BREAKING NEWS

Rabu, 30 Januari 2013

Seharusnya Pengguna Narkoba Dihukum Berat


PASTI ahli hukum tidak akan setuju kalau hukuman pengguna dibuat lebih berat dari pada hukuman pengedar. Maksud saya pengguna dan pengedar narkoba. Artinya, bila setiap hakim memberi hukuman yang lebih berat kepada pengguna dari pada pengedar maka akan timbul protes.  Mengapa diprotes? Karena itu memang bertentangan dengan ketentuan undang-undangnya.

Tapi jika dipaksakan juga hukuman kepada pengguna lebih diperberat, misalkan dihukum penjara lebih lama atau kalau perlu dihukum mati saja maka logikanya, para pengguna kemungkinan akan dengan drastis berkurang. Setiap para pengguna yang tertangkap atau ketahuan kalau dia adalah pemakai maka hukuman sangat berat telah menanti. Jumlah pengguna jelas lebih banyak.
 
Menurut statistik, jumlah pengguna narkoba jauh lebih banyak dari pada pengedar. Untuk satu pengedar seumpama bandar narkoba misalnya dapat memasok untuk sekian ratus atau sekian ribu pengguna. Berapa banyak para pengguna akan dihukum berat jika ide ini diterapkan.  Artinya akan sangat banyak berkurangnya jumlah orang yang terlibat narkoba dari pada kalau hanya menghukum berat pengedar saja.

Lalu apakah pengedarnya akan dihukum ringan? Tentu saja tidak. Pengedar juga mesti dihukum berat walaupun pemakai harus dihukum jauh lebih berat lagi. Pengedar yang tidak memakai alias tidak menyalahgunakan narkoba, bisa jadi hanya karena motivasi ekonomi belaka. Dengan mengedarkan (menjual) narkoba, dia merasa mendapatkan keuntungan lebih besar dari pada berdagang produk lainnya. Jadilah dia menjadi penjual atau pedagang narkoba. Boleh jadi juga berpikirnya cukup sederhana saja: berdagang untuk mencari untung mengapa tidak? Lalu haruskah pengedar ini dihukum lebih berat dari pada pengguna yang langsung menyalahhgunakannya?

Penyalahgunaan narkoba memang sudah sangat mengkhawatirkan. Sudah pada tempatnya kalau kejahatan ini disejajarkan dengan kejahatan korupsi atau teroris. Penyalahgunaan barang haram ini sudah menyebabkan kematian cukup tinggi. Lebih dahsyat dari pada kematian, justeru ketergantungan kepada narkoba membuat pemakainya sangat menderita dan berkehidupan sia-sia.

Yang lebih mengkhawatirkan lagi karena peredarannya sudah merambah ke generasi muda (anak-anak) yang masih di bangku sekolah. Tidak lagi sekedar selebriti dan para bintang yang bergelimang uang yang menyalahgunakan narkoba. Penggguna zat yang menimbulkan ketergantungan ini sudah sampai ke segala lapisan. Itu artinya, aparat hukum dan semua komponen yang berkompeten perlu lebih memperhatikan pengguna ini. Tidak boleh lagi ada sikap yang dapat menyuburkan penyalahgunaan barang-barang berbahaya ini.

Sinyalemen adanya aparat hukum yang ikut bermain dalam menyebarkan narkoba adalah informasi yang menyakitkan kita. Bagaimana sampai ada berita aparat hukum yang posisinya sebagai pemberantas penyalahgunaan narkoba justeru ternyata diam-diam ikut terlibat. Beberapa kasus aparat negara yang ketahuan terlibat, konon itu hanya bagian kecil yang kebetulan bernasib sial. Bagaikan rimba belantara, antara pengguna dan pengedar narkoba menang tidak mudah mengetahuinya. Tapi itulah sebenarnya tugas yang mesti segera dituntaskan. Penyakit ini sudah sangat kronis.

Keterlibatan para bintang (film, olahraga, politisi, dll) yang ketahuan dalam menyalahgunakan narkoba itu juga hanya bagaikan puncak gunung es saja. Nama-nama tenar seperti Maradona, Roy Marten, Polo dan banyak lagi adalah bukti bahwa narkoba memang bisa merambah ke siapa saja. Oleh karenanya pemberantasan penyalahgunaan narkoba memang sudah selayaknya menjadi tanggung jawab semua. Terutama di sekolah, ini adalah tugas tambahan maha berat yang wajib dilaksanakan juga oleh guru. Lembaga tempat tumbuhnya tunas bangsa ini tentu tidak ingin justeru menjadi salah satu tempat beredarnya narkoba.

Hukuman berat yang menjadi ide inti tulisan ini, sama sekali tidak bermaksud meremehkan para pengedarnya. Jika selama ini pikiran menghukum berat itu lebih tertuju kepada para pengedar saja, kini saatnya para pengguna pun mesti dihukum berat. Sejatinya tidak boleh ada keringanan bagi setiap orang yang secara sadar terlibat dalam menyalahgunakan barang celaka ini.***

Minggu, 27 Januari 2013

LDK Untuk Apa?

HARI Jumat (25/01) lalu saya membuka secara resmi pelatihan kepemimpinan bagi para pengurus OSIS (Organisasi Siswa Intra Sekolah) SMA Negeri 3 Karimun masa bakti 2012/ 2013. Kegiatan yang diberi titel LDK (Latihan Dasar Kepemimpinan) OSIS SMA Negeri 3 itu diikuti seharusnya 40-an orang pengurus OSIS periode 2012/ 2013. Tapi yang hadir, saat saya membuka itu kurang dari 30 orang. Sebagian tidak bisa ikut dengan berbagai alasan.

Kegiatan LDK memang kegiatan rutin bagi setiap pengurus OSIS baru. Sudah merupakan program tetap dari OSIS untuk mengadakan LDK bagi setiap anggota kepengurusan yang baru. Dan untuk tahun 2012/ 2013 para pengurus OSIS memang belum mengikuti LDK karena sekolah belum sempat melaksanakannya sejak dikukuhkan beberapa waktu sebelumnya.

Walapun agak trerlambat mengingat pengukuhan kepengurusan OSIS sudah sejak dua bulan yang lalu, kegiatan ini tetap dilaksanakan juga. Ini memang program kesiswaan yang dilaksanakan oleh pembina OSIS. Pertanyaannya masihkah perlu LDK ini jika ternyata sebagian pengurus tidak bisa ikut? Padahal pelatihan kepemimpinan ini memang penting dan sangat diperlukan oleh para pengurus OSIS yang baru. Sebagai pemimpin OSIS baru, mereka tentu saja masih belum berpengalaman dalam mengurus organisasi siswa itu. Untuk itu diperlukan pelatihan ini.

Makanya kegiatan ini harus tetap dilaksanakan. Karena kegiatan ini dianggap penting dan juga menghabiskan dana OSIS yang cukup besar. Untuk itu, kiranya para pengurus OSIS yang berkesempatan ikut dalam LDK ini dapat mengikutinya dengan penuh semangat.

Selama tiga hari dan dua malam mereka akan digembleng oleh para guru SMA Negeri 3 Karimun untuk lebih memahami bagaimana mengelola dan mengurus organisasi seperti OSIS ini. Mereka tidak dibenarkan kembali ke rumah selama mengikuti LDK ini. Mereka harus bermalam dan tidur di sekolah bersama para pembina yang melaksanakan kegiatan ini.

Setelah dibuka oleh Kepala Sekolah, sekaligus dilanjuutkan oleh Kepala Sekolah sendiri memberikan materi pertama sesuai jadwal yakni "Manajemen Kepemimpinan OSIS" selama kurang 90 menit. Dengan menggunakan infocus, Kepala Sekolah menyampaikan materi tentang kepemimpinan OSIS tersebut. Dan karena waktu yang pendek, menjelang Asar materi pertama selesai disampaikan. Kegiatan akan dilanjutkan setelah solat Asar dan dilanjutkan hingga sesuai dengan jadwal yang sudah disusun.

Apakah LDK memang perlu? Ya, memang perlu. Mereka harus mengikuti dan melaksanakannya dengan baik agar tercapai tujuan diselenggarkannya LDK ini. Sejatinya tidak boleh ada yang tidak ikut. Bahkan, jika sejak awal sudah merasa tidak akan ikut LDK yang waktunya bisa sampai malam hari, maka pengurus tersebut tidak perlu memaksakan diri untuk menjadi pengurus. Harusnya orang tua masing-masing siswa sudah mendapat informasi akan adanya LDK. Dengan begitu orang tua siswa akan memberi izin anaknya untuk mengikuti LDK. Jika tidak mau ikut, lalu untuk apa LDK dibuat?***

Sabtu, 26 Januari 2013

Membaca atau Menulis, Sama Pentingnya

TERKADANG keinginan menulis tidak selalu bisa terwujudkan sesuai dengan keinginan. Katakanlah keinginan menulis adalah setiap hari. Kita ingin menghasilkan minimal satu tulisan (karya) dalam setiap hari. Tapi dalam kenyataannya tidak semudah yang dibayangkan. Baik membuat artikel, membuat cerpen atau puisi sekali pun selalu akan ada masa-masa jenuhnya.

Situasi jenuh atau bosan dalam menulis sesungguhnya itu wajar-wajar saja. Bukan hanya dialami oleh penulis pemula tapi buat penulis senior atau yang sudah profesional saja akan ada waktu-waktu tertentu yang tidak mudah baginya melahirkan satu karya tulis. Entah kesempatan yang terasa sempit, entah bahan (topik) yang terasa sulit, yang pasti selalu saja ada waktu-waktu sulit dalam menulis.

Maka yang utama dalam situasi seperti itu adalah bagaimana kita tetap memanfaatkan waktu-waktu yang ada (sesempit apapun) untuk beraktivitas yang sejalan dengan kreativitas tulis-menulis. Kita tahu, sebelum menulis harus ada ada masalah atau bahan yang akan ditulis. Dan untuk mendapatkan bahan tulisan adalah dengan pengamatan atau dari bacaan.

Oleh karena itu dalam situasi sulit melahirkan karya tulis, kita harus tetap beraktivitas membaca. Dengan membaca kita akan kembali merasa dan akan mendapatkan bahan-bahan baru untuk dijadikan bahan tulisan. Makanya dalam cara pandang kita wajib ditetapkan bahwa membaca itu sama pentingnya dengan menulis. Artinya, jika tidak bisa menulis ya kita wajib membaca.***

Kamis, 24 Januari 2013

Menyenangkan atau Melonggarkan

TUNTUTAN agar seorang guru mampu menyenangkan peserta didik ketika mengelola proses pembelajaran terkadang serasa berhadapan dengan dua pilihan antara mengetatkan tata tertib atau melonggarkannya. Seorang guru, di satu sisi dituntut mampu membuat suasana kelas tenang dan nyaman yang berarti tidak bisa membiarkan peserta didik sesuka hati berbuat sesuatu sementara di sisi lain siswa diharapkan senantiasa kreatif yang berarti mereka tidak dapat dikekang begitu saja.
Membuat para siswa tenang di dalam kelas artinya mereka tidak dapat dan tidak boleh dibiarkan berlaku dan melakukan sesuatu sesuka hatinya. Mereka tidak mungkin dibiarkan bebas melakukan apa saja di dalam kelas pada saat berlangsungnya proses pembelajaran. Seumpama keinginan para siswa untuk berkeliaran di ruang kelas yang bisa berarti bagian dari kreativitas siswa entah untuk saling berdiskusi atau bentuk komunikasi apapun antara satu dengan lainnya, tentu saja ini tidak bisa dibiarkan jika ingin suasana kelasnya tenang. Hal seperti ini malah akan membuat kelas menjadi tidak tenang.

Atau bisa pula para siswa yang saling bertanya dengan suara sedikit lebih keras dan berisik yang berarti juga akan membuat kelas sedikit akan gaduh. Padahal hal itu tidak selalu berarti negatif karena mungkin untuk maksud saling menjelaskan materi pelajaran yang sedang dibahas. Tapi jika ketenangan ruang kelas yang diperlukan maka hal ini pun tidak bisa dibiarkan. Guru mungkin akan membuat aturan dan penekanan tertentu sehingga suasana kelas tetap dalam keadaan tenang.

Pembelajaran menyenangkan berarti pembelajaran yang disukai dan disenangi oleh peserta didik pada saat berlangsungnya proses pembelajaran. Pembelajaran menyenangkan mestinya adalah proses pembelajaran yang membuat para peserta didik termotivasi untuk berkreasi dan berinovasi. Target utama untuk mencapai tujuan pembelajaran menjadi kunci tapi teknik dan pendekatan yang dipakai seorang guru tidak wajib menggunakan cara-cara yang justeru mematikan kreasi dan inovasi peserta didik.

Perlu ada pemahaman dan keluasan wawasan seorang guru untuk meraih tujuan tersebut. Seorang guru tidak bisa hanya berpatokan kepada satu atau dua pendekatan saja dalam usaha menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan. Lebih berbahaya lagi jika pengertian menyenangkan juga diartikan sebagai suasana kelas yang tenang. Tenang dalam makna tidak munculnya kreasi dan inovasi siswa dalam pembelajaran justeru akan bertentangan dengan perinsip menyenangkan itu sendiri.

Oleh karena itu tidak perlu ada pertentangan antara menerapkan tata tertib demi ketenangan kelas dengan membiarkan tidak berjalannya tata tertib demi kebebasan dan kesenangan peserta didik di ruang kelas. Sesungguhnya penerapan tata tertib yang benar tidak akan membuat peserta didik 'mati gerak' dalam arti mereka hanya diam, duduk melipat tangan di atas meja, dan tidak bersuara sama sekali. Penerapan tata tertib yang benar haruslah tetap membuka ruang bagi peserta didik untuk berkreasi dan berinovasi dalam usaha mencapat tujuan pembelajaran itu sendiri.***

Minggu, 20 Januari 2013

Guru Berguru di Hari Minggu

HARI Ahad alias hari Minggu lazimnya bagi guru ya berlibur di rumah atau di mana saja. Bisa berlibur dengan pergi ke tempat-tempat yang menyenangkan sebagai rekreasi atau bisa mengisi waktu di rumah saja. Satu pekan bergelut dengan buku dan anak didik di sekolah, cukup membuat lelah bagi seorang guru. Hari Minggulah hari istirahatnya.

Tapi buat guru-guru yang kreatif hari Minggu tetap saja ada yang ingin dilakukan. Bagi ibu-ibu yang selama satu pekan tidak dapat menyiapkan hidangan untuk suami atau untuk anak-anak dengan sempurna, misalnya maka hari Minggu biasanya dapat dilakukan dengan baik sebagai penggantinya. Bagi bapak-bapak pula, bisa juga menjadikan hari Minggu sebagai hari untuk membantu atau menyenangkan ibu-ibu para isterinya. Memasak atau bekerja apa saja, bapak-bapak dapat melakukannya di hari libur itu.

Lalu bagaimana jika keinginan bekerja oleh seorang guru di hari Minggu ternyata tidak mudah karena memang tidak terbiasa, maka sudah seharusnya hari Minggu dipakai untuk hari 'berguru' alias hari belajar pula buat guru-guru. Ibu-ibu yang dalam jam sekolah masakan  yang dihidangkan untuk suami dan anak-anaknya misalnya mengandalkan katering atau pembantu untuk memasaknya maka di hari Minggu harus belajar melakukannya sendiri. Harus belajar? Ya, harus belajar melakukannya.

Beraneka masakan untuk hidangan suami atau anak-anak dapat dilakukan di hari Minggu. Ibu-ibu kreatif tentu tidak akan habis ide untuk melayani suaminya dengan baik di hari Minggu. Begitu juga sebaliknya bagi bapak-bapak. Seorang bapak yang dalam satu pekan tidak pernah bisa membantu pekerjaan rumah, misalnya maka di hari Minggu hendaklah melakukannya. Melakukannya bersama dengan isteri dan anak-anak atau sendiri saja, terserahlah kepada para bapaknya.

Inti yang ingin disampaikan di sini adalah bagaimana hari Minggu dapat dijadikan hari tempat belajar atau berguru walaupun dia adalah seorang guru. Guru harus berguru, ya di hari Minggulah ada waktunya.***

Selasa, 15 Januari 2013

TO dan UN 20 Paket

TRAY OUT (TO) Ujian Nasional (UN) SMA Negeri 3 Karimun hari ini (Selasa, 15/01/13) sudah dimulai. TO UN ini dimaksudkan untuk melihat sejauh mana persiapan siswa/ wi kelas 3 (kelas XII) menghadapi UN tahun ini. UN sendiri baru akan dilaksanakan pada bulan April 2013 nanti.

Pentingnya melihat kesiapan peserta didik tahun terakhir SMA Negeri 3 Karimun ini sekaligus untuk melihat juga keberhasilan guru kelas XII yang memberikan pembelajaran tambahan (trobosan) sejak bulan Oktober tahun lalu. Artinya, hasil trobosan tiga bulan itu akan terlihat dari hasil TO ini nanti. Ini penting sekaligus untuk bahan evaluasi oleh guru kelas XII itu.

Sekolah memang sudah berketetapan untuk tetap memberikan pembelajaran tambahan bagi siswa/ wi kelas 3 sebagaimana tahun-tahun sebelumnya. Sekolah juga meminta orang tua siswa untuk memberikan bantuan pelaksanaan trobosan yang akan berlangsung hingga awal April nanti. Setiap orang tua memberikan sumbangan biaya Rp 200-an ribu untuk pembelajaran tambahan yang hampir setengah tahun itu. Kegiatan trobosannya dilaksanakan setiap hari setelah proses belajar reguler usai. Trobosan juga hanya untuk enam mata pelajaran yang akan di-UN-kan saja. Dalam pelaksanaannya, setiap guru diberi uang transport dan uang makan siang setiap kali guru memberikan trobosan. Trobosannya dilaksanakan dari pukul 14.30 hingga pukul 16.00.

Trobosan tahun ini sesungguhnya mempunyai makna yang khusus mengingat UN tahun 2012/ 2013 ini akan menggunakan soal dengan variasi soal sebanyak 20 paket untuk setiap ruang. Artinya untuk setiap siswa akan memakai soal UN yang berbeda dengan teman-teman lainnya dalam satu ruang. Tidak ada soal yang sama dalam setiap ruang ujian. Tahun lalu masih menggunakan lima paket saja. Artinya masih ada beberapa siswa yang menggunakan soal yang sama antara satu dengan lainnya. Tapi tahun semua soal dalam satu ruang akan berbeda. Tentu tidak ada jalan lagi bagi siswa untuk saling berbagi jawaban.

Dengan paket sebanyak peserta ujian dalam setiap ruang, maka TO ini dipandang sangat penting bagi siswa untuk belajar menjawab soal-soal UN dengan ekstra hati-hati. Soal yang dipakai pun, sengaja menggunakan soal yang persis sama dengan soal UN. Dengan begitu diharapkan siswa mengikutinya dengan baik dan bersungguh-sungguh. Kepada para pengawas pun diingatkan untuk tidak membiarkan peserta TO untuk saling melihat temannya dalam menjawab soal ujian. Selamat mengikuti TO semoga sukses, amin.***

Minggu, 13 Januari 2013

Berburu Waktu juga Tanggung Jawab Guru

KELAZIMAN yang masih ada di sekolah adalah belum cerdasnya sebagian warga sekolah dalam menghemat waktu. Terutama waktu-waktu belajar masih ada yang menyia-nyiakannya. Tidak hanya siswa malah guru pun masih ada yang membiarkan waktu begitu saja berlalu.

Lihatlah saat-saat jam belajar akan dimulai. Apakah pada jam pertama (pagi) ataupun pada jam pertama pasca istirahat. Ada saja siswa atau guru yang terlambat masuk kelas. Belasan siswa masih tercatat di buku piket harian sebagai siswa terlambat datang. Sedihnya, guru-guru juga masih ada yang tidak tepat waktu masuknya pada saat jam mengajar. Apa saja alasannya sehingga tidak bisa tepat waktu masuknya? Hanya mereka saja yang tahu. Yang pasti, keterlambatan masuk kelas belum juga nol persen di setiap sekolah yang ada. Heran, mengapa masalah kelalaian waktu ini tidak juga bisa diatasi.

Sejatinya tidak ada alasan apapun bagi siswa untuk terlambat datang ke sekolah. Apalagi sampai tidak hadir dalam satu hari, ada berapa banyak waktu belajar yang akan terbuang percuma. Seharusnya para siswa itu dapat mengikuti materi pelajaran malah waktunya habis di luar kelas karena terlambat atau tidak hadir sama sekali dari pagi. Lebih sedih, para guru juga ternyata masih ada yang terlambat masuk kelas untuk menunaikan kewajibannya. Tentu saja ini lebih cilaka lagi.

Melihat gejala setiap hari selalu saja kita akan menyaksikan para siswa masih saja suka terlambat datang pagi atau terlambat masuk kelas setalah istirahat. Entah apa saja alasan mereka sehingga harus terlambat masuk kelas. Kita juga masih melihat ada guru yang juga terlambat masuk walau hanya beberapa menit. Pertanyaannya, siapa yang bertanggung jawab untuk terwujudnya efektivitas waktu di sekolah?

Tentu saja warga sekolah itu sendiri. Dan yang jauh lebih bertanggung jawab tentu saja guru berbanding siswanya. Meskipun siswa juga harus bertanggung jawab untuk pengelolaan waktu ini namun jelas tanggung jawab guru jauh lebih berat dan utama. Di atas itu semua, Kepala Sekolah adalah orang yang paling bertanggung jawab untuk itu semua. Kepala Sekolah kan juga guru. Jadi, waktu yang lewat berlalu itu harus segera diburu oleh para guru.***

Rabu, 09 Januari 2013

Dari Bicara ke Menulis: Surat untuk Guru ‘Pembina’


LAZIMNYA amanat Pembina Upacara yang disampaikan oleh Pembina Upacara setiap Senin-Pagi dalam upacara bendera adalah bentuk lisan tanpa konsep (tulisan). Jarang sekali seorang Kepala Sekolah atau guru yang mewakili Kepala Sekolah sebagai pembina menyampaikan Amanat Pembinanya dalam bentuk tertulis. Jika pun ada teks tulisan yang akan dibacakan, biasanya itu hanya menjadi konsep saja. Pengecualiannya adalah jika Kepala Sekolahnya membuatkan teks pidato yang wajib dibacakan oleh pembina pengganti.

Kesempatan berpidato di depan para peserta didik ketika menyampaikan amanat atau pembinaan pada saat apel upacara bendera, pada hakikatnya mengandung dua dimensi manfaat. Di satu sisi penyampaian amanat dimaksudkan untuk memberikan bimbingan kepada peserta upacara, khususnya peserta didik. Isi pembinaannya bisa masalah informasi pendidikan dan pengajaran dan atau masalah kedisipilnan dan peraturan. Sementara di sisi yang lain, kesempatan menyampaikan amanat itu adalah kesempatan guru untuk membuktikan kemampuannya dalam berbicara di hadapan audiens (peserta) upacara.

Tidak mudah juga sebenarnya berbicara (pidato) ketika memberikan amanat upacara bendera oleh seorang guru. Kalau pun sudah merasa terbiasa berbicara menyampaikan materi pelajaran di depan kelas, belum ada jaminan kalau di hadapan peserta upacara juga akan lancar menyampaikan materi pembinaannya. Di ruang kelas hanya ada peserta didik kelas tersebut saja sementara di lapangan upacara selain seluruh guru dan pegawai TU (Tata Usaha) juga ada Kepala Sekolah. Terkadang kehadiran mereka cukup membuat seorang guru pembina untuk sedikit grogi berbicara.  Apalagi jika berbicara di depan kelas ketika mengajar juga ternyata tidak atau belum sebaik dan selancar yang diharapkan.

Berpidato pada saat menyampaikan materi pembinaan dalam upacara bendera Senin-Pagi sebenarnya dapat dimanfaatkan oleh guru sebagai kesempatan untuk belajar atau memperlancar keterampilan berbicaranya. Dari empat keterampilan dalam berbahasa Indonesia, keterampilan berbicara sesungguhnya sangatlah penting kedudukannya dalam fungsi dan tanggung jawab sebagai seorang guru. Selain di ruang kelas, keterampilan berbicara dapat diaplikasikan pada saat memberikan amanat dalam upacara bendera itu.

Selain untuk pembinaan keterampilan berbicara, sejatinya penyampaian amanat pada saat upacara bendera juga dapat dimanfaatkan untuk keterampilan menulis. Artinya, sesudah keterampilan berbicara para guru dapat melanjutkannya ke keterampilan menulisnya. Guru pembina sebaiknya tidak berhenti pada usaha mencapai kemampuan berbicara saja. Dengan kompetensi berbicara dan menulis selain membaca, betapa akan luasnya kesempatan seorang guru untuk mengilhami peserta didik atau masyarakat lewat bicara dan tulisannya.

Memanfaatkan momen pembina upacara untuk keterampilan menulis dapat dilakukan antara lain dengan menyusun secara baik setiap amanat yang akan disampaikan dalam bentuk tulisan. Walaupun seorang pembina sudah merasa mampu berbicara secara spontan, alangkah baiknya materi amanat yang akan disampaikan tetap ditulis dalam sebuah konsep yang rapi. Panjang pendeknya tulisan (konsep) itu tergantung alokasi waktu yang disediakan untuk menyampaikan amanat.

Persiapan pelaksanaan upacara bendera biasanya sudah jauh-jauh hari disusun oleh sekolah. Jadwal pembina pun sudah dibuat oleh Kepala Sekolah. Para guru yang akan bertugas –mewakili Kepala Sekolah sebagai pembina– dalam upacara bendera juga sudah diberi tahu sebelumnya. Maksudnya semua pihak yang terlibat (pejabat, petugas dan peserta) upacara dapat mempersiapkan segala sesuatunya untuk kelancaran dan kesuksesan upacara bendera nanti.

Bagi guru yang mendapat giliran sebagai pembina, waktu beberapa hari menjelang tampil sebagai pembina dapat dimanfaatkan untuk menyusun teks pidato yang akan dibawakan dalam upacara nanti. Sekali lagi, walaupun guru tersebut tidak akan membaca teks tersebut, namun persiapan teks pembina tetap lebih baik dari pada tanpa teks. Selain sebagai alat menjaga konsistensi materi pidato amanat juga secara tidak langsung sudah melatih diri untuk keterampilan menulis. Selain itu, tulisan-tulisan yang dihasilkan oleh guru sebagai pembina upacara, dalam periode tertentu (satu tahun, dua tahun atau tiga tahun) dapat kembali direvisi, diedit untuk ditulis ulang. Kalau perlu, dikumpulkan menjadi sebuah tulisan lengkap, menjadi sebuah buku yang suatu saat bisa saja diperbanyak (dicetak). ***

Dapat juga dibaca di: http://edukasi.kompasiana.com/2013/01/08/dari-bicara-ke-menulis-surat-untuk-guru-517197.html?ref=signin

Selasa, 08 Januari 2013

Kenangan Indah Malaysia Singapura (5)


SETELAH dua malam (Sabtu- Ahad, 29-30/12/12) bermalam di Langkawi, malam selanjutnya rombongan akan meninggalkan Langkawi untuk bermalam tahun baru di KL (Kuala Lumpur), Ibukota Negara, Malaysia. Pagi-pagi, Senin (31/12/12) itu kami sudah check outdari Hotel Istana, dan hotel lainnya tempat kami menginap di Pulau Langkawi. Pukul 05.10 WM sudah mandi dan berkemas untuk ke Pelabuhan Jetikuah Langkawi selepas solat subuh nanti. Sesuai jadwal, ticket kami untuk kembali ke Kuala Perlis adalah kapal pertama pagi itu. Oleh ketua rombongan, kami diminta pagi-pagi sekali bersiap diri. Jangan sampai ketinggalan kapal. Pukul 06.15 kami sudah turun dari –lantai tiga hingga lantai sembilan– hotel itu setelah sebelumnya solat subuh bagi yang muslim.

Tepat pukul 07.40 WM kapal very yang kami tumpangi bergerak meninggalkan pelabuhan Jetikuah menuju Pelabuhan Kuala Perlis. Kurang lebih satu jam kami sudah sampai di seberang, Pelabuhan Kuala Perlis. Setelah sarapan di kedai-kedai sekitar pelabuhan, kami langsung masuk bus yang sebelumnya sudah kami sewa katika kami berangkat dari Johor Baru ke Pelabuhan Kuala Perlis, dua hari lalu. Pukul 09.45 bus wisata (kata orang Malaysia Bas Persiaran) itu bergerak. Menyusuri jalan tol sepanjang kurang lebih 800 km, dengan istirahat dua kali, sore menjelang malam kami sampai di KL. Malam ini kami memang akan menghabiskan malam tahun baru kami di KL.

“Semalam bermalam tahun baru di KL,” kata teman saya mengenang sebuah lagu. Saya teringat lagu “Semalam di Malaysia” yang dipopulerkan Dloyid atau Bimbo itu. Kami pun hanya satu malam (Selasa, 31/12/12) ini saja di Ibukota Malaysia, Kualalumpur. Ini adalah malam terakhir kami di luar negeri dalam perjalan “LAT Karimun-Singapura-Malaysia” tahun 2012  yang memakan waktu 5 hari 4 malam ini. Malam tahun baru ini akan kami nikmati bersama dengan ribuan orang yang memadati ibukota negara Malaysia itu.
Dua tahun terakhir, sebagian kami yang ikut dalam rombongan ini mengakhiri tahun, menyambut tahun baru selalu di KL. Tapi pada tahun 2010, tiga tahun lalu  kami berada di Langkawi untuk menyambut datangnya tahun baru. Sungguh menakjubkan malam tahun baru, menyambut tahun 2013 malam ini, di KL.
Selepas magrib –dijamak Isya—kami sudah keluar dari Hotel Adamson Kuala Lumpur, tempat kami menginap. Semua rombongan bergerak menuju lokasi wisata kota baru, Putrajaya kecuali ada beberapa orang yang tidak ikut ke sana karena membuat agenda sendiri. Direncanakan selepas menikmati suasana malam di Putrajaya, rombongan akan berkeliling sambil menunggu datangnya pukul 24.00 WM, datangnya tahun baru. Tentu saja di Indonesia masih satu jam lagi, saat itu menanti tahun baru.

Hingga pukul 23.00 WM kami menikmati suasana malam di KL dengan berjalan-jalan dan berbelanja. Lautan manusia di berbagai tempat membuat jalan macet di mana-mana. Menurut beberapa supir teksi yang sempat kami tanya, ada banyak jalan dalam kota yang ditutup malam itu. Ini dimaksudkan untuk memberi kesempatan kepada masyarakat menyambut tahun baru dengan lebih leluasa.
Saya sendiri dengan tiga orang teman lainnya, tidak ikut rombongan bus ke Putrajaya karena kebetulan kami memang sudah beberapa kali ke lokasi pusat pemerintahan Malaysia itu. Rombongan kecil  kami hanya berjalan kaki dari satu tempat ke tempat lainnya di antara keramaian manusia yang memadati jalan-jalan protokol dalam kota. Kami juga menyempatkan diri untuk berbelanja beberapa keperluan.
Tepat pukul 24.00 tengah malam, kami menyaksikan kilatan cahaya kembang api di sekitar KLCC yang terkenal dengan menara kembar Petronasnya itu. Kata pemandu wisata kami, “Kalau menara kembar, ini masih yang tertinggi di dunia,” jelasnya. Kilatan cahaya kembang api, sambar-menyambar di angkasa KLCC itu. Menurut beberapa teman, di banyak tempat juga ada permainan kembang api untuk menyemarakkan malam tahun baru. Saya dan rekan-rekan yang ikut dalam kerumunan orang ramai, hanya sekedar menyaksikan kilatan dan sambaran bunga api yang menjadi ciri perayaan tahun baru di Ibu Kota Kuala Lumpur.***

KENANGAN selama perjalanan Karimun-Singapura-Malaysia dalam Libur Akhir Tahun (LAT) 2012 menyongsong 2013 ini sesungguhnya sangatlah banyak. Bayangkan jauhnya perjalanan kami: bergerak dari Karimun, Kepri menyeberang ke Batam untuk menyeberang lagi ke Singapura. Setengah hari di negeri singa kami terus ke Malaysia dengan route Johor Baru menyusuri jalan tol ke Negeri Perlis sana untuk menyeberang lagi ke Langkawi di Kedah. Sungguh panjang perjalanan itu. Sepanjang itu pula kenangan yang kami rasakan.

Di setiap tempat peristirahatan bahkan dalam very (kapal laut) atau dalam bus selama perjalanan selalu ada aneka kenangan indah, juga yang tak indah tentunya. Di Singapura kami sempat disiram hujan ketika akan berjalan kaki menuju Masjid Sultan. Tentu ini tidak menyenangkan walaupun tetap mengesankan. Di dalam  dan selama perjalanan menuju beberapa lokasi wisata juga tidak selalu menyenangkan. Hotel tempat kami menginap di Langkawi juga tidaklah terlalu memuaskan karena fasilitas seperti televisi tidak tersedia di kamar. Hanya ada di luar kamar untuk beberapa kamar.

Namun secara keseluruhan, kenangan manislah yang lebih banyak kami rasakan. Itu harus saya katakan dengan jujur. Besarnya pegeluaran untuk biaya perjalanan rasanya sudah cukup seimbang dengan kenikmatan yang kami rasakan. Lima hari dan empat malam masa perjalanan terasa sangat singkat untuk menikmati tempat-tempat yang dilalui.

Untuk setiap tempat peristirahatan di sepanjang jalan tol selama dalam perjalanan, misalnya kami selalu merasa nyaman. Bukan saja karena berkesempatan buang hajat (besar/ kecil) setelah dua atau tiga jam dalam bus atau karena berkesempatan beristirahat untuk solat dan mandi serta makan-minum, akan tetapi rasa senang dan nyaman itu muncul adalah karena di tempat ‘rehat’ itu selalu ada segala kebutuhan yang kami inginkan. Ingin ke toilet atau ke kamar mandi, kamar mandinya banyak dan bersih. Tukang bersih (clining servis) yang bertanggung jawab menjaga kebersihannya senantiasa ada di situ. Baru saja kita menggunakan ‘refreshing room’ itu dia langsung membersihkannya. Dan toilet atau kamar mandi itu kembali bersih. Tak ada tulisan’ “Setelah buang air, tolong disiram!”

Ingin menikmati aneka makanan dan minuman, ada banyak jenis yang dapat jadi pilihan. Bahkan buah-buahan juga ada di tempat-tempat peristirahatan yang kami lalui di sepanjang jalan itu. Hebatnya pula, tak ada waktu khusus untuk semua itu. Pagi, siang dan malam bahkan jam-jam larut malam pun kebetulan kami berhenti, tempat-tempat peristirahatan tetap buka. Pelayannya seperti tidak pernah tidur. Menurut salah seorang pelayan di sebuah kafe yang sempat saya tanya, mereka memang bertugas mengikut jadwal shiff yang sudah ditentukan. Jadi, kafe itu senantiasa buka sepanjang waktu (24 jam).

Di dalam bus (seperti sudah disinggung sedikit sebelumnya) hati kami juga dibuat segembira mungkin oleh para pemandu wisata. Di setiap bus kami ada satu orang pemandu wisata. Merekalah yang menjelaskan perihal tempat-tempat wisata (di Malaysia atau Singapura) selama dalam perjalanan. Mereka menjelaskan dengan gamblang bagaimana pemerintahnya membuat program pariwasata (pelancongan) di negeri mereka. Destinasi (tujuan) wisata apa dan kemana saja sebaiknya kita kunjungi mereka jelaskan. Para pemandu wisata –yang memandu rombongan bus saya– bahkan juga bisa melawak dan bernyanyi. Itu tentu saja cukup membuat kami senang dan puas.

Di Langkawi (dua hari dua malam) kami sempat menikmati keindahan alam pulang ‘elang’ itu sambil berbelanja murah. Di lokasi wisata Gunung Mat Cincang kami berkesempatan melihat Langkawi dari udara pada saat kami berada di atas cable car atau skycar yang terkenal sangat curam tanjakan kabelnya itu. Isteri saya dan isteri teman saya yang kebetulan sama-sama dalam satu ‘kereta kabel’ bersama saya bahkan sangat ketakutan ketika melintasi hutan gunung itu. Puncaknya sangat tinggi. Tanjakan kabelnya juga sangat curam. Terasa lebih curam dari pada yang ada di Genting High Land.

Jika ada kesempatan, rasanya ingin kembali ke sana. Beberapa tempat, belum sempat kami kunjungi. Berbelanja di Mall Idaman Suri dengan produk pecah-belahnya yang sangat murah juga terasa waktunya pendek. Luasnya mall itu membuat waktu kami terasa pendek di situ. Padahal kami juga dibawa ke mall Grup Haji Ismail yang terkenal itu. Di samping niat ingin kembali ke Langkawi, kami juga punya keinginan untuk berkunjung ke beberapa lokasi wisata di negeri sendiri. Semoga terkabul.***

Minggu, 06 Januari 2013

Kenangan Indah Malaysia Singapura (4)


SORE (Selasa,01/01/13) ini saya sebenarnya baru saja sampai di Karimun kembali setelah berlibur lima hari empat malam sejak Jumat (28/12/12) lalu. Tapi saya baru dapat melanjutkan catatan perjalanan ini setelah dua hari ini tidak bisa inrternetan selama di Kuala Lumpur, sesampai di rumah.

Perjalanan panjang Johor Baru hingga ke Kuala Perlis (Jumat, 28/12) lalu untuk mrnyeberang ke Pulau Langkawi benar-benar melelahkan. Kurang lebih 8 jam kami di dalam bus ber-AC itu sejak berangkat dari perbatasan Singapura- Malaysia pukul 2i.10 WM malam. Dengan hanya berhenti untuk makan malam dan solat Isya- Magrib (dijamak) di Machap bus terus menyusuri malam di sepanjang jalan tol Plus itu. Antara tidur dengan tidak, akhirnya menjelang subuh kami sampai di tempat peristirahatan Sungai Perak di pagi Sabtu (29/12/12) itu.

Di sini tiga bus rombongan kami berhenti untuk memberi kesempatan kepada kami melaksanakan solat subuh dan sarapan pagi. Malamnya kami solat Isya di kawasan Machap Johor Baru, subuh ini di Negeri Perak. Sangat menyenangkan untuk tiap tempat istirahat selama perjalanan di sepanjang jalan tol Malaysia. Harus jujur saya katakan, segala fasilitas sepeti kamar mandi, WC, musolla (untuk laki dan untuk perempuan) semuanya tersedia. Jumlah kamar mandi/ WC-nya juga sangat banyak. Kami yang tiga bus itu tidak perlu berlama-lama antri menunggu giliran. Tentu saja tidak ada bayarannya mandi dan buang air (besar-kecil) pagi itu.

Selepas sarapan pagi kami melanjutkan perjalanan. Tiga mobil pariwisata (bas persiaran, kata orang Malaysia) yang kami carter selama perjalanan liburan ini beriringan terus menyusuri jalan tol yang mulus. Di kiri kanan sepanjang jalan hanya ada tumbuhan dan pepohonan yang membuat sejuk pemandangan. Tidak ada perumahan atau kedai-kedai penduduk. Sejuknya suasana mobil ber-AC serasa kian adem dengan pemandangan di sepanjang jalan tol yang hijau oleh tumbuhan pepohonan dan kebun itu. Ah, sungguh menyenangkan liburan ini.

Pemandu wisata dalam bus kami juga menyenangkan. Dia kocak dan pintar melawak bernyanyi. Selepas bernyanyi dia memberikan informsi tentang Malaysia, khususnya Langkawi yang tengah kami tuju. Menjelang sampai ke Pelabuhan Kuala Perlis, kami istirahat makan siang. Saat itu memang menjelang makan siang. Sehabis makan siang, perjalanan diteruskan dan kurang lebih pukul 13.00 bus berhenti untuk memberi kesempatan solat zuhur dan yang dijamak dengan asar. Pada kurang lebih pukul 15.00 (WM) kami baru sampai di Pelabuhan Kuala Perlis.

Lama juga menunggu kapal very yang akan membawa kami ke seberang, Pulau Langkawi sana. Sekitar jam 17.00 baru kami meninggalkan pelabuhan Kuala Perlis untuk menuju Pelabuhan Jetikuah di Langkawi. Menjelang pukul 18.00  kami baru merapat di Pelabuhan Jetikuah. Bus Langkawi pun sudah menanti kami di terminal Jetikuah, Langjkawi. Sekitar setengah jam, kami sampai di Hotel Istana tempat sebagian kami menginap. Sebagian lagi menginap di hotel lain karena jumlah kami yang cukup ramai.

Malam ini, kami menikmati suasana malam menjelang tahun baru di Langkawi tempat terjadinya kisah legenda Mahsuri dan kisah Puteri Dayang Suri itu. Malam ini tak ada kegiatan mengingat letihnya badan menempuh perjalanan panjang dari Johor ke Langkawi seharian. Yang ingin makan, malam ini juga dapat mencarinya sendiri-sendiri. Besoknya baru akan ada kegiatan sesuai jadwal perjalanan pariwisata ini.

Pagi, Ahad (30/12/12) itu kami sudah menyusun jadwal perjalanan untuk berkunjung ke beberapa lokasi wisata di Pulau Langkawi. Pagi-pagi selepas sarapan pagi di warung sekitar hotel tempat menginap, kami dibawa ke lokasi tempat pembuatan obat-obatan gamat. Ada kurang lebih 80 jenis obatan-obatan herba dengan bahan pokoknya dari gemat, jenis hewan laut yang dapat menyembuhkan berbagai penyakit itu. Kepada kami ditunjukkan oleh pemandu wisata bagaimana proses pembuatan berbagai produk gamat tersebut.

Saya menyaksikan betapa antusiasnya para pengunjung mendengarkan penjelasan dari penjual obat-obatan itu. Begitu bersemangatnya, hampir semua kami membeli obat-obatan itu. Dari beberapa orang yang saya tanya, tidak kurang RM 50,00 setiap seorang/ keluarga yang membeli obat-obatan itu. Bahkan ada yang menghabiskan uangnya sampai RM 500,00. Jika di antara 118 orang pengunjung, berbelanja sebanyak 80 orang saja, dan setiap orang membelanjakan uangnya rata-rata RM 150,00 (kurang lebih Rp 450.000 / empat ratus lima puluh ribu rupiah) maka kurang lebih Rp 35.000.000 (tiga puluh lima juta rupiah) dibelanjakan di tempat itu.

Masih ada tiga lokasi wisata yang sempat kami kunjungi yaitu lokasi wisata Gunung Mak Cincang yang terkenal dengan cable car atau skycar(kereta gantung) itu. Untuk dapat menaiki kereta udara itu setiap orang harus merogoh uang RM 30,00. Lokasi selanjutnya kami ke Under Water World yang terkenal dengan akuarium raksasanya. Meskipun masih lebih kecil dari pada di Anchol (Jakarta) atau yang di Sentosa (Singapura) namun sebagian di antara kami juga ada yang ikut masuk ke dalamnya dengan mengeluarkan uang ticket sebesar RM 35,00 untuk orang dewasa. Dan yang terakhir yang sempat kami kunjungi adalah lokasi pulau-pulau yang terkenal dengan elang-elang yang tampak jinak di sekitar selat. Juga melihat ikan kerambah yang cukup banyak jenisnya. Terakhir kami baru pergi ke beberapa pasar untuk membeli becah-belah. Berapa uang yang ditinggalkan di Pulau Langkawi? hanya masing-masing kami yang tahu.***

Sabtu, 05 Januari 2013

Kenangan Indah Singapura-Malaysia (3)


SUNGGUH melelahkan perjalanan panjang Singapura Langkawi ini. Libur Akhir Tahun (LAT) 2012 yang diikuti umumnya para guru dan beberapa orang pegawai Pemda Karimun kali ini. Setelah sampai dan menyelesaikan perjalanan wisata di negeri singa selama setengah hari lebih, (Jumat, 28/12) rombongan kami bersiap-siap menuju Malaysia via jalan darat, Johor Baru yang merupakan negara bagian yang berbatasan langsung antara Singapura dan Malaysia.


Kesan selama di Singapura memang terasa tidak seberapa karena singkatnya waktu kami di sini. Setelah mengunjungi masjid Sultan dan melaksanakan solat Asar yang dijamak dengan solat Zuhur –mengingat waktu zuhur kami tertunda ketika melewati imigrasi di pelabuhan Singapure– pemandu wisata mengajak kami ke lokasi wisata Male Lion. Dengan patung singa yang menyemburkan air dari mulutnya, tampak icon negara kecil yang cukup makmur itu sangat indah. Kami bergantian berfoto dengan latar belakang patung itu.

Informasi yang disampaikan Nchik Salam tentang hotel yang rendah itu, walaupun tidak terlalu penting namun saya tetap mencatatnya di buku kecil saya. Ternyata yang dimaksud hotel terendah itu adalah Hotel Raffles yang memang hanya berlantai dua saja. Hotel ini, meskipun tidak memiliki kamar-kamar sebagaimana layaknya hotel, tapi katanya di situlah para tamu terhormat dan tamu terkenal menginap kalau berkunjung ke Singapura. Dari bintang film dan artis top dunia hingga ke presiden dan kepala negara, menginapnya di sana. Begitu penjelasannya. Sewa swit per malam yang termurah knon kurang lebih SD1000 (8 jutaan) rupiah.

Sementara hotel yang paling tinggi ternyata adalah hotel Swis dengan ketinggian 75 lantai. Yang menarik dari informasi Salam adalah bahwa di hotel ini setiap tahun diadakan lomba meraton menaiki tangga hotel yang diikuti oleh para pelari profesional dunia. Dengan hadiah 25.000 dollar Singgapura, para pelari dunia selalu meramaikannya. Katanya waktu tercepat yang pernah dicapai adalah 6,40 menit oleh seorang pelari asing yang berlari dari lantai dasar ke lantai 73. Di lantai 74 dan 75 hanya ada restoran, katanya. Sambil dia bercerita, bus kami terus bergerak sebelum kami sampai di male Lion itu.

Kurang lebih satu setengah jam di tepi laut yang ditata indah dengan berbagai bangunan itu, kami lalu pergi ke pasar Bugis yang lebih dikenal dengan sebutan Bugis Street. Pasar dengan aneka ragam jualan itu sangat padat oleh manusia. Dari berbagai makanan sampai ke berbagai pakaian dan barang eloktronik ada di sini. Rombongan LAT kami kebanyakan hanya sekedar melihat-lihat untuk ‘cuci mata’ saja. Hanya beberapa orang yang berbelanja seperti makanan dan pakaian.

Dari sinilah, kira-kiran pukul 19.00 WS mobil kami meneruskan perjalanan ke arah perbatasan Singapure Malaysia, di Johor. Macetnya perjalan membuat mobil kami berjalan sangat pelan. Tepat pukul 20.40 WS kami baru sampai di perbatasan Singapura- Johor Baru. Lalu kami turun dari bus untuk melaporkan paspor kami masing-masing ke petugas imigrasi di perbatasan itu.

Ada kejadian lucu di sini. Sekeluar dari bus, kami berebut ingin cepat melaporkan paspor untuk dapat cap dari petugas. Melihat beberapa orang menuju ke jalur kanan yang tampak kosong, sebagian kami berlari juga ke sana. Di situ beberapa orang tampak mengeluarkan paspor sendiri tanpa melapor ke petugas. Tampaknya orang-orang itu hanya menempelkan paspor dan telapak tangan kirinya ke layar monitor yang memang sudah ada. Setelah itu pintu pagar pembatas terbuka secara otomatis dan orang itu berjalan menyeberangi pembatas.

Setelah orang-orang itu selesai, rombongan kami yang paling depan mencoba malakukan cara yang sama. Apalagi ada seorang teman yang sok mengerti. Dia menyuruh seperti yang dilakukan orang-orang tadi. Tapi rombongan kami tidak ada yang berhasil. Pintu pembatas juga tidak kunjung terbuka. Sampai salah seorang petugas imigrasi Singapura mengingatkan untuk pindah ke jalur kiri. “I’m sorri, Man, no  no” katanya sambil menunjuk jalur lain yang antriannya sangat panjang. Kami pun berlari ke jalur sebelah itu.

Rupanya jalur-jalur sebelah kanan itu khusus untuk para pengunjung/ pelintas batas dari negeri Singapura sendiri yang akan pergi ke Malaysia. Paspor mereka memang tidak sama dengan paspor kami. Waduh memalukan, kata saya dalam hati karena terikut ke jalur yang salah itu. Antrian saya sudah di nomor lima. Akhirnya harus pindah ke jalur biasa yang antriannya ada sertusan orang.

Selepas cap paspor, dan semua kami sudah melewati pintu itu, kami kembali masuk ke bus masing-masing yang memang sudah menunggu kami di seberang sana. Dengan bus yang sama kami melanjutkan ke satu pos lagi, Pos Imigrasi Malaysia, di Joho Baru. Tepat pukul 21.10 WS atau sama dengan Waktu Malaysia (WM) kami tiba di perbatasan Malaysia Singapura. Sekali lagi kami harusmelaporkan paspor kami untuk di cap oleh imigrasi Malaysia pula. Di sini tidak terlalu lama. Prosesnya juga terasa lebih cepat. Dan sampai di seberang sana, kami akan berganti bus. Selama di Malaysia, kami akan menggunakan bus wisata (di Malaysia disebut Bus Persiaran) Malaysia.***

Jumat, 04 Januari 2013

Kenangan Indah Singapura-Malaysia (2)

Hari pertama LAT Karimun- Singapura- Malaysia, sesuai jadwal, kami akan menghabiskan waktu berlibur di negeri Lie Kwan Yu itu hingga petang. Tepat pukul 13.45 WIB/ 14.45 Waktu Singapura (WS) kami pun sudah berada di dalam bus wisata Singapura yang akan membawa kami berkeliling ke tempat-tempat tujuan wisata yang ada dan sempat kami kunjungi. Kemungkinan kami hanya akan mengunjungi satu atau dua tempat ‘destinasi’ wisata Singapura saja. Maklum waktu kami di sini hanya sambil lewat untuk ke Malaysia saja. Kurang dari satu hari kami di sini. Dan pukul 14.00 WIB (pukul 15.00 WS) mobil kami pun mulai bergerak meninggalkan terminal pelabuhan Singapura. Seorang pemandu wisata Singapura keturunan India, Nchik Salam memandu perjalanan wisata singkat kami di kota pulau itu.

Mula-mula kami dibawa ke Masjid Sultan, masjid tertua di Singapura. Kami memilih ke sana, karena kami yang sebagian besar muslim kebetulan belum melaksanakan solat zuhur saat waktu zuhur sudah lama masuk. Berbagai keterangan perihal wisata Singapura dijelaskan kepada kami oleh Nchik Salam sambil berdiri dalam bus itu. Ada tiga bus, rombongan kami ini. Saya sendiri berada di bus kedua dengan Nchik Muhammad Salam sebagai pemandu wisatanya. Hujan gerimis mengiringi perjalanan kami ke masjid bersejarah itu.

Sangat banyak penjelasan yang disampaikan Nchik Salam yang beragama Islam itu kepada kami. Dia menjelaskan sejarah berdirinya masjid Sultan walau serba ringkas. Dia juga menjelaskan perihal banyaknya hotel di Singapura yang tergolong Negara pulau kecil itu. “Kurang lebih 300 hotel ada di negara kami,” jelas Nchik Salam tentang jumlah hotel di negara yang daratannya bisa dikelilingi sekali berlari itu. Secara khusus dia menjelaskan hotel tertinggi dan hotel terendah yang ada di negeranya. Dia juga menjelaskan apa keunikan dan apa kehebatan dua hotel yang dia sebut itu.

Kata Muhammad Salam, hotel yang paling rendah di Singapura adalah Hotel Raffles, hotel cukup tua di negeri singa. Hotel ini, meskipun tidak mempunyai kamar-kamar sebagaimana layaknya kamar hotel biasa namun hotel ini selalu dipakai untuk tamu-tamu terhormat. Para kepala Negara atau kepala pemerintahan selalu diinapkan di hotel ini. Begitu juga para bintang film dan selebriti sekelas Michael Jackson, misalnya akan menginap di sini. Bilik dengan sebutan swit itu ternyata sangat istimewa untuk menerima tamu-tamu terhormat. Konon, sewa swit termurah di hotel itu adalah 800-an dolar Singapura (kurang lebih 6,5 juta) per malamnya.

Sementara hotel tertinggi yang disebut Nchik Salam adalah hotel biasa yang pada satiap tahun selalu dikunjungi ramai orang karena di sinilah selalu diadakan lomba maraton menaiki hotel. Lomba maraton menaiki hotel adalah salah satu iven di Singapura dengan menawarkan hadiah sangat besar. Para pelari profesional dunia senantiasa ikut dalam lomba ini. Itulah Hotel Swiss yang berketinggian 75 lantai. Para pelari akan berlari dari lantai satu ke lantai 73. “Dua lantai paling atas hanyalah restoran,” kata Nchik Salam menjelaskan kegiatan tahunan maraton menaiki hotel itu.*** (bersambung)

Kamis, 03 Januari 2013

Kenangan Indah Singapura- Malaysia (1)

Hampir Tak Ikut
AKHIRNYA  terkabul juga keinginan saya untuk berlibur di akhir tahun ini. Karena luput melihat masa expire paspor yang ternyata akan berakhir pada 21 januari 2013, rencana perjalanan Liburan Akhir Tahun (LAT) ini hampir batal. Jika paspor tidak bisa diperpanjang, otomatis tidak bisa ikut teman-teman ke Singapura dan Malaysia sesuai rencana. Tentu menyedihkan.
Alhamdulillah, detik-detik keberangkatan, menjelang 28 Desember 2012 paspor itu selesai juga. Salah seorang teman yang punya jabatan strategis, dapat mengusahakannya. Padahal saya sudah putus asa. Beberapa kali saya ke Imigrasi Tanjungbalai Karimun yang beralamat di Kolong Tanjungbalai Karimun beberapa kali pula saya kecewa.

 Sebenarnya masih ada waktu sepuluh hari sejak saya tahu kalau paspor saya akan mati. Waktu itu, Ibu Erna (Erna Ayub) meminta SMS-kan detail paspor saya dan isteri untuk keperluan ticket dan boarding pass pelabuhan untuk keberangkatan ke Singapura dan Malaysia. Lalu data itu saya kirimkan. Waktu itulah saya tahu, kalau paspor saya segera akan berakhir masa lakunya dalam satu bulan ke depan. Sementara syarat masa laku paspor tidak boleh kurang dari enam bulan.

Dalam keadaan seperti itu, Ibu Erna mengatakan saya tidak bisa berangkat ke Luar Negeri kalau tidak diperpanjang terlebih dahulu paspornya. Tapi dia mengatakan, kemungkinan masih ada waktu untuk memperpanjangnya. Dia meminta saya untuk segera ke Kantor Imigrasi untuk mengurusnya.

Besoknya, saya ke Imigrasi. Saya melengkapi semua persyaratan sesuai ketentuan. Mulai dari KTP (Kartu Tanda Penduduk), KK (Kartu Keluarga), dan Surat Nikah yang kesemuanya harus yang asli dapat saya siapkan dalam satu hari itu. Tapi mengambil antrian untuk berfotonya ternyata tidak mudah. Orang-orang yang mengurus paspor di akhir tahun ternyata sangat banyak. Saya harus menunggu dua tiga hari untuk giliran berfoto. Itupun karena kebetulan ada seorang pegawai imigrasi yang membantu saya. Dengan alas an mesin rusak, pengurusan paspor kali ini terasa sangat sulit.

Setelah dapat berfoto, ternyata tidak ada jaminan paspor akan selesai dalam satu minggu sesuai ketentuan. Padahal saya punya waktu kurang dari satu minggu untuk member jawaban ke Bu Erna untuk berangkat atau tidak. Karena menurut pegawai imigrasi, kemungkinan selesainya adalah pada tanggal 28 Desember (seminggu lagi) maka saya akhirnya diputuskan oleh Bu Erna untuk tidak ikut. Dia yang sudah sangat kenal baik dengan para pegawai imigrasi pun tidak bisa membantu.

Tapi nasib baik masih menyertai saya. Malamnya seorang teman yang juga anggota DPRD Karimun mencoba berusaha untuk membantu urusan paspor saya. Katanya dia akan mencoba minta tolong ke seseorang yang biasa membantunya. Dan ternyata benar. Dua atau tiga (kalau saya tak salah) hari berikutnya, paspor saya benar-benar kelar. Dan saya pun dapat ikut bersama dengan seratusan orang lainnya ke Langkawi-Malaysia via Singapura.***

Melalui Batam
JUMAT (28/12) sekitar pukul 07.45 WIB pagi itu, kapal Mikonatalia yang kami tumpangi berangkat meninggalkan pelabuhan domestik Tanjungbalai Karimun. Sebanyak 118 orang rombongan kami bersama beberapa penumpang lainnya akan menuju ke Batam. Walaupun program perjalanan liburan akhir tahun ini adalah ke luar negeri tapi akan berangkat melalui Batam. Satu setengah jam naik kapal very Karimun- Batam, akhirnya kami merapat di Pelabuhan Sekupang, Batam.

Keluar dari Mikonatalia, kami akan berjalan kaki saja pelabuhan Internasional yang memang tidak jauh jaraknya. Dari Pelabuhan Internasional Sekupang Batam, rombongan peserta LAT ini akan menuju Singapura. LAT Karimun- Singapura- Malaysia akan bermula dari sini, dari pelabuhan Karimun dan Pelabuhan Batam. Semoga lancer dan aman, kata saya dalam hati.
Saya ingat kami sampai di Pulau Batam tepat pukul 09.25 WIB. Dari pelabuhan domestik Sekupang kami berjalan kaki saja ke pelabuhan Internasional Batam yang berada di sebelahnya. Bersiap-siap untuk menyeberang ke negeri singa yang berbatasan langsung dengan Karimun atau Batam itu. Masyarakat Karimun atau Batam, Provinsi Kepri umumnya memang merasa lebih mudah berlibur ke negeri seberang dari pada di negeri sendiri seperti ke Jakarta atau Bali. Mungkin karena jaraknya yang cukup dekat dengan negeri jiran itu.

Lama juga kami menunggu keberangkatan ke Singapura. “Jadwal kapal baru pukul 11.00 siang”, begitu menurut penjelasan pimpinan rombongan, Bu Erna. Dan memang benar, bahkan kapal Pacific yang kami tumpangi baru meninggalkan pelabuhan Batam tepat pukul 11.20 WIB. Sekitar satu jam mengharungi laut, akhirnya kami sampai di Pelabuhan Internasional Singapura pada pukul 12.25 WIB (pukul 13.20 Waktu Singapura). Proses cap paspor di pelabuhan yang terkenal sangat ketat itu, menghabiskan waktu kami hampir satu jam.
 
Copyright © 2016 koncopelangkin.com Shared By by NARNO, S.KOM 081372242221.