BREAKING NEWS

Jumat, 27 April 2012

Menjadi Guru Pmebina yang Bergairah Membina


FENOMENA hilang gairah bagi guru-guru pembina terutama yang merasa sudah senior bahkan sepuh adalah kenyataan yang tidak sulit ditemukan di kalangan guru di Tanah Air saat ini. Tersebab perasaan 'tak berguna' banyak sekali ditemukan guru-guru senior yang kehilangan gairah melaksanakan tugas seperti sediakala. Duduk di golongan pangkat IV/A ternyata tidak cukup memberi semangat dalam melaksanakan amanat.

Anggapan dan perasaan bahwa dirinya tidak lagi 'berguna' di sekolah adalah kemungkinan salah satu penyebab timbulnya fenomena guru pembina tak bergairah ini. Dulu, di awal diangkat menjadi guru semangat menggebu-gebu. Setiap tugas dan tanggung jawab mampu terselesaikan dengan jitu. Tapi waktu mengubah semangat dan karakter yang tampaknya dibiarkan begitu saja berlalu. Merasa tidak ada sesuatu yang baru, motivasi pun tergerus dimakan waktu. Akhirnya kerja acuh tak acuh. Sungguh pilu.

Harus ada strategi untuk mengembalikan gairah yang terlanjur lama hilang ini. Dari diskusi-diskusi kecil antar sesama guru senior yang sudah berpangkat pembina, saya menduga bahwa mereka merasa tidak diberdayakan lagi di sekolahnya. Tugas-tugas tambahan hanya terbatas sampai level wali kelas yang dipercayakan. Itupun terkadang tidak selalu dapat.

Ada pandangan, tidak atau jarang terprogram dengan baik hingga mencapai Wakasek (Wakil Kepala Sekolah) apalagi menjadi Kasek (Kepala Sekolah) buat mereka, oleh sekolah. Berharap menjadi Wakasek atau Kasek bagaikan mengharapkan tumbuhnya tanduk kuda. Itu yang selalu tersimpul dalam pikiran mereka.

Mereka terlanjur menyimpulkan, yang akan menjadi Wakasek selalunya orang-orang yang bisa 'mendekat' ke Kasek. Sementara yang selalu menjadi Kasek adalah orang-orang yang punya koneksi dengan pihak 'atas' (baca: Dinas Pendidikan atawa Pemda). Kompetensi telah ditenggelamkan oleh koneksi. Pandangan yang tidak pernah bisa dibuktikan ini terus ada di kepala mereka. Padahal kebanyakan hanya dalam bentuk perasaan.

Sesungguhnya dari usia dan pangkat serta golongan yang digenggam, mereka sudah terlanjur melambung. Tapi nasib 'malang' membuat sebagian mereka tidak merasa mendapat jabatan idaman di sekolah. Mau menyeberang ke instansi lain juga bukanlah jalan mudah. Di luar susahnya 'mengemis' minta pindah ke instansi di luar guru, persoalan tidak sesuai dengan motivasi dan profesi juga menjadi satu kendala lainnya.

Beberapa langkah berikut mungkin bisa dipertimbangkan untuk mengembalikan gairah yang sudah hampir punah. Pertama, tentu saja secara internal sebagai guru harus mengembalikan sendiri gairah kerjanya. Jangan menunggu dari luar. Tidak harus melihat kegagalan mendapatkan jabatan tertentu di sekolah sebagai alasan untuk merusak gairah sendiri. Seharusnya kokoh memegang perinsip, "Jabatan jangan dikejar tapi tugas dan tanggung jawab jangan ditolak." Artinya kalau dipercaya, kerjakan. Dan kalau tak/ belum dipercaya, biarkan. Bekerja saja secara profesional. Apalagi sudah mendapat tunjangan profesi karena sudah memiliki sertifikat profesi.

Hal kedua yang perlu dipertimbangkan (oleh pemegang otoritas) adalah memberi tugas-tugas tertentu di luar jabatan struktural di sekolah. Jika perlu ciptakan pula sebutan tertentu --seperti guru senior, guru emas, guru panutan, dll-- buat mereka. Ini perlu untuk penguat mental mereka. Tentu saja sebutan-sebutan ini harus diiringi dengan pemberian materi memadai buat mereka. Selanjutnya sekolah dapat mengharapkan tetap bertahannya gairah mereka dalam tugas sehari-hari.

Sesungguhnya kegairahan melaksanakan tugas profesi tidak mesti dibiarkan terganggu bahkan tergerus oleh persoalan-persoalan di luar kapasitas kita sebagai guru. Mestinya guru tetap fokus pada fungsi dan tanggung jawabnya. Dari kompetensi pokok yang wajib dimiliki seorang guru seyogyanya cukup menjadi dasar untuk bertahan menjadi guru yang bergairah. Guru profesional tidak mungkin berjalan dengan benar jika tidak ditopang oleh rasa senang dan gairah dalam menjalaninya.

Kini, tugas tambahan yang seharusnya juga dipikul guru pembina adalah bagaimana membina rekan-rekan guru muda atau guru-guru yunior yang mungkin belum terlaksanakan oleh Kepala Sekolah. Fungsi-fungsi pembinaan Kepala Sekolah terkadang tidak selalu terlaksanakan dengan baik dan merata. Di sinilah para guru pembina dapat berkontribusi. Jadilah guru pembina yang ikhlas membina. Semoga!***

Selasa, 17 April 2012

Hukum Rimba dalam UN, Perlukah?


HARI Senin (16/04/12) Ujian Nasional Tahun Pelajaran 2011/2012 telah dilaksanakan. Peserta didik di jenjang SLTA bertarung memperebutkan kelulusan. Dan rasa galau-geram yang tak juga padam adalah masih diragukannya akuntabuilitas dan kredibilitas pelaksanaan UN. Tulisan ini mencoba sedikit mengulas.
DI AWAL kebijakan Ujian Akhir Sekolah (UAS) yang semula bernama EBTA (Evaluasai Belajar Tahap Akhir) di tahun pelajaran 1985/ 1986 sebagai dasar kelulusan peserta didik kelas akhir diberlakukan, akuntabilitas dan kredibiltas pelaksanan ujian itu dikatakan cukup tinggi. Tidak terdengar kecurangan ujian yang dilakukan oleh peserta didik (siswa) maupun pendidik (guru) seperti kelaziman dalam UN (Ujian Nasional) beberapa tahun belakangan.

Malah jika dirunut jauh ke masa-masa sebelumnya lagi, konon kelulusan itu benar-benar atas perjuangan berat secara individu peserta. Tidak ada bantuan dari manapun. Makanya kelulusan seseorang dari satuan pendidikan benar-benar sebuah kebanggaan karena harus dilalui dengan perjuangan yang berat itu. Peserta didik mesti belajar bersungguh-sungguh dan penuh semangat. Tidak ada kata ‘lulus’ kecuali atas usaha sendiri. Yang belum lulus, sudah terbiasa menerima dan akan berjuang lagi pada kesempatan lainnya.
Pelan dan meyakinkan, dari waktu ke waktu proses ‘ujian akhir’ tidak lagi steril dari kata ‘curang’ alias mencontek. Entah dari mana virus ini datang. Namun yang pasti dia kian berkembang. Dari semula hanya kreatifitas peserta didik sendiri untuk mencontek kerja teman, sampai akhirnya melibatkan guru dan Kepala Sekolah menyuburkan kecurangan.

Beberapa kali diberitakan ada guru yang ‘diam-diam’ menyelinap’ masuk ke ruang ujian untuk menuliskan kunci jawaban di papan tulis untuk dicontek peserta. Ada guru yang membuatkan kunci jawaban di kertas untuk dikirimkan ke ruang ujian. Lalu peserta saling berbagi kunci jawaban yang dibuatkan guru. Dan banyak lagi bentuk keterlibatan guru dalam mencurangi ujian keramat itu.

Di berita lainnya terdengar pula seorang Kepala Sekolah terpaksa berurusan dengan polisi karena ketahuan mengeluarkan soal yang berlebel SANGAT RAHASIA itu sebelum waktunya. Lalu soal itu diserahkan ke guru yang memang sudah ditunjuk oleh sang Kepala Sekolah untuk menjawab terlebih dahulu sebelum waktu ujian sampai. Kunci jawaban dari guru itu nanti akan diedarkan dalam ruangan ujian. Jadi, kecurangan UN tidak hanya inisiatif peserta didik tapi sudah berjangkit ke pendidik (guru dan kepala sekolah).

Dalam perjalan waktu, muncullah pro kontra pelaksanaan UN sejak beberapa tahun ini. Yang tidak setuju UN menggunakan argumen perbedaan yang masih sangat mencolok antara satu sekolah di satu tempat –misalnya di perkotaan– dengan sekolah di tempat lain. Perbedaan sarana prasarana, guru dan fasilitas lainnya menjadi dasar penolakan UN secara merata di seluruh Tanah Air. Padahal argumen ini bisa jadi pembalut ketakutan tak lulus saja.

Tapi yang setuju tetap memandang perlu UN dilaksanakan. Bagaimana mutu bisa ditingkatkan jika tidak ada ukuran tertentu yang baku dalam penilaian. Itu dasar pikiran yang dikedepankan. Sambil berbenah, UN harus tetap dilaksanakan. Bahkan MK (Mahkamah Konstitusi) pun tidak sampai melarang UN walaupun itulah permintaan dari yang anti UN. Keputusan setengah hati MK itu pun menjadi penguat bagi yang pro untuk tetap melaksanakan UN.

Persoalan pokok dari pelaksanaan UN yang belum akuntabel dan kredibel sesungguhnya adalah sikap dan keseriusan bangsa ini untuk menjadikan UN sebagai cara evaluasi kompetensi yang jujur yang belum juga terwujud. Banyak usaha dari pemerintah (Kemdikbud) agar UN berjalan dengan jujur. Dari membuat ketentuan dan peraturan –oleh Kemdikbud dan BNSP– sampai ke membuat deklarasi ‘UN Jujur’ di beberapa daerah oleh Mendikbud. Deklarasi UN Jujur adalah himbauan yang baru dilaksanakan tahun 2012 ini. Intinya Pemerintah ingin mengubah cara pandang dari sekedar lulus UN dengan ‘cara apa jua’ kepada kelulusan dengan UN Jujur dan berprestasi.

Ketentuan dan mekanisme UN pada tahun 2012 ini juga sudah sangat ketat dalam teori. Beberapa kali sosialisasi UN oleh Dinas Pendidikan untuk menjelaskan bagaimana ketatnya pelaksanaan UN pada tahun ini. Dari paket soal yang tetap dibuat 5 (lima) macam di setiap ruang sampai ke pembuatan sticker khusus sebagai pengganti lak selama ini untuk menyimpan LJUN. Dengan sticker khas ini panitia/ sekolah tidak bisa lagi membuka ulang ampelop LJUN yang sudah dibungkus rapi dari ruang ujian.

Selain itu, pengawas yang selama ini cenderung ditentukan sekolah sendiri akan beralih ke pengawas yang benar-benar akan ditentukan oleh pihak Perguruan Tinggi. Selama ini Perguruan Tinggi juga dianggap belum efektif menjadi pengawas UN. Diduga masih banyak pengawas ikut mencurangi UN yang diawasinya.

Pertanyaan yang tersisa: jika tidak juga bisa terlaksana UN Jujur, apakah model ‘hukum rimba’ perlu diterapkan? Seperti melarang pengendara yang tak mempan dengan rambu-rambu lalu-lintas untuk memperlambat kenderaannya, maka dibuatlah polisi tidur, misalnya. Atau seperti melarang penumpang KA yang tak bisa dicegah untuk naik ke atas atap, lalu dibuat kawat bertenaga listrik atau bola-bola penghalang. Untuk melarang kenderaan dengan ketinggian tertentu, dibuat saja besi penghalang. Atau mungkin contoh-contoh lain yang perinsipnya seperti penerapan ‘hukum rimba?

Haruskah pelaksanaan UN pun menerapkan model hukum rimba, misalnya dengan membuat model soal berbeda untuk setiap siswa dalam satu ruang? Atau menerapkan sistem tempat ujian yang tidak memungkinkan komunikasi antara satu peserta dengan peserta lainnya? Hah, memang kalau ingin UN yang benar-benar kredibel dan akuntabel, untuk modal karakter yang ada saat ini, harus ada terobosan dalam pelaksanaannya. Yang jelas, keberadaan polisi dan pengawas independen selama ini juga tidak terlalu berpengaruh besar untuk membuat ujian jujur tanpa kecurangan. Tampaknya harus ada cara lain. Atau karakter bangsa ini yang pertama harus dibenahi terlebih dahulu?***

Selasa, 10 April 2012

Kritik Buat Kreatif

BUAT yang baru memulai (belajar) menulis dan mempublikasikannya, terkadang kritik menjadikannya ragu atau takut melanjutkan langkah kreatifnya. Karena merasa tulisannya dijelekkan atau direndahkan, hilanglah gairah dan semangat berkarya.

Tidak harus menyebut nama untuk contoh. Tapi ada banyak yang mengalami dan terbukti berhenti menulis lagi setelah tulisannya dikritik kanan-kiri. Tidak betah disebut-sebut kekurangan dan kelemahannya lalu mengambil keputusan yang salah: tidak berkarya lagi. Mental jelek ini dapat juga terjadi pada kreatifitas lain selain di ranah tulis-menulis.

Tapi haruskah berhenti berkarya –apa saja: menulis, berdagang, berkebun, dll– hanya karena ada yang menyebut-nyebut karya kita? Tidak perlu, tentunya. Bukan karena sikap ‘anjing menggonggong kafilah berlalu’ secara membabi-buta tapi justeru gonggongan itu dapat dijadikan peringatan. Jangan-jangan ‘anjing’-nya akan menggigit. Jika waspada dan menghadapinya dengan benar, tentu akan baik hasilnya.
Untuk semua rencana usaha atau karya, khususnya di bidang tulis-menulis memang harus dipahami bahwa hujan kritik adalah hal biasa. Tidak saja buat penulis pemula tapi untuk yang sudah senior dan ternama saja, kritik selalu ada. Malah bisa semakin kebanjiran kritik. Sekali lagi itu, biasa.

Harusnya kritik membuat kreatif. Bukan membuat macet usaha dan ikhtiar kita. Terkhusus buat sahabat muda awal berkarya, perlu dicamkan betul bahwa kemajuan dan harapan akan terwujudkan hanya dengan kekuatan keyakinan. Yakinkan diri bahwa setiap orang punya pikiran dan perasaan yang terpendam. Mereproduksi pikiran dan perasaan secara tertulis, itulah yang terus-menerus harus diasah. Tidak boleh berhenti hanya karena ada yang menyebut kekurangan dan kelemahan apa yang diungkapkan lewat tulisan.
Itulah sebabnya dikatakan oleh banyak pakar bahwa kalau untuk jadi penulis tidak dibutuhkan ijazah, apalagi diembel-embel IPK (Indek Prestasi Kumulatif) tinggi. Tidak pula dibutuhkan juga uang atau ekonomi mapan dan berlebihan. Tidak perlu pula pisik atau badan kekar dan tinggi, misalnya. Yang dibutuhkan tak lebih dari ketekunan dan kesungguhan yang dilengkapi dengan ketabahan. Percaya diri berlebihan tidak baik. Tapi merasa minder juga lebih jelek.

Seseorang yang saat ini tersohor di bidang tulisa-menulis, bukanlah hasil kerja sekali jadi. Sebutlah nama-nama seperti Habiburrahman El-Shirazi, Ayu Utami, Andre Hirata, Afifah Afra; atau nama-nama lama seperti Hamka, Marah Rusli dan banyak lagi para penulis zaman dulu hingga hari ini.

Nama-nama yang sudah terkenal di blantika tulis-menulis juga bisa bermula dari berbagai cara dan strategi. Ada penulis terkenal karena gigih menulis dan banyak menghasilkan karya tulisnya dalam bentuk buku-buku yang diterbitkan. Ada lagi karena buku sulungnya sudah menjadi best seller. Meledak di pasaran. Dan ada juga karena rajin berpromosi. Atau karena aktifnya menyalurkan lewat blog atau media online lainnya.
Kita ambil beberapa nama terkenal karena aktif menulis di blog. misalnya. Beberapa di antara mereka itu dapat kita sebut seperti Raditya Dika (Kambing Jantan), Arif Muhammad (Pocongg Juga Pocong), Akmal Syafril dengan tulisannya yang bertema Islam Liberal; dan banyak lagi.

Satu hal yang pasti dimiliki orang-orang top di bidang tulis-menulis itu adalah kebesaran hatinya menerima atau mendengar kritik terhadap tulisannya. Tak ada gunanya menolak atau menutup telinga dari krtitik pembaca tulisan kita.

Buat siapapun yang sudah memutuskan untuk menjadi penulis, tidak harus alergi dengan kritik. Kritik sejatinya memang harus berpengaruh pada setiap orang. Dan pengaruh yang diharapkan tentu saja bagaimana kritik membuat kreatif. Saya sendiri meski dalam usia yang tak muda saat ini tapi tetap merasa sebagai penulis pemula yang masih terus belajar. Sebagai ‘orang kecil’ dalam khazanah tulis-menulis, saya sadar betul dengan pandangan ini. Tak mungkin menjadi besar jika tak punya jiwa dan semangat besar.***
 
Copyright © 2016 koncopelangkin.com Shared By by NARNO, S.KOM 081372242221.