BREAKING NEWS

Selasa, 28 Juni 2011

PSB: Sekolah Baru untuk Pikiran Baru

MASA-MASA Penerimaan Siswa Baru (PSB) Tahun Pelajaran (TP) 2011/ 2012 berlangsung antara tanggal 27 Juni hingga 9 Juli 2011 ini. Dari informasi yang beredar, tanggal 27 Juni hingga 2 Juli adalah masa mendaftar (ambil/ jual formulir pendaftaran). Tanggal 4 Juli seleksi peserta yang mendaftar. Dan tanggal 5 Juli para pendaftar yang dinayatakan lulus (diterima) akan diumumkan. Lalu Panitia PSB (sekarang disebut juga Panitia PPDB= Penerima Peserta Didik Baru) mempersiapkan segala sesuatunya untuk menyongsong TP baru yang akan dimulai pada 11 Juli 2011 yang akan datang. (Informasi Dinas Pendidikan Provinsi Kepri).

Setiap memulai TP baru lazimnya yang senantiasa menjadi pembicaraan hangat adalah sekolah baru, baju baru dan teman baru. Orang tua –karena desakan anak atau ambisi pribadi– lebih suka mematut-matut sekolah mana yang akan menjadi sasaran pendaftaran putra-putrinya. Jika tidak ada rayonisasi, semakin luas dan banyaklah pilihan sekolah yang akan dituju. Apalagi sekolah-sekolah yang menggunakan pendaftaran sistem online, jelas kesempatan mendaftarnya lebih luas lagi.

Tapi jika pun menggunakan sistem rayon, para calon siswa (peserta didik) baru tetap saja lebih memikirkan sekolah baru, teman baru, baju baru, sepatu baru dan hal-hal lahir lainnya. Yang ada dalam pikiran adalah siapa nanti teman barunya, di mana sekolah barunya, dst.. dst…
Sudah waktunya para pemangku kepentingan (stake holders) pendidikan sedikit mengubah pola pandang di awal tahun baru sekolah TP 2011/ 2012 ini. Yang sesungguhnya mendesak untuk diperbaharui saat ini adalah mengubah pandangan dari ’sekolah sekedar mencari ilmu’ kepada sekolah tempat menggunakan/ menerapkan ilmu.

Selama ini, hampir semua pemangku kepentingan pendidikan berpikir bahwa sekolah memang untuk menimba ilmu. Ini tidaklah salah. Tapi ketika sekolah ‘hanya’ untuk menimba ilmu tanpa merasa berkewajiban menerapkan ilmu, di sinilah keteledoran muncul. Dan yang lebih celaka tentu saja jika ternyata sekolah bukan saja tidak untuk menerapkan ilmu tapi juga tidak pula untuk menuntut ilmu.Nauzubillah.

Untuk jenis sekolah yang terakhir ini tentu saja hanya sekolahnyang sekedar berorientasi melahirkan siswa yang hanya memiliki ijazah alias Surat Tanda Tamat Belajar (STTB) belaka. Pengelola sekolah berpikir dengan ijazah saja pun orang bisa mencari pekerjaan dan akan digaji oleh negara. Yang penting ada koneksi (pendekatan) kepada pejabat yang berwewenang di situ.
Sekolah sekedar mentransfer ilmu –kepada siswa– tanpa konsep menerapkan ilmu secara langsung, tentu saja jauh lebih baik dari pada sekolah yang tidak memberi ilmu, tidak pula menerapkan ilmu (karena pasti tak mampu), tapi hanya sekedar memberi selembar kertas bukti tamat. Ini sekolah yang menyesatkan.

Yang ingin dikemukakan di sini adalah bahwa pola pikir sekedar menuntut ilmu tanpa penerapannya terbukti telah menyesatkan bangsa ini ke jurang keteledoran karena berpikir banyak ilmu sudah cukup. Padahal ilmu yang sebanyak apa juapun tidak akan berguna jika tidak diaplikasikan. Tidak diterapkan dengan baik dan jujur.

Kebobrokan di bidang hukum misalnya dapat dilihat dari konsep ini. Ketika dulu sekolah (termasuk ketika di Perguruan Tinggi) sudah nyata diajarkan bagaimana sebenarnya konsep hukum yang benar dan baik –dalam teori– namun karena waktu itu tidak dilaksanakan apa yang diajarkan itu, maka penerapannya kelak kemudian hari sudah tidak benar lagi.

Waktu siswa di sekolah, sudah diajarkan bagiamana kebenaran harus dilaksanakan. Guru menjelaskan tidak boleh berdusta. Tapi ketika guru berdusta dalam memberi nilai, siswa berdusta dalam menjawab ujian, Kepala Sekolah berdusta dalam penentuan kelulusan, dst dst maka secara langsung sekolahn telah melakukan keteledoran yang fatal. Itulah yang kelak di kemudian hari juga terjadi dalam birokrasi bangsa ini.

Jadi, tanpa berpanjang-panjang seharusnya memulai TP baru ini semua orang berpikir untuk memulai berpikir baru: laksanakan ilmu dalam kebenaran dan kejujuran.

Jumat, 24 Juni 2011

Berprestasi dengan Benar

DALAM pidato pembukaan Rakor (Rapat Koordinasi) dan Evaluasi Dinas Pendidikan Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) di Karimun hari Kamis (23/06), Bupati Karimun, H. Nurdin Basirun menyatakan perlunya meraih prestasi dengan benar. Berprestasi dengan benar? Ya, maksudnya jangan hanya mengejar prestasi tapi dengan cara-cara yang tidak benar.

Pernyataan itu keluar dari mulut bupati yang bergelar doktor (DR) itu menanggapi pidato sambutan Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Karimun, Haris Fadillah dan pidato sambutan Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Kepri, Drs. H. Yatim Mustafa, M.Pd sebelum pengarahan bupati. Pada acara pembukaan Rakor itu, terlebih dahulu memberikan sambutan kedua Kepala Dinas tersebut. Kepala Dinas Kabupaten Karimun berpidato sebagai tuan rumah --rakor Disdik Provinsi ini kebetulan diadakan di Kabupaten Karimun-- sementara Kadis Provinsi berpidato karena memang ini adalah acara orang provinsi. Dinas provinsi yang punya acara.

Kedua Kadis itu memang banyak menyinggung tentang prestasi pendidikan terutama dengan mengemukakan data-data hasil UN (Ujian Nasional) lalu. Kabupaten Karimun bangga dengan raihan pelakat Pataka Pendidikan dari Gubernur Kepri meski tidak menjadi pemuncak kelulusan UN 2010/ 2011. Pemuncak kelulusan diraih oleh Kabupaten Bintan. Oleh Gubernur Kepri, M. Sani, Karimun dianggap berhasil meningkatkan terus prestasi pendidikan di daerah ini. Berbanding enem kabupaten lain, Karimun dipandang gubernur lebih menonjol prestasinya. Pak Kadis Karimun tentulah bangga dengan pencapaian itu. Dan muncullah kebanggaan itu dalam pidato sambutannya.

Sementara Kadis Provinsi juga dengan senang hati menyebut bahwa hasil UN tahun 2010/ 2011 di Kepri sangatlah memuaskan. Dengan menyebut angka persentase kelulusan hampir 100% Kadis Provinsi itu begitu bangga dengan kinerjanya. Berbanding provinsi-provinsi lain di Indonesia, Kepri sebagai provinsi pemekaran memang tidak jelek-jelek sangat prestasi pendidikannya. Itu pula tema pidato sambutannya.

Mungkin isi kedua pidato itulah yang direspon pula oleh Bupati Karimun yang berkesempatan memberi pengarahan sekaligus akan membuka secara resmi rakor itu. "Kita harus berprestasi dengan benar," jelasnya menegaskan. Tentu saja maksud Pak Bupati itu adalah untuk mengingatkan para pemangku kepentingan pendidikan di daerah ini tentang perlunya mengevaluasi kembali, apakah raihan prestasi pendidikan selama ini sudah sesuai dengan ketentuan dan aturan atau masih prestasi 'semu' yang mengandung bom waktu?

Sebab masih beredar isu, misalnya, UN yang tidak jujur dan atau UN yang direkayasa jawabannya. Di banyak daerah di Indonesia memang masih kita dengar rekayasa UN khususnya dalam meraih kelulusan. Belakangan ada heboh seorang anak SD yang diset oleh sekolahnya untuk memberi jawaban UN kepada rekan-rekannya. Perbuatan busuk itu akhirnya beredar ke umum karena anak itu tidak tahan menyimpan barang busuk itu sendiri lalu bercerita ke ibunya. Dan ibunya itulah yang membuka borok rekayasa itu ke umum.

Kita tahu, kisah ini sampai juga ke Mendiknas, ke parlemen RI dan ke mayarakat ramai. Masyarakat yang selama ini sebagiannya memang sudah terkontaminasi oleh model-model busuk seperti itu maka muncul juga dua blok masyarakat dalam menanggapi peristiwa jelek itu. Sebagian menganggap ibu itu sebagai pahlawan kebenaran dalam UN dan banyak pula yang mencacinya.

Dengan menyebut beberapa contoh kebobrokan dalam UN, Bupati Karimun itu mengimbau jajaran pendidikan yang hadir di GOR Tertutup Badang Perkasa Karimun itu untuk kembali ke pangkal jalan kebenaran bilama mana selama ini ternyata terjadi pula keboborkan UN itu di daerah ini. "Mari kita berprestasi dengan benar," imbaunya. Mungkin bupati mendengar juga selentingan kecurangan pelaksanaan UN di daerah kekuasaanya ini. Atau mungkiin dia juga mendengar bahwa di provinsi termuda ini juga belum lepas dari budaya contek-mencontek dalam UN. Kalau itu benar, memang bisa menjadi bom waktu suatu saat nanti.

Kita semua memang wajib terus mengawas dan mengawal sekaligus melaksanakan usaha-usaha meluruskan perburuan prestasi dalam pendidikan ini. Jika Indonesia ingin menjadi negara yang maju ke depan, pendidikan yang masih banyak salah arah ini wajib diluruskan. Tidak waktunya lagi, misalnya, memburu kelulusan seratus persen dengan cara-cara curang. Itulah benih perusak pendidikan yang akan meledak dan menghancurkan bangsa ini. Berprestasi dengan benar, adalah azas yang tepat untuk meluruskan langkah itu. Semoga.***
 
Copyright © 2016 koncopelangkin.com Shared By by NARNO, S.KOM 081372242221.