BREAKING NEWS

Kamis, 31 Oktober 2013

HUT Karimun: Remaja Molek Tengah Bersolek

INILAH catatan tersisa, Hari Ulang Tahun (HUT) Kabupaten Karimun, Kepri. Terlambat ditayang karena alasan yang tak terang. Marilah saya berandai-andai: Dalam usia 14 tahun, jika dia seorang gadis tentu saja masih sangat muda. Itu usia remaja yang masih 'bau kencur' dan masih suka bermain. Belum bisa disebut dewasa. Jika pun sudah menstruasi tapi mungkin baru sebagai pengalaman awal remaja. Yang pasti belum bisa menikah secara resmi. Undang Perkawinan juga belum membolehkan. Kira-kira begitu, analoginya kalau manusia.

Tapi jika yang berusia 14 tahun adalah sebuah daerah kabupaten tentu lain ceritanya. Inilah Kabupaten Karimun (satu dari tujuh kabupaten/ kota di Provinsi Kepri) yang pada hari Sabtu (12/ 10) dua pekan lalu berulang tahun untuk ke-14 maka analogi gadis bau kencur tidaklah terlalu tepat. Kabupaten dengan brand 'negeri berazam' ini justeru sudah bagaikan seorang dewasa yang akan mampu mengurus dirinya. Itu kata para petinggi di daerah ini berulang-ulang terutama dalam beberapa kegiatan bersempena HUT itu.

Sejak Karimun menjadi sebuah kabupaten yang terpisah dari Kabupaten Kepulauan Riau dengan disahkannyaUndang-undang Nomor 53 Tahun 1999 (tentang Pembentukan Kabupaten Pelalawan, Kabupaten Rokan Hulu, Kabupaten Rokan Hilir, Kabupaten Siak, Kabupaten Karimun, Kabupaten Natuna, Kabupaten Kuantan Singingi dan Kota Batam) Kabupaten Karimun memang langsung berbenah. Bersama daerah/ kota tingkat II se-Provinsi Riau waktu itu, Karimun mencoba membangun dirinya. Belakangan, setelah Kepri menjadi sebuah provinsi yang terpisah dari Riau maka kabupaten ini semakin menampakkan geliat pembangunannya.

Saat ini, dari tujuh kabupaten/ kota di provinsi 'segantang lada' ini Karimun termasuk yang paling moncer kemajuannya. Dia benar-benar bagaikan remaja molek (cantik) yang lagi asyik-asyik bersolek. Bersolek, tentu saja karena ingin memikat pandangan dari luar. Bagaikan seorang remaja baru pubertas, Karimun terus berhias. Berbagai pembangunan digesa.

Menurut Aunur Rofiq, PLH Bupati pada saat apel peringatan HUT kemarin itu, bahwa Karimun dalam lima tahun terakhir telah maju-pesat. Di berbagai bidang peningkatan signifikan terjadi berkat pembangunan yang dilakukan. Saya tidak mengutip pidato panjang yang dibacakan cukup lama itu. Bagaikan Suharto membacakan pidato tahunan di acara 17-an Agustus, Wakil Bupati Karimun cukup jelas menguraikan peningkatan kemajuan kabupaten yang berangan-angan membangun jembatan penghubung Pulau Sumatera melalui Riau dan akan dibungkan ke Johor, Malaysia sana. Wow, impian yang sangat spektakular dari Bupati Karimun, Nurdin Basirun.

Buat masyarakat Karimun hari ini, sesungguhnya semua angan-angan itu tidak menjadi masalah. Kemajuan yang diuraikan Pak Wabup itu juga akan diterima sebagai sebuah informasi. Tapi yang jauh lebih penting untuk digesa saat ini adalah pendidikan, kesehatan dan infrastruktur transportasi dalam masyarakat Karimun sendiri. Menurut laporan Dinas Pendidikan Kabupaten Karimun, sekolah-sekolah di Karimun masih serba kekurangan. Kelas-kelas ruang belajar masih kurang sehingga masih ada sekolah sore atau melaksanakan pembelajaran dua atau tiga shiif.

Masalah kesehatan juga masih harus menjadi perhatian khusus.  Para penderita beberapa jenis penyakit belum tertangani di kabupaten ini padahal rumah sakitnya sering dibangga-banggakan para pejabat. Benar Rumah Sakit Umum Daerah sudah bagus fisik (gedungnya). Tapi pelayanan dan dokternya tidak meadai. Orang-orang miskin mengeluh berobat karena merasa tidak dilayani dengan baik sementara orang-orang kaya pergi berobatnya ke Malaysia atau Singapura karena merasa para dokter di sini belum memadai. Tidakkah ini jauh lebih penting?

Begitu pula masalah transportasi yang harus menghubungkan begitu banyak pulau. Dengan ribuan pulau di daerah ini maka sarana prasarana transportasi akan menjadi ukuran maju-sajehteranya Karimun bersama rakyatnya. Maka, gadis molek yang suka bersolek ini jangan sampai keasyikan bersolek sehingga lupa tugas utamanya. Itu saja catatan tersisa ini.***

Senin, 28 Oktober 2013

Apel Sumpah Pemuda di SMA 3

TERASA istimewa apel Senin Pagi (28/ 10) ini. Para siswa pelaksana yang dominan wanita menggunakan jilbab merah. Tampak mereka seperti onggok bendera kebangsaan kita karena baju dan rok mereka serba putih. Mereka adalah kelas sebagai petugas Upacara Bendera Senin Pagi SMA Negeri 3 Karimun.
Tapi sebenarnya yang membuat istimewa itu adalah bahwa mereka pagi ini melaksanakan upacara peringatan HUT (Hari Ulang Tahun) Sumpah Pemuda ke-85 yang disejalankan dengan upacara bendera yang memang sudah rutin dilaksanakan setiap Senin pagi. Selain tata tertib yang sama dengan Senin-senin sebelumnya, kali ini mereka juga membacakan Teks Sumpah Pemuda yang sakaral itu.

Tentu saja sangat diharapkan kepada para peserta didik yang ikut dalam upacara bendera itu agar benar-benar mengingat dan menghayati makna penting dari peringatan Hari Sumpah Pemuda itu. Dari ikrar para pemuda itulah bermulanya perlawanan konkret bangsa Indonesia melawan penjajah. Jika sebelumnya perlawanan bangsa masih bersifat sederhana tapi setelah ikrar pemuda yang mengaku hanya satu Tanah Air dan satu Bangsa yaitu Indonesia maka bermulalah perlawanan yang akan menuju ke pintu gerbang kemerdekaan itu.

Tidak pantas jika para pemuda hari ini tidak juga memberikan kontribusinya untuk kemajuan bangsa dan negara. Setelah 85 tahun ikrar itu berlalu, dan setelah 68 tahun pekik merdeka oleh Sukarno-Hatta kita tinggalkan, kinilah waktunya para generasi muda membuktikan prestasinya. Jiwa kreatif dan inovatif adalah dua tuntutan yang diharapkan dapat ditunjukkan oleh para pemuda bangsa hari ini.

Tertinggalnya bangsa Indonesia dari beberapa negara yang dulunya juga dijajah, bahkan merdeka lebih akhir dari pada bangsa Indonesia, itu semuanya disebabkan oleh terlanjur terlenanya rakyat bangsa kita. Kita diinabobokkan oleh propoganda yang salah bahwa Indonesia adalah negara kaya. Hutan dan lautnya mengandung aneka kekayaan. Tanahnya subur dan mengandung aneka tambang. Maka bangsa kita menjadi manja.

Tidak boleh lagi kekeliruan ini diteruskan. Dan pemuda adalah kunci dan akan menjadi tulang punggung untuk berdiri-tegaknya bangsa Indonesia dalam kesejahteraan dan kemakmuran yang didambakan. Mari pemuda. Mari meneruskan perjuangan pahlawan kita. Mereka sudah memberikan segala-galanya untuk Indonesia. Kini giliran Anda.***


Minggu, 27 Oktober 2013

Catatan Kepulangan Haji Karimun: Kemudahan adalah Ujian

PERJALANAN 42 hari jamaah haji Kabupaten Karimun berakhir hari ini, Ahad, 27 Oktober 2013. Berangkat meninggalkan Karimun pada 16 September lalu, 104 jamaah calon haji --waktu itu-- yang kini sudah menjadi haji- hajjah itu kembali dengan selamat ke Bumi Berazam, Karimun sore Ahad ini.
Alhamdulillah mereka semua selamat sejumlah berangkat dulu. Begitu kira-kira laporan Kakankemenag Kabupaten Karimun, H. Afrizal ketika memberi laporan kepada bupati, di masjid Baiturrahman selepas magrib dalam satu acara Penyambutan Haji Kabupaten Karimun. Acara diadakan di masjid megah itu selepas sholat magrib karena para haji- hajjah tiba di Karimun dari Batam menjelang magrib. Setelah disambut bupati dan para pejabat teras Karimun di Pelabuhan Karimun, para haji-hajjah itu langsung dibawa ke masjid. Sesuai rencana, prosesi penyambutan dilaksanakan di situ.

Pada acara yang dihadiri juga oleh para sanak-saudara yang sudah menanti sejak sore, Kepala Kantor Kementerian Agama (Kakankemenag) Kabupaten Karimun memberikan laporannya kepada bupati dan hadirin yang ada. Setelah laporan Kepala Staf Haji Kabupaten itu, masih ada sambuatn 'kesan-pesan' dari salah seorang jamaah. Terakhir pidato pengarahan dari Bupati Karimun, H. Nurdin Basirun.

Dalam pengarahannya bupati memberikan motivasi kepada para haji-hajjah yang tampak dalam keadaan lelah itu. Perjalanan panjang dari Jeddah Mekkah hingga ke Hang Nadim, Batam lalu mengikuti acara prosesi penyambutan di Asrama Haji Batam, dan diteruskan lagi perjalanan ke Karimun, tentu saja itu sangat melelahkan. Dari pelabuhan ke masjid juga memerlukan waktu dan tenaga. Selesai magrib, mengikuti acara ini lagi. tentu saja sangat menguras tenaga dan pikiran mereka.

"Saya tahu dan mengerti kalau Bapak-bapak dan Ibu-ibu haji sangat lelah," kata orang nomor satu Karimun itu dalam pidatonya. "Tapi inilah ujian tambahan buat bapak dan ibu. Ini juga akan menjadi ujian mabrur-tidaknya ibadah haji bapak- ibu. Apakah bisa sabar?" katanya dengan nada tanya sambil tersenyum. Tentu saja para dhuyufurrohman itu tetap sabar mengikuti acara. Bupati berharap agar para haji dan hajjah terus mempertahankan samangat ibadah yang sudah dibuktikan di Tanah Suci. Selain itu, bupati juga meminta terus mendoakan daerah Karimun agar terus aman dan tentram serta rakyatnya sejahtera. "Doa bapak-bapak dan Ibu-ibu masih akan terus diijabah Allah sampai 40 hari ke depan," katanya meminta.

Sebagai penutup, tampil Wahab Sinambela, Pembimbing Haji Daerah (yang dipercaya bupati mendampingi jamaah calon haji Karimun) untuk berdoa. Sebelum berdoa, dia sempat memberikan kesannya dalam bertugas, sesuai permintaan bupati. Salah satu yang disampaikannya adalah 'ujian kemudahan' yang diterima jamaah Karimun. Menurut Sinambela, jamaah haji keloter 7 (tujuh) gelombang I ini benar-benar mendapat kemudahan dan fasilitas yang baik selama di Tanah Suci. Dia menyebut salah satu contoh kemudahan itu adalah dekatnya tempat tinggal (rumah) para jamaah dari masjid, baik di Madinah maupun di Mekkah. Nah, kemudahan itu merupakan ujian dari Allah. Jadi, ujian itu bukan hanya kesulitan. Begitu dia mengingatkan para hadirin.

Saya setuju nasihat ustaz itu. Selama ini, pandangan orang bahwa ujian itu hanyalah kesulitan belaka. Padahal kenikmatan dan kemudahan adalah ujian yang sama. Kekayaan juga ujian, katanya. Dan manusia, apalagi sudah haji, harus lulus dari ujian seperti itu. Jangan sampai gagal. Kemudahan, apapun bentuknya seharusnya memang termasuk sebagai ujian dari Tuhan. Apakah manusia akan sombong, angkuh dan lupa diri dengan kesenangannya? Itu artinya manusia gagal dalam ujiannya. Semoga saja para haji- hajjah khususnya, dan kita semua pada umumnya dapat lulus dari ujian yang diberikan Tuhan.***

Sabtu, 26 Oktober 2013

Uang Komite Diturunkan

TERNYATA para orang tua/ wali siswa itu tetap bersedia memberikan sumbangan uang komite. Melalui rapat yang alot para orang tua/ wali siswa kelas X, XI dan kelas XII itu memutuskan untuk tetap memberikan sumbangan berupa uang komite ke sekolah. Hanya saja besarnya tidak seperti yang sudah disepakati di awal tahun pelajaran lalu. Dari Rp 75.000 (tujuh puluh lima ribu rupiah) kini diturunkan menjadi hanya Rp 50.000 (lima puluh ribu saja).

Berubahnya jumlah iyuran komite itu disebabkan karena pihak sekolah telah menerima bantuan dari Pemerintah berupa uang BOS (Bantuan Operasional Sekolah) mulai pertengahan tahun pelajaran 2013/ 2014 ini. Dana BOS itu sudah diterima sekolah untuk satu semester khusus untuk siswa kelas XI dan XII. Untuk peserta didik kelas X belum dicairkan. Begitu penjelasan Kepala Sekolah.

Sesuai dengan hasil rapat pengurus dan anggota Komite Sekolah SMA Negeri 3 Karimun hari ini (Sabtu, 26/ 10/ 13) yang dipimpin langsung oleh Ketua Komite SMA Negeri 3 Karimun, Sabari Basirun bahwa orang tua siswa SMA Negeri 3 Karimun tetap memberikan sumbangan pembiayaan berupa uang komite. Kalau dana BOS dipergunakan untuk pembiayaan non personal maka uang komite dapat dipergunakan untuk pembiayaan personal seperti honor para guru dan pegawai. Pengurus akan membuat rincian penggunaan itu sesuai usul sekolah.

Walaupun uang komite diturunkan dari kesepakatan di awal tahun namun itu sudah cukup sebagai bukti bahwa orang tua siswa SMA Negeri 3 Karimun tetap ingin menunjukkan tanggung jawabnya bagi sekolah. Sebelum rapat dimulai, malah ada wacana dari beberapa orang tua siswa untuk menghapus uang komite seperti di SD atau SMP yang sejak lama sudah menerima dana BOS.

Rapat yang dipimpin langsung oleh Ketua Komite Sekolah memang berlangsung agak panas. Kepala Sekolah diminta oleh pimpinan rapat untuk menjelaskan dana BOS dan dana Komite yang selama ini sudah berjalan. Setelah Kepala Sekolah memberikan laporan uang BOS serta menjelaskan untuk apa penggunaannya maka orang tua dapat memahami penjelasan, apa beda uang BOS dan Uang Komite.

Setelah itu barulah Ketua Kimte memberikan kesempatan untuk tanya jawab dari peserta rapat. Dari usul dan saran inilah muncul kesepakatan kalau orang tua siswa tetap bersedia memberikan bantuannya. Hanya saja jangan terlalu besar. Dan muncullah tiga opsi yang diusulkan oleh para wali siswa itu. Opsi pertama mengusulkan agar tetap saja sebesar iyuran yang saat ini berjalan yakni sebesar Rp 75.000. Lalu usul kedua diturunkan menjadi hanya Rp 50.000 saja. Usul lainnya bahkan meminta diturunkan lagi menjadi Rp 20.000.

Akhirnya setelah diadakan voting suara maka disepakati besaran Rp 50.000 per siswa per bulan terhitung bulan November 2013. Lebih dari separoh orang tua siswa yang hadir menyetujui usul kedua ini. Ketua Komite yang memimpin rapat sampai mengulang tiga kali untuk menguji kesepakjatan itu. Pak Sabari tidak ingin orang tua menyesal setelah disepakati. Tapi walaupun diulang tiga kali, orang tua siswa tetap pada opsi kedua itu. Dan disepakatilah uang komite SMA Negeri 3 Karimun sebesar Rp 50.000 (lima puluh ribu rupiah) per siswa per bulan terhitung sejak November ini.***

Jumat, 25 Oktober 2013

Akhirnya Mulus Juga

LAMA sekali menanti. Sejak saya dimutasi dari SMA Negeri 2 Karimun ke SMA Negeri 3 Karimun ini hampir enam tahun lalu, harapan saya agar jalan masuk ke dan di lingkungan sekolah ini diperbaiki bagaikan angin lalu. Harapan itu tidak pernah mendapat respon. Sebagai Kepala Sekolah, saya melihat ada banyak yang sangat diperlukan sekolah ini. Tapi jalan masuk dan jalan di pekarangan sekolah ini adalah yang cukup penting.

Selain mengusulkan pembangunan infrastruktur lain seumpama gedung, usulan perbaikan jalan ini selalu saya sampaikan setiap tahun. Dari jalan besar ke sekolah --kurang lebih 100 meter-- jalannya sangat sempit. Sudah pernah disemenisasi namun sudah rusak berat. Di sana-sini hancur dan berlobang. Saya ingat, pada tahun-tahun awal saya di sekolah ini, jalan masuk yang juga menjadi jalan umum (masyarakat) itu pernah direhab oleh sekolah dengan bantuan biaya dari masyarakat. Sejak itu belum pernah lagi diperbaiki. Sedih, memang.

Selain jalan masuk, jalan di samping sekolah dan jalan di pekarangan sekolah juga tidak layak untuk dipakai. Dengan kontur tanah berbukit, siswa dan guru tidak merasa nyaman untuk bergerak dari satu gedung ke gedung lainnya. Tanahnya hancur dan becek kalau turun hujan. Itulah sebabnya saya terus mengusulkan kepada Pemerinta (terutama Pemda Karimun) untuk dibangun jalan semen atau aspal.

Akhirnya di tahun 2013 ini harapan itu terkabulkan juga. Saya ingat di akhir tahun 2012 lalu saya berbicara langsung dengan Bappeda Karimun. Dan ketika bupati, Nurdin Basirun kebetulan hadir di sekolah pertengahan tahun 2013 ini, kembali saya usulkan secara lisan. Saat itu dia dan beberapa pejabat teras Karimun bersama petinggi PT Saipem datang untuk meresmikan kantin sekolah. Kantin itu sumbangan dari PT Saipem.

Alhamdulillah, ternyata usulan itu berbuah manis. Di bulan Agustus lalu saya mendapat informasi dari salah seorang pegawai Bappeda Karimun bahwa jalan itu akan dibangun aspal. Dan di bulan Oktober 2013 ini jalan itu akhirnya selesai. Mulai hari ini, Jumat, 25 Oktober 2013 jalan itu sudah mulus. Jalan di sepanjang samping sekolah yang merupakan batas sempadan dengan tanah masyarakat juga sudah diaspal mulus. Ditambah jalan masuk hingga ke Perpustakaan, jalan itu juga sudah diaspal mulus. Semoga ini menambah semangat warga sekolah untuk meningkatkan mutu pendidikan di sekolah ini.***
Catatan: Maaf, foto ilustrasinya adalah foto ketika belum diaspal.

Rabu, 23 Oktober 2013

Tuhan Masih Melindungi: Sekolah itu Selamat dari Kebakaran

KETIKA Senin (21/ 10) malam itu Sumardi, pegawai Tata Usaha SMA Negeri 3 Karimun yang bertempat tinggal tidak jauh dari sekolah menelpon saya untuk memberitahukan bahwa MCB sekolah terbakar, saya tidak terlalu berpikir macam-macam. "Pak, MCB listrik sekolah terbakar. Mungkin korsleting," katanya melalui telpon. Saya hanya menanyakan keadaan sekolah. Kata Sumardi tidak apa-apa. Lampu sudah dimatikan semua.


Besoknya (Selasa, 22/ 10) ketika saya sampai ke sekolah dan melihat dinding tempat terpasangnya MCB itu sudah hangus dan hitam, bahkan hitamnya sudah sampai ke loteng, barulah saya kaget. Ternyata gedung yang baru saja selesai direhab itu hampir saja ludes dilalap si jago merah. Jika saja Ery, seorang pesuruh sekolah itu terlambat datang ke sekolah, bisa jadi gedung yang terdiri dari ruang TU, ruang Kasek dan ruang Majelis Guru itu hangus semuanya.

Menurut Ery, dia datang ke sekolah karena lampu mati di rumahnya. Dia tahu lampu di rumahnya itu ditarik dari sekolah. Tentu saja dia berpikir 'mungkin lampu sekolah mati' dan dia cepat melihat sekolah. Maksudnya tentu melihat meteran atau MCB listrik itu. Kalau terjatuh, tentu dinaikkan kembali. Tapi dia terkejut, ternya api sudah menyala di dinding tempat trerpasangnya MCB itu. Spontan dia berlari ke rumah penduduk dan tanpa permisi langsung dia masuk ke rumah orang itu untuk mendapatkan air. Lalu dia menyiramkan air itu ke dinding yang berapi. Barulah api itu padam.

Ketika dia bercerita bagaimana dia terkejut melihat api dan spontan mengambil air di rumah penduduk tanpa permisi ke tuan rumah, dia merasa bersalah sendiri. Tapi setelah dia ceritakan kedpada tuan rumah itu, akhirnya tuan rumah itu tidak jadi marah. Dan sesudah api padam itulah dia baru memberitahukan kepada Sumardi, pegawai TU yang tinggal tidak jauh dari sekolah.

Melihat jejak api (asap) di sekitar MCB itu, rasanya memang hanya karena pertolongan Tuhan sajalah sekolah itu masih bisa selamat. Bayangkan, jika Ery terlambat sedikit saja melihat lampu ke sekolah, lalu api menyambar loteng yang terbuat dari bahan yang mudah terbakar, bisa jadi api akan menjalar ke kayu dia atasnya. Dan akan hanguslah gedeung sekolah itu.

Tapi syukurnya, Tuhan masih memberikan perlindungan-Nya kepada sekolah itu. Dan hanya hangus sedikit saja. Dan yang harus diganti hanyalah kabel dan beberapa peralatan listrik saja. Dinding dan loteng yang hitam oleh asap, dapat dicat kembali. Tapi dugaan bahwa rehab yang baru dilakukan beberapa bulan itu kemungkinan menjadi penyebabnya, boleh juga ditelusuri. Konon pemasangan instalasi ulang oleh kontraktor waktu itu tidak sesuai dengan ketentuan. Semoga kontraktornya berkenan melihat dan memeriksa kembali pekerjaannya itu.***

Selasa, 22 Oktober 2013

Pemilu OSIS

HARI Senin (21/ 10) lalu panitia pemilihan Ketua Osis SMA Negeri 3 Karimun melaksanakan pemilihan Ketua Osis SMA Negeri 3 Karimun masa bakti 2013/ 2014. Waktu yang dipergunakan adalah jadwal apel Senin Pagi. Artinya, apel bendera tidak dilaksanakan tapi diganti dengan kegiatan pemilihan tersebut.
Perihal dipakainya waktu apel untuk pemilihan Ketua Osis adalah karena sekolah tidak mengizinkan menggunakan jam belajar untuk kegiatan ini. Jadi, terpaksa dilaksanakan pada jam apel bendera yang biasanya diadakan setiap hari Senin.

Tapi sesungguhnya waktu pelaksanaannya tidak pula di pagi hari. Jika alokasi waktu apel bendera yang dipakai, seharusnya di pagi hari. Tapi ternyata pemilihan Ketua Osis diadakan pada siang hari, pada jam yang seharusnya siswa sudah pulang ke rumah. Ini disebabkan karena di waktu paginya cuaca hujan. Jadi, proses pembelajaran dimajukan pada jam apel. Dan jam apel di akhir waktu dipakai untuk pemilihan Ketua Osis.

Yang menarik dari proses pemilihan ini adalah bahwa para siswa yang termasuk ke dalam kepengurusan Osis masa bakti 2012/ 2013 itu terbukti mampu melaksanakan pemilihan Ketua Osis dengan baik dan lancar. Dengan enam buah bilik suara, para siswa sebagai pemilih diatur berbaris (berbanjar) lurus ke belakang. Merreka dibagi menjadi enam barisan panjang. Masing-masing dua barisan untuk kelas X (sepuluh) dan kelas XI (sebelas) serta XII (dua belas) masing-masing dua-dua barisan pula. Dengan demikian proses pemilihannya berjalan lebih cepat. Hanya memerlukan waktu kurang lebih 50 menit saja untuk menyelesaikan 400-an siswa SMA Negeri 3 Karimun.

Saat berita ini ditulis, hasilnya memang belum diperoleh. Tapi bagi saya, kerja keras para siswa yang terlibat dalam kepanitiaan itu begitu hebat. Mereka dengan cekatan mampu melaksanakan kegiatan pemilihan dengan baik. Semoga kelak mereka juga mampu menyelesaikan tugas-tugas yang dipercayakan kepada mereka setelah tamat nanti.***

Minggu, 20 Oktober 2013

Semangat Berbagi dan Mencari

SELAMA tiga hari guru-guru SMA Negeri 3 Karimun melaksanakan kegiatan workshop. Tiga hari pula mereka tetap melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya di depan kelas. Kok bisa? Inilah semangat <strong>berbagi</strong> dan semangat <strong>mencari</strong> dari para guru itu. Mereka layak mendapat apresiasi tinggi karena dalam keinginan mengembangkan diri, tidak meninggalkan tugas di depan kelas.

 Workshop yang ditaja sendiri oleh para guru itu bertajuk Pemnbuatan Media Pembelajaran dengan tambahan materi PK (Penilaian Kinerja) Guru dan Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB) disertai cara perhitungan angka kreditnya, khusus untuk lingkungan SMA Negeri 3 Karimun. Dikatakan 'ditaja sendiri' karena segala biaya yang diperlukan untuk kegiatan ini mereka tanggulangi sendiri. Dari konsumsi hingga kebutuhan lainnya mereka talangi. Inilah yang membuat kegiatan ini terasa istimewa.

Bagaimana melaksanakan workshop sambil tetap melaksanakan tugas di depan kelas? Worskhopnya berlangsung sejak hari Jumat (18/ 10) lalu dan baru berakhir hari Ahad (20/ 10) ini. Agar tidak merugikan proses pembelajaran peserta didik maka kegiatannya diatur sedemikian rupa. Hari Jumat dan Sabtu, kegiatannya dimulai selepas siswa mengikuti proses pembelajaran. Karena hari Jumat dan hari Sabtu waktu belajar lebih sedikit (jam pelajarannya) dari pada hari lain maka siswa waktu itulah yang dimanfaatkan untuk kegiatan workshop. Dengan hanya mengorbankan program 'pembinaan rohani (Jumat) dan Senam Pagi serta kegiatan eskul (Sabtu), para siswa dimasukkan lebih pagi. Tentu saja pulangnya juga lebih awal. Barulah workshop dilaksanakan hingga sore menjelang malam.

Selain Jumat dan Sabtu, kegiatan dilanjutkabn pada hari Ahad. Dengan demikian selama tiga hari itu para guru mengikuti kegiatan workshop di sekolah sendiri. Mereka memang tidak perlu pergi ke tempat lain. Dengan demikian sekaligus menghemat waktu karena workshop langsung dilaksanakan selepas kegiatan pembelajaran usai. Dengan mengurangi lima menit setiap jam pelajaran, para peserta didik sudah bisa dipulangkan sekitar pukul 10.00. Dengan demikian waktu untuk workshopnya cukup panjang menjelang sore.

Untuk narasumber pun tidak perlu mendatangkan dari jauh. Dengan memberdayakan para guru dari sekolah lain yang kebetulan memiliki kompetensi untuk materi dimaksud, maka pengelolaan kegiatannya juga menjadi lebih mudah. Dua orang guru dari SMA Negeri 2 Karimun (Horison dan Siti Nurbaya AZ) diminta menjadi narasumber. Keduanya memang menguasai materi yang diharapkan. Ibu Siti Nurbaya memberikan materi media pembelajaran sedangkan Pak Horizon memberikan materi PK Guru dan PKB serta penghitungan angka kreditnya.


Bagi dua guru sebagai narasumber ini, perinsip yang mereka pakai adalah semangat berbagi sesama guru. Tanpa canggung keduanya memberikan materi dengan semangat berbagi itu. Sebaliknya bagi para guru peserta workshop, semangat yang mereka pakai adalah semangat mencari. Artinya, kemauan dan keinginan untuk mencari dan menambah ilmu itulah yang membuat mereka tetap bersemangat mengikuti kegiatan selama tiga hari itu. Semoga semngat 'berbagi' dan semangat 'mencari' ini dapat dicontohteladani para guru lain. menimba ilmu memang tiada batas waktu dan tempatnya. Selamat para guru!***

Jumat, 18 Oktober 2013

Workshop Untuk Pengembangan Diri

SELAMA tiga hari --Jumat, Sabtu- Minggu/ 18-20/ 10/ 13-- para guru SMA Negeri 3 Karimun mengadakan kegiatan pengembangan diri. Kegiatan workshop dengan materi Pembuatan Bahan Ajar dan Penilaian Kinerja Guru itu dilaksanakan di SMA Negeri 3 Karimun. Dengan narasumber guru dari salah satu SMA di Pulau Karimun, kegiatan ini diharapkan dapat menambah pengetahuan dan pengalaman guru, terutama dalam pembuatan bahan ajar.

Biaya yang dipergunakan dalam kegiatan ini adalah biaya mandiri. Maksudnya dibiayai oleh para guru itu sendiri. Sekolah hanya membantu memberi konsumsi untuk satu hari kegiatan sementara dua hari lagi ditanggung oleh para guru sendiri. Menurut salah seorang peserta, kegiatan ini benar-benar bersifat mandiri dari segi pembiayaan. Tidak ada anggaran khusus untuk kegiatan ini. Dan saya tahu itu. Untuk sertifikat saja mereka tanggulangi sendiri.

Maksud dilaksanakannya kegiatan ini adalah untuk memberi pengalaman dan pengetahuan para guru dalam menyusun bahan ajar disamping materi PKG/ PKB. Para guru akan berkesempatan mendapat ilmu dari narasumber dalam membuat bahan ajar. "Selaian membuat power point yang antraktif, para guru juga diajarkan materi 'kelas maya' yang  merupakan pembelajaran dengan menggunakan fasilitas internet," kata peserta lainnya. Selain itu juga akan diberikan materi PKG dan PKB yang sudah harus dilaksanakan sejak awal tahun 2013 ini.

Sekolah tentu saja sangat mendukung  inisiatif para guru untuk mengadakan workshop secara mandiri ini. Sebagai Kepala Sekolah saya sangat berterima kasih kepada para guru yang begitu antusias dalam memngikuti  kegiatan ini. Pada hari pertama (Jumat) ini saya melihat para guru begitu bersemangat mengikuti workshop. Sayangnya, sesi siang (selepas solat Jumat) kegiatannya tidak dapat dilanjutkan karena lampu PLN mati. Para guru sudah menunggu hingga pukul 14.30 baru bubar dan kembali ke rumah masing-masing. Kepala mengizinkan pulang saja karena arus listrik yang tidak menyala itu.

Sebagai Kepala Sekolah saya yakin, mereka mau mengorbankan waktu dan mungkin juga kegiatan di rumah adalah demi pengetahuan penting ini. Inilah bukti betapa paraa guru benar-benar serius dalam usaha pengembangan dirinya. Guru yang baik, salah satunya adalah guru yang terus-menerus mau melakukan pengembangan dirinya demi tugas dan tanggung jawabnya sebagai guru. Terima kasih, Bapak/ Ibu Guru. Saya yakin, Anda semua akan menjadi guru yang sukses.***

Selasa, 15 Oktober 2013

Khatib itu Berpesan untuk Dirinya

SEBENARNYA seorang khatib (pembawa khutbah) di hari Jumat atau di Idul Adha dan Idul Fitri menyampaikan khutbahnya adalah untuk dirinya terlebih dahulu baru untuk jamaah (pendengar) yang ada di hadapannya. Tidak boleh seorang khatib hanya berpikir bahwa tausiah yang disampaikannya di hadapan jamaah itu semata-semata untuk yang mendengarnya saja.

Saya merasa dan berpikir begitu karena sesekali saya juga diminta memberi khutbah di beberapa tempat. Bukan hanya di hari Jumat untuk solat jumatan tapi di dua hari raya, Idul Adha dan Idul Fitri terkadang juga diminta masyarakat untuk menjadi khatib. Seperti pagi Idul Adha 1434 H (2013) ini saya menjadi penyampai khutbah di salah satu masjid di Tebing. Ketika Idul Fitri lalu, jamaah Masjid Aljihad pula yang minta untuk menjadi khatib.

Dalam berkhutbah pasti banyak sekali nasihat yang disampaikan ke jamaah. Dari yang umum untuk berbuat baik sampai kepada yang spesifik melakukan perbuatan amalan tertentu disampaikan kepada para jamaah. Suatu ketika disampaikan tentang kewajiban menuntut dan mengembangkan ilmu pengetahuan kepada jamaah. Dengan dukungan dalil alquran serta hadits, berusaha mempengaruhi jamaah agar mau menuntut ilmu sekaligus mengembangkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Pertanyaannya, apakah si khatib sudah melaksanakan pesan-pesannya itu untuk dirinya? Sadarkah sang khatib bahwa semua tausiah yang disampaikan kepada para jamaah, pada hakikatnya adalah untuk dirinya sendiri. Dirinyalah yang pertama-tama wajib melaksanakannya. Mengapa? Karena sudah tegas dijelaskan dalam Alquran bahwa dosa besar bagi seseorang yang mengatakan sesuatu tapi dia tidak melakukan apa yang dikatakannya. Jadi, dosa besar bagi khatib yang berbuih-buih berbicara kepada jamaah tapi tidak melaksanakan apa yang dibicarakannya.

Saat ini, perkembangan penceramah itu lumayan bagus. Orang-orang yang tadinya tidak atau belum berani memberi tausiah (ceramah) kini banyak yang ikut berceramah. Dalam sosial keagamaan, itu tentu saja sangat bagus. Bahkan dalam Islam kewajibasn menyampaikan kebaikan itu sangat diharapkan dan dianjurkan Nabi. Maka jika beberapa pejabat mulai ramai yang menjadi penceramah 'dadakan' seyogyanya itu sangat bagus. Itu bukan sebuah kesalahan. Tapi yang harus diingat itu adalah bahwa kewajiban mengamalkan apa yang disampaikan itu terutama dan pertama jatuh pada sang penyampai. Bukan orang yang mendengarkan ceramah. Jadi, harus diingat betul bahwa sang khatib itu berkhutbah pada hakikatnya untuk dirinya sendiri.***
 
Copyright © 2016 koncopelangkin.com Shared By by NARNO, S.KOM 081372242221.