BREAKING NEWS

Rabu, 28 Maret 2012

Bahtera Cinta Berlayar Sudah (3)

Kisah ke-3 Misteri Penyebab Kematian
DALAM perjalanan dari RSUD ke rumah, saya tidak bisa bicara apa-apa. Pikiran saya benar-benar kosong. Saya bahkan seperti tidak mendengar raungan sirene ambulance yang membawa mayat isteri saya malam itu. Mata saya mencoba terus menatap keranda besi berisi mayat isteri saya. Besi keranda itu tidak pernah saya lepaskan selama dalam perjalanan. Berapa lama  waktu perjalanan itu saya juga tidak tahu. Yang saya tahu, mobil ambulance itu kini sudah sampai di rumah saya, rumah No 82 Jalan Sakura Indah, RT 01 RW 09 Wonosari, Baran, Meral.
Rumah yang sudah kami huni sejak tahun 2004 lalu, kini akan dia tinggalkan bersama kami yang dia tinggalkan. Di rumah inilah kami melanjutkan memadu kasih setelah berpindah-pindah dari satu rumah ke rumah lain. Selama 26 tahun hidup bersama (di Kundur, Moro dan Karimun: tiga kecamatan sebelum pemekaran) inilah rumah sendiri yang baru tujuh tahun terakhir mampu kami miliki. Tidak menyewa lagi. Selama ini kami hanya menyewa dari satu rumah ke rumah lain sesuai tempat di mana saya bertugas. Pernah pula kami tinggal di perumahan sekolah yang sangat sederhana: rumah papan bekas tempat tinggal tukang yang membangun sekolah. Kini baru kami memiliki rumah sendiri. Ah, terlalu singkat dia menempati rumah pribadi yang kami cintai ini.
Di Pekanbaru, sebenarnya kami mempunyai rumah sendiri yang dibangun berangsur selama hampir sepuluh tahun ketika saya amasih bertugas di Tanjungbatu. Rumah itu pada awalnya (tahun 1986-an) saya bangun untuk  persiapan kalau-kalau saya dimutasi ke daratan sana. Kebetulan isteri saya mendapatkan jatah tanah dari orang tuanya untuk membangun sebuah rumah. Rumah itu sejak awal hanya satu minggu saja kami menghuninya. Selebihnya disewakan kepada siapa saja. Sewa rumah itu pula yang kami pakai untuk menyewa rumah di Moro dan Karimun selama kami belum mempunyai rumah sendiri. Baru pada tahun 2004 itulah kami memiliki rumah sendiri di sini.
Di rumah, kerumunan manusia sudah menanti jenazah isteri saya. Sangat banyak saya lihat. Begitu ramainya orang-orang yang datang dan menanti kedatangan jenazah, tak ubahnya sebuah pesta. Tapi ini adalah pesta dengan wajah-wajah duka. Lampu-lampu rumah yang sebelumnya tidak menyala ketika kami bergegas ke rumah sakit, sudah dinyalakan oleh para tetangga dan kerabat yang kebetulan sudah duluan ke rumah sebelum jenazah tiba. Di halaman bagian bawah, orang-orang kampung Wonosari secara bergotong royong memasang tenda. Itu adalah tenda duka menyambut isteri saya yang telah tiada.
Mobil ambulance langsung berhenti di halaman bagian atas. Pintu ambulance dibuka untuk memindahkan jenazah ke dalam rumah. Dengan lutut yang terasa begitu berat dan lemah saya mengikuti mayat isteri saya yang diangkat ke dalam rumah oleh beberapa orang lelaki. Ya Allah, betapa beratnya kaki saya melangkah. Hanya beberapa langkah dari mobil ke dalam rumah. Tapi sungguh berat dan jauh rasanya. Tidak mampu rasanya saya melangkahkan kaki saya.
Tikar dan permadani yang biasanya dibentangkan untuk acara-acara kenduri atau acara-acara khusus lainnya oleh isteri saya, kini sudah terbentang rapi untuk menanti isteri saya sendiri yang sudah pergi. Sebuah kasur juga sudah terbentang di situ. Di kasur kapuk itulah isteri saya diletakkan. Itulah kasur kapuk ukuran sedang satu-satunya yang kami miliki selama ini. Kain panjang yang beberapa tahun belakangan dibelinya beberapa lembar, kini juga dikeluarkan untuk penutup mayatnya. Kain-kain panjang itu sudah selalu dibawanya ke tempat-tempat mayat lain. Kini dia sendiri pula yang menjadikannya sebagai selimut.
Kesedihan ini kian menjadi. Mata dan wajah-wajah memelas sedih dari para pelayat menatap lurus ke jenazah isteri saya yang terbentang di atas kasur di ruang depan rumah. Bagi saya, mata dan wajah-wajah itu terasa menambah berat rasa sedih dan duka saya. Setiap orang yang memandang isteri saya adalah orang-orang berwajah sedih dan duka dan menambah sedihnya hati saya. Sama sekali saya tidak bercerita kepada mereka yang bertanya, mengapa isteri saya pergi begitu cepatnya. Apa sebenarnya penyakit yang merenggut nyawa isteri saya. Oh Tuhan, mengapa begitu cepatnya dia Kau ambil dari pangkuan saya.
Dalam kesedihan seperti ini, terngiang kembali di telinga dan terbayang di mata saya bagaimana kronologis kejadian yang dialami  isteri saya sejak pukul 15.30 petang hingga dia saya larikan ke rumah sakit malamnya. Bagaimana saya sudah membawanya ke rumah sakit dokter praktek ‘Sayang Ibu’ dan ditangani seorang dokter yang cukup terkenal di situ. Dokter itu juga yang menjelaskan kepada saya kalau isteri saya menurutnya tidak mempunyai (mengidap) penyakit yang mengkhawatirkan ketika saya jelaskan kepadanya tentang kemungkinan isteri saya terkena penyakit jantung atau penyakit lain sore itu. Tapi dokter itu kokoh mengatakan kalau isteri saya tidak ada masalah yang berat. “Pak guru tak usah risau,” begitu dia meyakinkan saya. “Ibu hanya sedikit gangguan lambung.”
Saya pun tidak berpikir dan juga tidak disarnkan untuk membawanya ke rumah sakit atau ke dokter lain sesuai yang dijelaskan dokter itu. “Ibu tidak ada riwayat penyakit jantung. Tensi ibu juga bagus.” Berulang-ulang kalimat yang diucapkan dokter itu mengisi lamunan saya. Obat yang dia beri pun sudah diminum sesuai petunjuknya. Katanya isteri saya hanya bermasalah sedikit pada lambungnya. Saya yakin dengan kata-katanya. Saya pun membawanya ke rumah setelah selesai berobat sore itu. Apalagi isteri saya juga tidak mengeluh apa-apa, kecuali dia menyatakan begitu penatnya badannya. Dia minta segera pulang karena ingin dipijit-pijit badannya.
Ketika akan pulang dari dokter Awang Lim itu saya menawarkan kepadanya untuk berjalan sore dengan mobil itu. Seperti biasa, saya ingin berjalan-jalan bersamanya. Tapi dia menggeleng. Dia tetap minta pulang ke rumah saja. Istirahat di rumah saja, katanya. Itulah sebabnya kami pulang ke rumah. Sampai saat itu, sedikitpun saya tidak mempunyai firasat apapun tentang dia. Saya hanya berpikir dia ingin istirahat saja ke rumah memulihkan gangguan kesehatan yang dijelaskan dokter tadi.
“Ibu tidak apa-apa. Ibu tidak ada riwayat penyakit jantung. Tensi juga bagus,” berulang-ulang terus kalimat yang diucapkan Dokter Awang Lim itu kembali menusuk telinga saya. Karena diagnosa dia juga saya tidak merasa perlu membawa isteri saya ke rumah sakit lain. Ah, tapi kini ternyata  begini jadinya. Semuanya terjadi begitu cepat. Benarkah dia tidak sedang menderita penyakit yang menakutkan itu, penyakit jantung atau yang lainnya? Benarkah dia hanya bermasalah pada lambung?
Saya memang hanya menduga bahwa ‘masalah lambung’ yang disebut dokter itu adalah masalah mag. Dokter itu memastikan isteri saya tidak mungkin kena serangan jantung. Lalu apakah mag itu yang merenggut nyawa isteri saya? Atau apakah karena pengaruh obat yang diberikannya? Ada pula yang menyebut-nyebut jika dosis obat dari dokter keturunan ini sering berdosis tinggi. Atau adakah penyakit mag itu juga berkaitan dengan puasa Kamis –dua hari sebelum kejadian-- yang dia lakukan? Atau juga kemungkinan karena isteri saya itu memakan kue pulut malam Sabtu itu? Ah, tidak satupun jawaban yang dapat saya berikan. Orang-orang lebih suka menyebut isteri saya begitu mudah perginya. Orang-orang menyebut isteri saya pergi dengan tidak mengalami kesulitan apapun. Tidak menyusahkan. Apakah itu pertanda dia pergi dengan predikat ‘husnul-khotimah’? Ya Allah, hanya Engkau yang tahu rahasia di balik itu semua.
Bagi saya, penyebab kematiannya itu tetaplah sebuah misteri. Seharusnya saya tahu dan mengerti apa sesungguhnya secara medis yang merenggut nyawa isteri saya. Tidakkah keteledoran dokter yang tidak menginfus atau menginjeksi isteri saya yang sebelumnya sudah saya laporkan bahwa dia habis muntah? Tidakkah karena keteledoran dokter itu karena tidak juga merujukkan isteri saya ke rumah sakit lain yang lebih besar? Atau apakah karena saya yang lalai karena tidak berinisiatif saja membawanya ke rumah sakita atau ke dokter lain sebagai pembanding? Ya Tuhan, begitu banyak pertanyaan yang tidak dapat saya jawab. Penyebab kematiannya benar-benar misteri yang tidak mudah saya menjawabnya. Mata saya tidak bisa lepas dari wajah tertutup kain panjang di samping saya itu. Berpikir begitu, hanya air mata saya saja yang terus mengalir membasahi mata dan pipi saya. Saya serasa hanya bermimpi.
Para pelayat kian memenuhi ruangan rumah saya. Kini bukan hanya ruang depan (tempat mayat terbentang diam) yang dijejali pelayat tapi ruangan tengah dan bagian belakang juga sudah dipadati orang. Di ruang depan secara spontan para pelayat membaca surah Yasin. Ada yang membaca secara bersama, serentak dan ada pula yang membaca sendiri-sendiri. Saya mencoba setabah mungkin sambil juga membaca alquran. Saya juga tidak berhenti berdoa seperti mereka yang berdoa. Kehancuran perasaan ini harus saya terima walaupun tidak juga bisa rasanya.
Pada waktu seperti itu, dua HP saya terus-menerus berdering. Terkadang saya jawab langsung terkadang saya biarkan dia berbunyi begitu saja. Terkadang saya tidak sanggup menjawabnya. Terkadang untuk beberapa orang saya mencoba langsung menelpon untuk memberitahukan kejadian ini walaupun saya harus terisak menahan tangis menjelaskannya. Kakak kandung isteri saya, Kak Maimunah adalah oang yang beberapa kali saya telpon, baru dapat menyampaikan informasi ini. Anak saya, Ery juga orang yang saya telpon kembali setelah tadi di rumah sakit saya memberi tahu kematian mamanya. Ketika masih di UGD saya memang telah memberi tahu anak saya Ery yang di Tanjungpinang itu. Saat itu dia menangis histeris hampir setengah jam di telpon. Saya tahu dia sangat terpukul dengan informasi dari saya. Kini dia, bersama dua anak saya lainnya sudah ditinggal pergi mamanya untuk selamanya. Mereka sudah kehilangan mamanya.
Waktu terus merangkak. Saya tidak menduga kalau hari sudah larut malam. Orang-orang masih ramai di dalam dan di luar rumah. Pukul 01.30 (Minggu, 17 April) saya mencoba membaringkan badan saya yang  letih di sebelah isteri saya yang terbaring kaku. Ya Allah, ini adalah malam terakhir saya akan berbaring di samping isteri saya. Besok kami pasti akan berpisah, ya Allah. Tabahkanlah ya Rab hati dan jiwa saya. Tahankanlah ya Rab, tangis dan isak saya. Saya juga menyuruh anak saya, Kiky untuk beristirahat membaringkan badan di samping sebelah mamanya. Saya tahu dia pasti juga letih dan sangat menderita. Dialah yang sedari sore hari tahu persis keadaan mamanya. Mata anak sulung saya itu sudah sembab karena menangis berulang-ulang sedari sore.
Malam terus bergerak. Mata saya ternyata tidak bisa tertidur walaupun saya coba memejamkannya. Suara-suara orang yang melayat dan ikut menunggu isteri saya juga kian berkurang. Beberapa suara masih terdengar di luar sana. Di dalam rumah, ada yang mencoba memejamkan mata sambil duduk dan menyandarkan punggung ke dinding rumah ada yang diam begitu saja. Saya sendiri sambil menelentang menatap palavon ruang depan itu sambil berusaha memejamkan mata. Tapi tetap tidak mudah dan tidak bisa. Mata saya terasa pedih tapi tetap tidak bisa tertidur. Beberapa kali menjelang pagi itu saya menelpon Kak Mai yang dari pukul 02.30 dini hari itu sudah berangkat menuju Dumai dari Pekanbaru. Besok dia akan berangkat menggunakan kapal fery menuju Tanjungbalai Karimun. Saya yang menyuruhnya lewat Dumai agar besok dapat melihat adiknya, isteri saya untuk terakhir kali. Itu adalah permintaannya lewat telpon. Dia minta ditunggu sebelum dikebumikan.
Pukul 04.10 saya duduk. Kembali saya menatap isteri saya yang terbaring diam itu. Saya buka lagi wajahnya yang ditutup kain. Saya menciumnya pelan.sambil berusaha menahan tangis dan air mata. Saya rapikan selendang penutup rambutnya. Saya tahu dia tidak ikhlas jika rambutnya itu terbuka begitu saja. Dia adalah orang yang sangat ketat menutup rambut semasa hidupnya. Dia tak ingin rambutnya terlihat oleh yang bukan muhrimnya.
Saya tidak tahu apakah saya dapat menidurkan mata saya atau tidak. Karena sebentar lagi akan datang waktu sholat subuh, saya pergi berwudhuk. Saya sholat sunat ke kamar sebentar menjelang masuknya waktu subuh. Pagi ini saya tidak ke masjid untuk berjamaah subuh sebagaimana biasanya. Saya sholat di rumaah saja. Lalu kembali duduk di samping isteri saya. Saya mengambil alquran dan membacanya kembali seperti awal dia terbaring malam tadi. Hanya yang kuat saya lakukan sebagai penguat pikiran, mengantarkannya ke peristirahatan terakhirnya.
Pagi selepas subuh para pelayat mulai berdatangan kembali. Saya ingat, jamaah sholat subuh dari Masjid Agung adalah rombongan pertama yang datang bertakziyah, Minggu (Ahad) sepagi itu. Ada tujuh atau delapan orang yang datang dalam rombongan itu. Mereka masih mengenakan gamis pakaian sholat subuh mereka. Mereka membacakan surah Yasin serta doa-doa untuk almarhumah. Sungguh terharu saya, masih gelapnya suasana subuh, para takziyyinsudah berdatangan. Ya Allah, berilah mereka pahala atas bacaan Al-quran dan kalimah-kalimah thoyyibah yang telah mereka bacakan untuk isteri saya.
Lama juga rombongan Al-Ustaz Zulfan Batubara –imam masjid Agung Karimun-- itu berada di rumah duka, subuh itu. Walaupun tidak banyak bicara yang terucapkan namun mereka telah memberikan kesejukan di pagi subuh itu. Semakin pagi para pelayat semakin ramai memenuhi rumah. Seperti malam tadi, pagi ini begitu ramainya para pelayat memberikan kunjungan terakhirnya. Saya tahu itu adalah bukti bahwa almarhumah memang orang yang banyak memberi kesan yang baik bagi orang lain. Kebiasaannya melayat orang meninggal bersama saya, membezuk orang sakit serta pergaulannya yang baik dengan semua orang telah membuat banyak orang terkejut dengan kejadian yang tiba-tiba menimpanya. Saya menduga itulah alasan utama para pelayat datang menjenguknya.
Menjelang siang, orang-orang yang datang kian ramai dan silih berganti memasuki rumah. Tidak saja masyarakat umum yang datang dari jauh –dari Pulau Kundur dan Pulau Moro—saya juga melihat cukup banyak para pejabat pemerintahan yang datang memberikan doa. Diantara mereka saya melihat ada Wakil Bupati Karimun, H. Aunur Rafiq, ada juga Pak Sekda H. Anwar Hasyim, Ketua DPRD Karimun, H. Raja Bakhtiar serta banyak pejabat lainnya. Saya tahu Pak Bupati memang sedang tidak berada di tempat. Dia tengah melaksanakan umroh ke Tanah Suci. Tapi Pak Wabup membisikkan salam Pak Bupati sambil meminta saya untuk tabah. Terima kasih, semoga Allah membalas keikhlasan untuk hadir di rumah saya. Hanya itu yang dapat ucapkan dalam hati saya.
Saya percaya, ramainya pelayat dari malam hingga siang dan menjelang mayatnya dibawa ke masjid hingga sampai ke pekuburan adalah karena izin Allah. Itu pertanda betapa luasnya silaturrohim almarhumah selama hidupnya. Kalau saja saya dapat mengatakan kepadanya betapa banyaknya orang memberikan doa dan kunjungan kepadanya tentu dia akan terharu. Dia benar-benar menerima balasan hubungan baiknya dengan banyak orang.
Dia memang mencontoh pelajaran dari almarhum ayahandanya, H. Abdul Mutolib. Orang tua kandungnya itu telah memberikan pelajaran berharga kepada anaknya, isteri saya. Bapaknya pernah berpesan, “Jika kita ingin orang ramai datang ketika kita meninggal dunia, selalulah datang dan melayat ke orang-orang yang lebih dulu meninggalkan kita”. Itu pesan yang menjadi pegangannya. Dan ketika ayahandanya itu wafat dalam usia 72 tahun pada 3 Februari 2002 silam, sungguh begitu tumpah-ruahnya manusia melayatnya. Sebagai pensiunan pegawai Pos dan Giro seungguhnya dia tidaklah orang yang terkenal dan populer. Namun sebagai masyarakat, dia sangat dikenal oleh warga.
Pesan itu benar-benar diamalkan oleh isteri saya selama ini. Setiap kali dia tahu ada orang meninggal, dia akan ikut bersama saya atau akan mengajak saya jika saya tidak tahu. Bahkan dalam empat tahun terakhir, dia selalu membawa mukena (telekung) untuk dapat ikut sholat jenazah bersama kapan dan dimanapun pada saat kami bertakziyah. Dia selalu akan ikut menyolatkan jenazah walaupun hanya dia sendiri kaum wanita yang akan ikut sholat.
Saat ini dia benar-benar menerima balasan kebaikannya selama ini walaupun dia masih berada di dunia. Tumpah-ruahnya manusia sejak malam tadi hingga pagi menjelang siang ini, itulah pertanda harmonisnya hubungan pergaulannya dengan orang lain. Saya sejatinya ikut haru dan gembira menyaksikan itu semua. Tapi perasaan sedih disebabkan begitu cepatnya dia pergi tidak mudah saya menerimanya. Dia pergi, walaupun dengan mudah dan tenang, tapi begitu berat dan dukanya buat saya. Sabar memang tidak semudah bicara. Mudah mengatakan tapi begitu berat dirasakan.
Satu hal yang terus-menerus menyenak perasaan saya adalah misteri penyebab kematiannya itu. Kesabaran saya benar-benar diuji oleh misteri itu. Saya begitu menyesal menngapa saya tidak mampu dan tidak berhasil menyelamatkan nyawanya. Saya merasa belum saatnya dia pergi. Anak saya membutuhkan dia sebagai figur ibu penyabar. Ibu yang gigih, sederhana, lembut dan menyenangkan. Umurnya juga masih sangat muda menurut perasaan saya. Tapi itu rupanya tidak menjadi alangan oleh Allah. Allah benar dengan segala kekuasaan-Nya.
Sebentar lagi dia akan dimandikan, segala persiapan sudah dilaksanakan. Namun misteri itu tetap saja menjadi tanda tanya saya. Oh Tuhan, seketat itukah rahasia kematian untuk setiap insan? Tidak adakah jawaban yang akan menenangkan hati saya secara medis: mengapa dia pergi begitu cepat? Hanya Dia jua yang akan mampu menjelaskannya. ***

Senin, 19 Maret 2012

Tak Bermau, UN Jujur Sulit Dituju


"DIMANA ada kemauan, di situ ada jalan." Pribahasa tua itu tidak pernah terasa tua. Kapan dan di mana saja kata-kata mutiara itu tetap terasa segar karena akan menjadi kunci penggairah awal motivasi dan inspirasi manusia menumbangkan kendala atau kesulitan yang lazim menerpa. Pribahasa itu terasa selalu ada dan up to date sepanjang masa.

Kita tahu, perinsip awal dalam kerja atau usaha adalah 'banyaknya kendala di awal memulai'. Terasa begitu sulitnya memulai cita-cita. Dan tidak selalu mudah menyelesaikannya. Tapi dengan perinsip mau,kemauan dan atau berkemauan sesungguhnya semua 'kesulitana' apapun bisa menjadi niscaya. Tak ada yang tak bisa kecuali karena tak ada asa. Dan dari asa kemauan akan terbuka.

Tidak mudah berubah dalam 'kekeliruan' barangkali merupakan salah satu bentuk berlakunya perinsip 'banyak kendala di awal memulai' di atas. Ada banyak kekeliruan yang senantiasa dilakukan tapi tidak mudah mengubah atau menghindarkan. Orang yang ingin berubah dari indisiplin menjadi disiplin, misalnya begitu sulitnya melakukan. Orang yang ingin berubah dari kebiasaan merokok ke tidak merokok, begitu amat susahnya membuktikan. Bahkan orang yang tak biasa sarapan pagi disuruh sarapan, pun bukan main beratnya untuk mengubahnya. Dan tentu banyak lagi contoh kesulitan yang senantiasa menerpa keinginan.

Tesis 'susah di tahap mula' ini juga terasa ada di bangku sekolah, khususnya --yang ingin saya ulas di sini--dalam realita pelaksanaan ujian keramat yang bernama UN (Ujian Nasional) yang setiap tahun dilaksanakan. Dalam pelaksanaan UN saban tahun, ada sebenarnya tuntutan perubahan (reformasi) dalam pelaksanaan: dari ujian penuh rekayasa ke ujian yang kredibel dan akuntabel. Semua orang ingin pelaksanaan UN itu berlangsung sesuai ketentuan. Tidak ada penyimpangan dan atau pelanggaran. Tapi tidak mudah untuk mewujudkannya.

Di satu sisi Undang-undang Sisdiknas mengamanahkan bahwa hasil UN adalah salah satu kriteria yang dapat dipakai untuk dasar seleksi melanjutkan pendidikan ke tingkat di atasnya. Dalam konteks peserta didik di SLTA, misalnya tentu saja maksudnya untuk masuk ke Perguruan Tinggi (PT). Tapi di sisi lain pihak PT-nya tidak bersedia. Alasannya UN di sekolah belum berjalan kredibel, akuntabel (jujur). Kecurangan masih berjalan, begitu alasan penolakan oleh PT.

Memandang begitu susahnya melaksanakan UN (UJian Nasional) tanpa kecurangan alias ujian yang jujur dari kebiasaan menyelenggarakan UN penuh kecurangan, bisa jadi ini merupakan salah satu contoh lain dari perinsip 'banyaknya kendala di awal memulai' usaha di atas. Sebagai guru, di hati kecil kita pasti berkeinginan terwujudnya penyelenggaraan UN yang kredibel, jujur dan efektif seperti yang diatur dalam POS (Prosedur Operasi Standar) UN setiap tahun. Tapi seolah tidak bisa karena selalu ada godaan untuk menyimpangkan aturan yang sudah ditetapkan dalam POS-UN itu.

Pertanyaan sederhananya, apakah konsep peribahasa di atas tidak dapat diterapkan untuk mengatasinya? Sebagai guru yang sudah sangat lama berhadapan dengan siswa (peserta didik) terasa sekali betapa mewujudkan ujian secara jujur itu tidaklah mudah. Setiap tahun datangnya musim UN setiap itu pula keinginan dan target meluluskan peserta didik dengan cara-cara tidak elegant (baca: kecurangan) dilakukan. Itu yang kita dengar sinyalemennya. Bahkan ada beritanya di media masa. Itu jualah yang menghadang usaha perbaikan penyelenggaraan UN yang jujur itu.

Dari tahun ke tahun sejak UN dilaksanakan tahun 1985/ 1986 silam (waktu itu masih bernama EBTANAS)  selalu ada berita kecurangan UN. Awal pelaksanaan EBTANAS itu memang tidak terlalu terekspos berita kecurangannya. Tapi beberapa tahun belakangan, khususnya di era reformasi, berita kecurangan UN sudah begitu banyak menghiasi koran, majalah dan televisi dan media lain.

Ada Kepala Sekolah yang sengaja membuat  panitia 'tim sukses' yang bertugas membuka soal UN dan membuat kunci untuk seterusnya mengirimkan ke ruang-ruang ujian. Tugas yang dibebankan Kepala Sekolah adalah memastikan peserta lulus dalam UN, apapun caranya. Sungguh memalukan.
Ada juga guru yang karena takut kepada Kepala Sekolah diam-diam menunjukkan kunci jawaban UN kepada siswa. Khawatir dalam rapat Dewan Guru akan dipersalahkan atas ketidaklulusan siswa maka sebagian guru kelas akhir (XII, IX dan VI) berusaha dengan berbagai cara agar siswanya lulus dalam ujian akhir itu. Sungguh itu salah jalan.

Selain peran jelek Kepala Sekolah dan guru, ada juga pengawas di ruang UN yang melakukan kecurangan. Bentuknya adalah dengan membiarkan peserta ujian saling mencontek antara satu dengan lainnya. Siswa yang karena solider dengan teman, terkadang saling berbagi jawaban dalam ujian. Pengawas membiarkan.
Konon kebiasaan itu tidak akan pernah bisa diatasi. Kebiasaan mencontek sudah menjadi darah-daging para siswa di negeri ini. Guru-guru juga tidak mampu memaksakan pelaksanaan peraturan yang benar. Bahkan Kepala Sekolah pun terdengar ada yang karena keliru memahami keinginan Kepala Dinas Pendidikannya, melakukan tindakan tak terpuji mencurangi pelaksanaan UN di sekolahnya.

Bahwa Kepala Dinas dan atau Bupati/ Wali Kota berharap agar siswa sukses dan lulus dengan nilai terbaik dalam UN, itu memang demikian adanya. Tapi Kepala Sekolah tidak harus menyelewengkan pelaksanaan UN untuk memenuhi target itu. Itulah kekeliruannya. Dan salah kaprah sekolah ini masih terdengar terus setiap pelaksanaan UN berlangsung meski tak mudah mencari bukti. Sepertinya sulit sekali untuk menuju pelaksanaan UN yang jujur.

Sejatinya tidaklah akan sulit untuk melaksanakan UN secara jujur (kredibel dan akuntabel) asal ada kemauan (willing) semua pihak untuk mengubah kekeliruan itu. Di satu sisi, sekolah harus memahami betul bahwa sebagai investasi yang mahal, UN mestinya dikelola dengan baik. Mahalnya investasi UN dapat dilihat dari biaya-biaya yang akan keluar mulai dari menyusun soal, mencetak sampai ke mendistribusikannya ke seantero daerah.

Sementara kejujuran adalah bagaikan bibit unggul yang akan bermanfaat untuk investasi mahal itu. Jadi, investasi mahal disertai bibit unggul akan melahirkan kelak pendidikan bermutu dan berprestasi. Dan meskipun Kemdikbud telah menjadikan UN jujur dan berprestasi sebagai integritas kinerjanya, itu tidak akan berguna kalau sekolah sebagai satuan pelaksana UN tidak melaksanakannya dengan baik dan benar. Jutaan siswa yang akan bertarung di UN nanti akan sia-sia adanya. Maka kunci dari kesulitan dalam perubahan itu hanyalah kemauan.

Kamis, 08 Maret 2012

BAHTERA CINTA BERLAYAR SUDAH

Kisah ke-2 Perginya Isteri Teladan:


SAYA masih tertegun. Serasa tidak percaya apa yang baru saja diucapkan perawat tadi. “Bapak sabar ya, Pak.” Kalimat itu bagaikan petir dalam sunyi yang menghancurkan segala harapan saya. Saya sesungguhnya berusaha mencoba sabar. Tapi tidak mudah. Ternyata menyuruh dan mengajarkan orang-orang untuk bersabar ketika memberikan nasehat kepada seseorang, tidak pula semudah itu melaksanakannya pada diri sendiri. Saya benar-benar tidak bisa mempercayai kalau isteri saya telah pergi untuk selama-lamanya. Dia tidak akan pernah kembali lagi. Bahtera cinta yang sudah ada kini berlayar sudah mengikuti garis yang ditetapkan-Nya.
Anak-anak saya –Kiky dan Opy— yang kebetulan mereka berdua saja bersama saya malam itu, masih tersedu sambil memanggil mamanya. Satu lagi anak saya, Ery, di Tanjungpinang menyelesaikan kuliahnya di UMRAH. Dia pasti juga sedang galau saat ini. Beberapa saat sebelum ke rumah sakit tadi, dia sempat diberi tahu kalau mamanya dalam keadaan sakit. Tapi belum sempat diberi tahu lebih detail sakitnya karena buru-buru harus ke rumah sakit. HP (Hand Phone) yang dipakai untuk menghubunginya dilempar begitu saja ke atas kasur karena kami bertiga harus segera melarikan mamanya ke rumah sakit.
Dalam kebingungan seperti itu saya berusaha ingin menelpon orang-orang yang seharusnya saya telpon untuk menyampaikan nasib tragis isteri saya. Aduh, HP saya ternyata tidak ada di saku saya. Saya baru sadar kalau HP itu ternyata tertinggal di rumah karena tadi memang terburu-buru membawanya ke rumah sakit. Saya mau minta tolong ke siapa, saya juga tidak tahu. Saya bingung dan kalut. Cobaan ini benar-benar berat rasanya.
Akhirnya saya melihat ada salah seorang guru SMA Negeri 3 Karimun, M. Ridwan menghampiri saya. Pak Iwan, begitu saya memanggil guru olahraga itu juga dalam keadaan panik menyaksikan saya yang seperti orang linglung. Dia bertanya, “Kenapa Ibu, Pak?”
Saya menjelaskan, “Ibu sudah tidak ada, Wan. Ibu sudah meninggalkan kita, Wan.” Saya menangis tersedu menyampaikan kalimat-kalimat itu. Duka saya terus tertumpah. Saya benar-benar merasa hancur. Tak ada lagi kata yang dapat saya ucapkan.
Saya mendengar Pak Iwan spontan terperanjat dan seperti orang melolong setelah mendengar saya. Dia ikut bergegas melihat isteri saya yang sudah terbaring diam di atas meja dorong itu. Dia pasti tak kan percaya kalau janazah yang ada di depan saya itu adalah isteri saya yang pada hari Jumat malam (belum cukup 24 jam berlalu) membezuk isterinya di RSUD itu. Pasti dia tidak akan yakin itu.
Saya dan isteri saya memang baru saja dari rumah sakit itu malam sebelumnya. Jumat petang menjelang malam –sepulang saya dari Singapura-- itu saya mendapat SMS dari Pak Iwan. Dia minta izin untuk tidak mengajar besok, hari Sabtu. Katanya, isterinya masuk rumah sakit karena gangguan pada jantung. Ada di lantai VI RSUD, begitu dia memberi informasi via SMS itu ke HP saya. Pak Iwan memang salah seorang guru SMA Negeri 3 Karimun, sekolah yang saya pimpin sejak awal tahun 2008 lalu. Untuk itu dia memang harus minta izin jika tidak bisa melaksanakan tugas. Itu kewajiban seorang guru.
Sore Jumat, ketika saya beritahu kalau isteri Pak Iwan sedang di rumah sakit, isteri saya yang begitu sehat wal’afiyat langsung mengingatkan dan mengajak saya melihatnya malam itu juga. Dia selalu tidak mau menunda-nunda menjenguk orang sakit. Makanya kami pergi malam itu ke rumah sakit: membezuk isteri Pak Iwan. Masih terngiang di telinga saya bagaimana isteri saya bergurau dengan isteri Pak Iwan yang tengah terbaring dengan tali infus di tangan. “Awak terlalu capek tuh, Tuhan marah dan disuruh istirahat je,” kata isteri saya dengan nada bergurau. Itulah cara dia barangkali menghibur sehabatnya yang tengah sakit. Ibu Pak Iwan adalah anggota Dharmawanita SMA 3 Karimun yang isteri saya adalah ketuanya.
Selama ini memang sudah menjadi kebiasaan isteri saya. Kalau dia mendengar ada teman-temannya di rumah sakit, atau sedang sakit di rumah, dia pasti akan mengajak saya untuk melihatnya. Begitu pula jika ada berita kematian, dia akan meninggalkan pekerjaan lain atau mengatur pekerjaannya untuk dapat melihat orang-orang yang sudah menghadap Tuhan itu. Kami selalu berdua pergi menjenguk orang-orang sakit atau orang-orang yang telah berpulang ke rahmatullah. Begitu pula untuk pergi menyelesaikan berbagai hal kami juga selalu berdua.
Orang-orang di Karimun, kota tempat kami bermastautin dalam sembilan tahun terakhir bahkan menyebut kami,” Kalau ada Pak Rasyid, pasti ada Ibu.” Saya tidak keberatan dicap dengan kalimat seperti itu. Saya mencintai dia. Dan selalu berduaan, adalah salah satu cara oleh saya untuk membuktikan saling cinta itu. Dialah yang mengisi lahir dan batin saya selama ini.  Saya bangga disebuat selalu berduaan kemana-mana. Bahkan ketika saya memotong rambut pun dia ikut dengan saya. Dia akan duduk menanti saya di tempat cukur rambut itu.
Untuk hal ini saya harus jujur bahwa saya dan isteri saya memang senantiasa pergi berdua. Termasuk untuk bepergian lainnya kami terus berdua. Pergi ke undangan pesta pernikahan, kami berdua. Berjalan sore atau kapan saja sekedar ‘makan angin’ kami tetap berdua. Bepergian ke luar –daerah-- Karimun, jika bukan urusan dinas –karena tugas—dia juga akan saya bawa bersama. Ke Malaysia, ke Batam, ke Pekanbaru atau ke mana saja; jika sekedar untuk berjalan-jalan dia pasti akan bersama saya. Tidak akan pernah saya tinggalkan dia. Begitulah cara kami membangun cinta kami berdua. Dari awal membina rumah tangga begitulah adanya.
Bahkan ketika kami berkesempatan menunaikan ibadah haji pada musim haji 1427 H (Tahun Masehi 2006/ 2007) kami merasakan betul berbahagianya hidup berdua. Di Madinah, awal mula sampai di Tanah Suci, ketika kloter (kelompok terbang) haji kami melaksanakan sholat arbain selama delapan hari, Selasa (12/ 12/ 2006) sampai Selasa (19/ 12/ 2006) tidak pernah satu hari pun kami berpisah dari rumah ke masjid atau sebaliknya. Hanya karena sholat harus berpisah di masjid Nabawi itu barulah kami berpisah selama dalam masjid. Dan sesudah sholat atau ketika melaksanakan ziarah ke raudhoh, ke maqom baqi ‘ atau ke tempat-tempat bersejarah lainnya kami tetap berdua bersama kawan-kawan lain.
Begitu pula ketika berada di Tanah Suci Mekkah kurang lebih satu bulan (20/12/2006 hingga 17/01/2007) menanti datangnya wukuf dan pasca wukuf di Arafah. Selama musim haji, di Masjid Al-Haram jamaah laki-laki dan perempuan memang tidak ada hijab (pembatas) saf seperti di Nabawi. Maka saya dan isteri bukan hanya di sepanjang jalan menuju masjid atau menuju rumah pemondokan saja kami selalu tidak terpisahkan, di dalam masjid pun kami mencari tempat yang tidak terlalu jauh. Saya akan mencari saf yang sama dengan saf dia. Dia akan mengambil ujung saf sebelah kanan wanita sementara saya mengambil ujung saf di sebelah kiri laki-laki. Dengan demikian kami akan tetap berdekatan (dalam satu shaf yang sama) walaupun dalam masjid sekalipun. Itu pengalaman manis yang tidak akan pernah terlupakan dan tidak akan pernah juga akan terulang lagi bersamanya.
Berjalan dari masjid ke rumah pemondokan bahkan kami berpegangan tangan. Terkadang kami diejek –bergurau-- oleh sesama jamaah satu regu karena seolah-olah tidak pernah lepasnya tangan kami. Ah jika itu saya bayangkan, betapa nikmat dan berbahagianya hidup rukun dalam rumah tangga. Dia benar-benar isteri sejati yang pantas untuk diteladani.
Saya sesungguhnya tidak ingin berlebihan memberi predikat teladan kepada isteri saya, Hj. Rajimawati binti Abdul Mutolib, anak perempuan terbungsu pasangan H. Abdul Mutolib dan Hj. Ramnah. Tapi itulah yang tepat harus saya berikan untuknya. Seperempat abad kami bersama, saya tahu dan mengerti betul karakter dan jiwanya. Saya merasakan langsung bagaimana dia menajalankan peran seorang isteri, ibu dari anak-anak saya. Begitu pula perannya di luar rumah sebagai masyarakat atau sebagai anggota Dharmawanita dan PKK.
Dalam 24 tahun sejak anak pertama kami, Rizky Febrinna (Kiky) lahir pada 3 Februari 1987 di Tanjungbatu Kundur dan anak saya yang kedua, Fahry Errizik (Ery) juga lahir di Tanjungbatu pada 29 November1988 hingga anak saya yang ketiga Syarfi Razky (Opy) yang lahir di Moro pada 20 Oktober 1994 dia tidak pernah mengeluh dalam mengasuh, merawat dan memelihara mereka. Dia begitu tabah dan cekatan mengurus anak-anak saya. Hanya sekali-sekali saja saya harus dan dapat membantunya. Selebihnya dialah yang mengasuh, membesarkan dan mendidiknya menjelang sampai waktunya masuk TK atau masuk sekolah.
Sebelum kami punya anak, pada awal saya dipercaya menjadi Wakil Kepala Sekolah di SMA Negeri Tanjungbatu Kundur –pada tahun 1986-- yang memerlukan waktu saya hampir seharian di sekolah dia tetap tabah sendirian di rumah. Apalagi ketika sekolah ini membuka kelas siang (double shiff) karena tidak cukup ruang kelas dan saya ditunjuk menjadi Wakil Kepala Sekolah Urusan Kurikulum, saya benar-benar tenggelam seharian di sekolah. Saya hanya berkesempatan pulang siang sebentar untuk makan. Selebihnya saya harus ke sekolah lagi. Saya tahu, waktu itu sesungguhnya dia sangat memerlukan teman karena sudah dalam keadaan hamil anak saya yang pertama.
Hanya dua bulan menjelang kami mempunyai anak pertama di awal 1987 itu, dia hanya dan dapat ditemani emaknya, Ibu Ramnah, mertua saya. Dia datang ke Tanjungbatu dari Pekanbaru karena isteri saya itu akan melahirkan. Isteri saya tidak mau pulang ke Pekanbaru, ke tempat kedua orang tuanya untuk melahirkan. Dia berperinsip, “Di mana ada suami di situlah melahirkan.” Sungguh perinsip yang sangat menghargai utuhnya rumah tangga. Padahal waktu itu, beberapa –guru-- teman saya yang dari Pekanbaru, jika akan melahirkan, dia akan kembali ke Pekanbaru untuk melahirkan. Tapi isteri saya tetap di Tanjungbatu, tempat saya bertugas. Ketiga anak kami memang lahir di mana saya bertugas. Dia memang tidak mau melahirkan ke Pekanbaru, misalnya, tempat kedua orang tuanya berada hnaya untuk sekedar menyenangkan diri sendiri.
Kesan lain yang tidak mungkin saya lupakan betapa berat dan tingginya tanggung jawab isteri saya ini adalah ketika anak-anak saya (waktu itu baru dua orang) sudah mendekati masa-masa sekolah. Kiky yang tua sudah minta sekolah meskipun umurnya baru 4 tahun waktu itu. Melihat temannya –tinggal-- di sebelah rumah kami pergi ke sekolah tiap pagi, dia pun minta sekolah juga. Setiap pagi sehabis mandi, Kiky akan berdiri dengan pakaian yang sudah rapi melihat teman bermainnya pergi sekolah. Itulah sebabnya dia juga minta sekolah.
Akhirnya kami sepakat mengantarkannya ke TK Pertiwi yang berlokasi di sekitar belakang Kantor Pos Tanjungbatu. Jarak rumah kami –di Tanjungsari-- ke sekolah itu cukup jauh. Tidak bisa ditempuh berjalan kaki. Saya tidak ada waktu untuk mengantar anak saya ke TK itu karena pagi-pagi saya biasanya sudah ke sekolah. Saya wajib ke sekolah lebih awal karena tanggung jawab tugas yang diamanahkan Kepala Sekolah, Pak Supardjo Suk, BA waktu itu. Jadi, isteri saya itulah yang harus mengurus kedua anak-anak saya pergi dan pulang sekolah.
Saya ingat betul, dialah yang sambil berbelanja pergi mengantar dan menjemput anak saya ke TK. Yang bungsu, Ery didudukkan di bagian depan –keranjang besi-- sepeda sanki yang saya beli di rombengan (Sawang) sementara kakaknya Kiky duduk di belakang. Sepeda itulah yang ada dan didayung isteri saya setiap pagi mengantar dan menjemput anak saya ke sekolah. Ah, sayang… kau memang wanita sejati yang sangat mengerti suami yang masih susah hidupnya. Tidak berlebihan disebut isteri teladan.
Tapi Sabtu malam ini dia sudah tiada.  Dia pergi tanpa meninggalkan pesan apapun kepada saya. Hanya kebahagiaan berumah tangga sajalah yang saya rasakan bersamanya menjelang kejadian ini. Bahkan Jumat malam itu dia pun masih menunaikan tugasnya sebagai isteri sejati melayani suami. Adakah kebahagiaan itu sebagai tanda-tanda akan datangnya ujian ini? Hanya Allah yang Maha Tahu. Yang saya tahu, Sabtu kelabu itu telah menjadi garis batas terenggutnya nyawa isteri saya dari dekapan saya. Saya masih tertegun memandangnya terbaring kaku di meja itu.
Saya minta Pak Iwan menyampaikan berita duka ini kepada siapa saja. HP saya masih dijemput anak saya ketika itu. Bersama anak Pak Iwan (menggunakan motor) dia pulang ke rumah untuk menjemput HP. Karena panik dan ingin cepat ke rumah sakit (saat dia dia tiba-tiba sesak dan susah bernafas sehabis sholat magrib) itu dua HP saya dan satu HP isteri saya tidak sempat terbawa.
Saya melihat Pak Iwan sangat sedih setiap menelpon seseorang, menyampaikan berita duka ini. Saya ingatkan Pak Iwan untuk menyampaikan terlebih dahulu ke guru-guru SMA Negeri 3 Karimun atau kepada siapa saja yang dia ingat. Kata Pak Iawan, semua orang yang dia hubungi seolah tidak mau percaya berita kematian itu. Saya percaya kalau orang-orang itu memang tidak akan mudah percaya isteri saya telah tiada. Dua-tiga hari lalu, malam semalam, bahkan sorenya ketika saya naik mobil pulang dari dokter Awang Lim, orang masih menganggap isteri saya sehat-sehat saja di samping saya duduk menyetir mobil.
Setiap orang yang diberi tahu oleh Pak Iwan, mereka terkejut. Mereka seperti tidak percaya dengan berita yang disampaikan. Berulang-ulang diyakinkan barulah mereka mau percaya. Bahkan ada yang langsung datang ke RSUD terlebih dahulu, baru mau percaya kalau isteri saya telah tiada. Begitulah kejadian itu begitu mendadak datangnya. Saya sendiri serasa bermimpi. Pikiran saya serasa melayang entah kemana. Saya tidak menduga dan tidak bisa percaya. Dia sama sekali tidak memberi tanda-tanda kalau dia akan meninggalkan saya secepat itu untuk selamanya.
Begitu mendadaknya sampai semua orang seperti tidak bisa mempercayainya. Ibu Zaita, tetangga sebelah rumah saya yang juga sama sekali tidak tahu keadaan isteri saya, mendadak meraung-raung di ruang UGD itu sejurus dia sampai di rumah sakit. Dia terkejut diberi tahu oleh anak saya Ery (Fahry Errizik) lewat telpon dari Tanjungpinang. Ery, beberapa menit sebelumnya memang diberitahu oleh anak saya Opy menggunakan HP saya kalau mamanya mendadak sakit sekitar pukul 19.00 itu. Namun sebelum sempat dijelaskan keadaan mama secara detail HP diputus karena kami harus melarikan mamanya itu ke rumah sakit.
Jadi dalam penasarannya itu dia mencoba menghubungi Ibu Zaita tentang kondisi mamanya. Dan Ibu Zaita sendiri yang sama sekali tidak tahu mencoba menelpon ke HP saya dan isteri saya juga tidak ada jawaban.  Akhirnya dia pergi ke rumah sakit dan menemukan isteri saya sudah terbaring diam. Maka pecahlah tangisnya yang begitu menyedihkan. Dia seperti meraung-raung sambil memukul-mukul punggung saya. “Bapak, ngapa Bapak tak beri tahu…Bapak, ngapa Bapak tak beritahu… Mengapa Ibu…mengapa Ibu,” berulang-ulang dia bertanaya sambil memeluk dan memukul-mukul punggung saya.
Dia terus memeluk saya sambil menangis dan tetap memukul saya. Saya tidak bisa berbuat dan berkata apa-apa lagi. Lidah saya seperti terkunci. Pikiran saya serasa begitu kosong. “Mimpikah saya?”. Saya tidak bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan Ibu Zaita itu. Dia sangat shok dan terpukul tidak akan bisa lagi melihat orang yang selama ini sudah dianggapnya sebagai ibunya. Dia bukan saja tinggal berdampingan rumah tapi keluarganya dan keluarga saya sudah serasa satu keluarga.
Dia tidak pernah tahu dan tidak pernah membayangkan kisah tragis itu. Bahkan magrib itu dia masih pergi bersama suami. Dia memang tidak diberi tahu kalau sore tadi sebenarnya isteri saya sudah mengalami sakit mendadak yang seharusnya dia tahu. Tapi itu sudah berlalu, dia sama sekali tidak memperoleh informasi sama sekali. Dan ketika kami buru-buru dan memekik memberi tahunya, dia tidak ada di rumah. Sampai akhirnya dia hanya tahu, isteri saya telah tiada.
Hampir setengah jam mayat isteri saya di rumah sakit sejak perawat memberi penjelasan tadi. Setelah diberi suratketerangan, sebuah ambulance telah menunggu di halaman belakang RSUD. Saya, anak saya yang tua dan Ibu Zaita ikut bersama janazah isteri saya. Kami bersama di dalam ambulance itu akan menuju ke rumah tempat tinggal saya, tempat tinggal isteri saya dan anak-anak saya sejak tujuh tahun lalu.***
 
Copyright © 2016 koncopelangkin.com Shared By by NARNO, S.KOM 081372242221.