BREAKING NEWS

Selasa, 26 Juni 2012

Siswa Bebas, Mengapa harus Takut?

KEBEBASAN yang diberikan guru –Pembina OSIS– kepada siswa –Pengurus OSIS– terbukti tidak seperti yang dikhawatirkan. Tidak ada kekacauan atau perkelahian antar sesama siswa. Pertandingan olahraga antar kelas yang merupakan program OSIS (Organisasi Siswa Intra Sekolah) setiap habis ujian itu berjalan lancar. Dan yang membanggakan mereka seperti sedang melaksanakan pertandingan resmi antar sekolah.

Tadinya memang ada kerisuan dan nada-nada khawatir. Sebagian guru merasa risau kalau pertandingan olahraga itu tidak diatur sedemikian rupa oleh guru akan berbuntut kacau. “Jangan biarkan mereka sesama mereka saja yang mengatur dan melaksanakan,” begitu keluhan awal. Alasan lain karena anggapan para siswa SMA itu masih muda-remaja yang masih perlu bimbingan dan pengaturan dari guru. Belum akan mampu dilepas begitu saja. Kurang lebih begitu kekhawatiran kelompok itu.

Tapi satu kubu lagi menganggap bahwa untuk kegiatan seperti pertandingan olahraga antar kelas (rombel= rombongan belajar) pasca ujian semester, itu adalah aktifitas biasa dan sudah selalu dilaksanakan siswa sebagai pengurus dan anggota OSIS. Dua kali dalam satu tahun (semester ganjil dan genab) pengurus OSIS selalu membuat dan melaksanakan class meeting dengan aneka kegiatan. Tidak hanya bidang olahraga tapi bidang seni dan keterampilan lain juga pernah mereka buat.

Sebagai salah seorang guru, saya bangga sekali menyaksikan mereka bertanding siang itu. Sambil mengerjakan pekerjaan rutin di sekolah, saya melihat mereka lewat jendela kaca. Sungguh serius mereka bertanding di halaman sekolah yang dijadikan lapangan olahraga itu. Di halaman sekolah memang ada lapangan volly, sepak takrau dan futsal sekaligus. Di situ juga lapangan upacara dan apel lainnya.

Seperti pagi menjelang siang (Senin, 25/06) itu mereka baru saja memulai pertanding futsal di hari pertama pasca ujian kenaikan kelas yang berakhir Sabtu lalu. Selepas Apel Senin Pagi para pengurus OSIS saya lihat sibuk mengatur dan memberi penjelasan lewat pengeras suara sekolah. Terdengar suara yang menjelaskan bahwa pertandingan pertama pagi itu adalah antara kelas X vs kelas XI yang diikuti suara tepukan pendukung masing-masing kelas. Saya tidak tahu persis, kelas X dan XI berapa. Yang saya tahu, kelas X ada empat rombel dan kelas XI ada lima rombel di sekolah ini.

Mereka tampak gagah berbaju seragam yang entah dari mana mereka dapat. Yang pasti itu bukan seragam milik sekolah. Mereka pasti berusaha mencarinya sendiri. Jurinya yang juga adalah seorang siswa tampak lebih gagah dan tegas memimpin teman-temannya dalam pertandingan itu. Saling serang dan saling kejar di tengah teriknya sinar matahari pagi menjelang siang itu dapat dikendalikan oleh pengadil tanpa pembantu itu.

Di tepi lapangan, di bawah pokok-pokok yang rindang, para pendukung kedua grup yang bertanding plus simpatisan dari kelas lain saling bersorak memberi dukungan seperti layaknya pertandingan besar. Saya benar-benar bangga dan puas menyaksikan mereka bertanding dengan supporter yang saling sorak dan bahkan saling mengejek namun tetap aman terkendali.

Masihkah harus takut mereka mengatur diri mereka? Ternyata pertandingan di hari pertama berjalan dengan baik dan lancar. Tak ada protes dari masing-masing kubu. Dan tentu saja seperti itulah harapan untuk hari-hari berikutnya. Jadwal class meeting itu empat hari menjelang pembagian rapor nanti.

Sesungguhnya kebebasan yang diberikan dalam bentuk seperti itu adalah bentuk kebebasan yang bernilai positif. Itu tentu saja akan menjadi pembelajaran yang baik dan bermanfaat bagi peserta didik. Kepemimpinan yang mereka pelajari dalam oraganisasi seperti OSIS dapat mereka terapkan. Tentu saja kendali terbatas masih ada di tangan guru.

Bahwa kebebasan dapat membawa malapetaka, lihat dulu… kebebasan seperti apa? Bahwa anak muda belia rentan menyelewengkan kebebasan yang diberikan, lihat dulu… penyelewengan seperti apa? Di sekolah-sekolah maju di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Jogya dan lain-lainnya, sesungguhnya sudah terbiasa memberi kebebasan yang justeru bernilai positif di kalangan para siswa. Dengan kebebasan terkendali para siswa dapat berkreasi positif.

Para guru di sekolah-sekolah di daerah yang jauh dari kota, perlu memang belajar dan melaksanakan hal yang sama. Masa-masa pasca semesteran seperti saat ini adalah masa-masa yang baik untuk hal itu. Bahkan dalam liburan yang mengakhiri tahun pelajaran pun dapat dimanfaatkan sebagai tempat menmgekspresikan kebebasan siswa dalam bentuk kegiatan positif, tentunya. Semoga!***

Sabtu, 16 Juni 2012

Meluruskan Sikap dalam Ujian

DILIHAT dari jenis dan tujuan test alias ujian alias evaluasi (sengaja saya sejajarkan saja walaupun bisa berbeda) yang lazmin dilaksanakan di sekolah, ada beberapa test yang kita dengar dan praktikkan. Ada test diagnostik, formatif, sumatif dan test akhir tahun. Test diagnostik dilakukan dalam usaha mencari jawaban atas kesulitan belajar yang dialami peserta didik. Seorang guru yang bijaksana tidak akan membiarkan peserta didiknya terus-menerus dalam kesulitan sewaktu pembelajaran dilangsungkan. Dalam keadaan seperti itulah diperlukan test diagnostik.

Test formatif dilaksanakan untuk mengetahui sajuh mana kemajuan belajar peserta didik sudah berjalan. Test ini disebut juga sebagai test atau ujian untuk mengukur tingkat kemajuan pemahaman peserta didik dalam pembelajaran yang sudah berjalan. Sementara test sumatif dipergunakan untuk mengetahui sejauh mana peserta didik kita sudah mencapai tujuan pembelajaran yang sudah kita tetapkan sebelumnya. Istilah pritest dan atau postest yang juga kita kenal, lebih dilihat dari waktu pelaksanaan test itu dalam proses pembelajaran. Pritest untuk test yang dilaksanakan sebelum pembelajaran sementara postes adalah yang dilaksanakan di akhir pembelajaran atau sesudah pembelajaran berlangsung. Instrumennya biasanya sama bisa pula berbeda.

Lalu test akhir tahun yang dilaksanakan untuk  mengetahui  pencapaian kompetensi minimal yang sudah ditentukan dan apakah terserap atau tidak oleh peserta didik. Dan test alias ujian jenis ini pula sebenarnya yang dilaksanakan ketika kita melaksanakan ujian akhir masa pendidikan di satuan pendidikan. Ujian Kenaikan Kelas atau Ujian Akhir Sekolah yang lebih populer dengan istilah UN (Ujian Nasional) pada hakikatnya adalah ujian untuk mengukur pencapaian kompetensi peserta didik itu.
Bulan ini (Juni) dan bulan depan adalah bulan pelaksanaan ujian khususnya kenaikan kelas. Memperhatikan beberapa jenis test (ujian) yang selalu kita lakukan, terasa betul kalau gengsi UN masih dipandang sebagai ujian tertinggi berbanding beberapa bentuk ujian yang ada di sekolah termasuk jika dibandingkan dengan gengsi ujian kenaikan kelas di bulan ini. Mengapa demikian?

Kesalahan memandang UN sebagai penentu keberhasilan siswa membuat UN seolah-olah segala-galanya dalam menentukan nasib dan masa depan peserta didik. Masa pendidikan tiga tahun (SLTP/ SLTA) atau enam tahun (SD) seolah-olah akan diukur dari ujian dua atau empat hari itu. Akibatnya sekolah, orang tua dan siswa sendiri hanya berpikir tentang UN saja. Itupun hanya memikirkan nilai alias angka saja bukan kompetensi yang dituntut SKL (Standa Kompetensi Lulusan) dan SI (Standar Isi) seperti tuntutan silabus atau kurikulum.
Dari situ pula bermulanya aneka kecurangan dan penipuan baik dalam proses UN maupun dalam menentukan dan menetapkan nilai sebagai acuan kelulusan. Dari situ pula hilangnya sikap yang benar terhadap ujian atau test yang diselenggarakan sekolah.

Sesungguhnya semua ujian haruslah dipandang sama pentingnya. Tidak boleh ada anggapan seolah-olah hanya UN saja yang penting. Sikap ini hasrusnya diluruskan. Ujian-ujian dimakhir tahun pelajaran (kenaikan kelas) atau ujian di awal tahun pelajaran (semester ganjil) mestinya diperlakukan sebagaimana kita memperlakukan UN juga. Atau jika dibalik, UN mestinya dianggap sama saja dengan ujian semester ganjil dan ujian semester genap itu. Bahkan ujian-ujian harian, ujian tengah semester pun harusnya disikapi secara sama seperti UN.
Dengan demikian, tidak perlu ada lagi anggapan UN yang angker, UN yang menakutkan dan lain sebagainya. Semua ujian atau test itu sama saja. Jangan dibeda-bedakan menyikapinya. Yang ingin diukur dari semua ujian itu adalah kompetensi bukan menciptakan atau mencari nilai semata.

Lagi pula kita tahu, menurut Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional (pasal 57: 1) bahwa ujian alias evaluasi dilakukan dalam rangka pengendalian mutu pendidikan secara nasional sebagai bentuk akuntabilitas penyelenggara pendidikan kepada pihak-pihak yang berkepentingan. Di ayat dua dijelaskan bahwa evaluasi dilakukan terhadap peserta didik, lembaga, dan program pendidikan pada jalur formal dan nonformal untuk semua jenjang, satuan, dan jenis pendidikan.

Tidak ditegaskan bahwa salah jenis ujian lebih penting dari pada lainnya. Tidak juga UN dikatakan lebih penting dari pada UKK (Ujian Kenaikan Kelas) misalnya. Atau UAS (Ujian Akhir Sekolah) juga tidak dikatakan lebih penting dari pada UKK. Sesungguhnya semua ujian sama pentingnya. Lalu mengapa UN masih dianggap yang paling penting?

Penyebab UN masih dianggap sebagai ujian maha penting tidak lepas dari perannya yang juga dianggap penting sebagai penentu dan pemutus berhasil-tidaknya seorang peserta didik dari satuan pendidikannya itu tadi. Akibatnya ya, kesalahan sikap itu tadi. Maka sebaiknya segera diluruskan sikap keliru itu.***

Senin, 04 Juni 2012

Agar Apresiasi TIK Peserta Didik Naik

SAYA masuk kelas menggantikan salah seorang guru yang kebetulan beralangan hadir, pagi (Jumat, 01/06) lalu itu. Guru tersebut ada urusan keluarga, menurut piket hari itu. Guru TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi) ini memang sudah beberapa hari tidak datang ke sekolah.

Sebagai yang diberi tanggung jawab, saya masuk mengisi waktu kosong yang ditinggalkan. Biar pun saya bukan guru TIK (pelajaran seharusnya pagi itu) tapi saya tetap membicarakan TIK. Saya memang berusaha menyukai TIK selama ini. Sedikit banyak saya memahami juga betapa pentingnya TIK tidak hanya di kalangan pelajar tapi juga di masyarakat secara umum.

Dengan penguasaan TIK diharapkan secara otomatis bisa menguasai informasi melalui teknologi ini. Perbincangan saya bersama para siswa pagi itu sengaja berfokus pada TIK. Mereka, meskipun tak seantusias yang saya harapkan, namun mereka cukup responsip perihal urgensi TIK dalam kehidupan sehari-hari. Saya terus mencoba menggali pemahaman mereka. Sayangnya memang tidak di ruang labor komputer kami berbincang.

Yang ingin saya ketahui dari mereka di awal bicara tentu saja wawasan dan pengetahuan mereka mengenai TIK. Sebagai guru tentu saya sangat berharap mereka menguasai dengan baik materi teori dan praktik mata pelajaran ini. Saya berpikir mereka pasti lebih menguasai materi TIK dari pada saya. Saat ini mereka sudah duduk di kelas XI semester kedua. Artinya sudah empat semester mereka mempelajari Mata Pelajaran (MP) TIK selama di SLTA. Dan jika dihitung masa mereka belajar MP TIK di SLTP, wah sudah sangat lama maereka belajar. Rasa saya mereka lebih lama belajarnya dari pada saya. Saya ingat, dari SD hingga SLTA bahkan hingga di bangku kuliah (1983), saya belum merasakan belajar komputer.

Setelah menjadi guru dan dunia komputer begitu berkembang, barulah saya sedikit melek teknologi ini. Sebagai guru (guru MP TIK atau bukan) sejatinya memang mengerti kalau dewasa ini tidak mungkin lagi manusia melepaskan diri dari teknologi informasi. Pentingnya penguasaan teknologi informasi, sampai ada yang mengatakan bahwa jika ingin menguasai dunia maka kuasailah informasi, itu memang demikianlah adanya. Berarti tidak mungkin melepaskan diri dari teknologi ini.

Saya ingat tujuah tahun lalu, Prof. Paulina Pannen, dalam suatu kesempatan mengingatkan pentingnya memahami teknoligi komunikasi khususnya di kalangan pendidik dan pendidikan. Katanya, “Kita jangan hanya melek teknologi tapi wajib mampu memanfaatkannya dari berbagai aspek.” Pemanfaatan yang komprehensip itulah yang akan membuat orang merasakan betapa teknologi ini membawa kemudahan dalam kehidupan.

Bahwa TIK sudah begitu pentingnya dalam hidup dan kehidupan manusia memang tak dapat dibantah. Dari pagi ke pagi lagi, dari rumah ke sekolah atau kemana saja, dari tepi pantai hingga ke tengah laut dan dari pijakan tanah di bumi hingga mau terbang ke angkasa, semuanya bersinggungan dengan teknologi ini.
Teknolo informasi telah begitu fital perannya. Lihatlah bagaimana lancarnya urusan di perkantoran (mesin penjawab telpon otomatis, dll), di perbankan (kemudahan transaksi dan komunikasi otomatis antar bank dan nasabah), di penerbangan (pengaturan jadwal dan perubahan jadwal penerbangan otomatis), di perdagangan (jaringan otomatis yang menghubungkan antar orang yang terlibat) dan banyak lagi tentu.

Maka ketika saya tahu anak-anak didik saya yang di depan saya pagi itu begitu rendahnya pengetahuan dan pemahaman serta wawasan mereka tentang komputer dan TIK, betapa sedihnya hati saya. Saya bertanya di hati, bagaimana sesungguhnya pembelajaran TIK yang mereka lalui selama empat-lima tahun itu?
Dari pengalaman itu saya berpikir, kewajiban meningkatkan apresiasi (kalau bisa pengetahuan: teori dan praktek sekaligus) itu tidak hanya menjadi mkewajaiban guru MP TIK saja. Sudah seharusnya semua guru memberikan pemahaman yang benar tentang pentingnya teknologi informasi dewasa ini.

Konsekuensi sikap ini tentu saja kewajiban pertama untuk memahami dan menguasai teknologi informasi adalah pada guru itu sendiri. Artinya semua guru sudah seharusnya menguasai terlebih dahulu teknologi informasi untuk selanjutnya mengajak dan berusaha pula meningkatkan kemampuan dan wawasan peserta didik di bidang ini. Guru adalah teladan utama bagi setiap peserta didik. ***
Dapat juga dibaca di  http://edukasi.kompasiana.com/2012/06/04/agar-apresiasi-tik-peserta-didik-naik/
 
Copyright © 2016 koncopelangkin.com Shared By by NARNO, S.KOM 081372242221.