BREAKING NEWS

Selasa, 31 Desember 2013

Potensi yang Belum Tergali

SALAH seorang narasumber pada seminar pendidikan yang dilaksanakan pada hari Senin (30/12) lalu kembali mengingatkan bahwa setiap guru memiliki beberapa kemampuan. Kemampuan itu terkadang tidak dimiliki oleh profesi lain. Kemampuan itu antara lain, memiliki kasih sayang dalam mencapai tujuan pembelajaran. Dengan kasih-sayangnya yang tulus membuat guru dengan mudah melaksanakan tugas pokoknya sebagai agen perubahan.

Dengan kasih-sayang, seorang guru akan membuat para peserta didiknya mau dan ikhlas menerima dan mengikuti proses pembelajaran yang dikelola guru. Tanpa rasa kasih-sayang sudah dapat dipastikan bahwa para peserta didik akan berontak atau apatis sehingga proses pembelajaran tidak dapat berjalan dengan baik dan benar.

Rasa kasih dan rasa sayang tidak dapat dipelajari. Perasaan kasih dan sayang sesungguhnya sudah ada sejak awal manusia yang bernama guru mulai melaksanakan fungsi-fungsi keguruannya. Bisa saja sebelum menjadi guru, seseorang itu sudah memiliki perasaan sayang dan kasih kepada anak-anak. Tapi mungkin tidak berkembang karena profesi yang digeluti tidak memerlukan rasa kasih dan rasa sayang.

Pikiran di atas kembali diungkapkan oleh salah seorang narasumber dalam Seminar Internasional Pendidikan 2013 yang ditaja oleh Bagian Kesra dan Kegamaan Setda Kabupaten Karimun. Dengan mengambil Sub Tema 'Menyoal Mutu Pendidikan Daerah Perbatasan' seorang profesor yang didatangkan dari salah satu Perguruan Tinggi ternama di Negeri Jiran, Malaysia mengatakan bahwa potensi rasa sayang itu sangat berguna dalam usaha mencapai tujuan pembelajaran. Dengan rasa kasih dan rasa sayang itulah seorang guru akan akan mampu pula melihat potensi brilian seorang anak-didiknya.

Guru dengan potensi kasih-sayangnya sekaligus mampu menemukan bakat setiap anak-didiknya akan membuat suasana pembelajaran akan terus menyenangkan. Guru seperti ini tidak akan menyalahkan anak-didiknya jika menemukan seorang siswa yang kesulitan dalam satu atau beberapa mata pelajaran. Guru dengan potensi mulia ini akan berusaha menemukan potensi kecerdasan lainnya di luar yang sudah diusahakan selama ini.

Seorang siswa bisa saja tidak mudah memahami Matematika atau Fisika. Tapi belum tentu dia tidak brilian di mata pelajaran lain. Dari belasan bahkan puluhan ilmu yang ditawarkan dan atau diberikan tidak satupun pelajaran yang disukainya. Bisa jadi juga bahkan anak ini sangat benci kepada pelajaran tersebut. Tapi bagi seorang guru yang baik dia dapat saja menemukan bakat lain di luar pelajaran yang sudah ada sebelumnya.

Akhirnya guru yang baik ini akan mengembangkan potensi yang tersembunyi ini untuk kebaikan anak itu sendiri. Tidak bisa mata pelajaran dengan angka-angka yang membosankan dia, mungkin saja siswa ini berbakat di mata pelajara  lain. Entah olahraga, melukis atau bernyanyi. Bisa saja pelajaran terakhir ini yang benar-benar disukainya. Maka pelajaran ini yang harus dikembangkan bagi para siswa.

Oleh karena itu, guru wajib mengembangkan potensi dirinya ini demi kemajuan peserta didiknya tersebut. jangan lagi memaksakan hal lain yang sama sekali tidak disukai siswa. Begitulah pesan profesor dari negeri seberang itu. Saya setuju dengan uraiannya tersebut. Artinya para guru kembali diingatkan bahwa di setiap diri anak pasti ada potensi yang dapat dikembangkan.***

Minggu, 29 Desember 2013

Jokowi Cawapres, Aduh Jangan

FENOMENA Jokowi membuat banyak tokoh politik bagaikan merana. Tidak hanya lawan-lawan PDI-P, partai pengusung Jokowi  yang tidak suka tapi di internal partai merah itu juga tidak kurang yang sewot melihat Jokowi bak meteor di blantika perpolitikan Indonesia. Syukurlah, kekuatan Mega dengan pengaruhnya yang masih dominan berhasil membuat keberadaan Jokowi di internal PDI-P tidak menimbulkan riak apapun. Dugaan Mega merasa tersaingi oleh Jokowi juga tidak dibesar-besarkan media.

Sementara (Nenek) Mega tidak juga menegaskan bahwa dia tidak lagi akan maju sebagai Capres PDI-P padahal mandat partai 'wong cilik' itu diserahkan sepenuhnya ke dia untuk menunjuk, penggemar Jokowi terus-menerus melambungkan gubernur berbadan kurus itu. Di berbagai media, terutama media sosial, Jokowi terus dipuji-puja walaupun juga ada yang menghina. Yang pasti nama Jokowi terus berkibar di atas puncak elektabilitas para calon yang sudah mendeklarasikan dirinya. Bahkan jauh meninggalkan elektabiltas Mega sendiri.

Di satu sisi, isteri almarhum Taufik Kiemas itu tentu senang karena partainya secara tidak langsung akan terbawa nama 'hebat' Jokwi tapi di sisi lain, di hati terdalamnya juga gusar karena ternyata keberadaan Jokowi dalam gerbong PDI-P tidak serta-merta mengerek nama bosnya di elektabiltas Capres. Jokowi berkibar di puncak memang karena dirinya sendiri. Nama Jokowi malah jauh lebih di atas dari pada Megawati. Ini jelas tidak mudah diterima oleh pemilik kuasa tunggal partai itu.

Belakangan, berita hangat yang disuburkan media adalah kemungkinan Jokowi diduetkan dengan Mega dalam Capres-Cawapres 2014 nanti. Artinya Jokowi akan diplot saja sebagai Cawapres. Padahal nama Jokowi itu naik justeru dalam posisi Capres. Elektabilitas Jokowi sebagai Capres yang tidak pernah tertandingi oleh siapapun membuat fenomena Jokowi semakin fenomenal saja. Berita dan analisis tentang Jokowi, baik sebagai Gubernur DKI yang diulas bersama Ahok maupun sebagai pribadi yang digadang-gadang pendukungnya untuk maju sebagai presiden RI nanti, membuat nama Jokowi terus melambung tinggi.

Jika para pendukung Jokowi saat di tanya, apakah mendukung Jokowi sebagai Capres atau sebagai Cawapres, dapat dipastikan bahwa yang diinginkan adalah Jokowi sebagai Capres. Bukan sebagai Cawapres. Bahkan diduetkan dengan Megawati sekalipun, pendukung Jokowi akan kecewa karena yang diharapkan adalah posisi RI-1. Hanya di posisi itu Jokowi akan berkekuatan penuh mengelola negara ini sebagaimana dia mengurus DKI yang penuh masalah itu.

Mega yang  di satu sisi sudah diharapkan sebagian besar para pendukungnya untuk lengser secara terhormat namun  di sisi lain sang Ketua Umum ini juga tidak secara eksplisit menyatakan akan lengser demi partai atau akan maju terus, membuat peta Capres-Cawapres di PDI-P memang masih mengambang. Dan Mega sepertinya memang sengaja mengambangkan keputusan tentang hal penting ini. Dia selalu mengatakan bahwa Capres PDI-P akan diumumkan setelah Pemilu Legislatif nanti. Akan ada Munas partai lagi untuk memutuskannya. Sampailah opini seperti saat ini berkembang ke arah kemungkinan dia berduet dengan Jokowi. Itu semua disebabkan dia belum membuat ketegasan. Kelihatannya dia menikmati suasana politik seperti itu.

Jika Golkar dengan beraninya memutuskan Abu Rizal Bakri (ARB) sebagai jagonya tanpa Cawapres, Hanura mendeklarasikan Wiranto- Hari T sebagai Capres-Cawapres dan Gerindra memutuskan Prabowo tanpa Cawapres tinggal PDI-P dan Partai Demokrat, partai relatif besar yang belum memutuskan. Hanya saja strategi keduanya juga berbeda. Partai Demokrat melakukan konvensi terbuka untuk memutuskan jagonya sementara PDI-P malah sepenuhnya diserahkan ke Mega untuk menunjuk siapa calonnya. Akankah menunjuk orang lain atau dirinya sendiri, anggota dan pengurus partai lainnya tidak berhak menggugatnya. Itulah khasnya PDI-P.

Tapi jika mengikuti arus suara di media, sepertinya tingkat keterpilihan Mega memang tidak akan bisa lagi diatas para capres lainnya. Fakta dua kali dia maju dan tidak pernah dipilih rakyat secara mayoritas, akan menjadi kartu mati Mega di Pemilu 2014 nanti. Apakah karena itu lalu muncul ide menggandengkannya dengan Jokowi yang namnaya lagi di atas awan? Boleh jadi begitu cara pandang pendukung Mega. Bagaimanapun, orang-orang sepuh di partai banteng seperti Tjahjokumolo, dkk selalu mengatakan Bu Mega masih pemimpin terbaik. Apakah karena sekedar 'ambil muka' atau benar-benar di hatinya? Itulah politik.

Sebagai penyuka Jokowi, saya memandang tidak tepat jika Mega memaksakan kehendaknya untuk maju menjadi Capres dengan memaksakan Jokowi sebagai Cawapres. Itu akan menjadi bumerang buat partai. Sebagian anggota dan pengurus begitu ramai yang berharap Mega turun terhormat, nanti akan terang-terangan memberontak. Belum lagi penggemar Jokowi non partai yang juga akan balik kanan mencari Capres lain yang lebih muda dan fresh untuk memimpin negara besar ini. Jadi, jika Jokowi ingin digandengkan dengan Ibu Dyah Permata Megawati Setyawati Sukarnoputri alias Ibu Mega yang sudah berusia hampir kepala tujuh (lahir 23.01.47) itu, aduh janganlah. Paling tidak menurut saya. Kasihan Jokowi dan PDI-P sendiri.***

Jumat, 27 Desember 2013

Empat Regu Tiga Prestasi

SORE, sekiktar pukul enam, Kamis (26/ 12) semalam saya menerima SMS dari guru Olahraga, Pak Ronal. Dia menjelaskan bahwa tiga regu dari empat regu yang ikut dalam turnamen olahraga bola volly dan futsal yang diselenggarakan UK (Universtitas Karimun) meraih prestasi. Hanya satu regu yang tidak meraih tempat terhormat. Jelasnya SMS itu berbunyi begini: Pak, volley putra juara 2, volley putri juara 3 dan futsal A juara 1. Wow, tiga peringkat mereka boyong, kata saya dalam hati membaca sekaligus membalas membneri selamat.

Saya teringat kalau dalam beberapa hari ini empat regu tim SMA Negeri 3 Karimun memang ikut ambil bagian dalam pertandingan volly (satu regu putra dan satu regu putri) dan cabang futsal putra yang juga mengirim dua regu, A dan B. Dan hari ini (Kamis) adalah laga final untuk kedua cabang tersebut. Diikuti oleh seluruh SLTA se-Pulau Karimun, tiga regu utusan sekolah tempat saya bertugas ternyata mampu menembus final. Cabang volly (putra) maju ke final untuk memperebutkan juara puncak dan yang putri final memperebutkan juara tiga-empat. Sementara cabang futsal putra juga menembus final puncak.
Dari tiga final itu, cabang futsal meraih juara pertama, volly putra meraih juara kedua dan volly putrid berhasil mengalahkan lawannya untuk merebut tempat ketiga. Ini adalah prestasi yang tidak saya sangka. Mereka pergi hanya empat regu tapi tiga regu mampu berprestasi dengan baik.

Tentu saja saya bangga dengan prestasi ini. Dalam kesibukan mereka mengikuti pertandingan antar kelas di sekolah, mereka ternyata dalam waktu yang sama juga mengikuti turnamen yang diselenggarakan UK dalam rangka disnatalis dan wisuda sarjana kedua tahun 2013 itu. Pasti tidak mudah menembus partai final karena harus menyingkirkan tim-tim sekolah lain. Ada belasan sekolah yang ambil bagian dalam turnamen ini.
Ada pesan yang patut diperhatikan dari setiap kegiatan peserta didik. Apapun yang mereka ikuti, hasilnya selalu akan dipengaruhi bahkan ditentukan oleh kemauan mereka itu sendiri. Sering kita (guru) terkadang memaksakan keinginan guru sendiri tanpa memperhatikan keinginan siswa. Dan ketika siswa gagal melakukan atau meraih prestasi sebagaimana keinginan guru, justeru yang disalahkan adalah siswanya sendiri.

Di berbagai kesempatan lomba atau pertandingan, lazimnya guru ingin meraih prestasi terbaik. Tentu saja ini tidak salah. Justeru kita wajib membuat target harapan itu. Karena itu pula para guru akan memulainya dengan melakukan pembinaan-pembinaan. Dalam proses pembinaan inilah harus dipupuk kemauan dan motivasi peserta didik untuk meraih prestasi tersebut. Dan ketika kemauan guru tidak sejalan dengan kemauan dan motivasi siswa, di situlah akan terjadi gap harapan. Justeru kegagalanlah yang akan didapatkan.


Ada banyak bukti betapa para siswa mampu meraih berbagai prestasi yang terkadang melebihi harapan guru disebabkan oleh keberhasilan guru memupuk kemauan dan motivasi siswa itu sendiri. Dugaan awal bahwa siswa tidak akan mampu ternyata sebaliknya. Mereka bias berhasil lebih dari apa yang ditargetkan. Itu semua selalu bermula dari kemauan. Benar peribahasa orang tua-tua dahulu bahwa di mana ada kemauan maka di situ aka nada jalan. Maka kerja guru Pembina akan kelihatan lebih mudah jika guru tersebut mampu menanamkan keingina yang tinggi dari siswa itu sendiri. Semoga!***

Selasa, 24 Desember 2013

Serunya Pertandingan Antar Kelas Itu

SENIN (23/ 12) kemarin adalah hari pertama pertandingan antar kelas dalam rangka mengisi waktu menjelang pembagian rapor semester ganjil TP 2013/ 2014 ini. Siswa-wi SMA Negeri 3 Karimun yang melaksanakan program classmeeting pasca semester ini mengadakan beberapa cabang olahraga untuk digelar selama menanti rapor. Jadwalnya dimulai Senin dan akan berakhir Jumat. Sabtu (28/ 12) adalah hari pembagian rapor semester.

Di hari pertama semalam, dilaksanakan pertandingan futsal antar kelas. Dari pagi hingga siang sesuai jadwal yang sudah disusun, setiap kelas tampil mewakili kelasnya. Saya tidak tahu persis kelas berapa yang tampil sedari pagi hingga siang itu. Yang saya tahu mereka bertanding begitu serunya.

Ketika, misalnya, kelas XII IA berhadapan dengan kelas XII IS (saya tidak mencatat IA dan IS berapa) pertandingan itu berjalan sangat seru. Sorak-sorai oleh p-endukung masing-masing sambil memukul ember membuat suasana pertandingan begitu bersemangat. Sementara di luar lapangan saling dukung antar supporter kian memanas, ternyata di lapangan para pemain juga ikut-ikutan panas.

Saya melihat dalam salah satu insiden, salah seorang pemain lawan membuat lawannya terjatuh dan terjungkal di lapangan. Kontan saja para pemain lain protes karena dianggap terlalu kasar. Sementara sorak-sorai terus membahana. Di lapangan para pemainnya juga sudah saling dorong. Untungnya mereka kembali dapat menguasai emosi masing-masing. Reporter yang dari tadi juga ikut membuat suasana pertandingan menjadi 'hangat' mulai mengingatkan para pemain untuk sabar.

Dua wali kelas yang ikut bersama para siswanya memberi semangat juga menenangkan para siswanya agar tidak emosi. Main boleh keras tapi tidak boleh kasar. Kira-kira begitu pesan para wali kelas kepada anak-didiknya.

Saya hanya ingin mencatat bahwa ternyata mereka itu bisa membuat permainan itu begitu menarik. Walaupun suasana tampak panas tapi mereka tidak sampai berkelahi dalam pertandingan itu. Beberapa partai dari pagi hingga siang yang saya tonton, saya merasakan suasana pertandingan yang hyebat yang mereka tampilkan. Ternyata mereka bisa pertandingan yang seru sesama mereka. Selamat bertanding, anak-anaku!***

Selasa, 17 Desember 2013

Pnitia UAS Harus Bekerja Keras

BERBANDING dengan sistem ujian sesama satu kelas, ujian dengan menggabungkan siswa dari kelas yang berbeda dalam satu ruang ujian yang sama sudah pasti lebih menyulitkan pelaksanaannya. Panitia harus bekerja lebih keras karena menggabungkan peserta didik yang berbeda kelas dalam satu ruang ujian yang sama akan menyulitkan terutama dalam pembagian soal ujian.
Jika dalam satu ruang ujian ada 20 orang atau lebih, misalnya maka jika keseluruhan siswa itu merupakan siswa yang sama kelasnya, jelaslah dalam pembagian soalnya akan lebih mudah. Tapi jika mereka bergabung antara kelas-kelas yang berbeda maka otomatis pembagian soal ujiannya juga akan lebih sulit. Pengawas harus tahu persis kelas berapa duduk di mana agar soalnya tidak tertukar.

Untuk apa siswa yang berbeda kelas ditempatkan dalam satu ruang ujian yang sama? Dan biasanya mereka diatur duduknya agar siswa yang sama kelasnya tidak duduk berdampingan langsung, untuk apa? Tujuannya adalah untuk membatasi atau mengurangi bahkan menghilangkan kesempatan untuk saling  mencontek sesama satu kelas karena soal ujian yang sama.

Harus diakui bahwa sampai hari ini budaya mencontek di kalangan siswa di negara kita masih belum hilang. Jika ada kesempatan untuk saling mencontek satu sama lainnya maka biasaya para siswa akan melakukannya. Pengecualian untuk beberapa orang siswa, mungkin ya. Tapi jumlah siswa yang benar-benar tidak mau mencontek (walaupun ada kesempatan) itu sangatlah sedikit. Lebih banyak yang suka mencontek dari pada yang tidak.

Untuk itu diperlukan strategi agar kesempatan mencontek itu dikurangi atau dihilangkan. Seperti dilakukan dalam penyelenggaraan UN (Ujian Nasional) yang membuat soal ujian yang berbeda untuk siswa yang berdekatan duduknya dalam satu ruang ujian. Beberpa tahun belakangan ini, pelaksana UN (BNSP) membuat soal UN dengan beberapa paket. Artinya untuk anak-anak yang duduk berdekatan dalam satu ruangan, akan diberi soal dengan paket yang berbeda. Tujuannya adalah untuk menutup kesempatan untuk saling mencontek itu.

Untuk ujian semester yang pekan-pekan ini berlangsung di beberapa sekolah, perinsip soal paket juga dapat dilakukan dengan cara menggabungkan siswa yang berbeda kelas dalam satu ruangan ujian. Seperti dilakukan oleh salah satu SMA di Karimun, bahwa panitia menggabungkan siswa kelas X, XI dan XII dalam satu ruang. Tentu saja soal yang mereka akan jawab adlah soal ujian sesuai kelas nya masing-masing. Dan otomnatis cara ini tidak akan terjadi lagi saling mencontek oleh para siswa yang berdekatan duduknya.

Yang tentu saja harus dilakukan oleh pantia adalah kerja ekstra keras. Mengapa? Karena pantia harus benar-benar jeli dan tertib dalam pembagian kelas dan peserta ujian dalam kelasnya. Dalam pendistribusian soal juga harus hati-hati agar tidak tertukar antara satu orang dengan orang lainnya dalam satu ruang tersebut.

Jumat, 13 Desember 2013

Sulitnya Membina Siswa ini

ADA ratusan peserta didik (siswa) di setiap sekolah bahkan bisa lebih. Sekolah besar malah bisa mencapai jumlah antara 800 hingga 1.000 orang. Sekolah sedang bisa tidak kurang 500 hingga 600 siswa. Dan di antara sekian ratus siswa itu selalu ada beberapa orang yang memerlukan perhatian bahkan perhatian khusus.


Seperti di sekolah tempat saya bertugas, dari 432 orang siswa --kelas X, XI dan XII-- ternyata memang ada beberapa orang siswa yang selalu bermasalah. Bermasalah dalam arti selalu tercatat sebagai siswa yang melanggar tata tertib. Dari pelanggaran ringan seumpama terlambat hadir sampai ke pelanggaran setengah berat seperti ketahuan merokok bahkan yang lebih berat seumpama meminum minuman beralkohol.

Perihal siswa terlambat hadir, di sekolah ini hampir setiap hari ada saja yang tercatat di buku piket. Rata-rata 3-4 orang siswa terlambat hadir. Ketika bel dibunyikan tepat pukul 07.00 WIB dan seluruh siswa harus apel (baik di halaman sekolah maupun di depan kelas masing-masing) selalu saja satu dua orang yang terlambat ikut apel pagi itu. Sesuai ketentuan, setiap siswa yang terlambat harus melapor ke guru piket. Kaena sekolah belum berpagar, terkadang memang ada kesulitan mendeteksi siswa yang terlambat.

Untuk siswa terlambat sesuai ketentuan akan dicatat di buku piket. Lalu dilaporkan ke wali kelas masing-masing untuk mencatat poin pelanggaran yang  dilakukannya. Jika jumlah poin pelanggarannya sampai batas tertentu, orang tua/ wali siswa bersangkutan akan dipanggil. Kepala Sekolah, melalui wali kelas akan meminta orang tua siswa bersangkutan hadir ke sekolah untuk mendiskusikan pelanggaran yang dilakukan putranya. Selanjutnya proses konsultasi itu akan dicatat dalam buku kasus untuk ditandatangani oleh masing-masing pihak sebagai bukti pelanggaran itu sudah diproses. Jika harus ada perjanjian, dibuat perjanjian sesuai ketentuan dan peraturan sekolah.

Untuk beberapa anak tertentu inilah terasa betapa sulitnya membina mereka. Berulang-ulang guru memproses dan menyelesaikan pelanggaran yang dialukannya tapi berulang-ulang pula dia melakukannya. Dari satu perjanjian ke perjanjian lainnya sudah ditandatangani. Dari wali kelas hingga ke guru BP sudah berusaha mencari jalan terbaik agar siswa ini terselamatkan. Sebagai sebuah institusi pendidikan, sekolah wajib membina para siswa seperti ini. Sekolah wajib berusaha agar mereka bisa berubah dari yang tidak baik menjadi baik.

Persoalannya adalah jika usaha-usaha pembinaan itu malah ditolak oleh siswa bersangkutan. Jika pun mereka berjanji (termasuk perjanjian menggunakan materai) ternyata ada saja siswa yang tetap melanggar perjanjian itu. Padahal nyata-nyata di surat perjanjian sudah disepakati bahwa jika sekali lagi melanggar tata tertib maka siswa tersebut bersedia dikembalikan kepada orang tuanya atau pindah sekolah. Di sinilah peliknya proses pembinaan itu. Mengapa? Karena tidak semua orang tua akhirnya dapat menerima konsekuensi itu.

Lebih runyam lagi, jika langkah terakhir yang disepakati itu akhirnya sampai beritanya ke Kantor Dinas Pendidikan dan atau ke Perintah Daerah. Bila akhirnya siswa tersebut harus dikembalikan kepada orang tuanya karena sudah tidak mau menaati tata tertib sekolah, ternyata persoalannya bisa juga belum selesai jika pihak Dinas Pendidikan dan atau Pemda salah memahami proses pembinaan itu. Terkadang malah sekolah juga yang dipersalahkan. Betapa sulitnya membina siswa seperti ini.***

Rabu, 11 Desember 2013

Kisah Nyata di Saat Rapat: Susahnya Menjadi Kembaran

KISAH-kisah aneh tapi nyata dari dua orang yang kembar sudah sering terdengar. Tapi apakah Anda pernah menyaksikannya langsung? Jika Anda adalah kembaran saudara Anda, apakah pernah mengalaminya? Mungkin di antara kita ada yang sudah pernah melihat langsung dan mungkin juga ada yang sekedar mendengar ceritanya saja.



Konon, ada kisah dua orang kembar yang jika salah satunya filek atau flu, maka yang lainnya juga ikut filek atau flu. Jika salah sakit perut maka yang satunya juga akan ikut sakit perut. Jika salah satunya ingin makan atau minum maka yang satunya lagi juga ingin makan dan minum. Dan jika salah seorang jatuh cinta kepada seseorang, apakah kembarannya juga akan merasakan hal yang sama? Boleh jadi.

Tapi yang saya saksikan langsung beberapa hari lalu adalah kisah seorang ibu guru yang mengeluh sakit yang ternyata disebabkan oleh kembarannya yang sedang sakit pada saat itu. Anehnya, kembarannya itu tidak berada di tempat yang sama. Si guru ada di sekolah sementara kembarannya ada di rumah sakit bersalin.

Pagi --Sabtu, 07/ 12/ 13-- itu ada rapat di sekolah, SMA Negeri 3 Karimun. Rapat diadakan dengan agenda persiapan Ujian Semester Ganjil yang akan dilaksanakan pada 16 Desember nanti. Kepala Sekolah memimpin rapat setelah sebelumnya seluruh warga sekolah melaksanakan Senam Kesegaran Jasmani Sabtu Pagi. Rapat ini mengambil waktu Gotong Royong (Goro) pasca senam dan kegiatan eskul yang jadwalnya sehabis Goro. Rapat sengaja dilaksanakan karena ada juga agenda lain selain persiapan ujian semester.

Setengah jam rapat berjalan, sepertinya tidak ada kejadian yang aneh. Tapi ternyata ada seorang guru yang sejak rapat dimulai sudah menunjukkan kegelisahannya. Mukanya tampak seperti menahan kesakitan. Dia tidak tampak tenang dalam rapat itu. Sebagian besar rekan-rekan guru sama sekali tidak menganggap ada hal yang aneh dengan Ibu Guru itu.

Tapi rupanya satu dua orang rekan guru yang dekat duduk dengan Ibu Dewi, begitu dia disapa, sudah tahu kalau ibu guru yang mengampu Mata Pelajaran (MP) Geografi itu tengah menanggung rasa sakit. Dia tampak selalu menekan bagian bawah perutnya. Di situlah rasa sakit yang dia rasakan itu. Dan rasa sakit itu ternyata ada hubungannya dengan saudara kembarnya yang pada saat yang sama tengah berjuang dalam kesakitan yang mungkin lebih dahsyat. Kembaran Ibu MP Geografi itu tengah berjuang untuk melahirkan anaknya di Rumah Bersalin RAP Karimun.

Seorang guru tiba-tiba maju ke depan, menghadap pimpinan rapat. Dia memberitahukan kepada Kepala Sekolah bahwa Ibu Dewi yang duduk di bagian belakang, minta izin untuk tidak ikut rapat. Dia ingin istirahat saja di salah satu ruang. Kata guru yang memberi laporan bahwa Ibu Dewi sedang merasakan sakit yang amat berat juga karena saudara kembarnya saat itu tengah akan melahirkan di rumah sakit. Begitu kurang lebih dilaporkan kepada sidang rapat. Akhirnya ibu itu diizinkan untuk keluar ruang rapat dan istirahat saja di temapat lain.

Saat itu saya teringat cerita aneh tapi nyata yang selama ini saya dengar berhubungan dengan orang-orang kembar. Saya juga ingat anak-anak kembar ketika masih kecil yang oleh orang tuanya dengan bangga memperlakukannya secara sama. Jika memakaikan baju, biasanya bajunya dibuat sama warna dan disainnya. Jika dia wanita dan memakai kucir rambut, maka kedua-duanya bisanya diberi kucir yang sama.

Perlakuan yang sama ini di satu sisi memang kelihatan bijaksana karena seolah-olah orang tuanya memperlakukan anaknya yang kembar itu secara sama pula. Di sisi lain terkadang bagi orang lain membuat pakaian dan --biasanya wajahnya juga sama-- perlakuan yang sama itu menyulitkan untuk menegur atau memanggilnya. Walaupun namanya juga terkadang dimirip-miripkan, tapi tetap ada sedikit perbedaannya. Dan perbedaan yang sedikit itulah yang membuat sulit orang untuk menyapanya.

Saya ingat, ada pesan dari seorang teman yang kebetulan juga memiliki anak (laki-laki) kembar. Katanya untuk membuat anak-anak kembar tidak saling terpengaruh satu sma lainnya adalah dengan memperlakukan si kembar secara berbeda sejak kecil. Pak Heri, begitu teman saya itu dipanggil menyebutkan bahwa dua orang anak laki-lakinya yang kebetulan berprofesi sama: sebagai polisi. Tapi katanya, keduanya anaknya itu sama sekali tidak saling terpengaruh secara kijiwaan antara satu dengan lainnya.

Tip yang dipesankannya, disamping tidak boleh memperlakukannya secara sama persis (pakaian, nama, makanan dll) juga katanya dengan cara memisahkan ari-ari anak-anak ini ketika baru saja lahir. Jika salah satu dikuburkan maka yang lainnya sebaiknya dihanyutkan saja di sungai. Dengan demikian keduanya tidak akan saling terpengaruh secara kejiwaan. Benarkah? Buktinya, memang keduan anaknya tidak ada saling terpengaruh sejak kecil dulu. Saat ini katanya, satu anaknya bertugas di Palembang dan yang satunya lagi di Pulau Jawa. Keduanya memang bertugas di kepolisian tapi dengan satuan yang juga tidak sama. Pendidikannya juga tidak di tempat yang sama.***

Senin, 09 Desember 2013

Penghargaan Kwarda untuk Kwarcab

MULAI hari ini, Senin (09/ 12) hingga sepekan ke depan, di Kabupaten Karimun dilaksanakan Kursus Pelatih Pembina Tingkat Lanjut, Gerakan Pramuka Indonesia. Kegiatan yang dilaksanakan Kwarnas (Kwartis Nasional) Gerakan Pramuka Republik Indonesia itu dipercayakan kepada Kwarda (Kwartir Daerah) Provinsi Kepulauan Riau. Oleh Kwarda Kepri dipercayakan kepada Kwarcab (Kwartir Cabang) Kabupaten Karimun.



Menurut Pak Joko, salah seorang Pengurus Kwarnas yang hadir dalam kegiatan ini, "Kursus Pelatih Pembina Tingkat Lanjut ini merupakan peringkat tertinggi dari beberapa kursus yang ada." Begitu Pak Joko menjelaskan ketika memberikan sambutan pada acara pembukaan pagi tadi, di Gedung Nasional. "Kwarnas memberikan penghargaan ini kepada Kwarda Kepri sementara Kwarda Kepri memberikan kepercayaan ini kepada Kwarcab Karimun. Jadi, Karimun sangat beruntung mendapat kesempatan menjadi tuan rumah pelaksanaan kursus ini."

Kwarcab Karimun memang pantas untuk mendapat penghargaan ini. Dalam beberapa kali penghargaan yang dikeluarkan oleh Kwarda Kepri, Karimun memang beberapa kali mendapat penghargaan sebagai Kwarcab Tergiat. Di antara tujuah Kwarcab yang ada di provinsi 'segantang lada' ini, Karimun termasuk yang tergiat. Kegiatan-kegiatan yang ada di kawartir cabang ini memang lumayan banyak.

Maka adalah menjadi tanggung jawab Kwarcab Karimun untuk membuktikan bahwa Kwarcab Karimun memang layak melaksanakannya. Para pengurus Kwarcab memang berkemampuan untuk melaksanakannya. Bayangkan, dalam kursus ini tidak hanya diikuti oleh para pelatih pembina Gerakan Pramuka di Provinsi Kepri (utusan beberapa kabupaten/ kota) saja tapi juga diikuti oleh para pelatih pembina dari beberapa kabupaten di provinsi lainnya. Menurut laporan ketua, Pak Arif, peserta kursus ini juga datang dari
Aceh, Sumatera Utama, Jawa Barat, Banten. Selamat bekerja para pengurus kwarcab Karimun bersama panitia pusat dan provinsi!***

Jumat, 06 Desember 2013

Teruslah Bergerak dan Menggerakkan

MENYEBUT sulit menulis, mungkin tidak tepat walaupun teman-teman guru selalu mengatakan begitu. Ketika diajak mengungkapkan pikiran atau perasaannya melalui tulisan, jawabannya selalu sama: sulit. Terasa ada tapi tetap tidak bisa mengungkapkannya. Ujung-ujungnya tetap saja tidak bisa membuat tulisan.

Sebenarnya yang terjadi adalah kita tidak kunjung memulai menuliskan apa yang terasa itu. Katakanlah ketika mengajar, ada rasa kesal melihat anak-didik yang tak kunjung mengerti tentang apa yang diajarkan. Materi sudah dirasa diberikan dengan baik. Rumusan indikator pun tidaklah terlalu rumit. Tapi ketika postest dilaksanakan, guru merasa peserta didiknya tidak juga mengerti karena perolehan nilai yang masih di bawah standar. Hati menjadi dongkol.

Nah, sayangnya rasa dongkol itu tidak pernah diungkapkan dalam bentuk kalimat. Rasa dongkol dan jengkel hanya ada di hati dan perasaan saja. Paling-paling juga hanya diungkapkan dalam bentuk omelan di mulut. Suara jengkel itu sajalah yang dikeluarkan.

Jika saja setiap perasaan atau pikiran yang ada dibiasakan untuk diungkapkan dalam bentuk kalimat-kalimat Bahasa Indonesia maka sebenarnya segala kesulitan menulis akan segera dimulai mengatasinya. Ketika, misalnya ada perasaan belum puas melihat kenyataan peserta didik yang belum mengerti dengan materi pelajaran yang disampaikan, coba saja langsung ditulis perasaan itu. Misalnya dengan kalimat begini, "Masih banyaknya siswa saya pada hari ini yang belum memahami materi pelajaran saya." Atau dengan kalimat,  "Mengapa murid-murid saya sulit sekali untuk memahami materi pelajaran saya ini?" Atau dengan kalimat-kalimat lain yang pada intinya mengungkapkan pikiran yang ada.

Seharusnya mengungkapkan/ membuat kalimat seperti itu tidak akan terlalu sulit jika dibiasakan membuatnya. Setiap perasaan atau pikiran yang ada, coba saja menuliskannya. Begitu juga, setiap peristiwa yang kita saksikan, coba saja kejadian itu langsung ditulis. Benar kata salah seorang sahabat saya yang terkenal sebagai bloger nasional, "Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi." Kita juga bisa membuat pernyataan untuk membuat semangat kita untuk menulis. Misalnya, "Menulislah karena dengan menulis, Anda tidak akan pernah mati."

Jadi, kunci utama untuk belajar menulis adalah bagaimana memimpin diri sendiri untuk mau menulis. Tidak perlu berpikir untuk membaca atau memahami berbagai teori baru memulai menulis. Jika menulis itu dianalogikan sebagai bergerak, maka teruslah bergerak agar pergerakan itu menjadi lentur dan menarik untuk terus dilakukan.

Langkah selanjutnya, barulah seorang guru itu akan menggerakkan orang lain. Artinya, sebagai seorang guru otomatis akan berkewajiban untuk mengajarkan kemampuan dan keterampilan yang sama kepada anak-didiknya. Bagaimana mengajarkan suatu keterampilan kepada peserta didik jika diri sendiri tidak bisa melakukannya. Makanya, teruslah bergerak dan selanjutnya menggerakan orang lainnya.***

Kompaknya Cikgu, Pekaknya Pemerintah


BERITA sebuah media online Kamis (05/ 12) semalam melaporkan bahwa di Banyuwangi sebanyak 4000-an guru berdemo untuk memperjuangkan hak 600-an guru Pendidikan Agama yang sudah satu setengah tahun tidak menerima tunjangan profesinya. Pemerintah setempat belum mencairkan hak atas pengabdian para cikgu (guru) ini.

Di satu sisi berita itu menggambarkan betapa kompaknya para cikgu di kabupaten ini. Dengan wadah PGRI (Peersatuan Guru Republik Indonesia) yang mereka naungi, organisasi ini tegas menyebut bahwa demo yang mereka lakukan di depan gedung DPRD dan Kantor Kemenag itu adalah bentuk solidaritas mereka kepada sesama cikgu. Mereka tidak ingin menikmati sendiri uang sertifikasi sementara sahabat-sahabat lain dikebiri. Apapun alasan Pemerintah setempat, nyatanya para guru agama itu menderita batinnya karena menunggu yang tidak pasti.

"Kami PGRI Kabupaten Banyuwangi menyampaikan aspirasi dan dukungan untuk guru Agama yang tidak mendapatkan tunjangan sertifikasi mereka sejak tahun 2012 hingga tahun -2013 atau selama 18 bulan," ucap Husin Matamin, ketua PGRI setempat yang mengoordinir demo damai itu. ( http://www.tribunnews.com) . Tampak begitu jelas apa tuntutan organisasi dengan ribuan anggota itu.

Buat pembaca berita itu, hal yang menarik tentu saja bukan hanya kekompakan para guru yang dibina oleh dua lembaga (Dinas Pendidikan dan Kemenag Kabupaten) itu. PGRI memang tidak mengenal blog dan kasta. Tidak ada PGRI Kemdikbud (Dinas Pendidikan) dan atau PGRI Kemenag. PGRI hanya satu di republik ini. Dan pengurus di Banyuwangi membuktikan kalau mereka tidak hanya memperjuangkan guru di sekolah umum saja. Guru-guru di sekolah agam juga. Tapi yang juga menarik adalah, bagaimana bisa 18 bulan berturut-turut para guru itu tidak menerima hak-haknya. Baru saja kebijakan pemberian tunjangan profesi dimulai dan belum juga menjangkau semua guru di Tanah Air yang luas ini. Mengapa harus sudah ada kendala buat mereka? Apakah Pemerintah tidak peka (sensitif) selama hampir dua tahun itu?

Jika tidak peka, tentu saja masyarakat akan menuduhnya Pemerintah memang pekak alias budeg alias tuli. Mungkin kesalahan tidak pada pemerintah karena bisa saja tidak/ belum dibayar itu disebabkan oleh kesalahan di pihak guru sendiri. Biasanya, bisa disebabkan oleh kekurangan 24 jam mengajar minimal bagi guru yang sudah bersertifikat. Bisa juga disebabkan oleh jam pelajaran yang diampu tidak sesuai dengan kualifikasi sertifikat yang dimiliki. Dan mungkin masih banyak kemungkinan kesalahan di pihak guru. Tapi apakah kesalahan itu semata disebabkan kesalahan guru? Apakah memang karena guru tidak mau mengajar sehingga tidak layak dibayar?

Inilah sesungguhnya yang harus didengar dan duiperhatikan Pemerintah menyikapi demo itu. Kebijakan pemberian tunjangan  profesi adalah keniscayaan yang tidak dapat diganggu-gugat. Itu adalah perintah undang-udang. Maka Pemerintah tidak boleh pura-pura tidak mengerti dengan problema guru di lapangan. Guru pasti mau melaksanakan tugas dan bayarlah hak-hak itu. (Selamat menutup tahun 2013 dan akan menyongsong tahun lainnya, 2014)***
Seperti sudah dipublish di:  http://edukasi.kompasiana.com/2013/12/06/kompaknya-cikgu-pekaknya-pemerintah-614129.html

Senin, 02 Desember 2013

Disiplin Hanya Bisa dengan Hati, Bukan dengan Absensi

ADA banyak cara yang dipakai sekolah untuk membuat warganya berdisiplin seperti hadir tepat waktu. Melihat peserta didik masih banyak yang terlambat, terkadang sekolah menggunakan pendekatan tegas dengan menutup pintu pagar --misalnya--  pada jam yang sudah ditentukan. Tapi bagi sekolah yang belum atau tidak berpagar tentu saja cara ini tidak mungkin.


Persoalan kurang disiplin kehadiran di sekolah ternyata tidak selalu hanya monopoli peserta didik (siswa). Ternyata pendidik (guru) atau tenaga kependidikan (pegawai) juga ada yang tidak atau belum disiplin. Masih banyak yang sering suka datang terlambat dan pulang ke rumah lebih cepat. Tidak sesuai jadwal. Sedihnya, ketika mengisi daftar hadir (absesnsi) banyak pula para pendidik dan atau tenaga kependikan ini yang tidak jujur. Misalnya, datang terlambat tapi tetap diisi jam datangnya dengan waktu seolah-olah tepat waktu. Begitu pula ketika kembali pulang. Sudah nyata duluan ngacir pulang, tapi di daftar hadir tetap saja diisi jam sebagaimana mestinya alaias seolah-olah tidak terlambat.

Karena gagal, lalu sekolah membuat kebijakan baru dengan mengganti buku tanda tangan/ paraf daftar hadir dengan bentuk lain. Kini bukti tanda tangan datang dan pulang tidak lagi menggunakan buku absensi. Sudah diganti dengan penggunaan kartu absensi. Setiap guru wajib memasukkan kartu kehadirannya ke mesin absensi yang akan mencatat secara otomatis kapan seorang guru/ pegawai datang atau kembali pulang. Jadi, tidak lagi memakai tanda tangan atau paraf. Sudah disiplin? Ternyata belum juga.

Terbukti ada pula guru atau pegawai yang kartu identitas untuk bukti hadirnya tidak dimasukkan sendiri. Ada guru atau pegawai lain yang memabantunya untuk mencolokkan kartu itu ke mesin absensi. Begitu juga ketika akan pulang ke rumah. Bersekongkol dengan piket atau penjaga mesin absensi adalah penyebab utama kegagalan caqra ini. Guru atau pegawai yang curang tetap saja melakukan pelanggaran dengan datang terlambat atau kembali ke rumah lebih awal dari jam yang sudah ditentukan.

Lalu sekolah membuat gebrakan baru. Mesin absensi diganti dengan model 'cap jempol'. Artinya para guru/ pegawai tidak bisa lagi mewakilkan absensinya kepada guru atau pegawai lain. Cap jempol tidak bisa dikirim atau diwakilkan. Tapi apakah sudah akan disiplin? Belum tentu juga. Bagi guru atau pegawai yang memang tidak mau disiplin tetap saja cara absensi seperti ini tidak akan efektif. Dia akan tetap mencari celah untuk tidak berada di sekolah walaupun mungkin saja cap jempolnya sudah diisi.

Biasanya para guru/ pegawai yang curang ini akan tetap saja mencari jalan bagaimana untuk tidak berada di sekolah. Masih banyak alasan yang bisa dibuat: entah mengirimkan surat, mencari alasan-alasan dan banyak lainnya. Intinya memang tidak akan bisa disiplin walau dengan model absensi apapun.


Sesungguhnya disiplin itu ada di hati. Artinya absensi yang akan membuat seseorang itu berdisiplin atau tidak, sebenarnya akan ditentukan oleh hati masing-masing. Absensi itu sebenarnya memang hanya bisa dengan hati, bukan dengan absensi. Tidak ada pada kertas, kartu atau pada model cap jempol itu. Maka jika sekolah ingin warganya (siswa, guru dan pegawai) berdisiplin maka disiplinkanlah hatinya. Hanya hati masing-masinglah yang akan mampu mengatur diri masing-masing pula. Mengatur dan memimpin diri sendiri jauh lebih mudah dari pada memimpin orang lain. Ingin disiplin? Disiplinkanlah hati masing-masing. Sekolah tidak perlu membuat berbagai instrumen untuk memastikan kehadiran guru atau pegawai. Hatinyalah yang perlu dibersihkan agar mau melakukan yang baik dan benar. ***

Minggu, 01 Desember 2013

Ternyata Kalian Lebih Hebat

SAYA sudah tahu kalau para pendukung sekaligus pemain teater Akar Tamadun (sebelumnya bernaung di bawah Sanggar Nilam Sari) SMA Negeri 3 Karimun itu memang hebat. Sudah beberapa kali mereka tampil di depan penonton, khususnya siswa/ wi dan guru SMA Negeri 3 Kaarimun. Saya ingat setiap acara perpisahan kelas XII, para pemain teater ini senantiasa tampil untuk membawakan berbagai lakon. Mereka selalu sukses memerankan karakter tokoh yang mereka bawakan.


Malam Minggu (Sabtu malam, 30/ 11) lalu kembali mereka berakting di hadapan penonton yang cukup ramai. Kali ini untuk mengisi acara Festival Teater Bangsawan antar beberapa teater di dua provinsi, Kepulauan Riau (Kepri) dan Riau. Dari Kepri ikut berlomba beberapa teater dari Tanjungpinang dan Karimun. Sementara dari Riau ikut berlomba teater dari Pekanbaru dan Kabupaten Kampar.

Saya menyaksikan penampilan Akar Tamadun dengan seksama. Betapa anak- anak muda yang masih menuntut ilmu di SMA Negri 3 Karimun itu tampil sangat baik. Mereka mampu memukau penonton yang berjejal duduk di bawah tenda yang dipasang di samping kiri rumah bupati. Saya ingin mengatakan di sini, ternyata mereka jauh lebih hebat dari pada yang selama ini saya saksikan. Mungkin untuk tampil kali ini mereka benar-benar mempersiapkan diri dengan lebih baik lagi.

Sejak tampil pertama sesaat setelah layar coklat itu terbuka mereka langsung membuat decak kagum para penonton. Dengan menampilkan adegan gelombang laut, mereka menggoyang-goyangkan kain warna biru sebagai pengganti air laut di atas pentas. Sementara seorang deklamator membawakan puisi yang berisi tentang kisah seorang anak nelayan yang mempunyai cita-cita tinggi.

Beberapa kesan hebat yang dapat saya tangkap dari penampilan Akar Tamadun malam ini adalah berhasilnya mereka menyampaikan inti pesan dari kisah 'anak nelayan yang bercita-cita tinggi' walaupun kehidupannya sangat miskin. Ibunya sudah sakit-sakitan sementara ayahnya sudah tiada karena ditelan gelombang laut beberapa waktu lalu.

Kakaknya satu-satunya, seorang wanita berkali-kali mengingatkan dan menghalangi niat si anak nelayan untuk meninggalkan kampung nelayan. "Siapa lagi yang akan membela keluarga kita? Kemana lagi saya dan mak akan bergantung jika engkau pergi?" Kurang lebih seperti kakaknya mengingatkan. Tapi lelaki anak nelayan itu tetap teguh ingin merantau untuk menuntut ilmu. Dalam angannya, kelak dia akan hidup lebih sejahtera jika mau bersekolah lebih tinggi. Dan dia akhirnya tetap berangkat juga.

Setiap dialog yang disampaikan oleh para tokoh dalam kisah ini benar-benar menyentuh hati. Bahasa yang sopan dan santun kepada Mak dan Kakaknya; nasehat yang juga lemah-lembut dari seorang ibu kepada satu-satunya anak lelakinya itu, juga menjadi sesuatu yang menggugah penonton. Mereka benar-beanr berhasil membuat penonton tercenung menyimak jalan cerita yang mereka tampilkan secara teateriikal itu.
Anakku, ternyata kalian memang jauh lebih hebat dari pada yang kami (para guru) saksikan selama ini. Ayo, teruskan kiprahmu bersama teater Akar Tamadun, SMA Negeri 3 Karimun ini. Semoga kalian juga mampu menambah prestasi bidang kesenian sekolah kita ke depan nanti. Syabasy, anak-anakku!***
 
Copyright © 2016 koncopelangkin.com Shared By by NARNO, S.KOM 081372242221.