BREAKING NEWS

Kamis, 28 November 2013

Catatan Resepsi HUT PGRI Karimun: Kekompakan itu Indah

HANYA satu kata saja yang paling tepat untuk menyebut kesuksesan penyelenggaraan resepsi HGN (Hari Guru Nasional) 2013 dan HUT (Hari Ulang Tahun) PGRI (Persatuan Guru Republik Indonesia) ke-68 Kabupaten Karimun, hari Kamis (28/ 11) ini, yaitu kompak. Tidak akan mudah mendatangkan 4000-an guru/ pegawai sekolah (baca: anggota PGRI) yang berada di pulau-pulau nun jauh se-kabupaten berazam ini ke satu nan jauh di ujung Pulau Karimun. Khas kabupaten ini yang terdiri dari banyak pulau yang terpisah oleh laut yang cukup jauh jaraknya antara satu dengan lainnya, membuat usaha mengumpulkan guru secara keseluruhan sangatlah susah.

HUT PGRI Karimun tahun ini memang terasa istimewa. Jumlah anggota PGRI yang hadir begitu banyak. Kurang lebih 4000 (empat ribu) orang bukanlah jumlah yang sedikit. Artinya hampir semua guru datang ke tempat acara ini. Di satu pulau (Karimun) saja hanya ada kurang lebih 2000-an orang guru dan pegawai sekolah. Di Pulau Kundur, pulau yang juga termasuk besar, ada kurang lebih 1000-an guru dan pegawai pula. Di Pulau Moro, pulau ketiga yang termasuk pulau yang besar juga, ada kurang lebih 300-an orang. Dan di lain-lain pulau para guru bertebaran dengan jumlah yang lebih kecil. Bahkan ada di sebuah pulau yang hanya terdapat satu sekolah (SD) dengan guru lima orang saja. Sungguh berat mengumpulkan mereka jika tidak ada rasa kebersamaan dan kekompakan.

Tapi pada resepsi HUT PGRI kali ini, ternyata panitia mampu mendatangkan hampir semuanya. Acaranya dilaksanakan di Kecamatan Meral Barat (berada di Pulau Karimun paling ujung) dengan lokasi yang juga sangat jauh dari kota Tanjungbalai Karimun, Ibu Kota Kabupaten Karimun. Dari pelabuhan Karimun ke lokasi acara pun memerlukan waktu hampir setengah jam naik bus/ motor. Padahal dari tempat tinggal guru di pulau-pulau sana ke Pulau Karimun sudah memerlukan waktu antara satu- dua jam naik kapal laut. Belum lagi jarak sekolah ke pelabuhan di tempat tugas, biasanya juga sangat jauh.

Semua guru yang hadir pada acara resepsi hari ini mengatakan kalau acara tahun ini adalah acara yang paling sukses dan spektakuler berbanding acara yang sama pada tahun-tahun sebelumnya. Pertama karena jumlah peserta yang hadirnya sungguh-sungguh pantastis. Belum pernah terjadi sebelumnya. Penyebab kedua adalah hadiah doorprize umrohnya sungguh di luar dugaan. Tidak terbayangkan kalau jumlahnya bisa dua kali lipat berbanding tahun sebelumnya. Ini kehebatan tersendiri untuk tahun politik ini. Apakah ada kaitannya dengan Pemilu tahun depan? Entahlah.

Ketika tahun-tahun awal kebijakan memberikan hadiah umroh oleh Pengurus PGRI, jumlahnya baru untuk beberapa orang saja. Seingat saya, tiga tahun lalu masih di bawah sepuluh orang. Tahun berikutnya juga tidak seberapa. Tapi tahun lalu (2012) Pengurus PGRI Kabupaten bersama Pemda Karimun sanggup memberikan hadiah umroh gratis untuk 13 orang guru. Sungguh jumlah yang lumayan besar sekali untuk berangkat umroh.

Nah, ternyata pada tahun ini dari informasi awal yang akan berangkat hanya 12 orang, ternyata akhirnya berjumlah 24 orang. Bupati, Wakil Bupati, Sekda dan Ketua DPRD masing memberi lagi hadiah umroh. Makanya jumlahnya menjadi 24 orang. Wow, tahun ini para guru di Karimun insyaallah akan berangkat umroh sebanyak 24 orang tersebut. Hebatnya, yang bernasib baik untuk berangkat pada tahun ini kebanyakannya adalah guru-guru muda. Tentu saja ini sesuatu yang membanggakan.


Tapi yang jauh lebih layak untuk dicatat adalah begitu tampak kompaknya para guru dalam melaksanakan resepsi ini. Para panitia yang kebetulan dipercayakan kepada Pengurus Cabang PGRI Kecamatan Meral, sungguh menunjukkan kekompakan yang utuh sejak persiapan hingga pelaksanaan. Dari beberapa kali rapat persiapan, panitia tampak sekali kekompakannya. Pengurus Daerah juga selalu ikut dalam rapat-rapat itu. Itu juga menambah kekompakan sesama panitia. 

Lalu ketika mempersiapkan tempat (memasang tenda, pentas, dekorasi, dll) semua dikerjakan secara bersama-sama. Semua bersedia untuk bertungkus-lumus (bersusah-payah) demi suksesnya acara. Sampailah ke hari H-nya, semuanya menunjukkan kerjasama yang hebat sehingga acaranya berjalan dengan lancar dan sukses. Ah, begitu indahnya kekompakan ini. Sebagai Ketua Panitia, saya merasa puas dengan partisipasi aktif semua anggota, terutama para panitia dalam menyukseskan resepsi ini. Kehadiran Bupati, Wakil Bupati, Sekda sekaligus bersama FKPD membuat kekompakan antara PGRI dengan Pemerintah Daerah juga tampak. Terima kasih teman semua!***

Rabu, 27 November 2013

Belajarlah di Rumah, Anakku

HARI Kamis (28/ 11) ini adalah hari penting bagi para anggota PGRI (Persatuan Guru Republik Indonesia) Kabupaten Karimun. Walaupun tanggal itu bukanlah hari lahirnya PGRI namun puncak peringatan HGN (Hari Guru Nasional) Tahun 2013 dan HUT (Hari Ulang Tahun) PGRI ke-68 Kabupaten Karimun ditetapkan pada hari ini. Inilah hari yang ditunggu-tunggu anggota PGRI Karimun.

Ditunggu-tunggu? Dari beberapa rangkaian acara dalam memperingati dan memeriahkan HGN dan HUT PGRI Kabupaten Karimun di 'tahun politik' ini, acara reespsi adalah yang paling ditunggu-tunggu, termasuk oleh undangan yang kebetulan mendapatkan kupon. Sesungguhnya sebelum acara puncak ini, sudah dilaksanakan beberapa kegiatan seperti, 1) pertandingan olahraga (tenis meja, bola voly, catur); 2) kegiatan gotong-royong (bakti sosial); 3) melaksanakan seminar pendidikan dan 4) gerak jalan sehat. Semuanya sudah dilaksanakan sebelumnya dalam selang waktu satu bulan lalu. Dan hari ini adalah puncak dari sekian kegiatan tersebut.

Pada acara resepsi tahun ini disepakati semua anggota PGRI se-Kabupaten Karimun diundang untuk datang. Kurang lebih 4000-an guru dan pegawai yang menjadi anggota PGRI akan hadir bersama para undangan lainnya di lapangan sepakbola Desa Pangke, Kecamatan Meral Barat, Karimun. Dengan begitu artinya sekolah tidak akan melaksanakan proses pembelajaran di sekolah satu hari ini. Para siswa diminta istirahat ke sekolah dan belajar di rumah saja. "Belajarlah di rumah saja," begitu pesan setiap Kepala Sekolah ketika menyampaikan kebijakan Dinas Pendidikan itu kepada para peserta didik di sekolah masing-masing.

Daya tarik acara resepsi yang setiap tahun dilaksanakan adalah door prize istimewa buat anggota PGRI yang beruntung dalam acara respsi itu. Istimewa? Ya, belasan anggota PGRI yang beruntung diberangkatkan umroh ke Tanah Suci oleh Pemda Karimun. Ada juga sumbangan perorangan. Tahun lalu sebanyak 13 orang anggota PGRI bernasib baik dan dapat menunaikan kewajiban sekali seumur hidup bagi muslim itu setelah kupon door prizenya keluar sebagai pemenang.

Panitia memberikan kupon berhadiah kepada setiap undangan dalam acara resepsi. Tradisi ini sudah berlangsung beberapa tahun belakangan ini. Pengurus PGRI ingin memberi 'penghargaan; setahun sekali kepada anggotanya. Setiap resepsi diberikan kupon. Kupon-kupon itu dicabut di akhir acara resepsi dengan hadiah yang beraneka ragam. Ada kulkas, televisi, hendphone, dan banyak lagi. Dan salah satu hadiah yang sangat ditunggu adalah hadiah umroh gratis itu. Inilah daya tarik dari acara resepsi setiap tahunnya.

Karena tahun ini dianggap tahun penting menjelang berlangsungnya Pemilu tahun depan, maka panitia melaksanakan HUT PGRI secara besar-besaran. Semua guru dan semua pegawai sekolah diundang untuk hadir. Sekali lagi anak-anak diminta untuk ikut berkurban demi guru. Setahun sekali guru memang layak dihormati oleh para muridnya. Maka untuk penghormatan itu, anak-anak diminta untuk belajar di rumah saja karena para guru akan hadir di acara ini. Belajarlah di rumah, anakku!***


Minggu, 24 November 2013

Jangan (Lagi) Korbankan Siswa

SENIN (25/ 11) ini dilaksanakan Apel Bendera memperingati HUT (Hari Ulang Tahun) PGRI (Persatuan Guru Republik Indonesia) ke-68 yang disejalankan dengan peringatan Hari Guru Nasional (HGN) 2013. Peristiwa bersejarah 68 tahun lalu yang mengukuhkan lahirnya organisasi secara Nasional yang mengikat semua guru di Tanah Air itu sangat penting bagi insan pendidik.

Di semua daerah --termasuk di Karimun-- peringatan Hari Guru selalu meriah dan dilaksanakan dengan berbagai acara. Pada tahun ini misalnya, PGRI Kabupaten Karimun melaksanakan banyak agenda kegiatan dalam rangka memperingati dan memeriahkan hari bersejarah guru itu. Diawali dengan pertandingan olahraga (volly, catur, tenis meja) antar PC (Pengurus Cabang) se-Kabupaten Karimun sebulan lalu yang selanjutnya dilaksanakan pula kegiatan bakti sosial beberapa pekan berikutnya.

Di Pulau Karimun (terdiri dari tiga PC), masih ada satu agenda yang sangat meriah karena melibatkan semua siswa dan guru/ pegawai se-Pulau Karimun ini. Kegiatan itu adalah Gerak Jalan Sehat yang dilaksanakan pada hari Sabtu (23/ 11) lalu. Karena diikuti oleh seluruh siswa (dari TK s.d. SLA) dan para guru serta pegawai maka proses pembelajaran pada hari itu dialihkan ke lokasi gerak jalan: Costal Area. Dengan bahasa lain, sekolah diliburkan dan siswa tidak mengikuti pembelajaran sebagaimana biasanya. Suka tidak suka, siswa harus dikorbankan.

Pada 28 November nanti juga akan diadakan acara Resepsi HUT PGRI di Lapangan Sepakbola Pangke. Direncanakan pada waktu itu juga akan diikuti oleh seluruh guru se-Kabupaten Karimun (termasuk yang di Pulau Kundur, Moro, dan pulau-pulau lain) yang ada sekolahnya. Dan sekali lagi, proses pembelajaran tidak akan dapat dilaksanakan di sekolah sebagaimana biasa karena guru sudah pergi. Artinya siswa akan libur lagi.

Maka untuk apel Senin ini, haruslah diperhatikan oleh sekolah dengan baik. Jangan lagi siswa dikorbankan untuk tidak belajar. Peserta apel hari ini hanya perwakilan dari para guru saja. Jadi, tidak semua guru diikutkan. Maka sekolah yang siswa dan gurunya masih di sekolah, jangan sekali-kali mencari helah untuk tidak belajar. Kepala Sekolah harus memastikan kalau proses pembelajaran tetap berjalan sebagaimana mestinya.

Mengapa ini harus diulas? Ternyata masih ada beberapa guru yang berharap agar hari Apel Bendera ini tidak usah belajar. Para pendidik ini beralasan, ini adalah tanggal sakral bagi PGRI. Hari inilah sebenarnya PGRI itu lahir. Jadi, harus dimuliakan. Alasan yang masuk akal. Tapi harus diingat bahwa hari ini tidak termasuk libur Nasional. Jadi, tidak perlu juga sekolah ditutup.

Lagi pula, beberapa hari lain tadi itu sudah sengaja disiapkan untuk memperingati dan memeriahkan Hari PGRI dan HGN itu. Sudah cukuplah itu sebagai bukti kita membesarkan PGRI. Jangan lagi dikorbankan anak-anak kita di hari lain. Satu hal yang harus diingat bahwa memberikan pelayanan yang benar kepada peserta didik, itulah cara yang tepat membuktikan kita cita dengan PGRI. Jika guru sukses dalam pembelajaran maka PGRI akan sukses juga di mata masyarakat. Dirgahayu PGRI! Jayalah PGRI!***

Sabtu, 23 November 2013

Demi PGRI Belajar di Costal Area

HUT (Hari Ulang Tahun) PGRI (Persatuan Guru Republik Indonesia) ke-68 dan HGN (Hari Guru Nasional) Tahun 2013 ini di PGRI Kabupaten Karimun diperingati dengan berbagai agenda kegiatan. Menyongsong Pemilu 2014 nanti maka peringatan hari bersejarah guru tahun ini pun sengaja dibuat lebih meriah dari pada tahun-tahun sebelumnya. Unjuk kekuatan. Kira-kira begitu.


Jika pada tahun-tahun lalu puncak peringatan (resepsi) misalnya hanya diikuti oleh perwakilan guru saja maka pada tahun ini diharapkan semua guru (pendidik) dan tenaga kependidikan ikut berhimpun pepat. Dulu, jika resepsi dilaksanakan di Pulau Kundur maka hanya anggota PGRI di Pulau Kundur saja yang diikutkan secara keseluruhan. Sementara dari pulau-pulau lain (Karimun, Moro, dll) boleh perwakilan saja. Begitu juga sebaliknya.

Pada tahun ini resepsi nanti (28 November 2013) akan dilaksanakan di Desa Pangke, Meral dengan target 4000-an guru plus anggota PGRI lainnya di Kabupaten Karimun hadir. Dan Dinas Pendidikan sudah memberi izin kepada PGRI untuk menghadirkan semua guru se-Kabupaten Karimun di Pangke nanti. Tidak ada sekolah yang dibuka untuk pembelajaran. Semuanya diharapkan datang ke acara resepsi. Pembelajaran dialihkan ke lokasi resepsi.

Tidak hanya untuk resepsi. Acara Gerak Jalan Sehat yang akan dilaksanakan pada Sabtu (23/ 11) ini pun akan dimeriahkan oleh semua guru dan siswa se-Pulau Karimun. Pagi ini, semua guru, pegawai sekolah beserta para siswa (peserta didik)-nya akan berkumpul di Costal Area untuk melaksanakan salah agenda HUT PGRI ini. Jadi, nanti sekolah juga akan diliburkan. "Proses Pembelajaran dipindahkan ke Costal Area," begitu istilah yang disampaikan ke sekolah melalui pemberitahuan resmi.

Untuk itu, demi PGRI mari dimeriahkan kegiatan ini dan demi PGRI pula para guru/ pegawai dan siswa akan melakukan proses pembelajarannya di lokasi wisata itu. Kegiatan jalan sehat ini juga mengandung nilai-nilai pendidikan dan pengajaran. Sikap disiplin, tertib, bersih dan taat aturan akan dibuktikan di sini. Kegiatan ini tidak akan sia-sia jika diikuti dengan baik dan penuh tanggung jawab. Selamat HUT PGRI, semoga maju jaya.***

Selasa, 19 November 2013

Catatan dari Seminar Pendidikan: Jangan Sekadar Angan-angan

ENAM orang narasumber untuk satu hari. Seminar Pendidikan bertajuk "Persiapan SDM Pendidikan dalam Memasuki Asean Communitu 2015" yang dilaksanakan di Karimun, di satu sisi terasa begitu 'wah' tapi di sini lain seminar ini tidak terlalu efektif. Terasa 'wah' karena seminar sehari itu menampilkan sampai enam orang pakar untuk membahas satu topik sementara waktu yang tersedia amat terbatas.

Seminar yang dilaksanakan Dinas Pendidikan Kabupaten Karimun dan disejalankan dengan agenda acara HUT PGRI ke-68 dan HGN Tahun 2013 Karimun, diikuti oleh para Kepala Sekolah --dari TK s.d. SLTA-- se-Kabupaten Karimun. Dari seminar ini diharapkan lahir pikiran, bagaimana mempersiapkan Sumber Daya Manusia Karimun khususnya, Indonesia umumnya dalam rangka persiapan memasuki Asean Community yang akan diwujudkan pada tahun 2015 nanti. Hanya tinggal satu tahun (2014) saja lagi, negara Asia Tenggara ini akan menyatu dalam berbagai hal.

Para pakar yang diundang dan menjadi panelis dalam seminar ini adalah 1) Dr. Ir. Bima Haria Wibisana, MSIS, PhD (Wakil Kepala Badan Kepegawaian Negara); 2) Dr. Ing. Ir.Yul Yunazwin Nazaruddin, M. Se, DIC (Kepala Pusat Data dan Statistik Pendidikan, Kemdikbud RI) yang diisi/ digantikan oleh L. Manik Mustikohendro (Kepala Bidang Satuan Pendidikan dan Proses Pembelajaran, Pusat Data dan Statistik Pendidikan, Kemdikbud RI); 3) Drs. Kusnar Budi Handaka, M. Bus (Ketua Prodi Adnimistrasi Keuangan dan Perbankan- Program Vokasi, UI); dan 4) H. Darwis Beddu, MA, Ph D (Direktur Lembaga Kajian Otonomi dan Demokrasi, Makassar).

Selain empat ahli dari Pusat itu ada dua lagi dari Daerah, 1) Drs. H. Yatim Mustafa, MPd (Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Kepri) dan 2) Dr. H. Nurdin Basirun (Bupati Karimun). Keenam narasumber ini diset untuk dua sesi (pagi dan siang) dalam membahas topik besar di atas. Sungguh besar seminar ini, seharusnya. Tapi waktu yang pendek membuat kesempatan membahasnya menjadi tidak efektif dan malah terasa dangkal.

Acara seremoni pembukaan baru dimulai pukul 09.30 walaupun persiapan sudah dimulai sejak pagi, pukul 08.00 WIB itu. Dari registrasi peserta yang 300-an sampai kepada menunggu para pejabat undangan, membuat acara dibuka agak terlambat. Prosesi pembukaan berlangsung kurang lebih satu jam. Ditambah paparan bupati sebagai pembuka seminar, akhirnya waktu tersisa menjelang istirahat siang semakin sedikit. Pak Bima dan Pak L. Manik yang tampil di sesi pertama tidak terlalu leluasa menggunakan waktu untuk memaparkan materinya. Peserta pun hanya tiga orang yang sempat bertanya.

Di sesi siang (setelah istirahat makan dan solat) kembali seminar dilanjutkan dengan menampilkan tiga orang lainnya. Waktu yang sebenarnya masih tersedia setelah pemaparan materi oleh tiga orang narasumber ternyata malah tidak dimanfaatkan oleh para peserta untuk bertanya. Ini dapat dipahami mengingat waktu-waktu seperti itu sudah tidak efektif lagi untuk berpikir. Kata salah seorang narasumber, "Kalau selesai makan siang, sebenarnya enaknya tidur," sambil bergurau. Mungkin benar juga ucapannya itu. Karena terbukti tidak ada lagi yang bersemangat untuk bertanya. Boleh jadi, masing-masing sudah ingin kembali ke rumah.

Catatan tersisa ini ingin menegaskan bahwa jumlah pemrasaran yang berlebihan dengan konsekuensi biaya yang lumayan besar dalam sebuah seminar yang singkat, ternyata tidak terlalu efektif untuk mewujudkan harapan yang cukup besar ini. Pertanyaan-pertanyaan seperti, bagaimana Indonesia --Karimun khususnya-- menghadapi dan bersiap diri dari serbuan negara lain di Asia Tenggara (bahkan dunia) setelah berlakunya Asean Community nanti; sudahkah bangsa ini siap sedia memasuki pasar 9 negara Asiang Tenggara lainnya itu pasca berlakunya Comunitas Asean itu nanti? Dan masih banyak pertanyaan lagi.

Pertnayaan-pertanyaan itu belumlah terjawab dalam waktu pembahasan yang sangat pendek itu. Belum lagi bagaimana startegi menghadapi dunia yang semakin mengglobal? Bagi para Kepala Sekolah yang hadir, tentu saja pemikiran tentang perlunya mempersiapkana SDM yang berkualitas itu menjadi tugas yang sangat berat. Bagaimnanapun memang wajib dihadapi dan bersiap diri. Mampukah kita? Harus dicoba dan diusahakan. Tentu saja tidak bisa dengan berpikiran pesisimis. Sikap optimis, seberat apapun ke depannya, tentu tetap harus dilakukan. Jika tidak, dia akan menjadi sekedar angan-angan.***

Sabtu, 16 November 2013

Gerakan Pramuka adalah Gerakan Perubahan Karakter

KAMIS malam (14/ 11/ 13) lalu saya ditugaskan oleh Ketua Kwartir Cabang Gerakan Pramuka Karimun melalui Ketua Harian, Kak Arif Fadillah untuk menutup Kursus Mahir Tingkat Dasar Gerakan Pramuka Karimun yang diadakan di Moro. Pada saat itu, sesungguhnya saya tengah mengikuti "Sosialisasi dan Identifikasi Infrastuktur Pengendalian Internal Pemerintah Di Lingkungan Dinas Pendidikan" yang diadakan di Wisma Karimun, Tanjungbalai Karimun. Sebagai sebuah kepercayaan, saya berangkat ke Moro dengan minta izin di acara sosialisasi itu.

Dalam sambuatan dan pengarahan penutupan itu, setelah menyampaikan salam Ketua Umum (Kak Rafiq), Ketua Harian (Kak Arif) dan para Wakil Ketua yang lain, saya sedikit memberikan pesan kepada para peserta kursus tentang hakikat berkegiatan kepramukaan. Saya percaya kalau semua kakak-kakak yang ikut --sebanyak 50 orang peserta-- itu sudah mengerti apa dan bagaimana tujuan dari setiap keikutsertaan dalam gerakam pramuka.

Satu hal yang kembali saya ingatkan adalah bahwa gerakan kepramukaan itu bertujuan juga untuk mengadakan perubahan karakter dari anggotanya. Perubahan di sini tentu saja maksudnya jika karakter itu perlu perubahan demi perbaikan ke depan. Bukankah setiap orang selalu mempunyai permasalahan. Dan permasalahan yang menyulitkan adalah jika seseorang itu memiliki karakter yang tidak baik. Beberapa karakter yang tidak baik misalnya pemalas, tidak bersemangat, tidak jujur, tidak menghargai pendapat dan pandangan orang lain.

Seorang anggota pramuka yang pemalas dalam kesehariannya tentu saja akan membuat dia selalu dibelit masalah dalam kehidupan. Malas bekerja, malas ke sekolah, malas ke tempat kerja dan malas-malas lainnya. Itu jelas akan membuat aktivitas yang direncanakan akan tertunda atau terabaikan begitu saja.

Maka gerakan pramuka hendaknya mampu mengubah karakter jelek itu. Dengan latihan selama satu pekan diharapkan nilai-nilai kepramukaan yang selama (sebelum) latihan sudah dilaksanakan, diharapkan ke depannya semakin dimaksimalkan. Perubahan yang diharapkan bukan hanya karena latihan yang sepekan itu saja tapi karena gerakan pramuka secara keseluruhan. Semoga!***

Selasa, 12 November 2013

Catatan dari Sosialisasi K-13: Tunaikanlah Janji

KETIKA Pak Zulkifli mengatakan bahwa yang dimaksud dengan Kurikulum adalah 'janji guru kepada siswa' maka kami para peserta Sosialisasi Persiapan Implementasi Kurikulum 2013 di Wisma Karimun sedikit terkejut dan heran. Kurikulum adalah janji guru kepada siswa?

Tapi setelah Pak Zulkifli yang bernama lengkap Zulkifli Anas, M Ed itu menjelaskan dengan baik, barulah kami memahaminya. Katanya, jika kita membaca setiap kompetensi yang ada dalam Kurikulum maka kita akan menemukan bahwa pada hakikatnya kurikulum itu adalah janji guru kepada peserta didik. Bacalah misalnya salah satu kompetensi yang menyebutkan bahwa 'pesrta didik mampu memahami dan mengamalkan ajaran agama' misalnya, maka itu artinya sekolah (baca: guru) sudah berjanji akan membuat pesrta didiknya untuk mampu memahami dan mengamalkan ajaran agamanya setelah mengikuti pembelajaran.

Jika guru tidak mampu membuat anak-didik untuk memahami dan mengamalkan ajaran agamanya maka itu berarti kurikulum itu belum terjalan dengan benar. Tidak ada tuntutan lain kepada guru selain membuat peserta didik berkompeten sebagaimana tuntutan yang dinyatakan dalam kurikulum.

Demikianlah Kurikulum 2013 (K13) yang sejak dua hari lalu kembali disosialisasikan kepada para Kepala Sekolah dan beberapa guru sebagai perwakilan setiap sekjolah (SMA/ MA/ SMK) se-Kabupaten Karimun. Diharapkan pada tahun 2014 nanti, pada saat Kabupaten Karimun secara resmi melaksanakan K13 itu, tidak ada ganjalan bagi guru dan Kepala Sekolah.

Maka tunaikanlah janji. Begitu kurang lebih penjelasan Pak Zulkifli kepada peserta sosialisasi K13 jika para guru benar-benar ingin mengimplementasikan K13 di sekolah. Tidak ada jalan lain bagi sekolah selain bertekad untuk membuktikan tuntutan itu. Jika selalu dikatakan bahwa untuk kesuksesan implementasi K13 sangat ditentukan oleh pola pikir guru, itu artinya juga sebagai peringatan bahwa inti kurikulum itu pada dasarnya adalah kesediaan guru untuk menunaikan janjinya. Maka marilah ditunaikan janji itu agar K13 ini sukses dan berhasil dalam implementasinya. Semoga!***

Minggu, 10 November 2013

Mampukah Pengalaman Studi Banding Diterapkan?

SETELAH mengunjungi dua SMA unggul di Jogjakarta, terasa ada yang mengkhawatirkan. Tujuan studi banding para Kepala Sekolah SMA/ MA se-Kabupaten Karimun untuk mempelajari bagaimana pengelolaan sekolah di sekolah-sekolah yang sudah maju, kini justeru membuat rasa takut. Bisakah pengalaman dua sekolah itu diterapkan di sekolah kita?

Pertanyaan itu muncul setelah secara langsung para Kepala Sekolah yang tergabung dalam MKKS SMA/ MA se-Kabupaten Karimun datang berkunjung ke SMA Negeri 2 dan SMA Muhammadiyah 1 Jogjakarta. Dua sekolah di Ibu Kota DIY itu adalah sekolah unggulan yang dulunya melaksanakan program SBI.

Ternyata kemajuan-kemajuan yang diraih oleh dua sekolah itu sangat erat kaitannya dengan ketersediaan dana dalam usaha pengelolaan sekolah. Khusus untuk program pengembangan sekolah, kedua sekolah ini mempunyai dana yang sangat besar yang disupport oleh orang tua siswa. Walaupun salah satu sekolah itu adalah sekolah negeri (Pemerintah) namun ternyata pembiayaan oleh orang tua sangatlah besar.

Di SMA Negeri 2 Jogjakarta, selama ini mendapat support dana dari setiap siswa. Mulai dari dana investasi yang dibayar sekali dalam setiap tiga tahun sampai ke iyuran SPP yang sangat besar. Tidak kurang 200-an ribu rupian per siswa per bulan yang dimanfaatkan sekolah untuk usaha peningkatan mutu sekolah. Sementara di SMA Muhammadiyah 1 malah jauh lebih besar lagi. Mungkin karena sekolah ini adalah sekolah swasta yang hampir 100 persen dana operasionalnya disumbangkan oleh orang tua siswa. Rata-rata 1 juta rupiah (bahkan lebih) setiap siswa membayar setiap bulannya.

Lalu bagaimana dengan sekolah di Karimun yang cenderung orang tua siswanya ingin gratis. Bahkan sejak dikjucurkannya dana BOS ke setiap sekolah SLTA sejak enam bulan lalu, para orang tua menuntut untuk digratiskan biaya sekolah anak-anaknya.  Susahnya, pihak Dinas Pendidikan pun ikut menyokong sikap orang tua yang ingin gratis ini. Beberapa sekolah yang masih menerima sumbangan rutin bulanan dari orang tua siswa, malah cenderung dipersoalkan oleh Dinas Pendidikan.

Lalu bagaimana sekolah akan mencontoh sekolah-sekolah yang dijadikan sasaran studi banding itu jika tidak ada support dana dari orang tua? Di pihak lain, Pemerintah tidak juga memberikan dana yang cukup dalam usaha pengembangan sekolah. Akankah studi banding itu menjadi sia-sia? Entahlah!***

Sabtu, 09 November 2013

Borobudur, Indahnya Janganlah Terganggu

KEKAGUMAN yang selama ini ada di hayalan, hari ini, Jumat (8/ 11) dapat saya buktikan. Hari ketiga perjalanan Karimun- Malang- Jogya ini kami sampai ke Candi Borobudur. Setelah memakai kain batik, khas pengunjung yang akan naik ke situs bersejarah itu, saya dan teman-teman akhirnya sampai ke puncaknya. Tinggal stupa terakhir yang tidak kami naiki. Itupun karena ada larangannya.

Sangat mengagumkan. Pemandangan ke penjuru manapun dari puncak candi itu sungguh menyenangkan dan mengagumkan. Gunung-gunung disapu kabut pagi membuat perasaan lega menatapnya. Puluhan turis dari mancanegara sudah memenuhi puncak candi sepagi itu. Saat itu baru pukul 08.30 WIB.

Buat yang sudah berulang-ulang ke sana, tentu saja tidak ada yang baru di situ. Dari dulu hingga kini Borobodur tetap seperti itu. Tapi buat saya pribadi --beberapa teman rombongan juga ada yang datang untuk kedua kali-- ini adalah catatan penting dalam sejarah hidup saya. Di usia yang sudah tidak muda, saya memang terlambat berkesempatan hadir di sini.

Pagi inilah saya melihat secara langsung tentang banyaknya arca patung itu yang sudah tidak berkepala lagi. Selama ini saya membaca di berita tentang ulah tangan jahil yang mencuri kepala patung-patung itu. Menjadi pertanyaan memang, mengapa kepala patung-patung yang sama sekali tidak mengganggu itu harus diganggu. Mengapa harus dibuang atau dipindah ke tempat lain?

Sangat jahat pencuri itu, jika tujuannya memang untuk mencuri. Menurut informasi informasi, konon kepala-kepala patung itu memang sengaja dicuri oleh orang-orang tertentu. Lalu dijual dan disimpan oleh orang yang tidak berhak untuk itu.

Selain banyak patung yang tidak berkepala lagi, saya juga baru untuk pertama kali membaca tulisan yang berbunyi begini, 'c. 1000 tahun lalu' yang menjelaskan tentang gambar prasejarah, Lukisan Perahu Prasejarah di Gua Kabori, Muna, Sulawesi Tenggara di salah satu ruang musium di kompleks Borobudur. Tulisan itu sama sekali tidak menyebut 1000 tahun sejak kapan? Apakah sejak sebelum masehi atau sejak kapan?

Kalau tahun sekarang kita membacanya, tentu saja maknanya adalah tahun 1013 lalu dibuatnya lukisan itu. Tapi jika nanti dibaca pada tahun 2000 atau tahun 3000? Tentu saja tulisan penting itu sangat menyesatkan. Perlu diperbaiki oleh pengelola musium agar  dia tidak menyesatkan.

Setelah berkeliling di seputaran area Borobudur, menjelang keluar saya juga melihat penjual dagangan asesori dan berbagai cindra mata khas Borobudur dan Jogya umumnya. Tapi yang mengganggu adalah masih ada para pedagang yang menjajakan dagangannya secara tidak teratur di taman-taman itu. Padahal di area menjelang keluar sudah ada kedai-keidai khusus. Lalu mengapa ada lagi yang berjualan di sembarang tempat? Itu jelas tidak membuat indah area Borobudur. Apakah mereka itu dibolehkan berjualan secara liar begitu? Entahlah. Tapi menurut keterangan pengelola trevel yang membawa rombongan kami, itu disebabkan warung-warung yang ada itu tidak mencukupi dan sewanya juga mahal. Saya tidak tahu.


Yang pasti, keindahan Borobudur yang sangat tersohor ke seluruh dunia itu diharapkan tidak ada yang membonceng untuk mengurangi kenikmatan para pengunjungnya. Sebagai warga negara, tentu saja semua kita harus merasa ikut untuk memelihara dan merawatnya. Bukan hanya pengelola saja.***

Jumat, 08 November 2013

Kopdaran Kilat di Juanda Surabaya

PERTEMUAN yang saya harapkan itu terjadi juga. Padahal saya tidak yakin akan bias berjumpa dengannya. Maklum saja, persahabatan selama ini hanya terjadi dan terjalin di dunia maya. Namanya Etna Sufiati. Saya menyapanya Bu Etna di dunia maya.

Perkenalan dan persahabatan saya dengan Bu Etna bermul a dari hobi kami yang sama: suka menulis di media online seperti blog. Baik di blog pribadi maupun di blog ‘kroyokan’ yang dikelola oleh lembaga tertentu. Terutama di blog Guraru, sebuah blog yang dikelola oleh para guru saya dan Bu Etna sering berkomunikasi melalui saling member komentar terhadap tulisan masing-masing atau tulisan teman-teman lain yang ditayangkan.

Sebegitu kian akrabnya hubungan persahabatan dunia maya kami, maka ketika saya dan beberapa rekan seprofesi  berencana mengadakan perjalanan kunjungan ke Surabaya, Malang dan Jogyakarta, saya teringat Bu Etna yang di blognya saya tahu dia bertempat tinggal di Surabaya. Tempat mengabdinya di SMA Negeri 16 Surabaya.

Malam (Selasa, 05/ 11) menjelang keberangkatan ke Surabaya saya mencoba berkomunikiasi dengan Ibu Guru Kimia ini. Melalui email dan SMS saya mengatakan kalau besok –Rabu, 06/ 11/ 13) saya dan rekan-rekan lain akan ke Surabaya. Saya sampaikan kalau saya ingin sekali berjumpa. Walaupun saya tidak terlalu yakin akan bias, namun saya tetap berharap dan berdoa.

Alhamdulillah, ternyata Allah benar-benar mengabulkan harapan saya. Bu Etna ternyata menyempatkan untuk datang ke Bandara Juanda, menunggu kedatangan saya. Ketika pukul 14.05 pesawat Citilink yang saya tumpangi mendarat di Bandara Juanda Surabaya dan saya kembali menmgaktifkan HP saya, ternyata sudah ada SMS-nya yang mengatakan kalau dia pukul 13.30 sudah bergerak ke Bandara. Tentu saya sangat bergembira. Saya telpon langsung dan ternyata dia memang sudah berada di pintu keluar, terminal Bandara Juanda.

Benar-benar kejutan buat saya. Kami belum pernah bertemu sebelumnya. Komunikasi lewat tulisan dan telpon beberapa saat sebelumnya, rasanya belum cukup membuat kami saling tahu. Dia menjelaskan ciri baju dan tempat duduknya saat menunggu saya. Saya pun menjelaskan warna baju dan jacket saya. Dan akhirnya kami benar-benar bertemu. Kopdaran singkat itu benar-benar terjadi.

Sayang dan sedihnya memang karena pertemuan itu hanya beberapa saat saja. Saya tidak berbicara dan ngobrol agak lama karena saya memang mengikuti rombongan besar perjalanan itu. Setelah berbicara tentang diri masing-masing kami pun berpisah. Bu Etna kembali ke rumahnya yang entah di mana sementara saya hars ikut bersama rombongan sesuai jadwal perjalanan. Bus Pariwisata yang sudah kami  carter pun sudah lama menunggu di jalan halaman terminal.


Terima kasih Bu Etna, sudah berkenan menunggu saya di ruang tunggu itu. Walaupun komunikasi kita berlanjut hanya di SMS saja namun rasanya kopdaran singkat ini begitu penting buat saya. Saya merasa hubungan persahabatan kita akan semakin kuat ke depannya. Hobi kita yang sama pasti akan menambah semangat kita untuk meneruskannya. Itu pasti. Selamat berjuang,  Bu Etna. Semoga suatu saat nanti kita bias berjumpa lagi, amiin.***

Selasa, 05 November 2013

Surat Terbuka di Tahun Hijriyah: Polisi Bersih Semoga Bukan Mimpi

TIDAK berlebihan harapan akan lahirnya polisi bersih setelah Komjen Sutarman resmi memegang tongkat komando Polri. Polemik layak-tidaknya mantan Kabareskrim itu menerajui Kepolisian RI sudah berlalui. Suka atau tidak suka, Presiden SBY sudah melantiknya pada sore Jumat (25/ 10) lalu. Setelah melewati uji kelayakan dan kepatutan di DPR presiden memang tampak senang dengan pengajuan satu nama calon Kapolri itu.

Setelah sepekan lebih resmi menjadi orang nomor satu di Polri, rakyat tentu saja kian tidak sabar menanti gebrakan Sutarman. Janji manis di awal pencalonannya untuk menciptakan polisi 'bersih' layak dinanti. Walaupun di awal-awal juga ramai yang meragukan komitmen Sutarman untuk membuat polisi lebih dihargai tapi sesumbarnya di depan Dewan Terhormat, DPR-RI untuk mengubah imej polisi kotor menjadi polisi bersih kini harus kita tagih.

Di berbagai media kembali diingatkan bahwa begitu banyaknya kasus-kasus pelanggaran hukum yang mandeg selama Sutarman menjadi penerajui Bareskrim. Di sebuah media online kembali dirilis 25 kasus korupsi yang sudah lama ada tapi tidak dianggap apa-apa. Sutarman seolah-olah membiarkan saja. Sebutlah misalnya, kasus Aipda Labora Sitorus (kasus aliran dana dari seorang bintara polisi di Papua kepada beberapa pejabat Polri) yang masih hangat di telinga masyarakat. Kasus itu adalah kasus di tahun ini.

Jika dirunut ke belakang  sebutlah  kasus korupsi serifikat tanah Depo BBM Pertamina (Oktober 2012), kasus kasus korupsi Pelat Nomor Kendaraan Bermotor (2012, kasus Rekening Gayus Tambunan (2010), kasus Dugaan kasus korupsi alat kesehatan atau pengadaan barang di Kemenkes dan Kemendikbud tahun 2009 dan 2010, kasus Pembelian saham perusahaan PT Elnusa di PT infomedia (2009), kasusPengelolaan dana PNBP (Penerimaan Negara Bukan Pajak).  dan banyak lagi. Berita yang dirilis http://www.voa-islam.com misalnya mengurutkan kasus dari tahun 2002 (kasus Jamsostek) hingga ke kasus Labora itu tadi.

Bagaiamana Bapak menyikapi tunggakan kasus yang seolah-olah terbiar itu? Inilah sejatinya yang mesti menjadi awal gerakan yang mesti dikejar. Kami sangat mengharapkan, kalau perlu selesaikan semua kasus korupsi yang melibatkan anggota Bapak terlebih dahulu. Pesan orang-orang bijak, kalau ingin membersihkan orang lain ya bersihkan terlebih dahulu diri sendiri. Nah, di awal tahun baru hijriyah ini alangkah baiknya Bapak bersih-bersih ke dalam. Lagi pula Bapak kan sudah berjanji akan membenahi internal terlebih dahulu. Tuntaskanlah semua kasus hukum yang dilakukan oleh anggota Polri. Insyaallah Tahun Hijryah ini akan sangat berkesan buat Bapak.

Maaf, jika harapan kami ini terlalu berlebihan. Lebih dari sekedar harapan ke Bapak, sebenarnya jika Bapak berhasil memulainya, inilah catatan tinta emas institusi hukum yang tidak akan pernah hilang dalam sejarah: Polri Bersih. Kelak KPK tidak akan berani menepuk dada lagi karena kepolisian sudah jauh lebih bersih dari pada KPK. Bisakah?***

Minggu, 03 November 2013

Tentang Uang Komite: Masyarakat Harus Dicerahkan

POLEMIK boleh-tidaknya orang tua siswa (peserta didik) memberikan sumbangan tetap ke sekolah sebagai bentuk partisipasi masyarakat kepada sekolah, telah menimbulkan pro-kontra di antara beberapa Kepala Sekolah SLTA, khususnya di Kabaupaten Karimun. Di satu sisi ada sekolah yang berpandangan uang komite tidak perlu lagi sementara di satu sisi lagi ada sekolah berpandangan sebaliknya. Pemerintah, dalam hal ini Dinas Pendidikan seharusnya meluruskan kesalahpahaman ini agar masyarakat juga tercerahkan.

Bermula dari dikucurkannya dana BOS (Bantuan Operasional Sekolah) oleh Pemerintah Pusat --melalui APBN-- sejak awal Tahun Pelajaran 2013- 2014 lalu, diikuti oleh kebijakan beberapa Kepala Sekolah secara sepihak memberhentikan iyuran/ uang komite bagi siswanya akhirnya masyarakat beranggapan seolah-olah uang BOS adalah pengganti uang komite. Artinya masyarakat (orang tua/ wali siswa) menyimpulkan bahwa mulai saat itu anak-anak mereka tidak lagi perlu membayar uang sekolah (uang komite) seperti yang selama ini mereka lakukan. Kesimpulan itu juga dikaitkan dengan fakta bahwa di SD (Sekolah Dasar) dan SMP (Sekolah Menengah Pertama) miliki pemerintahn (Negeri) memang sudah tidak ada lagi yang namanya uang sekolah atau uang komite sejak diberikannya dana BOS beberapa tahun lalu.

Sesungguhnya, jika diperhatikan penggunaan dana BOS yang dijelaskan dalam Juknis (Petunjuk Teknis) yang dikeluarkan Kemdikbud bahwa dari 9 item penggunaan dana BOS itu jelas sekali perbedaan antara penggunaan dana BOS dengan penggunaan uang komite (dulu bernama uang BP3/ Badan Pembantu Penyelenggaraan Pendidikan). Kalau dana BOS dipergunakan untuk operasional non personal maka dana komite dapat juga dipergunakan untuk tunjangan operasional personal seperti penambahan penghasilan (honor) guru dan pegawai disamping untuk berbagai kegiatan yang tidak/ belum memadai dananya dari dana rutin.

Ada beberapa pokok pikiran yang semestinya dipahami oleh masyarakat berkenaan dana BOS di SLTA (SMA/ MA/ SMK) yang mulai dikucurkan terhitung Juli 2013 itu. Untuk saat ini Pemerintah sudah mengcurkan untuk enam bulan (Juli- Desember 2013) dengan menghitung siswa kelas XI dan XII. Sementara untuk kelas X masih menunggu data akurat dari sekolah. Pertama; mengingat penggunaan dana BOS sama sekali berbeda dengan penggunaan uang komite maka seharusnya orang tua tidak serta-merta memberhentikan iyuran komite yang sudah dianggarkan untuk satu tahun anggaran itu setelah dana BOS dikucurkan ke sekolah. Jika ini terjadi, tentu akan menyulitkan sekolah dalam melaksanakan program-program yang sudah dibuat.

Sebagai contoh, jika uang komite dapat dipakai sebagai uang tambahan kesejahteraan guru dan pegawai (termasuk guru dan pegawai honorer) tapi dana BOS sama sekali tidak boleh dipergunakan untuk honor (tunjangan) guru dan pegawai, termasuk guru dan pegawai honorer. Jika iyuran komite diberhentikan maka berarti para guru/ pegawai honorer itu tidak akan bisa dibayar lagi oleh sekolah honornya. Apakah mereka akan mau mengajar (bekerja) tanpa honor? Padahal mereka sangat dibutuhkan sekolah karena mereka belum bisa digantikan oleh guru/ pegawai negeri yang ada. Pemerintah juga belum bisa memberikan pengganti tenaga honorer yang sudah ada.

Bagi pegawai negeri sendiri, penambahan bantuan (honor) dari orang tua itu, meskipun tidak terlalu besar namun mereka sangat merasa terbantu oleh uang honor itu. Di sisi lain, keikutsertaan orang tua/ wali dalam menggalang dana untuk kebutuhan sekolah sebenarnya ini merupakan bentuk kerja sama antara sekolah dengan masyarakat yang memang digalakkan. Inilah bentuk partisipasi langsung orang tua siswa kepda sekolah. Undang-undang Sisdiknas sendiri bahkan tidak kurang dari 5 pasal memberikan ruang untuk partisipasi masyarakat ini. Artinya ada dasar hukum yang menjadi landasan untuk keikutsertaan masyarakat dalam penggalangan dana sekolah yang memang belum terpenuhi sepenuhnya oleh Pemerintah.

Bahwa ada kecenderungan masyarakat agar sekolah secara keseluruhan digratiskan, itu tidaklah salah. Inilah yang perlu diluruskan. Masyarakat harus diberi pencerahan bahwa untuk saat ini pemerintah sebenarnya belum mampu menggratiskan pendidikan kepada rakyatnya. Walaupun Undang-undang Dasar 1945 sudah mengamanahkan agar anggaran pendidikan itu ditetap minimal 20 persen dari APBN, terbukti sampai hari ini masih begitu banyak problem kekurangan sarana prasarana dan fasilitas lainnya yang belum mampu diatasi Pemerintah.

Di banyak daerah bahkan masih banyak sekolah yang harus belajar pagi dan sore dikarenakan RKB (Ruang Kelas Belajar) yang masih kurang. Banyak pula gedung sekolah yang sudah tidak layak pakai karena sudah sangat tua dimakan usia. Dan jika diperiksa berbagai fasilitas yang diperlukan peserta didik di semua sekolah di Indonesia, betapa membuat hati kita sangat terenyuh khususnya sekolah-sekolah yang jauh dari ibu kota. Begitu masih banyaknya problem yang berkaitan dengan anggaran. Artinya, pemerintah memang belum mampu membiayai pendidikan masyarakat secara keseluruhan dengan gratis. Idealnya, sekolah memang grastis dan orang tua (masyarkat) cukup membayar pajak saja. Tidak perlu ikut membayar uang sekolah. Masalahnya pemerintah memang belum bisa. Penghasilan negara belum sampai ke tahap seperti itu.

Oleh karena itu, partisipasi masyarakat yang memang diberi ruang oleh undang-undang untuk ikut terlibat langsung dalam pembiayaan sekolah tidak harus diberhentikan hanya karena pemerintah memberikan bantuan dalam bentuk dana BOS. Kepala sekolah juga tidak perlu 'sok hebat' dengan seolah-olah ikut menggratiskan uang sekolah dengan membuat ketentuan sendiri. Undang-undang tentu saja lebih tinggi derajatnya hukumnya dari pada peraturan Kepala Sekolah atau peraturan Komite Sekolah.

Justeru dalam keadaan seperti ini masyarakat harus dicerahkan dengan informasi yang benar. Masyarkat tidak harus diinabobokan dengan istilah 'sekolah gratis' sementara sekolah dengan berbagai dalih yang tidak bisa dipertanggungjawabkan, malah masih tetap meminta sumbangan. Dan uang-uang itu malah tidak jelas pertanggungjawabannya. Alangkah lebih baik, pastisipasi orang tua ini terus digalakkan (termasuk di SD dan SMP) dengan syarat uang-uang itu diaudit dengan baik. Kepala Sekolah tidak boleh menggunakan sesukia hati. Orang tua benar-benar dilibatkan dengan aktif dan pengurus Komite Sekolah tidak sekedar menjadi bember Kepala Sekolah.***

Sabtu, 02 November 2013

Berjalan-jalan Sambil Belajar, Bisakah?

TANGGAL 6 hingga 10 November ini, insyaallah para Kepala Sekolah yang tergabung dalam Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMA/ MA se-Kabupaten Karimun akan mengadakan perjalanan (tour) ke Pulau Jawa. Sasaran utama adalah kota Jogyakarta (DIY) dan Surabaya (Jawa Timur). Perjalanan lima hari itu dikemas dengan nama 'Study Banding dan Orientasi Pelaksanaan Kurikulum 2013' dengan melihat implementasi kurikulum baru itu di salah satu sekolah di sana.

Walaupun ada tujuan pendidikan yang diprogramkan dalam perjalanan ini, tetap saja nuansa berjalan-jalannya lebih kental dari pada niat ingin belajar itu sendiri. Dari luar, pasti akan disimpulkan bahwa perjalanan yang memakan biaya transport sekitar Rp 3.850.000 ini dianggap sekedar menghibur diri saja. Dan jika biaya itu sampai menggunakan anggaran yang tidak tepat maka akan dapat merugikan sekolah.

Pertanyaan pokok dari rencana study tour, study comparative atau apalah namanya adalah apakah perjalanan jauh ini akan bermanfaat untuk sekolah yang dipimpin? Sebagai Kepala Sekolah, kewajiban untuk meningkatkan mutu pendidikan di sekolah masing- masing adalah harga mati yang tidak dapat ditawar-tawar. Misi utama mengantarkan peserta didik di sekolah masing-masing menjadi manusia yang mampu mandiri, cerdas dan berakhlak dengan pendidikan bermutu adalah sasaran utama setiap sekolah yang dipimpin. Akan perjalanan ini mampu membantu mewujudkan misi itu?

Selama perjalanan yang tidak gratis itu memang berguna untuk kemajuan sekolah maka itu tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Bahwa Kepala Sekolah harus meninmggalkan sekolah karena misi yang memang jelas maksud dan tujuannya maka itu tentu akan didukung oleh Pemerintah (Dinas Pendidikan) setempat. Tinggal bagaimana para Kepala Sekolah yang ikut dalam rombongan 'berjalan-jalan sambil belajar' ini benar-benar memanfaatkan perjalanan ini untuk mempelajari kemajuan dan prestasi sekolah sasaran untuk diterapkan di sekolah masing-masing.

Harus diakui bahwa sekolah-sekolah di Pulau Jawa sudah lebih dulu memajukan dirinya berbanding sekolah-sekolah di luar Jawa. Dan Kabupaten Karimun yang baru lahir tahun 1999 lalu tentu saja perlu banyak belajar ke luar sana (bukan hanya di Jawa, bisa juga ke Sumatera atau ke Makassar) untuk memajukan sekolah-sekolahnya. Para Kepala Sekolah Menedngah Atas yang akan berangkat ini semoga saja benar-benar mempelajari bagaimana memajukan sekolah di sekolah sasaran nantinya. Bahwa perjalanan ini juga bertujuan sebagai hiburan, itupun tidak ada salahnya.***
 
Copyright © 2016 koncopelangkin.com Shared By by NARNO, S.KOM 081372242221.