BREAKING NEWS

Minggu, 23 Januari 2011

Gayus dan Pendidikan Karakter

KETENARAN Gayus Halomoan Tambunan dalam satu tahun terakhir, khususnya sejak dia diproses resmi oleh aparat hukum sampai jatuhnya ponis hakim Albertina Ho sepekan lalu karena persoalan pajak telah banyak menimbulkan implikiasi dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa di Tanah Air ini. Lebih dari itu berbagai sudut pandang juga lahir dari reaksi kehadiran gempar Gayus dalam pusaran hukum itu.
Tidak perlu dan memang tidak seharusnya diingkari bahwa dari sebegitu banyak celakanya persoalan ciptaan Gayus bersama dampak ikutan lainnya, tapi kehadiran episode Gayus tetap ada nilai-nilai posotif yang dapat dipetik. Paling tidak, bagi pendidik (guru), misalnya, peristiwa dahsyat penelanjangan hukum ala Gayus ini adalah kesempatan baik untuk berpikir dan merancang kembali tentang perlunya pendidikan karakter bagi anak bangsa yang menjadi tanggung jawabnya sebagai pendidik.
Awal dari carut-marut penegakan hukum yang satu tahun ini –mungkin masih akan terus beberapa tahun ke depan– jadi tontonan, tidak bisa lepas dari watak atau sikap pelakunya. Gayus yang diributkan, tidaklah semata-mata kita meributkan perbuatannya yang tampak kasat mata belaka. Mulutnya berbohong dengan menumbar bermacam pernyataan? Tangannya yang menyelewengkan tindakan pengelolaan keuangan di direktorat pajak? Kakinya yang entah melangkah atau berlari kemana untuk usaha tilep-menilep uang pajak? Itu semua sepertinya hanya tindakan pisik semata. Tapi tunggu dulu.
Sesungguhnya tidaklah sesederhana itu. Jauh dari sekedar tindakan pisik yang membuat Gayus begitu terkenal, itu pada dasarnya adalah tindakan mental dan pikirannya sekaligus. Kekeliruan tindakan pisiknya adalah karena kekeliruan cara berpikirnya juga. Artinya watak dan karakternyalah yang menentukan itu semua. Jika saja watak dan karakternya adalah watak yang baik dan mulia, pastilah perbuatannya juga akan baik dan mulia. Maksudnya tidak akan pernah melakukan perbuatan yang saat ini membuat banyak pihak jadi celaka.
Jadi, terlepas dari carut-marut yang diciptakan Gayus, sekali lagi buat yang merasa mempunyai tanggung jawab mendidik, membimbing dan atau mengajar seumpama guru itu, inilah sempadan yang dapat dipatokkan sebagai dasar bertindak ulang dalam tanggung jawab mendidik dan membina karakter bangsa yang baik bagi anak didik. Andai saja keteledoran dan kekeliruan sebelum ini yang barangkali juga telah merusak bangsa ini tapi tidak cukup mengetuk hati para pendidik untuk memulai mendidik dan memberikan pendidikan karakter buat peserta didik maka inilah saatnya bertindak. Fungsi pendidik sebagai agen perubahan, sudah saatnya dibuktikan.
Pendidikan karakter yang juga dapat disejajarkan dengan pendidikan akhlak dan atau pendidikan budi pekerti peserta didik, sebenarnya bukan tidak pernah diajarkan selama ini di sekolah atau di lembaga-lemnbaga pendidikan lainnya. Dari jenjang Pendidikan Dasar bahkan dari TK/ Paud sampai ke Pendidikan Menengah bahkan Perguruan Tingga sudah ada muatan materi pelajaran yang sejalan dengan pendidikan karakter. Itulah pendidikan agama dan atau pendidikan kewarganegaraan yang menitik-beratkan pada nilai-nilai Pancasila.
Persoalannya memang pada implementasi nilai-nilai agama atau nilai-nilai Pancasila itu yang tidak berkesan dalam praktek hidup sehari-hari. Agama sudah mengajarkan perbuatan seperti mencuri, memanipulasi, korupsi dan perbuatan terlarang lainnya sebagai perbuatan dosa. Artinya dilarang melakukannya. Tapi orang tetap saja melakukannya.
Kalau nilai-nilai Pancasila yang digali dari akar budaya bangsa Indonesia itu dipahami pun terdapat larangan untuk melakukan perbuatan yang melawan hukum. Sekali lagi, persoalan pokoknya adalah tidak tampaknya nilai-nilai Pancasila itu dalam praktek hidup dan kehidupan sehari-hari sebagaimana orang membelakangkan aplikasi nilai-nilai agama. Lalau mengapa begitu?
Tentu bisa banyak versi pendapat dan argumen penyebab tidak diamalkannya nilai-nilai agama dan atau nilai-nilai Pancasila itu dalam kehidupan sehari-harinya. Salah satu penyebab itu boleh jadi karena lemahnya penegakan hukum di satu sisi serta lemahnya pula keteladanan dari para tokoh –agama, masyarakat– di negeri ini.
Dalam waktu yang begini lama sejak bangsa ini ada (merdeka), dalam sejarah yang kita baca tidak ada catatan konsistensi penegakan hukum yang benar-benar kokoh dilakonkan oleh rezim pemerintahan. Sebaliknya justeru banyak catatan kelemahan penegakan hukum itu sendiri. Dan dalam kelemahan penegakan hukum seperti itu tidak juga lahir mayoritas tokoh touladan yang menerapkan hukum secara konsisten minimal untuk pribadinya. Artinya, keteladanan yang diharapkan menjadi pembina karakter bangsa, tidak juga ada.
Kini peran itu, kiranya wajib dimulai dan dilaksanakan di bangku sekolah. Para pendidik dan tenaga kependidikan lainnya bersama masyarakat harus bahu-membahu untuk melaksanakan pendidikan karakter yang diharapkan dalam jangka panjang menjadi dasar penegakan dan penerapan hukum yang benar-benar sesuai dengan hukum. Bukan penegakan hukum yang memainkan nilai-nilai hukum. Semoga. ***

Selasa, 18 Januari 2011

Menuju Kejujuran Sekolah

UJIAN Nasional (UN) Tahun Pelajaran (TP) 2010/ 2011 yang akan dilaksanakan medio April 2011 nanti akan mengalami sedikit perubahan persyaratan kelulusan dibandingkan dengan UN tahun-tahun sebelumnya. Pemerintah memutuskan akan menggunakan nilai-nilai rapor dan nilai ujian sekolah disamping hasil UN itu sendiri sebagai dasar kelulusan.

Jika sampai tahun lalu kelulusan peserta didik lebih ditentukan oleh hasil UN --walaupun secara teori ada sebenarnya komponen lain yang menjadi syarat kelulusan-- yang hanya beberapa Mata Pelajaran (MP) saja namun untuk TP 2010/ 2011 ada perubahan. Untuk kelulusan tahun ini kembali diberlakukan gabungan nilai-nilai ujian di sekolah (nilai rapor dan nilai US) dan nilai UN. Peserta didik dapat tertolong jika nilai-nilai yang dicapai di sekolah lebih tinggi dari pada --biasanya-- UN yang selalu tidak bisa lebih tinggi.

Tentu saja kebijakan ini dapat memunculkan berbagai penafsiran dan berbagai kemungkinan respon sekolah. Pihak sekolah yang selama ini menjadikan momok pelaksanaan UN dengan berbagai perangkat petunjuuk teknis dan prosedur sulit yang menjadi standar pelaksanaan, memandang kebijakan ini sebagai kesempatan merekayasa nilai peserta didik agar kelak kelulusan sekolah berpersentase tinggi. Tapi bagi sekolah yang tidak berprilaku curang kebijakan apapun tidak menjadi persoalan. Malah dapat dianggap kesempatan baik untuk lebih jujur dalam penentuan kelulusan.

Sudah menjadi kelaziman sekolah bahwa nilai-nilai yang diperoleh peserta didik sebagaimana dicantumkan dalam buku laporan pendidikan (buku rapor) jauh lebih objektif perolehannya dibandingkan hasil perolehan ketika UN. Padahal secara prosedural, pelaksanaan UN jauh lebih ketat dibandingkan ujian-ujian sekolah.

Bahkan nilai rapor pada semester ganjil (gazal)terkadang diperoleh peserta didik dengan amat susah-payah karena rata-rata guru begitu ketat dan pelit dalam memberi nilai. Alasan yang dikemukakan guru adalah bahwa nilai semester ganjil adalah peringatan bagi peserta didik untuk lebih berhati-hati menghadapi semester genap. Semester genap juga disebut sebagai semester kenaikan kelas. Dan guru biasanya sedikit lebih lembut dan tidak terlalu kaku dalam memberi nilai.

Dari sikap itu maka tidak aneh bahwa nilai-nilai yang terdapat dalam rapor dipandang lebih objektif dan memiliki nilai-nilai kejujuran yang sedikit lebih tinggi dibandingkan nilai yang diperoleh waktu pelaksanaan UN. Padahal pelaksanaan UN begitu banyak perangkat aturan dan begitu melibatkan orang dari pada sekedar ujian sekolah yang hanya melibatkan guru. Tapi nilai-nilai dirapor dipastikan jauh lebih bernilai objektif.

Berbanding terbalik dengan sikap guru (termasuk Kepala Sekolah dan orang tua siswa) pada saat menghadapi pelaksanaan UN. UN tidak jarang menyatukan sikap berbagai komponen sekolah untuk hanya mengarah kepada target kelulusan dalam UN. Kriteria kelulusan yang telah ditetapkan pemerintah, oleh BNSP (Badan Nasional Standar Pendidikan)sebagai pelaksana UN secara tegas tidak boleh ditawar dalam menentukan kelulusan. Maka terjadilah kecurangan secara sistematis oleh berbagai komponen sekolah dengan target bersama: kelulusan siswa.

Kini kelulusan kembali menggunakan model gabungan antara nilai perolehan sekolah dengan nilai UN. Oleh pemerintah sudah ditetapkan bahwa 60% persen persyaratan kelulusan diambil dari UN sementara yang 40% lagi dari ujian sekolah dan nilai rapor. Nilai rapor sendiri diambilkan dari gabungan nilai semester I-V (SLTP) dan semester III-V (SMA/ MA). Rerata nilai sekolah dan UN yang sama atau lebih tinggi dari 5.50 dan tidak satupun MP yang mendapat nilai di bawah 4.00 akan menjadi syarat kelulusan bagi setiap siswa.

Ikutan dari keadaan seperti itu tentu saja bahwa pihak sekolah akan memandang bahwa nilai-nilai sekolah juga perlu diperhatikan karena akan menjadi sebagian penentu kelulusan. Kini tidak boleh hanya sekedar mempersiapkan peserta didik untuk meraih nilai UN saja. Nilai UN hanya sebgian dari kebutuhan kelulusan.

Tentu saja tidak tertutup kemungkinan akan timbul sikap berlebihan sekolah yang menjurus ke sikap keliru. Sikap keliru? Jika sekolah berpikir bahwa sekolah juga mempunyai kesempatan penentuan kelulusan dari nilai-nilai sekolah yang nanti akan digabungkan dengan nilai UN maka pihak sekolah juga akan berpikir bagaimana menaikkan (baca: merekeyasa) nilai-nilai rapor dan nilai sekolah lainnya yang akan menjadi persyaratan kelulusan tersebut.

Sikap subjektif ini sesungguhnyan yang mestinya diwaspadai agar UN tidak menjadi sia-sia dan mubazir. Dengan sikap subjektifitas seperti itu lalu terjadi berbagai kecurangan yang ujung-ujungnya peserta didik malas belajar. Yang terjadi berikutnya adalah peserta didik yang tetap tidak memiliki ilmu dan keterampilan apapun. Itulah UN yang sia-sia.

Di pihak lain, tujuan pendidikan untuk membentuk peserta didik yang jujur, terampil dan berwawasan ilmu pengetahuan hanya akan tercapai jika pelaksanaan UN berjalan sesuai ketentuan dan peraturan. Dengan proses ujian yang jujur pula akan didapatkan nilai-nilai yang jujur juga. Jadi, kebijakan ketentuan kelulusan ini sejatinya mengarahkan sekolah ke jalan kejujuran, khususnya dalam pelaksanaan ujian (UN) itu sendiri. Semoga.

Rabu, 12 Januari 2011

Pendidikan Tergadai

Tulisan ini sudah diinput di blog Kompasiana. Selamat membaca.

SETUJU tak setuju, carut-marut penegakan hukum hari ini –setiap hari memenuhi berita media masa– tidak lepas dari hasil kerja masa lalu. Yang ditanam tempo hari, itulah yang dituai saat ini. Tentu saja gesekan dan pengaruh kelilingnya, sedikit banyak juga ada.
Buat yang bergelut di pendidikan, rasa berdosa dan menduga carut-marut itu pasti tidak lepas juga dari hasil pendidikan masa lalu, tentulah tidak berlebihan. Walaupun di sekolah tidak diajarkan bagaimana cara melanggar hukum, tapi pelanggaran hukum itu sendiri tidak jarang terjadi di sekolah. Pembiaran pelanggaran hukum itulah yang pasti terasa sebagai sebuah dosa bagi yang bergelut di bidang pendidikan sehingga ‘lampu merah penegakan hukum’ saat ini sudah menyala.
Sedari Sekolah Dasar –bahkan biasa dari PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) dan atau TK (Taman Kanak-kanak)– hingga ke Perguruan Tinggi tidak mudah dan tidak pernah berhasil menciptakan dan menerapkan ‘nol persen pelanggaran’ di lembaga pendidikan. Pelanggaran yang terjadi tidak hanya oleh peserta didik tapi juga oleh pendidik dan tenaga kependidikan bahkan oleh pengelola dan penanggung jawab pendidikan. Baik dilakukan secara berjamaah (keseluruhan) maupun oleh kelompok kecil atau individual.
Pelanggaran oleh peserta didik tidak sekedar melanggar tata tertib atau peraturan yang berlaku di sekolah seumpama datang dan pergi sekolah tidak tepat waktu, pakaian yang tidak seragam, merokok di sekolah, melalaikan tugas dan melawan guru, akan tetapi juga melanggar norma dan etika pembelajaran yang jujur dan bertanggung jawab. Dalam ujian. misalnya suka mencontek hasil kerja teman. Dan dalam bergaul sering merusak persahabatan. Ah, tentu masih banyak lagi pelanggaran lainnya kalau mau diulas yang dilakukan siswa.
Pelanggaran oleh guru, tidak kurang pula. Bukan saja menyia-nyiakan tanggung jawab dan fungsi-fungsi keguruan akan tetapi juga melalaikan integritas sebagai guru yang digugu danh ditiru. Tanggung jawab sebagai agen pembelajaran yang menuntut guru mampu mengubah watak dan karakter peserta didik ke arah tujuan pendidikan itu sendiri, susahnya guru sendiri belum berhasil mengubah dirinya. Pola tanggung jawab yang lebih karena tekanan eksternal dari pada tekanan internal diri sendiri adalah bukti betapa integritas dan tanggung jawab guru masih rendah.
Jika peserta didik dalam ujian masih melakukan pelanggaran perinsip-perinsip ujian yang akuntabel, justeru ada guru yang ikut terlibat dalam perusakan perinsip itu. Bukan saja gurtu –saat berposisi sebagai pengawas ujian, misalnya– tidak melaksanakan tugas kepengawasan dengan baik karena membiarkan peserta ujian saling mencontek, celakanya malah ada guru yang ikut membantu menunjukkan jawaban ujian. Sungguh ironis.
Pelanggaran-pelanggaran hukum itu bisa berbagai tingkat dan berbagai jenis. Sekali lagi pelakunya pun hampir oleh semua komponen pendidikian itu sendiri. Sedihnya, sikap terhadap fakta pelanggaran hukum di isntitusi pendidikan ini mulai menganggap itu adalah hal biasa yang tidak harus diperlmasalahkan. Maka jadilah pembiaran pelanggaran hukum secara terus-menerus dan dalam masa yang sangat lama.
Konsekuensi dari hilangnya perasaan bersalah terhadap aneka pelanggaran hukum yang dilakukan di institusi pendidikan adalah hilangnya pula perasaan bersalah kelak di kemudian hari bilamana produk pendidikan seperti ini mulai hidup dan melakoni kehidupan di luar innstitusi pendidikan. Hidup sebenarnya yang akan dijalankan sebagai buah pendidikan yang dikelola secara salah jelaslah hidup yang akan penuh kesalahan juga. Itulah kebiasaan pelanggaran hukum.
Maka carut-marut pelanggaran hukum hari ini, yang mulai mengkhawatirkan banyak pihak, itu pada dasarnya merupakan hasil kerja yang dilakukan sebelumnya. Pendidikan yang tujuan intinya adalah meluruskan sikap manusia agar berjalan di atas rel aturan yang benar, dewasa ini otomatis memiliki utang besar akibat dahsyatnya pelanggaran hukum yang secara terbuka berlaku saat ini. Bahkan tidak sekdar utang sederhana, dapat disebut pendidikan ini sedang tergadai untuk secepatnya meluruskan jalannya.
Saatnya semua lembaga pendidikan bersama semua komponen pendidikan bersatu langkah untuk melunaskan utang besar ini. Jika tidak, utang kian besar dan sikap pesimistis seolah tinggal menunggu hancurnya bangunan besar yang bernama Indonesia. Semoga itu tidak terjadi. Dan sambil bersama kompak melawan pelanggaran hukum yang begitu sistematis diperankan para mafia hukum saat ini, mari pula membenahi institusi pendidikan untuk berjalan sesuai ketentuan. Semoga.

Selasa, 11 Januari 2011

Menutup Tahun di Langkawi (3)

Yang ketiga dari tiga tulisan (habis)

PULAU Langkawi tujuan awal menutup tahun sudah kami lalui, Sabtu hari pertama 2011, pagi hari. Waktu pendek di pulau itu ternyata menyisakan kenangan panjang di hati kami. Malam ini, Sabtu Malam Minggu (1/1/11) kami akan menikmati suasana awal tahun baru di KL pula. Dan pendeknya waktu di Langkawi pun akan berlaku juga bagi kami di kota ini.Waktu-waktu kami harus lebih banyak di bus dalam perjalanan Langkawi- KL yang cukup jauh.
Jadwal memang hanya semalam di KL. Itu bahkan jauh lebih pendek dari pada di Langkawi. Besok Minggu, pagi-pagi kami harus meninggalkan KL akan kembali ke Indonesia (Karimun, Kepri) via Kukup, Johor Baru lagi. Mengapa harus pagi? Karena rombongan juga akan singgah barang satu-dua jam di Nilai 3, lokasi syurga orang berbelanja dengan harga murah di Malaysia ini. Minggu sore adalah masa akhir yang kami miliki di Malaysia. Kami harus kembali ke Indonesia (Karimun) dengan fery terakhir agar besok Senin kami dapat kembali masuk kantor atau sekolah.
Namun pendeknya waktu, bukanlah alasan menakutkan untuk menikmati ujung tahun menjelang tahun baru. Untuk beberapa orang anggota rombongan yang sudah beberapa kali ke Malaysia atau ke lokasi wisata lain, perjalanan ini tetap saja istimewa. Apalagi buat yang untuk pertama kali ke luar negeri, sangat-sangat istimewa perjalanan wisata ini, tentunya.
Jadwal pertama kami di kota KL adalah tentu saja melihat menara kembar (Petronas Tower) di KLCC. Menara ini sudah sangat terkenal ke mana-mana. Diantara sekian banyak menara tertinggi di dunia dia termasuk salah satu yang tertinggi. Sampai tahun 2004, sebelum muncul menara Taipei dengan ketinggian 508 meter selesai dibangun, menara kembar Petronas Tower adalah yang paling tinggi di dunia mengalahkan menara-menara tertinggi yang selama ini selalu berada di Amerika atau di kawasan benua lain. Petronas Tower sendiri mempunyai ketinggian 452 meter. Itu yang kita baca di buku-buku referensi. Dan saat ini menara ini menduduki rangking ketiga karena muncul menara Gedung Burj Dubai, Uni Emirat Arab.
Di malam hari seperti ketika kami datang berwisata ini, kami hanya melihat-lihat gedung pencakar langit KL ini dengan rasa kagum. Tidak ada di antara kami yang dapat memasuki dan naik ke atas menara itu. Dulu, beberapa tahun lalu ketika saya sempat berkunjung di awal diresmikannya menara kembar ini, dan masyarakat berkesempatan menaiki gedung ini, alhamdulillah waktu itu saya dan beberapa rekan dapat naik ke atasnya. Dengan membayar beberapa ringgit, kita dapat naik ke atas dan melihat kota KL dari tempat yang begitu tinggi. Saat itu, saya sudah merasakan berada di lantai atas menara petronas itu. Namun dalam kunjungan yang terburu-buru ini, kami memang tidak berkesempatan naik ke atas sana. Kami hanya menikmati toko-toko mewah dengan produk-produk mewah juga. Jika tidak berbelanja, ya sekedar cuci mata. Maklumlah, hari sudah agak malam.
Sampai pukul 21.30 WM kami masih di seputar menara kembar untuk bersiap-siap pergi ke kompleks Putra Jaya, lokasi gedung-gedung pemerintahan Malaysia. Kami hanya menjadwalkan dua lokasi itu saja untuk malam singkat ini. Hanya satu malam saja. Sampai di KL di waktu magrib (menjelang isya), eeh besok pagi harus sudah berangkat meninggalkannya. Jadi, hanya semalam di KL. Bukan semalam di Malaysia seperti lagu yang sangat terkenal itu.
Waktu malam di seputar lokasi Putra Jaya juga tidak terlalu memuaskan. Suasana malam yang sudah gelap tentu saja membatasi mata kami untuk melihat pemandangan lebih jauh. Padahal di lokasi yang begitu luas itu kami ingin menyaksikan berbagai pemandangan: alam, gedung-gedung, masjid Putra Jaya dan banyak lagi. Itu semua enaknya disaksikan tentu saja pada waktu siang. Namun apa boleh buat, jadwal perjalanan kami memang sangat singkat berbanding keinginan kami.
Setelah turun dari bus --disepakati kurang lebih satu setengah jam-- kami berjalan ke sana kemari. Mata kami lebih banyak tertuju ke salah satu arah, tempat berlangsungnya bazar yang diadakan di sepanjang jalan sebelah kanan masjid Putra Jaya. Di sini dijual berbagai macam, dari pakaian, gambar-gambar untuk cendra-mata hingga berbagai jenis makanan. Kedai-kedai lain tampaknya sudah mulai ditutup. Sebagian stand bazar ini pun sudah ditup.
Di antara kami ada yang melihat-lihat pakaian jadi yang dipajang di situ, ada pula yang tertarik dengan aneka aksesori yang mungkin bisa menjadi oleh-oleh. Tapi yang membeli makanan dan minuman juga ada. Inti kehadiran kami tentulah untuk berhibur berrekreasi menyambut tahun baru. Berbelanja atau tidak, tentu terpulang kepada masing-masing. Yang saya lihat, gairah berbelanja teman-teman masih cukup tinggi.
Hingga larut malam kami baru meninggalkan taman Putra Jaya. Waktu sependek itu, meskipun terasa sangat singkat namun kami merasa memadai untuk sekedar bermalam Minggu di awal tahun baru itu. Kami harus menerima kenyataan waktu singkat. Tapi kami merasa perjalanan empat hari di Malaysia saat ini akan memberi kesan dan kenangan panjang bagi kami. Pasti banyak kenangan yang sudah dilalui.
Sebegitu banyak yang dapat melegakan hati kami, salah satunya adalah selalu tersedianya sarana prasarana dan fasilitas pendukung pariwisata ini. Perjalanan senantiasa lancara kemanapun kami pergi. Tidaklah salah jika pengelolaan yang profesional terhadap tempat-tempat (tujuan) wisata juga diterapkan di Indonesia, khususnya di Karimun. Jika tempat=tempat wisata yang cukup banyak di Karimun terkelola dengan baik, fasilitas pendukung tersedia dengan baik, akan banyaklah pengunjung (turis) datang. Masyarakat Malaysia, Singapura atau Thailand yang selama ini sedikit banyak sudah datang, tentu akan lebih banyak lagi jumlah yang akan datang. Semoga.
(Mohon maaf, ada banyak poto-poto pendukung tulisan ini, namun tidak/ belum tertampilkan di sini)

Minggu, 09 Januari 2011

Menutup Tahun di Langkawi (2)

Bagian kedua dari tiga tulisan.

HARUS saya akui, satu hari saja di Langkawi tidaklah cukup waktu untuk menjelajahi pulau dengan maskot elang ini. Apalagi rombongan kami yang menjejakkan kaki siang Jumat (31/12/2010) sudah pula meninggalkan Region Hotel (tempat rombongan kami menginap) pagi-pagi hari Sabtu (1/1/2011) untuk kembali menyeberang ke Kuala Perlis, menuju KL (Kuala Lumpur). Wah, sungguh terlalu singkat rasanya masa yang kurang dari satu hari itu. Dengan patung elang raksasa di sekitar pelabuhan Jetty Kuah, kota Langkawi memang tampak megah.

Sesungguhnya di pulau ini terdapat beberapa tujuan wisata --kata orang Malaysia tempat pelancongan-- yang sangat menarik. Pasti menyenangkan bagi yang berkesempatan mengunjunginya. Selain tempat-tempat yang sudah saya singgung pada tulisan seri (1) sebelumnya juga masih ada tempat-tempat lain. Sebutlah misalnya 'Berjaya Langkawi Resort' yang berlokasi di Burau Bay. Konon hanya membutuhkan waktu kurang lebih 20 menit dari Bandara Internasional Langkawi. Dari brosur yang terbaca, sungguh tempat ini memerlukan waktu yang banyak untuk dapat menikmatinya. Tentu saja perlu persiapan uang yang memadai. Sayang, rombongan kami belum menjejakkan kaki di sini. Dari brosur juga kami tahu masih banyak lokasi-lokasi wisata lain.

Selama di Langkawi rombongan hanya mampu memanfaatkan waktu yang sangat pendek untuk beberapa lokasi wisata saja. Satu kesan mendalam selama di pulau ini tentu saja detik-detik kami menanti berakhirnya tahun 2010 untuk masuknya detik waktu di tahun baru, 2011. Kami menghabiskan ujung malam di pulau legenda Daeng Mashuri ini. Kami menutup tahun di pulau ini.

Sehabis sore menjelang magrib berbelanja oleh-oleh di seputar under water dan melanjutkan lagi berbelanja oleh-oleh di toko-toko lain, khususnya di toko Group H. Ismail, sekitar pukul 23.10 WM, kami kembali ke lokasi pelabuhan, yakni lokasi Dataran Elang (lapangan tempat berdirinya patung elang, maskotnya Langkawi) nan gagah itu. Di sinilah kami menanti detik-detik berakhirnya tahun 2010. Di sinilah kami menutup tahun yang tentu saja begitu banyak kenangan yang sudah dilalui. Dan apakah semua kami sadar sesungguhnya umur ini sudah berkurang satu tahun lagi? Entahlah. Pulau Langkawi adalah saksi apa yang terbisik di hati kami.

Yang terasa dan tampak di antara begitu banyak manusia yang menghabiskan akhir tahun dan segera akan memulai awal tahun, adalah bahwa kami ikut larut dalam kegirangan malam itu. Sambil memilih dan membeli pernak-pernik cendra mata khas Langkawi, berjalan kesana-kemari dan atau menikmati suasana malam bermandi cahaya, di antara kami terasa sekali menikmati malam tahun baru itu.

Setengah jam setelah berada di tahun 2011 (tentu saja untuk waktu Malaysia, karena di Indonesia Barat tempat saya tinggal, tahun barunya masih setengah jam lagi) kami kembali ke hotel. Kami memang harus segera istirahat karena sudah seharian berjalan menjelajahi pulau Langkawi. Kami sepakat, besok pagi-pagi harus segera ke Pelabuhan Jetty Kuah untuk menuju Perlis. Jadwal yang padat yang sudah kami sepakati, kami akan bermalam Minggu di Ibu Negara Malaysia, KL. Jadi, kami tidak bisa menghabiskan malam tahun baru ini bersama ribuan manusia lainnya di Dataran Elang itu. Kami harus kembali ke hotel untuk besok bersiap meninggalkan Langkawi.

Tepat pukul 08.10 WM di pagi Sabtu (1/1/11) itu kami sudah berada di pelabuhan. Kali ini kami akan naik kapal fery 'Ekspres Bahagia 98' yang cukup besar buat ukuran kapal menyeberangi selat yang tak begitu jauh antara pelabuhan di Langkawi dan pelabuhan di Perlis sana. Dari informasi yang saya dengar, kapal ini baru pertama kali dioperasikan untuk mengangkut penumpang, alias kapal baru. Rombongan kami bersama para penumpang lainnya pada pagi itu adalah penumpang pertama yang merasakan kapal ini di pagi akhir pekan itu. Tentu saja kami merasa puas. Saya memang melihat segala-galanya masih tampak baru di dalam kapal ini. Interiornya sangat bagus.

Sekitar pukul 08.40 kapal bergerak menuju pelabuhan di seberang, Perlis sana. Dan setelahmengharungi lautan selat itu kurang lebih satu jam, sekitar pukul 10.00 kami sudah sampai kembali di pelabuhan awal kami menyeberang semalam. Tiga bus yang memang kami carter selama empat hari di Malaysia, sudah menanti kami. Sesuai rencana, perjalanan kami akan dilanjutkan ke KL. Mobil bus kami bergerak meninggalkan lokasi pelabuhan sekitar pukul 10.45.

Sekali lagi kami melewati jalan tol Plus yang begitu luas dan rapi di sepanjang kiri-kanan yang kami lalui. Bus berjalan dalam kecepatan sedang. Kami memang meminta ke supir, Nchik Zakaria, untuk tidak membawa bus dalam kecepatan yang berlebihan. Perinsip kami tentu saja 'biarlah lambat, asalkan selamat'. Biasanya jalan tol adalah tempat kenderaan berlomba adu kecepatan. Kami sangat khawatir kalau terjadi kecelakaan.

Pada pukul 14.05 bus kami berhenti di salah satu kawasan istirahat. Kami melaksanakan sholat zuhur yang tentu saja dijama' dengan asar sekaligus. Di lokasi yang bernama Bukit Merah ini kami juga makan siang. Ada juga yang sekedar minum-minum saja. Setelah itu perjalanan kembali dilanjutkan. Dan hanya istirahat --buang air kecil-- sekali saja, sekitar pukul 19.00 WM bus kami sampai ke kota KL. Salah satu bus --yang rombongan saya tumpangi-- langsung menuju hotel tempat kami akan menginap malam ini. Sementara dua bus yang lain, mereka ingin pula langsung memanfaatkan waktu untuk berbelanja di salah satu pusat perbelanjaan pakaian di kota ini.

Sementara rombongan dua bus berbelanja dan mungkin mereka juga memanfaatkan waktu untuk menikmati kota KL yang terkenal dengan menara kembar dan komplek Putra Jaya itu, rombongan saya terlebih dahulu melaksanakan sholat magrib (dijama' dengan isya) sehabis mandi di hotel. Hotel tempat menginap malam itu adalah Hotel Adamson yang berada di jantung kota KL. Seperti ketika di hotel Langkawi, di sini pun panitia tour sudah membagi kamar sesuai peruntukannya.

Malam ini kami akan menghabiskan Malam Minggu di awal Tahun Baru 2011 bersama gemerlapnya Metropolitan Kualalumpur. Kami sepakat, sehabis magrib ini kami akan keluar bersama bus ke tempat-tempat yang sudah terkenal di kota KL ini. Indahnya suasana awal tahun baru di kota KL dapat kami nikimati bersama malam ini. (Tunggu kelanjutannya....)

Sabtu, 08 Januari 2011

Menutup Tahun di Langkawi (1)

Ini, adalah catatan perjalanan bersama rombongan guru-gru SMA Negeri 3 Karimun, Kepala Sekolah SD se-Kecamatan Meral dan para pegawai Dinas Pendidikan Kabupaten Karimun ke Malaysia, 30 Desember 2010- 2 Januari 2011. Tulisan ini merupakan bagian pertama dari tiga tulisan.

PASTI menjadi keinginan sebagian orang menghabiskan akhir tahun untuk menyambut tahun baru di suatu tempat yang lain, di luar tempat tinggal biasa. Apalagi jika tempat itu adalah tempat yang sangat terkenal karena keindahan alamnya. Berakhir tahun di tempat-tempat seperti itu jelas sangat menyenangkan. Itulah yang saya rasakan menutp tahun 2010.

Jujur saja, sebegitu lama saya tidak pernah berkesempatan menutp dan membuka tahun di tempat lain selain di tempat tinggal sendiri. Tapi tahun ini, bersama rombongan tour Karimun saya berkesempatan menikmati indahnya Pulau Langkawi, Malaysia. Sungguh pengalaman baru buat saya dan keluarga berakhir tahun di tempat lain.

Tanpa bermaksud mengecilkan tempat-tempat wisata Tanah Air seperti Bali di Pulau Dewata, Pantai Ancol Jakarta, Teluk Bayur Padang, Danau Toba Sumatera Utara serta beratus bahkan beribu tempat-tempat indah lain di Tanah Air, kami yang bertempat tinggal di kota Tanjungbalai Karimun, Kepulauan Riau --termasuk Batam dan Tanjungpinang-- memang merasa lebih mudah berpergian untuk wisata ke Luar Negeri (Malaysia, Singapura dan Thailand) dari pada ke tempat-tempat yang ada di negeri sendiri seperti saya sebutkan itu tadi. Maklum, jarak Karimun ke negeri jiran itu memang jauh lebih dekat dari pada jarak ke tempat-tempat wisata Tanah Air.

Tapi sekali-sekali tidaklah masalah ke luar negeri. Apalagi jika biayanya lebih irit berbanding ke tempat-tempat wisata Tanah Air. Yang penting kita harus mengutamakan wisata dalam negeri jika memungkinkan baru berpergian ke luar negeri. Dan kepergian saya bersama 120-an orang peserta tour kali ini adalah kenangan yang jelas tidak mudah melupakannya.

Pukul 14.40 WIB kapal Zon 1 meninggalkan Pelabuhan Internasional Tanjungbalai Karimun, Kamis (30/12/2010) menuju Pelabuhan Kukup, Johor Baru, Malaysia. Pukul 15.45 WIB (16.45 WM: Waktu Malaysia) kapal sudah merapat di Kukup. Kami terus menuju bus (di Malaysia penduduknya menyebut bas) setelah istirahat sejenak sambil ada yang melaksanakan sholat Asar. Dan pukul 18.10 WM tiga buah bus yang sudah disediakan meninggalkan Kukup menuju Perlis untuk nanti menyeberang ke Langkawi.

Setelah beberapa kali berhenti istirahat di tempat-tempat peristirahatan sepanjang jalan tol Plus (Proyek Lebuh Raya Utara Selatan) dalam waktu kurang lebih sebelas jam, pagi harinya bus kami sampai di Pelabuhan Kuala Perlis. Menunggu sebenatar (kurang lebih 45 menit) lalu kami naik KM (Kapal Motor) Fery MY menuju Pulau Langkawi, tujuan wisata utama yang kami maksud. Jumat (31/12) siang itu kami tiba di Pelabuhan Jetty Kuah, Langkawi setelah menyeberangi laut selama kurang lebih satu jam. Dan kami menruskan ke Hotel Region, tak jauh dari pelabuhan.

Inilah hari yang saya maksud sangat berkesan itu. Pertama, ini adalah hari terakhir di tahun 2010. Kami pergi berkunjung ke beberapa lokasi penting, tempat-tempat menarik di pulau yang sangat terkenal jauh ke manca negara itu. Kami pergi ke selat di mana kami dapat menjumpai begitu banyak burung elang yang sesungguhnya lepas di alam bebas namun dapat diberi makanan oleh manusia dengan cara menaburkan kulit ayam di atas laut. Burung-burung itu seperti begitu jinak, tidak jauh dari boat yang kami tumpangi di tengah laut itu.

Sungguh sangat menarik perjalanan kali ini. Kami juga dibawa ke lokasi penangkaran beberapa jenis ikan. Begitu aneh-aneh dan cantik-cantik ikan-ikan itu. Satu jenis ikan yang ditangkar itu adalah ikan cucut (kata orang Malaysia) yang mampu menembakkan air dari dalam laut setinggi kurang lebih satu meter untuk membidik makanan yang ditempel pada sebatang kayu kayu, di daratan. Ketika makannaya itu berhasil ia jatuhkan dengan semprotan air, ikan-ikan itu berebut memakan makanan itu. Sungguh mengasyikkan. Wah, pokoknya masih ada beberapa jenis ikan lagi. Bahkan di lautnya juga banyak ikan seperti begitu jinaknya. Dan kata perawat dan penjaga tempat itu, ikan-ikan di laut itu tidak boleh ditangkap. "Itu kawasan larangan menangkap ikan," jelasnya kepada kami.

Selain menikmati pemandangan alam dan berbagai jenis satwa khas Langkawi sesungguhnya masih ada banyak lokasi wisata yang terkelola dengan begitu baik di pulau yang sejak 1 Juni 2017 lalu oleh Unesco diberi nama Geopark. Orang Langkawi dan Malaysia sendiri tetap menyebut nama Langkawi. Masih ada misalnya 'goa kelawar' (maksudnya kelelawar), ada juga beberapa pemandangan laut dan pulau yang sangat indah.

Kami menghabiskan waktu seharian di lokasi wisata (temapat pelancongan, kata orang Malaysia) pulau ini. Dan di bagian petang menjelang malam, kami berkesempatan ke tempat-tempat lainnya. Ada under water (tempat berbagai hewan laut kutup ditontonkan), ada tempat (pabrik) obat gamat dengan aneka produknya. Di sini juga tersedia tempat-tempat berbelanja.

Daaan sampailah kami pada malam harinya (Jumat, malam tahun baru) untuk menghabiskan waktu semalaman di pelabuhan Jetty Kuah, Langkawi. Malam itu, di kegelapan langit malam bertaburan cahaya kembang api yang ditembakkan dari bumi kota Langkawi. Kami merasa begitu nikmatnya bermalam tahun baru di pulau yang konon mengandung arti elang batu (Lang = Elang; Kawi = Batu) itu.
(Semoga ada manfaatnya untuk sobat-sobat blogger dan pembaca lainnya)

Selasa, 04 Januari 2011

Mental Baru Semangat Baru

TAHUN BARU di hari baru, awal minggu, sekolah-sekolah mulai dibuka sehabis libur semester ganjil 2010/ 2011. Ada sekolah yang membukanya dengan melaksanakan upacara bendera Senin-Pagi sebagaimana biasa, tetapi ada juga yang langsung melaksanakan kegiatan gotong royong membersihkan pekerangan, taman dan tentu saja kelas masing-masing rombel (rombongan belajar). Dan bagi sekolah yang sebelum libur belum sempat membagi rapor hasil ujian semester ganjil, hari pertama juga diisi dengan acara pembagian rapor.

Tahun baru di hari baru, yang sejatinya harus pula baru adalah mental dan semangat semua komponen sekolah. Kepala Sekolah, guru, pegawai TU (Tata Usaha), siswa dan bahkan orang tua serta pemangku kepentingan (stakeholder) sekolah lainnya mesti memperbarui mental dan semangat demi sekolah.

Tahun baru di hari baru, waktu-waktu memulai langkah tanggung jawab dan hak baru, tidak boleh ada lagi pelanggaran ketentuan dalam kesadaran atau di luar kesadaran seperti setahun atau selama bertahun-tahun sudah dilakukan. Guru-guru yang tidak melaksanakan tugas dengan baik, pegawai TU yang lebih suka bermain game di depan komputer dari pada menyelesaikan tugas-tugas administrasi, Kepala Sekolah yang lebih banyak keluar meninggalkan sekolah dari pada mengurus sekolah dan para siswa yang tidak ikhlas mematuhi ketentuan dan peraturan sekolah, itu tidak boleh lagi ada.

Di pihak lain, masyarakat pendukung sekolah serta pemerintah yang bertanggung jawab atas keberadaan sekolah yang selama ini masih terasa renggang komunikasinya, wajib ditingkatkan dan dirapatkan komunikasi itu. Harmonisasi hubungan ini akan menjadi penentu kerja keras Kepala Sekolah, Guru, Pegawai TU dan siswa di sekolah dalam mewujudkan visi-misi sekolah. Visi-misi yang indah di kertas hanya akan menjadi mimpi tak berujung jika pihak-pihak penentu keberhasilan tidak saling berkomunikasi dan tidak saling bersinergi.

Tahun baru di hari baru, yang harus terus-menerus digalakkan adalah kerja keras yang jujur dan fokus pada kepentingan pendidikan yang diemban sekolah. Tujuan pendidikan sebagaimana dinyatakan pada pasal (3) Undang-undang No 20 Tahun 2010 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang berbunyi, "Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab", itu tidaklah akan mudah diwujudkan jika komponen-komponen penentu keberhasilan sekolah tidak bisa kompak.

Satu tahun --2010-- sudah kita tinggalkan. Satu tahun --2011-- ke depan dan tahun-tahun yang terus ada di hadapan adalah masa yang tidak mungkin kita tinggalkan, tapi bisa saja waktu-waktu itu meninggalkan kita. Kerugian mendalam yang menunggu di hadapan adalah jika waktu-waktu itu tidak terkelola dan tidak termanfaatkan dengan baik.

Bagi Kepala Sekolah dengan fungsi edukasi, manajerial, supervisi, leader, inovator dan motivator yang disingkat dengan EMAS-LIM waktu-waktu yang dulu terbiar, tentu harus berubah. Para guru dengan fungsi mengajar dan mendidik, pun wajib fokus pada kewajiban sebagai agen pembaharuan itu. Begitu juga dengan komponen lainnya. Harus memastikan dari sekarang bahwa waktu yang akan datang itu tidak lagi akan disia-siakan.

Itu semua hanya akan terjadi dengan modal mental dan semangat baru. Cara pandang dan cara berpikir yang keliru selama ini, harus diperbarui dengan cara pandang dan cara berpikir yang baru. Begitu juga dengan semangat. Semangat baru di tahun baru, tidak boleh ditawar-tawar lagi. SELAMAT MENINGGALKAN TAHUN LALU DAN SELAMAT MENEMPUH TAHUN BARU. Kita bekali diri kita dengan mental dan semangat baru. Semoga.
 
Copyright © 2016 koncopelangkin.com Shared By by NARNO, S.KOM 081372242221.