BREAKING NEWS

Selasa, 26 April 2011

Sore Sabtu Kelabu (2)

SAYA masih tertegun. Serasa tidak percaya apa yang baru saja diucapkan perawat tadi. “Bapak sabar ya, Pak.” Kalimat itu bagaikan petir dalam sunyi yang menghancurkan segala harapan saya. Saya sesungguhnya berusaha mencoba sabar. Tapi tidak mudah. Ternyata menyuruh dan mengajarkan orang-orang untuk sabar ketika memberi nasehat kepada seseorang, tidak semudah itu melaksanakannya pada diri sendiri. Saya benar-benar tidak bisa mempercayai kalau isteri saya telah pergi untuk selama-lamanya. Dia tidak akan pernah kembali lagi. Anak-anak saya –Kiky dan Opy— yang kebetulan mereka berdua saja bersama saya malam itu, masih tersedu sambil memanggil mamanya. Satu lagi anak saya, Ery, di Tanjungpinang menyelesaikan kuliahnya di UMRAH. Dia pasti juga sedang galau saat ini. Beberapa saat sebelum ke rumah sakit tadi, dia sempat diberi tahu kalau mamanya dalam keadaan sakit. Tapi belum sempat diberi tahu lebih detail sakitnya karena buru-buru harus ke rumah sakit.

Dalam kebingungan seperti itu saya berusaha ingin menelpon orang-orang yang seharusnya saya telpon untuk menyampaikan nasib tragis isteri saya. Aduh, HP saya ternyata tidak ada di saku saya. HP itu ternyata tertinggal di rumah karena tadi terburu-buru membawa isteri saya ke rumah sakit. Saya mau minta tolong ke siapa, saya juga tidak tahu. Cobaan ini benar-benar berat rasanya.

Akhirnya saya melihat ada salah seorang guru SMA Negeri 3 Karimun, M. Ridwan menghampiri saya. Pak Iwan begitu saya memanggil guru olahraga itu juga dalam keadaan panik menyaksikan saya yang seperti orang linglung. Dia bertanya, “Kenapa Ibu, Pak?” Saya menjelaskan, “Ibu sudah tidak ada, Wan. Ibu sudah meninggalkan kita, Wan.” Saya menangis tersedu menyampaikan kalimat-kalimat itu.

Saya mendengar Pak Iwan spontan terperanjat dan seperti orang melolong setelah mendengar saya. Dia ikut bergegas melihat isteri saya yang sudah terbaring diam di atas meja dorong itu. Dia pasti tak kan percaya kalau janazah yang ada di depan saya itu adalah isteri saya yang pada hari Jumat malam membezuk isterinya di RSUD itu.

Saya dan isteri memang baru saja dari rumah sakit itu malam sebelumnyta. Jumat petang menjelang malam itu saya mendapat SMS dari Pak Iwan. Dia minta izin untuk tidak mengajar besok, hari Sabtu. Katanya isterinya masuk rumah sakit karena gangguan pada jantung. Ada di lantai VI RSUD, begitu dia memberi informasi via SMS itu ke HP saya. Pak Iwan memang salah seorang guru SMA Negeri 3 Karimun, sekolah yang saya pimpin sejak awal tahun 2008 lalu. Untuk itu dia memang harus minta izin jika tidak bisa melaksanakan tugas. Itu kewajiban seorang guru.

Ketika saya beritahu kalau isteri Pak Iwan sedang di rumah sakit, isteri saya langsung mengingatkan dan mengajak saya melihatnya malam itu juga. Dia selalu tidak mau menunda-nunda menjenguk orang sakit. Makanya kami pergi malam itu ke rumah sakit. Masih terngiang di telinga saya bagaimana isteri saya bergurau dengan isteri Pak Iwan yang tengah terbaring dengan tali infus di tangan. “Awak terlalu capek tuh, Tuhan marah dan suruh istirahat,” kata isteri saya dengan nada bergurau. Itulah cara dia barangkali menghibur.

Selama ini memang sudah menjadi kebiasaan isteri saya. Kalau dia mendengar ada teman-temannya di rumah sakit, atau sedang sakit di rumah, dia pasti akan mengajak saya untuk melihatnya. Begitu pula jika ada berita kematian, dia akan meninggalkan pekerjaan lain atau mengatur pekerjaannya untuk dapat melihat orang-orang yang sudah menghadap Tuhan itu. Kami selalu berdua pergi menjenguk orang-orang sakit atau orang-orang yang telah berpulang ke rahmatullah. Begitu pula untuk pergi menyelesaikan berbagai hal kami juga selalu berdua. Orang-orang di Karimun bahkan menyebut kami,” Kalau ada Pak Rasyid, pasti ada Ibu.” Saya mencintai dia. Dan selalu berduaan, adalah salah satu cara oleh saya membuktikan saling cinta itu. Dialah yang mengisi lahir dan batin saya selama ini.

Untuk hal ini saya harus jujur bahwa saya dan isteri memang senantiasa pergi berdua. Termasuk untuk bepergian lainnya kami terus berdua. Pergi ke undangan pesta pernikahan, kami berdua. Berjalan sore atau kapan saja sekedar ‘makan angin’ kami tetap berdua. Bepergian ke luar Karimun, jika bukan urusan dinas –karena tugas—dia juga akan saya bawa bersama. Ke Malaysia, ke Batam, ke Pekanbaru atau ke mana saja; jika sekedar untuk berjalanh-jalan dia pasti akan bersama saya. Tidak akan pernah saya tinggalkan.

Bahkan ketika kami berkesempatan menunaikan ibadah haji pada musim haji 1427 (2006/ 2007) kami merasakan betul berbahagianya hidup berdua. Di Madinah, awal sampai di Tanah Suci, ketika kloter (kelompok terbang) haji kami melaksanakan sholat arbain selama delapan hari, Selasa (12/ 12/ 2006) sampai Selasa (19/ 12/ 2006) tidak pernah satu hari pun kami berpisah dari rumah ke masjid atau sebaliknya. Hanya karena sholat harus berpisah di masjid Nabawi itu barulah kami berpisah selama dalam masjid. Dan sesudah sholat atau ketika melaksanakan ziarah ke raudhoh, ke maqom baqi ‘ atau ke tempat-tempat bersejarah lainnya kami tetap berdua bersama kawan-kawan lain.

Begitu pula ketika berada di Tanah Suci Mekkah kurang lebih satu bulan (20/12/2006 hingga 17/01/2007). Selama musim haji, di Masjid Al-Haram jamaah laki-laki dan perempuan tidak ada hijab seperti di Nabawi. Maka saya dan isteri bukan hanya di sepanjang jalan menuju masjid atau menuju rumah saja kami selalu tidak terpisahkan, di dalam masjid pun kami mencari tempat yang tidak terlalu jauh. Saya akan mencari saf yang sama dengan saf dia. Dia akan mengambil ujung saf sebelah kanan sementara saya mengambil ujung saf di sebelah kiri. Dengan demikian kami akan tetap berdekatan walaupun dalam masjid sekalipun.

Berjalan dari masjid ke rumah pemondokan bahkan kami berpegangan tangan. Terkadang kami diejek –bergurau-- oleh sesama jamaah satu regu karena seolah-olah tidak pernah lepasnya tangan kami. Ah jika itu saya bayangkan, betapa nikmat dan berbahagianya hidup rukun dalam rumah tangga. Dia benar-benar isteri sejati yang pantas untuk diteladani.

Saya sesungguhnya tidak ingin berlebihan memberi predikat teladan kepada isteri saya, Hj. Rajimawati binti Abdul Mutolib, anak perempuan terbungsu pasangan H. Abdul Mutolib dan Hj. Ramnah. Tapi itulah yang tepat harus saya berikan untuknya. Seperempat abad kami bersama, saya tahu dan mengerti betul karakter dan jiwanya. Saya merasakan langsung bagaimana dia menajalankan peran seorang isteri, ibu dari anak-anak saya.

Dalam 24 tahun sejak anak pertama kami, Rizky Febrinna (Kiky) lahir pada 3 Februari 1987 di Tanjungbatu Kundur dan anak saya yang kedua, Fahry Errizik (Ery) juga lahir di Tanjungbatu pada 29 November1988 hingga anak saya yang ketiga Syarfi Razky (Opy) yang lahir di Moro pada 20 Oktober 1994 dia tidak pernah mengeluh dalam mengasuh, merawat dan memelihara mereka. Dia begitu tabah dan cekatan mengurus anak-anak saya sendiri. Hanya sekali-sekali saja saya dapat membantunya. Selebihnya dialah yang mengasuh, membesarkan dan mendidiknya menjelang sampai waktunya masuk TK.

Pada awal saya dipercaya menjadi Wakil Kepala Sekolah di SMA Negeri Tanjungbatu Kundur –pada tahun 1986-- yang memerlukan waktu saya hampir seharian di sekolah dia tetap tabah sendirian di rumah. Apalagi ketika sekolah ini membuka kelas siang (double shiff) karena tidak cukup ruang kelas dan saya ditunjuk menjadi Wakil Kepala Sekolah Urusan Kurikulum, saya benar-benar tenggelam seharian di sekolah. Saya hanya berkesempatan pulang siang sebentar untuk makan. Selebihnya saya harus ke sekolah lagi.

Sampai kami mempunyai anak pertama di awal 1987 itu, dia hanyan ditemani Emaknya, Ibu Ramnah, mertua saya. Dia datang ke Tanjungbatu karena isteri saya itu akan melahirkan. Isteri saya tidak mau pulang ke Pekanbaru, ke tempat orang tuanya untuk melahirkan. Dia berperinsip, “Di mana ada suami di situlah melahirkan.” Sungguh perinsip yang sangat menghargai utuhnya rumah tangga. Ketiga anak kami memang lahir di mana saya bertugas. Dia memang tidak mau melahirkan ke Pekanbaru, misalnya, tempat kedua orang tuanya berada.

Kesan lain yang tidak mungkin saya lupakan betapa berat dan tingginya tanggung jawab isteri saya ini adalah ketika anak-anak saya (waktu itu baru dua orang) sudah mendekati masa-masa sekolah. Kiky yang tua sudah minta sekolah meskipun umurnya baru 4 tahun waktu itu. Melihat temannya di sebelah rumah kami pergi ke sekolah tiap pagi, dia pun minta sekolah juga.

Akhirnya kami sepakat mengantarkannya ke TK Pertiwi di sekitar belakang Kantor Pos Tanjungbatu. Jarak rumah kami –di Tanjungsari-- ke sekolah itu cukup jauh. Tidak bisa ditempuh berjalan kaki. Saya tidak ada waktu untuk mengantar anak saya ke TK itu karena pagi-pagi saya biasanya sudah ke sekolah. Saya wajib ke sekolah lebih awal karena tanggung jawab tugas yang diamanahkan Kepala Sekolah, Pak Supardjo Suk, BA waktu itu. Jadi, isteri saya itulah yang harus mengurus kedua anak saya pergi dan pulang sekolah.

Saya ingat betul, dialah yang sambil berbelanja pergi mengantar dan menjemput anak saya ke TK. Yang bungsu, Ery didudukkan di bagian depan –keranjang besi-- sepeda sanki yang saya beli di rombengan (Sawang) sementara kakaknya Kiky duduk di belakang. Sepeda itulah yang didayung isteri saya setiap pagi mengantar dan menjemput anak saya ke sekolah. Ah, sayang… kau memang wanita sejati yang sangat mengerti suami yang masih susah hidupnya. Tidak berlebihan disebut teladan.

Tapi Sabtu malam ini dia sudah tiada. Dia pergi tanpa meninggalkan pesan apapun kepada saya. Hanya kebahagiaan berumah tangga sajalah yang saya rasakan bersamanya menjelang kejadian ini. Adakah kebahagiaan itu sebagai tanda-tanda akan datangnya ujian ini? Hanya Allah yang Maha Tahu. Yang saya tahu, Sabtu kelabu itu telah menjadi garis batas terenggutnya nyawa isteri saya.

Saya minta Pak Iwan menyampaikan berita duka ini kepada siapa saja. HP saya masih dijemput anak saya ketika itu. Bersama anak Pak Iwan (menggunakan motor) dia pulang ke rumah untuk menjemput HP. Karena panik dan ingin cepat ke rumah sakit (saat dia dia tiba-tiba sesak dan susah bernafas sehabis sholat magrib) itu dua HP saya dan satu HP isteri saya tidak sempat terbawa.

Saya melihat Pak Iwan sangat sedih setiap menelpon seseorang. Saya ingatkan untuk menyampaikan ke guru-guru SMA Negeri 3 Karimun atau kepada siapa saja yang dia ingat. Kata Pak Iawan, semua orang yang dia hubungi seolah tidak percaya berita kematian itu.

Setiap orang yang diberi tahu oleh Pak Iwan, mereka terkejut. Mereka seperti tidak percaya dengan berita yang disampaikan. Berulang-ulang diyakinkan barulah amereka percaya. Bahkan ada yang langsung datang ke RSUD terlebih dahulu, baru mau percaya. Begitulah kejadian itu begitu mendadak datangnya. Saya sendiri serasa bermimpi. Pikiran saya serasa melayang entah kemana. Saya tidak menduga. Dia sama sekali tidak memberi tanda-tanda kalau dia akan meninggalkan saya secepat itu.

Begitu mendadaknya sampai semua orang seperti tidak bisa mempercayainya. Ibu Zaita, tetangga sebelah rumah saya yang juga sama sekali tidak tahu keadaan isteri saya, mendadak meraung-raung di ruang UGD itu sejurus dia sampai di rumah sakit. Dia terkejut diberi tahu oleh anak saya Ery (Fahry Errizik) lewat telpon dari Tanjungpinang. Ery, beberapa menit sebelumnya memang diberitahu oleh anak saya Opy menggunakan HP saya kalau mamanya mendadak sakit sekitar pukul 19.00 itu. Namun sebelum sempat dijelaskan keadaan mama secara detail HP diputus karena kami harus melarikan mamanya itu ke rumah sakit.

Jadi dalam penasarannya itu dia mencoba menghubungi Ibu Zaita tentang kondisi mamanya. Dan Ibu Zaita sendiri yang sama sekali tidak tahu mencoba menelpon ke HP saya dan isteri saya juga tidak ada jawaban. Akhirnya dia pergi ke rumah sakit dan menemukan isteri saya sudah terbaring diam. Maka pecahlah tangisnya yang begitu menyedihkan. Dia seperti meraung-raung sambil memukul-mukul punggung saya. “Bapak, ngapa Bapak tak beri tahu…Bapak, ngapa Bapak tak beritahu…” berulang-ulang dia bertanaya sambil memeluk dan memukul-mukul punggung saya.

Dia terus memeluk saya sambil menangis dan tetap memukul saya. Saya tidak berbuat dan berkata apa-apa lagi. Lidah saya seperti terkunci. Pikiran saya serasa begitu kosong. “Mimpikah saya?”. Saya tidak bias menjawab pertanyaan-pertanyaan Ibu Zaita itu. Dia sangat shok dan terpukul tidak melihat orang yang selama ini sudah dianggapnya sebagai ibunya.

Hampir setengah jam mayat isteri saya di rumah sakit sejak perawat memberi penjelasan tadi. Setelah diberi surat keterangan, sebuah ambulance telah menunggu di halaman belakang RSUD. Saya, anak saya yang tua dan Ibu Zaita ikut bersama janazah isteri saya. Kami bersama di dalam ambulance itu akan menuju ke rumah tempat tinggal saya, tempat tinggal isteri saya dan anak-anak saya sejak tahun 2004, Wonosari Baran, Meral

Kamis, 21 April 2011

Sore Sabtu Kelabu (1)

TIDAK pernah ada tanda-tanda yang dapat saya tafsirkan bahwa pada hari Sabtu (16/04) lalu, sekitar pukul 19.15 akan saya hadapi ujian maha berat: berpulangnya ke rahmatullah isteri tercinta saya, Hj. Rajimawati. Sampai pukul 15.30 sore Sabtu itu dia tidak ada keluhan sakit. Selama ini juga tidak ada riwayat sakit yang membuatnya harus dirawat khusus kecuali ketika melahirkan anak-anak saya. Ah, sungguh berat. Tidak pernah saya bayangkan itu.

Maaf, saya sesungguhnya tidak tega menulis kisah tragis ini. Hati dan seluruh tubuh saya terasa pedih dan perih setiap kali memikirkannya. Sudah enam hari saya berusaha membungkus duka ini. Tapi akhirnya saya tulis juga di ruangan ini. Ada banyak kisah teladan yang semoga ada guna untuk pembaca. Itulah dorongan utama, menuntun saya menulisanya. Dia adalah figur teladan anak-anak saya; termasuk buat saya.

Dalam 25 (dua puluh lima) tahun pernikahan kami begitu banyak yang dapat saya petik dari wanita ini. Tapi satu hal yang perlu saya katakan, dia adalah wanita tegar yang teramat patuh buat saya. Ketegaran itu tidak hanya pada mentalnya yang kuat dan tenang hidup bersama saya yang hanya seorang guru dengan penghasilan bermula dari Rp 28.000 (dua puluh delapan ribu rupiah) pada tahun 1985, awal saya menjadi pegawai negeri. Tapi ketegarannya juga tampak pada pisiknya yang senantiasa sehat dan kuat.

Sesungguhnya dia bekerja penuh demi saya dan anak-anak kami. Kami memang tidak mempunyai pembantu rumah tangga mendampinginya. Pada awal membangun bahtera rumah tangga jelas kami tidak sanggup membayar pembantu. Tapi pada saat kehidupan sudah sedikit mapan, dia tetap memutuskan untuk tidak didampingi pembantu dalam tugas-tugas rumah tangga. Dia adalah ibu rumah tangga yang utuh.

Di awal kami bersama itu bahkan dia 'nyambi' membuat kue --bakwan-- dan membuat es bungkus untuk penambah penghasilan saya yang teramat kecil. Biar begitu badannya tetap sehat. Kami tetap bisa ikut berbagai kegiatan olahraga terutama senam dan berjalan minggu pagi. Itulah yang saya tahu tentang sangat sehatnya pisik dia. Sampai datangnya musibah sore Sabtu itu, dia tetap sehat-sehat saja.

Dalam 16 tahun terakhir sejak dia melahirkan anak saya yang bungsu (saat ini sudah di SMA) rasanya tidak pernah dia sakit yang mengharuskan dia dirawat di rumah sakit. Jika terserang filek atau flu, itu tidak terlalu lama memulihkannya. Tidak selalu harus ke dokter untuk menyembuhkannya.

Sampai datangnya musibah sore Sabtu, lima hari lalu itu. Dia tiba-tiba saja kesulitan bernafas. Menurut anak saya yang sulung, yang menyaksikan langsung mamanya tiba-tiba kesulitan bernafas tanpa sebab yang dipahami anak saya. Sebelumnya --hari itu-- dia hanya mengeluh penat karena katanya dia habis mencuci pakaian. Bagi saya, letih seperti itu usdah selalu dia rasakan dan selalu pula dia ceritakan kepada saya. Jika dia minta urut kepada anak-anaknya atau kepada saya, toh itu akan pulih kembali.

Tapi sore itu dia benar-benar seperti menderita tiba-tiba. Setelah terus-menerus dipijit anak saya punggungnya dan diberi minuman bergula yang hangat, akhirnya dia muntah. Ketika saya tiba di rumah dan menyaksikan langsung setelah sebelumnya saya ditelpon karena saya kebetulan di luar rumah, saya melihat dia sangat lemah. Badannya berkeringat dingin.

Saya lap keringatnya dengan kain setengah basah sambil membersihkan mukanya yang juga berkeringat. Saya merasa dia sedikit agak tenang saat itu. Kata anak saya, mamanya baru saja bisa bernafas dengan tenang setelah muntahnya itu keluar begitu banyak. Tadinya sungguh mengkhawatirkan. Bahkan menurut anak saya dia seperti menyaksikan orang berjuang dalam sakratulmaut. Anak saya memang menangis pada saat dia menelpon saya, sebelum saya sampai di rumah dua puluh menit kemudian.

Sehabis sedikit tenang itu, saya tanya, apakah dia bisa sholat asar. Dia jawab bisa. Lalu saya ajak ke kamar dengan memapahnya. Di kamar dia sholat setelah berwudhuk. Sungguh saya merasa sedikit tenang melihat dia bisa sholat walaupun saya suruh dia sholat dengan cara duduk. Islam memang membolehkan orang sakit melaksanakan sholat dengan duduk jika tidak mampu berdiri.

Selanjutnya dia saya ajak ke rumah sakit. Hanya karena sore, dia minta ke dokter praktek saja. Lalu saya bawa ke tempat praktek Dokter Awang Lim, seorang dokter senior yang cukup terkenal di Karimun. Dokter 'keturunan' ini juga sudah menjadi langganan kami berobat kalau mengalami persoalan kesehatan yang agak berat. Sekali-sekali juga ke dokter lain.

Saya laporkan ke Dokter Awang Lim kronologis penderitaan isteri saya seperti diceritakan anak saya. Saya khawatir dia sakit jantung karena dia selalu menekan bagian dadanya. Saya juga katakan kalau dia habis muntah yang cukup banyak.
Tapi hasil diagnosa dokter itu tikdak menyebutkan penyakit yang mengkhawatirkan isteri saya. Katanya tidak ada riwayat penyakit jantung. "Ibu tidak ada riwayat penyakit jantung," jelasnya. Tapi saya melihat dia hanya membuat kesimpulan berdasarkan data-data lama ibu yang memang selalu berobat ke klini Sayang Ibu, milik dokter itu.

Dokter Awang Lim juga menjelaskan kalau tensi darah ibu juga bagus. Dia hanya menyebut kalau ibu mengalami masalah lambung. Akhirnya dia hanya memberi obat yang katanya harus dimakan sebelum makan nasi. Kamipun kembali ke rumah karena sudah merasa lega berdasarkan pebnjelasan dokter ini. Ah, saya merasa tertipu oleh kata-kata dokter yang dengan percaya diri menjelaskan penyakit isteri saya yang tidak berbahaya.

Sampai di rumah isteri saya berbaring di kasur. Dia minta dipijit-pijit badannyan yang katanya sangat penat. "Seluruh persendian saya pegal-pegal. Tolong dipijit," pintanya kepada saya. Saya dan anak saya masih tampak shok dan berusaha menahan tangis, terus memijit-mijit bagian yang sakit isteri saya.

Ketika dia minta dicarikan tukan pijit khusus, anak saya pergi mencarinya. Setelah dipijit oleh Ibu itu dia tampak semakin lega. Katanya badannya sudah lebih mendingan. Bahkan isteri saya mengeluarkan angin (kentut) yang membuat kami bertiga tersenyum geli dan masih sempat kami bergurau dengan gas berbauk itu. Ah, ternyata ini juga telah menipu saya.

Ketika dia mendengar kumandang azan magrib, dia mengingatkan saya. "Bang, itu sudah azan," katanya. Saya pun paham kalau dia memang sangat taat melaksanakan ibadah sholat. Setiap kali masuk waktu sholat dia pasti akian berhenti beraktifitas apa saja. Dia akan bergegas pergi sholat. Termasuk sore Sabtu itu.

Saya tanya, apakah boleh sholat ke masjid seperti biasanya saya memang sholat berjamaah ke masjid, dia membolehkan. Dia mengatakan sholat di rumah. Saya pun tetap merasa tidak ada kekhawatiran terhadap penyakit yang tengah dialaminya. Di masjid saya juga tidak punya firasat apa-apa.

Sampai di rumah sehabis sholat magrib di masjid, saya lihat dia sedang terbaring di kasur, kamar kami selama ini. Saya tanya apakah sudah sholat, dia menjawab sudah. Anak saya membantunya ke kamar mandi --di kamar tidur-- untuk berwudhuk. Saat dia baring itu, dia kembali minta urut badannya yang masih penat. Dia tidur memiringkan badannya, minta dipijitkan bagian punggungnya. Sayapun berbaring sambil memiringkan badan saya ke arahnya. Saya hyanya berhadapan dengan punggungnya. Wajahnya mengarah ke dinding.

Ada beberapa menit saya memijit-mijit bagian punggungnya. Saya tidak mendengar dia mengeluh waktu itu. Dia tidak juga mengatakan apa-apa saat itu. Ternyata ini juga dugaan dan penilaian saya yang salah. Karena beberpa saat berikutnya, ketika dia tiba-tiba membalikkan badan ke arah saya (menelentang) saya melihat mukanya yang pucat. Dia seperti tidak dapat bernafas. Suaranya tidak keluar tapi dia kelihatan mengerang.

Anak saya yang sedari tadi memijit bagian kaki, terperanjat dan secara reflek menagis sambil memekik memanggil mamanya. Dia langsung ingat pengalamannya sendiri tiga jam sebelumnya. Anak saya yang bungsu, yang saat itu asyik main laptop di kamar itu, ikut membantu saya dan anak saya yang sungguh dalam keadaan panik. Kami bertiga berusaha membantu dengan mendudukkannya. Mengurut punggung dan bahunya. Tapi dia seperti tidak bereaksi.

Akhirnya kami bertiga mengangkatnya. Sungguh terasa berat. Badan sesehat itu ternyata cukup berat buat kami bertiga yang dalam keadaan panik itu. Setelah berhasil membawa ke dalam mobil, saya memacu mobil dengan kencang sekali untuk menuju Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Karimun. Hanya dalam sepuluh menit mobil kami sampai di parkir UGD RSUD.

Penanganan yang terasa begitu lambat oleh para perawat di UGD itu membuat saya ingin memekik. Tapi saya mencoba menahan tangis. Saya tetap berdoa, semoga isteri saya bisa selamat. Namun apa mau dikata, kata perawat yang menangani, isteri saya telah pergi beberapa menit sebelum sampai ke rumah sakit daerah itu. Tangis saya benar-benar pecah bersamaan tangis anak-anak saya yang saling berpelukan. Sore Sabtu yang benar-benar kelabu dalam hidup saya. (akan saya sambung)
 
Copyright © 2016 koncopelangkin.com Shared By by NARNO, S.KOM 081372242221.