BREAKING NEWS

Kamis, 27 Desember 2012

Berlibur, Haruskah Terus ke Seberang?

TIDAK selalu ada kesempatan untuk berlibur. Tapi di akhir tahun seperti saat ini adalah waktu yang paling tepat untuk itu. Sekolah-sekolah sedang libur semester sesudah menyelesaikan tugas satu semester untuk semester ganjil dengan pembagian rapor semester beberapa hari lalu. Kantor-kantor juga libur karena hari 'libur bersama' menjelang natal yang berbarengan dengan libur akhir tahun. Apalagi
tahun ini libur bersama menjelang natal (24 Desember) jatuh hari Senin. Itu berarti sejak hari Jumat, 21 Desember (siang) para pegawai kantor sudah bisa menikmati hari libur jika ingin berlibur ke daerah lain karena Sabtu- Minggu libur resmi. Lumayan, lima hari.

Minggu, 23 Desember 2012

Like dan Comment FB untuk Tingkatkan Minat Baca-Tulis

PENGGUNA jejaring sosial Facebook (FB) di Indonesia ternyata amat-sangat banyak. Menurut salah satu berita online, Indonesia menduduki empat besar pengguna FB bersama AS, Brazil dan India. Terdapat 40-an juta pengguna FB di Tanah Air. Wow, begitu pantastis.

Kamis, 20 Desember 2012

Mereka Mengadakan Praktikum Sastra


SAYA harus menyatakan rasa bangga kepada mereka, anak-anak muda itu. Mereka adalah siswa/wi SMA tempat saya mengabdi sebagai guru. Mereka sanggup berkreativitas positif: menggelar praktikum sastra. Saya ingat, itu biasanya kerja mahasiswa di kampus-kampus, khususnya mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra di FKIP. Sedangkan mereka yang berkegiatan ini masih berstatus siswa.

Rabu, 19 Desember 2012

Guru-guru itu Menyunat Murid-muridnya


MAAF, jangan emosi dulu menafsirkan judul tulisan ini. Ini hanyalah catatan laporan tentang sunat-sunatan yang dilaksanakan oleh para guru kepada murid-murid. Murid-murid inipun adalah anak-anak sekolah yang otomatis adalah anak-anak para guru juga.

Para guru yang saya maksud pun adalah para insan pendidik yang direpresentasikan oleh organisasi bernama PGRI (Persatuan Guru Republik Indonesia) yang sudah tak asing di telinga. Organisasi inilah yang melaksanakan acara sunat-sunatan atau istilah yang selama ini lebih populer: sunatan masal itu. Persisnya PGRI Kabupaten Karimun, mengadakan kegiatan sunatan masal yang merupakan bagian dari kegiatan memperingati HUT PGRI ke-67 tahun 2012 di PGRI Kabupaten Karimun. Ini memang rada terlambat dilaksanakan tapi memang seperti itulah direncanakan. Jadi, sekedar memberi informasi saja tulisan ini saya tulis.

Pada hari Selasa (18/12) semalam adalah jadwal kegiatan sunatan masal sebagai bagian dari rangkaian acara yang sudah disusun sebelumnya bersama berbagai kegiatan HUT PGRI Karimun tahun ini. Pukul 08.00 WIB para peserta sunatan masal sudah berdatangan di tempat kegiatan. Dari catatan panitia diperoleh informasi bahwa jumlah yang akan mengikuti sunatan masal ini  ada 62 orang. Mereka merupakan anak-anak yang ditentukan oleh Pengurus Cabang dari tiga kecamatan yang ada di Pulau Karimun. Pengurus Cabang PGRI Kecamatan yang ada di Pulau Karimun adalah, 1) Pengurus Kecamatan Karimun, 2) Kecamatan Meral dan 3) Kecamatan Tebing. Kecuali PGRI Kecamatan Meral yang mengirimkan sebanyak 22 orang, dua kecamatan lainnya mengirimkan 20 orang saja. Karena satu pulau maka pelaksanaan sunatan masalnya dipusatkan di satu tempat yaitu di SD Negeri 001 Tanjungbalai Karimun, Kecamatan Karimun.

Sebelum acara 'memotong burung' anak-anak dimulai, terlebih dahulu diadakan sedikit acara seremoni pembukaannya yang langsung dibuka oleh Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Karimun, Dr. Syamsuardi, MM. Biasalah, kita kan suka membuat acara seremoni seperti ini. Dalam sambutan pembukaannya Plt Kadis Pendidikan kabupaten itu menjelaskan bahwa kegiatan ini sangatlah besar maknanya, baik bagi anak-anak yang ikut sunatan maupun bagi organisasi PGRI sendiri. "Sebagai kegiatan sosial, organisasi guru sudah seharusnya melakukannya." Lebih jauh Asisten II Setda Kabupaten Karimun itu mengatakan bahwa guru tidak hanya pintar dan berkewajiban mengajar di kelas tapi juga perlu memikirkan kegiatan sosial yang dapat disumbangkan ke masyarakat.

Sebelum sambutan Plt Kadis Pendidikan, terlebih dahulu memberikan laporan Ketua Pengurus PGRI Kabupaten Karimun, H. MS. Sudarmadi, SPd MM. Dalam sambutan laporannya Pak Madi menjelaskan tentang program kegiatan PGRI Karimun dalam rangka HUT PGRI ke-67 dan Hari Guru Nasional (HGN) tahun 2012 ini. Sejak November lalu, sudah dilaksanakan berbagai kegiatan, katanya. PGRI Kabupaten Karimun ingin menunjukkan jati dirinya di tengah-tengah masyarakat Karimun khususnya, dan Indonesia pada umumnya. Begitu Ketua PGRI yang jabatan dinas sehari-harinya adalah Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kabupaten Karimun.

Acara sunat masal PGRI Karimun merupakan kegiatan sosial kemasyarakatan yang dilaksanakan pengurus PGRI Kabupaten Karimun. Kegiatan sosial lainnya adalah pembagian pakaian layak pakai yang dikumpulkan dari para anggota PGRI di Pulau Karimun. Untuk pelaksanaan sunat masalnya sendiri pengurus PGRI bekerja sama dengan Puskesmas Tanjungbalai Karimun. Di bawah koordinasi dr. H. Ade Kristiawan, beberapa petugas medis Puskesmas itu menunaikan tugasnya dengan telaten, menyunat muird-murid sekolah yang sudah hadir itu.
Mengenai biaya dan dana yang dipakai dalam kegiatan sunat masal ini menurut pengurus PGRI adalah sumbangan para donatur dan simpatisan PGRI. Ada sumbangan bupati, wakil bupati, sekda Karimun dan beberapa Kepala Dinas di SKPD Kabupaten Karimun. Bahkan para pengurus PGRI Kabupaten dan Kepala Sekolah ikut menyumbangkan dana untuk kepentingan ini. Hebatnya, setiap pengurus minimal harus membiayai satu orang anak. Setiap anak memerlukan biaya sebesar Rp 250.000 (dua ratus lima puluh ribu rupiah) yang dipakai untuk biaya medis ditambah oleh-oleh untuk setiap anak dalam bentuk uang dan kain sarung.

Alhamdulillah kegiatan sunat masal ini berjalan dengan lancar dan aman. Para orang tua yang ikut mendampingi anak-anaknya tampak bergembira sekali karena anaknya dapat bersunat rasul atas biaya PGRI. "Syukur sekali, kami tidak lagi mengeluarkan biaya apapun untuk keperluan sunat rasul ini," jelas salah seorang ibu yang anaknya ikut sunatan masal. Semoga kegiatan sosial ini berlanjut di tahun-tahun yang akan datang.***
Artikel yang sama di http://lifestyle.kompasiana.com/catatan/2012/12/19/guru-guru-menyunat-anak-anak-511898.html

Selasa, 18 Desember 2012

Merangkak juga Beranjak


INILAH pengalaman saya mencoba menjadi penulis. Tidak pernah terasa mudah. Dari angka nol ketika memulai ke angka satu atau dua saja rasanya lama dan susah. Tapi saya tidak pernah pula mau menyerah. Saya coba terus melangkah, melangkah, terus melangkah. Kalau perlu merangkak… tapi itu saya pikir tetap berjalan. Apakah sekarang sudah berada di angka empat atau lima, saya tidak tahu juga.
Jika suatu pekerjaan tidak mudah atau tidak terasa bisa bergerak ke arah kemajuan yang diharapkan, pasti akan membuat kecewa bahkan putus asa. Tapi dalam keinginan saya untuk belajar dan bisa menjadi penulis saya merasa saya cukup tegar dan berusaha terus sampai bisa. Bahkan di usia setengah abad lebih, saat ini saya rasanya baru memulai kembali untuk belajar menjadi penulis.
Kekaguman saya kepada sosok yang bernama ‘penulis’ memang sudah ada sejak lama. Kekaguman itu pula yang melahirkan motivasi dan energi saya untuk mencoba menjadi penulis. Saya ingat, dari sejak Sekolah Dasar (SD) di sekitar tahun 1966-1971 saya sudah menyenangi pelajaran menulis. Waktu itu namanya pelajaran Mengarang. Di samping Pelajaran Berhitung, Mata Pelajaran Mengarang adalah kesukaan saya.

Ketika saya melanjutkan pendidikan di PGA-P (1971-1975) saya masih menyenangi pelajaran mengarang. Begitu pula ketika meneruskannya ke PGA-A (1976-1977) di Pekanbaru bahkan mulai timbul kesukaan menulis yang lebih serius. Beberapa kali sayembara mengarang prosa saya menangkan. Tapi puncak saya benar-benar menyenangi aktivitas menulis adalah ketika saya menuntut ilmu di Universitas Riau (UR) antara 1978-1983. Kesenangan membaca ketika masih di desa tempo hari semakin terpupuk oleh banyaknya bahan bacaan di Ibu Kota Provinsi Riau itu. Saya tidak hanya menulis prosa berupa artikel sederhana tapi juga mulai menulis puisi dan cerpen.

Di tahun-tahun inilah saya mulai dan mencoba mengirimkan tulisan ke beberapa harian daerah dan ibu kota (Jakarta). Di harian Haluan, Semangat dan Singgalang (Padang) beberapa tulisan saya naik cetak. Di harian Pelita dan Swadesi (Jakarta) juga pernah muncul tulisan saya. Tulisan-tulisan periode inilah (khusus cerpen) yang akhirnya saya kumpulkan kembali untuk dicetak menjadi buku. Kumpulan cerpen saya berjudul “Duka Cinta di Awal Cita” adalah kumpulan cerpen sebagai buku pertama saya terbit yang cetakan pertamanya September 2008. Buku yang berisi 16 (enam belas) judul cerpen ini diterbitkan oleh penerbit UR Pres, Pekanbaru dengan sponsor saya sendiri. Saya memang tak sabar untuk mengirimkannya ke penerbit sambil menunggu yang mungkin tak pasti. Buku ini dicetak ulang tahun 2010 dengan penambahan satu judul lagi dan perubahan ilustrasi kulitnya.

Waktu berlalu, masa pun berganti. Setamat S1 Keguruan dari UR (1983) saya langsung meninggalkan Pekanbaru karena mendapat SK (Surat Keputusan) sebagai PNS di salah satu SMA Tanjungbatu Kundur. Bermulalah saya sebagai guru PNS yang bertempat tinggal nun jauh di pelosok kampung di sebuah pulau. Rupanya situasi ini sama sekali tidak menguntungkan keinginan saya untuk menjadi penulis. Komunikasi yang amat susah ke ibu kota di tahun 1985 hingga 1990-an membuat benih-benih kreativitas menulis saya mati suri. Dan barulah melewati tahun 2000-an ‘batang terendam yang lama tenggelam’ itu terasa timbul lagi.

Ketika Koran-koran tidak lagi hanya terbit di Ibu Kota Negara, dan beberapa harian mulai terbit di daerah maka motivasi untuk menulis kembali lahir. Bacaan yang mulai ada ikut memupuk motivasi itu. Di harian Riau Pos (Pekanbaru) dan Batam Pos (Batam) beberapa artikel opini saya mampu juga naik. Diiringi era internet maka semakin luaslah kesempatan untuk berkiprah kembali di kreativitas tulis-menulis. Harus saya akui, sesungguhnya saya serasa memulai kembali untuk belajar menulis dalam lima tahun belakangan. Kalau di era lalu saya sangat terbantu oleh mesin tik ‘Royal’ saya sebagai sarana tulis-menulis, kini komputer pribadi (PC), laptop, HP dan banyak lagi telah memberi ruang yang begitu luas untuk berkreasi di arena tulis-menulis.

Keinginan saya untuk terus menulis bertumbuh dan berkembang serta tertantang dengan mudahnya berinteraksi dengan teman-teman lain yang nun jauh entah di mana. Dengan hubungan dunia maya, saya merasa semakin banyak orang tempat belajar dan semakin banyak pula wadah tempat menyalurkan kreativitas kepenulisan. Harus saya tegaskan, selain kumpulan cerpen, saya juga sudah menerbitkan tiga buku lainnya dengan cara sponsor sendiri (self publisher). Dan itu adalah berkat fasilitas internet yang mendukungnya. Di beberapa blog sosial dan sebuah blog pribadi saya terus berusaha belajar menulis. Bahkan blog pribadi saya, saya beri judul ‘maribelajar’ dengan maksud bahwa blog itu memang tempat saya kembali belajar dan berpraktek menulis.

Mimpi saya sesungguhnya belumlah terwujud. Jika angka perjalanan menulis ini direntang antara 0 hingga 10 maka saya merasa belum juga mampu menggapai angka enam apa lagi angka delapan yang saya targetkan. Keinginan saya untuk terbitnya hasil karya saya di penerbit-penerbit terkenal (tentu bukan dengan sponsor sendiri lagi) belum juga tercapai. Tapi saya bertekad untuk terus melangkah. Jika pun tidak mampu melangkah, merangkak pun saya akan mencoba. Saya percaya dengan merangkak, saya juga akan beranjak dari satu titik ke titik selanjutnya.***
Catatan:
Daftar Buku yang Sudah Terbit,
1. DUKA CINTA DI AWAL CITA (Kumpulan Cerpen: 2008)
2. BUDEK TAK BUDEK DENGARLAH KAMI (Kumpulan tulisan di Kompasiana:  2011)
3. SISOMBOU SASTRA RIAU (Skripsi Terjiplak: 2012)
4. BAHTERA CINTA BERLAYAR SUDAH (Kisah Nyata Kematian Isteri: 2012)

Sabtu, 15 Desember 2012

Cara Mengurangi Kecurangan dalam Ujian

UNTUK mengurangi kecurangan para peserta didik selama mengikuti ujian, setiap sekolah bisa memiliki cara yang berbeda-beda. Di luar ketegasan pengawas, cara-cara lain juga dapat ditempuh.

Kita tahu bahwa setiap siswa sebagai peserta ujian ada kecendrungan untuk mencontek dan atau bekerja sama antara satu dengan lainnya dengan maksud mendapatkan nilai yang baik. Sayangnya keinginan untuk mendapatkan nilai yang memuaskan ini tidak ditempuh dengan cara legal. Justeru banyak peserta ujian yang melakukan kecurangan dalam mengikuti ujian. Maka sekolah perlu membuat kebijakan agar kecurangan dapat dikurangi atau dihilangkan.

Di SMA Negeri 3 Karimun, misalnya strategi mengurangi kesempatan para siswa untuk melakukan kecurangan ada beberapa hal yang dilakukan.
1. Meminta pengawas ruang untuk tegas walaupun tidak meninggalkan perinsip ramah dan menyenangkan bagi peserta ujian. Tegas dimaksudkan tidak ada toleransi bagi siswa untuk melanggar ketentuan dan tata tertib ujian yang sudah ditetapkan. di setiap ruang ujian memang ditempelkan oleh panitia ujian berbagai informasi yang diperlukan peserta ujian. Salah satunya adalah ketentuan dan tata tertib ujian tersebut.

2. Menyusun bangku/ kursi peserta ujian dengan jarak yang mengurangi/ menghilangkan kemungkinan para peserta ujian bekerja sama dalam menjawab soal-soal ujian. Jarak kursi/ meja selama ujian ini dibuat sedemikian rupa sehingga jaraknya lebih jauh dari pada jarak selama mereka mengikuti proses pembelajaran. Untuk hal ini maka jumlah peserta ujian dalam setiap ruangan dikurangi (lebih sedikit) berbanding dengan jumlah peserta dalam pembelajaran. Rombel pembelajaran sehari-hari lebih besar dari pada jumlah peserta ujian.

3. Menggabungkan beberapa tingkat kelas dalam satu ruang ujian. SMA Negeri 3 Karimun (mungkin juga sekolah lain) memang mencampurkan kelas X, XI dan XII dalam satu ruang ujian dengan maksud mereka tidak dapat saling bekerja sama. Kalau pun dalam ruang yang sama terdapat siswa dengan kelas yang sama tapi mereka pasti akan duduk dengan jarak yang jauh antara satu dengan lainnya. Ini jelas akan membuat siswa tidak mudah untuk saling bekerja sama dalam satu ruang.

Untuk strategi mengefektifkan waktu ujian, sekolah SMA Negeri 3 Karimun membuat satu ketentuan buat setiap siswa untuk tidak boleh keluar duluan sebelum waktu (alokasi) ujian habis. Kalaupun ada siswa yang mengaku telah menyelesaikan jawaban soal-soal ujiannya, tetap saja tidak dibenarkan untuk keluar ruangan ujian. Para siswa ini tetap dijaga di dalam ruang ujian agar tidak mengganggu ruang yang lain.***

Selasa, 11 Desember 2012

Ujian Semester Juga Ujian Karakter

LAZIMNYA ujian semester semata-mata hanya untuk mendapatkan nilai dalam semester yang bersangkutan. Nilai-nilai itu akan dilihat di dalam lembaran buku rapor yang dibagikan di akhir semester. Apapun caranya dan berapapun nilai itu, harapannya adalah mendapatkan nilai terbaik. Itulah sikap umum para peserta didik di sekolah-sekolah dalam mengikuti ujian semester. Tidak terkecuali para peserta didik yang sejak hari Senin (10/12) mengikuti ujian semester ganjil Tahun Pelajaran (TP) 2012/2013 di sekolah masing-masing.

 Ujian semester ganjil memang tengah berlangsung dari tanggal 10 hingga 15 Desember ini, dari SD hingga SLTA, paling tidak di Kabupaten Karimun, Kepulauan Riau. Hari Senin semalam adalah hari pertama ujian semester ganjil TP 2012/ 2013 itu dilaksanakan sedangkan Sabtu nanti adalah hari terakhirnya. Selepas itu mereka akan menerima laporan pendidikan, hasil pembelajaran selama enam bulan ini.

Jika ujian semester oleh peserta didik hanya diartikan sebagai cara mendapatkan nilai rapor yang akan menentukan keberhasilan peserta didik (naik/ lulus) saja, ditambah cara mendapatkan nilai dengan tidak jujur, tentu saja ini merisaukan kita. Betapa berbahayanya pandangan dan sikap seperti itu. Peserta didik hanya terobsesi sekedar mengejar nilai. Apalagi jika nilai yang diperoleh ternyata didapatkan dengan trik-trik tidak terpuji seumpama mencontek pekerjaan teman, misalnya sungguh itu tidak boleh dibiarkan.

Sejatinya ujian semester diselenggarakan disamping untuk mengukur kemampuan (daya serap) akademis juga untuk mengukur dan menguji kemampuan melakasnakan pendidikan karakter. Dari belasan nilai-nilai karakter bangsa yang dikembangkan Pemerintah untuk dilaksanakan sekolah, tentu saja nilai-nilai kejujuran dan tanggung jawab paling diutamakan dalam pelaksanaan ujian. Sikap jujur dan bertanggung jawab yang akan menjadi modal peserta didik dalam kelanjutan kehidupannya, mestinya tercermin dalam mengikuti dan melaksanakan ujian semester ini.

Tentu saja ide ini akan sangat tergantung kepada pengelola dan penanggung jawab pendidikan di sekolah. Kepala Sekolah bersama jajarannya, adalah penentu utama terlaksana atau tidak terlaksananya pendidikan karakter selama ujian. Teknis sederhananya adalah bagaimana pelaksanaan ujian itu berlangsung dengan baik dan benar. Di ruang ujian, adalah pengawas ruang yang akan menjadi garda penentunya. Apakah pengawas mampu menerapkan nilai-nilai kejujuran dan tanggung jawab kepada peserta ujian selama dalam kepengawasannya? Atau pengawas tidak melaksanakan fungsi pengawasannya, sehingga terjadi berbagai kecurangan dalam ruang ujian? Di sinilah peran pengawas ujian.

Satu hal yang tidak bisa diabaikan adalah sikap sekolah secara keseluruhan dalam keseharian berkaitan dengan penerapan pendidikan karakter itu sendiri terutama di lingkungan sekolah. Bagaimana warga sekolah selama ini menerapkan nilai-nilai karakter dalam kehidupan keseharian sekolah? Jika warga sekolah sudah terbiasa melaksanakan nilai-nilai karakter bangsa itu sehari-hari maka dalam ujian yang dilaksanakan secara periodik ini tetap juga akan tercermin. Peran guru (pengawas) adalah untuk memastikan bahwa nilai-nilai karakter memang dilaksanakan dalam pelaksanaan ujian semester ini. Jangan lagi ujian hanya sekedar mengejar nilai kognitif yang diukur dengan angka-angka belaka. Ujian semester sejatinya sebagai ujian penerapan nilai-nilai karkater juga.***
Artikel yang sama di:  http://edukasi.kompasiana.com/2012/12/11/ujian-semester-mestinya-untuk-ujian-karakter-509909.html

Rabu, 05 Desember 2012

Membuka Jilbab di Depan Siswa, Salahkah?


BERITA seperti ini adalah berita yang tidak baik buat guru, menurut saya. "Ada guru tega melepas jilbab penutup auratnya demi uang sertifikasi". Sebagai muslimah, sejatinya mempertahankan keyakinan akidah jauh lebih utama dari pada uang tunjangan profesi. Membuka penutup aurat, apalagi di depan peserta didik setingkat SLTA yang akan diajar dan dididik, sungguh kekeliruan yang menyesakkan. Memang hak pribadi tapi jika memaksa diri hanya karena uang sertifikasi, wah tidak adakah jalan lain lagi?

Penyebab guru muslimah membuka jilbab ini adalah karena peraturan intern sebuah sekolah yang mengharuskan membuka penutup kepala (jilbab) bagi wanita ketika berada di sekolah. Yayasan pengelola sekolah punya aturan sendiri mengenai berpakaian di sekolah ni. Tidak dibenarkan wanita mengenakan pakaian menutp kepala alias jilbab. Itu saja. Jangan ditawar-tawar. Padahal si muslimah ini harus mengajar di sekolah tersebut demi mencukupkan jumlah jam mengajarnya.

Mengapa harus mengajar di sekolah ini padahal sesungguhnya si muslimah ini adalah guru yang berinduk di sekolah negeri? Di satu sisi, ada ketentuan yang mewajibkan setiap guru mesti mengajar minimal 24 jam pelajaran per minggu sebagai syarat pembayaran tunjangan profesi guru. Di sisi lain ada sekolah yang karena kelebihan guru tidak bisa membagi tugas minimal 24 jam itu kepada semua guru. Akibatnya guru bersangkutan dipersilakan mencari tambahan jam mengajar di sekolah lain. Dan karena sekolah yang ada, dekat dan membutuhkan hanya sekolah yang mempunyai peraturan 'tak boleh berjilbab' maka hanya ada dua pilihan, mengambil tambahan jam di sekolah tersebut atau merelakan tunjangan profesinya tidak dibayarkan. Sungguh musykil.

Bagi guru yang memilih opsi pertama itulah yang membuat perasaan kita terenyuh dan sedih. Sebagai seorang muslim rasanya geram mendengar berita seorang muslimah harus membuka auratnya di hadapan orang ramai. Siswanya pula. Siapakah yang bertanggung jawab terhadap pengabaian keyakinan akidah seperti itu? Apakah itu sepenuhnya menjadi tanggung jawab guru bersangkutan, atau menjadi tanggung jawab sekolah yang tidak bisa memenuhkan jam mengajar gurunya? Atau bisa jadi itu adalah tanggung jawab pemetintah?

Masalah yang mungkin sepele tapi pelik ini sudah seharusnya menjadi perhatian kita sebagai guru. Bagi sebagian orang bisa saja tidak ada masalah. Tapi sebagai Negara berpenduduk mayoritas muslim, ditambah sudah begitu banyaknya aturan yang mengharuskan setiap orang menghargai keyakinan seseorang, maka 'keterpaksaan' membuka jilbab ini tidak dapat dianggap angin lalu saja. Keterpaksaan mencari tambahan jam mengajar di satu sisi dan keterpaksaan membuka aurat sebagai konsekuensi mencari tambahan jam mengajar di sisi lain, adalah realita pahit yang menyesakkan dan menjadi perhatian.

Pantaskah seorang guru wanita yang selama ini sudah memakai jilbab dalam kesehariannya, tiba-tiba harus membukanya di hadapan puluhan bahkan ratusan siswa hanya karena mempertahankan 'haknya' mendapatkan tunjangan profesi? Jika saja si muslimah ini memang belum berjilbab sebelumnya, tidaklah ada persoalan. Bahwa dia mempertahankan 'haknya' itu tidak juga salah. Masalahnya, jika hak itu masih terkait dengan kewajiban mencukupkan jam di sekolah lain. Apalagi sekolah lain itu mewajibkan membuka pakaian yang mencerminkan pengamalan akidah yang  dianut, itulah masalahnya.

Diskusi pantas-tak pantas membuka jilbab di sebuah sekolah yang mengharuskan membuka jilbab, sebenarnya bukan diskusi yang produktif. Perbedaan pandangan karena perbedaan keyakinan adalah sesutau yang nyata ada. Satu pihak akan menyalahkan si guru yang tega-teganya membuka aurat sekedar mengejar uang itu. Tapi pasti juga ada yang akan menyalahkan sekolah yang diskriminasi. Padahal sekolahnya merasa benar dengan ketentuan yang dibuatnya. Namanya juga ketentuan intern.

Hanya, sebagai seorang muslimah, sejatinya pertanyaan boleh atau tidak bolehnya memakai atau membuka jilbab di depan peserta didik, jawabannya tidak ada keraguan: tidak boleh. Selama itu bukan muhrim, ya tidak dibenarkan membuka jilbab di depan mereka. Itu tegas dikatakan sebagai pelanggaran akidah beragama. Jadi, guru bersangkutanlah yang wajib berpikir dan memutuskan bahwa untuk mendapatkan hak tunjangan profesi itu tidak perlu mengorbankan akidah. Wallohua'lam.***

Sabtu, 01 Desember 2012

Guru Luar Biasa atau Biasa Diluar?


BOSAN sebenarnya membicarakan guru 'biasa di luar' dalam arti selalu meninggalkan tugas dan tanggung jawabnya di kelas. Hari gini, masih ada guru yang suka meninggalkan tugas hanya karena kesibukan di luar sekolah? Pasti ada yang nyletuk mendengarnya, "Pecat aja!" Tapi nyata dan fakta, masih ada sahabat kita seperti itu.

Ketika program sertifikasi (dimulai 2007) sudah menjangkau 1,1 jutaan dari 2,9 juta guru di Indonesia jelas bahwa sebagian besar guru sudah menikmati penghasilan yang memadai dibandingkan lima-enam tahun lalu. Penghasilan guru terendah saat ini sudah lebih besar dari pada UMR walaupun beberapa guru honorer masih banyak yang menerima penghasilan tak layak dan tak manusiawi.

Bahwa penghasilan guru di satu daerah bisa berbeda dengan daerah lainnya, ya itu bisa saja. Guru-guru (negeri) di DKI (Ibu Kota Negara) bisa berpenghasilan antara 6 hingga 10 juta per bulan mungkin tidak akan sama dengan penghasilan guru di Padang (Sumatera Barat) atau Pekanbaru (Riau) yang di bawah itu. Tapi tunjangan profesi sebesar satu kali gaji pokok ditambah tunjangan sesuai daerah masing-masing sudah merupakan penghasilan yang memadai saat ini.

Kalau demikian, sudah tidak pada tempatnya penghasilan yang kecil menjadi alasan untuk tidak melaksanakan tugas dengan baik. Sudah tidak zamannya guru beralasan harus ngojek dan ngobyek ataunyambi pekerjaan lain untuk menambah gaji. Dan jika masih juga ada guru PNS yang tidak melaksanakan tugas sesuai ketentuan dan tanggung jawabnya, jelas itu pengingkaran terhadap tugas dan tanggung jawabnya.

Yang didambakan tentu saja guru berintegritas tinggi. Guru yang tidak saja melaksanakan tugas utama sebagai pengajar dan pendidik yang memotivasi dan memberi inspirasi, tapi juga dapat diteladani. Dan itu tentu saja bisa dan ada pada guru-guru yang luar biasa. Bukan guru biasa di luar. Guru-guru luar biasa inilah yang sejatinya diidam-idamkan sekolah dan pemerintah. Termasuk oleh anak-anak, peserta didik.
Guru luar biasa adalah guru yang lazimnya memiliki beberapa kriteria seperti, 1) Bekerja didasari niat yang benar dan tulus; 2) Memiliki visi diri yang jelas dalam mengemban tugas sebagai guru; 3) Dalam melaksanakan tugas selalu bersemangat dan menyenangkan; 4) Tidak hanya mempunyai motivasi diri tapi juga mampu menularkan motivasi itu kepada peserta didiknya; 5) Mampu berprestasi dalam berbagai hal baik berkaitan dengan tugas pokok sebagai guru maupun prestasi di luar tugas pookoknya. Dan saya yakin masih bisa dikembangkan ciri-ciri ini. Itulah guru luar biasa yang kelak akan melahirkan generasi yang juga luar biasa.

Guru biasa di luar adalah istilah lain untuk guru-guru yang kecendrungannya meninggalkan tugas. Selalu ada alasannya untuk tidak berdiri di depan kelas. Hari ini mungkin mengirimkan surat sakit walaupun sesungguhnya dia masih bisa mengajar. Besok mengirimkan surat karena ada urusan keluarga yang sebenarnya tidak terlalu penting buat dia. Lalu masuk satu atau dua hari, di hari berikutnya ada lagi alasannya untuk tidak ke sekolah.

Jika ada kegiatan di luar sekolah yang melibatkan dirinya, maka dia akan menjadikan kesempatan itu untuk secara resmi meninggalkkan anak-anak yang menjadi tanggung jawabnya di sekolah. Katakanlah dipercaya menjadi panitia kegiatan tertentu di luar sekolah, tugas luar ini seolah-olah menjadi kewajiban utama baginya. Dengan tugas-tugas di luar itu sepertinya tugas pokoknya sebagai guru menjadi tidak penting lagi.

Guru seperti ini harus diakui masih ada saat ini. Sebagai pegawai negeri tentu saja kelakuan seperti ini sangat merugikan negara yang telah memberi penghasilan cukup kepadanya. Padahal kerugian lain yang tidak kalah pentingnya adalah kerugian yang diderita para peserta didik yang lebih banyak ditinggalkan di sekolah. Nauzubillah, guru seperti ini jangan lagi ada. Jika kesadaran pribadinya tidak juga tumbuh, perlu tindakan perbaikan dari pihak-pihak yang berwewenang.***
Tulisan yang sama di: http://edukasi.kompasiana.com/2012/12/01/guru-luar-biasa-yes-guru-biasa-diluar-507269.html 

Kamis, 29 November 2012

Resepsi HUT PGRI dan Undian Umroh Gratis itu


UNDIAN umroh gratis adalah salah satu kegiatan yang selalu menyedot keinginan para guru untuk hadir pada acara puncak peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) PGRI (Persatuan Guru Republik Indonesia) dan Hari Guru Nasional (HGN) Kabupaten Karimun. Pencabutan undian umroh gratis adalah salah satu mata acara dalam setiap peringatan HUT PGRI dan HGN di Karimun, sejak dua tahun terakhir. Tahun lalu, 10 orang pendidik dan tenaga kependidikan beruntung berangkat umroh ke Tanah Suci dengan biaya Pemerintah Daerah. Tahun ini, Ketua  PGRI Karimun MS. Sudarmadi menjelaskan akan ada 12 orang yang akan diberangkatkan umroh. Bahkan Ketua DPRD, Raja Bahtiar saat mencabut dua undian umroh minta tambahan satu seat lagi: jadilah 13 orang. Kabarnya para guru yang beruntung ini akan ke Tanah Suci sekitar bulan Februari atau Maret nanti.

Resepsi HUT PGRI dan HGN tahun ini dilaksanakan di Kecamatan Kundur Barat pada hari Rabu (28/11/12) lalu yang salah satu acaranya adalah pencabutan undian motivasi berupa ibadah umroh itu. Tentu saja hanya untuk yang muslim. Jika undian yang beruntung adalah non muslim maka kepadanya tetap diberi uang sebesar anggaran umroh itu. Resepsi peringatan HUT PGRI memang merupakan puncak dari berbagai kegiatan dalam rangka HUT PGRI dan peringatan HGN di Kabupaten Berazam. Berbagai kegiatan selain 'pencabutan undian umroh gratis' sebenarnya sudah dilaksanakan sebelum acara puncak ini.

Pada tanggal 22 November lalu, misalnya sudah diadakan Seminar Nasional Pendidikan yang mendatangkan pakar pendidikan dari UNJ (Universitas Negeri Jakarta) dan UR (Universitas Riau) Pekanbaru sebagai nara sumber. Dr. Dwi Deswary, MPd (UNJ) dan Prof. Dr. Firdaus LN, MSi (UR) pembicara utama pada seminar sehari itu juga didampingi dua pembicara lokal, Dr. H. Nurdin Basirun, S. Sos M.Si (Bupati Karimun) dan Raja Bahtiar, MM (Ketua DPRD Karimun). Kedua tokoh ini memang termasuk orang yang sangat konsen dengan kemajuan pendidikan di Karimun.

Selain seminar itu, sebelum acara puncak resepsi silaturrahim antar anggota PGRI se-Kabupaten Karimun, juga sudah diadakan apel bendera memperingati HUT PGRI ke-67 dan HGN Tahun 2012 dengan Pembina Upacara Bupati Karimun, H. Nurdin Basirun. Acara itu dilaksanakan hari Senin (26/11) lalu dengan mengambil lapangan upacara Costal Area, Tanjungbalai Karimun sebagai tempat upacaranya. Ribuan guru dan para siswa membludak, memenuhi lapangan di lokasi wisata Karimun itu.

Barulah acara puncak resepsi itu. Hadir dalam resepsi tahun ini Wakil Bupati Karimun, H. Aunur Rafiq, S. Sos M. Si menggantikan Bupati yang kebetulan ada tugas keluar kota. Selain wakil bupati juga hadir FKPD (Forum Komunikasi Pemerintah Daerah) yang merupakan petinggi kabupaten seperti Kapolres, Danlanal, Kajari (diwakili) dan beberapa orang anggota DPRD Kabupaten Karimun, termasuk ketuanya. Tentu saja para Kepala Deinas dan Kantor di lingkungan Pemerintahan Kabupaten ikut hadir juga.
Ramainya para guru dan pegawai pendidikan yang hadir kali ini tidak lepas dari program undian umroh gratis yang diadakan panitia. Dua ribuan guru-pegawai hadir dari 3.500-an orang pendidik dan tenaga kependidikan di kabupaten. Sebenarnya semua mereka ingin hadir. Hanya karena kebijakan panitia tidak meliburkan semua sekolah (sesuai izin Dinas Pendidikan) maka sebagian guru tidak bisa hadir ke tempat acara. Namun undian untuk mereka tetap ada dan tetap berkesempatan memenangkan undian itu.

Kebijakan pemberian penghargaan tahunan berupa umroh kepada para guru dan pegawai (sebagai anggota PGRI) bersempena HUT PGRI dan HGN merupakan kebijakan yang menunjukkan betapa Pemda mempunyai perhatian yang kuat kepada insan pendidik. Harapannya tentu saja para guru mempunyai memotivasi khusus dalam mengemban tugasnya. Dengan penghasilan yang memadai karena adanya tunjangan daerah disamping gaji tetap dan tunjangan program sertifikasi dari Pemerintah Pusat. guru sudah sewajarnya lebih gigih dan bersemangat dalam melaksanakan tugas. Istilah Umar Bakri yang miskin sudah tidak tepat karena Umar Bakri hari ini sudah berpenghasilan lumayan. Dan undian umroh garatis itu hanyalah bagian kecil dari strategi motivasi yang mesti dipupuk.

Pertanyaannya, sudahkah para guru mewujudkan harapan bangsa untuk mendidik dan membimbing peserta didiknya menjadi manusia yang berkarakter mulia demi masa depan bangsa dan masa depan peserta didik itu sendiri? Image negatif guru malas, guru tidak berintegritas, guru penjiplak, guru tak jujur dan tak bversemangat, sejatinya sudah ditinggalkan. Selamat Ualang Tahun sahabat Guru.***

Seperti sudah dipublish di: http://edukasi.kompasiana.com/2012/11/29/resepsi-hut-pgri-dan-undian-umroh-itu-506724.html

Minggu, 25 November 2012

U-50: Bertaji Tumpul, Bernasib Baik

KESEBELASAN usia tua, U-50-an itu hari Sabtu ( 24/11) sore tidak segarang di partai awal kemarin. Kalau kemarin kesebelasan para Kepala Sekolah itu mampu menekuk kesebelasan Ranting II PGRI Meral yang usianya rata-rata lebih muda tapi hari ini ‘tajinya’ tampak betul sudah lemah dan tak tajam. Padahal kemarin kesebalasan yang dikalahkannya adalah kesebelasan yang pada tahun lalu menjadi juara di turnamen ini (baca: http://www.mrasyidnur.blogspot.com/2012/11/ketika-kesebelasan-u-50-turun.html). Sore hari kedua ini tampak sekali umur tua memang tidak bisa disulap-sulap dan ditutup-tutup. Tua tetap saja tua dengan tenaga yang sudah kendornya.

Tapi kesebelasan ulama (usia lanjut masih aktif) atau boleh juga disebut kesebelasanbalita (bapak-bapak lima puluh tahun) yang misi awalnya hanya sebagai penggembira di antara pemain muda usia anggota PGRI Cabang Meral justreru masih ‘ketiban’ untung. Nasib baik masih menyertai mereka. Dengan kesebelasan yang kurang lebih sama mudanya dengan kesebelasan Ranting II bahkan tampak lebih berbadan kekar, klub tua ini masih mampu bertahan. Skor 0-0 tak berubah sejak babak pertama hingga babak kedua berakhir. Kesebelasan Ranting III yang badannya tampak tegap-tegap itu sepertinya kesal tidak mampu menjebol gawang kesebelasan U-50-an sekaligus mengalahkannya.

Permainannya sendiri tidak kurang menarik. Jatuh-bangun (untungnya tidak sampai tersungkur tak bangun) seperti di partai awal masih terjadi. Sorak-sorai penonton melihat bapak-bapak ‘gaek’ bermain bola membuat lapangan Sepakbola Pangke, Meral seperti penuh oleh penonton. Padahal penontonnnya sendiri hanya puluhan orang saja. Mereka adalah para guru dan beberapa siswa yang ingin meramaikan pertandingan antar ‘cikgu’ itu. Sorak-sorainya itu yang membuat suasana menjadi ramai.

Di babak pertama permainan di tengah terik matahari itu tampak hati-hati sebenarnya. Kesebelasan Ranting III sepertinya tidak ingin terjadi keteledoran seperti nasib kesebelasan Ranting II semalam. Kesebelasan balita pun juga berhati-hati. Di bagian pertahanan tampak lebih ramai pemainnya. Jadi, akan terciptanya gol seperti tidak akan mudah.

Di babak kedua, kesebelasan Ranting III berusaha menyusun serangan lebih terarah. Beberapa kali tusukan ke jantung pertahanan kesebelasan ulama mereka lakukan. Tapi gol tetap tidak terjadi. Di pihak lain, serangan kesebelasan U-50-an tidak juga kunjung menghasilkan gol. Dan skor kacamata benar-benar tidak dapat dielakkan.

Skor sama ini mengantarkan kedua kesebelasan untuk beradu tendangan finalti. Peraturan turnamen ini memang mengharuskan salah satu kesebelasan untuk gugur. Pemenangnya akan menjadi salah satu finalis menentukan juara pertama. Dan di sinilah ‘nasib baik’ itu menyertai kesebelasan orang tua-tua itu. Lima penendangnya sebenarnya hanya memasukkan dua gol. Itu tentu saja hasil yang tidak baik.

Tapi tunggu. Ternyata penendang kesebelasan Ranting III malah hanya bisa menjebol gawang lawannya satu kali saja. Empat penendangnya melenceng dan ada pula yang berhasil ditepis kiper berusia senja itu. Kesebelasan tua ini memang bertaji tumpul, sore kemarin tapi tetap bernasib baik. Hari Senin besok, kesebelasan ini akan bertanding di final melawan kesebelasan Ranting yang pointnya lebih tinggi di antara ketiga Ranting yang ikut dalam turnamen ini. Bravo rekan-rekan berusia tua tapi bergairah muda. Dirgahayu PGRI dan merdeka.***

Sabtu, 24 November 2012

Ketika Kesebelasan U-50-an Turun


SIAPA sangka gaek-gaek itu masih sanggup berlarian di lapangan hijau. Meskipun terkadang terjatuh tunggang-langgang karena beradu dengan lawan, mereka kembali bangkit dan berlari lagi. Si kulit bundar yang hanya tepat dan enak dimainkan oleh yang berusia muda, mereka perebutkan di tengah teriknya matahari sore. Jumat (23/11) sore itu adalah hari pertama turnamen sepakbola dalam rangka memperingati HUT PGRI dan HGN di Meral, Karimun tahun 2012.

Ada empat klub yang bertanding dengan sistem kompetisi penuh. Masing-masing satu klub untuk tiga ranting yang ada di Meral ditambah satu klub khusus para Kepala Sekolah. Klub terakhir inilah yang membuat para penonton terpingkal-pingkal sambil terkagum-kagum. Terkagum-kagum? Ya, karena ternyata mereka mampu melumpuhkan klub anggota PGRI Ranting II yang terdiri dari guru-guru dan pegawai muda usia, berbanding usia para Kepala Sekolah yang rata-rata sudah di atas 50 tahun itu.

Menurut catatan panitia, klub yang ditumbangkan oleh para pemain ‘ulama’ alias usialanjut masih aktif itu adalah klub yang pada turnamen yang sama tahun lalu keluar sebagai juara pertama. Mereka adalah champion turnamen ini pada tahun lalu. Tapi sore semalam itu mereka tidak menduga akan dipermalukan dengan skor 3-2 oleh pemain yang sudah karatan. Malah mereka sempat tertinggal 0-2 pada babak pertama.

Turunnya kesebelasan U-50-an ini sebenarnya hanyalah untuk memberi semangat kepada kesebelasan dari para guru dan pegawai Tata Usaha Sekolah. Turnamen antar anggota PGRI ini pun baru dimulai sejak tahun lalu sebagai memperingati dan memeriahkan hari lahirnya organisasi guru itu. Setiap bulan November, turnamen ini dilaksanakan oleh Pengurus Cabang PGRI Kecamatan Meral. Dan ide membuat klub khusus para Kepala Sekolah –SD-SLTA– ini adalah untuk membuat suasana gembira saja. Menyaksikan para pemain usia tua memang terasa nikmat tersendiri bagi penonton.

Hebatnya, ternyata pada tahun ini mereka mampu menjebol gawang pemain yang lebih muda dan memenangkan pertandingan. Dalam aksi di lapangan sore semalam itu, sesungguhnya mereka tidak berharap menang. Pihak lawan pun sepertinya yakin akan memenangkan pertandingan itu. Tapi ketika di menit-menit awal, disebabkan kesalahan pemain belakang klub Ranting II itu para penyerang klub U-50-an mampu menjebol gawang mereka, tiba-tiba saja para pemin tua ini lebih bersemangat. Dan pada saat itulah pertandingan ini semakin terasa lucu karena beberapa pemain klub Kepala Sekolah banyak terjatuh karena berusaha mengejar bola dan menahan serangan lawan.

Pertandingan kian seru, ketika beberapa saat akan berakhir babak pertama jala gawang kesebelasan Ranting II kembali koyak. Para penonton yang terdiri dari para guru dan beberapa orang siswa juga semakin bersorak-sorai memberi semangat kepada para pemain ulama ini. Tekanan yang bertubi-tubi dari kesebelasan lawan berusaha ditahan para pemain senja usia ini.

Di babak kedua, permainan semakin hangat. Klub mantan juara tahun lalu ini berusaha menekan habis-habisan. Di menit ke 56 barulah balasan datang. Tertinggal satu angka, mereka semakin bergairah mengurung pertahanan lawan. Tapi kesebelasan U-50-an tetap tenang. Alih-alih menyamakan, justeru gawang klub yang lebih muda itu jebol lagi. Skor menjadi 3-1. Dan baru pada menit-menit menjelang usai babak kedua, mereka kembali mengurangi defisit kekalahan. Stand 3-2 bertahan hingga usai pertandingan. Sabtu sore ini, pertandingan akan dilanjutkan dengan mempertemukan lawan yang belum saling bertemu pada Jumat sore itu. Ternyata menyaksikan kesebalasan U-50-an itu asyik juga. Dirgahayu PGRI. Dirgahayu para guru RI.***

Dapat juga dibaca di: http://olahraga.kompasiana.com/bola/2012/11/24/ketika-kesebelasan-u-50-turun-505555.html

Catatan dari Seminar Pendidikan HUT PGRI Karimun


DALAM rangka memperingati dan memeriahkan HUT (Hari Ulang Tahun) PGRI (Persatuan Guru Republik Indonesia) ke-67 dan HGN (Hari Guru Nasionl) tahun 2012 Dewan Pengurus PGRI Kabupaten Karimun mengadakan Seminar Nasional Pendidikan, Kamis (22/11/12) bertempat di Gedung Nasional Tanjungbalai Karimun. Seminar diikuti oleh para Kepala Sekolah –dari TK - SLTA– se-Kabupaten Berazam ini dengan menampilkan empat orang pemakalah.

Seminar dengan tema “Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) dalam Rangka Menguatkan Kemandirian Sekolah” dimaksudkan untuk memberikan pencerahan kepada para Kepala Sekolah di Kabupaten Karimun. Hadir sebanyak 284 orang para Kepala Sekolah (negeri-swasta) plus panitia dan pengurus PGRI, membuat gedung tua itu terasa sempit. Syukurnya, AC di ruangan gedung itu masih berfungsi sehingga tidak membuat gerah peserta seminar sehari itu.

Dari list dan jadwal kegiatan seminar yang disebarkan panitia, terdapat empat orang pembicara yang akan menyampaikan makalahnya. Keempat orang tersebut adalah, 1) Dr. H. Nurdin Basirun, S Sos M Si (Bupati Karimun); 2) Dr. Dwi Deswari, M Pd (dosen Universitas Negeri Jakarta); 3) Raja Bahtiar, S Ag MM (Ketua DPRD Karimun); dan 4) Prof. Dr. Firdaus LN, M Si (Guru Besar Universitas Riau, Pekanbaru). Mereka secara bergantian menyampaikan makalah masing-masing sebelum sesi diskusi/ tanya jawab dengan peserta seminar dilaksanakan.

Tampak begitu antusiasnya para pemimpin sekolah dalam mengikuti seminar. Apalagi  tema yang diambil panitia adalah tema yang bersinggungan langsung dengan para penanggung jawab sekolah itu. Hampir dua jam di sesi pertama itu keempat pemakalah berbicara, para Kepala Sekolah tetap serius mengikuti dan mendengarkannya.

H. Nurdin Basirun yang tampil pertama kali memberikan makalah dengan judul “Peran Pemerintah Daerah Kabupaten Karimun dalam Meningkatkan Kualitas Sumber Daya Manusia Guna Menciptakan Daya Saing Investasi dan Lapangan Kerja dalam Rangka Pembangunan Nasional di Daerah Perbatasan”. Dengan bahasa yang lugas, bupati yang terkenal dekat dengan rakyatnya memberikan beberapa penekanan tentang perlunya para Kepala Sekolah mengelola sekolah untuk lahirnya generasi terampil, beretos kerja tinggi dan berkarakter untuk munculnya generasi yang dapat bersaing dengan keadaaan sekarang. Persaingan global bergitu ketatnya, katanya mengingatkan.

Ibu Dwi Deswary yang tampil berikutnya lebih banyak menyoroti dan menjelaskan tentang peran Kepala Sekolah sebagai leader dan manajer di sekolah. Dosen UNJ yang lahir di Subang, 22 Desember 1961 itu mengingatkan perlunya kepemimpinan yang kuat dan baik di sekolah. “Pemimpin yang baik bukanlah pemimpin yang selalu mencari alasan terhadap kesalahan dan kegagalannya mencapai hasil yang baik,” katanya. Pemimpin yang baik justeru dengan sportif memikul setiap kegagalan yang terjadi di institusi yang dipimpinnya. Tidak perlu mencari-cari kesalahan pihak lain. Waktu 25 menit yang disediakan moderator terasa pendek oleh ibu dosen ini.

Ketua DPRD, Raja Bahtiar yang sengaja diminta panitia ikut menjadi pemakalah dalam seminar, lebih banyak menguraikan karakteristik manusia dilihat dari berbagai profesi. Politisi, akademisi, guru dan lain-lain, katanya akan mempunyai perbedaan dalam menyikapi keadaan. “Yang pasti, dua orang yang saya kagumi dalam hidup ini adalah orang tua dan guru,” urainya berfilsafat. Kedua sosok ini sangatlah penting dalam kehidupan manusia. Menyampaikan makalah dengan judul “Peran dan Komitmen Legislatif dalam Pendidikan di Karimun” Raja Bahtiar menjelaskan bagaimana anggota dewan bersama Pemerintah Daerah dalam membuat kebijakan di bidang pendidikan. “Yang pasti anggaran pendidikan kita melebihi 20 persen yang ditentukan undang-undang,” katanya.

Di bagian akhir, tampil Firdaus LN, putera Dabok Lingga yang terkanal keras tapi kocak itu. Guru Besar Ekofisiologi pada Program Studi Pendidikan Biologi Jurusan MIPA FKIP Universitas Riau, Pekanbaru itu membawakan makalah dengan judul “Kemandirian Sekolah dalam Menyikapi Implementasi Beban Kerja Guru Profesional”  yang disampaikan secara serius tapi kocak plus melawaknya. Pak Firdaus yang terkenal idealis ini mengatakan masih banyaknya guru yang belum memahami beban kerjanya sebagaimana diamanahkan Permendiknas No 10 tahun 2011. Kepala Sekolah juga masih ada yang keliru memahami beban tugas minimal 24 jam yang menjadi beban tugas guru. “Perlu membaca ketentuan itu sampai khatam,” katanya berulang-ulang.

Firdaus juga menyentil para guru atau para Kepala Sekolah yang tidak kreatif. Kepala Sekolah mestinya tidak menunggu saja apa yang akan dibuat di sekolah. Pemerintah boleh membuat kebijakan tapi implementasinya di sekolah adalah tanggung jawab Kepala Sekolah. Kemajuan dan kehancuran sekolah sepenuhnya akan ditentukan oleh Kepala Sekolah.
Tanpa jedah, setelah penyampaian makalah seminar dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Waktu 90 menit yang disediakan moderator (sesuai jadwal dari panitia) terasa sangat singkat. Hanya lima orang saja peerta seminar yang berkesempatan bertanya. Seminar yang dibuka bupati pagi hari pukul 09.00 ditutup tepat pukul 13.45 karena kesempatan istirahat isoma memang tidak diadakan. Semoga seminar ini ada manfaatnya demi kemajuan dan peningkatan mutu pendidikan di Kabupaten Karimun.***
Tulisan sudah dipublish di: http://lifestyle.kompasiana.com/catatan/2012/11/23/dari-seminar-pendidikan-nasional-hut-pgri-505305.html 

Jumat, 23 November 2012

Guru Buka Jilbab karena Tunjangan Profesi?


INI berita tidak baik buat guru. Ada guru yang tega melepas jilbab penutup auratnya demi uang sertifikasi. Sebagai muslimah, sejatinya mempertahankan keyakinan akidah jauh lebih utama dari pada uang tunjangan profesi itu. Ini jelas cara berpikir dan tindakan tidak baik bagi seorang ibu guru yang meyakini menutup aurat itu wajib hukumnya.

Penyebab guru muslimah membuka jilbab ini adalah karena peraturan intern sekolah tempatnya mencari tambahan jam mengajar yang mengharuskan setiap guru wanita membuka penutup kepala (jilbab) ketika berada dan mengajar di sekolah tersebut. Yayasan punya aturan sendiri mengenai berpakaian di sekolah. Tidak dibenarkan wanita mengenakan pakaian menutp kepala walaupun itu untuk keyakinan guru bersangkutan.

Di satu sisi, ada peraturan yang mewajibkan setiap guru wajib mengajar minimal 24 jam prlajar per minggu sebagai syarat pembayaran tunjangan profesi guru. Di sisi lain ada sekolah yang karena kelebihan guru tidak bisa membagi tugas minimal 24 jam itu kepada semua guru. Akibatnya guru bersangkutan dipersilakan mencari tambahan jam mengajar di sekolah lain. Dan karena sekolah yang ada hanya sekolah yang mempunyai peraturan tak boleh berjilbab maka hanya ada dua pilihan bagi guru ini, mengambil tambahan jam di sekolah tersebut dengan risiko buka jilbab atau merelakan tunjangan profesinya tidak diterima.

Bagi guru yang memilih opsi pertama itulah yang membuat perasaan kita terenyuh dan sedih. Siapakah yang bertanggung jawab terhadap pengabaian keyakinan akidah seperti itu? Apakah itu sepenuhnya menjadi tanggung jawab guru bersanglutan, atau menjadi tanggung jawab sekolah yang tidak bisa memenuhkan jam mengajar gurunya atau bisa jadi tanggung jawab pemetintah?

Bersempena bulan petingatan hari PGRI dan HGN 2012 ini sudah seharusnya, ini menjadi perhatian kita sebagai guru khususnya menjadi poerhatian para pengurus PGRI yang nota bene adalah guru. Jangan hal seperti ini terjadi terus-menerus tanpa solusi. Sudah saatnya semua pihak membicarakan masalah ini. Guru kekurangan jam mengajar, pada dasarnya bukan karena kesalahan guru tersebut. Lebih karena kebijakan sekolah atau kebijakan Dinas Pendidikan yang membiarkan guru-guru menumpuk di satu sekolah sementara di sekolah lain kekurangan guru. Semoga hal ini segera ada jalan keluarnya.***

Seperti sudah dipublish di: http://edukasi.kompasiana.com/2012/11/18/guru-buka-jilbab-demi-tunjangan-profesi-504081.html 

Sabtu, 10 November 2012

Petinju juga Bisa Jadi Pahlawan*


CHRIS John dan Daud Yordan, dua petinju Indonesia penyadang gelar juara dunia WBA dan IBO masing-masing berhasil mempertahankan sabuk juaranya atas lawannya masing-masing di Marina Bay Sands, Singapore. Kemanangan ini bermakna ganda karena diperoleh menjelang datangnya tanggal bersejarah, Hari Pahlawan. Kedua petinju ini seolah memperingati Hari Pahlawan 2012 ini dengan persembahan sabuk juara masing-masing.

Daud Yordan yang bertarung lebih dulu, menunjukkan kepahlawanannya di ring tinju dengan mengalahkan petinju Mongolia, Choi Tseveenpurev, (Jumat, 09/11) malam. Meskipun gagal menumbangkan lawannya dengan KO tapi kemenangan angka mutlak itu cukup buat Daud untuk menjadikan dirinya sebagai pembuat sejarah bagi Choi. Tentu saja peristiwa malam tadi itu mengagumkan kita, rakyat Indonesia. Konon, Choi adalah petinju yang belum pernah terkalahkan dengan KO atao TKO selama ini.

Bagi Daud Yordan kemenangan angka dengan selisih angka yang jauh itu sangat berarti, tentunya. Bertepatan dengan peringatan Hari Pahlawan 2012 ini tentu saja kemenangan yang mengharumkan bangsa itu penting pula bagi kita semua. Peristiwa Heroik 10 November 1945 di Surabaya yang mempertemukan antara tentara kita melawan penjajah Belanda seolah ikut diperingati oleh kemenangan di ring tinju ini.

Buat yang menyaksikan langsung atau via televisi yang menyiarkan langsung malam tadi, kita menyaksikan dari ronde pertama hingga ronde ke-12 Daud Yordan sangat menguasai ring tinju iu. Dia benar-benar menunjukkan kepahlawanannya. Tanpa dia menyebut diri sebagai pahlawan tentu saja rakyat Indonesia layak menyebutnya sebagai pahlawan di bidang olahraga, khususnya di ring tinju.

Daud tidak sendirian membuat sejarah bersempena peringatan Hari Pahlawan ini. Seorang lagi petinju Indonesia, Chris John juga mencatatkan namanya sebagai pahlawan di ring tinju. Bertindak sebagai kelas utama, Chris tidak mengecewakan bangsanya.

Kita dapat menyaksikan, Chris John yang bertarumg di partai pemungkas tidak kurang menunjukkan kepahlawanannya. Dia tidak ingin menyia-nyiakan momen peringatan Hari Pahlawan sekaligus momen kemenangan Daud Yordan beberapa menit sebelumnya. Dua belas ronde yang dijalaninya melawan petinju Thailand, Chonlatarn Piriyapimyo dia masih menunjukkan kelasnya walaupun usianya tidak lagi muda. Chris yang umurnya lebih tua menambah rekor tak terlalahkan untuk dirinya. Dalam 50 kali naik ring, Chris memenangkan 48 kali dan seri dua kali. Sementara Chonlatarn yang sudah 44 kali naik ring dan belum terkalahkan, kali ini merasakan kekalahan untuk pertama kali. Bagi Chonlatarn itulah sejarah baru kekalahannya sementara bagi Chris itulah sejarah manis bersempena hari pahlawan tahun ini.

Bagi kita pula, bersempena memperingati Hari Pahlawan hari ini,  sudah sepantasnya kita merasa bangga dengan tampilnya dua pahlawan tinju ini. Di tengah catatan kekalahan di berbagai bidang dan cabang olahraga tahun-tahun belakangan, kemenangan dua petinju ini tentulah penting buat bangsa kita. Kita tahu cabang buluntangkis, andalan Indonesia selama ini di arena Internasional sudah lama tidak dapat mencatat sejarah. Kekisruhan di PSSI dengan lahirnya dua kubu liga di Tanah Air juga menyesakkan dada kita karena tim sepakbola kita tidak pernah bias bicara di arena jagat raya. Bahkan di Asia dan Asean saja tertinggal jauh di belakang Negara lainnya.

Maka penampilan kedua pahlawan olahraga ini dapat jugalah mengobati dahaga juara cabang olahraga bangsa kita. Nama-nama seperti Ferry Sonneville, Rudy Hartono, Susi Susanti di cabang bulutangkis memang pernah menjadi pahlawan olahraga kita di blantika dunia. Tapi kini catatan manis cabang teplok bulu ayam itu sudah lama tiada. Penampilan Daud Yordan dan Chris John malam tadi itu sudah sewajarnya membuat kita bahagia. Mereka memperingati hari pahlawan dengan menyumbangkan sabuk juara. Para pelajar, sepantasnya menjadikan kemenangan dalam momen Hari Pahlawan itu sebagai pelajaran yang berharga. Selamat Daud dan Chris.***
*Ditulis dari tulisan http://lifestyle.kompasiana.com/catatan/2012/11/10/daud-dan-chris-peringati-hari-pahlawan-dengan-sabuk-juara-501911.html

Sabtu, 03 November 2012

Tak Memberi, ya Menerima


INTERNET dapat menjadi wadah memberi dan bisa pula untuk menerima antar sesame masyarakat dunia. Melalui internet dunia yang begitu besar ternyata bisa menjadi terasa kecil. Dengan internet jarak yang sangat jauh terasa dekat. Lebih dahsyat, dengan internet orang yang belum pernah bertemu, belum pernah berkenalan dan berteman secara langsung, bisa menjadi begitu akrab. Seolah selalu merasa bersama walau hanya di dunia maya.

Blog, facebook, twitter dan banyak lagi media sosial lainnya terbukti mampu menghubungkan manusia yang satu dengan lainnya walaupun berada di tempat yang jauhnya entah di mana. Seorang facebooker menyebut dirinya berteman dengan ribuan bahkan jutaan sahabat di seantero dunia. Bahkan salah seorang sahabat saya (di facebook dan blog) mengatakan akun facebooknya sudah kepenuhan karena begitu banyaknya sahabat facebooknya yang bergabung dalam persahabatan dunia mayanya.

Sesungguhnya dunia maya telah memberi kita dua pilihan: menjadi pemberi atau menjadi penerima. Bahkan kita dapat memilihnya kedua-duanya sekaligus: sambil menerima juga memberi. Lewat tulisan-tulisan yang lahir di dunia maya, kita dapat menerima sekaligus memberi berbagai informasi berupa pengetahuan, pengalaman atau apa saja. Setiap sepersekian detik kita dapat mengakses jutaan informasi dan setiap sekian menit atau jam kita dapat pula menyampaikan berbagai pengalaman kita melalui dunia maya.
Tidak seharusnya internet masih diperdebatkan antara manfaat dan mudhoratnya. Seharusnya internet dijadikan sarana utama penghubung dunia secara baik dan sehat. Buku-buku yang menulis tentang perlunya berinternet secara sehat dan bermanfaat, sudah seharusnya kita pahami betul. Jangan lagi ada keraguan terhadap keberadaan internet yang nyata telah menghubungkan manusia dari segala penjuru dunia.

Di atas itu semua, dunia maya tetap akan memberi pilihan kepada kita antara mau memberi atau menerima saja. Jika pun kita tidak berkesempatan dan atau tidak berkemampuan untuk memberi melalui internet, mari menjadi penerima saja. Mari dijadikan internet sebagai sarana pencari ilmu dan informasi yang tentu akan berguna buat kita. Dengan membaca atau mengikuti berbagai tulisan yang muncul di internet, kita dapat menimba ilmu di dalamnya.
Sebaliknya jika kita berkemampuan dan berkesempatan melahirkan karya tulis dan atau karya kreatif lainnya untuk disiarkan di dunia maya, berarti kita pun sudah berposisi sebagai pemberi kepada pembaca (pengunjung) lain. Sesedikit apapun yang dapat kita sampaikan, itu tetap akan berguna bagi orang lain.

Bahwa di dunia maya juga terjadi pelanggaran dan penyalahgunaan, itulah kenyataan yang membuat kita masih risau. Ada banyak juga kejahatan terjadi. Dari perkenalan di facebook misalnya berlanjut kepada kejadian kejahatan seumpama perkosaan. Bisa pula dalam bentuk pencemaran nama baik dan lain-lainnya. Adanya peraturan dan perundangan tentang IT (Information Teknology) kiranya dapat mengatasi atau mengurangi kejahatan dunia maya.

Sejatinya dunia maya yang terhubung melalui internet adalah wadah yang indah untuk kita saling memberi dan atau sekedar menerima. Seminimal manfaat yang dapat kita ambil adalah untuk mencari dan menambah informasi yang kita perlukan dalam kehidupan ini. Itulah pembelajaran tiada henti yang dapat diwujudkan.Terutama bagi warga sekolah –guru dan murid—dunia maya begitu sangat penting keberadaannya. Semoga sebagai warga sekolah, kita dapat memanfaatkan internet untuk berkreasi dan berinovasi. Memberi atau sekedar menerima, sama baiknya.***

Kamis, 01 November 2012

Emosi DI yang Tak Berwajah Emosi

EMOSI dan amarah Dahlan Iskan (DI) pernah kita lihat dan baca beritanya ketika DI menemukan antrian panjang di pintu tol Semanggi arah Slipi, Maret lalu. Spontan dia turun dari mobilnya karena menyaksikan pintu yang baru difungsikan hanya dua dari empat pintu yang tersedia, lalu dia membuka pintu lainnya. Selanjutnya dia mempersialakan dan membiarkan mobil yang sudah menunggu lama untuk masuk jalan tol. Sesak di mulut tol itupun terurai. Besoknya, berita itu menghiasi koran dan media lainnya.

 Kita juga pernah membaca berita tentang Dahlan Iskan yang emosi melihat Bandara Sukarno-Hatta yang jorok dan kotor salah satu toiletnya, Agustus lalu. Karena WC yang kotor itu Dahlan Iskan marah dengan cara membersihkan alat fital itu sendiri. Dia berjongkok menggosok wc itu langsung yang kebetulan belakangan diketahui oleh pengelola bandara itu. Itu berita dan gambarnya yang kita baca di beberapa media cetak. (lihat misalnya di http://www.tempo.co/read/news/2012/08/29/090426141/Mau-Hadiahi-KAI-dan-ASDP-Dahlan-Takut-Kualat). Mungkin masih ada banyak berita perihal marahnya DI yang lain untuk kasus yang lain pula.

Sesungguhnya DI tidak terkenal sebagai manusia suka emosi dan pemarah. Mantan wartawan ini justeru terkenal sebagai manusia suka tersenyum dan bertipe guyonan. Kebanyakan pengamat menyebut DI sebagai orang yang lebih banyak tertawanya dari pada marahnya. Bahkan jika pun sedang marah, dia juga tampak tertawa saja.

Itu pula yang saya lihat lewat acara talk show salah satu televisi swasta sore menjelang magrib (Rabu, 31/10/12) semalam. Acara itu mengupas ‘tuduhan’ anggota DPR terhadap kinerja DI selama menjabat Dirut PLN. Dengan menyebut hasil audit BPK, anggota DPR sepertinya ingin menghukum DI yang dikatakan tidak becus mengurus PLN. Potensi kerugian 37-an T yang disebut BPK dalam laporan audit itu dipakai alasan memanggil DI. Dua kali panggilan, DI memang belum berkesempatan menghadirinya.

Hari-hari belakangan ini adalah hari-hari DI sibuk menjawab pertanyaan wartawan perihal ‘perang DI vs DPR’ yang memenuhi waktu dan halaman media. Sore semalam itu DI yang berada di tempat lain berhadapan dengan dua pewancara televisi dan satu orang pakar ekonomi Ichsanuddin Nursi di studio televisi sementara di tempat yang berbeda, ada seorang anggota dewan yang sangat-sangat getol mempersoalkan inefisensi ala BPK itu, Efendi Simbolon. Elit PDIP inilah yang dalam talk show itu berusaha memojokkan DI dengan berbagai gayanya.

Pancingan Efendi Simbolon yang lebih banyak memojokkan DI, ditambah dua pewancara televisi yang juga berat sebelah dalam memoderasi wawancara langsung itu, membuat DI sempat mengatakan bahwa acara-acara itu (wawancara bersama anggota DPR itu) hanya menguras energi saja. Bahkan dia sempat mengatakan jika anggota dewan itu menduga ada kesalahan dirinya, lebih baik bawa saja ke ranah hukum. DI dengan suara agak tinggi mencabar untuk melaporkan saja ke polisi atau ke KPK. Bayangkan, sportifnya DI. Dia memang tidak bisa digertak begitu saja oleh Efendi Simbolon yang mengatasnamakan isntitusi DPR-RI itu.

Yang menarik bagi saya, sebegitu tidak simpatinya Efendi Simbolon kepada DI dalam setiap kalimat yang dikeluarkannya, ternyata DI tetap senyum dan biasa-biasa saja mendengarnya. Bahkan ketika menyebut dan menantang Efendi Simbolon dan dua penyiar televisi itu untuk membawa tuduhan itu ke aparat hukum DI juga tampak tersenyum saja. Saya percaya, secara normal setiap orang akan tersinggung dan jengkel mendengar stateman-statemen Efendi Simbolon seperti sore itu. Efendi Simbolon dengan pongahnya bahkan mengejek DI dengan menyebut Menteri BUMN itu sengaja mencari popularitas lewat media. Sungguh tuduhan yang tidak pantas menurut saya. Tapi DI tetap tenang. Emosi tapi tidak tampak wajah emosinya. Maju terus DI. Jika Anda benar, sejarah akan mencatat kebenaran itu, insyaallah.***

Sudah dimuat di  http://sosok.kompasiana.com/2012/11/01/emosi-di-yang-tak-berwajah-emosi-499817.html
 
Copyright © 2016 koncopelangkin.com Shared By by NARNO, S.KOM 081372242221.