BREAKING NEWS

Kamis, 27 Desember 2012

Berlibur, Haruskah Terus ke Seberang?

TIDAK selalu ada kesempatan untuk berlibur. Tapi di akhir tahun seperti saat ini adalah waktu yang paling tepat untuk itu. Sekolah-sekolah sedang libur semester sesudah menyelesaikan tugas satu semester untuk semester ganjil dengan pembagian rapor semester beberapa hari lalu. Kantor-kantor juga libur karena hari 'libur bersama' menjelang natal yang berbarengan dengan libur akhir tahun. Apalagi
tahun ini libur bersama menjelang natal (24 Desember) jatuh hari Senin. Itu berarti sejak hari Jumat, 21 Desember (siang) para pegawai kantor sudah bisa menikmati hari libur jika ingin berlibur ke daerah lain karena Sabtu- Minggu libur resmi. Lumayan, lima hari.

Minggu, 23 Desember 2012

Like dan Comment FB untuk Tingkatkan Minat Baca-Tulis

PENGGUNA jejaring sosial Facebook (FB) di Indonesia ternyata amat-sangat banyak. Menurut salah satu berita online, Indonesia menduduki empat besar pengguna FB bersama AS, Brazil dan India. Terdapat 40-an juta pengguna FB di Tanah Air. Wow, begitu pantastis.

Kamis, 20 Desember 2012

Mereka Mengadakan Praktikum Sastra


SAYA harus menyatakan rasa bangga kepada mereka, anak-anak muda itu. Mereka adalah siswa/wi SMA tempat saya mengabdi sebagai guru. Mereka sanggup berkreativitas positif: menggelar praktikum sastra. Saya ingat, itu biasanya kerja mahasiswa di kampus-kampus, khususnya mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra di FKIP. Sedangkan mereka yang berkegiatan ini masih berstatus siswa.

Rabu, 19 Desember 2012

Guru-guru itu Menyunat Murid-muridnya


MAAF, jangan emosi dulu menafsirkan judul tulisan ini. Ini hanyalah catatan laporan tentang sunat-sunatan yang dilaksanakan oleh para guru kepada murid-murid. Murid-murid inipun adalah anak-anak sekolah yang otomatis adalah anak-anak para guru juga.

Para guru yang saya maksud pun adalah para insan pendidik yang direpresentasikan oleh organisasi bernama PGRI (Persatuan Guru Republik Indonesia) yang sudah tak asing di telinga. Organisasi inilah yang melaksanakan acara sunat-sunatan atau istilah yang selama ini lebih populer: sunatan masal itu. Persisnya PGRI Kabupaten Karimun, mengadakan kegiatan sunatan masal yang merupakan bagian dari kegiatan memperingati HUT PGRI ke-67 tahun 2012 di PGRI Kabupaten Karimun. Ini memang rada terlambat dilaksanakan tapi memang seperti itulah direncanakan. Jadi, sekedar memberi informasi saja tulisan ini saya tulis.

Pada hari Selasa (18/12) semalam adalah jadwal kegiatan sunatan masal sebagai bagian dari rangkaian acara yang sudah disusun sebelumnya bersama berbagai kegiatan HUT PGRI Karimun tahun ini. Pukul 08.00 WIB para peserta sunatan masal sudah berdatangan di tempat kegiatan. Dari catatan panitia diperoleh informasi bahwa jumlah yang akan mengikuti sunatan masal ini  ada 62 orang. Mereka merupakan anak-anak yang ditentukan oleh Pengurus Cabang dari tiga kecamatan yang ada di Pulau Karimun. Pengurus Cabang PGRI Kecamatan yang ada di Pulau Karimun adalah, 1) Pengurus Kecamatan Karimun, 2) Kecamatan Meral dan 3) Kecamatan Tebing. Kecuali PGRI Kecamatan Meral yang mengirimkan sebanyak 22 orang, dua kecamatan lainnya mengirimkan 20 orang saja. Karena satu pulau maka pelaksanaan sunatan masalnya dipusatkan di satu tempat yaitu di SD Negeri 001 Tanjungbalai Karimun, Kecamatan Karimun.

Sebelum acara 'memotong burung' anak-anak dimulai, terlebih dahulu diadakan sedikit acara seremoni pembukaannya yang langsung dibuka oleh Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Karimun, Dr. Syamsuardi, MM. Biasalah, kita kan suka membuat acara seremoni seperti ini. Dalam sambutan pembukaannya Plt Kadis Pendidikan kabupaten itu menjelaskan bahwa kegiatan ini sangatlah besar maknanya, baik bagi anak-anak yang ikut sunatan maupun bagi organisasi PGRI sendiri. "Sebagai kegiatan sosial, organisasi guru sudah seharusnya melakukannya." Lebih jauh Asisten II Setda Kabupaten Karimun itu mengatakan bahwa guru tidak hanya pintar dan berkewajiban mengajar di kelas tapi juga perlu memikirkan kegiatan sosial yang dapat disumbangkan ke masyarakat.

Sebelum sambutan Plt Kadis Pendidikan, terlebih dahulu memberikan laporan Ketua Pengurus PGRI Kabupaten Karimun, H. MS. Sudarmadi, SPd MM. Dalam sambutan laporannya Pak Madi menjelaskan tentang program kegiatan PGRI Karimun dalam rangka HUT PGRI ke-67 dan Hari Guru Nasional (HGN) tahun 2012 ini. Sejak November lalu, sudah dilaksanakan berbagai kegiatan, katanya. PGRI Kabupaten Karimun ingin menunjukkan jati dirinya di tengah-tengah masyarakat Karimun khususnya, dan Indonesia pada umumnya. Begitu Ketua PGRI yang jabatan dinas sehari-harinya adalah Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kabupaten Karimun.

Acara sunat masal PGRI Karimun merupakan kegiatan sosial kemasyarakatan yang dilaksanakan pengurus PGRI Kabupaten Karimun. Kegiatan sosial lainnya adalah pembagian pakaian layak pakai yang dikumpulkan dari para anggota PGRI di Pulau Karimun. Untuk pelaksanaan sunat masalnya sendiri pengurus PGRI bekerja sama dengan Puskesmas Tanjungbalai Karimun. Di bawah koordinasi dr. H. Ade Kristiawan, beberapa petugas medis Puskesmas itu menunaikan tugasnya dengan telaten, menyunat muird-murid sekolah yang sudah hadir itu.
Mengenai biaya dan dana yang dipakai dalam kegiatan sunat masal ini menurut pengurus PGRI adalah sumbangan para donatur dan simpatisan PGRI. Ada sumbangan bupati, wakil bupati, sekda Karimun dan beberapa Kepala Dinas di SKPD Kabupaten Karimun. Bahkan para pengurus PGRI Kabupaten dan Kepala Sekolah ikut menyumbangkan dana untuk kepentingan ini. Hebatnya, setiap pengurus minimal harus membiayai satu orang anak. Setiap anak memerlukan biaya sebesar Rp 250.000 (dua ratus lima puluh ribu rupiah) yang dipakai untuk biaya medis ditambah oleh-oleh untuk setiap anak dalam bentuk uang dan kain sarung.

Alhamdulillah kegiatan sunat masal ini berjalan dengan lancar dan aman. Para orang tua yang ikut mendampingi anak-anaknya tampak bergembira sekali karena anaknya dapat bersunat rasul atas biaya PGRI. "Syukur sekali, kami tidak lagi mengeluarkan biaya apapun untuk keperluan sunat rasul ini," jelas salah seorang ibu yang anaknya ikut sunatan masal. Semoga kegiatan sosial ini berlanjut di tahun-tahun yang akan datang.***
Artikel yang sama di http://lifestyle.kompasiana.com/catatan/2012/12/19/guru-guru-menyunat-anak-anak-511898.html

Selasa, 18 Desember 2012

Merangkak juga Beranjak


INILAH pengalaman saya mencoba menjadi penulis. Tidak pernah terasa mudah. Dari angka nol ketika memulai ke angka satu atau dua saja rasanya lama dan susah. Tapi saya tidak pernah pula mau menyerah. Saya coba terus melangkah, melangkah, terus melangkah. Kalau perlu merangkak… tapi itu saya pikir tetap berjalan. Apakah sekarang sudah berada di angka empat atau lima, saya tidak tahu juga.
Jika suatu pekerjaan tidak mudah atau tidak terasa bisa bergerak ke arah kemajuan yang diharapkan, pasti akan membuat kecewa bahkan putus asa. Tapi dalam keinginan saya untuk belajar dan bisa menjadi penulis saya merasa saya cukup tegar dan berusaha terus sampai bisa. Bahkan di usia setengah abad lebih, saat ini saya rasanya baru memulai kembali untuk belajar menjadi penulis.
Kekaguman saya kepada sosok yang bernama ‘penulis’ memang sudah ada sejak lama. Kekaguman itu pula yang melahirkan motivasi dan energi saya untuk mencoba menjadi penulis. Saya ingat, dari sejak Sekolah Dasar (SD) di sekitar tahun 1966-1971 saya sudah menyenangi pelajaran menulis. Waktu itu namanya pelajaran Mengarang. Di samping Pelajaran Berhitung, Mata Pelajaran Mengarang adalah kesukaan saya.

Ketika saya melanjutkan pendidikan di PGA-P (1971-1975) saya masih menyenangi pelajaran mengarang. Begitu pula ketika meneruskannya ke PGA-A (1976-1977) di Pekanbaru bahkan mulai timbul kesukaan menulis yang lebih serius. Beberapa kali sayembara mengarang prosa saya menangkan. Tapi puncak saya benar-benar menyenangi aktivitas menulis adalah ketika saya menuntut ilmu di Universitas Riau (UR) antara 1978-1983. Kesenangan membaca ketika masih di desa tempo hari semakin terpupuk oleh banyaknya bahan bacaan di Ibu Kota Provinsi Riau itu. Saya tidak hanya menulis prosa berupa artikel sederhana tapi juga mulai menulis puisi dan cerpen.

Di tahun-tahun inilah saya mulai dan mencoba mengirimkan tulisan ke beberapa harian daerah dan ibu kota (Jakarta). Di harian Haluan, Semangat dan Singgalang (Padang) beberapa tulisan saya naik cetak. Di harian Pelita dan Swadesi (Jakarta) juga pernah muncul tulisan saya. Tulisan-tulisan periode inilah (khusus cerpen) yang akhirnya saya kumpulkan kembali untuk dicetak menjadi buku. Kumpulan cerpen saya berjudul “Duka Cinta di Awal Cita” adalah kumpulan cerpen sebagai buku pertama saya terbit yang cetakan pertamanya September 2008. Buku yang berisi 16 (enam belas) judul cerpen ini diterbitkan oleh penerbit UR Pres, Pekanbaru dengan sponsor saya sendiri. Saya memang tak sabar untuk mengirimkannya ke penerbit sambil menunggu yang mungkin tak pasti. Buku ini dicetak ulang tahun 2010 dengan penambahan satu judul lagi dan perubahan ilustrasi kulitnya.

Waktu berlalu, masa pun berganti. Setamat S1 Keguruan dari UR (1983) saya langsung meninggalkan Pekanbaru karena mendapat SK (Surat Keputusan) sebagai PNS di salah satu SMA Tanjungbatu Kundur. Bermulalah saya sebagai guru PNS yang bertempat tinggal nun jauh di pelosok kampung di sebuah pulau. Rupanya situasi ini sama sekali tidak menguntungkan keinginan saya untuk menjadi penulis. Komunikasi yang amat susah ke ibu kota di tahun 1985 hingga 1990-an membuat benih-benih kreativitas menulis saya mati suri. Dan barulah melewati tahun 2000-an ‘batang terendam yang lama tenggelam’ itu terasa timbul lagi.

Ketika Koran-koran tidak lagi hanya terbit di Ibu Kota Negara, dan beberapa harian mulai terbit di daerah maka motivasi untuk menulis kembali lahir. Bacaan yang mulai ada ikut memupuk motivasi itu. Di harian Riau Pos (Pekanbaru) dan Batam Pos (Batam) beberapa artikel opini saya mampu juga naik. Diiringi era internet maka semakin luaslah kesempatan untuk berkiprah kembali di kreativitas tulis-menulis. Harus saya akui, sesungguhnya saya serasa memulai kembali untuk belajar menulis dalam lima tahun belakangan. Kalau di era lalu saya sangat terbantu oleh mesin tik ‘Royal’ saya sebagai sarana tulis-menulis, kini komputer pribadi (PC), laptop, HP dan banyak lagi telah memberi ruang yang begitu luas untuk berkreasi di arena tulis-menulis.

Keinginan saya untuk terus menulis bertumbuh dan berkembang serta tertantang dengan mudahnya berinteraksi dengan teman-teman lain yang nun jauh entah di mana. Dengan hubungan dunia maya, saya merasa semakin banyak orang tempat belajar dan semakin banyak pula wadah tempat menyalurkan kreativitas kepenulisan. Harus saya tegaskan, selain kumpulan cerpen, saya juga sudah menerbitkan tiga buku lainnya dengan cara sponsor sendiri (self publisher). Dan itu adalah berkat fasilitas internet yang mendukungnya. Di beberapa blog sosial dan sebuah blog pribadi saya terus berusaha belajar menulis. Bahkan blog pribadi saya, saya beri judul ‘maribelajar’ dengan maksud bahwa blog itu memang tempat saya kembali belajar dan berpraktek menulis.

Mimpi saya sesungguhnya belumlah terwujud. Jika angka perjalanan menulis ini direntang antara 0 hingga 10 maka saya merasa belum juga mampu menggapai angka enam apa lagi angka delapan yang saya targetkan. Keinginan saya untuk terbitnya hasil karya saya di penerbit-penerbit terkenal (tentu bukan dengan sponsor sendiri lagi) belum juga tercapai. Tapi saya bertekad untuk terus melangkah. Jika pun tidak mampu melangkah, merangkak pun saya akan mencoba. Saya percaya dengan merangkak, saya juga akan beranjak dari satu titik ke titik selanjutnya.***
Catatan:
Daftar Buku yang Sudah Terbit,
1. DUKA CINTA DI AWAL CITA (Kumpulan Cerpen: 2008)
2. BUDEK TAK BUDEK DENGARLAH KAMI (Kumpulan tulisan di Kompasiana:  2011)
3. SISOMBOU SASTRA RIAU (Skripsi Terjiplak: 2012)
4. BAHTERA CINTA BERLAYAR SUDAH (Kisah Nyata Kematian Isteri: 2012)

Sabtu, 15 Desember 2012

Cara Mengurangi Kecurangan dalam Ujian

UNTUK mengurangi kecurangan para peserta didik selama mengikuti ujian, setiap sekolah bisa memiliki cara yang berbeda-beda. Di luar ketegasan pengawas, cara-cara lain juga dapat ditempuh.

Kita tahu bahwa setiap siswa sebagai peserta ujian ada kecendrungan untuk mencontek dan atau bekerja sama antara satu dengan lainnya dengan maksud mendapatkan nilai yang baik. Sayangnya keinginan untuk mendapatkan nilai yang memuaskan ini tidak ditempuh dengan cara legal. Justeru banyak peserta ujian yang melakukan kecurangan dalam mengikuti ujian. Maka sekolah perlu membuat kebijakan agar kecurangan dapat dikurangi atau dihilangkan.

Di SMA Negeri 3 Karimun, misalnya strategi mengurangi kesempatan para siswa untuk melakukan kecurangan ada beberapa hal yang dilakukan.
1. Meminta pengawas ruang untuk tegas walaupun tidak meninggalkan perinsip ramah dan menyenangkan bagi peserta ujian. Tegas dimaksudkan tidak ada toleransi bagi siswa untuk melanggar ketentuan dan tata tertib ujian yang sudah ditetapkan. di setiap ruang ujian memang ditempelkan oleh panitia ujian berbagai informasi yang diperlukan peserta ujian. Salah satunya adalah ketentuan dan tata tertib ujian tersebut.

2. Menyusun bangku/ kursi peserta ujian dengan jarak yang mengurangi/ menghilangkan kemungkinan para peserta ujian bekerja sama dalam menjawab soal-soal ujian. Jarak kursi/ meja selama ujian ini dibuat sedemikian rupa sehingga jaraknya lebih jauh dari pada jarak selama mereka mengikuti proses pembelajaran. Untuk hal ini maka jumlah peserta ujian dalam setiap ruangan dikurangi (lebih sedikit) berbanding dengan jumlah peserta dalam pembelajaran. Rombel pembelajaran sehari-hari lebih besar dari pada jumlah peserta ujian.

3. Menggabungkan beberapa tingkat kelas dalam satu ruang ujian. SMA Negeri 3 Karimun (mungkin juga sekolah lain) memang mencampurkan kelas X, XI dan XII dalam satu ruang ujian dengan maksud mereka tidak dapat saling bekerja sama. Kalau pun dalam ruang yang sama terdapat siswa dengan kelas yang sama tapi mereka pasti akan duduk dengan jarak yang jauh antara satu dengan lainnya. Ini jelas akan membuat siswa tidak mudah untuk saling bekerja sama dalam satu ruang.

Untuk strategi mengefektifkan waktu ujian, sekolah SMA Negeri 3 Karimun membuat satu ketentuan buat setiap siswa untuk tidak boleh keluar duluan sebelum waktu (alokasi) ujian habis. Kalaupun ada siswa yang mengaku telah menyelesaikan jawaban soal-soal ujiannya, tetap saja tidak dibenarkan untuk keluar ruangan ujian. Para siswa ini tetap dijaga di dalam ruang ujian agar tidak mengganggu ruang yang lain.***

Selasa, 11 Desember 2012

Ujian Semester Juga Ujian Karakter

LAZIMNYA ujian semester semata-mata hanya untuk mendapatkan nilai dalam semester yang bersangkutan. Nilai-nilai itu akan dilihat di dalam lembaran buku rapor yang dibagikan di akhir semester. Apapun caranya dan berapapun nilai itu, harapannya adalah mendapatkan nilai terbaik. Itulah sikap umum para peserta didik di sekolah-sekolah dalam mengikuti ujian semester. Tidak terkecuali para peserta didik yang sejak hari Senin (10/12) mengikuti ujian semester ganjil Tahun Pelajaran (TP) 2012/2013 di sekolah masing-masing.

 Ujian semester ganjil memang tengah berlangsung dari tanggal 10 hingga 15 Desember ini, dari SD hingga SLTA, paling tidak di Kabupaten Karimun, Kepulauan Riau. Hari Senin semalam adalah hari pertama ujian semester ganjil TP 2012/ 2013 itu dilaksanakan sedangkan Sabtu nanti adalah hari terakhirnya. Selepas itu mereka akan menerima laporan pendidikan, hasil pembelajaran selama enam bulan ini.

Jika ujian semester oleh peserta didik hanya diartikan sebagai cara mendapatkan nilai rapor yang akan menentukan keberhasilan peserta didik (naik/ lulus) saja, ditambah cara mendapatkan nilai dengan tidak jujur, tentu saja ini merisaukan kita. Betapa berbahayanya pandangan dan sikap seperti itu. Peserta didik hanya terobsesi sekedar mengejar nilai. Apalagi jika nilai yang diperoleh ternyata didapatkan dengan trik-trik tidak terpuji seumpama mencontek pekerjaan teman, misalnya sungguh itu tidak boleh dibiarkan.

Sejatinya ujian semester diselenggarakan disamping untuk mengukur kemampuan (daya serap) akademis juga untuk mengukur dan menguji kemampuan melakasnakan pendidikan karakter. Dari belasan nilai-nilai karakter bangsa yang dikembangkan Pemerintah untuk dilaksanakan sekolah, tentu saja nilai-nilai kejujuran dan tanggung jawab paling diutamakan dalam pelaksanaan ujian. Sikap jujur dan bertanggung jawab yang akan menjadi modal peserta didik dalam kelanjutan kehidupannya, mestinya tercermin dalam mengikuti dan melaksanakan ujian semester ini.

Tentu saja ide ini akan sangat tergantung kepada pengelola dan penanggung jawab pendidikan di sekolah. Kepala Sekolah bersama jajarannya, adalah penentu utama terlaksana atau tidak terlaksananya pendidikan karakter selama ujian. Teknis sederhananya adalah bagaimana pelaksanaan ujian itu berlangsung dengan baik dan benar. Di ruang ujian, adalah pengawas ruang yang akan menjadi garda penentunya. Apakah pengawas mampu menerapkan nilai-nilai kejujuran dan tanggung jawab kepada peserta ujian selama dalam kepengawasannya? Atau pengawas tidak melaksanakan fungsi pengawasannya, sehingga terjadi berbagai kecurangan dalam ruang ujian? Di sinilah peran pengawas ujian.

Satu hal yang tidak bisa diabaikan adalah sikap sekolah secara keseluruhan dalam keseharian berkaitan dengan penerapan pendidikan karakter itu sendiri terutama di lingkungan sekolah. Bagaimana warga sekolah selama ini menerapkan nilai-nilai karakter dalam kehidupan keseharian sekolah? Jika warga sekolah sudah terbiasa melaksanakan nilai-nilai karakter bangsa itu sehari-hari maka dalam ujian yang dilaksanakan secara periodik ini tetap juga akan tercermin. Peran guru (pengawas) adalah untuk memastikan bahwa nilai-nilai karakter memang dilaksanakan dalam pelaksanaan ujian semester ini. Jangan lagi ujian hanya sekedar mengejar nilai kognitif yang diukur dengan angka-angka belaka. Ujian semester sejatinya sebagai ujian penerapan nilai-nilai karkater juga.***
Artikel yang sama di:  http://edukasi.kompasiana.com/2012/12/11/ujian-semester-mestinya-untuk-ujian-karakter-509909.html

Rabu, 05 Desember 2012

Membuka Jilbab di Depan Siswa, Salahkah?


BERITA seperti ini adalah berita yang tidak baik buat guru, menurut saya. "Ada guru tega melepas jilbab penutup auratnya demi uang sertifikasi". Sebagai muslimah, sejatinya mempertahankan keyakinan akidah jauh lebih utama dari pada uang tunjangan profesi. Membuka penutup aurat, apalagi di depan peserta didik setingkat SLTA yang akan diajar dan dididik, sungguh kekeliruan yang menyesakkan. Memang hak pribadi tapi jika memaksa diri hanya karena uang sertifikasi, wah tidak adakah jalan lain lagi?

Penyebab guru muslimah membuka jilbab ini adalah karena peraturan intern sebuah sekolah yang mengharuskan membuka penutup kepala (jilbab) bagi wanita ketika berada di sekolah. Yayasan pengelola sekolah punya aturan sendiri mengenai berpakaian di sekolah ni. Tidak dibenarkan wanita mengenakan pakaian menutp kepala alias jilbab. Itu saja. Jangan ditawar-tawar. Padahal si muslimah ini harus mengajar di sekolah tersebut demi mencukupkan jumlah jam mengajarnya.

Mengapa harus mengajar di sekolah ini padahal sesungguhnya si muslimah ini adalah guru yang berinduk di sekolah negeri? Di satu sisi, ada ketentuan yang mewajibkan setiap guru mesti mengajar minimal 24 jam pelajaran per minggu sebagai syarat pembayaran tunjangan profesi guru. Di sisi lain ada sekolah yang karena kelebihan guru tidak bisa membagi tugas minimal 24 jam itu kepada semua guru. Akibatnya guru bersangkutan dipersilakan mencari tambahan jam mengajar di sekolah lain. Dan karena sekolah yang ada, dekat dan membutuhkan hanya sekolah yang mempunyai peraturan 'tak boleh berjilbab' maka hanya ada dua pilihan, mengambil tambahan jam di sekolah tersebut atau merelakan tunjangan profesinya tidak dibayarkan. Sungguh musykil.

Bagi guru yang memilih opsi pertama itulah yang membuat perasaan kita terenyuh dan sedih. Sebagai seorang muslim rasanya geram mendengar berita seorang muslimah harus membuka auratnya di hadapan orang ramai. Siswanya pula. Siapakah yang bertanggung jawab terhadap pengabaian keyakinan akidah seperti itu? Apakah itu sepenuhnya menjadi tanggung jawab guru bersangkutan, atau menjadi tanggung jawab sekolah yang tidak bisa memenuhkan jam mengajar gurunya? Atau bisa jadi itu adalah tanggung jawab pemetintah?

Masalah yang mungkin sepele tapi pelik ini sudah seharusnya menjadi perhatian kita sebagai guru. Bagi sebagian orang bisa saja tidak ada masalah. Tapi sebagai Negara berpenduduk mayoritas muslim, ditambah sudah begitu banyaknya aturan yang mengharuskan setiap orang menghargai keyakinan seseorang, maka 'keterpaksaan' membuka jilbab ini tidak dapat dianggap angin lalu saja. Keterpaksaan mencari tambahan jam mengajar di satu sisi dan keterpaksaan membuka aurat sebagai konsekuensi mencari tambahan jam mengajar di sisi lain, adalah realita pahit yang menyesakkan dan menjadi perhatian.

Pantaskah seorang guru wanita yang selama ini sudah memakai jilbab dalam kesehariannya, tiba-tiba harus membukanya di hadapan puluhan bahkan ratusan siswa hanya karena mempertahankan 'haknya' mendapatkan tunjangan profesi? Jika saja si muslimah ini memang belum berjilbab sebelumnya, tidaklah ada persoalan. Bahwa dia mempertahankan 'haknya' itu tidak juga salah. Masalahnya, jika hak itu masih terkait dengan kewajiban mencukupkan jam di sekolah lain. Apalagi sekolah lain itu mewajibkan membuka pakaian yang mencerminkan pengamalan akidah yang  dianut, itulah masalahnya.

Diskusi pantas-tak pantas membuka jilbab di sebuah sekolah yang mengharuskan membuka jilbab, sebenarnya bukan diskusi yang produktif. Perbedaan pandangan karena perbedaan keyakinan adalah sesutau yang nyata ada. Satu pihak akan menyalahkan si guru yang tega-teganya membuka aurat sekedar mengejar uang itu. Tapi pasti juga ada yang akan menyalahkan sekolah yang diskriminasi. Padahal sekolahnya merasa benar dengan ketentuan yang dibuatnya. Namanya juga ketentuan intern.

Hanya, sebagai seorang muslimah, sejatinya pertanyaan boleh atau tidak bolehnya memakai atau membuka jilbab di depan peserta didik, jawabannya tidak ada keraguan: tidak boleh. Selama itu bukan muhrim, ya tidak dibenarkan membuka jilbab di depan mereka. Itu tegas dikatakan sebagai pelanggaran akidah beragama. Jadi, guru bersangkutanlah yang wajib berpikir dan memutuskan bahwa untuk mendapatkan hak tunjangan profesi itu tidak perlu mengorbankan akidah. Wallohua'lam.***

Sabtu, 01 Desember 2012

Guru Luar Biasa atau Biasa Diluar?


BOSAN sebenarnya membicarakan guru 'biasa di luar' dalam arti selalu meninggalkan tugas dan tanggung jawabnya di kelas. Hari gini, masih ada guru yang suka meninggalkan tugas hanya karena kesibukan di luar sekolah? Pasti ada yang nyletuk mendengarnya, "Pecat aja!" Tapi nyata dan fakta, masih ada sahabat kita seperti itu.

Ketika program sertifikasi (dimulai 2007) sudah menjangkau 1,1 jutaan dari 2,9 juta guru di Indonesia jelas bahwa sebagian besar guru sudah menikmati penghasilan yang memadai dibandingkan lima-enam tahun lalu. Penghasilan guru terendah saat ini sudah lebih besar dari pada UMR walaupun beberapa guru honorer masih banyak yang menerima penghasilan tak layak dan tak manusiawi.

Bahwa penghasilan guru di satu daerah bisa berbeda dengan daerah lainnya, ya itu bisa saja. Guru-guru (negeri) di DKI (Ibu Kota Negara) bisa berpenghasilan antara 6 hingga 10 juta per bulan mungkin tidak akan sama dengan penghasilan guru di Padang (Sumatera Barat) atau Pekanbaru (Riau) yang di bawah itu. Tapi tunjangan profesi sebesar satu kali gaji pokok ditambah tunjangan sesuai daerah masing-masing sudah merupakan penghasilan yang memadai saat ini.

Kalau demikian, sudah tidak pada tempatnya penghasilan yang kecil menjadi alasan untuk tidak melaksanakan tugas dengan baik. Sudah tidak zamannya guru beralasan harus ngojek dan ngobyek ataunyambi pekerjaan lain untuk menambah gaji. Dan jika masih juga ada guru PNS yang tidak melaksanakan tugas sesuai ketentuan dan tanggung jawabnya, jelas itu pengingkaran terhadap tugas dan tanggung jawabnya.

Yang didambakan tentu saja guru berintegritas tinggi. Guru yang tidak saja melaksanakan tugas utama sebagai pengajar dan pendidik yang memotivasi dan memberi inspirasi, tapi juga dapat diteladani. Dan itu tentu saja bisa dan ada pada guru-guru yang luar biasa. Bukan guru biasa di luar. Guru-guru luar biasa inilah yang sejatinya diidam-idamkan sekolah dan pemerintah. Termasuk oleh anak-anak, peserta didik.
Guru luar biasa adalah guru yang lazimnya memiliki beberapa kriteria seperti, 1) Bekerja didasari niat yang benar dan tulus; 2) Memiliki visi diri yang jelas dalam mengemban tugas sebagai guru; 3) Dalam melaksanakan tugas selalu bersemangat dan menyenangkan; 4) Tidak hanya mempunyai motivasi diri tapi juga mampu menularkan motivasi itu kepada peserta didiknya; 5) Mampu berprestasi dalam berbagai hal baik berkaitan dengan tugas pokok sebagai guru maupun prestasi di luar tugas pookoknya. Dan saya yakin masih bisa dikembangkan ciri-ciri ini. Itulah guru luar biasa yang kelak akan melahirkan generasi yang juga luar biasa.

Guru biasa di luar adalah istilah lain untuk guru-guru yang kecendrungannya meninggalkan tugas. Selalu ada alasannya untuk tidak berdiri di depan kelas. Hari ini mungkin mengirimkan surat sakit walaupun sesungguhnya dia masih bisa mengajar. Besok mengirimkan surat karena ada urusan keluarga yang sebenarnya tidak terlalu penting buat dia. Lalu masuk satu atau dua hari, di hari berikutnya ada lagi alasannya untuk tidak ke sekolah.

Jika ada kegiatan di luar sekolah yang melibatkan dirinya, maka dia akan menjadikan kesempatan itu untuk secara resmi meninggalkkan anak-anak yang menjadi tanggung jawabnya di sekolah. Katakanlah dipercaya menjadi panitia kegiatan tertentu di luar sekolah, tugas luar ini seolah-olah menjadi kewajiban utama baginya. Dengan tugas-tugas di luar itu sepertinya tugas pokoknya sebagai guru menjadi tidak penting lagi.

Guru seperti ini harus diakui masih ada saat ini. Sebagai pegawai negeri tentu saja kelakuan seperti ini sangat merugikan negara yang telah memberi penghasilan cukup kepadanya. Padahal kerugian lain yang tidak kalah pentingnya adalah kerugian yang diderita para peserta didik yang lebih banyak ditinggalkan di sekolah. Nauzubillah, guru seperti ini jangan lagi ada. Jika kesadaran pribadinya tidak juga tumbuh, perlu tindakan perbaikan dari pihak-pihak yang berwewenang.***
Tulisan yang sama di: http://edukasi.kompasiana.com/2012/12/01/guru-luar-biasa-yes-guru-biasa-diluar-507269.html 
 
Copyright © 2016 koncopelangkin.com Shared By by NARNO, S.KOM 081372242221.