BREAKING NEWS

Selasa, 11 September 2012

Surat untuk Guru: Berharaplah Anak Didik Punya Blog


SAYA –menurut saya– tidaklah mahir menggunakan PC atau laptop. Balckbarry, iPhon,  iPad atau gedget canggih lainnya saya juga tidak punya. Sebagai guru, kebutuhan penggunaan teknologi elektronik ini saya pelajari secara otodidak saja karena kebutuhan profesional. Meski sudah puluhan tahun bisa mengoperasikan komputer tapi itu baru pada program word, exel dan power point. Itulah program utama yang memang dibutuhkan guru.



Perkembangan TIK yang begitu pesat membuat kemampuan dan keterampilan menggunkan alat canggih ini tidak bisa dielakkan. Dewasa ini, hampir semua orang di semua keadaan dan di semua situasi tidak lagi bisa melepaskan dirinya dari teknologi yang bernama komputer ini. Dengan jaringan internet yang sudah ada hampir di merata tempat, sudah pasti komunikasi melalui teknologi ini menjadi bagian kehidupan sehari-hari.

Sementara secara pribadi saya sesungguhnya belumlah terlalu mahir dalam mengoperasikan komputer justeru saya bermimpi bagaimana anak-didik saya mampu melakukannya lebih hebat. Saya malah bermimpi anak didik saya masing-masing memiliki blog pribadi tempat mereka berkreasi di bidang teknologi informasi dan komunikasi ini.

Punya blog saja sebenarnya belumlah ideal. Harapan sebenarnya adalah mereka menjadi bloger. Punya blog dengan menjadi bloger tentu berbeda. Sekedar memiliki akaunt blog saja jelas tidak lebih sulit. Kita tinggal mendaftar di situs tertentu (berbayar atau gratis) untuk membuat blog. Dengan mengikuti semua langkah yang sudah ditentukan, membuat blog tidaklah sulit. Buat nama yang diinginkan dan itu dapat diakses setiap saat selama admin situs yang dipakai memandang bahwa blog yang kita buat tidak ada masalah.

Setelah blog dimiliki lalu mau diapakan? Jika ternyata halaman blog hanya halaman standar yang memang sudah disediakan scara gratis oleh situs-situs tertentu itu dan tidak benar-benar dipakai untuk membuat dan menyampaikan informasi kepada pembaca lain, maka itulah yang disebut memiliki blog. Ini saja belum dapat disebut sebagai bloger. Jika pun status itu mau dipakai, itu pun baru bloger pasif. Yang saya maksud istilah bloger di sini adalah bloger aktif.
Bagi para peserta didik kita, memiliki blog saja di tahap awal tentu itu sudah bagus. Setiap guru TIK masuk di kelas dapat meminta anak untuk membukanya, lalu menjadikan itu sebagai bagian dari kegiatan pembelajaran TIK di kelas. Artinya, memiliki blog ksong pun tetap itu mempunyai nuilai tertentu bagi siswa dan guru itu sendiri.

Persoalannya, sudahkah peserta didik kita memiliki blog pribadi? Atau, sudahkah guru menyuruh, meminta atau mengajarkan membuat blog pribadi peserta didiknya? Jangan-jangan guru pun belum memiliki blog pribadi seperti pernah ditulis seorang kompasianer yang sudah terkenal sebagai bloger.

Andai saja blog-blog  pribasdi itu dibuka (sendiri, sekurang-kurangnya) maka itu berarti akan timbul juga kecintaan siswa kepada dunia internet yang sedlanjutnya jika dia aktif menulis, akan timbul pula kecintaannya pada dunia tulis-menulis. Sangat besar manfaat yang akan diterima peserta didik dan guru andai setiap peserta didik itu punya blog pribadi. Guru sendiri tentu akan memberi reward tertentu kepada mereka.

Harapan peserta didik memiliki blog pribadi tentu saja tidak bisa disandarkan harapannya hanya kepada guru TIK saja. Semua guru mesti berpartisipasi mmendorong anak didiknya untuk memiliki blog pribasdi. Tentu saja hal-hal berikut akan mempengaruhi:
1) Apakah gurunya sudah memiliki blog pribadi terlebih dahulu? Ini sangat berpengaruh kepada anak didik kita. Bagaimana memotivasi anak didik untuk memiliki blog sendiri jika gurunya tidak/ belum punya blog sendiri. Itu akan berpengaruh besar kepada anak didik.
2) Guru TIK adalah profesional sekolah yang akan memberi warna kepemilikan blog pribadi peserta didik ini. Walaupun alokasi waktu jam TIK hanya dua kali tatap muka dalam setiap minggu, itu tidak bisa menjadi alasan untuk tidak cukup dalam mengajarkan pembuatan blog. Waktu-waktu esktra kurikuler dapat diprogramkan untuk ini.

3) Kepala Sekolah harus mendorong semua guru di bawah kepemimpinannya untuk memiliki blog. Itu berarti, Kepala Sekolah sendiri wajib terlebih dahulu memiliki blog pribadi. Pertanyaannya, apakah Kepala Sekolah juga mau dan memiliki blog sendiri?
4) Pihak Dinas Pendidikan harus pula memberi dorongan konkret dalam mengembangkan TIK di sekolah-sekolah terutama di sekolah setingkat sekolah menengah (Pertama/ Atas). Lomba-lomba membuat blog antar peserta didik harus diperbanyak.

Sabtu, 08 September 2012

Teroris Memburu Koruptor


HINGAR-bingar berita korupsi terus berbaur dengan berita teroris. Suguhan media –elektronik dan cetak– beberapa hari ini didominasi oleh dua hal ini. Penyergapan terduga teroris di Solo bersaing ketat dengan berita seputar korupsi yang kian marak. Ulasan dan pendapat tentang teroris dan korupsi silih berganti mengisi media masa.

Di situs infokorupsi.com, misalnya hari Jumat (07/09) kembali diulangjelaskan lagi berita populer dalam minggu-minggu ini yaitu berita penelusuran 2.000 (dua ribu) LTKM (Laporan Transaksi Keuangan Mencurigakan) periode 2003-2012 yang kemarin-kemarin baru menyebut 10 orang anggota Banggar (Badan Anggaran) DPR, kini sudah menjadi 12 orang. PPATK (Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan) pun sudah pula menyerahkan ke-12 Laporan Hasil Analisis (LHA) tersebut ke KPK. Selain menyenggol anggota dewan, LTKM PPATK juga sudah melaporkan kecurigaan transaksi keuangan yang diduga berkaitan proyek simulator SIM (Surat Izin Mengemudi) di Polri yang juga menyedot perhatian.

Selain berita dugaan korupsi itu, ada juga berita korupsi yang sudah disidangkan. Angie yang bernama lengkap Angelina Sondakh adalah bintang utama karena baru saja memulai proses persidangan mengikuti jejak Miranda Gultom dan bintang korupsi lain. Angie sendiri ternyata bagian dari berita Anggota Banggar DPR yang terlibat korupsi itu. KPK, seperti selalu dikatakan Juru Bicaranya, Johan Wahyudi akan terus mengembangkan lika-liku korupsi dari satu kasus ke kasus lainnya berdasarkan fakta-fakta persidangan. Dari satu koruptor ke koruptor lainnya. Anggie sendiri kita tahu, merupakan turunan korupsi yang juga sedang berproses di ruang pengadilan yaitu kasus korupsi dengan bintangnya Muhammad Nazaruddin, mantan Bendahara Umum partai berkuasa itu.

Salip menyalip berita teroris dengan korupsi sungguh membuat kita syok. Rakyat sudah sangat muak bukan hanya pada beritanya tapi pada penyakitnya itu sendiri. Menjadi headline di hampir semua koran hampir setiap hari, berita kedua penyakit kumat ini tampak sekali saling memburu tempat utama. Dan berita teroris tampak ingin menyalip berita korupsi. Polisi ingin sekali menjadikan kasus teroris yang menurut sebagian analis tidak lebih berbahaya dari pada koruptor, menjadi perhatian yang lebih utama.

Teroris yang bahayanya dikatakan tidak sekomplit korupsi yang mampu merusak jiwa, perasaan dan pikiran manusia namun pemberitaannya jauh lebih kencang dari pada berita korupsi. Teroris benar-benar berusaha memburu berita koruptor laknat itu.
Apakah penanganan teroris juga lebih diprioritaskan polisi dari pada penanganan koruptor? Itulah yang banyak dikhawatirkan. Dan kekhawatiran itu tentu saja tidak berlebihan. 

Kehancuran akibat korupsi yang sudah meraja lela sejak lama, sungguh luar biasa dirasakan saat ini. Meski polisi dan jaksa sudah dilapis dengan KPK sejak hampir 10 tahun lalu namun korupsi tidak/ belum juga berkurang. Malah tambah subur dan kian maju saja trik dan modusnya. Dari mana para koruptor belajar dan memperdealam ilmu korupsinya kita tidak tahu. Tapi kehebatan koruptor selalu lebih atas dari pada aparat pemberantas korupsinya. Atau aparat hukum pemberangus korupsi memang sengaja tidak mau menambah ilmu dan skill untuk lebih hebat dari pada koruptor? Yang pasti kejahatan korupsi dan teroris seperti belum akan berakhir di negeri ini.***

Jumat, 07 September 2012

Purnabhakti Tugas: Sedih atau Bahagia

HARI Rabu (05/09) lalu itu adalah acara Halal Bilhalal Pasca Idul Fitri di Lingkungan Dinas Pendidikan Karimun yang disejalankan dengan mengantar purnabhakti tugas Kepala Dinas. Dihadiri bupati, wakil bupati, sekretaris daerah dan pejabat teras Pemda Karimun lainnya, acara itu lebih bernuansa duka dan sedih karena berakhirnya tugas dinas Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Karimun, H. Haris Fadilla dari pada gembira karena menikmati ‘hari kemenangan’ Idul Fitri.

Di spanduk yang terpampang di dinding bagian depan Gedung Serba Guna ‘Nilam Sari’ Komplek Kantor Bupati itu memang tertulis jelas “HALAL BILHALAL 1433 dan MENGANTAR BAPAK  H. HARRIS FADILLAH MEMASUKI PURNABHAKTI” yang diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan Kabupaten Karimun. Dalam suasana Syawal, tentu saja acara itu tepat adanya.

Tepat pukul 09.35 acara dimulai. Agak terlambat dari jam undangan yang tertulis pukul 08.30 WIB. Tentu saja itu sudah biasa menurut pejabat kita. Jarang pernah ada acara yang melibatkan pejabat sebagai undangan yang benar-benar dilaksanakan tepat waktu seperti yang ditentukan. Sedih memang, lamanya bangsa ini merdeka tidak membuat rakyatnya dewasa dalam disiplin. Susahnya, yang selalu membuat acara molor adalah alasan menunggu orang tertentu (pejabat) yang belum datang.

Dimulai dengan atraksi tari persembahan oleh pelajar di Kota Tanjungbalai Karimun lalu dilanjutkan dengan wejangan tausiah singkat dalam rangka acara Halal Bilhalal itu. Sealnjutnya Kepala Dinas yang memasuki tugas purnabhakti memberi sambutan sekapur sirihnya. Baru akhirnya sambutan dan pengarahan Bupati Karimun, Nurdin Basirun. Acara diakhiri dengan bersalaman dan makan siang bersama.

Dalam sambutan dua pejabat itulah tertangkap nuansa haru nan sedih. Kepala Dinas yang harus mengakhiri jabatan yang sudah dipegang sangat lama itu tampak berusaha tegar dan riang. Dari sambutannya pula didapat informasi bahwa setelah satu priode tugasnya  selesai, bupati kembali mengangkatnya dalam jabatan yang sama walaupun sebenarnya dia sudah waktunya pensiun sesuai umur pejabat struktural. Tapi tenaga dan keahliannya mengelola pendidikan masih diperlukan, maka perpanjangan masa penisunnya bahkan dijalaninya sampai dua kali. Dan tahun 2012 ini –setelah enam tahun menduduki jabatan yang sama– adalah masa terakhir jabatan itu dipegang. Sudah tidak boleh lagi diperpanjang. Begitu disampaikan.

Setiap pejabat dan siapapun dalam tugas apapun, memang pasti akan ada ujungnya. Itu memang benar. Hanya terkadang yang ditemukan di lapangan tidak selalu seperti itu. Yang menurut peraturan harus pensiun ternyata tidak juga kunjung pensiun dengan alasan peraturan membolehkan untuk diperpanjang masa pengabdiannya. Alasan itulah yang dipakai oleh bupati/ wali kota kepada beberapa pejabat yang dianggap layak diperpanjang pengabdiannya itu.

Hanya saja, masyarakat melihat fenomena bupati/ wali kota mempertahankan pembantunya lebih kepada hubungan pertemanan dan atau kekeluargaan belaka dari pada pertimbangan skill. Sulit memahami kebijakan menunda purnabhakti seorang pegawai negeri semata karena skill yang dimilikinya tidak ada pada orang lain. Sama sekali bukan sepenuhnya karena skilnya yang tak dimiliki oleh orang lain sehingga harus diperpanjang. Itu pandangan subyektif masyarakat. Tapi bupati/ wali kota tentulah punya penilaiannya sendiri.

Bagi pejabatnya sendiri, lazim pula berkeinginan untuk meneruskan kursi empuknya dalam dudukannya. Kata anekdok, “kalau sudah duduk sulit berdiri lagi.” Itu benar, seseorang yang duduk di kursi empuk sering tidak ingin berdiri atau bangkit lagi. Fasilitas yang berlebih dari pada jabatan lain serasa membuat perasaan tidak ingin melepas jabatan. Di situlah sedih dan duka akan muncul.

Sebaliknya, pejabat dengan integritas yang lebih baik biasanya tidak ingin meneruskan memegang jabatan tersebut jika saatnya memang harus sudah pensiun. Tidak perlu kasak-kusuk melakukan pendekatan kepada pihak-pihak tertentu bila saat pensiun memang sudah dekat. Tidak perlu juga membuat permintaan atau tindakan berlebihan agar mendapat perhatian demi jabatan. Sikap ini pula yang biasanya melahirkan rasa bahagia di ujung jabatan.

Sikap terakhir ini membuat rasa bahagia jauh lebih besar pada saat mendekati masa pensiun. Bukan karena tidak ingin melaksanakan lagi tugas dan tanggung jawab yang dipercayakan tapi lebih kepada perasaan dan kesadaran akan peralihan generasi yang memang sudah merupakan sunnatullah. Tidak perlu melawan kodrat itu. Kesempatan yang sudah diterima hingga sempurna tugas dan tanggung jawab sampai ke ujung tugas itu sendiri, sudah merupakan hidayah dan ma’unah yang tak tepermanai nilainya.

Jadi, mampunya seseorang melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya hingga ke level purnabhakti (kesempurnaan pengabdian) haruslah dipandang sebagai prestasi luar biasa yang mampu diraih. Ditambah keadaan pisik dan pikiran yang masih sehat dan segar ketika akan memasuki masa purnabhakti itu, subhanallah itulah kenikmatan yang membahagiakan. Bahwa ada rasa sedih, bukanlah karena berakhirnya jabatan.***
 
Copyright © 2016 koncopelangkin.com Shared By by NARNO, S.KOM 081372242221.