BREAKING NEWS

Minggu, 26 Februari 2012

BAHTERA CINTA BERLAYAR SUDAH

Kisah Nyata Kepergian Isteri Tercinta
Kisah Pertama: Sore Sabtu Kelabu

TIDAK pernah ada tanda-tanda yang dapat saya tafsirkan bahwa pada hari Sabtu (16/04/11) itu, sekitar pukul 19.15 WIB akan saya hadapi ujian maha berat seumur hidup saya, 54 tahun: berpulangnya ke rahmatullah isteri tercinta yang teramat disayang, isteri teladan, Hj. Rajimawati binti H. Abdul Mutalib. Sampai pukul 15.15 sore Sabtu itu, yang saya tahu, dia tidak ada keluhan sakit yang mengkhawatirkan sedikitpun. Tidak ada keluhan sakit apapun yang dia sampaikan kepada saya. Selama ini juga tidak ada riwayat sakit yang membuatnya harus dirawat khusus kecuali ketika melahirkan anak-anak saya. Ah, sungguh berat cobaan ini. Tidak pernah saya bayangkan.
Ssesungguhnya saya tidak tega menuliskan kisah tragis, petang menjelang malam itu. Hati dan seluruh tubuh saya terasa pedih dan perih setiap kali mengingat dan memikirkannya. Sudah enam hari –ketika  coretan awal tulisan ini dimulai-- saya berusaha membungkus duka ini dengan sekuat hati dan jiwa. Saya masih serasa bermimpi. Saya benar-benar sedih menerimanya. Rasanya hancur segala pertahanan jiwa dan semangat yang terbangun selama ini.
Tapi akhirnya saya tulis juga di sini. Dengan linangan air mata dan isak-sedu tangis yang tertahan, saya berusaha merangkai kata. Ada banyak kisah teladan yang semoga ada gunanya untuk siapa saja. Itulah dorongan utama, menuntun pikiran dan tangan saya menuliskannya. Dia adalah figur teladan anak-anak saya; termasuk buat saya. Semoga juga bisa buat siapa saja. Dia adalah sahabat, saudara, dan tetangga bagi siapa saja: jauh ataupun dekat.
Dalam 25 (dua puluh lima) tahun pernikahan kami, begitu banyak nilai yang dapat saya petik dari wanita sederhana ini. Tapi satu hal yang perlu saya katakan, dia adalah wanita tegar yang teramat patuh buat saya. Ketaatannya tidak berbelah bagi. Sementara ketegarannya sangat saya kagumi. Ketegaran itu tidak hanya pada mentalnya yang kuat dan tenang hidup bersama saya yang hanya seorang guru dengan penghasilan bermula dari Rp 28.000 (dua puluh delapan ribu rupiah) pada tahun 1985, awal saya menjadi pegawai negeri. Tapi ketegarannya juga tampak pada pisiknya yang senantiasa sehat dan kuat. Tidak pernah ada keluhan dalam menyelesaikan tugas dan tanggung jawab mengurus rumah tangga. Dan dalam usia begitu muda, berpisah jauh dari kedua orang tua. Orang tua tinggal di Pekanbaru sementara dia bersama saya yang bertugas di rantau, di sebuah pulau nun jauh dari kota Provinsi Riau, Tanjungbatu Kundur.
Sesungguhnya dia bekerja penuh waktu demi saya dan anak-anak kami. Kami tidak mempunyai pembantu rumah tangga mendampinginya mengurus kerja-kerja rumah tangga. Pada awal membangun bahtera  rumah tangga jelas kami tidak sanggup membayar pembantu. Itu adalah masa-masa sulit dan menyedihkan dalam ekonomi seorang guru. Waktu itu, guru hanyalah profesi ‘pelarian’ bagi setiap orang di negeri ini. Dengan gaji dan penghasilan sangat rendah dibandingkan profesi lain, menjadi guru memang bukan pilihan saat itu. Ah, hidup rumah tangga kami memang teramat sulit waktu itu. Segalanya harus dikerjakan sendiri oleh seorang isteri seperti dia. Sungguh tidak sebanding, usianya yang teramat muda dengan tanggung jawab keluarga yang begitu berat. Kesulitan ekonomi membuat segalanya harus dikerjakan sendiri.
Dan pada saat kehidupan sudah sedikit mapan pun, dia tetap memutuskan untuk tidak didampingi pembantu dalam tugas-tugas rumah tangga. Dia adalah ibu rumah tangga yang utuh. Kebiasaan dalam waktu lama mengurus suami dan anak-anak secara mandiri telah menempa pisik dan mentalnya untuk tidak suka bergantung kepada orang lain. Dia mampu mengatur semua pekerjaan yang sesungguhnya sangat berat buat seorang wanita. Sepenuhnya dia ibu rumah tangga yang utuh.
Bahkan untuk mencuci pakaian pun dia tidak tergantung kepada mesin cuci. Dia lebih yakin kebersihan cuciannya akan lebih baik dikerjakan dengan tangan sendiri dari pada menggunakan mesin cuci. Itulah perinsipnya yang terkadang mengherankan. Sampai akhir hayatnya, dia bertahan dengan perinsip itu. Padahal dia pasti mampu membeli mesin cuci tersebut.  Dia adalah isteri sederhana. Kami memang sangat sederhana dan tertempa hidup dalam kesederhanaan. Apalagi jika diingat hidup susah di awal berumah tangga.
Di awal kami bersama –tahun 1986-1990 di Tanjungbatu Kundur-- itu bahkan dia 'nyambi' membuat kue --bakwan-- dan membuat es bungkus untuk penambah penghasilan saya yang teramat kecil. Biar begitu badannya tetap sehat. Kami tetap bisa ikut berbagai kegiatan olahraga terutama senam dan berjalan minggu pagi. Itulah yang saya tahu tentang sangat sehatnya pisik dia.
Pernah suatu kali dia harus dirawat di rumah sakit, diinfus dan diinapkan di Puskesmas Tanjungbatu. Itulah satu-satunya dia menderita sakit yang harus dirawat di rumah sakit. Saat itu baru saja kami dikaruniai anak kedua. Dalam usia kurang lebih satu tahun anak kedua kami, dia terkena penyakit mag. Menurut dokter, magnya agak berat dan harus dirawat di rumah sakit. Hanya itu yang saya tahu dia menderita sakit. Kejadian tahun 1989 itu tidak pernah lagi dialaminya sampai puluhan tahun berikutnya.
Sampai datangnya musibah sore Sabtu itu, dia tetap sehat-sehat saja. Saya tidak pernah menduga, keluhan sakit ulu hatinya yang membuatnya juga muntah menjelang waktu Asar hari Sabtu itu adalah sakit yang memisahkan saya dengannya malam menjelang Isya’. Keluhan sore itu pun sudah diperiksa dan diatasi oleh seorang dokter yang sudah menjadi langganan kami. Justeru hasil diagnosa dokter itu jualah yang membuat saya sama sekali tidak menduga kejadian malam, akhir dari kebersamaan saya dan dia.
Dalam 16 tahun terakhir sejak dia melahirkan anak saya yang bungsu, ketika kami sudah di Moro karena saya dimutasi ke SMA Negeri 1 Moro rasanya dan seingat saya tidak pernah dia sakit yang mengharuskan dia dirawat di rumah sakit. Jika terserang filek atau flu, itu tidaklah terlalu lama memulihkannya. Tidak selalu harus ke dokter untuk menyembuhkannya. Hanya pada saat melahirkan anak terakhir itulah dia mengalami trauma sakit yang amat berat. Saya tahu kalau melahirkan anak kami yang ketiga itu memang begitu berat perjuangan yang dialuinya. Sampai dia mengatakan kalau dia sudah serasa tidak hidup lagi setelah merlahirkan itu.
Itulah terakhir dia mengalami penderitaan berat. Sakit melahirkan yang dialaminya sebanyak tiga kali, peristiwa kelahiran 1994 itu adalah yang teramat berat dia rasakan. Selepas peristiwa itu sampai datangnya kejadian sore Sabtu kelabu itu, dia sehat-sehat saja. Saya serasa tertipu oleh kejadian sore yang ternyata membawa ajalnya.
Sore menjelang Asar Sabtu itu, saya kebetulan sedang tidak di rumah karena kebetulan pergi mencuci mobil mengingat kami sudah berjanji akan keluar Sabtu Malam (malam Minggu) itu, tiba-tiba saja anak saya Kiky menelpon saya. Saya masih di simpang Lampu Merah Sungai Lakam saat dia menelpon itu. Katanya, “Mama tiba-tiba saja seperti kesulitan bernafas, Pa. Cepatlah pulang!”. Saat itu kurang lebih pukul tiga sore. Menurut anak saya yang sulung, yang menyaksikan langsung, mamanya tiba-tiba saja kesulitan bernafas tanpa sebab yang dipahami anak saya. Sebelumnya --hari itu-- dia hanya mengeluh penat karena katanya dia habis mencuci pakaian pagi harinya.
Bagi saya, penat seperti itu sudah selalu dia rasakan dan selalu pula dia ceritakan kepada saya. Jika dia minta urut kepada anak-anaknya atau kepada saya, toh itu akan pulih kembali. Tidak hanya karena mencuci pakaian tapi bila dia berlebihan mengurus rumah (menyapu halaman atau menyiangi rumput di halaman) dia suka mengatakan penat dan minta pijit kepada saya. Dan itu adalah hal biasa yang justeru kami rasakan sebagai bagian kebahagiaan kami selama ini. Kami saling mengurut/ memijit badan atau memijit kaki jika masing-masing merasa penat. Bahkan dalam manjanya, dia selalu minta digosok-gosok punggungnya hingga dia tertidur di samping saya. Hampir saban malam, sambil bergurau dia minta digosokkan punggungnya. Kalau sudah tertidur, terkadang saya duduk lagi untuk bekerja: menulis, main internet atau tugas-tugas lain yang dapat saya kerjakan menjelang mata saya mengantuk.
Tapi sore itu dia benar-benar seperti menderita tiba-tiba. Setelah terus-menerus dipijit anak saya punggungnya dan diberi minuman bergula yang hangat, akhirnya dia muntah. Ketika saya sampai di rumah dan menyaksikan langsung, saya melihat dia sangat lemah. Saya bingung karena tadi saya tinggalkan tidak ada tanda-tanda dia menderita sakit. Kini dia tampak lemah. Badannya berkeringat dingin.
Saya berusaha tenang. Saya duduk bersimpuh berhadapan dengannya. Saya memandang wajahnya. Dia memang seperti menderita sekali. Saya lap keringatnya dengan kain setengah basah sambil membersihkan mukanya yang juga berkeringat. Saya merasa dia sedikit agak tenang saat itu. Kata anak saya, mamanya baru saja bisa bernafas dengan tenang setelah muntahnya itu keluar begitu banyak.
Tadinya sungguh mengkhawatirkan, kata anak saya. Bahkan menurut anak saya dia seperti menyaksikan orang berjuang dalam sakratulmaut. Anak saya memang menangis pada saat dia menelpon saya, sebelum saya sampai di rumah dua puluh menit kemudian. Saya memberinya air hangat suam-suam. Dia minum hanya sedikit. Dalam pikiran saya, dia harus segera saya bawa berobat.
Dalam kegalauan yang saya coba untuk tetap tenang, saya tanya apakah dia sudah sholat a\Asar. “Mama sudah sholat?” Dia jawab, “Belum.” Suaranya tidak terlalu kuat sambil menggelengkan kepala.
Sehabis sedikit tenang itu, saya tanya, apakah dia bisa sholat Asar karena saya lihat jam dinding di ruang tangah itu sudah pukul 15.45. Dia jawab, bisa dengan menganggukan kepala. Bahkan dia langsung berdiri. Lalu saya ajak dia ke kamar dengan memapahnya. Jalannya memang terasa lemah namun masih lancar melangkah sendiri. Dia bisa berjalan sendiri. Di kamar dia sholat setelah berwudhuk. Sungguh saya merasa sedikit tenang melihat dia bisa sholat walaupun saya suruh dia sholat dengan cara duduk. Islam memang membolehkan orang sakit melaksanakan sholat dengan duduk jika tidak mampu berdiri. Ada sedikit rasa lega di hati saya ketika saya menyaksikannya sholat sebagaimana biasa.
Waktu itu dia saya suruh sholat duluan. Saya sengaja tidak sholat bersama karena khawatir terjadi apa-apa. Apalagi sebelumnya dia masih mau sholat berdiri. Saya takut jika dia sholat berdiri, dia bisa terjatuh. Itu bisa menimbulkan masalah lain. Sehabis dia sholat baru saya melaksanakan pula sholat sendiri. Sholat saya mungkin tidak begitu khusyu’ karena ingin cepat membawanya berobat.
Selama saya sholat, dia menunggu sambil merebahkan badannya di atas kasur. Dan sehabis sholat dia minta ambilkan pakaian dari dalam lemari. Dia minta ganti bajunya dengan daster kuning.
Selanjutnya dia saya ajak ke rumah sakit. Maksud saya akan membawa ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Karimun. Hanya karena sore, dia minta ke dokter praktek saja. Lalu saya bawa ke tempat praktek Dokter Awang Lim, seorang dokter senior yang cukup terkenal di Karimun. Dokter 'keturunan' ini juga sudah menjadi langganan kami berobat kalau mengalami persoalan kesehatan yang agak berat selama ini. Sekali-sekali juga ke dokter lain seperti ke Dokter Zufri Taufiq.
Saya laporkan ke Dokter Awang Lim kronologis penderitaan isteri saya seperti diceritakan anak saya. Saya khawatir dia sakit jantung karena dia selalu menekan bagian dadanya, kata anak saya. Saya juga katakan kalau dia habis muntah yang cukup banyak sebelum datang ke rumah sakit ini. Saya minta dokter memeriksanya dengan baik dan teliti. Saya tidak ingin terjadi apa-apa pada isteri saya.Tapi hasil diagnosa dokter itu tidak menyebutkan penyakit yang mengkhawatirkan isteri saya. Katanya isteri saya tidak ada riwayat penyakit jantung. "Ibu tidak ada riwayat penyakit jantung, Pak Guru" jelasnya. Tapi saya melihat dia hanya membuat kesimpulan berdasarkan data-data lama ibu yang memang selalu berobat ke klinik Sayang Ibu, miliknya itu.
Dokter Awang Lim juga menjelaskan kalau tensi darah ibu juga bagus. “Tensi Ibu juga bagus. Tak ada apa-apa, Pak Guru,” saya ingat kata-kata dokter itu. Dia hanya menyebut kalau isteri saya hanya sedikit  mengalami masalah lambung. Akhirnya dia hanya memberi obat yang katanya harus dimakan sebelum makan nasi. Kami pun kembali ke rumah karena sudah merasa lega berdasarkan penjelasan dokter ini. Ah, saya merasa tertipu oleh kata-kata dokter yang dengan percaya diri menjelaskan penyakit isteri saya yang tidak berbahaya.
Sampai di rumah isteri saya berbaring di kasur. Dia minta dipijit-pijit badannya yang katanya sangat penat. "Seluruh persendian saya pegal-pegal. Tolong dipijit," pintanya kepada saya. Saya dan anak saya masih tampak shok dan berusaha menahan tangis, terus memijit-mijit bagian yang sakit isteri saya.
Ketika dia minta dicarikan tukang pijit khusus, anak saya pergi mencarinya. Setelah dipijit oleh Ibu itu dia tampak semakin lega. Katanya badannya sudah lebih mendingan. Bahkan isteri saya mengeluarkan angin (kentut) yang membuat kami bertiga tersenyum geli dan masih sempat kami bergurau dengan gas berbau itu. Ah, ternyata gurauan ini juga telah menipu saya. Itu juga gurauan terakhir saya dengannya. Saya merasa isteri saya tidak apa-apa lagi waktu itu. Saya merasa tidak ada yang harus khawatirkan.
Ketika dia mendengar kumandang azan Magrib, dia mengingatkan saya. "Bang, itu sudah azan," katanya. Saya pun paham kalau dia memang sangat taat melaksanakan ibadah sholat di awal waktu. Setiap kali masuk waktu sholat dia pasti akan berhenti beraktifitas apa saja. Dia akan bergegas pergi sholat. Termasuk sore Sabtu itu.
Saya tanya, apakah boleh sholat ke masjid seperti biasanya saya memang sholat berjamaah ke masjid, dia membolehkan. Dia mengatakan akan sholat di rumah. Saya pun tetap merasa tidak ada kekhawatiran terhadap penyakit yang tengah dialaminya. Di masjid saya juga tidak punya firasat apa-apa. Saya sholat sebagaimana biasa, berdoa ikut imam sebagaimana biasa bahkan saya masih sempat sholat sunat ba’da Magrib sebagaimana biasa. Saya memang sama sekali tidak punya firasat apapun tentang isteri saya.
Sampai di rumah sehabis sholat Magrib di masjid, saya lihat dia sedang terbaring di kasur, kamar kami selama ini. Saya tanya apakah sudah sholat, dia menjawab sudah. Anak saya membantunya ke kamar mandi --di kamar tidur-- untuk berwudhuk. Saat dia baring itu, dia kembali minta urut badannya yang masih penat. Katanya bagian punggungnya terasa sakit dan penat. Dia tidur memiringkan badannya, minta dipijitkan bagian punggungnya. Sayapun berbaring sambil memiringkan badan saya ke arahnya. Saya hanya berhadapan dengan punggungnya sementara dia menghadap kea rah lemari palstik, di sebelah kiri kasur kami.
Ada beberapa menit saya memijit-mijit bagian punggungnya. Saya tidak mendengar dia mengeluh waktu itu. Dia tidak juga mengatakan apa-apa saat itu. Ternyata ini juga dugaan dan penilaian saya yang salah. Karena beberapa mednit berikutnya, ketika dia tiba-tiba membalikkan badan ke arah saya (menelentang) saya melihat mukanya yang pucat. Dia seperti kesulitan dan tidak dapat bernafas. Suaranya tidak keluar tapi dia kelihatan mengerang. Saya melihat matanya terpejam.
Anak saya yang sedari tadi memijit bagian kaki, terperanjat dan secara reflek menagis sambil memekik memanggil mamanya. Mama, mamaa, mamaa, berulang-ulangf dia memanggil begitu. Dia mungkin langsung ingat pengalamannya sendiri tiga jam sebelumnya. Anak saya yang bungsu, yang saat itu asyik main laptop di kamar itu, terkejut dan langsung ikut membantu. Saya dan anak-anak saya yang ada dalam kamar bersama, sungguh dalam keadaan panik. Kami bertiga berusaha membantu dengan mendudukkannya. Mengurut punggung dan bahunya. Tapi dia seperti tidak bereaksi.
Saya masih sempat menyuruh Opy, anak saya yangn bungsu itu menlepon abangnya,
Ery yang berada di Tanjungpinang. Dalam kepanikan seperti itu juga saya minta dia menghyubungi Pak Imam Ridwan yang rumahnya tidaki seberapa jauh.
Tapi tidak lama dia sudah kembali.
Akhirnya kami bertiga mengangkatnya. Sungguh terasa berat. Badan sesehat itu jelas cukup berat buat kami bertiga yang dalam keadaan panik itu. Setelah berhasil membawa ke dalam mobil, saya memacu mobil dengan kencang sekali untuk menuju RSUD Karimun. Hanya dalam perkiraan sepuluh menit mobil kami sampai di parkir UGD RSUD.
Saya memekik memberi tahu beberapa petugas yang datang menyongsong mobil kami. Mereka membawa kereta dorong untuk menyambut isteri saya yang tidak juga siuman sejak dari rumah tadi. Saya minta secepatnya isteri saya ditangani. Tapi, ya Tuhan begitu terasa lambannya oleh saya mereka mengurus dan menolong isteri saya.
Penanganan yang terasa begitu lamban oleh para perawat di UGD itu membuat saya ingin memekik lagi rasanya. Tapi saya mencoba menahan tangis. Saya tetap berdoa, semoga isteri saya bisa selamat. Semoga dia siuman kembali. Saya merasa dia pasti akan siuman kembali. Hanya itu yang ada dalam pikiran dan harapan saya. Berulang-ulang saya berdoa dan mengucapkan asma Allah. Ya Allah, selamatkan dia. Ya Allah selamatkanlah dia. Berulang-ulang saya mengucapkannya sambail menyebut nama-Nya.
Namun apa mau dikata, menurut perawat yang menangani, isteri saya mungkin telah ‘pergi’ beberapa menit sebelum sampai ke rumah sakit itu. Tangis saya benar-benar pecah bersamaan tangis anak-anak saya yang saling berpelukan. Saya, anak-anak saya tersedu menahan pilu. Sore Sabtu kelabu yang benar-benar pilu dalam hidup saya.***

Jumat, 24 Februari 2012

Jujur Buat Hancur atau Mujur?

JUDUL berupa pertanyaan itu barangkali terlalu berlebihan. Sikap baik kok hasilnya jelek? Itu aneh, terasa. Selama ini yang benar dan diajarkan adalah, "Jujur Membawa Mujur". Tapi realita empiris saat ini memang lebih banyak seperti tesis judul itu.

Lihat saja kasus-kasus korupsi yang jalan ceritanya kita ikuti lewat 'drama' sidang-sidang yang digelar di pengadilan tipikor. Baik terdakwa maupun saksi selalu diragukan kebenaran ucapannya oleh masyarakat. Padahal itu akan menjadi fakta persidangan. Masyarakat tidak bisa percaya dengan keterangan yang diberikan di depan persidangan. Apalagi pihak 'lawan' dalam sidang. Pasti menolak mentah-mentah keterngan-keterangan itu. Dan bisa menjadi kasus baru: sebagai kesaksian palsu.

Enggelina Sondakh yang bersaksi di sidang kasus Nazarudin, misalnya memberi keterangan 'tidak tahu', 'tidak ada' dan atau 'tidak mengerti' terhadap keterngan yang oleh beberapa saksi sebelumnya sudah dijelaskan dan dianggap akurat. Pertanyaan majelis hakim, penuntut umum dan pembela terdakwa, oleh Enji (begitu orang terdengar menyebut namanya) dijawab begitu saja. Maksudnya, dia menjawab tak tahu terhadap apa yang oleh orang lain dianggap tahu. Bohongkah dia?

Dan ketika Muhaimin dan Andi Mallarangeng (keduanya menteri) memberi keterngan sebagai saksi di sidang --kasus-- yang sama, lagi-lagi orang seperti tidak dapat menerima dan tak dapat percaya atas jawaban-jawaban kedua menteri itu. Sepertinya orang juga menganggap itu tidak jujur.
Sebenarnya bagi kita bukan kesaksian --jujur tak jujur-- di sidang tipikor itu yang mesti menjadi perhatian. Kebenaran dan kejujuran yang sengaja dipermainkan itulah yang membuat risau kita. Hampir di semua proses peradilan di negeri ini melahirkan 'ketidakjujuran'. Jika bukan terdakwa yang tak jujur, boleh jadi jaksa. Bisa pula penasehat hukum bahkan hakimnya. Itu yang kita lihat.

Sulitnya mencari dan memutus keadilan di peradilan Indonesia memang menjadi fenomena tersendiri. Antasari yang sudah mempunyai kekuatan hukum terhadap kasus yang dituduhkan kepadanya, menimbulkan polemik berkepanjangan. Dari dugaan polisi dan jaksa 'menggelapkan fakta' hingga tuduhan peradilan sesat.
Seberapa susahkah sebenarnya melaksanakan kejujuran dalam kehidupan oleh bangsa kita? Apakah benar orang yang mau jujur hidupnya akan hancur? Pertanyaan yang cukup pelik.

Seharusnya kebenaran dan kejujuran yang merupakan pondasi dari kehidupan itu sedndiri, tidak boleh diselewengkan pemahaman dan penerapannya. Mestinya manusia bertahan dengan kebenaran dan kejujuran. Itulah sesungguhnya yang membedakan manusia --sebagai makhluk termulia-- dengan makhluk-Nya yang lain.

Jika oleh kepentingan sesaat ada kecendrungan memalsukan kebenaran dan kejujuran, seharusnya itu menjadi tantangan dan ujian buat yang masih berhati bersih. Yang berhati jujur dan tafakkur tak harus kendur. Bertahan untuk terus meluruskan kekeliruan ini. Dari mana? Ya tentu dari diri sendiri dan dimulai sejak saat juga.
Di sekolah, perang melawan ketidakjujuran sesungguhnya lebih baik dan akan berefek besar dan luas. Tidak saja kepada peserta didik, bahkan untuk pendidik dan tenaga kependidikan pun perjuangan melawan ketidak jujuran ini diperlukan. Bukankah di sekolah juga banyak kecurangan terutama dalam ujian dan pemberian nilai?

Jika langkah-langkah itu tidak diambil maka penyesalan akan semakin besar menanti kita. Benarlah dugaan orang bahwa kejujuran memang akan membawa kehancuran bukan kemujuran (keberuntungan) sebagaimana guru-guru menerangkan. Mau? Wallohu a'lam.***

Rabu, 22 Februari 2012

Sudah Siapkah Anda Mengikuti UN?

    PADA tanggal 16 April 2012 nanti seluruh siswa SLTA (SMA/ MA/ SMK) akan mengikuti Ujian Nasional (UN) secara serentak di seluruh Tanah Air, termasuk di Karimun. SMA Negeri 3 Karimun dengan jumlah siswa kelas XII sebanyak 145 orang, sebagai salah satu SMA di kabupaten ini juga akan mengikuti gawe tahunan itu.
    Pertanyaan yang selalu muncul, "Apakah peserta UN tahun 2012 sudah benar-benar siap?" Padahal siap tak siap, UN pasti tetap akan dilaksanakan. Karena UN adalah tuntutan undang-undang maka tak ada celah saat ini untuk tidak ikut UN jika ingin menamatkan pendidikan pada satuan pendidikan sesuai aturan.
    Sebagai Kepala Sekolah, sesungguhnya saya sangat risau dan khawatir sekali melihat kesiapan anak-didik saya yang ada di SMA Negeri 3 Karimun. Bahkan saya juga risau jika melihat kesiapan para peserta didik ini secara keseluruhan di kabupaten dengan moto 'bumi berazam' ini.
   Mengapa saya harus khawatir? Pertama; tidak hanya di sekolah saya saja saya melihat tingkat kemauan dan motivasi peserta didik yang rendah. Hampir di seluruh sekolah yang ada saya melihat dan mendengarnya. Sepertinya mereka tidak mempersiapkan diri dengan sungguh-sungguh menghadapi UN yang akan datang itu.
    Mereka masih lebih banyak waktu bermain --di luar sekolah-- dari pada belajar mengulang pelajaran yang diterima di sekolah. Padahal waktu belajar mereka di sekolah lebih sedikit berbanding waktu di rumah mereka. Dan pada saat di rumah itu, mereka justeru lebih banyak bermain.
    Akibat kelalaian itu dapat dilihat hasil TO (Try Out) pertama lalu yang hasilnya sangat mengecewakan. Tingkat keberhasilan mereka sangatlah rendah. Rata-rata di setiap sekolah hanya mampu meluluskan di bawah 40%. Tidakkah itu mengkhawatirkan kita?
    Kini UN semakin dekat. Memang masih ada beberapa kali lagi test (ujian) awal menjelang UN --berupa TO ke-2 dan Ujian Sekolah-- tapi mestinya para calon peserta UN itu harus benar-benar siap dari sekarang. Jika tidak, tentu saja akan mengecewakan nantinya.
    Para peserta didik ini sejatinya tidak boleh lagi berpikir bahwa UN nanti akan ditunjukkan oleh guru atau pengawas dalam pelaksanaannya. Jika pun selama ini ada informasi guru atau siapa saja yang mencurangi UN maka ke depan itu tidak mungkin dilakukan lagi. Itu berbahaya bagi guru atau siapa saja yang mencurangi UN. Apalagi jika Kepala Sekolah yang sengaja mencurangi UN maka itu bisa-bisa  dipidana oleh kepolisian. Itu berbahaya.
    Sebaiknya bersiap-dirilah Anda semua untuk menghadapi UN nanti. SELAMAT MENGHADAPI UN 2012; SEMOGA SUKSES.

Selasa, 21 Februari 2012

MTQ: Itu Lomba Apa?


SEMUA juga tahu kalau MTQ adalah singkatan dari Musabaqah Tilawatil Quran alias lomba membaca alquran. Tapi mungkin tak semua tahu kalau dalam pelaksanaannya, MTQ ternyata tidak semata lomba membaca alquran. Ada lomba lain juga.

Di Indonesia yang penduduknya mayoritas muslim istilah MTQ memang sudah sangat familiar di telinga masyarakat. Setahun sekali MTQ diadakan secara rutin. Bahkan ada MTQ antar instansi/ badan/ perusahaan yang waktunya tidak berdasarkan periode tahunan. Bisa kapan saja, tergantung kebijakan instansi bersangkutan.

MTQ, lazaimnya dilaksanakan berjenjang dari yang terendah (RT/ RW dan Desa/ Lurah) hingga ke tingkat Nasional untuk menentukan utusan daerah tersebut di tingkat daerah di atasnya. Penyelenggaranya adalah LPTQ (Lembaga Pengembangan Tilawatil Quran) yang berkedudukan berjenjang juga dari Kecamatan hingga Nasional. Maksudnya ada LPTQ Kecamatan, Kabupaten, Provinsi dan ada pula LPTQ Nasional.

MTQ tingkat Nasional adalah ajang adu kehebatan --membaca alquran-- antar juara MTQ tingkat Provinsi yang sebelumnya sudah diperlombakan terlebih dahulu. Begitu seterusnya ke bawah, tingkat provinsi adalah lomba antar kafilah kabupaten, dan MTQ Tingkat Kabupaten adalah ajang lomba antar kecamatan dalam kabupaten yang sama. Dan juara Nasional (khusus golongan Dewasa Putra/ Putri) akan mewakili Indonesia di ajang MTQ tingkat Dunia yang rutin diadakan di Malaysia atau di negara Islam lainnya, setiap tahunnya.

Cabang dan golongan dalam MTQ juga banyak. Untuk golongan, ada namnya golongan (tingkat) anak-anak, remaja dan dewasa. Itu khusus untuk cabang Tilawah. Ada pula istilah kanak-kanak untuk sebutan cabang Tartil. Tingkatan atau golongan ini diukur dengan kriteria umur. Sementara cabang-cabang lomba dalam MTQ juga beragam: tilawah, tartil, fahmil, syarhil, dan khattil (quran). Bahkan belakangan ada lagi tambahan cabang lomba lainnya seperti menulis isi kandungan alquran.
Mengikuti MTQ di daerah, seperti yang tiap tahun saya ikuti dan saksikan ada beberapa catatan dan fenomena menarik bagi saya. Maksud saya ada kecendrungan yang agak keliru dari masyarakat dalam mengapresiasi MTQ itu sendiri.

Maksud diadakannya MTQ pada hakikatnya adalah untuk mensyiarkan alquran disamping mencari yang terbaik untuk mewakili MTQ pada tingkat selanjutnya. Tapi intinya adalah syiar alquran. Dengan syiar itu pula dituntut bahwa seseorang itu tidak hanya pintar membaca dan menulis, tapi jauh lebih penting adalah memahami isi kandungan alquran itu sendiri. Sasarannya juga tidak hanya kepada peserta (yang ikut lomba) tapi juga (dan ini lebih penting) adalah kepada pendengar. Kehadiran masyarakat secara beramai-ramai dalam setiap MTQ, inilah harapannya.

Kenyataannya dewasa ini pelaksanaan MTQ sudah semakin jauh melenceng dari tujuan mulia itu. Dari pengamatan saya yang juga terlibat dan menyaksikan pelaksanaan MTQ di daerah saya, Karimun Kepri, sedih juga rasanya. Harapan dan sasaran itu seperti semakin jauh panggang dari api.

Perlu saya jelaskan sedikit bahwa di Kabupaten Karimun pelaksanaan MTQ telah berlangsung dari tanggal 1 Februari lalu dan akan berakhir pada tanggal 26 Februari 2012 yang akan datang. Itu untuk tingkat kecamatan. Lama? Itu untuk semua alokasi waktu pelaksanaan di kecamatan yang ada. Di Kabupaten yang berdiri tahun 1999 ini terdapat sembilan kecamatan. Setiap kecamatan melaksanakan MTQ dalam waktu tiga- empat hari. Misalnya Kecamatan Karimun melaksanakan dari tanggal awal Februari diikuti tiga hari berikutnya oleh Kecamatan Kundur. Begitu seterusnya yang berakhir di Kecamatan Durai pada 26 Februari nanti.

Di setiap ajang lomba itu ada banyak kegiatan yang dibuat. Di samping MTQ-nya ada lagi lomba Lasqi (qasidah), lomba bazar, dan lomba astaka. Lomba-lomba lainnya inilah yang menurut saya telah membuat nilai-nilai dan manfaat MTQ sebagai ajang syiar isi alquran menjadi luntur. Pelaksana dan pengunjung lebih banyak dan lebih sering fokus pada lomba yang tak berkaitan dengan alquran itu. Terutama lomba astaka (mimbar/ tempat membaca) alquran, malah tampak lebih menyita waktu, tenaga dan biaya dari pada MTQ-nya.

Bayangkan sebgitu banyak biaya pelaksanaan MTQ, ternyata persentase yang lebih besar justeru untuk astakanya. Dalam pelaksanaan MTQ (waktu qori/ qori'ah membaca alquran) justeru pengunjung yang datang bukan mendengarkan bacaan alquran tapi malah asyik di stand bazar. Panitia (terutama juri astaka) juga datang hanya melihat astaka. Tidak mendengarkan alquran sambil menilai astaka.
Sebenarnya lomba-lomba selain lomba baca alquran itu baik dan boleh-boleh saja. Tapi jika perhatian berbagai pihak lebih besar kepada lomba selain MTQ-nya, apakah itu masih dapat dibenarkan? Kalau begitu MTQ itu lomba apa namanya? Wallahu a'lam.***
 
Copyright © 2016 koncopelangkin.com Shared By by NARNO, S.KOM 081372242221.