perpisahan di kelas terakhir, para wali kelas saling mengingatkan anak-anaknya agar tidak lupa menyiapkan juga hadiah-hadiah yang akan diberikan kepada wali kelas masing-masing. Malah untuk keperluan ini ditunjuk juga salah seorang guru yang cukup berpengaruh untuk memperkuat pemberitahuan itu. Jadi, selain para wali kelas yang mengingatkan di kelasnya masing-masing, juga diperkuat lagi oleh salah seorang guru itu. Dia masuk ke kelas-kelas untuk mengumumkan rencana persiapan perpisahan sekaligus mengingatkan anak-anak untuk membelikan oleh-oleh buat para wali kelas masing-masing.

Kebiasaan 'tak biasa' ini ternyata bukan untuk pertama kali pada tahun ini. Informasi yang diberitahukan oleh salah seorang guru kepada saya ini ternyata sudah merupakan kebiasaan tahunan. Bagi siswa kelas terakhir, yang sebentar lagi akan mengikuti UN dan setelah itu selalu ada acara perpisahan sebelum meninggalkan sekolah, para guru terutama wali kelas berlomba mengingatkan anak-anaknya untuk 'tidak lupa memberi hadiah' kepada guru atau wali kelas.  

Tentu saja tindakan para guru ini akan mencoreng muka para guru sekaligus muka sekolah itu sendiri. Ini adalah perbuatan memalukan. Ini sesuatu yang tidak perlu dan pasti membuat malu. Tidakkah ini akan merendahkan harga diri dan martabat guru itu sendiri? Meskipun dikatakan pemberian kenang-kenangan itu sudah seikhlas dan sesuka para siswa, apakah mereka benar-benar ikhlas dan suka? Lalu mengapa harus diingatkan mereka agar memberi hadiah?

Satu hal yang mesti diingat bahwa pemberian sesuatu (hadiah) yang ada kaitannya dengan jabatan yang dapat mempengaruhi keputusan atas jabatan itu maka jelas itu sudah melanggar sumpah jabatan itu senediri. Dan yang mesti diingat bahwa sebagai guru, sejatinya tidak boleh berharap apalagi meminta hadiah kepada anak-anak yang dididiknya. Meminta artinya sama saja dengan memelas kepada anak-anak untuk mendapatkan sesuatu.

Sungguh tidak pantas seorang guru memelas kepada anak-didiknya hanya untuk berharap mendapat hadiah akhir tahun. Seperti juga siswa yang tidak boleh meminta-minta nilai secara cuma-cuma maka guru lebih tegas lagi, jangan sama sekali-sekali menjual diri sekedar mendapat hadiah dari anak-didiknya di sekolah. Sikap ini akan mencoreng muka sendiri dan muka sekolah secar keseluruhan. Bukan hanya memalukan secara moral tapi boleh jadi kelak akan berurusan dengan aparat hukum karena itu bisa juga dianggap melanggar hukum. Na'uzubillah!***

Senin, 27 Januari 2014

Mengeluh Perbuatan Ringan yang Memberatkan

SERING tanpa disadari kita mengeluh dalam menghadapi sesuatu. Kita terkadang bisa mengeluh dalam menghadapi tantangan harapan atau cita-cita. Bisa juga kita mengeluh karena menghadapi pekerjaan yang sedang kita lakukan.


Dengan mengeluh ketika melakukan sesuatu yang sebenarnya sangat ringan, sesungguhnya keluhan itu akan menyebabkan rasa berat dalam melaksnakannya. Keluhan sudah pasti akan menyebabkan rasa berat dalam menyelesaikan suatu pekerjaan. Tidak ada bantuan apapun yang didapatkan dari keluhan. Keluhan itu adalah benih virus yang dapat berkembang menjadi penghalang dalam menuntaskan pekerjaan.

Umpamakan kita tengah menyusun sebuah tulisan yang mungkin sebelumnya sudah terbiasa dan merasa ringan-ringan saja. Tapi ketika kita mengeluh dalam menyelesaikan tulisan tersebut disebabkan satu hal maka akan terasalah menulis itu menjadi berat. Rasanya ide-ide yang tadi sudah ada di kepala, tiba-tiba menjauh bahkan menghilang. Dan itu akan membuat perasaan sangat berat sekali dalam menuntaskan tulisan tersebut.

Begitu juga dalam pekerjaan lain. Seorang guru, misalnya akan merasa begitu berat dalam melaksanakan tugas mengajar di kelas jika selalu dibarengi dengan keluhan. Mengeluh mungkin karena peraturan yang terasa ketat di sekolah, atau mengeluh karena jarak sekolah yang terasa jauh dari rumah; dan banyak penyebab lainnya. Jika sebab-sebab yang tidak menyenangkan itu dibawa dan dibarengi menjadi keluhan maka terasa begitu berat dalam melaksanakan tugas mengajar tersebut.

Setiap pekerjaan pasti ada kendala dan alangan, apapun pekerjaan tersebut. Tapi setiap kendala atau alangan pasti akan ada jalan keluarnya. Tidak ada 'penyakit tanpa obat' kata para ustaz. Maka yakinkan diri bahwa setiap tugas dan tanggung jawab yang menjadi bagian dari tugas dan tanggung jawab kita, lasksanakan saja dengan ikhlas dan rasa senang hati. Membawa pekerjaan dan tanggung jawab itu kepada perasaan senang itulah yang akan menyebabkan terasa ringannya suatu pekerjaan.

Sebaliknya membawa pekerjaan ke ranah keluhan sudah pasti akan membuat pekerjaan itu terasa begitu berat. Dia terasa begitu sangat berat. Rasanya tidak akan pernah bisa melakukannya. Tapi percayalah, itu hanyalah perasaan belaka. Perasaan memang bisa membawa ke mana saja. Bisa senang, mudah, berat atau ringan. Tinggal bagaimana kita mengelolanya saja. Jika tidak ingin merasakan keberatan, buatlah perasaan senang ketika melaksanakan tugas itu. Itu saja yang penting. Semoga.***

Sabtu, 25 Januari 2014

Membuka Pagi dengan Berbagi



PASTI setiap pagi akan terbangun dari tidur. Ada yang sedikit terlambat, ada yang sedikit tercepat dan kebanyakannya tentu saja sedang-sedang saja. Ukuran sedang-sedang saja juga tidak terlalu jelas. Tapi pasti akan terbangun, tidak ada yang menyangsikan. Kalau tak terbangun, memang tidur terus?


Setelah terbangun apa yang harus dilakukan, pertanyaan inilah yang penting untuk dijawab. Seorang teman saya mengatakan kalau dia sudah rutin terbangun tengah malam. Antara pukul 02.00 - 03.00, begitu dia menjelaskan, dia akan terbangun. Lalu dia akan solat tahajjuduntuk mendekatkan diri kepada Sang Khaliq. Sungguh terasa kepuasan batin setelah melaksanakan amalan itu, katanya.

Tapi bangun pagi secara alami tentu tidak perlu harus tidur lagi. Berbeda dengan terbangun di tengah malam, bangun pagi tentu saja kita akan segera bersiap untuk melanjutkan aktivitas keseharian. Seorang pegawai kantoran, akan segera mempersiapkan diri untuk aktivitas kantor. Seorang pedagang akan bersiap-siap akan ke pasar atau ke toko/ warungnya untuk beraktivitas kembali. Tapi apakah akan langsung ke aktivitas keseharian itu?

Inilah sedikit yang ingin saya sampaikan. Betapa indahnya, jika setiap kita berkesempatan di setiap pagi untuk berbagi. Berbagi informasi atau apa saja, misalnya. Tentu saja maksud catatan ini tertuju kepada rekan-sahabat penulis atau yang masih belajar menulis. Bagi seorang penulis berbagi informasi adalah keniscayaan yang tidak dapat dihindari.

Berbagi di pagi hari adalah kesempatan yang paling baik dilihat dari banyak waktu yang ada. Walaupun pada malam hari (menjelang tidur) juga bisa menghasilkan karya tulis yang dapat disampaikan kepada para pembaca namun kesempatan di pagi hari terasa berbeda jika dibandingkan dengan waktu di malam hari.

Waktu malam, walaupun tetap ada kesempatan untuk itu, biasanya kesegaran pikiran tidak lagi sesegar di pagi hari. Karena waktu malam adalah di ujung hari dari aneka aktivitas dalam seharian yang sudah dijalani maka biasanya pikiran dan perasaan kita sudah terlalu penuh oleh berbagai pengalaman yang sudah dijalani sejak paginya.

Tentu berbeda dengan pikiran dan perasaan ketika baru saja bangun pagi. Katakanlah setelah menunaikan solat subuh (bagi muslim) yang biasanya masih ada kesempatan menjelang berangkat ke tempat pekerjaan rutin. Maka waktu yang sedikit ini tentu saja adalah waktu yang sangat baik untuk mengungkapkan pikiran dan perasaan melalui tulisan. Entah sekedar satu atau beberapa kalimat di status facebook atau membuat sebuah tulisan singkat yang dapat dipublish di blog, itu artinya kitra sudah memanfaatkan waktu pagi kita untuk berbagi. Semoga bisa.***

Rabu, 22 Januari 2014

Menyapa Saja Juga Bisa

UTANG terberat ternyata tidak selalu karena utang uang. Utang janji dan motivasi diri juga bisa menjadi utang pemberat diri. Uatng janji dan motivasi justeru saya rasakan jauh lebih besar dan lebih berat bebannya dari pada utang uang.


Beberapa hari belakangan ini saya merasakan ada beban utang yang tidak atau belum terbayarkan. Tapi utang ini bukanlah karena utang uang yang jatuh tempo dan tidak terbayar. Saya ingat saya memang ada utang uang di salah satu bank. Itupun dulu disebabkan karena pinjaman untuk membangun rumah. Dan utang itu secara rutin setiap bulan dapat saya bayar karena memang langsung dipotong dari gaji saya setiap bulannya oleh bendaharawan sekolah. Jadi, utang itu tidaklah menjadi beban pikiran saya.

Utang yang saya maksud pada catatan ini adalah utang pada diri sendiri dan sekaligus kepada para pembaca blog dan tulisan-tulisan saya selama ini. Harus saya akui, di entah di media online atau mungkin di media cetak saya membuat tulisan, sering mengajak dan memberi motivasi siapa saja untuk memupuk dan mengembangkan kreativitas tulis-menulis. Terutama kepada para anak-didik saya di SMA Negeri 3 Karimun (tempat saya bertugas sebagai guru) ajakan dan motivasi untuk menulis terlalu sering saya sampaikan.

Adalah menjadi utang dan tanggung jawab bagi saya untuk membuktikan bahwa saya mau dan mau menulis. Boleh jadi saya belum mampu menulis sebagaimana para penulis tenar itu. Tapi tetap saja harus membuktikan bahwa saya terus menulis sebagai bukti mengajak orang lain menulis. Nah, tekad untuk terus menulis inilah yang saya maksud utang berat itu.

Mengapa menjadi utang maha berat? Karena ternyata tidak mudah untuk terus menulis dengan konsisten dalam waktu yang sudah ditekadkan. Selama ini, sesuai tekad saya bahwa saya akan menulis sekurang-kurangntya satu catatan/ artikel dalam satu hari. Artinya, setiap 24 jam saya wajib membuat satu tulisan. Bahkan sebaik puisi saja saya anggap utang tekad itu sudah terbayar.

Namun hampir satu pekan ini, disebabkan kesibukan yang begitu padat dan ditambah dua hal yang tidak dapat saya elakkan, lelet dan macetnya koneksi internet di rumah serta keadaan badan saya yang drop alias sakit membuat kekuatan dan kesempatan menulis itu menajdi macet. itulah yang saya maksud utang yang terasa berat itu.

Maka hari ini, saya menulis catatan ini sekedar menyapa rekan-rekan yang selama ini sempat juga mengunjungi blog saya. Inilah sapaan saya pada kesempatan kali ini. Saya pikir, menyapa dengan cara begini juga bisa sebagai bahan tulisan yang sekaligus untuk pembayar utang-utang itu. Salam sejahtera selalu.***

Sabtu, 18 Januari 2014

Milad Nabi: Melahirkan Hati

KETIKA Maulid Nabi Muhammad diperingati selalu akan diingatkan kembali bagaimana Rasul Penghabisan itu lahir ke dunia. Tidak hanya detik-detik kelahirannya tapi jauh sebelum kelahirannya banyak kisah-kisah penuh hikmah disampaikan. Satu pikiran yang tidak lupa ditegaskan adalah bahwa Muhammad Saw dilahirkan ke dunia adalah dalam rangka memperbaiki akhlak manusia yang bobrok. Itu statemen Nabi dalam salah satu haditsnya.

Pekan-pekan di pertengahan Januari (2014) ini adalah hari-hari umat Islam kembali mengadakan peringatan-peringatan milad nabi. Kebetulan memang bersamaan dengan Bulan Rabi'ul Awal, bulan yang oleh jumhur ulama dianggap bulan lahirnya Muhammad Saw, penyelamat dunia akhirat. Mungkin sudah beberapa kali kita sudah mengikuti acara-acara peringatan hari bersejarah ini.

Pertanyaannya, apakah kita cukup mendengar berita kelahiran belyau saja? Apakah kelahiran Muhammad dengan catatan hidup yang begitu hebat: manusia yang paling berpengaruh sejagat raya versi Micheal Hart; manusia miskin harta yang paling darmawan; manusia yatim yang menjadi pengasuh orang miskin sejagat, dst dst...itu? Cukupkah mendengar berita spektakular itu saja?

Tentu saja tidak. Kalau 15 abad lalu telah lahir ke muka bumi ini manusia yang mampu mengubah kehidupan manusia hampir seluruh dunia, apakah peringatan tiap tahun yang kita ikuti tidak terpikirkan untuk melahirkan sesuatu yang juga berpengaruh dalam kehidupan ini? Saya pikir bisa. Setiap orang pasti dapat melakukan sesuatu yang akan berpengaruh untuk kemajuan dan kebaikan manusia.

Jika Muhammad lahir karena dibutuhkan manusia jahiliah yang saat itu sudah jauh menyeleweungkan agama Taudih, apakah di zaman modern ini manusia juga sudah kembali lagi menyelewengkan agama Tauhid? Lima belas abad setelah nabi terakhir pergi adalah waktu yang sangat lama. Dengan kurang lebih tujuah miliar penduduk dunia saat ini tentu saja tidak sedikit yang mulai melupakan Tuhan. Kembali karakter jahiliah itu menjadi bagian hidup keseharian manusia: tidak percaya Tuhan, egois, tidak lagi memperhatikan orang-orang di sekitar, dst dst...

Maka perlulah momen Milad Nabi ini dijadikan kesempatan untuk memikirkan perlunya melahirkan pikiran baru. Jauh dari Tuhan pada dasarnya disebabkan oleh hati yang sudah terkotorkan oleh perasaan dan pikiran jahiliah itu. Maka marilah melahirkan hati dan perasaan yang baru yang lebih mendekatkan diri kepada Sang Khaliq. Hidup berdampingan antara satu dengan lainnya adalah keniscayaan yang tidak dapat dihindarkan maka hati dengan keingina untuk bersama juga harus dilahirkan. Intinya, jangan Milad Nabi hanya sekedar seremoni membicrakan lahirnya seorang nabi hebat. Tapi umat yang saat ini masih hidup juga harus berpikir bagaimana menerapkan kehebatan nabi itu. Semoga!***

Rabu, 15 Januari 2014

Buntu juga Inspirasi

"KETIKA suatu hari tiba-tiba saja tidak ada ide yang timbul untuk ditulis, janganlah berputus asa." Itu salah satu pesan yang disampaikan seorang penulis terkenal dalam memberikan motivasi agar terus menulis setiap hari. Saya setuju semangat motivasi itu. "Jangan berputus asa," tegasnya. Saya kira memang tidak seharusnya berputus asa.


Jika sudah membuat tekad bahwa setiap hari 'wajib' menulis maka menulislah sesuai tekad itu. Jangan berubah perinsip dari tekad untuk terus menulis menjadi berhenti menulis. Teruslah menulis. Menulis, menulis dan menulis. Tulislah apa saja. Sekali lagi, tekad dan semangat seperti itu harus terus dipertahankan.

Persoalannya, (jika ini dianggap persoalan) seumpama tidak ada ide, apakah juga harus menulis? Mungkinkah orang bisa menulis sementara ide yang mau ditulis tidak ada? Saya berperinsp, tetap harus menulis. Tekad menulis setiap periode waktu yang sudah ditentukan, ya menulislah. Tidak ada ide tidak perlu juga disesali untuk menyebabkan tidak menulis. Tetap saja berusaha untuk menulis dalam keadaan perasaan tidak ada ide alias otak lagi buntu itu.

Justeru tidak munculnya inspirasi untuk melahirkan sebuah gagasan yang akan ditulis, dijadikan sebagai sebuah inspirasi dan ide baru. Akan ada pertanyaan, mengapa hari itu, misalnya tidak ada gagasan yang mau ditulis. Adakah karena kewajiban membaca belum dilaksanakan? Apakah kaena kesibukan pekerjaan rutin lain yang membuat tidak sempat memikirkan masalah lain? Dari pertanyaan-pertanyaan itu akan ada jawaban-jawaban yang boleh jadi merupakan ide baru yang layak dibaca orang. Singkatnya, buntunya pikiran atau kosongnya ide baru di pikiran, sesungguhnya merupakan satu ide juga untuk dijelaskan kepada pembaca.

Kita bisa ceritakan bagaimana tekad untuk menulis setiap hari sudah menjadi tekad yang tidak bisa ditawar-tawar. Dan kita sudah buktikan selama ini bahwa setiap periode itu memang selalu lahir minimal satu tulisan yang layak dibaca orang lain. Hanya pada hari titulah kebetulan tidak ada gagasan yang mau disampaikan. Nah, justeru tidak ada gagasan dengan penjelasan dari berbagai sudut itulah yang akan menjadi gagasan baru. Jadi, buntu ide sesungguhnya juga bisa menjadi inspirasi baru untuk ditulis. Sehingga tradisi menulis setiap hari (periode tertentu yang sudah ditetapkan) itu terus mampu dilaksanakan.

Selasa, 14 Januari 2014

Hati-hati Maulid Nabi

"Bukan keinginan memperingati Hari Lahir Nabi saja yang utama tapi jauh lebih utama adalah kewajiban melahirkan semangat baru untuk memajukan dan mengembangkan sekaligus mengamalkan akidah yang telah ditinggalkan baginda Rasulullah. Menguatkan dan mengokohkannya dalam keyakinan, itulah kunci bukti kita memperingati." Kalimat itu adalah bunyi status yang saya tulis di akun facebook saya pada pagi Selasa (14/ 01/ 14) bertepatan dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw 1435. Sekedar berpesan singkat kepada para sahabat di mana saja yang sempat membaca status itu.

Ternyata kalimat itu tidak terlalu ramai yang mengunjunginya. Itu saya simpulkan dari temana-teman yang menandainya. Yang memberi status like tidak sebarapa. Hanya 20-an orang saja setelah setengah ditayangkan. Tapi yang benar-benar mengunjungi dan membacanya, entahlah. Tuhanlah yang tahu persis. Itu saya tidak tahu dan tidak perlu juga saya pikirkan. 

Ada yang ingin saya ulas dari status itu dalam catatan ini. Pertama, adanya keinginan kita sebagai muslim untuk memperingati hari kelahiran nabi kita. Walaupun tidak ada alquran atau hadits yang menyuruh apalagi mewajibkan memperingati namun setiap tahun datangnya peringatan Hari Milad Nabi Muhammad, 12 Rabiul Awal (Tahun Hijriyah) maka setiap itu pula adanya keinginan untuk memperingatinya. 

Terlepas adanya perbedaan pandangan perihal perlu-tidaknya peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw tapi faktanya selalu diadakan peringatan-peringatan itu. Berbagai acara diadakan: dari pengajian, tablig akbar sampai lomba bernuansa agama. Bahkan peringatan ini tidak hanya di desa-desa atau setingkat kecamatan, malah sampai ke kabupaten, provinsi dan tingkat Pusat.

Salahkah itu? Tidak ada yang salah selama maksud diadakannya peringatan-peringatan itu semata-mata untuk kesempatan belajar dan mempelajari agama yang diwariskannya. Momen hari baik bulan baik, jika umat ingin mengadakan acara-acara pengajian yang disejalankan dengan peringatan hari bersejarah itu tentu saja tidak ada salahnya. Satu-satunya yang dikhawatirkan para ulama hanyalah jika peringatan-peringatan itu justeru mendatangkan mudharat dan atau berbau mengultuskan Rasulullah. Selama tujuan peringatan itu semata memperdalam pengetahuan agama, tentulah itu baik-baik saja.

Hal kedua yang perlu mendapat perhatian dalam status itu adalah bahwa peringatan saja tidaklah cukup. Justeru yang lebih utama adalah bagaimana semangat peringatan itu mampu memajukan dan mengembangkan sekaligus mengamalkan akidah yang diwariskan nabi. Jangan sampai esensi ajaran yang diajarkannya malah semakin jauh dari kehidupan sehari-hari. Menjadi pemikiran, bagaimana menempatkan kenyataan banyaknya kelakuan dan tindakan yang bertentangan dengan ajaran yang ditinggalkan nabi?

Tindakan dan perbuatan koruptif, misalnya, bukankah ini sudah nyata-nyata haram? Menyuap dan disuap juga  jelas ditegaskan kalau tindakan itu haram. Tapi mengapa begitu tidak mudahnya memberantasnya? Dan yang melakukan korupsi, suap-menyuap dan lain-lain yang sejenis itu juga orang-orang yang mengaku beragama. 

Di sinilah pentingnya mengubah persepsi akan perlu-tidaknya peringatan kelahiran nabi ini. Jangan semata-mata sekadar memperingati saja. Apalagi, jika peringatan-peringatan itu malah dijadikan ajang cari nama dan pencitraan diri menjelang Pemilu. Dengan alasan memberi sumbangan untuk peringatan Maulid Nabi, ternyata target yang sebenarnya adalah untuk mencari suara pemilih menjelang Pemilu. Nauzubillah. Jika ini yang terjadi, dosa ria dan penyalahgunaan wewenang malah akan menimpa kita.***

Minggu, 12 Januari 2014

Sepak Bola (Dapat) Mengubah (Tradisi) Saya

SELAIN baca alquran sebentar, setiap habis subuh saya pasti buka laptop. Waktu satu jam lebih sebelum berangkat sekolah itu adalah waktu wajib membuka perangkat pintar itu bagi saya. Jika internet tidak macet maka saya akan bermain internet. Tapi jika internetnya bermasalah maka cukuplah membuka file-file lama untuk dibaca atau mengonsep file baru untuk dipublish kelak ketika internetnya sudah connect kembali.


Tradisi buka laptop selepas subuh adalah tambahan kesempatan buka laptop sebelum tidur. Waktu wajib buka laptop saya yang lainnya adalah sebelum ke peraduan itu. Sebelum mata benar-benar mengantuk maka laptop itulah yang menjadi penyebab nantinya mata benar-benar mengantuk untuk selanjutnya tidur. Isteri saya bahkan sering mengingatkan juga bahwa waktu istirahat sudah tiba saatnya walaupun dia mengerti juga kebiasaan saya ini.

Pagi Ahad (12/ 01) ini tradisi buka laptop pasca solat subuh saya langgar. Saya tidak membukanya subuh tadi. Catatan yang Anda baca ini saya tulis tepat pukul 07.30 WIB. Sudah sangat jauh dari pasca solat subuh itu. Dan memang benar tulisan ini tidak dibuat subuh tadi. Saya menulisnya setelah sempat tertidur dulu setelah subuh itu. Tradisi tidak boleh tidur setelah solat subuh pun terlanggar. Jadi, ada dua tradisi yang sekaligus saya langgar.

Tentang mengapa harus sebelum tidur dan setelah bangun tidur (selepas subuh) saya biasakan membuka laptop, ini karena di dua kesempatan itulah waktu yang pasti ada sebelum saya melaksanakan tugas rutian keseharian. Sebagai guru PNS (Pegawai Negeri Sipil) waktu-waktu kosong untuk berlama-lama dengan laptop itu pasti tidak banyak. Ditambah dengan tugas-tugas sosial lainnya praktis waktu satu hari satu malam itu hampir habis untuk beraktivitas. Maka sebelum tidur dan setelah bangun tidur itulah waktu yang tersisa. Itu juga terkadang tidak bisa terlalu lama. Makanya saya memaksakan waktunya di dua kesempatan ini.

Karena sudah dibiasakan maka jika tidak terlakukan akan terasa ada yang salah. Itulah sebabnya catatan ini saya buat persis setelah mata saya terbuka kembali karena tadi saya tidur sepulang dari masjid tadi. Ini sebuah kesalahan menurut saya. Mengapa harus tidur, padahal sudah lama saya mengikuti pesan orang-orang tua-tua agar 'jangan tidur lagi setelah solat subuh' itu? Ini juga satu hal penting.

Jujur saya katakan, ini semua memang karena alasan libur yang selama ini tidak lagi saya pakai. Sudah lama saya biasakan juga, walaupun hari libur (sekolah) saya tetap bangun subuh seperti biasa dan membuka laptop baru kegiatan lainnya. Tapi pagi ini semuanya saya langgar. Ini tidak baik. Tapi harus saya jelaskan penyebabnya. 

Penyebabnya adalah karena malam tadi saya menonton sepak bola hingga terlalu malam. Saya menyaksikan laga antara Manchaster United versus Swansea di Liga Primer Inggeris. Saya memang terlalu hobi menyaksikan pertandingan sepakbola. Ini juga salah satu kebiasaan saya. Mungkin karena ketika masih muda memang suka bermain si kulit bundar itu. Dan sepakbola memang terasa begitu penting dalam hidup saya. Sepakbola memang mampu mengubah kebiasaan saya.

Kalau saya ingat di masa muda dulu, sepakbola ikut mengubah saya dari suka merokok menjadi tidak merokok. Saya ingat, semasa masih sekolah --di PGA-- saya sudah mulai terbawa-bawa teman untuk merokok. Walaupun dilarang guru tapi selalu berusaha mencuri-curi waktu untuk merokok. Rokok yang semula terasa pahit lama-lama ternyata membuat saya ketagihan juga. Dan ketika saya taman sekolah agama itu, saya benar-benar sudah ketagihan. Ayah dan ibu sudah tidak marah lagi kalau saya merokok di hadapan mereka.

Ketagihan merokok saya rasakan betul berpengaruh pada saya. Sehabis makan pasti saya utamakan merokok sebelum kegiatan lain. Saya juga diejek teman-teman di surau karena suara saya waktu mengaji sudah sangat jelek gara-gara merokok. Saya sendiri juga mulai menyesal mengapa saya menjadiketagihan merokok.

Sampai akhirnya saya ikut klub sepakbola di Kampung Bukit, Pekanbaru. Saya memang hobi bermain sepakbola. Bersama teman-teman di Jalan Riau dan Kampung Bukit, hampir setiap sore saya ikut latihan. Dan inilah ternyata yang akhirnya mengubah saya. Suatu sore, ketika latihan bersama, pelatih sepakbola itu bertanya apakah saya mau main sepakbola atau mau merokok? Rupanya dia tahu kalau saya merokok. Dan akhirnya saya memutuskan spontan untuk berhenti merokok.

Tidak mudah mewujudkan keputusan saya itu. Tapi saya sudah berjanji untuk tidak merokok. Akhirnya ketika suatu hari saya demam dan mengisap rokok terasa tidak enak maka kesempatan itu saya pakai untuk bersumpah untuk tidak merokok lagi. Saya berjanji untuk serius saja bermain sepakbola dengan risiko harus berhenti merokok. Singkat cerita, saya mampu berhenti menghisap tembau itu. Wamtu itu saya masih di semester empat di Universitas Riau.

Pengaruhn sepakbola itu pula yang membuat saya berubah pagi ini. Walaupun hanya karena menonton tapi tradisi buka laptop pasca subuh dan tidak boleh tidur sehabis subuh terlanggar lagi. Saya memang masih mengantuk karena menyaksikan Liga Inggeris hingga pukul 02.30 baru tidur. Dan menjelang waktu subuh saya harus bangun lagi. Makanya, karena hari libur, saya tertidur lagi. Sepakbola memang dapat mengubah kebiasaan saya.***

Jumat, 10 Januari 2014

Memagar HIV/ AIDS di Sekolah, Bisakah?

TIBA-tiba saja saya risau mendengar penjelasan dokter itu. Ahad (15/ 12) hampir sebulan yang lalu, kebetulan ada acara arisan kelompok ISHAJ 1427 --sebuah kelompok silaturrahim haji di Karimun-- di rumah saya. Pertemuan bulanan ini memang bergilir di rumah-rumah anggota yang berjumlah 20 KK itu. Bulan Desember ini giliran di rumah saya tempat pertemuannya.


Seperti biasa, selalu ada acara tambahan selain solat berjamaah, berdoa, makan dan tentu saja mencabut undian arisan. Dan acara tambahan kali ini adalah pencerahan bidang kesehatan oleh dokter yang kebetulan menjadi salah seorang anggotanya. Pak dr. Suharyanto --begitu nama dokter ini-- akan memberikan materi HIV/ AIDS selalin juga menerima pertanyaan perihal penyakit lain.

Yang membuat bulu roma saya berdiri adalah ketika dia menjelaskan bahwa penyakit HIV/ AIDS itu saat ini sudah sangat dekat dengan kita. Terutama ibu-ibu yang tidak berdosa, justeru semakin terancam oleh virus yang belum ada obatnya ini. Menurut data yang disampaikan oleh Pak Dokter yang menjadi tim kesehatan haji ketika kelompok kami berangkat haji pada tahun 2006/ 2007 lalu bahwa saat ini justeru pengidap HIV/ AIDS adalah ibu-ibu rumah tangga yang tak berdosa. Mereka ternyata tidak menyadari kalau mereka sudah terjangkiti virus berbahaya itu.

Bagaimana mereka bisa terjangkiti? Itulah yang merisaukan. Semua kami yang mendengar keterangan dokter itu benar-benar risau. Karena ternyata virus itu datang dari para suami yang tanpa diketahui oleh para isterinya bahwa para suami itu telah melakukan perbuatan terkutuk itu. Mereka melakukannya dengan para WTS di lokalisasi. Di rumah, mereka dilayani dengan baik oleh para isteri sementara di luar sana mereka melakukannya dengan wanita-wanita yang sebagian besar (bahkan semuanya) sudah mengidap penyakit HIV/ AIDS. Betapa malangnya menjadi isteri yang bersuami hobi 'jajan'.

Sebagai guru, saya membayangkan bahwa suatu saat nanti akan muncul berita yang lebih menakutkan, ada siswa yang terjangkiti penyakit ini. Dari mana? Ya, dari ibu-ibu yang mengidap HIV/ AIDS dan melahirkan keturunan (anak) yang ternyata juga terjangkiti penyakit yang sama. Siapakah yang mau disalahkan jika nanti akan ada data yang menerangkan bahwa beberapa orang siswa terjangkit penyakit menakutkan ini? Dapatkah sekolah memagar dirinya dari terjangkiti penyakit HIV/ AIDS?


Sesungguhnya informasi ini tidak sekedar akan membahayakan ibu-ibu yang tidak berdosa itu. Bagaimana seorang ibu yang kesehariannya hanya di rumah mengurus rumah tangga dan anak-anaknya, tiba-tiba saja dia mengidap penyakit ini yang dia terima dari suami yang ternyata diam-diam jajanan di lokalisasi atau di tempat-tempat entah di mana. Lalu dari hubungan 'baik' suami isteri ini lahir pula anak yang ternyata ikut menderita juga. Dan jika usianya panjang, tentu akan sampai di sekolah pula. Inilah yang merisaukan. Informasi doketer itu benar-benar harus menjadi perhatian oleh semua pihak. Harapannya, bagaimana penyebaran HIV/ AIDS ini segera menjadi perhatian dan sama-sama dicarikan solusinya.***

Kamis, 09 Januari 2014

Milik Kita, Tak 'kan Kemana

SESAMPAINYA di rumah saya langsung duduk di depan laptop. Seperti biasa, kalau ada waktu, saya akan membuka komputer jinjing yang sudah jadul itu untuk main internet. Jika speedy tidak jalan, ya sekedar membuka beberapa file lama untuk dibaca atau membuat catatan baru untuk draf. Beitulah sore menjelang asar Kamis (09/ 01) sepulang dari sekolah. Badan letih bagaikan tak peduli.


Baru duduk beberapa menit saya teringat ada sesuatu yang hilang. Saya lupa, kalau tadi sebelum kembali ke rumah saya meletakkan ampelop di atas meja Tata Usaha (TU) sekolah. Tidak banyak, tapi ada uang di dalam ampelop itu. Ah, kalau rezeki uang tak 'kan kemana, sahut saya dalam hati. Insyaallah akan kembali lagi. Begitu keyakinan saya mengingat ampelop yang tertinggal itu.

Untuk memuaskan hati, lalu saya mencoba menelpon salah seorang pegawai TU. Barangkali dia tahu atau dapat membantu mencarinya jika masih ada di sana. Saya percaya, pegawai itu masih ada di sekolah. Setelah menelpon, Ery yang ternyata saat ditelpon sedang ada di rumah, berjanji akan kemnbali ke sekolah untuk mencari ampelop itu. Dan setelah dia kembali ke sekolah, ternyata dia tidak menemukan uangnya.

Katanya, ampelop ada di atas salah satu meja tapi sudah kosong. "Tidak ada uangnya, Pak!" Begitu dia kembali menelpon saya. Ya, sudah, tidak apa-apa. Kalau ada yang menemukannya, besok insyaallah akan dikembalikan juga. Saya ucapkan terima kasih kepada Ery karena telah  berusaha mencarinya.

Dalam pikiran yang sedikit bingung terdengar suara azan dari kejauhan. Ah, ternyata sudah masuk waktu, kata saya. Saya lalu ambil wudhuk untuk solat asar. Selepas solat, saya merencanakan akan berolahraga sebentar. Mencari keringat sore. Tapi sebelum saya keluar rumah, tiba-tiba HP saya berbunyi dan salah seorang pegawai TU yang lain menelpon. Adit, begitu nama pegawai itu mengatakan kalau ampelop berisi uang itu ada ada bersama dia. Katanya dia menyimpannya. Haha, saya terkejut dan sekaligus senang. Baru saja saya agak risau walaupun yakin kalau rezeki tidak akan kemana, tiba-tiba sudah ada jawabannya.

Akhirnya saya benar-benar yakin dengan perinsip itu. Orang tua dan guru selalu menmgingatkan begitu. Agama juga mengajarkan bahwa rezeki yang sudah ditentukan Allah memang tidak akan pergi ke tempat lain. Jika itu adalah rezeki kita maka kita akan mendapatkannya walaupun seolah-olah akan hilang.

Sebaliknya jika tidak rezeki maka dia akan melayang entah kemana walaupun mungkin sudah dalam genggaman kita. Maka percayalah bahwa rezeki orang adalah untuk orang dan rezeki kita adalah untuk kita. Ampelop itu walaupun belum sampai ke tangan saya (mungkin besok baru akan saya terima) tapi saya percaya jika itu rezeki saya maka saya akan menerima.*** 

Selasa, 07 Januari 2014

Efektivitas 'Trobosan' di Tangan Siswa

BAGI sekolah yang melaksanakan kegiatan belajar tambahan (terobosan) untuk kelas XII ada beberapa kendala yang selalu ditemui. Mulai dari kesulitan mengatur waktu sampai kepada keseriusan peserta dalam mengikutinya. Di luar itu masih ada pula masalah iyuran yang terkadang tidak teranggarkan.


Kesulitan mengatur waktu terjadi karena yang namanya belajar tambahan tentu saja kesemapatannya adalah di luar jam pelajaran reguler yang sudah diatur. Guru atau siswa harus menambah jam belajar-mengajrnya di luar jam yang sudah ditentukan. Jika jadwal yang sudah ditentukan mengatur proses pembelajaran berlangsung dari pukul 07.00 hingga pukul 14.00 (kecuali Jumat) setiap hari, maka kegiatan terobosan harus dilaksanakan di luar waktu itu.

Tidak hanya guru yang terkadang enggan menambah waktu di sekolah tapi siswa (peserta didik) juga sama. Karena sudah merasa waktunya pulang maka dalam pikirannya setelah bel usai belajar (sesuai jadwal) dibunyikan tentu saja pulang. Mengapa juga harus menunggu di sekolah. Inilah kesulitan pertama dalam melaksanakan terobosan.

Kesulitan lainnya adalah masalah iyuran. Mengapa harus ada iyuran? Karena kegiatan terobosan adalah kegiatan belajar  tambahan maka juga harus ada biaya tambahan yang dikelarukan. Biaya itu diperlukan untuk rambahan transportasi dan atau biaya makan-minum para guru. Mereka harus menambah waktunya di sekolah hingga dua jam ke depan. Seharusnya pada saat itu para guru sudah bisa kembali ke rumah berjumpa keluarga. Tapi belum bisa karena ada jadwal terobosan. Artinya kelebiahan waktu mereka itu sebaiknya dibayar juga. Makanya perlu ada biaya tambahan.

Sebenarnya yang akan menentukan sukses-tidaknya kegiatan terobosan adalah keseriusan siswa dalam mengikutinya. Keberhasilan terobosan tidak akan ditentukan oleh biaya dan seghala macam lainnya. Justeru yang sangat menentukan adalah kemauan siswa itu sendiri. Merekalah yang akan menerima pembelajaran/ materi tambahan itu. Maka mereka pulalah yang akan menentukan keberasilannya.

Oleh karena itu diharapkan kepada seluruh peserta terobosan (kelas XII) supaya mengikuti kegiatan belajar tambahan ini dengan baik. Ikutilah dengan penuh kesungguhan. Ingat bahwa ujian nanti tidak akan ada membantu kecuali diri sendiri. Jika ingin membantu diri sendiri dalam UN (Ujian Nasional) nanti maka bantulah dari sekarang. Caranya? Ya, salah satunya adalah dengan mengikuti kegiatan terobosan dengan bersungguh-sungguh. Ok, selamat mengikuti dan sempoga sukses UN nanti.***

Sabtu, 04 Januari 2014

Malas Bukan Karena Bodoh



SATU penyakit peserta didik (siswa) yang paling tidak disukai guru di kelas adalah penyakit malas. Berhadapan dengan siswa malas bisa membuat guru stres. Berbanding siswa nakal (suka ribut, suka mengganggu teman, suka keluar-masuk kelas, suka berkelahi, dll) malas terasa lebih menjengkelkan. Sebagian guru justeru dapat menerima penyakit nakal itu. Tapi siswa malas?


Malas bisa dalam bentuk sering tidak masuk kelas (izin, sakit, alpa) dengan berbagai alasan. Tapi jika diproses ujung-ujungnya ketahuan bahwa nyang bersangkutan sebenarnya malas masuk. Malas masuk kelas untuk mengikuti pelajaran. Tidak pantas alasan itu.

Bisa pula malas dalam bentuk enggan mengerjakan PR (Pekerjaan Rumah) yang hampir setiap hari diberikan guru. Ketika waktu mengumpulkan PR siswa yang berkategori malas ini akan membuat berbagai alasan lagi. Ujung-ujung alasannya akan ketahuan juga bahwa dia memang malas. Bukan hanya malas mengerjakan sendiri. Bahkan untuk mencontek pekerjaan temannya pun malas.

Siswa malas mungkin tidak terlalu ramai. Mungkin hanya 10-15 persen dalam satu kelas. Bahkan bisa lebih sedikit. Tapi siswa malas sangatlah berbahaya dan membahayakan. Tidak sekedar berbahaya kepada dirinya sendiri tapi juga akan ikut berpengaruh dan membahayakan teman-teman lainnya. Maka sifat malas sangatlah tidak disukai guru.

Konon malas dapati disebabkan oleh beberapa hal, misalnya karena pengaruh alat-alat teknologi yang salah penggunaannya. Umpamanya HP (Hand Phone) yang seharusnya dipakai untuk komunikasi atau membantu dalam pembelajaran, tapi justeru dipakai untuk sekedar SMS-an pada saat belajar. Atau juga dipakai untuk sekedar chatting dalam waktu dan tempat yang tidak tepat. Itu jelas akan membuat siswa malas. Termasuk dalam hal ini adalah ipad, laptop dll yang sengaja disalahgunakan.

Penyebab malas lainnya bisa juga karena pengaruh situasi dan kondisi usia remajanya. Biasanya di usia itu mereka mulai saling menyenangi (wanita-pria) dan mulai pula menjalin hubungan asmara diam-diam. Jika sudah demikian, mereka cenderung akan malas untuk sekolah. Padahal seharusnya keadaan seperti itu tidak harus membuat mereka malas. Dan tentu masih banyak penyebab, mengapa anak-anak kita ini malas. Entah pengaruh teman, orang tua, lingkungan dan banyak lainnya.

Pertanyaannya, apakah anak-anak malas ini bodoh? Pasti tidak. Mereka pada hakikatnya bukan siswa bodoh. Jika mereka sering mendapat nilai ulangan rendah, itu lebih disebabkan oleh banyaknya waktu belajar mereka yang tertinggal. Malas masuk kelas, malas belajar di kelas dan malas pula mengerjakan tugas-tugas yang diberikan guru. itu pasti akan berpengaruh pada perolehan nilai.

Di situasi inilah perlunya kompetensi guru dalam menangani keadaan siswa seperti ini. Di tahap awal, tidak harus siswa ini langsung dikirim ke guru BP atau wali kelasnya. Guru Mata Pelajaran juga harus berkompeten mengatasinya. Jika benar-benar tidak bisa barulah dilaporkan ke Wali Kelas bahkan mungkin akan sampai ke Guru BP. Intinya, guru harus mencari tahu sebab-musabab malas ini. Jika guru mampu menemukan penyebabnya maka akan ditemukan juga solusinya. Insyaallah, siswa ini akan kembali ke jalur yang sebenarnya bahwa dia adalah anak cerdas.***

Jumat, 03 Januari 2014

Menulis: Keinginan Saja Tidak Cukup

DALAM setiap diskusi dengan rekan-rekan sesama guru dalam topik 'menulis' selalu pertanyaan yang timbul, 'mengapa begitu sulitnya menulis'. Maksudnya begitu tidak mudahnya menuangkan ide, gagasan atau pikiran ke dalam sebuah tulisan. Ada terasa tapi tidak mudah menulisaknannya. Begitulah kira-kiran pertanyaannya.


Sebagai guru, kita tahu bahwa menulis itu begitu sangat penting untuk menyukseskan tugas-tugas kita. Sebagai sosok yang bertanggung jawab dalam proses pembelajaran di kelas (bahkan bisa pula di luar kelas) menulis pasti tidak dapat dielakkan. Menulis akan menjadi bagian dari tugas-tugas keguruan lainnya. Kita tahu itu. Tapi hanya sekedar tahu itu saja.

Menulis, sebagaimana juga membaca dan berbicara sejatinya adalah beberapa keterampilan berbahasa yang mutlak dan harus dimiliki seorang guru. Bagaimana akan sukses melaksanakan proses pembelajaran jika seorang guru tidak mampu menulis? Guru akan terpaksa menulis karena seorang guru sebelum melaksanakan tugas dalam pengelolaan proses pembelajaran terlebih dahulu harus membuat perencanaan proses pembelajaran itu sendiri. Perencanaan pembelajaran tentu saja harus ditulis agar mudah dipedomani dalam pelaksanaan.

Jika ada anggapan bahwa menulis hanyalah keterampilan yang diwajibkan kepada Guru Mata Pelajaran (GMP) Bahasa Indonesia, jelas pandangan itu sebagai sebuah kesalahan. Keterampilan menulisa adalah kewajiban semua guru. Tidak harus hanya guru Bahasa Indonesia saja. Ketentuan itu sudah nyata ditegaskan dalam salah satu peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan tentang proses pembelajaran.

Pertanyaannya, "Sudahkah kita sebagai guru berusaha untuk terampil menulis?" Hanya kita masing-masing yang tahu dan mengerti jawabannya. Yang pasti setiap guru tentu saja berkeinginan untuk menulis. Seperti juga keinginan lainnya, keinginan menulis juga akan dimiliki oleh setiap guru.

Tapi ternyata keinginan saja tidak cukup. Walaupun pekerjaan menulis seolah-olah tidaklah berat tapi untuk benar-benar lahirnya sebuah tulisan tidak cukup dengan keinginan saja. Proses menulis untuk sampai kepada lahirnya sebuah tulisan akan melalui beberapa tahap. Tahap awal tentu saja bermula dari keinginan itu sendiri. Apapun sebuah keberhasilan memang harus bermula dari keinginan.

Keinginan yang kuat akan menuntun kita kepada usaha dan persiapan lainnya. Apapaun kendala biasanya akan dihadapi sekuat tenaga. Jika harus ada biaya dan bentuk pengorbanan lainnya, akan dilakukan. Tidak ada kata menyerah dalam proses ini. Tujuan akhir dari semua itu adalah lahirnya sebuah tulisan yang tidak hanya akan dibaca sendiri tapi juga untuk dibaca dan dinikmati orang lain.

Beberapa langkah yang lazim dilalui dalam proses melahirkan tulisan adalah dengan membaca. Keinginan menulis akan diawali dengan membaca befrbagai tulisan yang ada. Akan lebih baik jika karya yang dibaca adalah karya yang akan mendukung tulisan kita. Jika kita berencana akan membuat tulisan berupa fiksi, deskripsi atau argumentasi maka kita membaca dan mempelajari tulisan-tulisan seperti itu. Jika kita akan membuat tulisan seperti cerpen, puisi, berita atau artikel ilmiah apa saja maka kita bacalah tulisan-tulisan seperti itu.


Dari hasil bacaan itulah nantinya akan lahir ide atau gagasan yang akan kita tuang dalam tulisan kita. Mengenai bentuk dan gaya seperti apa yang kita kehendaki, itu sepenuhnya menjadi otoritas kita. Intinya, jika inign menulis tidaklah cukup hanya dengan keinginan saja. Harus dimulai dengan usaha nyata.***

Rabu, 01 Januari 2014

Mengapa Membuka Tahun dengan Dosa?

PERTANYAAN itu muncul setelah seharian ini saya membaca pesan-pesan di facebook teman-teman tentang ramainya anak-anak muda yang merayakan malam tahun baru 2014 dengan hura-hura berbuat dosa. Berbuat dosa? Ya, berbuat dosa. Mereka berjoget laki-perempuan bercampur baur. Berjingkrak-jingkrak seperti orang kesurupan. Ah, apa iya?


Sebuah status berbunyi begini: tadi malam,, banyak orang yg gembira, tertawa, dalam merayakan pergantian tahun. tapi dihari ini,, banyak yang menangis, sedih,, cemas , gelisah, menyesal.. kenapa ??? uang habis dengan percuma, miras membawakan mereka berada dirumh sakit, seks bebas menambah deretan panjang anak lahir tanpa bapak. Saya kutip utuh bunyi status itu dengan huruf miring. Kalimat terakhir dari status itu sungguh menakutkan.

Masih ada beberapa komentar yang memperkuat status-status semacam itu. Intinya, ternyata pergantian tahun telah disalahgunakan oleh beberapa orang anak manusia dengan cara salah. Mereka merayakannya di tempat-tempat tertentu yang gelap dan tersembunyi. Hanya dua orang atau beberapa orang saja dengan maksud dan tujuan yang sama. Konon kisahnya, di malam menjelang datangnya tahun baru itu bolehlah menyerahkan kehormatan kepada orang yang disayang. Huih, sungguh menakutkan.

Orang yang disayang itu tidak lebih dari seorang lelaki yang dianggap menyayanginya. Seorang wanita, tidak menyesal menyerahkan mahkota paling berharga yang dimilikinya kepada lelaki yang katanya menyayanginya. Sungguh cara berpikir yang sangat keliru. Apakah dia tidak berpikir bahwa perbuatan itu bukan saja berdosa karena memang belum menikah, tapi lebih dari itu cara berpikir seperti itu akan merusak sikap dan cara pandang itu sendiri.

Sebenarnya tidak ada yang perlu dirayakan dengan datangnya tahun baru itu. Apalagi jika yang merayakannya adalah seorang muslim. Tidak ada ajaran agama yang menyarankan apalagi memerintahkan untuk memperingati tahun baru Masehi itu. Jika pun ingin menjadikan pergantian tahun sebagai peringatan untuk diri sendiri, boleh saja. Itu berarti, yang harus dilakukan adalah instrokpeksi diri, apakah kita sudah melakukan tindakan dan perbuatan yang baik selama ini. Apakah kita sudah membuktikan bahwa kita bertanggung jawab atas amanah yang diberikan Tuhan atas kehidupan yang kita terima ini?

Tidak harus membuka tahun baru (tahun baru apa saja: Islam, Kristen, Budha, China, dst) dengan berhura-hura berbuat dosa. Silakan memperingatkan dirinya di awal tahun baru atas perbuatan dan tindakan yang sudah dilaksnakan selama ini. Jika terlanjur berdosa, minta ampunlah. Jika kurang amal-ibadah, lanjutkan dan tingkatkan saja amalannya. Itulah yang benar, bukan dengan membuat dosa. Nauzubillah!***
 
Copyright © 2016 koncopelangkin.com Shared By by NARNO, S.KOM 081372242221.