BREAKING NEWS

Senin, 29 Juli 2013

Catatan Perjalanan: Negeri Kami Kecil, Pak

KETIKA saya menuju ke Bandara Changi, Singapura bersama isteri saat menjemput adik ipar (Sabariah), di dalam teksi yang kami tumpangi kami meraakan ada kenyamanan berjalan di jalan raya negara pulau itu. Saya dan isteri ngobrol kecil memuji bersihnya jalan yang kami lalui menuju bandara. Walaupun begitu lebatnya daun pepohonan di sepanjang jalan, sepertinya tidak tampak sampah daun atau sampah lain di sepanjang jalan itu.

Ingin rasanya kita mempunyai jalan-jalan yang bersih juga di negeri kita, kata saya dalam hati. Tapi perasaan itu saya utarakan juga ke isteri yang duduk di sebelah kiri saya dalam taksi yang dikemudikan oleh seorang bernama Melayu tapi berwajah Eropah itu. Dia mula-mula diam saja mendengar kami ngobrol berdua. Saya yakin dia pasti mendengar obrolan kami berdua.

Sepuluh menit taksi berjalan, sopir itu masih diam. Saya sempat menangkap pandangannya melirik saya lewat kaca di atas kepalanya itu. Akhirnya saya beranikan menyapanya. "Singapura, aman-aman aja, Nchik?"

Dia menjawab, alhamdulillah. Selepas itu dia diam lagi. Saya tak tahu apakah dia tersenyum atau tidak ketika menjawab tadi. Dia memang tidak melirik kami. Pandangannya tetap ke depan dengan kenderaan lumayan kencang. Dia mungkin merasa perlu agak cepat karena tadi kami sudah memberi tahu jadwal pesawat yang akan kami tunggu.

"Nchik, sepanjang jalan ini bersih dan rapi. Banyak pokok dan daunnya lebat. Tapi saya tak lihat ada sampah daun atau sampah lain di sepanjang jalan yang kita lalui ini?"

Dia menjelaskan kalau petugas kebersihan jalan raya itu bertugas sepanjang siang dan malam. Mereka bergantian menjaga kebersihan jalan. Begitu dia memberi penjelasan.

"Tapi dari tadi kami tak melihat ada petugas yang sedang bekerja? Bagaimana mau bekerja kalau kendaraan begini banyak di jalan ini?" tanya saya lagi.

Akhirnya dia menjelaskan bahwa petugas ini bekerja umumnya malam hari. "Saat kendaraan tidak terlalu padat," jelasnya. Tapi jika mereka akan bekerja siang begini juga bisa. Mereka menyapu jalan ini tidak lagi pakai sapu tangan. Mereka menggunakan lori yang langsung menyedot sampah-sampah itu. Jadi kita tahu itu petugas kebersihan maka kita pun harus hati-hati.

Saya masih memberikan pujian kepada sopir ini. Saya mengatakan kalau Singapura dikatakan aman dan nyaman. Lalu dia menjawab agak merendah. "Negeri kami ini kecil, Pak. Pulaunya kecil sahaja," katanya. dia menambahkan kalau kita naik kendaraan dari ujung ke ujung hanya perlu waktu satu jam saja. Kira-kira begitu dia memberi penjelasan. "Kalau Batam memang lebih besar dan susah diurus," katanya.

Saya terkejut menyebut Batam. Apakah karena dia tahu kota madya di Provinsi Kepri itu memang agak kotor berbanding Sinmgapura atau karena dia selalu mendengar Batam tidak begitu aman? Entahlah. Yang pasti, di negeri kita memang pulau-pulaunya sangat besar dan luas. Tentu saja sangat berbeda tingjkat kesulitan mengurusnya.

Karimun saja yang mungkin tidak terlalu besar, masih belum mampu menjadi daerah yang bersih, teratur dan rapi. Kendaraan, walaupun belum sebanyak di Batam apalagi Singapura, tapi sudah mulai semraut membuat macet jalan. Sampah-sampah juga berserakan di banyak tempat. Sangat berbeda dengan Singapura. Tapi sopir ini tetap merendah bahwa Singapura mudah diurus kaena memang daerahnya kecil. Mungkin juga, kata saya menutup catatan perjalanan ini.

Kurang lebih setengah jam kami pun sampai di bandara Changi. Kami diantarkannya ke Terminal 3, sesuai permintaan kami. Kami pun masuk ke ruangan tunggu di dalam gedung yauangng dikelilingi kaca bening itu. Hah, sejuknya di ruangan ini, kata saya dalam hati. Kami duduk di kursi tunggu, di pintu 46 Terminal 3, sesuai pesan Sabariah, adik isteri saya yang sebentar lagi akan mendarat dari Jepang sana.***

Minggu, 21 Juli 2013

Kreatif dan Inovatif Bermula dari Guru

KARKATER Kurikulum 2013 yang akan dimulai pelaksanaannya di awal Tahun Pelajaran 2013 ini adalah adanya tuntutan siswa yang kreatif dan inovatif dalam setiap pembelajaran. Kurikulum baru ini akan berjalan dengan baik jika para peserta didiknya memiliki sikap kreatif dan inovatif dalam proses pembelajaran yang dilaksanakan guru. Begitu disampaikan oleh para pemegang kebijakan di Kementerian Pendidikan Nasional setiap membicarakan kurikulum 2013.

Akankah proses pembelajaran yang menggunakan Kurikulum 2013 oleh kurang lebih 6.500-an sekolah (untuk sementara) di seluruh Indonesia di awal Juli ini akan benar-benar berjalan sesuai rencana? Belum ada yang menjaminnya. Apalagi hanya sebagian kecil guru saja baru yang pernah mengikuti pelatihan implementasi Kurikulum 2013. Bahkan guru-guru yang sekolahnya akan melaksanakan kurikulum ini saja masih ada yang belum berkesempatan mengikuti pelatihan.

Bagaimanapun, semuanya akan ditentukan oleh guru itu sendiri. Kurikulum apapun yang akan diterapkan, memang guru pengampu Mata Pelajaran itulah nantinya yang akan menentukan berhasil-tidaknya. Guru dengan segala kekurangan dan kelebihannya akan sangat berperan menentukan sekali, apakah pembelajaran dengan kurikulum baru ini sesuai rencana.

Sesungguhnya guru adalah sosok yang ditunggu dan diharapkan menyukseskan pelaksanaan kurikulum baru ini. Itu berarti kreativitas dan inovatifitas yang diharapkan dimiliki para peserta didik nanti akan sangat ditentukan pula sejauh mana guru memiliki kreasi dan inovasi. Gurulah yang sebenarnya harus kreatif dan inovatif terlebih dahulu dalam melaksanakan proses pembelajaran.

Seorang guru yang kreatif tentu tidak akan khawatir dengan berbagai kendala yang mungkin menghadang di hadapan. Fungsi dan tanggung jawab guru yang diberi tugas utama untuk mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, dst (psl 1 UU No 14/ 2005)  jelas sudah dipahami guru. Guru kreatif akan mengerti apa dan bagaimana mempersiapkan diri menghadapi tugas dan fungsi yang begitu berat.

Maka tiada keraguan sedikit pun bahwa kreatif dan inovatif peserta didik akan sangat ditentukan oleh kreativitas dan inovativitas guru itu sendiri. Artinya, kreatif dan inovatif itu memang harus bermula dari guru sendiri. Jika guru memilikinya maka peserta didik pun akan dapat melakukannya. ***

Jumat, 12 Juli 2013

Pengalaman Buruk juga Baik

SAYA tidak pernah berpikir dan tidak pernah juga menduga kalau siang  ini saya hampir saja mengalami kejadian (nasib) naas dan menakutkan. Ini pengalaman buruk dalam hidup saya. Syukurnya pengalaman buruk itu tidak sampai terjadi dan saya sangat yakin, itu atas izin Yang Maha Kuasa juga.

Kisahnya, ketika sekitar pukul 14.00 WIB siang Jumat (12/ 07/ 13) tadi saya baru saja kembali dari Bank Mandiri, Tanjungbalai Karimun. Saya baru saja menyetor tabungan di Bank plat merah itu lalu berniat mau pulang ke rumah di Wonosari, Meral. Sesampainya di depan Mapolres Karimun saya melihat lampu trafficlight di depan sana berwarna hijau. Saya memperkirakan saya bisa mengejar lampu hijau itu untuk terus berjalan menuju rumah tanpa menunggu karena lampu merah. Saya harus belok ke kanan di simpang tiga di bawah SMA Negeri 2 Karimun.

Dengan keyakinan tinggi saya memecut scutter merah saya dengan kecepatan lumayan tinggi. Jarak yang menurut saya kurang lebih 100-an meter dari posisi saya ke lampu pengatur lalu-lintas itu, mungkin bisa saya kejar. Persis sampai di batas zebracros lampu merah, lampu merahnya menyala. Di seberang sana sebenarnya kendaraan belum ada yang bergerak. Biasanya masih menunggu beberapa detik baru menyala lampu hijau. Jika saya memaksa berjalan terus, sebenarnya masih aman. Dan saya berniat akan jalan terus.

Tapi dari depan itu ada satu kendaraan bermotor, seorang lelaki datang dengan kencang, lurus menuju arah Tanjunglai Karimun. Sepertinya dia menerobos lampu dari seberang sana. Kendaraan lain belum ada yang bergerak tapi dia langsung tancap gas ke arah jalan saya. Jika saya memaksa meneruskan vespa saya untuk menuju ke arah kanan jalan itu, kemungkin akan terjadi tabrakan saya dengan pengendara motor itu. Akhirnya saya rem secara mendadak di batas garis itu. Saya tidak berani meneruskan perjalanan vespa saya.

Sedetik berikutnya kenderaan roda empat melaju kencang di sebelah kiri saya berdiri. Pick up itu menerobos lampu yang sudah menyala merah sejak beberapa detik lalu. Saya hanya merasa kesal saja karena kendaraan di belakang saya justeru dapat berjalan terus semantara saya harus berhenti karena adanya sebuah motor yang sepertinya juga menerobos lampu dari arah berlawanan tadi.

Sambil menunggu lampu kembali hijau, seorang teman, Ahmad yang juga berhenti di lampu merah menegur saya dengan mimik sangat risau. Saya mendengar dia malah mengucapkan kalimat, "Hampir naas, Bapak," katanya. Dia menyebut mobil yang baru saja lewat di sebelah kiri saya tadi.

"Kenapa?" tanya saya sedikit bingung. Saya melihat mobil merah tadi itu hanya melaju kencang untuk mengejar lampu merah yang sudah menyala. Saya memang kesal karena dia berhasil menerobos lampu merah sementara saya tidak bisa karena adanya motor lelaki tadi.

"Hampir saja mobil tadi melindas Bapak," katanya mengulang. "Kalau dia tidak banting seddikit ke kiri, mungkin Bapak akan ditabraknya," tambahnya lagi. Barulah saya mengerti maksudnya. Orang-orang lain pun memandang saya dengan pandangan sedih. Saya yang tadinya belum mengerti, kini tersadar kalau saya tadi memang berhenti mendadak karena lampu merah itu. Boleh jadi mobil angkutan barang itu memang mengikuti saya tadinya ingin mengejar lampu hijau dari jauh. Dan ketika saya mendadak berhenti, tentu saja mobil itu tampak oleh orang yang di belakang membanting setirnya ke kiri untuk mengelakkan saya.

Kini saya benar-benar sadar. Boleh jadi, kalau mobil itu benar-benr menabrak saya karena tidak mampu mengelakkannya, pastilah saya akan diseretnya hingga beberapa meter ke depan. Dapat dibayangkan, jika nyawa saya masih tersisa, otomatis saya akan dibawa orang ke rumah sakit. Waduh, itu pastilah kejadian terburuk yang akan saya alami. Tapi, alhamdulillah, Allah masih melindungi saya. Hari Jumat seperti ini, saya percaya ini juga atas inayah dan perlindungan Allah itu tidak sampai terjadi. Pengalaman buruk ini berarti tetap ada nilai baiknya buat saya. Yang paling penting, menerobos lampu merah memang tidak baik. Jika memaksakan juga menerobos lampu merah, suatu saat akan terjadi kecelakaan itu. Ya, Allah terima kasih Engkau telah melindungi hamba-Mu dari kemungkinan musibah itu.***

Minggu, 07 Juli 2013

Dorongan Menulis Guru

DI ERA digital seperti sekarang, kemudahan menyimpan dan membawa tulisan dan bahan bacaan begitu sangat mudahnya. Dengan modal laptop atau notebook bahan bacaan dan karya tulis seberapa banyak pun dengan mudah dapat dibawa-bawa kemanapun kita mau. Begitu pula dengan konsef (draf) tulisan dapat dibuat dan disimpan dengan mudah.


Seorang guru yang merasa dituntut untuk senantiasa membaca dan menulis karena memang menjadi kewajiban untuk mengembangkan budaya membaca dan menulis tentu saja akan kesulitan jika masih menggunakan fasilitas model dulu (kertas). Untuk menghasilkan sebuah tulisan (walaupun pendek sekalipun) tetap saja memerlukan waktu yang tidak sekali jadi. Terkadang tetap diperlukan konsep atau draf tertentu dan harus dibuat berulang-ulang. Nah, dengan fasilitas komputer plus internet maka sangat terasa sekali kemudahan dalam mengembangkan budaya membaca dan menulis.

Lalu apa yang diperlukan agar seorang guru terus-menerus mengembangkan budaya membaca dan menulis? Hal pokok dari semua hal yang pokok adalah motivasi dari diri sendiri. Motivasi atau dorongan adalah dasar dan akan menjadi kunci keberhasilan seorang guru dalam mengembangkan budaya membaca dan menulis. Seorang guru yang notabene akan mengembangkan budaya membaca dan menulis kepada peserta didiknya maka budaya membaca dan menulis itu haruslah dibuktikan terlebih dahulu oleh guru tersebut pada dirinya.

Tidak akan mudah guru berharap kepada muridnya untuk mau menerapkan budaya baca dan tulis pada dirinya jika si murid tidak melihat gurunya melaksanakannya terlebih dahulu. Faktor teladan ini sangatlah menentukan berhasil-tidaknya arahan atau perintah seorang guru kepada muridnya. Kegagalan pembelajaran di kelas tidak jarang terjadi karena tidak adanya motivasi peserta didik dalam melaksanakan dan mengikuti pembelajaran. Dan motivasi peserta didik akan sangat dipengaruhi oleh sejauh mana seorang guru mampu menunjukkan bahwa pekerjaan itu memang bisa dilakukan. Guru sudah membuktikannya. Itulah kuncinya.

Jadi, jelaslah bahwa yang mesti menjadi dorongan seorang guru dalam mengembangkan budaya membaca dan menulis adalah dorongan untuk membuktikannya sendiri pada diri sendiri. Guru harus terdorong untuk melakukannya demi menjadi teladan kepada peserta didiknya. Semoga kita semua mau dan mampu menjadi teladan kepada anak-didik kita. Itulah kiranya deorongan utama yang mesti ada dalam diri kita.***

Rabu, 03 Juli 2013

Demi Tanggung Jawab, Guru Tidak Libur

TERNYATA tidak semua guru menikmati liburan dengan pergi ke luar kota atau ke luar daerah. Masih ada guru, ternyata dalam masa libur semester genap ini tetap datang ke sekolah. Ada tugas dan tanggung jawab tambahan yang dipikulnya. Itu membuatnya untuk tidak pergi berlibur kemana-mana.

Saya percaya hampir di semua sekolah ada guru yang tidak dapat menikmati hari liburnya dengan melupakan sama sekali sekolah. Sejatinya hari libur bagi guru adalah hari untuk melupakan sekolah untuk sementara. Melupakan sekolah dalam pengertian berhenti dulu mengerjakan tugas-tugas berkaitan dengan sekolah. Kalaupun ada tugas-tugas berhubungan dengan sekolah, biasanya hanyalah aktivitas menyusun program pembelajaran untuk semester yang akan datang. Misalnya, ada guru yang sambil berlibur juga mempersiapkan bahan-bahan pembelajaran untuk semester baru nanti. Ada guru yang memulai menyusun program semester, silabus atau Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).

Namun sebagian besar guru akan menggunakan waktu libur untuk pergi berlibur ke luar kota atau ke luar daerah. Bersama keluarga atau orang-orang tercinta, biasanya guru mengisi waktu untuk bersenang-senang menjelang masuk sekolah kembali nanti. Tapi apakah semuanya pergi?

Ternyata tidak. Masih ada guru yang tetap saja pergi ke sekolah setiap hari dalam masa libur ini. Lalu apa yang membuat mereka tetap ke sekolah di hari libur? Ada beberapa tugas dan tanggung jawab yang diberikan Kepala Sekolah kepada guru tertentu ini. Pertama, bisa sebagai panitia penerimaan peserta didik baru (PPDB) yang masa tugasnya sering bersamaan dengan hari libur. Itulah sebabnya Kepala Sekolah akan memilih ketua dan anggota PPDB itu adalah para guru yang tidak akan pergi ke luar kota/ daerah. Kalaupun ada kebijakan Dinas Pendidikan untuk melaksanakan penerimaan siswa baru ini pada hari sekolah (seperti di Dinas Pendidikan Kabupaten Karimun) dengan maksud agar hari libur guru bisa berlibur, ternyata para panitia ini tetap saja harus datang ke sekolah pada hari libur. Hal ini disebabkan banyaknya tugas persiapan menjelang masuk nanti.

Kedua, bisa juga karena guru tersebut sekaligus sebagai Wakil Kepala Sekolah yang khusus menangani proses pembelajaran (seperti Wakasek Kurikulum) misalnya. Guru dengan tugas tambahan mengurus kurikulum pasti akan bertugas berat dalam mempersiapkan pembelajaran di semester baru nanti. Itu hanya akan lancar dan mudah dikerjakan pada saat hari libur. Ketika para guru lain dan siswa berlibur, saat itulah kesempatan yang baik buatnya melaksanakan tugas tambahan itu.

Tentu masih banyak tugas dan tanggung jawab lain yang terkadang membuat seorang guru tidak dapat menikmati hari liburnya seperti rekan-rekan lain yang tidak ada tugas tambahannya. Yang jelas, ternyata tidak semua guru yang dapat menikmati hari libur dalam arti melupakan sekolah sama sekali. Bagi guru-guru seperti ini, liburnya memang hanya di sekolah saja. Semoga mereka-mereka ini akan menjadi guru yang sukses dan menikmati tugas dan tanggung jawabnya. Hanya itu yang akan membuat rasa tenang dan senang dalam keseharian. ***

Senin, 01 Juli 2013

Indahnya Berorganisasi Sosial

TIDAK semua teman-teman guru mau ikut melibatkan diri di organisasi di luar profesi. Terkadang berorganisasi di luar tugas-tugas wajib dapat menambah waktu kerja. Itu tidak akan menyenangkan jika tidak mampu mengelolanya dengan baik. Sebagai guru, sebenarnya sudah cukup banyak waktu tersita untuk sekolah. Bagaimana akan ikut organisasi lain yang juga memerlukan waktu dan tenaga?



Sebenarnya tidak hanya tenaga yang diperlukan dalam berorganisasi di luar profesi. Terkadang malah juga memerlukan pengorbanan perasaan dan keuangan. Jangankan mendapatkan upah, malah materi sendiri harus dikeluarkan dalam menjalankan organisasi. Tentu saja maksudnya adalah organisasi sosial dan kemasyarakatan.

Di luar tugas-tugas sebagai guru, sebenarnya pahlawan tanpa tanda jasa itu berkesempatan mengikuti organisasi sosial lain selain organisasi profesi seperti PGRI (Persatuan Guru Republik Indonesia). Guru bisa berkecimpung di kepramukaan, organisasi keagamaan, dean organisasi sosial kemasyarakatan lainnya. Guru juga bisa menjadi perangkat desa atau kampung seperti Ketua RT/ RW.

Persoalannya, tidak selalu mudah mengikuti dan melaksanakan fungsi-fungsi organisasi sambil tetap menjaga profesi sebagai guru. Unrtuk tugas-tugas di luar profesi itu artinya diperlukan pula waktu bekerja di luar jam kerja sebagai guru. Makanya tidak selalu ada guru yang melakukannya. Tapi bagi guru yang merasakan indahnya berorganisasi, bisa saja dia menyisihkan waktunya untuk ikut melibatkan diri di orgnasiasi sosial seperti itu.

Seorang guru yang menyukai kegiatan keagamaan (sebagai pendakwah, mengajar mengaji, medngurus mesji, mengurus majelis taklim, dll) pasti akan mampu menyisihkan waktunya untuk mkenunaikan tugas-tugas tambahan itu. Di sinilah seorang guru akan menerapkan kompetensi sosial yang merupakan sal;ah satu kompetensi yang wajib dimiliki seorang guru. Guru yang baik akan berusaha menyisihkan waktu luangnya untuk melaksanakan tugas-tugas sosial kemasyarakatan tersebut.

Untuk itu, sudah saatnya rekan-rekan guru berusaha untuk menyisihkan waktunya demi tugas-tugas sosial di luar tugas-tugas keguruan. Cara pandang lama yang menaganggap fungsi-fungsi sosial itu tidak menjadi tanggung jawab guru, haruslah dibuang jauh-jauh. Dengan itulah para guru baru akan merasakan indahnya berorganisasi.***
 
Copyright © 2016 koncopelangkin.com Shared By by NARNO, S.KOM 081372242221.