BREAKING NEWS

Sabtu, 23 Maret 2013

Jujur di US Mudah di UN

ADA dua manfaat yang dapat dipetik dari pelaksanaan US (Ujian Sekolah) yang di Kabupaten Karimun untuk SMA/ MA/ SMK sudah berlangsung sejak hari Senin (18/ 03) lalu. Pertama adalah untuk mendapatkan nilai terbaik sebagai penambah nilai rata-rata rapor sebagai dasar mendapatkan Nilai Sekolah (NS). NS sendiri adalah salah satu komponen nilai yang akan menjadi penentu kelulusan dalam UN nanti. Manfaat kedua adalah untuk melatih siswa agar bekerja jujur, sportif dan mandiri dalam menyelesaikan soal-soal yang ada.
Untuk manfaat pertama adalah bahwa hasil kerja siswa dalam US ini nanti akan mempengaruhi NS yang menjadi komponen nilai penentu kelulusan. NS didapatkan dari 40 persen nilai rata-rata rapor (semester 3, 4 dan 5) ditambah 60 persen nilai US ini. Berapa pun hasilnya maka itu akan menjadi nilai penentu kelulusan yang disebut dengan NS (Nilai Sekolah). NS yang didapatkan ini nantinya akan diambil 40 persen lagi dan ditambah 60 persen dari UN yang akan berlangsung medio April nanti.

Jika para siswa mampu memperoleh nilai lebih baik (di atas angka 7, misalnya) setelah nilai rapor digabung dengan nilai US ini maka untuk nilai UN nanti sudah tidak perlu terlalu tinggi. Seumpama 40 persen dari angka 7 itu berarti sudah mendapatkan nilai 2,8. Untuk mendapatkan nilai 5,5 sebagai syarat kelulusan tinggal mencari nilai 2,7 saja. Jika dalam UN mampu mendapatkan nilai angka 4,5 saja maka itu sudah besar kemungkinan akan lulus sebab 60 persen dari angka 4,5 sudah lebih dari 2,7 dengan catatan tidak ada nilai di bawah angka 4,0.

Namun yang juga penting untuk diperhatikan selama US itu adalah bagaimana peserta US mampu bekerja secara jujur, sportif dan mandiri. Bekerja secara mandiri tanpa mencontek jawaban temannya inilah manfaat utama yang wajib dipetik. Ini penting karena dalam UN nanti tidak akan ada lagi kesempatan mencontek antar peserta mengingat paket soal yang berbeda untuk setiap orang dalam satu ruang. Dari 20 orang (maksimal) peserta yang ada dalam satu ruang ujian, mereka akan mendapat paket soal yang berbeda antara satu dengan lkainnya. Bahkan lembar jawaban setiap soal sudah diberi kode khusus yang sama dengan soal untuk setiap peserta.

Dengan keadaan demikian maka kunci keberhasilan UN nanti salah satunya dapat dilihat dari pelaksanaan US ini. Peserta yang dapat melaksanakan US dengan baik dan benar dalam pengertian bahwa mereka telah mengikutinya dengan penuh kejujuran tanpa merasa harus bergantung kepada pihak lain maka besar kemungkinan dalam UN nanti pun mereka akan sukses juga. Jadi, sukses dalam US insyaallah akan sukses juga dalam UN nanti. Semoga.***

Minggu, 17 Maret 2013

Subsidi BBM Sejatinya untuk Pendidikan

GONJANG-ganjing perlu tidaknya mencabut subsidi BBM (Bahan Bakar Minyak) terus bergulir. Berita pro-kontra tentang itu selalu muncul. Satu pihak menginginkan subsidi BBM dicabut karena dianggap sudah tidak tepat. Subsidi itu dikatakan lebih banyak dinikmati oleh orang-orang yang seharusnya tidak menerima: orang-orang kaya. Konon, 80 persen BBM bersubsidi dinikmati oleh para pejabat (politisi dan birokrasi) yang ekonominya menengah ke atas.

Alasannya jelas karena para orang kaya itulah yang memiliki kendaraan roda empat. Satu keluarga bahkan bisa memiliki lebih dari satu mobil. Belum lagi mobil-mobil para pejabat itu adalah mobil dengan cc yang besar. Pasti saja penggunaan BBM-nya sangat boros. Selain itu, dengan subsidi BBM tarif listrik juga tidak terlalu mahal karena juga mendapat subsidi. Sementara daya listrik yang tinggi itu ada di rumah-rumah orang-orang kaya dan pejabat itu. Rumah mereka ber-AC yang tentu saja menyedot tenaga listrik sangat besar. Bandingkan dengan rumah-rumah rakyat miskin.

Karena keadaan seperti itulah para penentang subsidi BBM berkesimpulan kalau subsidi itu tidak tepat sasaran. Rakyat jelata hanya menerima sedikit sekali dari subsidi itu. Oleh karena itu, sudah saatnya subsidi BBM dicabut saja. Jika akan membantu rakyat, harus diubah caranya. Harus ada mekanisme yang tepat agar subsidi itu tidak dinikmati oleh orang-orang yang mampu.

Selain yang kontra subsidi, ternyata masih banyak pula yang meminta agar subsidi BBM tetap diberlakukan seperti saat ini. Rakyat sangat berharap dengan subsidi itu. Rakyat tidak kuat membeli BBM tanpa subsidi. Yang kuat menyuarakan agar subsidi tetap dipertahankan itu adalah para politisi yang konon membela kepentingan rakyat. Secara kasat mata, para politisi dari partai yang berseberangan dengan pemerintah selalu terdengar menentang dicabutnya subsidi. Benarkah itu demi rakyat? Atau sebenarnya demi mempertahankan harga murah yang terus dapat mereka nikmati?

Pemerintah sendiri, dengan alasan tidak mendapat persetujuan dari anggota DPR, cnderung pula mempertahankan subsidi seperti yang sekarang ada. Padahal sesungguhnya alasan tidak berani menaikkan harga BBM adalah karena khawatir tidak populer di mata rakyat. Pemilu 2014 adalah alasan yang sebenarnya mengapa pemerintah tidak berani mencabut subsidi BBM. Mereka takut partainya tidak akan dipilih rakyat lagi nantinya.

Jika saja pemerintah dan para pejabat itu tahu bahwa sebenarnya rakyat sudah duluan mencabut subsidi BBM tentunya mereka akan terkejut. Datanglah ke daerah-daerah yang penyaluran BBM (terutama premium) dibatasi. Apa yang terjadi? Rakyat malah membeli minyak jauh lebih mahal.

Di Karimun misalnya, SPBU hanya dibuka dari pukul 07.00 hingga 17.00. SPBU hanya ada satu saja. Pengisiannya pula hanya satu-satu (kiri-kanan) saja. Sehingga jumlah kendaraan yang mampu terlayani hanya dalam jumlah terbatas saja. Maka terjadilah antrian panjang yang berkepanjangan. Setiap hari tetap antrian kendaraannya akan mengular karena berebut ingin mendapatkan minyak.

Celakanya, yang ikut antri itu ternyata  para pedagang jalanan yang menjual minyaknya kembali dengan harga dua kali lebih mahal. Mereka akan menangguk untung karena cadangan minyak di SPBU juga dibatasi. Dalam setiap pekan selalu ada masa-masa kosong minyak di pangkalan itu. Pada saat itulah mereka akan panen. Mereka tidak khawatir menjual harga dengan sangat mahal. Satu liter mereka jual Rp 10.000 (sepuluh ribu ruoiah). Padahal di SPBU mereka hanya membeli dengan harga Rp 4.500  (empat ribu lima ratus rupiah) saja.

Dua hari atau tiga dalam sepekan minyak akan putus di SPBU. Maka rakyat harus membeli premium jalanan itu. Di situlah sesungguhnya subsidi BBM itu sudah tercabut secara tidak langsung. Malah harganya jauh lebih mahal dari rencana pemerintah yang hanya Rp 6.000 (enam ribu rupiah). Tidakkah lebih baik subsidi itu dicabut saja? Dengan itu sisa harga itu bisa dikembalikan ke rakyat dalam bentuk lain seperti bidang pendidikan dan kesehatan. Dua bidang ini sangat penting bagi rakyat namun terkadang tidak dapat dijangkau oleh rakyat.

Rakyat miskin masih kesulitan untuk sekolah walaupun anggaran pendidikan katanya sudah besar. Begitu pula untuk membeli dan keperluan kesehatan lainnya. Tidakkah duit subsidi itu lebih baik dikembalikan ke mereka yang membutuhkan?***

Jumat, 15 Maret 2013

Merasa Tak Ada Waktu untuk Menulis

TERNYATA kesulitan menulis seorang guru tidak benar-benar karena tidak mengerti bagaimana menulis itu sendiri. Dalam satu perdebatan dengan para guru, mereka mengatakan, "Tak ada waktu untuk menulis." Kalimat itu terlontar dalam rapat rutin bulanan di sekolah hari Kamis (14/ 03) lalu. Benarkah?
Saya melemparkan ide agar setiap guru menulis setiap hari. Ide ini tentu saja karena niat agar guru terbiasa menulis. Kata peribahasa, "Alah bisa karena biasa." Dan harus diingat, bukankah setiap guru akan terkena peraturan wajib menulis bila ingin naik pangkat? Dan salah satu penghambat guru untuk naik pangkat selama ini adalah karena guru tidak bisa membuat karya tulis yang bernilai angka kredit.

Guru memang membuat perangkat pembelajaran. Mulai dari menyusun silabus, menyusun program tahunan dan semesteran sampai kepada menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) serta instrumen evaluasi, tapi ternyata kewajiban menyusun perangkat pembelajaran ini tidak berpengaruh kepada kemampuan menulis seorang guru. Guru tetap saja tidak bisa membuat karya ilmiah (makalah, PTK dll) misalnya. Apalagi kebanyakan guru menyusun perangkat KBM-nya dengan cara mengopi saja perangkat guru lain.

Saat ini diperkirakan para guru yang bergelongan IV A sudah ribuan yang tertahan di golongan itu karena tidak mampu menyusun karya ilmiah seperti Penelitian Tindakan Kelas (PTK) itu, misalnya. Bahkan ada guru yang sudah putus asa dan membiarkan saja status golongannya itu dalam waktu yang sangat lama. Padahal dalam peraturan kenaikan pangkat yang baru, tidak hanya pegawai bvergolongan IV/a saja yang wajib menulis. Dari golongan III/ C saja guru sudah terkena kewajiban membuat karya tulis.

Atas dasar kenyataan seperti itulah saya mencoba menyampaikan ide paling sederhana agar guru mencoba menulis setiap hari walaupun dengan tulisan yang sangat pendek. Katakanlah hanya menulis dalam satu kalimat atau satu paragraf saja setiap hari. Yang penting adalah rutinitas menulis itu sendiri. Jangan takut salah tulisan yang dibuat.

Guru bisa menuliskan apa saja. Seperti ketika mengisi status di akun facebook, dengan hanya mengungkapkan perasaan saja, seseorang bisa membuat satu kalimat atau beberapa kalimat di status facebooknya. Kira-kira tulisan-tulisan seperti itulah yang saya usulkan dalam rapat itu. Tapi hampir semua guru mengatakan tidak bisa karena tidak ada waktu. Habis mengajar guru harus mengurus keluarga (anak, isteri/ suami, dll) sehingga tidak ada kesempatan untuk menuliskan apa yang terasa.

Sesungguhnya perasaan tidak ada waktu untuk menulis, hanyalah perasaan yang berlebihan saja. Dalam 24 jam kehidupan, dipotong masa tidur sebenarnya pasti ada waktu dan kesempatan untuk mengungkapkan perasaan atau pikiran ke dalam tulisan. Ketika mengajar, kita merasa ada masalah maka tuliskanlah masalah itu ke dalam sebuah atau beberapa kalimat yang dapat mengungkapkan masalah kita itu. Ketika di rumah, di pasar, di jalan atau di mana saja sebenarnya ada banyak perasaan atau pikiran yang dapat diungkapkan. Ungkapkanlah itu ke dalam tulisan.

Jadi, tugas pertama seorang guru untuk berlatih menulis adalah dengan cara menghapus perasan 'tak ada waktu untuk menulis' itu dalam kehidupannya. Jangan biarkan perasaan itu menguasai diri kita sehingga kita benar-benar merasa tidak mempunyai kesempatan sedikit pun untuk mengungkapkan perasaan dan atau pikiran kita dalam bentuk tulisan.  Sangat mustahil guru tidak mempunyai kesempatan kalau hanya untuk membuat satu kalimat atau satu paragraf tulisan.

Dari kebiasaan membuat tulisan pendek itulah kelak akan lahir kemauan dan kemampuan untuk membuat tulisan yang lebih panjang. Dan saat itulah seorang guru akan merasa bisa membuat karya tulis yang dibutuhkan untuk kenaikan pangkatnya. Jika pun tidak untuk kenaikan pangkat, menyampaikan ide-ide segar saja kepada para pembaca itu sudah merupakan perbuatan mulia dari seorang guru. Selamat mencoba. Semoga bisa. ***

Minggu, 10 Maret 2013

UN, Meluruskan bukan Meluluskan

TUGAS berat guru dalam menghadapi dan mempersiapkan peserta didik untuk UN (Ujian Nasional) sebenarnya bukanlah bagaimana meluluskan mereka dalam UN. Untuk membuat mereka lulus dalam UN yang setiap tahun dihadapi sekolah sesungguhnya sudah ada langkah dan caranya. Sekolah mempunyai program dan para komponen sekolah (pendidik dan tenaga kependidikan) sebagai pelaksana melaksanakannya.
Lalu apa tugas berat guru? Dalam situasi dan tradisi 'berebut' lulus seperti yang sekarang ini terjadi, tugas berat yang sebenarnya bagi guru adalah bagaimana meluruskan cara kelulusan itu sendiri. Bahwa siswa, guru dan sekolah berharap peserta UN dapat lulus seluruhnya itu adalah hal yang lazim. Tidak ada sekolah yang menginginkan anak-didiknya gagal dalam UN. UN 2013 yang akan dilaksanakan medio April  nanti pun sekolah akan mempunyai presepsi yang sama: bagaimana peserta didiknya lulus dalam UN.

Masalahnya adalah munculnya fenomena keinginan lulus yang kebablasan. Lulus UN menjadi satu-satunya tujuan dalam pelaksanaan UN. Karena keinginan yang terkadang di luar kewajaran itulah timbulnya tindakan yang terkadang menyalahi aturan. Kejujuran tidak jarang digadaikan. Kecurangan diperdagangkan.

Banyak kasus kecurangan dalam UN terjadi. Ada peserta yang saling bertanya dan memberi jawaban dalam UN. Ada pula guru atau pengawas ujian yang memberi jawaban kepada peserta ujian. Yang lebih celaka malah ada Kepala Sekolah membuat tim penjawab soal-soal UN untuk nanti didistribusikan ke ruang-ruang ujian. Bukankah ini sudah kebablasan?

Pokok pangkal dan penyebab itu terjadi tidak lain karena salahnya pemahaman tentang kelulusan. Karena menganggap setiap peserta UN wajib lulus maka segala cara pun dilakukan. Padahal kelulusan hanyalah hak atau diperuntukkan bagi peserta yang memenuhi syarat kelulusan. Dan syarat kelulusan tidak hanya memperoleh nilai sama atau lebih tinggi dari pada batas minimal angka kelulusan. Tapi juga disyaratkan bahwa ujian itu berlangsung dengan jujur, efektif dan sesuai aturan.

Jika dalam ujian telah terjadi kecurangan, yaitu dengan bocornya soal-soal ujian oleh pihak sekolah, atau tersebab saling bertanya dan memberi jawban dalam melaksanakan ujian antar peserta UN maka itu berarti syarat kejujuran tidak terpenuhi. Artinya peserta UN yang melakukan kecurangan mestinya tidak bisa diluluskan.

Nah pemaksaan lulus tanpa memenuhi syarat itulah disebut keinginan lulus yang kebablasan. Anehnya kebablasan tidak sekedar dimiliki peserta didik tapi juga oleh sekolah dan orang tua. Seolah-olah semua orang tidak mengerti pada peraturan dan ketentuan ujian.

Itulah sesungguhnya tugas berat guru dan sekolah dalam menghadapi dan mempersiapkan UN. Bagaimana guru, Kepala Sekolah dan orang tua (termasuk masyarakat) kembali meluruskan cara pandang dalam menghadapi dan melaksanakan UN. Jangan lagi sekedar lulus UN tapi bagaimana lulus dengan kejujuran. Tentu ini bukan tugas ringan. Bisakah? Mari kita coba menjelang UN yang sudah di ambang pintu.***

Jumat, 08 Maret 2013

Guru Menyenangkan, Bisakah?

SETIAP guru pasti ingin menjadi guru yang menyenangkan. Tidak saja menyenangkan bagi kerabat-keluarga tapi lebih-lebih tentu saja bagi anak didiknya. Jika dilengkapi dengan menyenangkan bagi masyarakat, wow pastilah ini yang sangat didambakan para pendidik yang sering disebut sebagai pahlawan tanpa tanda jasa.
Menjadi guru yang menyenangkan, khususnya di depan anak-anak di sekolah ternyata tidak semudah membayangkannya. Di satu sisi para guru ingin melaksanakan fungsi dan tugasnya sesuai dengan peraturan namun di sisi lain itu terkadang tidak jarang berbenturan dengan selera dan kebiasaan anak didik yang tidak terlalu suka kepada guru yang terlalu disiplin dengan peraturan. Guru yang ketat dengan peraturan, sering cenderung juga akan kaku dan tidak suka dengan kebiasaan siswa yang cenderung bermain-main.

Dalam situasi seperti ini akan sulit memutuskan, memilih kokoh dengan penerapan disiplin ketat atau memberi kelonggaran kepada anak didik. Tentu saja kedua-duanya memiliki implikasi berbeda juga. Bertahan dengan gaya keras dan tegas demi peraturan dan tata tertib tentu akan menyebabkan para siswa yang lebih menyukai kelonggaran akan menolak. Resistensi mereka bisa mengganggu proses pembelajarannya sendiri. Sebaliknya jika memberi kelonggaran tanpa garis panduan tentu akan merusak dan mengacaukan target pembelajaran yang direncanakan.

Sesungguhnya menjadi dan berusaha menjadi guru menyenangkan sejatinya tidak harus mempertentangkan antara perlu-tidaknya menerapkan tata aturan yang sudah menjadi tatanan. Pada hakikatnya, peraturan dan tata tertib yang sudah menjadi ketentuan di sebuah sekolah tidak akan menimbulkan permasalahan selama penerapan peraturan itu dilaksanakan dengan baik dan benar. Tidak perlu ketakutan akan terjadinya penolakan siswa jika guru melaksanakan tata peraturan yang ada. Tidak juga akan sampai membuat peserta didik benci dan dendam kepada guru.

Guru menyenangkan tetap dapat diwujudkan jika seorang guru mampu menjadikan anak didiknya menjadi manusia yang merasa menghargai dirinya. Memotivasi siswa dengan cara benar akan membuat mereka kagum dan menyenangi gurunya. Membuat anak didik merasa mendapat perhatian dari gurunya juga akan memupuk rasa kagum siswa kepada guru. Tata tertib sekolah tetap dapat diterapkan tanpa para siswa merasa dikecilkan. Beban dan tanggung jawab yang dipikulkan kepada mereka tanpa mereka merasa direndahkan, akan membuat mereka juga akan menyenangi guru.

Jadi, utnuk menjadi guru menyenangkan bagi anak-didik bukanlah sesuatu yang tidak dapat diwujudkan oleh seorang guru. Guru biasa berprestasi luar biasa selalu bermula dari guru yang mampu menyejukkan anak didiknya. itulah guru yang menyenangkan. Semoga!***

Senin, 04 Maret 2013

Menanti Komunitas Menulis Guru

BAHWA mengembangkan budaya membaca dan menulis adalah salah satu kewajiban guru sebenarnya semua guru sudah tahu. Ketentuan itu sudah tertuang dalam salah satu perinsip pengembangan pembelajaran pada saat menyusun perangkat pembelajaran. Setiap guru wajib memasukkan pengembangan membaca dan menulis ini dalam setiap pengelolaan pembelajarannya.

 Dulu, ada pandangan yang salah perihal keharusan membaca dan menulis di sekolah. Seolah-olah membaca dan menulis hanyalah kewajiban guru Mata Pelajaran (MP) Bahasa (Indonesia dan Inggeris) saja. Dan kenyataannya tidak demikian. Pemerintah, melalui Permendiknas sudah menegaskan bahwa kewajiban mengembangkan budaya membaca dan menulis itu adalah kewajiban semua guru. Apapun MP yang diampuh seorang guru, dia berkewajiban untuk men gembang budaya membaca dan menulis.

Pertanyaan pokok tentu saja, sudahkah guru itu sendiri membuktikan bahwa dirinya memang berbudaya membaca dan berbudaya menulis? Inilah sesungguhnya problem beratnya. Mengapa? Karena ternyata dari fakta yang kita lihat dan ada di lapangan, bukan saja peserta didik yang tidak berbudaya membaca dan menulis tapi juga guru. Hanya sebgaian kecil guru yang terbiasa mengoleksi dan membaca buku-buku (pelajaran dan non pelajarn) dalam keseharian. Malah hampir semua guru tidak berlangganan koran sebagai bukti keharusan membaca setiap hari, misalnya.

Perihal menulis, malah lebih parah lagi. Begitu susahnya mencari guru yang menjadikan kebiasaan menulis sebagi kebiasaan sehari-hari. Di luar menulis perangkat KBM hampir pasti kalau sebagian besar guru tidak lagi menulis apa-apa. Lebih menyedihkan, itu tidak hanya menimpa guru non bahasa tapi juga guru-guru yang mengampu MP Bahasa pun juga tidak terbiasa menulis. Guru benar-benar malas (tak bisa) menulis.

Kini saatnya para guru memulai. Kebutuhan kenaikan pangkat dengan menunjukkan hasil karya tulis adalah salah satu faktor penting yang harus menjadi alasan. Tidak ada jalan untuk naik pangkat begitu saja bagi seorang guru tanpa berkemampuan menulis. Jadi, inilah saatnya kita para guru untuk membuat semacam persatuan atau komunitas yang akan berguna dalam pengembangan budaya menulis dan membaca di kalangan kita. Setiap sekolah seharusnya membentuk komunitas menulis di samping forum semacam MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran) yang memang sudah eksis di sekolah. MGMP sendiri khusus yang berkaitan dengan MP masing-masing guru sementara komunitas kepenulisan ini lebih kepada tulis-menulisnya.

Dengan terbentuknya komunitas menulis di setiap sekolah atau sekurang-kurangnya di setiap UPTD (Kecamatan) maka akan mudah bagi setiap guru yang ingin mengembangkan kreativitas menulisnya. Wadah ini akan berguna untuk saling mengisi dan saling memberi antara satu guru dengan guru lainnya dalam mengembangkan dan membina kreativitas menulis. Semoga.***

Jumat, 01 Maret 2013

Menulis itu Seperti Bermain Tenis Meja

BUAT siapa saja yang tidak terbiasa menulis pasti merasakan menulis itu sangat susah. Terasa berat sekali. Jangankan menyusun kalimat dalam satu halaman, untuk membuat satu paragraf saja begitu terasa sulitnya. Itu yang selalu dikatakan teman-teman kalau berbicara perihal membuat karya tulis. Pada umumnya menyimpulkan kalau menulis itu memang berat.
Saya setuju pada awalnya kalau menulis itu memang berat. Tapi belakangan rasanya pendapat itu mulai terasa tidak tepat seluruhnya. Sekarang, jika pun saya belum bisa menjadi penulis terkenal dengan menghasilkan banyak buku yang diterbitkan oleh penerbit-penerbit terkenal tapi rasanya membuat karya tulis sudah sedikit terasa ringan. Sekurang-kurangnya sebuah tulisan atau catatan pendek setiap harinya dapat saya buat. Minimal juga untuk dibaca sendiri.

Saya teringat seorang teman yang pintar dan hebat bermain tenis meja. Sesungguhnya saya tidak terlalu suka melihat permainan ini. Tapi itu sekian belas tahun yang lalu. Saya ingat betul kata-kata teman saya itu. "Kalau bermain tenis itu hanya tergantung pembiasaan saja." Katanya bermain tenis meja itu tidak sama dengan bermain sepakbola atau gulat, misalnya. Kalau untuk menjadi pemain sepakbola disamping bakat juga perlu pisik yang memadai. Tidak bisa menjadi pemain sepakbola yang hebat jika pisiknya tidak mendukung. Apalagi mau menjadi pegulat. Itu katanya waktu itu.

Kalau untuk menjadi pemain tenis meja, menurut rekan saya itu cukup rajin berlatih saja. Terus latihan dan latihan terus. Pagi, sore atau kalau perlu malam juga latihan. Jika sudah terbiasa berlatih maka seseorang akan bisa menjadi pemain tenis meja. Dia sendiri mengatakan kalau dia bisa main dan sering menang dalam beberapa pertandingan hanyalah karena faktor kebiasaan saja. Jadi, harus terus membiasakan bermain.

Berkaitan dengan kemampuan menulis, saya malah yakin juga sama dengan bermain tenis meja itu. Sejak di PGA, ketika saya sangat suka dan kagum kepada guru Bahasa Indonesia saya dan dia selalu memberi pujian terhadap karya-karya tulis kami, saya terus bersemangat berlatih menulis. "Jangan-jangan karena kebiasaan menulis itu pula, sekarang saya mulai merasa bisa menulis." Kalau begitu, benar kata-kata teman saya dulu kalau ingin menjadi pemain tenis meja, harus terus bermain tenis meja. Menulis pun rasa-rasanya juga sama.***
 
Copyright © 2016 koncopelangkin.com Shared By by NARNO, S.KOM 081372242221.