BREAKING NEWS

Selasa, 31 Desember 2013

Potensi yang Belum Tergali

SALAH seorang narasumber pada seminar pendidikan yang dilaksanakan pada hari Senin (30/12) lalu kembali mengingatkan bahwa setiap guru memiliki beberapa kemampuan. Kemampuan itu terkadang tidak dimiliki oleh profesi lain. Kemampuan itu antara lain, memiliki kasih sayang dalam mencapai tujuan pembelajaran. Dengan kasih-sayangnya yang tulus membuat guru dengan mudah melaksanakan tugas pokoknya sebagai agen perubahan.

Dengan kasih-sayang, seorang guru akan membuat para peserta didiknya mau dan ikhlas menerima dan mengikuti proses pembelajaran yang dikelola guru. Tanpa rasa kasih-sayang sudah dapat dipastikan bahwa para peserta didik akan berontak atau apatis sehingga proses pembelajaran tidak dapat berjalan dengan baik dan benar.

Rasa kasih dan rasa sayang tidak dapat dipelajari. Perasaan kasih dan sayang sesungguhnya sudah ada sejak awal manusia yang bernama guru mulai melaksanakan fungsi-fungsi keguruannya. Bisa saja sebelum menjadi guru, seseorang itu sudah memiliki perasaan sayang dan kasih kepada anak-anak. Tapi mungkin tidak berkembang karena profesi yang digeluti tidak memerlukan rasa kasih dan rasa sayang.

Pikiran di atas kembali diungkapkan oleh salah seorang narasumber dalam Seminar Internasional Pendidikan 2013 yang ditaja oleh Bagian Kesra dan Kegamaan Setda Kabupaten Karimun. Dengan mengambil Sub Tema 'Menyoal Mutu Pendidikan Daerah Perbatasan' seorang profesor yang didatangkan dari salah satu Perguruan Tinggi ternama di Negeri Jiran, Malaysia mengatakan bahwa potensi rasa sayang itu sangat berguna dalam usaha mencapai tujuan pembelajaran. Dengan rasa kasih dan rasa sayang itulah seorang guru akan akan mampu pula melihat potensi brilian seorang anak-didiknya.

Guru dengan potensi kasih-sayangnya sekaligus mampu menemukan bakat setiap anak-didiknya akan membuat suasana pembelajaran akan terus menyenangkan. Guru seperti ini tidak akan menyalahkan anak-didiknya jika menemukan seorang siswa yang kesulitan dalam satu atau beberapa mata pelajaran. Guru dengan potensi mulia ini akan berusaha menemukan potensi kecerdasan lainnya di luar yang sudah diusahakan selama ini.

Seorang siswa bisa saja tidak mudah memahami Matematika atau Fisika. Tapi belum tentu dia tidak brilian di mata pelajaran lain. Dari belasan bahkan puluhan ilmu yang ditawarkan dan atau diberikan tidak satupun pelajaran yang disukainya. Bisa jadi juga bahkan anak ini sangat benci kepada pelajaran tersebut. Tapi bagi seorang guru yang baik dia dapat saja menemukan bakat lain di luar pelajaran yang sudah ada sebelumnya.

Akhirnya guru yang baik ini akan mengembangkan potensi yang tersembunyi ini untuk kebaikan anak itu sendiri. Tidak bisa mata pelajaran dengan angka-angka yang membosankan dia, mungkin saja siswa ini berbakat di mata pelajara  lain. Entah olahraga, melukis atau bernyanyi. Bisa saja pelajaran terakhir ini yang benar-benar disukainya. Maka pelajaran ini yang harus dikembangkan bagi para siswa.

Oleh karena itu, guru wajib mengembangkan potensi dirinya ini demi kemajuan peserta didiknya tersebut. jangan lagi memaksakan hal lain yang sama sekali tidak disukai siswa. Begitulah pesan profesor dari negeri seberang itu. Saya setuju dengan uraiannya tersebut. Artinya para guru kembali diingatkan bahwa di setiap diri anak pasti ada potensi yang dapat dikembangkan.***

Minggu, 29 Desember 2013

Jokowi Cawapres, Aduh Jangan

FENOMENA Jokowi membuat banyak tokoh politik bagaikan merana. Tidak hanya lawan-lawan PDI-P, partai pengusung Jokowi  yang tidak suka tapi di internal partai merah itu juga tidak kurang yang sewot melihat Jokowi bak meteor di blantika perpolitikan Indonesia. Syukurlah, kekuatan Mega dengan pengaruhnya yang masih dominan berhasil membuat keberadaan Jokowi di internal PDI-P tidak menimbulkan riak apapun. Dugaan Mega merasa tersaingi oleh Jokowi juga tidak dibesar-besarkan media.

Sementara (Nenek) Mega tidak juga menegaskan bahwa dia tidak lagi akan maju sebagai Capres PDI-P padahal mandat partai 'wong cilik' itu diserahkan sepenuhnya ke dia untuk menunjuk, penggemar Jokowi terus-menerus melambungkan gubernur berbadan kurus itu. Di berbagai media, terutama media sosial, Jokowi terus dipuji-puja walaupun juga ada yang menghina. Yang pasti nama Jokowi terus berkibar di atas puncak elektabilitas para calon yang sudah mendeklarasikan dirinya. Bahkan jauh meninggalkan elektabiltas Mega sendiri.

Di satu sisi, isteri almarhum Taufik Kiemas itu tentu senang karena partainya secara tidak langsung akan terbawa nama 'hebat' Jokwi tapi di sisi lain, di hati terdalamnya juga gusar karena ternyata keberadaan Jokowi dalam gerbong PDI-P tidak serta-merta mengerek nama bosnya di elektabiltas Capres. Jokowi berkibar di puncak memang karena dirinya sendiri. Nama Jokowi malah jauh lebih di atas dari pada Megawati. Ini jelas tidak mudah diterima oleh pemilik kuasa tunggal partai itu.

Belakangan, berita hangat yang disuburkan media adalah kemungkinan Jokowi diduetkan dengan Mega dalam Capres-Cawapres 2014 nanti. Artinya Jokowi akan diplot saja sebagai Cawapres. Padahal nama Jokowi itu naik justeru dalam posisi Capres. Elektabilitas Jokowi sebagai Capres yang tidak pernah tertandingi oleh siapapun membuat fenomena Jokowi semakin fenomenal saja. Berita dan analisis tentang Jokowi, baik sebagai Gubernur DKI yang diulas bersama Ahok maupun sebagai pribadi yang digadang-gadang pendukungnya untuk maju sebagai presiden RI nanti, membuat nama Jokowi terus melambung tinggi.

Jika para pendukung Jokowi saat di tanya, apakah mendukung Jokowi sebagai Capres atau sebagai Cawapres, dapat dipastikan bahwa yang diinginkan adalah Jokowi sebagai Capres. Bukan sebagai Cawapres. Bahkan diduetkan dengan Megawati sekalipun, pendukung Jokowi akan kecewa karena yang diharapkan adalah posisi RI-1. Hanya di posisi itu Jokowi akan berkekuatan penuh mengelola negara ini sebagaimana dia mengurus DKI yang penuh masalah itu.

Mega yang  di satu sisi sudah diharapkan sebagian besar para pendukungnya untuk lengser secara terhormat namun  di sisi lain sang Ketua Umum ini juga tidak secara eksplisit menyatakan akan lengser demi partai atau akan maju terus, membuat peta Capres-Cawapres di PDI-P memang masih mengambang. Dan Mega sepertinya memang sengaja mengambangkan keputusan tentang hal penting ini. Dia selalu mengatakan bahwa Capres PDI-P akan diumumkan setelah Pemilu Legislatif nanti. Akan ada Munas partai lagi untuk memutuskannya. Sampailah opini seperti saat ini berkembang ke arah kemungkinan dia berduet dengan Jokowi. Itu semua disebabkan dia belum membuat ketegasan. Kelihatannya dia menikmati suasana politik seperti itu.

Jika Golkar dengan beraninya memutuskan Abu Rizal Bakri (ARB) sebagai jagonya tanpa Cawapres, Hanura mendeklarasikan Wiranto- Hari T sebagai Capres-Cawapres dan Gerindra memutuskan Prabowo tanpa Cawapres tinggal PDI-P dan Partai Demokrat, partai relatif besar yang belum memutuskan. Hanya saja strategi keduanya juga berbeda. Partai Demokrat melakukan konvensi terbuka untuk memutuskan jagonya sementara PDI-P malah sepenuhnya diserahkan ke Mega untuk menunjuk siapa calonnya. Akankah menunjuk orang lain atau dirinya sendiri, anggota dan pengurus partai lainnya tidak berhak menggugatnya. Itulah khasnya PDI-P.

Tapi jika mengikuti arus suara di media, sepertinya tingkat keterpilihan Mega memang tidak akan bisa lagi diatas para capres lainnya. Fakta dua kali dia maju dan tidak pernah dipilih rakyat secara mayoritas, akan menjadi kartu mati Mega di Pemilu 2014 nanti. Apakah karena itu lalu muncul ide menggandengkannya dengan Jokowi yang namnaya lagi di atas awan? Boleh jadi begitu cara pandang pendukung Mega. Bagaimanapun, orang-orang sepuh di partai banteng seperti Tjahjokumolo, dkk selalu mengatakan Bu Mega masih pemimpin terbaik. Apakah karena sekedar 'ambil muka' atau benar-benar di hatinya? Itulah politik.

Sebagai penyuka Jokowi, saya memandang tidak tepat jika Mega memaksakan kehendaknya untuk maju menjadi Capres dengan memaksakan Jokowi sebagai Cawapres. Itu akan menjadi bumerang buat partai. Sebagian anggota dan pengurus begitu ramai yang berharap Mega turun terhormat, nanti akan terang-terangan memberontak. Belum lagi penggemar Jokowi non partai yang juga akan balik kanan mencari Capres lain yang lebih muda dan fresh untuk memimpin negara besar ini. Jadi, jika Jokowi ingin digandengkan dengan Ibu Dyah Permata Megawati Setyawati Sukarnoputri alias Ibu Mega yang sudah berusia hampir kepala tujuh (lahir 23.01.47) itu, aduh janganlah. Paling tidak menurut saya. Kasihan Jokowi dan PDI-P sendiri.***

Jumat, 27 Desember 2013

Empat Regu Tiga Prestasi

SORE, sekiktar pukul enam, Kamis (26/ 12) semalam saya menerima SMS dari guru Olahraga, Pak Ronal. Dia menjelaskan bahwa tiga regu dari empat regu yang ikut dalam turnamen olahraga bola volly dan futsal yang diselenggarakan UK (Universtitas Karimun) meraih prestasi. Hanya satu regu yang tidak meraih tempat terhormat. Jelasnya SMS itu berbunyi begini: Pak, volley putra juara 2, volley putri juara 3 dan futsal A juara 1. Wow, tiga peringkat mereka boyong, kata saya dalam hati membaca sekaligus membalas membneri selamat.

Saya teringat kalau dalam beberapa hari ini empat regu tim SMA Negeri 3 Karimun memang ikut ambil bagian dalam pertandingan volly (satu regu putra dan satu regu putri) dan cabang futsal putra yang juga mengirim dua regu, A dan B. Dan hari ini (Kamis) adalah laga final untuk kedua cabang tersebut. Diikuti oleh seluruh SLTA se-Pulau Karimun, tiga regu utusan sekolah tempat saya bertugas ternyata mampu menembus final. Cabang volly (putra) maju ke final untuk memperebutkan juara puncak dan yang putri final memperebutkan juara tiga-empat. Sementara cabang futsal putra juga menembus final puncak.
Dari tiga final itu, cabang futsal meraih juara pertama, volly putra meraih juara kedua dan volly putrid berhasil mengalahkan lawannya untuk merebut tempat ketiga. Ini adalah prestasi yang tidak saya sangka. Mereka pergi hanya empat regu tapi tiga regu mampu berprestasi dengan baik.

Tentu saja saya bangga dengan prestasi ini. Dalam kesibukan mereka mengikuti pertandingan antar kelas di sekolah, mereka ternyata dalam waktu yang sama juga mengikuti turnamen yang diselenggarakan UK dalam rangka disnatalis dan wisuda sarjana kedua tahun 2013 itu. Pasti tidak mudah menembus partai final karena harus menyingkirkan tim-tim sekolah lain. Ada belasan sekolah yang ambil bagian dalam turnamen ini.
Ada pesan yang patut diperhatikan dari setiap kegiatan peserta didik. Apapun yang mereka ikuti, hasilnya selalu akan dipengaruhi bahkan ditentukan oleh kemauan mereka itu sendiri. Sering kita (guru) terkadang memaksakan keinginan guru sendiri tanpa memperhatikan keinginan siswa. Dan ketika siswa gagal melakukan atau meraih prestasi sebagaimana keinginan guru, justeru yang disalahkan adalah siswanya sendiri.

Di berbagai kesempatan lomba atau pertandingan, lazimnya guru ingin meraih prestasi terbaik. Tentu saja ini tidak salah. Justeru kita wajib membuat target harapan itu. Karena itu pula para guru akan memulainya dengan melakukan pembinaan-pembinaan. Dalam proses pembinaan inilah harus dipupuk kemauan dan motivasi peserta didik untuk meraih prestasi tersebut. Dan ketika kemauan guru tidak sejalan dengan kemauan dan motivasi siswa, di situlah akan terjadi gap harapan. Justeru kegagalanlah yang akan didapatkan.


Ada banyak bukti betapa para siswa mampu meraih berbagai prestasi yang terkadang melebihi harapan guru disebabkan oleh keberhasilan guru memupuk kemauan dan motivasi siswa itu sendiri. Dugaan awal bahwa siswa tidak akan mampu ternyata sebaliknya. Mereka bias berhasil lebih dari apa yang ditargetkan. Itu semua selalu bermula dari kemauan. Benar peribahasa orang tua-tua dahulu bahwa di mana ada kemauan maka di situ aka nada jalan. Maka kerja guru Pembina akan kelihatan lebih mudah jika guru tersebut mampu menanamkan keingina yang tinggi dari siswa itu sendiri. Semoga!***

Selasa, 24 Desember 2013

Serunya Pertandingan Antar Kelas Itu

SENIN (23/ 12) kemarin adalah hari pertama pertandingan antar kelas dalam rangka mengisi waktu menjelang pembagian rapor semester ganjil TP 2013/ 2014 ini. Siswa-wi SMA Negeri 3 Karimun yang melaksanakan program classmeeting pasca semester ini mengadakan beberapa cabang olahraga untuk digelar selama menanti rapor. Jadwalnya dimulai Senin dan akan berakhir Jumat. Sabtu (28/ 12) adalah hari pembagian rapor semester.

Di hari pertama semalam, dilaksanakan pertandingan futsal antar kelas. Dari pagi hingga siang sesuai jadwal yang sudah disusun, setiap kelas tampil mewakili kelasnya. Saya tidak tahu persis kelas berapa yang tampil sedari pagi hingga siang itu. Yang saya tahu mereka bertanding begitu serunya.

Ketika, misalnya, kelas XII IA berhadapan dengan kelas XII IS (saya tidak mencatat IA dan IS berapa) pertandingan itu berjalan sangat seru. Sorak-sorai oleh p-endukung masing-masing sambil memukul ember membuat suasana pertandingan begitu bersemangat. Sementara di luar lapangan saling dukung antar supporter kian memanas, ternyata di lapangan para pemain juga ikut-ikutan panas.

Saya melihat dalam salah satu insiden, salah seorang pemain lawan membuat lawannya terjatuh dan terjungkal di lapangan. Kontan saja para pemain lain protes karena dianggap terlalu kasar. Sementara sorak-sorai terus membahana. Di lapangan para pemainnya juga sudah saling dorong. Untungnya mereka kembali dapat menguasai emosi masing-masing. Reporter yang dari tadi juga ikut membuat suasana pertandingan menjadi 'hangat' mulai mengingatkan para pemain untuk sabar.

Dua wali kelas yang ikut bersama para siswanya memberi semangat juga menenangkan para siswanya agar tidak emosi. Main boleh keras tapi tidak boleh kasar. Kira-kira begitu pesan para wali kelas kepada anak-didiknya.

Saya hanya ingin mencatat bahwa ternyata mereka itu bisa membuat permainan itu begitu menarik. Walaupun suasana tampak panas tapi mereka tidak sampai berkelahi dalam pertandingan itu. Beberapa partai dari pagi hingga siang yang saya tonton, saya merasakan suasana pertandingan yang hyebat yang mereka tampilkan. Ternyata mereka bisa pertandingan yang seru sesama mereka. Selamat bertanding, anak-anaku!***

Selasa, 17 Desember 2013

Pnitia UAS Harus Bekerja Keras

BERBANDING dengan sistem ujian sesama satu kelas, ujian dengan menggabungkan siswa dari kelas yang berbeda dalam satu ruang ujian yang sama sudah pasti lebih menyulitkan pelaksanaannya. Panitia harus bekerja lebih keras karena menggabungkan peserta didik yang berbeda kelas dalam satu ruang ujian yang sama akan menyulitkan terutama dalam pembagian soal ujian.
Jika dalam satu ruang ujian ada 20 orang atau lebih, misalnya maka jika keseluruhan siswa itu merupakan siswa yang sama kelasnya, jelaslah dalam pembagian soalnya akan lebih mudah. Tapi jika mereka bergabung antara kelas-kelas yang berbeda maka otomatis pembagian soal ujiannya juga akan lebih sulit. Pengawas harus tahu persis kelas berapa duduk di mana agar soalnya tidak tertukar.

Untuk apa siswa yang berbeda kelas ditempatkan dalam satu ruang ujian yang sama? Dan biasanya mereka diatur duduknya agar siswa yang sama kelasnya tidak duduk berdampingan langsung, untuk apa? Tujuannya adalah untuk membatasi atau mengurangi bahkan menghilangkan kesempatan untuk saling  mencontek sesama satu kelas karena soal ujian yang sama.

Harus diakui bahwa sampai hari ini budaya mencontek di kalangan siswa di negara kita masih belum hilang. Jika ada kesempatan untuk saling mencontek satu sama lainnya maka biasaya para siswa akan melakukannya. Pengecualian untuk beberapa orang siswa, mungkin ya. Tapi jumlah siswa yang benar-benar tidak mau mencontek (walaupun ada kesempatan) itu sangatlah sedikit. Lebih banyak yang suka mencontek dari pada yang tidak.

Untuk itu diperlukan strategi agar kesempatan mencontek itu dikurangi atau dihilangkan. Seperti dilakukan dalam penyelenggaraan UN (Ujian Nasional) yang membuat soal ujian yang berbeda untuk siswa yang berdekatan duduknya dalam satu ruang ujian. Beberpa tahun belakangan ini, pelaksana UN (BNSP) membuat soal UN dengan beberapa paket. Artinya untuk anak-anak yang duduk berdekatan dalam satu ruangan, akan diberi soal dengan paket yang berbeda. Tujuannya adalah untuk menutup kesempatan untuk saling mencontek itu.

Untuk ujian semester yang pekan-pekan ini berlangsung di beberapa sekolah, perinsip soal paket juga dapat dilakukan dengan cara menggabungkan siswa yang berbeda kelas dalam satu ruangan ujian. Seperti dilakukan oleh salah satu SMA di Karimun, bahwa panitia menggabungkan siswa kelas X, XI dan XII dalam satu ruang. Tentu saja soal yang mereka akan jawab adlah soal ujian sesuai kelas nya masing-masing. Dan otomnatis cara ini tidak akan terjadi lagi saling mencontek oleh para siswa yang berdekatan duduknya.

Yang tentu saja harus dilakukan oleh pantia adalah kerja ekstra keras. Mengapa? Karena pantia harus benar-benar jeli dan tertib dalam pembagian kelas dan peserta ujian dalam kelasnya. Dalam pendistribusian soal juga harus hati-hati agar tidak tertukar antara satu orang dengan orang lainnya dalam satu ruang tersebut.

Jumat, 13 Desember 2013

Sulitnya Membina Siswa ini

ADA ratusan peserta didik (siswa) di setiap sekolah bahkan bisa lebih. Sekolah besar malah bisa mencapai jumlah antara 800 hingga 1.000 orang. Sekolah sedang bisa tidak kurang 500 hingga 600 siswa. Dan di antara sekian ratus siswa itu selalu ada beberapa orang yang memerlukan perhatian bahkan perhatian khusus.


Seperti di sekolah tempat saya bertugas, dari 432 orang siswa --kelas X, XI dan XII-- ternyata memang ada beberapa orang siswa yang selalu bermasalah. Bermasalah dalam arti selalu tercatat sebagai siswa yang melanggar tata tertib. Dari pelanggaran ringan seumpama terlambat hadir sampai ke pelanggaran setengah berat seperti ketahuan merokok bahkan yang lebih berat seumpama meminum minuman beralkohol.

Perihal siswa terlambat hadir, di sekolah ini hampir setiap hari ada saja yang tercatat di buku piket. Rata-rata 3-4 orang siswa terlambat hadir. Ketika bel dibunyikan tepat pukul 07.00 WIB dan seluruh siswa harus apel (baik di halaman sekolah maupun di depan kelas masing-masing) selalu saja satu dua orang yang terlambat ikut apel pagi itu. Sesuai ketentuan, setiap siswa yang terlambat harus melapor ke guru piket. Kaena sekolah belum berpagar, terkadang memang ada kesulitan mendeteksi siswa yang terlambat.

Untuk siswa terlambat sesuai ketentuan akan dicatat di buku piket. Lalu dilaporkan ke wali kelas masing-masing untuk mencatat poin pelanggaran yang  dilakukannya. Jika jumlah poin pelanggarannya sampai batas tertentu, orang tua/ wali siswa bersangkutan akan dipanggil. Kepala Sekolah, melalui wali kelas akan meminta orang tua siswa bersangkutan hadir ke sekolah untuk mendiskusikan pelanggaran yang dilakukan putranya. Selanjutnya proses konsultasi itu akan dicatat dalam buku kasus untuk ditandatangani oleh masing-masing pihak sebagai bukti pelanggaran itu sudah diproses. Jika harus ada perjanjian, dibuat perjanjian sesuai ketentuan dan peraturan sekolah.

Untuk beberapa anak tertentu inilah terasa betapa sulitnya membina mereka. Berulang-ulang guru memproses dan menyelesaikan pelanggaran yang dialukannya tapi berulang-ulang pula dia melakukannya. Dari satu perjanjian ke perjanjian lainnya sudah ditandatangani. Dari wali kelas hingga ke guru BP sudah berusaha mencari jalan terbaik agar siswa ini terselamatkan. Sebagai sebuah institusi pendidikan, sekolah wajib membina para siswa seperti ini. Sekolah wajib berusaha agar mereka bisa berubah dari yang tidak baik menjadi baik.

Persoalannya adalah jika usaha-usaha pembinaan itu malah ditolak oleh siswa bersangkutan. Jika pun mereka berjanji (termasuk perjanjian menggunakan materai) ternyata ada saja siswa yang tetap melanggar perjanjian itu. Padahal nyata-nyata di surat perjanjian sudah disepakati bahwa jika sekali lagi melanggar tata tertib maka siswa tersebut bersedia dikembalikan kepada orang tuanya atau pindah sekolah. Di sinilah peliknya proses pembinaan itu. Mengapa? Karena tidak semua orang tua akhirnya dapat menerima konsekuensi itu.

Lebih runyam lagi, jika langkah terakhir yang disepakati itu akhirnya sampai beritanya ke Kantor Dinas Pendidikan dan atau ke Perintah Daerah. Bila akhirnya siswa tersebut harus dikembalikan kepada orang tuanya karena sudah tidak mau menaati tata tertib sekolah, ternyata persoalannya bisa juga belum selesai jika pihak Dinas Pendidikan dan atau Pemda salah memahami proses pembinaan itu. Terkadang malah sekolah juga yang dipersalahkan. Betapa sulitnya membina siswa seperti ini.***

Rabu, 11 Desember 2013

Kisah Nyata di Saat Rapat: Susahnya Menjadi Kembaran

KISAH-kisah aneh tapi nyata dari dua orang yang kembar sudah sering terdengar. Tapi apakah Anda pernah menyaksikannya langsung? Jika Anda adalah kembaran saudara Anda, apakah pernah mengalaminya? Mungkin di antara kita ada yang sudah pernah melihat langsung dan mungkin juga ada yang sekedar mendengar ceritanya saja.



Konon, ada kisah dua orang kembar yang jika salah satunya filek atau flu, maka yang lainnya juga ikut filek atau flu. Jika salah sakit perut maka yang satunya juga akan ikut sakit perut. Jika salah satunya ingin makan atau minum maka yang satunya lagi juga ingin makan dan minum. Dan jika salah seorang jatuh cinta kepada seseorang, apakah kembarannya juga akan merasakan hal yang sama? Boleh jadi.

Tapi yang saya saksikan langsung beberapa hari lalu adalah kisah seorang ibu guru yang mengeluh sakit yang ternyata disebabkan oleh kembarannya yang sedang sakit pada saat itu. Anehnya, kembarannya itu tidak berada di tempat yang sama. Si guru ada di sekolah sementara kembarannya ada di rumah sakit bersalin.

Pagi --Sabtu, 07/ 12/ 13-- itu ada rapat di sekolah, SMA Negeri 3 Karimun. Rapat diadakan dengan agenda persiapan Ujian Semester Ganjil yang akan dilaksanakan pada 16 Desember nanti. Kepala Sekolah memimpin rapat setelah sebelumnya seluruh warga sekolah melaksanakan Senam Kesegaran Jasmani Sabtu Pagi. Rapat ini mengambil waktu Gotong Royong (Goro) pasca senam dan kegiatan eskul yang jadwalnya sehabis Goro. Rapat sengaja dilaksanakan karena ada juga agenda lain selain persiapan ujian semester.

Setengah jam rapat berjalan, sepertinya tidak ada kejadian yang aneh. Tapi ternyata ada seorang guru yang sejak rapat dimulai sudah menunjukkan kegelisahannya. Mukanya tampak seperti menahan kesakitan. Dia tidak tampak tenang dalam rapat itu. Sebagian besar rekan-rekan guru sama sekali tidak menganggap ada hal yang aneh dengan Ibu Guru itu.

Tapi rupanya satu dua orang rekan guru yang dekat duduk dengan Ibu Dewi, begitu dia disapa, sudah tahu kalau ibu guru yang mengampu Mata Pelajaran (MP) Geografi itu tengah menanggung rasa sakit. Dia tampak selalu menekan bagian bawah perutnya. Di situlah rasa sakit yang dia rasakan itu. Dan rasa sakit itu ternyata ada hubungannya dengan saudara kembarnya yang pada saat yang sama tengah berjuang dalam kesakitan yang mungkin lebih dahsyat. Kembaran Ibu MP Geografi itu tengah berjuang untuk melahirkan anaknya di Rumah Bersalin RAP Karimun.

Seorang guru tiba-tiba maju ke depan, menghadap pimpinan rapat. Dia memberitahukan kepada Kepala Sekolah bahwa Ibu Dewi yang duduk di bagian belakang, minta izin untuk tidak ikut rapat. Dia ingin istirahat saja di salah satu ruang. Kata guru yang memberi laporan bahwa Ibu Dewi sedang merasakan sakit yang amat berat juga karena saudara kembarnya saat itu tengah akan melahirkan di rumah sakit. Begitu kurang lebih dilaporkan kepada sidang rapat. Akhirnya ibu itu diizinkan untuk keluar ruang rapat dan istirahat saja di temapat lain.

Saat itu saya teringat cerita aneh tapi nyata yang selama ini saya dengar berhubungan dengan orang-orang kembar. Saya juga ingat anak-anak kembar ketika masih kecil yang oleh orang tuanya dengan bangga memperlakukannya secara sama. Jika memakaikan baju, biasanya bajunya dibuat sama warna dan disainnya. Jika dia wanita dan memakai kucir rambut, maka kedua-duanya bisanya diberi kucir yang sama.

Perlakuan yang sama ini di satu sisi memang kelihatan bijaksana karena seolah-olah orang tuanya memperlakukan anaknya yang kembar itu secara sama pula. Di sisi lain terkadang bagi orang lain membuat pakaian dan --biasanya wajahnya juga sama-- perlakuan yang sama itu menyulitkan untuk menegur atau memanggilnya. Walaupun namanya juga terkadang dimirip-miripkan, tapi tetap ada sedikit perbedaannya. Dan perbedaan yang sedikit itulah yang membuat sulit orang untuk menyapanya.

Saya ingat, ada pesan dari seorang teman yang kebetulan juga memiliki anak (laki-laki) kembar. Katanya untuk membuat anak-anak kembar tidak saling terpengaruh satu sma lainnya adalah dengan memperlakukan si kembar secara berbeda sejak kecil. Pak Heri, begitu teman saya itu dipanggil menyebutkan bahwa dua orang anak laki-lakinya yang kebetulan berprofesi sama: sebagai polisi. Tapi katanya, keduanya anaknya itu sama sekali tidak saling terpengaruh secara kijiwaan antara satu dengan lainnya.

Tip yang dipesankannya, disamping tidak boleh memperlakukannya secara sama persis (pakaian, nama, makanan dll) juga katanya dengan cara memisahkan ari-ari anak-anak ini ketika baru saja lahir. Jika salah satu dikuburkan maka yang lainnya sebaiknya dihanyutkan saja di sungai. Dengan demikian keduanya tidak akan saling terpengaruh secara kejiwaan. Benarkah? Buktinya, memang keduan anaknya tidak ada saling terpengaruh sejak kecil dulu. Saat ini katanya, satu anaknya bertugas di Palembang dan yang satunya lagi di Pulau Jawa. Keduanya memang bertugas di kepolisian tapi dengan satuan yang juga tidak sama. Pendidikannya juga tidak di tempat yang sama.***

Senin, 09 Desember 2013

Penghargaan Kwarda untuk Kwarcab

MULAI hari ini, Senin (09/ 12) hingga sepekan ke depan, di Kabupaten Karimun dilaksanakan Kursus Pelatih Pembina Tingkat Lanjut, Gerakan Pramuka Indonesia. Kegiatan yang dilaksanakan Kwarnas (Kwartis Nasional) Gerakan Pramuka Republik Indonesia itu dipercayakan kepada Kwarda (Kwartir Daerah) Provinsi Kepulauan Riau. Oleh Kwarda Kepri dipercayakan kepada Kwarcab (Kwartir Cabang) Kabupaten Karimun.



Menurut Pak Joko, salah seorang Pengurus Kwarnas yang hadir dalam kegiatan ini, "Kursus Pelatih Pembina Tingkat Lanjut ini merupakan peringkat tertinggi dari beberapa kursus yang ada." Begitu Pak Joko menjelaskan ketika memberikan sambutan pada acara pembukaan pagi tadi, di Gedung Nasional. "Kwarnas memberikan penghargaan ini kepada Kwarda Kepri sementara Kwarda Kepri memberikan kepercayaan ini kepada Kwarcab Karimun. Jadi, Karimun sangat beruntung mendapat kesempatan menjadi tuan rumah pelaksanaan kursus ini."

Kwarcab Karimun memang pantas untuk mendapat penghargaan ini. Dalam beberapa kali penghargaan yang dikeluarkan oleh Kwarda Kepri, Karimun memang beberapa kali mendapat penghargaan sebagai Kwarcab Tergiat. Di antara tujuah Kwarcab yang ada di provinsi 'segantang lada' ini, Karimun termasuk yang tergiat. Kegiatan-kegiatan yang ada di kawartir cabang ini memang lumayan banyak.

Maka adalah menjadi tanggung jawab Kwarcab Karimun untuk membuktikan bahwa Kwarcab Karimun memang layak melaksanakannya. Para pengurus Kwarcab memang berkemampuan untuk melaksanakannya. Bayangkan, dalam kursus ini tidak hanya diikuti oleh para pelatih pembina Gerakan Pramuka di Provinsi Kepri (utusan beberapa kabupaten/ kota) saja tapi juga diikuti oleh para pelatih pembina dari beberapa kabupaten di provinsi lainnya. Menurut laporan ketua, Pak Arif, peserta kursus ini juga datang dari
Aceh, Sumatera Utama, Jawa Barat, Banten. Selamat bekerja para pengurus kwarcab Karimun bersama panitia pusat dan provinsi!***

Jumat, 06 Desember 2013

Teruslah Bergerak dan Menggerakkan

MENYEBUT sulit menulis, mungkin tidak tepat walaupun teman-teman guru selalu mengatakan begitu. Ketika diajak mengungkapkan pikiran atau perasaannya melalui tulisan, jawabannya selalu sama: sulit. Terasa ada tapi tetap tidak bisa mengungkapkannya. Ujung-ujungnya tetap saja tidak bisa membuat tulisan.

Sebenarnya yang terjadi adalah kita tidak kunjung memulai menuliskan apa yang terasa itu. Katakanlah ketika mengajar, ada rasa kesal melihat anak-didik yang tak kunjung mengerti tentang apa yang diajarkan. Materi sudah dirasa diberikan dengan baik. Rumusan indikator pun tidaklah terlalu rumit. Tapi ketika postest dilaksanakan, guru merasa peserta didiknya tidak juga mengerti karena perolehan nilai yang masih di bawah standar. Hati menjadi dongkol.

Nah, sayangnya rasa dongkol itu tidak pernah diungkapkan dalam bentuk kalimat. Rasa dongkol dan jengkel hanya ada di hati dan perasaan saja. Paling-paling juga hanya diungkapkan dalam bentuk omelan di mulut. Suara jengkel itu sajalah yang dikeluarkan.

Jika saja setiap perasaan atau pikiran yang ada dibiasakan untuk diungkapkan dalam bentuk kalimat-kalimat Bahasa Indonesia maka sebenarnya segala kesulitan menulis akan segera dimulai mengatasinya. Ketika, misalnya ada perasaan belum puas melihat kenyataan peserta didik yang belum mengerti dengan materi pelajaran yang disampaikan, coba saja langsung ditulis perasaan itu. Misalnya dengan kalimat begini, "Masih banyaknya siswa saya pada hari ini yang belum memahami materi pelajaran saya." Atau dengan kalimat,  "Mengapa murid-murid saya sulit sekali untuk memahami materi pelajaran saya ini?" Atau dengan kalimat-kalimat lain yang pada intinya mengungkapkan pikiran yang ada.

Seharusnya mengungkapkan/ membuat kalimat seperti itu tidak akan terlalu sulit jika dibiasakan membuatnya. Setiap perasaan atau pikiran yang ada, coba saja menuliskannya. Begitu juga, setiap peristiwa yang kita saksikan, coba saja kejadian itu langsung ditulis. Benar kata salah seorang sahabat saya yang terkenal sebagai bloger nasional, "Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi." Kita juga bisa membuat pernyataan untuk membuat semangat kita untuk menulis. Misalnya, "Menulislah karena dengan menulis, Anda tidak akan pernah mati."

Jadi, kunci utama untuk belajar menulis adalah bagaimana memimpin diri sendiri untuk mau menulis. Tidak perlu berpikir untuk membaca atau memahami berbagai teori baru memulai menulis. Jika menulis itu dianalogikan sebagai bergerak, maka teruslah bergerak agar pergerakan itu menjadi lentur dan menarik untuk terus dilakukan.

Langkah selanjutnya, barulah seorang guru itu akan menggerakkan orang lain. Artinya, sebagai seorang guru otomatis akan berkewajiban untuk mengajarkan kemampuan dan keterampilan yang sama kepada anak-didiknya. Bagaimana mengajarkan suatu keterampilan kepada peserta didik jika diri sendiri tidak bisa melakukannya. Makanya, teruslah bergerak dan selanjutnya menggerakan orang lainnya.***

Kompaknya Cikgu, Pekaknya Pemerintah


BERITA sebuah media online Kamis (05/ 12) semalam melaporkan bahwa di Banyuwangi sebanyak 4000-an guru berdemo untuk memperjuangkan hak 600-an guru Pendidikan Agama yang sudah satu setengah tahun tidak menerima tunjangan profesinya. Pemerintah setempat belum mencairkan hak atas pengabdian para cikgu (guru) ini.

Di satu sisi berita itu menggambarkan betapa kompaknya para cikgu di kabupaten ini. Dengan wadah PGRI (Peersatuan Guru Republik Indonesia) yang mereka naungi, organisasi ini tegas menyebut bahwa demo yang mereka lakukan di depan gedung DPRD dan Kantor Kemenag itu adalah bentuk solidaritas mereka kepada sesama cikgu. Mereka tidak ingin menikmati sendiri uang sertifikasi sementara sahabat-sahabat lain dikebiri. Apapun alasan Pemerintah setempat, nyatanya para guru agama itu menderita batinnya karena menunggu yang tidak pasti.

"Kami PGRI Kabupaten Banyuwangi menyampaikan aspirasi dan dukungan untuk guru Agama yang tidak mendapatkan tunjangan sertifikasi mereka sejak tahun 2012 hingga tahun -2013 atau selama 18 bulan," ucap Husin Matamin, ketua PGRI setempat yang mengoordinir demo damai itu. ( http://www.tribunnews.com) . Tampak begitu jelas apa tuntutan organisasi dengan ribuan anggota itu.

Buat pembaca berita itu, hal yang menarik tentu saja bukan hanya kekompakan para guru yang dibina oleh dua lembaga (Dinas Pendidikan dan Kemenag Kabupaten) itu. PGRI memang tidak mengenal blog dan kasta. Tidak ada PGRI Kemdikbud (Dinas Pendidikan) dan atau PGRI Kemenag. PGRI hanya satu di republik ini. Dan pengurus di Banyuwangi membuktikan kalau mereka tidak hanya memperjuangkan guru di sekolah umum saja. Guru-guru di sekolah agam juga. Tapi yang juga menarik adalah, bagaimana bisa 18 bulan berturut-turut para guru itu tidak menerima hak-haknya. Baru saja kebijakan pemberian tunjangan profesi dimulai dan belum juga menjangkau semua guru di Tanah Air yang luas ini. Mengapa harus sudah ada kendala buat mereka? Apakah Pemerintah tidak peka (sensitif) selama hampir dua tahun itu?

Jika tidak peka, tentu saja masyarakat akan menuduhnya Pemerintah memang pekak alias budeg alias tuli. Mungkin kesalahan tidak pada pemerintah karena bisa saja tidak/ belum dibayar itu disebabkan oleh kesalahan di pihak guru sendiri. Biasanya, bisa disebabkan oleh kekurangan 24 jam mengajar minimal bagi guru yang sudah bersertifikat. Bisa juga disebabkan oleh jam pelajaran yang diampu tidak sesuai dengan kualifikasi sertifikat yang dimiliki. Dan mungkin masih banyak kemungkinan kesalahan di pihak guru. Tapi apakah kesalahan itu semata disebabkan kesalahan guru? Apakah memang karena guru tidak mau mengajar sehingga tidak layak dibayar?

Inilah sesungguhnya yang harus didengar dan duiperhatikan Pemerintah menyikapi demo itu. Kebijakan pemberian tunjangan  profesi adalah keniscayaan yang tidak dapat diganggu-gugat. Itu adalah perintah undang-udang. Maka Pemerintah tidak boleh pura-pura tidak mengerti dengan problema guru di lapangan. Guru pasti mau melaksanakan tugas dan bayarlah hak-hak itu. (Selamat menutup tahun 2013 dan akan menyongsong tahun lainnya, 2014)***
Seperti sudah dipublish di:  http://edukasi.kompasiana.com/2013/12/06/kompaknya-cikgu-pekaknya-pemerintah-614129.html

Senin, 02 Desember 2013

Disiplin Hanya Bisa dengan Hati, Bukan dengan Absensi

ADA banyak cara yang dipakai sekolah untuk membuat warganya berdisiplin seperti hadir tepat waktu. Melihat peserta didik masih banyak yang terlambat, terkadang sekolah menggunakan pendekatan tegas dengan menutup pintu pagar --misalnya--  pada jam yang sudah ditentukan. Tapi bagi sekolah yang belum atau tidak berpagar tentu saja cara ini tidak mungkin.


Persoalan kurang disiplin kehadiran di sekolah ternyata tidak selalu hanya monopoli peserta didik (siswa). Ternyata pendidik (guru) atau tenaga kependidikan (pegawai) juga ada yang tidak atau belum disiplin. Masih banyak yang sering suka datang terlambat dan pulang ke rumah lebih cepat. Tidak sesuai jadwal. Sedihnya, ketika mengisi daftar hadir (absesnsi) banyak pula para pendidik dan atau tenaga kependikan ini yang tidak jujur. Misalnya, datang terlambat tapi tetap diisi jam datangnya dengan waktu seolah-olah tepat waktu. Begitu pula ketika kembali pulang. Sudah nyata duluan ngacir pulang, tapi di daftar hadir tetap saja diisi jam sebagaimana mestinya alaias seolah-olah tidak terlambat.

Karena gagal, lalu sekolah membuat kebijakan baru dengan mengganti buku tanda tangan/ paraf daftar hadir dengan bentuk lain. Kini bukti tanda tangan datang dan pulang tidak lagi menggunakan buku absensi. Sudah diganti dengan penggunaan kartu absensi. Setiap guru wajib memasukkan kartu kehadirannya ke mesin absensi yang akan mencatat secara otomatis kapan seorang guru/ pegawai datang atau kembali pulang. Jadi, tidak lagi memakai tanda tangan atau paraf. Sudah disiplin? Ternyata belum juga.

Terbukti ada pula guru atau pegawai yang kartu identitas untuk bukti hadirnya tidak dimasukkan sendiri. Ada guru atau pegawai lain yang memabantunya untuk mencolokkan kartu itu ke mesin absensi. Begitu juga ketika akan pulang ke rumah. Bersekongkol dengan piket atau penjaga mesin absensi adalah penyebab utama kegagalan caqra ini. Guru atau pegawai yang curang tetap saja melakukan pelanggaran dengan datang terlambat atau kembali ke rumah lebih awal dari jam yang sudah ditentukan.

Lalu sekolah membuat gebrakan baru. Mesin absensi diganti dengan model 'cap jempol'. Artinya para guru/ pegawai tidak bisa lagi mewakilkan absensinya kepada guru atau pegawai lain. Cap jempol tidak bisa dikirim atau diwakilkan. Tapi apakah sudah akan disiplin? Belum tentu juga. Bagi guru atau pegawai yang memang tidak mau disiplin tetap saja cara absensi seperti ini tidak akan efektif. Dia akan tetap mencari celah untuk tidak berada di sekolah walaupun mungkin saja cap jempolnya sudah diisi.

Biasanya para guru/ pegawai yang curang ini akan tetap saja mencari jalan bagaimana untuk tidak berada di sekolah. Masih banyak alasan yang bisa dibuat: entah mengirimkan surat, mencari alasan-alasan dan banyak lainnya. Intinya memang tidak akan bisa disiplin walau dengan model absensi apapun.


Sesungguhnya disiplin itu ada di hati. Artinya absensi yang akan membuat seseorang itu berdisiplin atau tidak, sebenarnya akan ditentukan oleh hati masing-masing. Absensi itu sebenarnya memang hanya bisa dengan hati, bukan dengan absensi. Tidak ada pada kertas, kartu atau pada model cap jempol itu. Maka jika sekolah ingin warganya (siswa, guru dan pegawai) berdisiplin maka disiplinkanlah hatinya. Hanya hati masing-masinglah yang akan mampu mengatur diri masing-masing pula. Mengatur dan memimpin diri sendiri jauh lebih mudah dari pada memimpin orang lain. Ingin disiplin? Disiplinkanlah hati masing-masing. Sekolah tidak perlu membuat berbagai instrumen untuk memastikan kehadiran guru atau pegawai. Hatinyalah yang perlu dibersihkan agar mau melakukan yang baik dan benar. ***

Minggu, 01 Desember 2013

Ternyata Kalian Lebih Hebat

SAYA sudah tahu kalau para pendukung sekaligus pemain teater Akar Tamadun (sebelumnya bernaung di bawah Sanggar Nilam Sari) SMA Negeri 3 Karimun itu memang hebat. Sudah beberapa kali mereka tampil di depan penonton, khususnya siswa/ wi dan guru SMA Negeri 3 Kaarimun. Saya ingat setiap acara perpisahan kelas XII, para pemain teater ini senantiasa tampil untuk membawakan berbagai lakon. Mereka selalu sukses memerankan karakter tokoh yang mereka bawakan.


Malam Minggu (Sabtu malam, 30/ 11) lalu kembali mereka berakting di hadapan penonton yang cukup ramai. Kali ini untuk mengisi acara Festival Teater Bangsawan antar beberapa teater di dua provinsi, Kepulauan Riau (Kepri) dan Riau. Dari Kepri ikut berlomba beberapa teater dari Tanjungpinang dan Karimun. Sementara dari Riau ikut berlomba teater dari Pekanbaru dan Kabupaten Kampar.

Saya menyaksikan penampilan Akar Tamadun dengan seksama. Betapa anak- anak muda yang masih menuntut ilmu di SMA Negri 3 Karimun itu tampil sangat baik. Mereka mampu memukau penonton yang berjejal duduk di bawah tenda yang dipasang di samping kiri rumah bupati. Saya ingin mengatakan di sini, ternyata mereka jauh lebih hebat dari pada yang selama ini saya saksikan. Mungkin untuk tampil kali ini mereka benar-benar mempersiapkan diri dengan lebih baik lagi.

Sejak tampil pertama sesaat setelah layar coklat itu terbuka mereka langsung membuat decak kagum para penonton. Dengan menampilkan adegan gelombang laut, mereka menggoyang-goyangkan kain warna biru sebagai pengganti air laut di atas pentas. Sementara seorang deklamator membawakan puisi yang berisi tentang kisah seorang anak nelayan yang mempunyai cita-cita tinggi.

Beberapa kesan hebat yang dapat saya tangkap dari penampilan Akar Tamadun malam ini adalah berhasilnya mereka menyampaikan inti pesan dari kisah 'anak nelayan yang bercita-cita tinggi' walaupun kehidupannya sangat miskin. Ibunya sudah sakit-sakitan sementara ayahnya sudah tiada karena ditelan gelombang laut beberapa waktu lalu.

Kakaknya satu-satunya, seorang wanita berkali-kali mengingatkan dan menghalangi niat si anak nelayan untuk meninggalkan kampung nelayan. "Siapa lagi yang akan membela keluarga kita? Kemana lagi saya dan mak akan bergantung jika engkau pergi?" Kurang lebih seperti kakaknya mengingatkan. Tapi lelaki anak nelayan itu tetap teguh ingin merantau untuk menuntut ilmu. Dalam angannya, kelak dia akan hidup lebih sejahtera jika mau bersekolah lebih tinggi. Dan dia akhirnya tetap berangkat juga.

Setiap dialog yang disampaikan oleh para tokoh dalam kisah ini benar-benar menyentuh hati. Bahasa yang sopan dan santun kepada Mak dan Kakaknya; nasehat yang juga lemah-lembut dari seorang ibu kepada satu-satunya anak lelakinya itu, juga menjadi sesuatu yang menggugah penonton. Mereka benar-beanr berhasil membuat penonton tercenung menyimak jalan cerita yang mereka tampilkan secara teateriikal itu.
Anakku, ternyata kalian memang jauh lebih hebat dari pada yang kami (para guru) saksikan selama ini. Ayo, teruskan kiprahmu bersama teater Akar Tamadun, SMA Negeri 3 Karimun ini. Semoga kalian juga mampu menambah prestasi bidang kesenian sekolah kita ke depan nanti. Syabasy, anak-anakku!***

Kamis, 28 November 2013

Catatan Resepsi HUT PGRI Karimun: Kekompakan itu Indah

HANYA satu kata saja yang paling tepat untuk menyebut kesuksesan penyelenggaraan resepsi HGN (Hari Guru Nasional) 2013 dan HUT (Hari Ulang Tahun) PGRI (Persatuan Guru Republik Indonesia) ke-68 Kabupaten Karimun, hari Kamis (28/ 11) ini, yaitu kompak. Tidak akan mudah mendatangkan 4000-an guru/ pegawai sekolah (baca: anggota PGRI) yang berada di pulau-pulau nun jauh se-kabupaten berazam ini ke satu nan jauh di ujung Pulau Karimun. Khas kabupaten ini yang terdiri dari banyak pulau yang terpisah oleh laut yang cukup jauh jaraknya antara satu dengan lainnya, membuat usaha mengumpulkan guru secara keseluruhan sangatlah susah.

HUT PGRI Karimun tahun ini memang terasa istimewa. Jumlah anggota PGRI yang hadir begitu banyak. Kurang lebih 4000 (empat ribu) orang bukanlah jumlah yang sedikit. Artinya hampir semua guru datang ke tempat acara ini. Di satu pulau (Karimun) saja hanya ada kurang lebih 2000-an orang guru dan pegawai sekolah. Di Pulau Kundur, pulau yang juga termasuk besar, ada kurang lebih 1000-an guru dan pegawai pula. Di Pulau Moro, pulau ketiga yang termasuk pulau yang besar juga, ada kurang lebih 300-an orang. Dan di lain-lain pulau para guru bertebaran dengan jumlah yang lebih kecil. Bahkan ada di sebuah pulau yang hanya terdapat satu sekolah (SD) dengan guru lima orang saja. Sungguh berat mengumpulkan mereka jika tidak ada rasa kebersamaan dan kekompakan.

Tapi pada resepsi HUT PGRI kali ini, ternyata panitia mampu mendatangkan hampir semuanya. Acaranya dilaksanakan di Kecamatan Meral Barat (berada di Pulau Karimun paling ujung) dengan lokasi yang juga sangat jauh dari kota Tanjungbalai Karimun, Ibu Kota Kabupaten Karimun. Dari pelabuhan Karimun ke lokasi acara pun memerlukan waktu hampir setengah jam naik bus/ motor. Padahal dari tempat tinggal guru di pulau-pulau sana ke Pulau Karimun sudah memerlukan waktu antara satu- dua jam naik kapal laut. Belum lagi jarak sekolah ke pelabuhan di tempat tugas, biasanya juga sangat jauh.

Semua guru yang hadir pada acara resepsi hari ini mengatakan kalau acara tahun ini adalah acara yang paling sukses dan spektakuler berbanding acara yang sama pada tahun-tahun sebelumnya. Pertama karena jumlah peserta yang hadirnya sungguh-sungguh pantastis. Belum pernah terjadi sebelumnya. Penyebab kedua adalah hadiah doorprize umrohnya sungguh di luar dugaan. Tidak terbayangkan kalau jumlahnya bisa dua kali lipat berbanding tahun sebelumnya. Ini kehebatan tersendiri untuk tahun politik ini. Apakah ada kaitannya dengan Pemilu tahun depan? Entahlah.

Ketika tahun-tahun awal kebijakan memberikan hadiah umroh oleh Pengurus PGRI, jumlahnya baru untuk beberapa orang saja. Seingat saya, tiga tahun lalu masih di bawah sepuluh orang. Tahun berikutnya juga tidak seberapa. Tapi tahun lalu (2012) Pengurus PGRI Kabupaten bersama Pemda Karimun sanggup memberikan hadiah umroh gratis untuk 13 orang guru. Sungguh jumlah yang lumayan besar sekali untuk berangkat umroh.

Nah, ternyata pada tahun ini dari informasi awal yang akan berangkat hanya 12 orang, ternyata akhirnya berjumlah 24 orang. Bupati, Wakil Bupati, Sekda dan Ketua DPRD masing memberi lagi hadiah umroh. Makanya jumlahnya menjadi 24 orang. Wow, tahun ini para guru di Karimun insyaallah akan berangkat umroh sebanyak 24 orang tersebut. Hebatnya, yang bernasib baik untuk berangkat pada tahun ini kebanyakannya adalah guru-guru muda. Tentu saja ini sesuatu yang membanggakan.


Tapi yang jauh lebih layak untuk dicatat adalah begitu tampak kompaknya para guru dalam melaksanakan resepsi ini. Para panitia yang kebetulan dipercayakan kepada Pengurus Cabang PGRI Kecamatan Meral, sungguh menunjukkan kekompakan yang utuh sejak persiapan hingga pelaksanaan. Dari beberapa kali rapat persiapan, panitia tampak sekali kekompakannya. Pengurus Daerah juga selalu ikut dalam rapat-rapat itu. Itu juga menambah kekompakan sesama panitia. 

Lalu ketika mempersiapkan tempat (memasang tenda, pentas, dekorasi, dll) semua dikerjakan secara bersama-sama. Semua bersedia untuk bertungkus-lumus (bersusah-payah) demi suksesnya acara. Sampailah ke hari H-nya, semuanya menunjukkan kerjasama yang hebat sehingga acaranya berjalan dengan lancar dan sukses. Ah, begitu indahnya kekompakan ini. Sebagai Ketua Panitia, saya merasa puas dengan partisipasi aktif semua anggota, terutama para panitia dalam menyukseskan resepsi ini. Kehadiran Bupati, Wakil Bupati, Sekda sekaligus bersama FKPD membuat kekompakan antara PGRI dengan Pemerintah Daerah juga tampak. Terima kasih teman semua!***

Rabu, 27 November 2013

Belajarlah di Rumah, Anakku

HARI Kamis (28/ 11) ini adalah hari penting bagi para anggota PGRI (Persatuan Guru Republik Indonesia) Kabupaten Karimun. Walaupun tanggal itu bukanlah hari lahirnya PGRI namun puncak peringatan HGN (Hari Guru Nasional) Tahun 2013 dan HUT (Hari Ulang Tahun) PGRI ke-68 Kabupaten Karimun ditetapkan pada hari ini. Inilah hari yang ditunggu-tunggu anggota PGRI Karimun.

Ditunggu-tunggu? Dari beberapa rangkaian acara dalam memperingati dan memeriahkan HGN dan HUT PGRI Kabupaten Karimun di 'tahun politik' ini, acara reespsi adalah yang paling ditunggu-tunggu, termasuk oleh undangan yang kebetulan mendapatkan kupon. Sesungguhnya sebelum acara puncak ini, sudah dilaksanakan beberapa kegiatan seperti, 1) pertandingan olahraga (tenis meja, bola voly, catur); 2) kegiatan gotong-royong (bakti sosial); 3) melaksanakan seminar pendidikan dan 4) gerak jalan sehat. Semuanya sudah dilaksanakan sebelumnya dalam selang waktu satu bulan lalu. Dan hari ini adalah puncak dari sekian kegiatan tersebut.

Pada acara resepsi tahun ini disepakati semua anggota PGRI se-Kabupaten Karimun diundang untuk datang. Kurang lebih 4000-an guru dan pegawai yang menjadi anggota PGRI akan hadir bersama para undangan lainnya di lapangan sepakbola Desa Pangke, Kecamatan Meral Barat, Karimun. Dengan begitu artinya sekolah tidak akan melaksanakan proses pembelajaran di sekolah satu hari ini. Para siswa diminta istirahat ke sekolah dan belajar di rumah saja. "Belajarlah di rumah saja," begitu pesan setiap Kepala Sekolah ketika menyampaikan kebijakan Dinas Pendidikan itu kepada para peserta didik di sekolah masing-masing.

Daya tarik acara resepsi yang setiap tahun dilaksanakan adalah door prize istimewa buat anggota PGRI yang beruntung dalam acara respsi itu. Istimewa? Ya, belasan anggota PGRI yang beruntung diberangkatkan umroh ke Tanah Suci oleh Pemda Karimun. Ada juga sumbangan perorangan. Tahun lalu sebanyak 13 orang anggota PGRI bernasib baik dan dapat menunaikan kewajiban sekali seumur hidup bagi muslim itu setelah kupon door prizenya keluar sebagai pemenang.

Panitia memberikan kupon berhadiah kepada setiap undangan dalam acara resepsi. Tradisi ini sudah berlangsung beberapa tahun belakangan ini. Pengurus PGRI ingin memberi 'penghargaan; setahun sekali kepada anggotanya. Setiap resepsi diberikan kupon. Kupon-kupon itu dicabut di akhir acara resepsi dengan hadiah yang beraneka ragam. Ada kulkas, televisi, hendphone, dan banyak lagi. Dan salah satu hadiah yang sangat ditunggu adalah hadiah umroh gratis itu. Inilah daya tarik dari acara resepsi setiap tahunnya.

Karena tahun ini dianggap tahun penting menjelang berlangsungnya Pemilu tahun depan, maka panitia melaksanakan HUT PGRI secara besar-besaran. Semua guru dan semua pegawai sekolah diundang untuk hadir. Sekali lagi anak-anak diminta untuk ikut berkurban demi guru. Setahun sekali guru memang layak dihormati oleh para muridnya. Maka untuk penghormatan itu, anak-anak diminta untuk belajar di rumah saja karena para guru akan hadir di acara ini. Belajarlah di rumah, anakku!***


Minggu, 24 November 2013

Jangan (Lagi) Korbankan Siswa

SENIN (25/ 11) ini dilaksanakan Apel Bendera memperingati HUT (Hari Ulang Tahun) PGRI (Persatuan Guru Republik Indonesia) ke-68 yang disejalankan dengan peringatan Hari Guru Nasional (HGN) 2013. Peristiwa bersejarah 68 tahun lalu yang mengukuhkan lahirnya organisasi secara Nasional yang mengikat semua guru di Tanah Air itu sangat penting bagi insan pendidik.

Di semua daerah --termasuk di Karimun-- peringatan Hari Guru selalu meriah dan dilaksanakan dengan berbagai acara. Pada tahun ini misalnya, PGRI Kabupaten Karimun melaksanakan banyak agenda kegiatan dalam rangka memperingati dan memeriahkan hari bersejarah guru itu. Diawali dengan pertandingan olahraga (volly, catur, tenis meja) antar PC (Pengurus Cabang) se-Kabupaten Karimun sebulan lalu yang selanjutnya dilaksanakan pula kegiatan bakti sosial beberapa pekan berikutnya.

Di Pulau Karimun (terdiri dari tiga PC), masih ada satu agenda yang sangat meriah karena melibatkan semua siswa dan guru/ pegawai se-Pulau Karimun ini. Kegiatan itu adalah Gerak Jalan Sehat yang dilaksanakan pada hari Sabtu (23/ 11) lalu. Karena diikuti oleh seluruh siswa (dari TK s.d. SLA) dan para guru serta pegawai maka proses pembelajaran pada hari itu dialihkan ke lokasi gerak jalan: Costal Area. Dengan bahasa lain, sekolah diliburkan dan siswa tidak mengikuti pembelajaran sebagaimana biasanya. Suka tidak suka, siswa harus dikorbankan.

Pada 28 November nanti juga akan diadakan acara Resepsi HUT PGRI di Lapangan Sepakbola Pangke. Direncanakan pada waktu itu juga akan diikuti oleh seluruh guru se-Kabupaten Karimun (termasuk yang di Pulau Kundur, Moro, dan pulau-pulau lain) yang ada sekolahnya. Dan sekali lagi, proses pembelajaran tidak akan dapat dilaksanakan di sekolah sebagaimana biasa karena guru sudah pergi. Artinya siswa akan libur lagi.

Maka untuk apel Senin ini, haruslah diperhatikan oleh sekolah dengan baik. Jangan lagi siswa dikorbankan untuk tidak belajar. Peserta apel hari ini hanya perwakilan dari para guru saja. Jadi, tidak semua guru diikutkan. Maka sekolah yang siswa dan gurunya masih di sekolah, jangan sekali-kali mencari helah untuk tidak belajar. Kepala Sekolah harus memastikan kalau proses pembelajaran tetap berjalan sebagaimana mestinya.

Mengapa ini harus diulas? Ternyata masih ada beberapa guru yang berharap agar hari Apel Bendera ini tidak usah belajar. Para pendidik ini beralasan, ini adalah tanggal sakral bagi PGRI. Hari inilah sebenarnya PGRI itu lahir. Jadi, harus dimuliakan. Alasan yang masuk akal. Tapi harus diingat bahwa hari ini tidak termasuk libur Nasional. Jadi, tidak perlu juga sekolah ditutup.

Lagi pula, beberapa hari lain tadi itu sudah sengaja disiapkan untuk memperingati dan memeriahkan Hari PGRI dan HGN itu. Sudah cukuplah itu sebagai bukti kita membesarkan PGRI. Jangan lagi dikorbankan anak-anak kita di hari lain. Satu hal yang harus diingat bahwa memberikan pelayanan yang benar kepada peserta didik, itulah cara yang tepat membuktikan kita cita dengan PGRI. Jika guru sukses dalam pembelajaran maka PGRI akan sukses juga di mata masyarakat. Dirgahayu PGRI! Jayalah PGRI!***

Sabtu, 23 November 2013

Demi PGRI Belajar di Costal Area

HUT (Hari Ulang Tahun) PGRI (Persatuan Guru Republik Indonesia) ke-68 dan HGN (Hari Guru Nasional) Tahun 2013 ini di PGRI Kabupaten Karimun diperingati dengan berbagai agenda kegiatan. Menyongsong Pemilu 2014 nanti maka peringatan hari bersejarah guru tahun ini pun sengaja dibuat lebih meriah dari pada tahun-tahun sebelumnya. Unjuk kekuatan. Kira-kira begitu.


Jika pada tahun-tahun lalu puncak peringatan (resepsi) misalnya hanya diikuti oleh perwakilan guru saja maka pada tahun ini diharapkan semua guru (pendidik) dan tenaga kependidikan ikut berhimpun pepat. Dulu, jika resepsi dilaksanakan di Pulau Kundur maka hanya anggota PGRI di Pulau Kundur saja yang diikutkan secara keseluruhan. Sementara dari pulau-pulau lain (Karimun, Moro, dll) boleh perwakilan saja. Begitu juga sebaliknya.

Pada tahun ini resepsi nanti (28 November 2013) akan dilaksanakan di Desa Pangke, Meral dengan target 4000-an guru plus anggota PGRI lainnya di Kabupaten Karimun hadir. Dan Dinas Pendidikan sudah memberi izin kepada PGRI untuk menghadirkan semua guru se-Kabupaten Karimun di Pangke nanti. Tidak ada sekolah yang dibuka untuk pembelajaran. Semuanya diharapkan datang ke acara resepsi. Pembelajaran dialihkan ke lokasi resepsi.

Tidak hanya untuk resepsi. Acara Gerak Jalan Sehat yang akan dilaksanakan pada Sabtu (23/ 11) ini pun akan dimeriahkan oleh semua guru dan siswa se-Pulau Karimun. Pagi ini, semua guru, pegawai sekolah beserta para siswa (peserta didik)-nya akan berkumpul di Costal Area untuk melaksanakan salah agenda HUT PGRI ini. Jadi, nanti sekolah juga akan diliburkan. "Proses Pembelajaran dipindahkan ke Costal Area," begitu istilah yang disampaikan ke sekolah melalui pemberitahuan resmi.

Untuk itu, demi PGRI mari dimeriahkan kegiatan ini dan demi PGRI pula para guru/ pegawai dan siswa akan melakukan proses pembelajarannya di lokasi wisata itu. Kegiatan jalan sehat ini juga mengandung nilai-nilai pendidikan dan pengajaran. Sikap disiplin, tertib, bersih dan taat aturan akan dibuktikan di sini. Kegiatan ini tidak akan sia-sia jika diikuti dengan baik dan penuh tanggung jawab. Selamat HUT PGRI, semoga maju jaya.***

Selasa, 19 November 2013

Catatan dari Seminar Pendidikan: Jangan Sekadar Angan-angan

ENAM orang narasumber untuk satu hari. Seminar Pendidikan bertajuk "Persiapan SDM Pendidikan dalam Memasuki Asean Communitu 2015" yang dilaksanakan di Karimun, di satu sisi terasa begitu 'wah' tapi di sini lain seminar ini tidak terlalu efektif. Terasa 'wah' karena seminar sehari itu menampilkan sampai enam orang pakar untuk membahas satu topik sementara waktu yang tersedia amat terbatas.

Seminar yang dilaksanakan Dinas Pendidikan Kabupaten Karimun dan disejalankan dengan agenda acara HUT PGRI ke-68 dan HGN Tahun 2013 Karimun, diikuti oleh para Kepala Sekolah --dari TK s.d. SLTA-- se-Kabupaten Karimun. Dari seminar ini diharapkan lahir pikiran, bagaimana mempersiapkan Sumber Daya Manusia Karimun khususnya, Indonesia umumnya dalam rangka persiapan memasuki Asean Community yang akan diwujudkan pada tahun 2015 nanti. Hanya tinggal satu tahun (2014) saja lagi, negara Asia Tenggara ini akan menyatu dalam berbagai hal.

Para pakar yang diundang dan menjadi panelis dalam seminar ini adalah 1) Dr. Ir. Bima Haria Wibisana, MSIS, PhD (Wakil Kepala Badan Kepegawaian Negara); 2) Dr. Ing. Ir.Yul Yunazwin Nazaruddin, M. Se, DIC (Kepala Pusat Data dan Statistik Pendidikan, Kemdikbud RI) yang diisi/ digantikan oleh L. Manik Mustikohendro (Kepala Bidang Satuan Pendidikan dan Proses Pembelajaran, Pusat Data dan Statistik Pendidikan, Kemdikbud RI); 3) Drs. Kusnar Budi Handaka, M. Bus (Ketua Prodi Adnimistrasi Keuangan dan Perbankan- Program Vokasi, UI); dan 4) H. Darwis Beddu, MA, Ph D (Direktur Lembaga Kajian Otonomi dan Demokrasi, Makassar).

Selain empat ahli dari Pusat itu ada dua lagi dari Daerah, 1) Drs. H. Yatim Mustafa, MPd (Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Kepri) dan 2) Dr. H. Nurdin Basirun (Bupati Karimun). Keenam narasumber ini diset untuk dua sesi (pagi dan siang) dalam membahas topik besar di atas. Sungguh besar seminar ini, seharusnya. Tapi waktu yang pendek membuat kesempatan membahasnya menjadi tidak efektif dan malah terasa dangkal.

Acara seremoni pembukaan baru dimulai pukul 09.30 walaupun persiapan sudah dimulai sejak pagi, pukul 08.00 WIB itu. Dari registrasi peserta yang 300-an sampai kepada menunggu para pejabat undangan, membuat acara dibuka agak terlambat. Prosesi pembukaan berlangsung kurang lebih satu jam. Ditambah paparan bupati sebagai pembuka seminar, akhirnya waktu tersisa menjelang istirahat siang semakin sedikit. Pak Bima dan Pak L. Manik yang tampil di sesi pertama tidak terlalu leluasa menggunakan waktu untuk memaparkan materinya. Peserta pun hanya tiga orang yang sempat bertanya.

Di sesi siang (setelah istirahat makan dan solat) kembali seminar dilanjutkan dengan menampilkan tiga orang lainnya. Waktu yang sebenarnya masih tersedia setelah pemaparan materi oleh tiga orang narasumber ternyata malah tidak dimanfaatkan oleh para peserta untuk bertanya. Ini dapat dipahami mengingat waktu-waktu seperti itu sudah tidak efektif lagi untuk berpikir. Kata salah seorang narasumber, "Kalau selesai makan siang, sebenarnya enaknya tidur," sambil bergurau. Mungkin benar juga ucapannya itu. Karena terbukti tidak ada lagi yang bersemangat untuk bertanya. Boleh jadi, masing-masing sudah ingin kembali ke rumah.

Catatan tersisa ini ingin menegaskan bahwa jumlah pemrasaran yang berlebihan dengan konsekuensi biaya yang lumayan besar dalam sebuah seminar yang singkat, ternyata tidak terlalu efektif untuk mewujudkan harapan yang cukup besar ini. Pertanyaan-pertanyaan seperti, bagaimana Indonesia --Karimun khususnya-- menghadapi dan bersiap diri dari serbuan negara lain di Asia Tenggara (bahkan dunia) setelah berlakunya Asean Community nanti; sudahkah bangsa ini siap sedia memasuki pasar 9 negara Asiang Tenggara lainnya itu pasca berlakunya Comunitas Asean itu nanti? Dan masih banyak pertanyaan lagi.

Pertnayaan-pertanyaan itu belumlah terjawab dalam waktu pembahasan yang sangat pendek itu. Belum lagi bagaimana startegi menghadapi dunia yang semakin mengglobal? Bagi para Kepala Sekolah yang hadir, tentu saja pemikiran tentang perlunya mempersiapkana SDM yang berkualitas itu menjadi tugas yang sangat berat. Bagaimnanapun memang wajib dihadapi dan bersiap diri. Mampukah kita? Harus dicoba dan diusahakan. Tentu saja tidak bisa dengan berpikiran pesisimis. Sikap optimis, seberat apapun ke depannya, tentu tetap harus dilakukan. Jika tidak, dia akan menjadi sekedar angan-angan.***

Sabtu, 16 November 2013

Gerakan Pramuka adalah Gerakan Perubahan Karakter

KAMIS malam (14/ 11/ 13) lalu saya ditugaskan oleh Ketua Kwartir Cabang Gerakan Pramuka Karimun melalui Ketua Harian, Kak Arif Fadillah untuk menutup Kursus Mahir Tingkat Dasar Gerakan Pramuka Karimun yang diadakan di Moro. Pada saat itu, sesungguhnya saya tengah mengikuti "Sosialisasi dan Identifikasi Infrastuktur Pengendalian Internal Pemerintah Di Lingkungan Dinas Pendidikan" yang diadakan di Wisma Karimun, Tanjungbalai Karimun. Sebagai sebuah kepercayaan, saya berangkat ke Moro dengan minta izin di acara sosialisasi itu.

Dalam sambuatan dan pengarahan penutupan itu, setelah menyampaikan salam Ketua Umum (Kak Rafiq), Ketua Harian (Kak Arif) dan para Wakil Ketua yang lain, saya sedikit memberikan pesan kepada para peserta kursus tentang hakikat berkegiatan kepramukaan. Saya percaya kalau semua kakak-kakak yang ikut --sebanyak 50 orang peserta-- itu sudah mengerti apa dan bagaimana tujuan dari setiap keikutsertaan dalam gerakam pramuka.

Satu hal yang kembali saya ingatkan adalah bahwa gerakan kepramukaan itu bertujuan juga untuk mengadakan perubahan karakter dari anggotanya. Perubahan di sini tentu saja maksudnya jika karakter itu perlu perubahan demi perbaikan ke depan. Bukankah setiap orang selalu mempunyai permasalahan. Dan permasalahan yang menyulitkan adalah jika seseorang itu memiliki karakter yang tidak baik. Beberapa karakter yang tidak baik misalnya pemalas, tidak bersemangat, tidak jujur, tidak menghargai pendapat dan pandangan orang lain.

Seorang anggota pramuka yang pemalas dalam kesehariannya tentu saja akan membuat dia selalu dibelit masalah dalam kehidupan. Malas bekerja, malas ke sekolah, malas ke tempat kerja dan malas-malas lainnya. Itu jelas akan membuat aktivitas yang direncanakan akan tertunda atau terabaikan begitu saja.

Maka gerakan pramuka hendaknya mampu mengubah karakter jelek itu. Dengan latihan selama satu pekan diharapkan nilai-nilai kepramukaan yang selama (sebelum) latihan sudah dilaksanakan, diharapkan ke depannya semakin dimaksimalkan. Perubahan yang diharapkan bukan hanya karena latihan yang sepekan itu saja tapi karena gerakan pramuka secara keseluruhan. Semoga!***

Selasa, 12 November 2013

Catatan dari Sosialisasi K-13: Tunaikanlah Janji

KETIKA Pak Zulkifli mengatakan bahwa yang dimaksud dengan Kurikulum adalah 'janji guru kepada siswa' maka kami para peserta Sosialisasi Persiapan Implementasi Kurikulum 2013 di Wisma Karimun sedikit terkejut dan heran. Kurikulum adalah janji guru kepada siswa?

Tapi setelah Pak Zulkifli yang bernama lengkap Zulkifli Anas, M Ed itu menjelaskan dengan baik, barulah kami memahaminya. Katanya, jika kita membaca setiap kompetensi yang ada dalam Kurikulum maka kita akan menemukan bahwa pada hakikatnya kurikulum itu adalah janji guru kepada peserta didik. Bacalah misalnya salah satu kompetensi yang menyebutkan bahwa 'pesrta didik mampu memahami dan mengamalkan ajaran agama' misalnya, maka itu artinya sekolah (baca: guru) sudah berjanji akan membuat pesrta didiknya untuk mampu memahami dan mengamalkan ajaran agamanya setelah mengikuti pembelajaran.

Jika guru tidak mampu membuat anak-didik untuk memahami dan mengamalkan ajaran agamanya maka itu berarti kurikulum itu belum terjalan dengan benar. Tidak ada tuntutan lain kepada guru selain membuat peserta didik berkompeten sebagaimana tuntutan yang dinyatakan dalam kurikulum.

Demikianlah Kurikulum 2013 (K13) yang sejak dua hari lalu kembali disosialisasikan kepada para Kepala Sekolah dan beberapa guru sebagai perwakilan setiap sekjolah (SMA/ MA/ SMK) se-Kabupaten Karimun. Diharapkan pada tahun 2014 nanti, pada saat Kabupaten Karimun secara resmi melaksanakan K13 itu, tidak ada ganjalan bagi guru dan Kepala Sekolah.

Maka tunaikanlah janji. Begitu kurang lebih penjelasan Pak Zulkifli kepada peserta sosialisasi K13 jika para guru benar-benar ingin mengimplementasikan K13 di sekolah. Tidak ada jalan lain bagi sekolah selain bertekad untuk membuktikan tuntutan itu. Jika selalu dikatakan bahwa untuk kesuksesan implementasi K13 sangat ditentukan oleh pola pikir guru, itu artinya juga sebagai peringatan bahwa inti kurikulum itu pada dasarnya adalah kesediaan guru untuk menunaikan janjinya. Maka marilah ditunaikan janji itu agar K13 ini sukses dan berhasil dalam implementasinya. Semoga!***

Minggu, 10 November 2013

Mampukah Pengalaman Studi Banding Diterapkan?

SETELAH mengunjungi dua SMA unggul di Jogjakarta, terasa ada yang mengkhawatirkan. Tujuan studi banding para Kepala Sekolah SMA/ MA se-Kabupaten Karimun untuk mempelajari bagaimana pengelolaan sekolah di sekolah-sekolah yang sudah maju, kini justeru membuat rasa takut. Bisakah pengalaman dua sekolah itu diterapkan di sekolah kita?

Pertanyaan itu muncul setelah secara langsung para Kepala Sekolah yang tergabung dalam MKKS SMA/ MA se-Kabupaten Karimun datang berkunjung ke SMA Negeri 2 dan SMA Muhammadiyah 1 Jogjakarta. Dua sekolah di Ibu Kota DIY itu adalah sekolah unggulan yang dulunya melaksanakan program SBI.

Ternyata kemajuan-kemajuan yang diraih oleh dua sekolah itu sangat erat kaitannya dengan ketersediaan dana dalam usaha pengelolaan sekolah. Khusus untuk program pengembangan sekolah, kedua sekolah ini mempunyai dana yang sangat besar yang disupport oleh orang tua siswa. Walaupun salah satu sekolah itu adalah sekolah negeri (Pemerintah) namun ternyata pembiayaan oleh orang tua sangatlah besar.

Di SMA Negeri 2 Jogjakarta, selama ini mendapat support dana dari setiap siswa. Mulai dari dana investasi yang dibayar sekali dalam setiap tiga tahun sampai ke iyuran SPP yang sangat besar. Tidak kurang 200-an ribu rupian per siswa per bulan yang dimanfaatkan sekolah untuk usaha peningkatan mutu sekolah. Sementara di SMA Muhammadiyah 1 malah jauh lebih besar lagi. Mungkin karena sekolah ini adalah sekolah swasta yang hampir 100 persen dana operasionalnya disumbangkan oleh orang tua siswa. Rata-rata 1 juta rupiah (bahkan lebih) setiap siswa membayar setiap bulannya.

Lalu bagaimana dengan sekolah di Karimun yang cenderung orang tua siswanya ingin gratis. Bahkan sejak dikjucurkannya dana BOS ke setiap sekolah SLTA sejak enam bulan lalu, para orang tua menuntut untuk digratiskan biaya sekolah anak-anaknya.  Susahnya, pihak Dinas Pendidikan pun ikut menyokong sikap orang tua yang ingin gratis ini. Beberapa sekolah yang masih menerima sumbangan rutin bulanan dari orang tua siswa, malah cenderung dipersoalkan oleh Dinas Pendidikan.

Lalu bagaimana sekolah akan mencontoh sekolah-sekolah yang dijadikan sasaran studi banding itu jika tidak ada support dana dari orang tua? Di pihak lain, Pemerintah tidak juga memberikan dana yang cukup dalam usaha pengembangan sekolah. Akankah studi banding itu menjadi sia-sia? Entahlah!***

Sabtu, 09 November 2013

Borobudur, Indahnya Janganlah Terganggu

KEKAGUMAN yang selama ini ada di hayalan, hari ini, Jumat (8/ 11) dapat saya buktikan. Hari ketiga perjalanan Karimun- Malang- Jogya ini kami sampai ke Candi Borobudur. Setelah memakai kain batik, khas pengunjung yang akan naik ke situs bersejarah itu, saya dan teman-teman akhirnya sampai ke puncaknya. Tinggal stupa terakhir yang tidak kami naiki. Itupun karena ada larangannya.

Sangat mengagumkan. Pemandangan ke penjuru manapun dari puncak candi itu sungguh menyenangkan dan mengagumkan. Gunung-gunung disapu kabut pagi membuat perasaan lega menatapnya. Puluhan turis dari mancanegara sudah memenuhi puncak candi sepagi itu. Saat itu baru pukul 08.30 WIB.

Buat yang sudah berulang-ulang ke sana, tentu saja tidak ada yang baru di situ. Dari dulu hingga kini Borobodur tetap seperti itu. Tapi buat saya pribadi --beberapa teman rombongan juga ada yang datang untuk kedua kali-- ini adalah catatan penting dalam sejarah hidup saya. Di usia yang sudah tidak muda, saya memang terlambat berkesempatan hadir di sini.

Pagi inilah saya melihat secara langsung tentang banyaknya arca patung itu yang sudah tidak berkepala lagi. Selama ini saya membaca di berita tentang ulah tangan jahil yang mencuri kepala patung-patung itu. Menjadi pertanyaan memang, mengapa kepala patung-patung yang sama sekali tidak mengganggu itu harus diganggu. Mengapa harus dibuang atau dipindah ke tempat lain?

Sangat jahat pencuri itu, jika tujuannya memang untuk mencuri. Menurut informasi informasi, konon kepala-kepala patung itu memang sengaja dicuri oleh orang-orang tertentu. Lalu dijual dan disimpan oleh orang yang tidak berhak untuk itu.

Selain banyak patung yang tidak berkepala lagi, saya juga baru untuk pertama kali membaca tulisan yang berbunyi begini, 'c. 1000 tahun lalu' yang menjelaskan tentang gambar prasejarah, Lukisan Perahu Prasejarah di Gua Kabori, Muna, Sulawesi Tenggara di salah satu ruang musium di kompleks Borobudur. Tulisan itu sama sekali tidak menyebut 1000 tahun sejak kapan? Apakah sejak sebelum masehi atau sejak kapan?

Kalau tahun sekarang kita membacanya, tentu saja maknanya adalah tahun 1013 lalu dibuatnya lukisan itu. Tapi jika nanti dibaca pada tahun 2000 atau tahun 3000? Tentu saja tulisan penting itu sangat menyesatkan. Perlu diperbaiki oleh pengelola musium agar  dia tidak menyesatkan.

Setelah berkeliling di seputaran area Borobudur, menjelang keluar saya juga melihat penjual dagangan asesori dan berbagai cindra mata khas Borobudur dan Jogya umumnya. Tapi yang mengganggu adalah masih ada para pedagang yang menjajakan dagangannya secara tidak teratur di taman-taman itu. Padahal di area menjelang keluar sudah ada kedai-keidai khusus. Lalu mengapa ada lagi yang berjualan di sembarang tempat? Itu jelas tidak membuat indah area Borobudur. Apakah mereka itu dibolehkan berjualan secara liar begitu? Entahlah. Tapi menurut keterangan pengelola trevel yang membawa rombongan kami, itu disebabkan warung-warung yang ada itu tidak mencukupi dan sewanya juga mahal. Saya tidak tahu.


Yang pasti, keindahan Borobudur yang sangat tersohor ke seluruh dunia itu diharapkan tidak ada yang membonceng untuk mengurangi kenikmatan para pengunjungnya. Sebagai warga negara, tentu saja semua kita harus merasa ikut untuk memelihara dan merawatnya. Bukan hanya pengelola saja.***

Jumat, 08 November 2013

Kopdaran Kilat di Juanda Surabaya

PERTEMUAN yang saya harapkan itu terjadi juga. Padahal saya tidak yakin akan bias berjumpa dengannya. Maklum saja, persahabatan selama ini hanya terjadi dan terjalin di dunia maya. Namanya Etna Sufiati. Saya menyapanya Bu Etna di dunia maya.

Perkenalan dan persahabatan saya dengan Bu Etna bermul a dari hobi kami yang sama: suka menulis di media online seperti blog. Baik di blog pribadi maupun di blog ‘kroyokan’ yang dikelola oleh lembaga tertentu. Terutama di blog Guraru, sebuah blog yang dikelola oleh para guru saya dan Bu Etna sering berkomunikasi melalui saling member komentar terhadap tulisan masing-masing atau tulisan teman-teman lain yang ditayangkan.

Sebegitu kian akrabnya hubungan persahabatan dunia maya kami, maka ketika saya dan beberapa rekan seprofesi  berencana mengadakan perjalanan kunjungan ke Surabaya, Malang dan Jogyakarta, saya teringat Bu Etna yang di blognya saya tahu dia bertempat tinggal di Surabaya. Tempat mengabdinya di SMA Negeri 16 Surabaya.

Malam (Selasa, 05/ 11) menjelang keberangkatan ke Surabaya saya mencoba berkomunikiasi dengan Ibu Guru Kimia ini. Melalui email dan SMS saya mengatakan kalau besok –Rabu, 06/ 11/ 13) saya dan rekan-rekan lain akan ke Surabaya. Saya sampaikan kalau saya ingin sekali berjumpa. Walaupun saya tidak terlalu yakin akan bias, namun saya tetap berharap dan berdoa.

Alhamdulillah, ternyata Allah benar-benar mengabulkan harapan saya. Bu Etna ternyata menyempatkan untuk datang ke Bandara Juanda, menunggu kedatangan saya. Ketika pukul 14.05 pesawat Citilink yang saya tumpangi mendarat di Bandara Juanda Surabaya dan saya kembali menmgaktifkan HP saya, ternyata sudah ada SMS-nya yang mengatakan kalau dia pukul 13.30 sudah bergerak ke Bandara. Tentu saya sangat bergembira. Saya telpon langsung dan ternyata dia memang sudah berada di pintu keluar, terminal Bandara Juanda.

Benar-benar kejutan buat saya. Kami belum pernah bertemu sebelumnya. Komunikasi lewat tulisan dan telpon beberapa saat sebelumnya, rasanya belum cukup membuat kami saling tahu. Dia menjelaskan ciri baju dan tempat duduknya saat menunggu saya. Saya pun menjelaskan warna baju dan jacket saya. Dan akhirnya kami benar-benar bertemu. Kopdaran singkat itu benar-benar terjadi.

Sayang dan sedihnya memang karena pertemuan itu hanya beberapa saat saja. Saya tidak berbicara dan ngobrol agak lama karena saya memang mengikuti rombongan besar perjalanan itu. Setelah berbicara tentang diri masing-masing kami pun berpisah. Bu Etna kembali ke rumahnya yang entah di mana sementara saya hars ikut bersama rombongan sesuai jadwal perjalanan. Bus Pariwisata yang sudah kami  carter pun sudah lama menunggu di jalan halaman terminal.


Terima kasih Bu Etna, sudah berkenan menunggu saya di ruang tunggu itu. Walaupun komunikasi kita berlanjut hanya di SMS saja namun rasanya kopdaran singkat ini begitu penting buat saya. Saya merasa hubungan persahabatan kita akan semakin kuat ke depannya. Hobi kita yang sama pasti akan menambah semangat kita untuk meneruskannya. Itu pasti. Selamat berjuang,  Bu Etna. Semoga suatu saat nanti kita bias berjumpa lagi, amiin.***

Selasa, 05 November 2013

Surat Terbuka di Tahun Hijriyah: Polisi Bersih Semoga Bukan Mimpi

TIDAK berlebihan harapan akan lahirnya polisi bersih setelah Komjen Sutarman resmi memegang tongkat komando Polri. Polemik layak-tidaknya mantan Kabareskrim itu menerajui Kepolisian RI sudah berlalui. Suka atau tidak suka, Presiden SBY sudah melantiknya pada sore Jumat (25/ 10) lalu. Setelah melewati uji kelayakan dan kepatutan di DPR presiden memang tampak senang dengan pengajuan satu nama calon Kapolri itu.

Setelah sepekan lebih resmi menjadi orang nomor satu di Polri, rakyat tentu saja kian tidak sabar menanti gebrakan Sutarman. Janji manis di awal pencalonannya untuk menciptakan polisi 'bersih' layak dinanti. Walaupun di awal-awal juga ramai yang meragukan komitmen Sutarman untuk membuat polisi lebih dihargai tapi sesumbarnya di depan Dewan Terhormat, DPR-RI untuk mengubah imej polisi kotor menjadi polisi bersih kini harus kita tagih.

Di berbagai media kembali diingatkan bahwa begitu banyaknya kasus-kasus pelanggaran hukum yang mandeg selama Sutarman menjadi penerajui Bareskrim. Di sebuah media online kembali dirilis 25 kasus korupsi yang sudah lama ada tapi tidak dianggap apa-apa. Sutarman seolah-olah membiarkan saja. Sebutlah misalnya, kasus Aipda Labora Sitorus (kasus aliran dana dari seorang bintara polisi di Papua kepada beberapa pejabat Polri) yang masih hangat di telinga masyarakat. Kasus itu adalah kasus di tahun ini.

Jika dirunut ke belakang  sebutlah  kasus korupsi serifikat tanah Depo BBM Pertamina (Oktober 2012), kasus kasus korupsi Pelat Nomor Kendaraan Bermotor (2012, kasus Rekening Gayus Tambunan (2010), kasus Dugaan kasus korupsi alat kesehatan atau pengadaan barang di Kemenkes dan Kemendikbud tahun 2009 dan 2010, kasus Pembelian saham perusahaan PT Elnusa di PT infomedia (2009), kasusPengelolaan dana PNBP (Penerimaan Negara Bukan Pajak).  dan banyak lagi. Berita yang dirilis http://www.voa-islam.com misalnya mengurutkan kasus dari tahun 2002 (kasus Jamsostek) hingga ke kasus Labora itu tadi.

Bagaiamana Bapak menyikapi tunggakan kasus yang seolah-olah terbiar itu? Inilah sejatinya yang mesti menjadi awal gerakan yang mesti dikejar. Kami sangat mengharapkan, kalau perlu selesaikan semua kasus korupsi yang melibatkan anggota Bapak terlebih dahulu. Pesan orang-orang bijak, kalau ingin membersihkan orang lain ya bersihkan terlebih dahulu diri sendiri. Nah, di awal tahun baru hijriyah ini alangkah baiknya Bapak bersih-bersih ke dalam. Lagi pula Bapak kan sudah berjanji akan membenahi internal terlebih dahulu. Tuntaskanlah semua kasus hukum yang dilakukan oleh anggota Polri. Insyaallah Tahun Hijryah ini akan sangat berkesan buat Bapak.

Maaf, jika harapan kami ini terlalu berlebihan. Lebih dari sekedar harapan ke Bapak, sebenarnya jika Bapak berhasil memulainya, inilah catatan tinta emas institusi hukum yang tidak akan pernah hilang dalam sejarah: Polri Bersih. Kelak KPK tidak akan berani menepuk dada lagi karena kepolisian sudah jauh lebih bersih dari pada KPK. Bisakah?***

Minggu, 03 November 2013

Tentang Uang Komite: Masyarakat Harus Dicerahkan

POLEMIK boleh-tidaknya orang tua siswa (peserta didik) memberikan sumbangan tetap ke sekolah sebagai bentuk partisipasi masyarakat kepada sekolah, telah menimbulkan pro-kontra di antara beberapa Kepala Sekolah SLTA, khususnya di Kabaupaten Karimun. Di satu sisi ada sekolah yang berpandangan uang komite tidak perlu lagi sementara di satu sisi lagi ada sekolah berpandangan sebaliknya. Pemerintah, dalam hal ini Dinas Pendidikan seharusnya meluruskan kesalahpahaman ini agar masyarakat juga tercerahkan.

Bermula dari dikucurkannya dana BOS (Bantuan Operasional Sekolah) oleh Pemerintah Pusat --melalui APBN-- sejak awal Tahun Pelajaran 2013- 2014 lalu, diikuti oleh kebijakan beberapa Kepala Sekolah secara sepihak memberhentikan iyuran/ uang komite bagi siswanya akhirnya masyarakat beranggapan seolah-olah uang BOS adalah pengganti uang komite. Artinya masyarakat (orang tua/ wali siswa) menyimpulkan bahwa mulai saat itu anak-anak mereka tidak lagi perlu membayar uang sekolah (uang komite) seperti yang selama ini mereka lakukan. Kesimpulan itu juga dikaitkan dengan fakta bahwa di SD (Sekolah Dasar) dan SMP (Sekolah Menengah Pertama) miliki pemerintahn (Negeri) memang sudah tidak ada lagi yang namanya uang sekolah atau uang komite sejak diberikannya dana BOS beberapa tahun lalu.

Sesungguhnya, jika diperhatikan penggunaan dana BOS yang dijelaskan dalam Juknis (Petunjuk Teknis) yang dikeluarkan Kemdikbud bahwa dari 9 item penggunaan dana BOS itu jelas sekali perbedaan antara penggunaan dana BOS dengan penggunaan uang komite (dulu bernama uang BP3/ Badan Pembantu Penyelenggaraan Pendidikan). Kalau dana BOS dipergunakan untuk operasional non personal maka dana komite dapat juga dipergunakan untuk tunjangan operasional personal seperti penambahan penghasilan (honor) guru dan pegawai disamping untuk berbagai kegiatan yang tidak/ belum memadai dananya dari dana rutin.

Ada beberapa pokok pikiran yang semestinya dipahami oleh masyarakat berkenaan dana BOS di SLTA (SMA/ MA/ SMK) yang mulai dikucurkan terhitung Juli 2013 itu. Untuk saat ini Pemerintah sudah mengcurkan untuk enam bulan (Juli- Desember 2013) dengan menghitung siswa kelas XI dan XII. Sementara untuk kelas X masih menunggu data akurat dari sekolah. Pertama; mengingat penggunaan dana BOS sama sekali berbeda dengan penggunaan uang komite maka seharusnya orang tua tidak serta-merta memberhentikan iyuran komite yang sudah dianggarkan untuk satu tahun anggaran itu setelah dana BOS dikucurkan ke sekolah. Jika ini terjadi, tentu akan menyulitkan sekolah dalam melaksanakan program-program yang sudah dibuat.

Sebagai contoh, jika uang komite dapat dipakai sebagai uang tambahan kesejahteraan guru dan pegawai (termasuk guru dan pegawai honorer) tapi dana BOS sama sekali tidak boleh dipergunakan untuk honor (tunjangan) guru dan pegawai, termasuk guru dan pegawai honorer. Jika iyuran komite diberhentikan maka berarti para guru/ pegawai honorer itu tidak akan bisa dibayar lagi oleh sekolah honornya. Apakah mereka akan mau mengajar (bekerja) tanpa honor? Padahal mereka sangat dibutuhkan sekolah karena mereka belum bisa digantikan oleh guru/ pegawai negeri yang ada. Pemerintah juga belum bisa memberikan pengganti tenaga honorer yang sudah ada.

Bagi pegawai negeri sendiri, penambahan bantuan (honor) dari orang tua itu, meskipun tidak terlalu besar namun mereka sangat merasa terbantu oleh uang honor itu. Di sisi lain, keikutsertaan orang tua/ wali dalam menggalang dana untuk kebutuhan sekolah sebenarnya ini merupakan bentuk kerja sama antara sekolah dengan masyarakat yang memang digalakkan. Inilah bentuk partisipasi langsung orang tua siswa kepda sekolah. Undang-undang Sisdiknas sendiri bahkan tidak kurang dari 5 pasal memberikan ruang untuk partisipasi masyarakat ini. Artinya ada dasar hukum yang menjadi landasan untuk keikutsertaan masyarakat dalam penggalangan dana sekolah yang memang belum terpenuhi sepenuhnya oleh Pemerintah.

Bahwa ada kecenderungan masyarakat agar sekolah secara keseluruhan digratiskan, itu tidaklah salah. Inilah yang perlu diluruskan. Masyarakat harus diberi pencerahan bahwa untuk saat ini pemerintah sebenarnya belum mampu menggratiskan pendidikan kepada rakyatnya. Walaupun Undang-undang Dasar 1945 sudah mengamanahkan agar anggaran pendidikan itu ditetap minimal 20 persen dari APBN, terbukti sampai hari ini masih begitu banyak problem kekurangan sarana prasarana dan fasilitas lainnya yang belum mampu diatasi Pemerintah.

Di banyak daerah bahkan masih banyak sekolah yang harus belajar pagi dan sore dikarenakan RKB (Ruang Kelas Belajar) yang masih kurang. Banyak pula gedung sekolah yang sudah tidak layak pakai karena sudah sangat tua dimakan usia. Dan jika diperiksa berbagai fasilitas yang diperlukan peserta didik di semua sekolah di Indonesia, betapa membuat hati kita sangat terenyuh khususnya sekolah-sekolah yang jauh dari ibu kota. Begitu masih banyaknya problem yang berkaitan dengan anggaran. Artinya, pemerintah memang belum mampu membiayai pendidikan masyarakat secara keseluruhan dengan gratis. Idealnya, sekolah memang grastis dan orang tua (masyarkat) cukup membayar pajak saja. Tidak perlu ikut membayar uang sekolah. Masalahnya pemerintah memang belum bisa. Penghasilan negara belum sampai ke tahap seperti itu.

Oleh karena itu, partisipasi masyarakat yang memang diberi ruang oleh undang-undang untuk ikut terlibat langsung dalam pembiayaan sekolah tidak harus diberhentikan hanya karena pemerintah memberikan bantuan dalam bentuk dana BOS. Kepala sekolah juga tidak perlu 'sok hebat' dengan seolah-olah ikut menggratiskan uang sekolah dengan membuat ketentuan sendiri. Undang-undang tentu saja lebih tinggi derajatnya hukumnya dari pada peraturan Kepala Sekolah atau peraturan Komite Sekolah.

Justeru dalam keadaan seperti ini masyarakat harus dicerahkan dengan informasi yang benar. Masyarkat tidak harus diinabobokan dengan istilah 'sekolah gratis' sementara sekolah dengan berbagai dalih yang tidak bisa dipertanggungjawabkan, malah masih tetap meminta sumbangan. Dan uang-uang itu malah tidak jelas pertanggungjawabannya. Alangkah lebih baik, pastisipasi orang tua ini terus digalakkan (termasuk di SD dan SMP) dengan syarat uang-uang itu diaudit dengan baik. Kepala Sekolah tidak boleh menggunakan sesukia hati. Orang tua benar-benar dilibatkan dengan aktif dan pengurus Komite Sekolah tidak sekedar menjadi bember Kepala Sekolah.***

 
Copyright © 2016 koncopelangkin.com Shared By by NARNO, S.KOM 081372242221.