BREAKING NEWS

Rabu, 27 Februari 2013

Kurikulum 2013: Menanti Guru Kreatif-Inovatif

SEPERTINYA Kemdikbud tidak akan surut. Rencana memberlakukan kurikulum 2013 sudah bulat walau masih akan bertahap. Beberapa kali Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Muhammad Nuh menegaskan kalau kurikulum itu akan diberlakukan pada awal tahun pelajaran baru, 2013/ 2014 nanti. Tinggal lima bulan lagi, berarti.
Di tengah pro kontra yang belum reda, sosialisasi terus berjalan. Wakil Mendikbud, Musliar Kasim sudah berkelana ke beberapa kabupaten di beberapa provinsi di Tanah Air. Di setiap tempat dia cenderung mempromosikan kurikulum itu dari pada menjelaskan. Seperti ketika dia berkunjung ke Kabupaten Karimun beberapa waktu lalu, sepertinya dia lebih kepada meminta dukungan guru --untuk diberlakukan-- dari pada mencerahkan guru berkaitan kurikulum baru itu. Apakah karena masih ada penolakan dari beberapa pihak? Pak Wamenlah yang tahu.

Sampai saat ini sebagian besar guru, terutama di daerah-daerah belum juga memahami benar esensi kurikulum yang katanya penyempurnaan dari kurikulum KTSP yang saat ini masih berlaku. Pemberlakuannya sendiri juga akan bertahap: kelas 1 dan 4 (di SD), kelas 7 (SLTP) dan kelas 10 (SLTA) akan dilaksanakan pada awal Juli 2013 nanti. Tahun berikutnya naik ke kelas di atasnya. Artinya diperlukan tiga tahun untuk berlaku secara keseluruhan dari kelas rendah hingga kelas akhir.

Jika kurikulum 2013 benar-benar akan mengarahkan peserta didik untuk menjadi anak-anak yang kreatif, inovatif dan berkarakter, seperti selalu didengung-dengungkan Mendikbud maka inilah sesungguhnya tugas berat guru. Guru harus memikirkan strategi yang tepat untuk mewujudkan harapan itu. Tentu saja itu tidak akan mudah.

Sebagian informasi yang diterima guru saat ini bahwa untuk melaksanakan kurikulum baru ini nantinya sebagian besar perangkat pembelajaran yang selama ini harus dikerjakan guru, nanti tidak perlu lagi guru yang mengerjakannya. Seumpama silabus yang selama ini menjadi momok bagi guru yang cenderung malas, nanti sudah tidak perlu lagi disusun guru. Semuanya sudah dipersiapkan dari kementerian. Buku-buku ajar pun nantinya akan disiapkan Pemerintah. Sekolah-sekolah tinggal melaksanakannya saja.

Di sinilah kekhawatiran muncul. Akankah model 'serba ada' ini akan melahirkan guru-guru kreatif dan inovatif sebagaimana target yang diharapkan kepada peserta didik? Bukankah untuk melahirkan anak-anak yang kreatif dan inovatif justeru mesti dimulai dari dan oleh para guru yang kreatif dan inovatif juga?

Dengan kurikulum KTSP yang menjadikan otonomi sekolah dan guru sebagai salah satu perinsip, terbukti tidak banyak lahir guru-guru kreatif dan inovatif lalu bagaimana dengan kurikulum yang serba disiapkan ini akan melahirkan guru-guru kreatif dan inovatif? Bagaimanapun, kita tetap berharap dan menanti lahirnya guru-guru kreatif dan inovatif untuk melaksanakan kurikulum baru ini. ***

Senin, 25 Februari 2013

Pramuka Bukan MP Wajib tapi Eskul Wajib

BEBERAPA kali Wakil Bupati Karimun, H. Aunur Rafiq menyebut kalau gerakan pramuka akan masuk kurikulum mulai tahun 2013 yang akan berlaku mulai awal tahun pelajaran baru 2013-2014. Memberi sambutan pengarahan dalam acara pembukaan Rakercab (Rapat Kerja Cabang) Kwartir Cabang (Kwarcab) Gerakan Pramuka Karimun hari Sabu (23/ 02) di Gedung Nasional Tanjungbalai Karimun, Ketua Kwarcab Pramuka Karimun itu ingin memberi penekanan kalau gerakan pramuka ke depan akan semakin penting.
Sebagai Kakwarcab dua periode berturut-turut, Pak Aunur Rafiq ingin gerakan pramuka lebih maju lagi di kabupaten berazam ini. Selama ini aktivitas kepramukaan di lingkungan Kwarcab Karimun cukup menonjol. Diantara enam Kwarcab yang ada di Kwarda (Kwartir Daerah/ Provinsi) Kepri, Kwarcab Karimun selalu mendapat penghargaan sebagai kwarcab tergiat. Beberapa orang andalan cabang dan rantingnya pernah diutus ke berbagai kegiatan kepramukaan berskala Nasional bahkan Internasional.

Rakercab yang berlangsung selama dua hari (Sabtu- Ahad) itu sesungguhnya adalah kegiatan rutin tahunan di setiap Kwarcab di seluruh Indonesia. Setiap akan memasuki tahun baru, Kwarcab Karimun tetap melaksanakan  Rakercab ini. Tapi Rakercab tahun ini dianggap penting karena bertepatan dengan wacana dan rencana Pemerintah (Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan) untuk menjadikan kegiatan kepramukaan sebagai eskul (ekstrakurikuler) wajib di setiap satuan pendidikan.

Sebagaimana beberapa kali Menteri Pendidikan dan Kebudayaan menjelaskan bahwa pramuka akan dijadikan eskul wajib. Jika sebelumnya kegiatan kepramukaan adalah atas inisiatif sekolah dan sekolah boleh melaksanakan dan boleh juga tidak maka mulai tahun pelajaran baru (Juli 2013) ini pramuka sudah menjadi eskul wajib.

Terakhir dapat kita ikuti, seperti dirilis Kompas.com (24/02/13),  "Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Mohammad Nuh menegaskan bahwa Pramuka akan menjadi kegiatan ekstrakurikuler wajib untuk siswa sekolah dasar (SD), bukan mata pelajaran wajib. Pemerintah memiliki alasan yang kuat untuk menjadikan Pramuka sebagai salah satu ekskul wajib," katanya. Tentu saja selain di SD kegiatan kepramukaan akan dilaksanakan juga di SLTP dan SLTA sesuai tingkat di kepramukaan.

Satu hal yang harus dipahami adalah bahwa pramuka bukanlah sebagai sebuah Mata Pelajaran (MP) baru. Kegiatan ini tetap hanya sebgai kegiatan eskul yang merupakan kegiatan tambahan peserta didik di luar MP yang sudah ada. Bentuk dan pola kegiatannya tetaplah sama dengan kepramukaan selama ini. Bedanya hanya pada statusnya yang diwajibkan bagi setiap satuan pendidikan untuk melaksanakannya sebagai kegiatan eskul sekolah.

Pemahaman inilah yang perlu dipahami sekolah. Seperti terungkap dalam Rakercab Kwarcab Karimun itu, dalam rapat-rapat komisi dan dalam rapat pleno penyamapian hasil sidang komisi, ternyata ada peserta Rakercab yang nota bene adalah guru yang menganggap kalau eskul pramuka itu akan menjadi salah satu mata pelajaran baru dalam kurikulum 2013 nanti. Padahal tidak. Dengan jelas Mendikbud menyebut kalau pramuka bukan menjadi mata pelajaran tapi hanya sebagai eskul wajib saja.

Menurut Pak Menteri, Pramuka menjadi wajib agar kegiatan ini menjadi legal dan resmi di sekolah sebagai eskul wajib. Katanya lagi, "Dari sisi pendidikan dan kegiatan, Pramuka mengajarkan banyak nilai, mulai dari kepemimpinan, kebersamaan, sosial, kecintaan alam, hingga kemandirian."  Dan itu memang penting dan sejalan dengan misi kurikulum baru, 2013 itu. Pramuka memang sudah memiliki undang-undangnya sendiri. Jadi, kegiatan kepramukaan memang penting dan harus menjadi eskul tetap untuk semua satuan pendideikan.

Untuk menjadikan nilai-nilai kepramukaan lebih mudah diterima peserta didik, pemerintah akan diharapkan para pengurus atau pembina Pramuka untuk menambah substansi kegiatan kepramukaan di sekolahg. "Tidak hanya berupa simbol-simbol, seperti seragam Pramuka," begitu kata Pak Menteri. Itu berarti, para pembina pramuka ke depan haruslah guru pembina yang benar-benar mengerti dan mampu melaksanakan kegiatan-kegiatan kepramukaan. Dan ini jelas akan menjadi salah satu bagian dari pengembangan diri yang dapat dipilih para guru.

Yang masih menjadi persoalan adalah kurikulum baru itu sendiri. Sampai saat ini ternyata belum juga sampai dan dipahami dengan benar oleh para guru. Seperti kedudukan kegiatan pramuka itu sendiri, terbukti masih berbeda pemahaman antara satu guru dengan guru (pembina) lainnya. Belum lagi masih banyaknya para guru di Tanah Air yang meragukan bahkan menentang pemberlakuan kurikulum baru itu. Masih ada pro dan kontra di kalangan guru dan masyarakat dalam rencana pemberlakuan kurikulum 2013.

Sesungguhnya, selain ekstrakurikuler seperti Pramuka, pemerintah juga berharap untuk tetap melaksanakan kegiatan eskul lainnya seperti klub pengembangan teknologi dan bahasa, seperti klub robotik, bahasa Mandarin, PMR, UKS, kegiatan olahraga, seni dan lain-lainnya. Tentu saja sebagian eskul ini sudah dilaksanakan oleh banyak sekolah terutama yang sudah berkemampuan di bidang itu. Tapi yang jauh lebih penting tentu saja kesamaan pandangan di antara guru, lembaga pendidikan, pemerintah dan masyarakat dalam memahami eskul yang ada dalam kurikulum baru itu sendiri. Persoalannya, kurikulumnya sendiri belum juga disosialisasikan secara ril kepada guru. Hari ini --hanya empat bulan saja menjelang berlakunya kurikulum baru-- para guru terutama di daerah-daerah malah belum melihat bentuk dan struktur kurikulum itu sendiri. Akankah eskul disibukkan sementara kurikulum pokok (intra) belum juga jelas.***

Bisa juga di: http://edukasi.kompasiana.com/2013/02/25/pramuka-eskul-wajib-bukan-mp-wajib-531744.html

Minggu, 24 Februari 2013

Kisah Nyata: Menipu Penipu

TIBA-tiba isteri saya, siang Jumat (22/02/13) dua hari lalu itu terburu-buru memberikan HP (Hand Phone) kepada saya. Sambil masih tetap menjawab suara di seberang sana, isteri saya setengah berlari ke arah saya. Saya berdiri dari kursi dan mendengar dia mengatakan, "Sebentar, ini bapak." Lalu dia memberikan HP murah itu kepada saya. Itu memang HP saya yang tadi saya letakkan di kamar sementara saya duduk nonton televisi di ruang tengah.

"Ada yang menangis. Mungkin Ery atau siapa," kata isteri saya. Saya terkejut. Ery? Itu anak saya yang nomor dua. Sekarang dia memang jauh dari saya. Dia di Tanjungpinang, kuliah di Umrah (Universitas Maritim Raja Ali Haji). Cepat saya tempelkan HP itu ke telinga. Saya mendengar suara lelaki menangis seperti ketakutan. Pikiran saya memang langsung ke anak kedua saya itu. Tapi mengapa dia menangis?
Suara di seberang telpon itu terus menangis seperti ketakutan. "Ery (saya tak begitu jelas dia menyebut Ery, Egy apa Edy, gitu) lagi dapat musibah. Ini lagi sama polisi," katanya sambil terus menangis. Saya tentu saja terkejut. Ada apa? Mengapa dia? Tapi saya masih tidak begitu jelas apa omongannya. Saya terus bertanya, "Ery di mana? Ada apa? Coba jangan menangis." Saya terus minta dia diam dulu karena saya tidak terlalu jelas suaranya. Tapi dia masih tetap seperti orang ketakutan.

Kurang lebih dua menit, telpon di seberang sana diambil oleh seorang lelaki. Suaranya tegas, berjenis bas. "Bapak siapa?" tanyanya dengan nada tegas kepada saya. Belum lagi saya sempat menjawab, "Nama lengkap anak Bapak, siapa?" tanyanya lagi setengah membentak. Dalam khawatir, saya tidak langsung memberi tahu nama lengkap anak saya. Saya minta saja dia membuka dan melihat KTP atau SIM anak saya. Saya tahu, anak saya punya KTP dan SIM dalam dompetnya. Dompet itu pasti ada dalam saku celananya.

Lelaki itu justeru sedikit bersuara tinggi. "Ini di tangan saya sudah lengkap, Pak. Bapak jawab saja pertanyaan saya. Nama lengkap anak Bapak, siapa?" tanyanya lagi. Saya mulai agak ragu, apakah benar suara yang menangis tadi adalah anak saya. Ketika saya tanya, posisi mereka ada di mana, di Karimun atau di mana; lelaki itu menjawab, ya di Karimun. Saya bertambah ragu. Ery ada di Tanjungpinang. Atau anak saya Opy? Jam siang seperti itu mungkin Opy lagi di jalan. Saya suruh anak saya, Kiky melihat Opy di kamar. Ternyata anak bungsu saya itu memang ada di kamarnya.

Diam-diam, saya minta Kiky, anak saya nomor satu menelpon adiknya ke Tanjungpinang. Apakah benar Ery mendapat masalah. Ternyata Ery, ada di Tanjungpinang setelah ditelpon langsung HP-nya. Dia sedang tidur. Saya langsung yakin, penelpon ini adalah penipuan. Pasti nanti ujung-ujungnya minta duit, kata saya dalam hati. Rasa khawatir saya sudah selesai. Saya benar-benar yakin, lelaki yang berlagak anggota reserse Polres Karimun itu adalah penipu. Saya mencoba berlagak gugup menjawab setiap pertanyaannya. Dia kembali bertanya nama lengkap anak saya. Pertanyaan itu akhirnya saya jawab. "Anak saya namanya Ery Efendi," jawab saya sambil tersenyum karena saya sudah mulai membohonginya. Sungguh, nama anak saya itu bukanlah itu. Isteri saya dan anak saya ikut tersenyum.

Lalu si polisi palsu itu bertanya lagi, "Anak bapak selama ini di mana?" Saya jawab, "Biasa di rumah. Memang kenapa, dia?" tanya saya pura-pura begok. Dengan sangat meyakinkan, polisi gadungan itu menjelaskan bahwa anak saya baru saja ditangkap karena terlibat narkoba. Dia mengatakan kalau bandarnya masih tengah diburu. Belum tertangkap. Intinya si penipu itu mulai mengarah ke pertanyaan, apakah saya akan minta bantu untuk 'menutup' kasus ini. Kalau tidak, dia mengancam akan membawa anak saya ke Polres Karimun. Artinya akan diproses secara hukum. Kalau sudah diproses, anak saya bisa dihukum, dst. Lalu saya minta ke polisi itu untuk menutup saja kasusnya.

Singkat cerita, setelah berputar-putar ke mana-mana polisi gadungan itu minta uang jaminan. Untuk Kapolres, katanya. Katanya agar Kapolresnya bisa mendiamkan kasus anak saya ini. Tapi ketika saya pancing mau mengantarkan uang kontan, dia minta ditransfer saja. "Kapolres tidak mau uang kontan," katanya. Dan dalam waktu bersamaan saya mengatakan kalau saya mau ke masjid untuk melaksanakan solat jumat. Mohon selepas solat saja dilanjutkan telponnya. Tapi sang polisi gadungan itu minta segera saja ditransfer uangnya. Dia masih mencoba mengancam saya. Tapi saya katakan batery HP saya sudah low. Sebentar lagi akan mati. Mohon matikan saja dulu sampai habis solat. Dan saya mematikan HP saya. Ini benar-benar penipuan.

Tulisan ini sekedar mengingatkan, betapa penipuan melalui telpon dengan modus kecelakaan dan sejenisnya sangat marak di negeri ini. Saya teringat dua minggu sebelumnya, seorang Ibu menangis sedih karena tertipu Rp 5 juta dengan cara yang hampir sama. Seorang siswa salah satu SMA di Karimun, dikatakan oleh seseorang penelpon bahwa siswa itu baru saja mengalami kecelakaan lalu lintas. Saat itu siswa itu sedang berada di rumah sakit. Perlu segera dioperasi dan harus segera kirim uang. Nasib malang bagi ibu yang menerima telpon, dia terlanjur mentransfer uang lewat rekening penipu sesuai yang diminta. Tapi ternyata anaknya sama sekali tidak mengalami peristiwa seperti ditelpon itu.

Saya merasa bersyukur, Allah masih melindungi saya. Bayangkan, dalam situasi waktu pendek menjelang jumatan, ada telpon mengatakan anak saya ditangkap polisi karena narkoba. Tentu saja akan mudah terpengaruh jika kita tidak dalam keadaan tenang. Bagaimanapun, saya percaya lindungan dari Yang Mahakuasa telah menenangkan dan menerangkan hati saya. Saya terlepas dari penipuan. Justeru saya puas karena dapat menipunya dengan mengulur-ulur pembicaraan telpon. Kurang lebih 15 menit saya mampu mengajak penipu itu untuk berbicara di telpon. Tentu saja pulsa penipu itu lumayan terkuras. Hati-hatilah kalau ada kasus yang sama. Hanya itu pesan penting yang ingin saya katakan. ***

Kamis, 21 Februari 2013

Catatan dari Nonton Milan vs Barca


INILAH sepakbola. Siapa sangka Barca akan kalah. Kecuali fans fanatik AC Milan, semua mata tertuju ke kaki anak-anak Barca, kapan gol akan tercipta. Gocekan ala tika-tiki yang menjadi brand Barca ternyata hanya mampu mengurung lapangan tengah hingga garis serang Milan. Tapi tembok kukuh Milan justeru menimpa Barca: 2-0 untuk kekalahan Barca dalam jatah waktu 90 menit plus 5 menit waktu ekstra itu.

Senin, 18 Februari 2013

MGMP Bahasa Terbentuk

PAGI Senin (18/02/13) itu cuaca cerah. Selepas upacara bendera di sekolah masing-masing, para guru Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggeris berkumpul di ruang Perpustakaan SMA Negeri 4 Karimun. Ruang itu oleh Kepla Sekolahnya, Heni Riawaty disulap menjadi ruang pertemuan. Itu adalah pertemuan pertama para guru bahasa yang tergabung dalam Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) se-Pulau Karimun- Buru.

Berdasarkan undangan yang ditandatangani Pembina MGMP Bahasa, Heni Riawaty yang lebih dikenal sebagai Ibu Pab, pertemuan itu adalah dalam rangka pembentukan pengurus MGMP Bahasa Karimun- Buru masa bakti 2012-2013. MGMP Bahasa memang sudah tidak lagi mempunyai pengurus sejak beberapa tahun belakangan. Kegiatannya pun tidak dapat dilaksanakan. Sekolah yang menjadi anggota adalah SMA Negeri 1, 2, 3 dan 4 Karimun. MA USB Karimun dan SMA swasta Santo Yusuf dan Maha Bodhi. Termasuk juga SMA Negeri 1 Buru.

Dalam musyawarah yang dihadiri 30-an guru Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggeris SMA/ MA se-Pulau Karimun dan Buru disepakati struktur kepengurusan dengan komposisi setelah Pembina (Kepala SMA Negeri 4 Karimun) ditunjuk seorang koordinator. Lalu di bawahnya dibentuk dua kepengurusan masing-masing untuk Mata Pelajaran Bahasa Indonesia dan satu lagi untuk Bahasa Inggeris. Struktur kepengurusan ini terdiri dari Ketua, Wakil Ketua, Sekretaris dan Wakil Sekretaris serta satu orang bendahara.

Terpilih sebagai koordinator adalah Ibu Zaita, guru Bahasa Indonesia SMA Negeri 2 Karimun. Sementara untuk ketuanya adalah Ely (SMA Negeri 1 Karimun) sebagai Ketua MP Bahasa Indonesia dan Asmariansyah (SMA Negeri 3 Karimun) sebagai ketua MP Bahasa Inggeris. Diharapkan para pengurus ini akan mengelola wadah ini dengan baik agar dapat bermanfaat dengan baik dan efektif..

Dalam pertemuan awal ini juga disepakati iyuran anggota sebesar Rp 25.000 (dua puluh lima ribu rupiah) per orang per bulannya. Dana ini akan dipergunakan untuk keperluan konsumsi, biaya administrasi kesekretariatan dan biaya-biaya lainnya. Uang ini akan dikumpulkan dan dikelola oleh bendahara di masing-masing kelompok.

Di pertemuan ini juga sempat dihadiri oleh pengawas Dinas Pendidikan Karimun, Ibu Suzanna yang merupakan Pengawas Satuan Pendidikan MP Bahasa Inggeris. Ibu Suzanna datang sedikit agak terlambat karena pagi itu juga mengikuti kegiatan lain di tempat. Dia juga memberikan sambutan singkatnya dalam musyawarah ini.***

Kamis, 14 Februari 2013

Ayo, Mari Menulis


MENULIS bagi guru bukanlah tak bisa. Akan tetap lebih karena belum atau tidak mau memulainya saja. Begitu juga bagi masyarakat lainnya. Keterampilan menulis tidaklah ditentukan oleh bakat atau garis keturunan seseorang. Menulis lebih ditentukan oleh keinginan dan kebiasaan-kebiasaan saja. Guru atau bukan, masyarakat awam atau pejabat berpaham, sama saja dalam kreativitas menulis. Kalau mau menulis, tetap bisa menulis. Kalau tak ingin pasti juga tidak akan bias menulis.

Kebutuhan menulis memang kelihatan lebih penting bagi seorang guru dari pada orang awam, walaupun saya tidak memandangnya begitu. Menurut saya, seharusnya semua orang perlu menulis. Bukankah dengan menulis, apalagi dilengkapi dengan membaca, seseorang itu akan dapat memperlambat pikunnya? Apakah harapan untuk tidak cepat pikun bukannya harapan kita semua? Bahwa bagi guru itu tampak lebih perlu, itu lebih karena perannya sebagai pendidik yang mesti meneruskan ilmunya kepada peserta didiknya. Guru adalah pemberi dan pengembang ilmu bagi peserta didik sekaligus pemotivasi mereka. Itu artinya akan sangat berguna keterampilan menulis baginya. Sayangnya, kenyataan yang ada begitu masih sangat banyaknya guru yang tidak mau menulis. Padahal seharusnya tidak begitu.

Terasa ada sesuatu yang terputus antara masa-masa seorang guru menjadi mahasiswa dengan masa-masa setelah mengabdi menjadi guru. Seperti kita tahu hampir semua guru --karena tuntutan Undang-undang Guru dan Dosen-- adalah pemilik ijazah selevel S1 sebelum menjadi guru. Atau sekurang-kurangnya ketika dan selama menjadi guru, mereka sekaligus akan menempuh pelajaran kesetaraan atau kuliah tambahan untuk mencapai tingkat pendidikan yang diwajibkan bagi seorang guru. Artinya seorang guru sudah melalui pendidikan di Perguruan Tinggi.

Coba kembalikan memori masa-masa kuliah itu. Tentu masih akan teringat betapa seringnya kita menulis. Baik atas kesadaran sendiri maupun sekedar melaksanakan tugas-tugas wajib yang diberikan dosen. Hampir setiap dosen mata kuliah yang kita ikuti akan meminta mahasiswanya membuat semacam karya tulis minimal satu karya tulis dalam satu semester. Jika dalam satu semester kita mendapatkan 5-7 mata kuliah untuk menyelesaikan 18-22 kredit, misalnya berarti ada kurang lebih lima karya tulis yang wajib dib uat.

Kalau begitu menulis bagi mahasiswa memang sudah menjadi bagian rutin kegiatannya. Bahwa kemungkinan ada yang memanfaatkan jasa lain dalam menyelesaikan tugas-tugas karya tulisnya bisa jadi. Tapi yang melakukannya mungkin lebih sedikit dari pada mahasiswa yang melakukannya sendiri. Begitu jugalah tentunya mahasiswa calon guru yang saat ini sudah menjadi guru. Pada umumnya ketika mahasiswa dulu pastilah sudah pernah atau sudah biasa melakukan aktivitaas menulis.

Lalu mengapa masih banyak sahabat-sahabat guru yang enggan menulis setelah menjadi guru? Ketika aktivitas menulis sebenarnya semakin dibutuhkan oleh seorang guru, maka sikap positif terhadap aktivitas menulis itu harus terus dikembangtumbuhkan. Bukankah sebelum seorang guru memulai proses pembelajaran di kelas, dia harus terlebih dahulu menyiapkan materinya dalam bentuk Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dan atau bentuk skanario lainnya? Dan untuk keperluan ini otomatis diperlukan keterampilan menulis. Jika tidak maka seorang guru akan cenderung melakukan copy paste saja terhadap segala kebutuhan perangkat pembelajarannya itu. Tentu saja ini sesuatu yang tidak baik bagi seorang guru.

Kini, di tengah begitu banyaknya faktor pendukung bagi seseorang untuk memperlancar keterampilan menulisnya maka selebihnya tergantung juga kepada sikap seseorang itu sendiri. Apakah menulis itu akan dikembangkan sebagaimana pentingnya mengembangkan kebiasaan membaca, terserah sepenuhnya kepada masing-masing orang. Tepuk dada, tanya selera. Kita jualah yang tahu jawabannya.***

Minggu, 10 Februari 2013

Catatan dari Peringatan Maulid Nabi IPHI Karimun


MESKIPUN inti materi ceramahnya sudah lazim dan sering disampaikan namun penyampaian yang apik, bernas dibumbui lawakan sederhana, mengena sasaran kepada pendengar yang rata-rata berusia setengah baya ke tua, serasa siraman rohani itu tetap hangat dan up to date. Materi ceramah itu tetaplah mendidik dan memberi pembelajaran yang sangat berguna khususnya buat generasi setengah tua dan juga buat yang masih muda. Itulah catatan penting saya untuk acara di Balai Pertemuan Haji Karimun, Ahad (10/02/13) siang. Hadir dalam acara Pertemuan Bulanan Haji itu anggota IPHI (Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia) Pulau Karimun yang untuk pertemuan kali ini disejalankan dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad 1434.

Tema yang diambil pengurus IPHI Kabupaten Karimun seperti tertera di spanduk adalah "Dengan Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1434 kita Teladani Karakter dan Kepemimpinan Nabi Muhammad SAW dalam Kehidupan Sehari-hari" dengan mendatangkan penceramah, Al-Ustaz Jamaluddin Nur dari Batam untuk mengupasnya. Isi ceramah ustaz itulah yang ingin saya tuliskan sedikiit di sini. Saya merasa kandungan tausiah sebagai siraman rohani untuk para haji-hajjah itu akan berguna juga buat pembaca lainnya.

Sebelum siraman ustaz Jamaluddin tentu saja acaranya dibuka dengan pembacaan ayat-ayat suci Alquran. Tampil mengumandangkan bacaan kitab suci itu adalah Nurul Khairani, qoriah tingkat kabupaten yang pernah menyabet juara ke-3 di MTQ Tingkat Provinsi Kepri. Lalu sambutan-sambutan (panitia dan dari Pemerintah Daerah) baru acara pokoknya: ceramah agama seputar peringatan kelahiran Rasulullah, Muhammad SAW. Para haji-hajjah yang hadir sangat khusyuk mendengar ceramah ustaz dari kota Batam itu.

Ustaz Jamaluddin memulai ceramah dengan menyebut promblema dekadensi moral yang menimpa dunia termasuk Indonesia saat ini. "Akibat bobroknya moral manusia, menyebabkan banyaknya masalah yang timbul sebagai ikutannya," jelasnya membuka ceramah. Dia menguraikan dan memberi contoh dan bukti betapa moral manusia, khususnya di negeri kita, Indonesia sudah begitu rusak. Bukan rakyat biasa yang membuat malu bangsa, malah para pejabat yang menjadi wakil dan pemimpin rakyat sendiri yang merusak bangsa. Dengan menyebut hasil survey, ustaz itu mengatakan bahwa 76 persen anggota dewan di Indonesia bermasalah. Dia tidak pula menyebut pejabat pemerintahan yang terkena kasus hukum walaupun sangat banyak. Saya sendiri tidak tahu, dia memakai data survey yang mana. Yang saya tahu (dari berita) bahwa para wakil rakyat (DPR-DPRD) di Indonesia sangat banyak yang terlibat kasus hukum. Tidak hanya yang pensiun bahkan yang aktif saja tak terhitung.

Kata Ustaz Jamaluddin itu disebabkan oleh tidak diteladaninya karakter Rasulullah. Dalam memimpin, tidak mencontoh kepemimpinan Muhammad. Nah sebagai seorang haji- hajjah, sejatinya tidak perlu khawatir kita akan ikut terjerumus ke limbah kasus itu. Pegang dan amalkan saja perinsip dan filosofi haji yang sarat makna itu. Ketika seorang calon haji-hajjah berpakaian ihram, diingatkan betul untuk tidak berbuat rafats(berkata-kata kotor), fusuq (menentang Tuahnnya) dan jidal (berbantah-bantahan) agar hajinya tidak tercemar. Artinya, seandainya filosofi berihram itu diterapkan dalam kehidupan, alangkah akan selamatnya seseorang dan akan menyelamatkan pula orang lain.

Perlambangan pakaian ihram juga menjelaskan kepada si pemakainya betapa manusia di hadapan-Nya tidak ada kuasa apa-apa yang harus disombongkan. Terlepas tanda pangkat di bahu atau di dada dan terlepas pula level jabatan yang disandang di luar berihram. Dengan memahami makna berihram dalam kehidupan, manusia akan cenderung saling memperhatikan, saling menolong karena manusia ternyata sangat kecil di hadapan Tuhan.

Menyinggung karakter Muhammad yang mesti diteladani, ustaz kocak ini mengutip sebuah hadits yang menjelaskan bahwa Rasulullah menjadikan solat sebagai hiburannya. "Seharusnya kita juga menjadikan solat sebagai tempat berhibur membahagiakan diri," kata ustaz. "Tidak perlu mencari hiburan yang menyesatkan," katanya lagi. Melanjutkan uraiannya perihal solat sebagai hiburan, ustaz menjelaskan bahwa dalam solat setiap kita sesungguhnya akan mendapat banyak sekali kelebihan dan kebahagiaan.
Paling tidak ada delapan hal yang akan kita dapatkan jika kita mau dan mampu menjadikan solat sebagai bagian hiburan kita.  Ke delapan keberuntungan itu adalah, 1) mendapat ampunan (ighfirli), 2) mendapat rahmat/ kasih sayang Tuhan (warhamni), 3) mendapat kecukupan atau terhindar dari aib (wajburni), 4) mendapat rezki (warzuqni), 5) dinaikkan derajat (warfa'ni), 6) mendapat hidayat (wahdini), 7) mendapat kebugaran atau kesehatan (wa'afini) dan 8) mendapat kemaafan (wa'fu'anni) dari Allah. Dengan uraian dan penjelasan yang gamblang, setiap doa yang diucapkan dalam solat itu mudah dipahami. Dan terasa benar betapa setiap orang solat itu akan mendapat banyak keberkahan. Tentu saja jika solatnya dilakukan dengan baik dan benar.

Kurang lebih satu jam Ustaz Jamaluddin Nur menyiram para haji dan hajjah dengan tausiah yang menyejukkan. Dia menutup siraman rohaninya dengan membacakan doa sekaligus. Tidak berlebihan pembelajaran keteladanan nabi yang diuraikan Pak Ustaz dapat menambah pemahaman dan pengetahuan para haji-hajjah yang mendengarnya dalam menjalani kehidupan dengan benar.***

Jumat, 08 Februari 2013

Bertemu Pak Menteri di Siang Hari

SAYA tak membayangkan kalau saya akan bisa bertemu Pak Menteri. Apalagi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, M. Nuh yang selama ini hanya ditonton wajahnya di televisi saja. Kini, saya benar-benar bertemu dengannya. Bahkan saya dapat bersalaman dengannya.


Siang Selasa (05/02/13) itu saya kebetulan berjalan-jalan di halaman gedung Kemdikbud, Senayan Jakarta. Hari itu saya memang sedang ada urusan di kantor kebanggaan warga pendidikan itu. Pukul 11.15 siang itu saya sudah sampai di halaman kantor setelah menempuh perjalanan macet dari Bandara Sukarno- Hatta.

Dengan ditemani Antoni (murid saya di SMA Negeri Tanjungbatu, 20-ana tahun lalu) saya sesampai di kantor langsung naik ke lantai lima gedung C. Di situlah Biro Kepagawaian berkantor. Di situ pula urusan-urusan guru khususnya masalah kenaikan pangkat Golongan IV/ A ke atas diselesaikan.

Setelah mendapat penjelasan dari salah seorang pegawai Biro Kepagawaian yang meminta saya datang (naik) kembali pada pukul 13.00 (sehabis istirahat makan siang) maka kami untuk sementara waktu turun kembali ke lantai bawah. Makan siang sebentar, saya dan Toni berjalan-jalan di sekitar halaman gedung bertingkat 20 itu.

Pada saat itulah Antoni memberi tahu saya, kalau beberapa meter di sebelah kami berjalan ada Menteri Pendidikan yang juga sedang berjalan kaki. Saya lihat sebelah kaki celananya masih terlipat. "Mungkin habis solat," kata saya dalam hati.

Tanpa ba bi bu, saya spontan mendekat ke arah Pak Menteri. Saya sudah kenal betul wajah orang nomor satu di Kemdikbud itu. Di samping dia  pernah datang ke Karimun (ketika masih sebagai rektor ITS) wajahnya juga senantiasa menghiasi layar kaca, televisi. Jadi, saya memang yakin kepada informasi Antoni tadi.

Setelah mendekat, saya mengulurkan tangan saya: mau bersalam. Syukurlah, Pak Menteri mau menyambut uluran tangan saya. Saya pegang erat tangan kekarnya. "Dari mana?" tanyanya. Saya menjawab dari Karimun, sambil menunjuk ke badge di lengan kiri baju saya. Pada siang itu saya memang masih menggunakan seragam Pemda Karimun yang saya pakai sedari Batam paginya.

"Urusan apa di sini?" Pak Menteri kembali bertanya. hanya berdiri beberapa detik saja, menurut saya. ketika saya menjawa, "Urusan naik pangkat" dia hanya mendengar sambil melangkah. Dia tersenyum sambil bertanya sekali lagi, "Sudah golongan berapa?"

Dengan sedikit malu-malu saya menyebut golongan IV/ B. Dia pun sudah agak jauh dari saya. Hanya sebentar saja kami bersama. Tapi rasanya sudah cukup bagi saya untuk merasa bahagia. Pak menteri dua orang yang mengiringinya terus menuju ke kantor di depan sana. Tentu saja dia kembali ke ruang kerjanya. Ah, lumayan, kata saya dalam hati. Berjumpa Pak Menteri di siang hari walaupun itu tidak disengaja.***

Kamis, 07 Februari 2013

Kesan Indah di Wisma UNJ

SEMALAM di Wisma UNJ. Saya tidak menyebut "Semalam di Jakarta", meminjam judul lagu "Semalam di Malaysia" yang pernah dipopulerkan Dloid itu. Saya memang tidak sempat berjalan-jalan di ibu kota negara, Jakarta. Selesai urusan di Kemdikbud menjelang sore, saya langsung mencari tempat menginap. Sebenarnya ingin segera kembali ke Karimun. Jam sebegitu jelas tidak mungkin kembali ke Karimun atau Batam. Pesawat sudah tidak ada.
Ketika saya berpikir akan mencari hotel, teman dunia maya saya, Om Jay menawarkan dan mengajak menginap di Wisma UNJ saja. "Biar kita bisa kopdaran lagi, Pak Nur," katanya meyakinkan saya. Saya langsung setuju. Sudah sering Om Jay menyebut penginapan yang dimiliki dan dikelola universitas negeri yang dulu bernama IKIP Jakarta itu. Beberapa kali melalui komunikasi di facebook atau telpon dia mengajak sekali waktu menginap di situ. Tapi belum bisa kesampaian. Inilah waktunya, kata saya dalam hati.

Om Jay yang nernama lengkap Wijaya Kusumah itu memang bagian dari UNJ sendiri. Dia, disamping guru tetap di Labschool, sekolah milik UNJ juga menjadi tenaga pengajar di perguruan tinggi itu. Om Jay sendiri juga almamater S1 dan S2 UNJ. Saat ini pun sedang mengikuti S3 di UNJ. Wajar dia merupakan bagian dari UNJ. Dan wajar juga dia ingin mempromosikan wisma kampusnya itu.
 
Sekitar pukul 18.30 (Selasa, 05 Februari 2013) itu saya sampai di kampus UNJ dengan diantar oleh Antoni, siswa saya 20-an tahun silam di SMA Negeri Tanjungbatu, Kundur. Seharian itu Toni memang menemani saya di Kemdikbud. Dia juga yang menjemput saya ke Bandara Sukarno Hatta sekitar pukul 09.30 paginya.

Di gerbang Labschool Om Jay sudah berdiri menyambut kami. Melalui telpon saya memang terus berkomunikasi dengan Om Jay selama dalam perjalanan ke arah UNJ. Antoni langsung membawa mobil avanza itu masuk pekarangan. Selepas bersalaman saya dan Om Jay langsung masuk. Antoni dan temannya, Erson pulang dan meninggalkan kami. Om Jay mengajak saya ke ruang labor komputer yang memang menjadi tanggung jawabnya sebagai guru yang mengampu mata pelajaran TIK di SMP Labschool. Saya sempat memposting satu artikel di salah satu komputer.

Ketika masuk waktu magrib kami solat ke masjid sekolah itu. Ternyata musolla itu cukup besar dan bersih. Kata Om Jay, di musolla itu juga dilaksanakan jumatan disamping.untuk solat lima waktu. Jamaahnya sangat ramai pada jumatan itu karena diisi juga oleh para mahasiswa UNJ.

Sehabis magrib kami kembali ke labor komputer. Browsing sebentar lalu kami pergi makan malam di warung seberang jalan. Dengan menggunakan jambatan penyeberangan kami hanya perlu beberapa menit untuk ke warung yang kata Om Jay tempt dia ngekost saat kuliah dulu. Selepas makan kami kembali lagi ke lab itu sebentar baru masuk kamar wisma yang sebelumnya sudah dipesan Om Jay.

Di kamar itu saya mandi karena memang belum mandi sore. Lalu solat isya berjamaah berdua plus salah seorang tamu yang juga menginap di wisma itu. Malam itu kami tidak tahu siapa bapak yang ikut berjamaah itu. Kelihatannya dia seorang guru juga. Mungkin calon mahasiswa S3, kata kami berpikir. Besoknya ketika kami bertiga kembali berjamaah di musolla itu kami baru saling berkenalan. Ternyata bapak yang pagi itu menjadi imam solat subuh kami adalah seorang dosen di Universitas Negeri Makasar. Yang membuat saya kagum sekaligus terkesan mendalam adalah karena bapak itu ternyata sudah bergelar profesor. Dia datang ke Jakarta untuk ikut menguji kandidat doktor di UNJ, paginya. Katanya dia sudah menjadi guru besar di Universitas Negeri Makasar sejak tahun 2006. Wow, Sungguh luar biasa, kata saya dalam hati.

Luar biasa? Ya, seorang guru besar, sangat sederhana, bahkan menginapnya hanya di wisma. Di satu sisi dia menunjukkan bagaimana hidup dengan pola sederhana dan di sisi lain dia juga lebih mengutamakan memajukan wisma kampus dari pada membuang buang uang untuk hotel. Saya sungguh kagum kepada bapak itu. (bersambung)

BANYAK cerita banyak juga kisah yang disampaikan oleh Prof. Syamsudin, pagi sehabis berjamaah subuh --Rabu, 06/02/13--  itu. Ya Prof. Syamsudin, begitu nama lelaki yang saya kagumi itu kalau saya tak salah dengar dia memperkenalkan kepada kami sehabis solat subuh. Bahasanya memang kental gaya Makasarnya. Kalau tidak teliti memperhatikan ucapannya, saya tidak mudah memahaminya. Tapi bacaan ayat alqurannya ternyata fasih. Saya merasa nyaman dan enak mendengar bacaan ayat-ayat sucinya ketika menjadi imam subuh.

Dalam obrolan singkat sehabis solat, Pak Prof itu juga menyatakan rasa gundahnya ketika Om Jay mencoba bertanya bagaimana pandangannya tentang banyaknya jebolan S2 bahkan S3 yang diperoleh dengan begitu mudah. Seorang pejabat, entah bupati entah gubernur tiba-tiba menyandang gelar master atau doktor. "Inilah kesalahan sebagian guru besar kita di Indonesia," katanya. Terlalu mudah mengumabr gelar master atau doktor. Hanya dengan kuliah alakadarnya, seorang pejabat tiba-tiba bergelar master. Kita tahu, kalaupun ada karya tulisnya, kebanyakan dikerjakan oleh stafnya saja. Bukan si pejabat itu yang mengadakan penelitian dan penulisan. Begitu Pak Prof itu menduga-duga.

Saya sebenarnya tidak terlalu hirau dengan fenomena yang muncul dalam diskusi Om Jay dengan Prof itu. Tapi diskusi hangat itu ikut juga memancing perasaan saya. Akhirnya saya pun ikut terlibat membicarakan kegundahan bapak yang kelihatannya masih sangat sehat itu. Saya kembali mengingat cerita-cerita pejabat (beberapa Kepala Dinas atau pejabat struktural di beberapa daerah) yang memanfaatkan jabatannya untuk dengan mudah mengambil S2 atau S3 itu. Kebanyakan mereka memang menggunakan biaya dari daerah. Bukan biaya dari sakunya. Entah itu dalam bentuk subsidi, beasiswa atau entah apa lagi namanya. Yang saya dengar, mereka memang pada umumnya tidak memakai biaya sendiri.

Bahkan dalam bincang-bincang itu juga disebut adanya para guru dalam menyetarakan kualifikasi pendidikannya dari jenjang SLTA atau D2-3 ke S1 dengan cara yang begitu mudah. Atas inisiatif Pemerintah Daerah yang menginginkan percepatan penyeteraan itu diadakanlah kerja sama dengan perguruan tinggi atau mengikuti jalur UT (Universitas Terbuka) untuk setiap guru. Yang menyedihkan tentu saja karena ternyata ada pelaksanaan penyeteraan yang ala kadarnya saja. Perkuliahan Sabtu-Minggu yang dijadwalkan sering tidak berjalan dengan baik lalu tiba-tiba ikut ujian dan begitu mudah selesainya. Ah, macam-macam topik terbicarakan juga subuh itu.

Menjelang agak pagi, Pak Prof minta diri. Katanya dia ingin baca-baca tesis yang sebentar lagi akan dipertahankan oleh kandidat doktor yang akan dia uji itu. Saya dan Om Jay pun ikut keluar dari musolla yang hanya berupa kamar kosong itu. Kata Om Jay, kita jalan-jalan pagi saja sambil olahraga. Saya setuju. Saya ingin melihat-melihat kampus itu. Pagi itulah adanya waktu. Sesuai rencana, sekitar pukul 08.00 atau pukul 09.00 saya akan ke Bandara Sukarno Hatta untuk berangkat kembali ke Karimun.

Kami berjalan mengelilingi kampus UNJ berdua sambil terus ngobrol. Suasana pagi memang agak sepi di jalan dalam kampus itu. Jalan besar di luar kampus memang tetap ramai dalam 24 jam. Sambil ngobrol Om Jay menjelaskan setiap gedung dan bangunan yang kami lalui sambil berjalan kaki. Melewati Fakultas Seni kami terus menyusuri jalan arah ke kantin UNJ. Om Jay menawarkan sarapan dulu sebelum terus berjalan. Tapi saya minta berjalan saja dulu, nanti baru sarapan.
Ketika melewati Fakultas Teknik, sebelah kanan arah kantin, Om Jay menjelaskan kalau fakultas itu adalah fakultas tempat dia menimba ilmu dulunya. "Inilah fakultas saya," katanya. Kebanyakan mahasiswanya setelah tamat menjadi guru di SMK. Dari sini banyak dicetak para guru SMK di seluruh Tanah Air. Om Jay juga bercerita pengalamannya menjadi mahasiswa yang cukup aktif dalam berbagai kegiatan. Itulah sebabnya dia mudah dikenal para dosennya. Dan karena itu juga katanya dia diminta menjadi guru di Labschool, sekolah binaan UNJ.

Kami terus berjalan. Memutar ke kiri, kami mengelilingi kampus yang ternyata tidak terlalu luas itu. Di depan sana, ada dua bangunan tinggi yang sedang dibangun. Sepertinya ada 20 lantai bangunan itu. Yang menarik saya, menurut Om Jay bangunan itu saat ini tengah disorot KPK. Katanya, Anggelina Sondakh juga ikut terbawa-bawa dalam proyek mahal itu. "Sepenuhnya dibangun dari dana Kemdiknas," jelas Om Jay. Saya tidak mau memperpanjang berita keterlibatan mantan Putri Indonesia itu. Saya tahu, saat ini hukuman Angie sudah dijatuhkan oleh hakim Tipikor. Itu biarlah urusan aparat hukum. Kami terkadang berfoto di tempat-tempat strategis.

Hanya satu kali saja kami mengelilingi kampus UNJ. Sesampainya di kantin itu kembali, Om Jay mengajak saya untuk sarapan pagi. Kali ini saya setuju. Kami duduk di bagian tengah kursi/ meja yang sudah tersedia. Kantin itu menurut saya cukup besar. Sisi kiri dan kanan tersusun gerai-gerai yang sebagian besar pagi itu tampak masih kosong. Mungkin karena masih pagi, jadi memang belum semua bagian dibuka. Boleh jadi penjualnya belum datang, kata saya dalam hati. Berjalan pagi, ditutup dengan sarapan pagi. Sungguh kesan yang menyenangkan satu hari satu malam di Jakarta.***

Minggu, 03 Februari 2013

Ketika Wakil Menteri Berpromosi


SABTU, 02 Februari 2013 bertempat di Gedung Nasional Karimun, sekitar pukul 12.40 di hadapan 300-an guru/ Kepala Sekolah Wamendikbud (Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan) berkesempatan menjelaskan rencana akan diberlakukannya Kurikulum 2013 pada tahun pelajaran 2013- 2014 yang akan datang. Dalam satu acara bertajuk “Sosialisasi Kurikulum 2013″ Pak Wamen yang mengadakan kunjungan kerja di Kabupaten Karimun, Provinbsi Kepri sangat bersemangat memberi pemahaman kepada para pendidik yang hadir. Malam sebelumnya dia memberi penjelasan yang sama di depan 4.000-an guru di Batam.

Kata Pak Wamen, “Ini bukan kurikulum baru. Kita tidak mengganti sama sekali kurikulum yang ada. Kurikulum 2013 hanyalah penyempurnaan KBK 2004 yang disempurnakan pula menjadi KTSP 2006,” jelasnya. Pak Musliar yang ‘urang awak’ itu sedikit menyinggung kurikulum sebelumnya (Kurikulum Berbasis Kompetensi 2004 dan Kurikulum Satuan Pendidikan Tingkat Satuan Pendidikan 2006) sebagai latar belakang perubahan kurikulum ini. Di tengah masih kuatnya penolakan beberapa kalangan terhadap pemberlakuan Kurikulum 2013 tampaknya Pak Wakil Menteri ini lebih tepat berpromosi dari pada bersosialisasi.

Dia memang menjelaskan apa dan bagaimana Kurikulum 2013 ini. Dengan alasan kurikulum sebelumnya tidak bisa mengembangkan kreativitas dan daya inovatif peserta didik Pak Wamen dengan bangga mengatakan kalau kurikulum baru ini akan menjawab bagaimana anak bisa berkembang. Dengan kurikulum baru ini juga akan membuat para guru lebih kreatif dan inovatif. Apakah Pak Wamen juga membaca dan mendengar kalau saat ini ada banyak komentar para pakar dan guru sendiri yang menyebut justeru guru akan pasif dengan konsep kurikulum baru ini. Jika semua perangkat pembelajaran disiapkan pemerintah (Pusat) lalu apa lagi dan dimana guru bisa kreatif dan inovatif? Ungakapan seperti ada banyak bermunculan di kalangan guru.

Tapi Pak Wamen dalam penjelasan yang menggunakan power point itu mengatakan justeru guru dituntut kreatif dengan kurikulum ini. “Kurikulum 2013 dikembangkan dari kompetensi siswa bukan sebaliknya,” katanya. “Jika kurikulum sebelumnya mengembangkan kompetensi siswa dri kompetensi yang sudah disiapkan, tapi pendekatannya sekarang dibalik. Anak diberi kesempatan dulu menjelaskan apa yang mereka tahu. Lalu guru mengembangkan pengetahuan itu sesuai materi (tema) pembelajaran.” Pak Wamen juga memberi tahu kalau nanti anak tidak perlu membawa buku terlalu banyak seperti selama ini.

Dengan pendekatan tematik integratif, kata Pak Wamen maka semua materi wajib yang akan diberikan guru sudah terintegrasi dalam satu paket buktu. Dengan hanya satu buku (Mata Pelajaran) tapi di dalamnya terintegrasi semua pelajaran wajib di kelas itu. Materi yang akan diberikan kepada peserta didik juga akan disesuaikan dengan tingkat perkembangan kecerdasan anak. “Di kurikulum sebelumnya ada banyak materi yang seungguhnya belum perlu bagi anak tapi sudah harus diajarkan. Belum lagi materi yang tumpang tindih antar level kelas,” katanya berapi-api.

Tapi ujung-ujung dari pidato Pak Wamen tidak lupa memberi semangat yang lebih kepada mempromosikan kurikulum itu dari pada penjelasannya sendiri. Dia sendiri mengakui penjelasannya itu belum akan memuaskan para peserta sosialisasi. Mengingat waktu yang sangat singkat karena harus kembali berlayar ke Batam untuk terbang lagi ke Jakarta, dia berharap para guru membaca dan mempelajari sendiri kurikulum itu. “Saya akan tinggalkan filenya di Karimun,” katanya di akhir penjelasan. Pak Wamen menutup pidatonya dengan yel yel ala kampanye seorang jurkam. Dengan menggunakan yel yel ala PGRI, Pak Wamen mengajak para guru yang hadir untuk menjawab yel yelnya. Dia menyebut ‘kurikulum 2013′ para hadirin dia minta menjawab dengan ‘yes’. Itu diulang beberapa kali. Penjelasan kurang lebih satu jam itu tampaknya lebih dominan kepada yel yel ini.

Ikut dalam rombongan Pak Wamen antara lain salah seorang anggota DPR-RI Dapil Provinsi Kepri, Asman Abnur, Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Kepri, Yatim Mustafa dan jajarannya serta tentu saja jajaran Dinas Pendidikan Kabupaten Karimun. Bupati Karimun, Nurdin Basirun juga hadir dan memberi pidato ’sekapur sirih’ sebelum Pak Wamen tampil. Pak bupati juga mengajak Pak Wamen berkeliling Karimun sejurus rombongan Wamen tiba di Karimun dari Batam.

Akankah kurikulum yang akan berlaku secara bertahap bulan Juli nanti itu benar-benar membuat guru dan murid kreatif? Atau seperti kurikulum sebelum-sebelumnya, datang menteri baru lalu lenyap dan diganti baru lagi? Kita tunggu.***


Jumat, 01 Februari 2013

Duh, Ternyata Aparat Benar Terlibat?

DIALOG itu tidak sepenuhnya saya dapat mengikuti. Saya tidak tahu pukul berapa dimulai dan pukul berapa pula selesai. Tapi wawancara yang kebetulan saya ikuti antara pukul 18.36 hingga 18.50 (Kamis, 31/01) dengan satu kali jeda reklame itu membuat saya terkejut dan gondok lagi. Sinyalemen aparat terlibat seperti selama ini saya (mungkin pembaca juga) dengar, petang menjelang malam semalam itu seperti dipertegas oleh tokoh samaran itu.
 Yang menyaksikan berita sore semalam di salah satu televisi swasta dengan topik khusus wawancara bertitel eksklusif dengan seorang bandar narkoba pasti akan ikut gundah. Walaupun tokoh itu disamarkan nama dan tidak diperlihatkan wajahnya (karena diatur membelakangi pemirsa) tapi suaranya jelas. Tutur bahasanya tegas dan nyata apa yang dia sebutkan. Setiap pertanyaan yang diajukan reporter televisi dia jawab dengan jelas dan terang.

Banyak juga penjelasan dari beberapa pertanyaan yang dilontarkan pewawancara perihal peredaran narkoba di Tanah Air. Satu pertanyaan ikutan dari banyak pertanyaan sebelumnya, dengan cerdik pewawancara bertanya, “Apakah, kalau begitu aparat berarti tahu dan boleh jadi terlibat?” Dengan mantap lelaki yang di layar televisi ditulis sebagai bandar narkoba menjawab, “Ya, tahu. Pasti tahu. Bos, mengatakan aparat ikut mengamankan. Berarti, ya terlibat.”

Inilah pernyataan yang menyentak perasaan pemirsa, menurut saya. Penegasan itu melengkapi penjelasan bandar narkoba yang disamarkan itu tentang bagaimana narkoba beredar di Indonesia, dari mana narkoba didatangkan dan bagaimana prosesnya. Dari wawancara itu dapat dipahami betapa ternyata aparat negara kita ikut bermain dalam pusaran peredaran narkoba yang katanya sudah sangat akut dan dapat disamakan dengan kejahatan teroris dan korupsi. Tapi bagaimana memberantas kejahatan mahaberat ini jika aparat negara yang mesti memberantasnya malah ikut terlibat bermain?

Dua negara yang disebut si bandar adalah China dan Nigeria. Dari luar negeri barang-barang haram itu masuk ke Indonesia dengan berbagai modus. Salah satu yang dijelaskannya adalah lewat laut. Nah, ternyata perjalanan dari laut ini saja sudah diketahui oleh aparat. Ternyata si Bos bandar ini sudah koordinasi dulu dengan aparat untuk mengamankan perjalanan barang itu hingga sampai ke darat. Di darat pun, barang-barang ini tetap diamankan. Istilah yang dipakai si bandar adalah jalan-jalan yang akan dilewati itu harus ’steril’. Duh, mengingatkan kita kepada istilah yang dipakai dalam pengamanan perjalanan pejabat negara atau presiden negara asing. Benarkah?

Bandar samaran itu juga mengatakan kota-kota utama yang di jadikan star peredarannya. Dia menyebut, selain kota Jakarta ternyata juga diedarkan lewat kota-kota seperti Jogja, Bandung, Surabaya. Dari kota-kota ini barang ‘celaka’ ini didistribusikan ke banyak tempat lainnya. Kerja mereka benar-benar rapi dan tidak mudah terendus aparat. Rakyat ternyata tertipu, kalau perang melawan narkoba itu tidak sepenuhnya kompak diberantas oleh aparat kita.

Jika pun ada beberapa kasus peredaran yang tertangkap, itu hanyalah kesilapan ‘aparat pengaman’ itu saja. Dan jika pun apes, aparat yang konon terlibat itu tidak pernah dapat ditangkap. Yang ditangkap, lazimnya hanyalah pemain (bandar) kecil dan para pengguna saja. Kasus Raffi Ahmad cs dan beberapa kasus sebelumnya, itu hanyalah kasus sangat kecil yang beritanya sengaja dibesar-besarkan.  Penangkapan pengedar dan atau pengguna narkoba selama ini hanya besar dalam berita tapi tidak menyintuh bandar besar yang sesungguhnya.

Lalu sampai kapan pemberantasan narkoba di negeri kita dengan model-model begini. Belum jugakah benar-benar tersadar para penguasa bangsa ini terhadap bahaya narkoba yang digembak-gemborkan sangat kejam ini? Di media dikatakan kalau narkoba itu sangat berbahaya. Di sekolah, di masjid dan di gereja atau di masyarakat selalu diingatkan agar menjauhi narkoba. Tapi nyatanya peredaran narkoba terus saja ada. Tidakkah ini memang benar apa yang dituturkan sang bandar samaran di televisi itu bahwa aparat memang terlibat dalam carut-marut peredaran ini? Beginikah hukum berjalan di negeri kita? Entahlah!***
 
Copyright © 2016 koncopelangkin.com Shared By by NARNO, S.KOM 081372242221.