BREAKING NEWS

Minggu, 28 April 2013

UN 2013 Memang Layak Dibatalkan

BUKAN karena latah dan bukan pula karena sakit hati. Ujian Nasional (UN), khususnya untuk SMA/ MA dan SMK yang dilaksanakan dari tanggal 15 hingga 18 April lalu itu memang layak dibatalkan saja. Sekali lagi pernyataan ini muncul dari pikiran bukan karena perasaan dan karena begitu banyaknya masyarakat yang memprotes pelaksanaan UN Tahun 2013 ini.
Dari sisi jadwal memang sudah terjadi pelanggaran waktu oleh panitia. Tapi panitia jelas disebabkan oleh keputusan Pemerintah juga yang menunda pelaksanaan UN untuk beberapa provinsi. Penyebab ditundanya pelaksanaan UN di beberapa provinsi itu adalah karena tidak tuntasnya pendistribusian soal UN seut-marutsuai batas waktu yang ditentukan. Akibatnya sudah sama diketahui, pelaksanaan UN menjadi kacau-balau dan amburadul sedemikian rupa.


Di beberapa kabupaten untuk beberapa provinsi yang distribusi soalnya terlambat itu harus melaksanakan UN yang mestinya hari pertama (15/ 04) menjadi hari Jumat (19/ 04). Artinya UN hari pertama itu menjadi terlambat beberapa hari berbanding pelaksanaan UN di provinsi lainnya. Kalaupun Pemerintah mengatakan tidak akan ada kebocoran akibat ketidaksamaan jadwal itu, terbukti masalah kebocoran tahun tetap saja terjadi. Pakai soal yang berbeda untuk setiap siswa dalam satu ruangan, ternyata tidak mengurangi tingkat kecurangan dalam UN.

Sebenarnya carut-marut pendistribusian soal itu adalah satu hal sementara kecurangan dalam pelaksanaan UN di beberapa sekolah adalah hal lain. Artinya pelaksanaan UN di tahun 2013 ini benar-benar tidak layak dipertahankan. UN 2013 ini adalah UN yang paling jelek dan tidak pantas untuk dipertahankan. Kekukuhan Mendikbud, M. Nuh untuk mengatakan UN tetap sah dan tidak perlu dibatalkan, itu semata karena ego saja. Sebab, jika dia mau jujur atas ketidakkonsistenan pelaksanaan UN, seharusnya dia segera membnatalkan saja UN ini.

Untuk kelulusan peserta didik dari satuan pendidikan sejatinya diserahkan saja ke sekolah-sekolah. Dengan cara seperti itu justeru pihak sekolah akan lebih terbuka terhadap kenyataan yang ada di sekolahnya. Tingkat kejujuran pihak sekolah akan lebih baik dari pada memaksakan kelulusan dengan kriteria nilai UN yang pelaksanaannya amburadul begitu.  

Jadi, sudah selayaknya UN tahun dibatalkan saja oleh Pemerintah dan kelulusan peserta didik serahkan saja ke pihak sekolah. Dengan itu, muka Pemerintah (Mendikbud) tidak terlalu dipermalukan. Semoga!***

Jumat, 26 April 2013

Perpisahan yang Salah Kaprah, Tanggung Jawab Siapa?


PASCA Ujian Nasional (UN) lazimnya ada satu kegiatan yang sepertinya sudah menjadi kegiatan rutin yang wajib di setiap sekolah. Wajib dilaksanakan oleh sekolah terutama oleh para peserta didik kelas akhir yang baru saja menuntaskan ujian akhir di satuan pendidikannya. Itulah acara perpisahan atau disebut juga acara 'pelepasan' siswa kelas akhir. Benarkah acara perpisahan itu wajib? Dan apakah sudah benar pelaksanaannya?

Semalam (Kamis, 25/ 04/ 13) adalah acara perpisahan siswa kelas XII di sekolah tempat saya mengabdi, SMA Negeri 3 Karimun. Pada jam dan hari yang sama juga diadakan acara yang sama oleh SMA Negeri 4 Karimun di tempat yang berbeda, tentunya. Dan mungkin ada belasan atau ratusan sekolah mengadakannya di tempat lainnya di Tanah Air ini. Tiba-tiba saja saya teringat kembali memori acara yang sama di salah satu sekolah lainnya, di kabupaten ini juga setahun yang lalu. Kebetulan saya ikut (diundang) dalam acara itu. Acara itu sangat berkesan dalam pikiran saya karena ada yang salah menurut pendapat saya.


Ingatan yang kembali muncul di benak saya itu adalah acara perpisahan yang sepertinya lebih tepat sebagai acara 'hura-hura siswa kelas tiga' yang merasa sudah terlepas dari beban berat yang bernama UN itu. Karena UN adalah satu tahap ujian yang telah membuat beban berat di badan dan di pikiran peserta didik maka mereka sepertinya mencari pelampiasan emosi pasca ujian berat itu. Selain momen pengumuman kelulusan yang mereka aplikasikan dengan coret-coretan pakaian, acara pelepasan alias perpisahan ternyata juga mereka jadikan kesempatan untuk meluahkan perasaan yang tertekan. Ini tentu saja menjadi salah kaprah jadinya. Perpisahan tidak harus menjadi ajang hura-hura pelampiasan perasaan.

Saya melihat waktu itu, kebanyakan para siswa di sekolah itu menjadikan acara perpisahan yang seharusnya khidmat dan sakral menjadi acara tempat bersenang-ria yang cenderung melupakan makna sebenarnya dari kegiatan acara perpisahan itu sendiri. Acara perpisahan seharusnya adalah kegiatan yang memperkokoh hubunbgan komunikasi antara pihak sekolah dengan orang tua yang sudah terjalin selama tiga atau enam tahunan. Di bawah koordinasi pengurus komite sekolah selama tiga tahun para orang tua siswa kelas IX (SLTP), kelas XII (SLTA) atau bahkan koordinasi enam tahunan untuk siswakelas VI (SD) telah terjalin dengan baik.

Pada acara perpisahan ini biasanya akan disampaikan review komunikasi tiga-enam tahunan itu. Inilah pertemuan terakhir secara resmi antara pihak sekolah dengan orang tua yang telah berjalan dengan baik selama ini. Biasanya pihak sekolah kembali akan mengulas secara ringkas kemajuan dan kendala yang dihadapi sekolah. Sementara perwakilan orang tua biasanya menyampaikan rasa terima kasih atas telah dididik dan dibimbingnya putra-putri mereka.

Bagi para peserta didik yang akan pergi (meninggalkan sekolah karena sudah lulus dan akan pergi melanjutkan study di tempat lain) juga akan menggunakan kesempatan ini sebagai penyampai rasa terima kasih secara resmi di hadapan orang tua dan guru-gurunya. Jika ada pihak Dianas Pendidikan atau pejabat lain yang ikut hadir (diundang) mereka juga akan berkesempatan memberi sambutan dan wejangan. Jadi, acaranya sebenarnya begitu akan khidmat dan sakralnya. Di acara salam-salaman bahkan akan ada tangisan haru antara anak-anak yang akan pergi dengan para guru yang akan mereka tinggalkan. Di situlah puncak haru hubungan emosional antara guru dan peserta didik.

Maka ketika ada tradisi peserta didik yang menjadikan acara perpisahan sebagai acara pelepasan rasa tertekan gara-gara ujian, di sinilah salah kaprah akan timbul. Bayangkan jika dalam acara perpisahan ada peserta didik (siswa yang akan pergi) berjoget-ria dan berjingkrak-jingkrak dengan hentakan irama music saat acara hiburan, apakah kekhidmatan acara perpisahan masih ada? Ini sangat tidak baik karena sebenarnya acara perpisahan bukan acara hiburan. Kalaupun ada bagian hiburannya, seyogyanya hiburan itu juga disesuaikan dengan nuansa acara yang seharusnya lebih mengharukan dari pada menggembirakan.

Salah kaprah ini kemungkinannya ada banyak terjadi di banyak sekolah. Tentu saja kesalahan ini tidak terjadi karena kesalahan sepenuhnya pada peserta didik atau panitia acara. Sekolah sebagai penyelenggara adalah pihak yang paling bertanggung jawab. Maka kepada para guru atau panitia pelaksana perpisahan sudah seharusnya memperhatikan masalah ini. Jika ada indikasi kesalahan setting acara disebabkan panitia atau sekolah, maka tentu saja Kepala Sekolahn yang wajib mengawasinya. Kepala Sekolah jangan membiarkannya. Tapi jika kesalahan itu hanya ada pada tataran siswa saja maka panitia atau guru harus meluruskannya. Kebiasaan buruk sebagian siswa yang cenderung larut oleh riang-gembira yang berlebihan pada saat acara perpisahan hendaklah diubah. Itu harusnya menjadi tanggung jawab semua, termasuk anak itu sendiri.***

Selasa, 23 April 2013

UN Harus Terus Dilaksanakan

AMBURADULNYA pelaksanaan UN (Ujian Nasional) Tahun 2013 ini telah menjadi diskusi berkepanjangan di mana-mana. Koran mengulas, majalah ikut membahas dan televisi pun menjadikan UN sebagai materi perdebatan antar pakar. Seperti pada malam (Selasa, 23/04/13) ini, sebuah televisi swasta Nasional menjadikan UN sebagai materi diskusi dalam acara ILC (Indonbesian Lawyear Club).


Yang menarik buat saya dalam diskusi antara para pakar, pejabat dan bahkan mantan pejabat itu adalah adanya pro kontrra antara dilaksanakan atau dihapuskannya UN. Yang tidak menyetujui memandang UN sebagai sesuatu yang hanya menimbulkan masalah. Gara UN banyak para peserta didik yang stres. Bahkan dikatakan juga kalau yang stres tidak hanya anak-didik tapi juga guru, orang tua dan Kepala Sekolah. bednarkah?

Tapi yang pro menganggap UN harus tetap dilaksanakan. Dari banyak yang menyetujui UN dilaksanakan terdapat seorang tokoh Nasional, Jusuf Kalla (JK). Dia adalah seorang tokoh yang juga mantan Wakil Presdian. Ternyata Pak JK sangat kokoh pada pendiriannya kalau UN harus tetap dilaksanakan. Dengan UN akan terukur seperti apa mutu pendidikan bangsa ini. Tentu saja dengan syarat UN harus dilaksanakan dengan baik dan benar. Harus jujur dan bertanggung jawab.

Saat ini amburadul pelaksanaan UN memang disebabkan oleh tidak terpenuhinya pendistribusian soal UN sesuai waktu yang ditetapkan. Akibatnya ada sekolah yang dapat melaksanakan UN tepat waktu yang ditentukan dan ada pula yang tidak dapat melaksanakan tepat waktu. Dan akibat kekacauan inilah kembali timbul isyu bahwa UN tidak layak dilaksanakan.

Namun demikian, menurut saya UN harus tetap dilaksanakan asal sesuai aturan yang benar. Jangan gara-gara kekeliruan dan kesalahan teknis lalu UN dibatalkan. Itu tidak tepat. Jadi, UN sebaiknya memang harus terus dilaksanakan.***

Jumat, 19 April 2013

Habis UN, Belajarlah Terus

ANGGAPAN bahwa sehabis UN (Ujian Nasional) boleh santai dan berleha-leha, sebenarnya adalah pandangan yang salah. Para siswa kelas XII yang baru saja melewati peperangan berat dan saat ini hasilnya belum diketahui, sebaiknya tidak menjadikan sisa waktu menjelang pengumuman sebagai hari libur panjang. Boleh berlibur dalam arti tidak berlebih-lebihan.



Libur berlebih-lebihan maksudnya dengan mengisi waktu untuk perbuatan dan tindakan yang dapat merugikan. Misalnya, begadang setiap malam. Itu dapat mendatangkan penyakit. Atau sengaja mengisi waktu berhari-hari keluar rumah tanpa diketahui orang tua kemana perginya. Ini juga akan merugikan dan menimbulkan masalah bagi keluarga. Orang tua atau keluarga akan risau karena tidak mengetahui kemana kita pergi.

Sejatinya, sisa waktu menjelang pengumuman diisi juga dengan kegiatan positif seperti tetap belajar atau menambah wawasan pengetahuan, misalnya. Kita bisa membaca buku, majalah, koran atau menonton televisi yang bermanfaat. Bahkan kalau perlu mengikuti kursus atau belajar tambahan sesuai minat yang sudah kita targetkan untuk melanjutkan kuliah jika kelak lulus UN. Bukankah setiap siswa sudah mempunyai rencana untuk kuliah jika lulus? Dan tentu saja rencana kuliahnya sudah ada pilihan sesuai minat atau kemampuan. Nah, alangkah baiknya waktu-waktu menjelang pengumuman ini dipakai untuk menambah pengetahuan yang sesuai dengan rencana pilihan itu.

Beberapa siswa yang ternyata lebih banyak menggunakan waktunya untuk bermain saja, dapat dipastikan nanti akan menyesal. Waktu yang berlalu itu tidak akan pernah kembali lagi. Alangkah baiknya belajar, belajhar dan belajar. Bahkan jika nanti tidak lulus, ketika akan mengulang kembali, ilmu pengetahuan tambahan itu pun akan berguna. Jadi, mari diisi waktu kosong ini dengan belajar terus.***

Kamis, 11 April 2013

Hari Tenang Bukanlah Hari Libur, Anakku


TIGA hari menjelang UN (Ujian Nasional) lazimnya ada kebijakan sekolah untuk meliburkan siswa/ wi kelas akhir calon peserta UN. Tahun 2013 misalnya, UN SMA/ MA/ SMK (kelas XII) akan berlangsung dari hari Senin (15/ 04) hingga Kamis (18/ 04). Sementara untuk SMP/ MTs (kelas IX) akan dilaksanakan sepekan berikutnya. Maka untuk kelas XII mulai hari Kamis (11/ 04) ini tidak lagi masuk kelas untuk belajar seperti biasa.

Kepada seluruh siswa/ wi kelas XII sesuai kebijakan Dinas Pendidikan Kabupaten diliburkan selama tiga hari hingga hari dari hari Kamis (11/ 04) hingga Sabtu (13/ 04) nanti. Mereka akan bertarung dalam UN yang akan menentukan kelanjutan pendidikan mereka pada hari Senin lusanya. Jika mereka lulus, mereka akan berkesempatan melanjutkan pendidikan ke Perguruan Tinggi (PT) atau bekerja sesuai ijazah yang akan mereka terima. Tapi jika tidak lulus, mereka harus mengulang kembali di kelas XII setahun lagi atau langsung ikut ujian kesetaraan (paket C) tahun depan juga.

Tidak masuk sekolah tiga hari menjelang UN sesungguhnya bukanlah libur dalam pengertian tidak memikirkan dan atau mempersiapkan diri menghadapi UN. Karena UN-nya sendiri belum dilalui maka sebenarnya tidak masuk sekolah menjelang UN harus diartikan sebagai hari tenang untuk fokus mempersiapkan diri menghadapi UN itu sendiri. Hari tenang mestilah dimanfaatkan oleh calon peserta UN untuk bersiap diri lebih matang dan dengan perasaan tenang.

Hari tenang yang sengaja diberikan kepada setiap calon peserta UN sama sekali tidak dapat disebut sebagai hari libur. Hari libur selalu bermakna libur segala-galanya bagi siswa. Mereka akan libur belajar, libur membuka buku dan libur memikirkan sekolah. Padahal selama hari tenang justeru mereka dituntut untuk lebih konsentrasi dan bersungguh-sungguh dalam penguasaan materi pelajaran. Apalagi ujian tahun ini sama sekali berbeda dengan ujian tahun-tahun sebelumnya.

UN tahun 2013 ini setiap siswa akan mendapatkan satu soal yang berbeda dengan siswa lainnya. Jika dalam satu ruang ujian terdapat 20 orang siswa maka akan terdapat 20 paket soal yang berbeda antara satu dengan lainnya. Tidak ada lagi soal yang sama. Sehingga tidak ada lagi kesempatan untuk saling mencontek antara satu siswa dengan siswa lainnya. Hanya dengan bekerja sendiri saja seorang siswa akan sukses mengerjakan soal UN tersebut.

Oleh karena itu diharapkan kepada para siswa, manfaatkanlah hari tenang ini dengan sebaik-baiknya demi kesuksesan UN nanti. Jangan menyalahgunakan hari tenang menjadi hari libur yang cenderung membuat para siswa melupakan segala-galanya. Bayangkan jika para siswa asyik bermain saja menjelang datangnya UN nanti. UN-nya masih empat hari lagi. Dari pada menyesal nanti lebih baik menyesal sekarang. Jangan lagi waktu yang tiga- empat hari ini hanya dipakai untuk bermain-main saja. “Hari tenang bukanlah hari libur, anakku!” 

Justeru membuat hari tenang menjadi hari yang bermanfaat demi kesiapan menghadapi UN jauh lebih baik dan lebih penting. Sekali lagi, dari pada menyesal kemudian yang tidak akan ada guananya lebih baik menyesal dari sekarang saja. Dengan demikian akan ada kesadaran untuk mempersiapkan diri menghadapi UN. Ok, selamat menghadapi UN 2013; semoga sukses dan meraih nilai yang memuaskan.***

Jumat, 05 April 2013

MTQ, Menuju Mimpi Bupati

MULAI hari ini, Selasa (2/ 03) hingga Ahad (7/ 03) nanti Kabupaten Karimun, Kepri akan melaksanakan gawe penting. Gawe ini oleh Bupati Karimun, Nurdin Basirun dikatakan sabagai kegiatan sangat penting. Dari enam kali kegiatan yang sama sejak terbentuknya Kabupaten Karimun 13 tahun silam inilah saat kegiatan ini disebut benar-benar bernilai istimewa. Itulah MTQ VII 2013. Pada kegiatan MTQ (Musabaqah Tilatil Quran) ke-7 tahun 2013 ini bupati memang mempunyai obsesi khusus: diraihnya juara umum untuk ketiga kali secara berturut-turut.

Sebenarnya tahun ganjil adalah tahun paleksanaan STQ (Seleksi Tilawatil Quran)  bukan MTQ.  MTQ Tingkat Kabupaten Karimun 2013 ini seharusnya hanya setingkat STQ saja. Seperti sudah diketahui bahwa perbedaan MTQ dengan STQ adalah pada cabang lomba yang diadakan. MTQ melombakan semua cabang yang ada dalam MTQ seperti cabang Tilawah (tartil, tilawah anak-anak, remaja dan dewasa), cabang Hifzil Quran (1-5 juz/ tilawah, 10 dan 20 juz), cabang Tafsir Quran (Arab dan Inggeris), cabang Fahmil, Syarhil,  dan Khattil Quran serta beberapa cabang lainnya. Sementara pada STQ hanya ada tilawah anak-anak, dewasa dan hifzil quran saja. Jadi, MTQ jauh lebih komplit perlombaannya.

Dilaksanakannya MTQ tahun ini oleh Pemda Karimun memang mempunyai maksud penting. Hal itu disebabkan pada tahun 2014 (tahun MTQ) nanti Kabupaten Karimun akan menjadi tuan rumah MTQ Tingkat Provinsi Kepri. Sejak tahun 2003 inilah Karimun pertama kali mendapat giliran menjadi tuan rumah MTQ setingkat provinsi. Sepuluh tahun lalu itu ketika Karimun masih bersama Provinsi Riau, Karimun memang menjadi tuan rumah MTQ setingkat provinsi untuk pertama kali. Tapi bukan di Provinsi Kepri. Waktu itu belum ada Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) ini. MTQ Provinsi 2014 nanti adalah MTQ pertama buat kabupaten dengan moto ‘kabupaten berazam’ itu.

Pentingnya MTQ tahun ini adalah untuk persiapan MTQ tahun depan itu. Bupati Karimun mempunyai obsesi meraih juara umum MTQ Provinsi untuk tiga kali berturut-turut. Dengan demikian piala bergilir Gubernur Kepri yang sudah diraih dua kali berturut-turut yakni pada MTQ Provinsi Kepri sebelumnya (tahun 2012 di Bintan dan 2010 di Batam) dapat dipertahankan kembali di Karimun tahun depan. Apalagi Karimun akan menjadi tuan rumah. Di tempat lain saja bisa meraih juara umum, tidakkah bisa di rumah sendiri? Itulah obsesi bupati yang memang sangat konsen dengan kegiatan keagamaan ini.

Beberapa kali bupati dalam pengarahannya selalu mengingatkan dan menyampaikan harapannya agar mimpi kita menjadi juara umum tiga kali berturut-turut ini dapat diwujudkan. Jangan sampai momen menjadi tuan rumah tahun depan itu hilang begitu saja. Bupati, Nurdin Basirun ingin sekali kesempatan baik ini menjadi kenyataan yakni suksesnya pelaksanaan MTQ Provinsi itu nanti. Sukses sebagai pelaksana dan sukses pula menjadi juara. Begitu dia terus-menerus memompa motivasi masyarakat Karimun.

Mengapa begitu bergairahnya ‘bupati rakyat’ itu ingin meraih kembali juara umum? Inilah jawaban Pak Bupati:  “Saya mau membuat patung (monument) piala juara umum sebagai peringatan keberhasilan rakyat Karimun di bidang alquran,” katanya beberapa kali. Dia benar-benar ingin mimpi itu menjadi nyata tahun depan ketika Karimun berkesempatan menjadi tuan rumah. Oleh karena itu, pelaksanaan MTQ Tingkat Kabupaten 2013 ini adalah MTQ yang sangat penting dalam rangka persiapan meraih mimpi itu.

UNTUK mewujudkan mimpi memang tidak akan selalu mudah. Tapi bermimpi dan berkeinginan meraih mimpi adalah suatu keniscayaan buat orang yang berpengharapan. Ketika seorang bupati bermimpi  (baca: bervisi) akan membuat monument bersejarah sebagai peringatan keberhasilan rakyatnya dalam  pembangunan sosial kemasyarakatan,  misalnya itu adalah sesuatu yang baik dan mulia. Bupati adalah panutan rakyat di kabupatennya. Bupati adalah puncak perencana, pengatur dan pelaksana program pembangunan dalam mewujudkan kesejahteraan masyarakatnya. Jika bupati berkeinginan membangun bukti keberhasilannya dalam bentuk monument,  itu bukanlah sesuatu yang berlebihan.

Begitulah  Bupati Karimun, Nurdin Basirun. Saat ini, di waktu ini dia mempunyai pendaman visi yang ingin diwujudkan. Di paroh periode kedua kepemimpinannya bersama Wakil Bupati, Aunur Rafiq dia ingin meninggalkan kenangan manis yang tidak boleh dilupakan dalam sejarah perkembangan dan kemajuan kabupaten yang relatif baru ini. Dia akan membangun sebuah monument alquran sebagai lambang kejayaan masyarakat Karimun yang dia pimpin selama dua periode (2006- 2011 dan 2011-2016) yang maju pesat dalam pembinaan dan pengembangan alquran.

Digelarnya MTQ Tingkat Kabupaten pada tahun ganjil 2013 adalah langkah strategis bupati untuk meraih mimpinya itu. Jika Karimun tetap melaksanakan STQ sesuai kebiasaan dan periode yang sudah ditentukan, sementara tahun depan kabupaten ini akan menjadi tuan rumah MTQ Tingkat Provinsi maka jelas itu  akan menyulitkan dalam persiapan. Sebagai tuan rumah, Karimun ingin sukses menjadi tuan rumah dalam makna pelaksanaannya berjalan lancar dan aman tapi juga sukses dalam makna mampu meraih prestasi maksimal dalam MTQ itu nanti.

Meraih prestasi artinya mampu kembali mendominasi kejuaraan sehingga predikat juara umum tetap di genggaman sebagaimana dua periode MTQ Provinsi sebelumnya. Jika itu mampu diraih (dipertahankan) artinya Karimun akan menjadi kabupaten pertama meraih juara umum tiga kali berturut-turut. Sesuai ketentuan piala bergilir gubernur yang diperebutkan di setiap even MTQ Tingkat Provinsi akan menjadi piala tetap dan menjadi milik kabupaten berazam ini.

Saat itulah bupati bermaksud mengabadikan piala bergilir itu dalam reflika monument alquran yang menggambarkan bentuk piala bergilir itu sendiri di lokasi strategis yang setiap saat dapat disaksikan masyarakat. Kononnya bupati akan membangun monument juara umum itu di lokasi Costal Area yang saat ini sudah menjadi lokasi wisata masyarakat Karimun. Monumen Piala yang dibuat berukuran besar itu nantinya akan menjadi pelengkap pemandangan berlatar belakang masjid nan megah –seperti saat ini-- jika dilihat dari laut.

MTQ yang akan berlangsung dalam satu pekan ini, hari ini (Jumat, 05.04.13) sudah akan memasuki hari keempat sejak dibuka secara resmi oleh bupati, Selasa lalu. Walaupun pembukaan resminya dilaksanakan Selasa malam itu namun rangkaian acara MTQ sudah dimulai sejak pagi harinya yang diawali dengan acara Pelantikan Dewan Hakim oleh bupati. Pada siang harinya dilaksanakan pembukaan bazar secara resmi dan sore hari pada hari yang sama diadakan pula Pawai Takruf oleh 12 Kecamatan peserta MTQ se-Kabupaten Karimun.

Setelah pembukaan resmi pada malam harinya dengan berbagai atraksi dan penampilan seni bernuansa Islami, hari Rabu paginya dimulailah kegiatan MTQ dengan cabang Tartil dan Tilawah anak-anak. Pada hari yang sama tapi di tempat berbeda, dilangsungkan pula MTQ cabang hifzil quran. Kalau tilawah alquran dilaksanakan di astaka utama maka cabang hifzil quran dilaksanakan di masjid Nuruddin Sawang, Kundur Barat. Pada hari Kamis (esoknya) dilangsungkan pula cabang Fahmil, Syarhil dan Khattil quran. Masing-masing di tempat yang sudah ditentukan panitia. Diharapkan menjelang hari Sabtu besok semua cabang yang melibatkan hampir 300 orang peserta lomba itu akan selesai. Lalu ditutup pada Ahad (07/ 04) malam dengan menyampaikan para juara di setiap cabang oleh panitia.

Hasil-hasil lomba itulah yang nanti akan dibina lebih lanjut. Beberapa orang juara untuk beberapa cabang akan diikutkan dalam STQ Tingkat Provinsi di Tanjungpinang, Juni 2013 ini. Sementara para juara untuk cabang lainnya hanya akan diberi pembinaan sebagai persiapan MTQ Tingkat Provinsi 2014 yang rencana pelaksanaannya di Karimun itu. Saat itulah sesungguhnya lomba sebenarnya yang diharapkan bupati menghasilkan juara-juara terbaik sekaligus menjadi juara umum provinsi. Dengan dasar juara umum untuk ketiga kali itu pula monument alquran akan didirikan. Dan jika monument itu sudah didirikan, itulah bukti keberhasilan masyarakat Karimun dalam membina dan mengembangkan alquran. Tentu saja pengamalan isi dan kandungan alquran tidak akan diabaikan.***
 
Copyright © 2016 koncopelangkin.com Shared By by NARNO, S.KOM 081372242221.