BREAKING NEWS

Jumat, 16 Desember 2011

Pulau-pulauku Menantiku

                                       ANDAI SAYA MENJADI ANGGOTA DPD-RI

BOLEHLAH saya bermimpi menjadi anggota DPD-RI (Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia), salah satu lembaga negara di republik ini. Menjadi anggota DPD-RI, seperti juga menjadi anggota DPR-RI adalah harapan dan incaran banyak rakyat terutama politisi. Dan kalau saya menjadi salah seorang anggota DPD-RI pasti ada harapan, keinginan dan tekad saya sebagai beban fungsi dan tanggung jawab saya yang sudah terpilih.
Sebagai rakyat Indonesia yang bermastautin (bertempat tinggal) di Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) tentu saya akan menjadi perwakilan provinsi ‘segantang lada’ ini nanti. Yang pasti jiwa nasionalis saya akan memperjuangkan kepentingan rakyat di daerah ini. Tanpa mengorbankan Indonesia sebagai sebuah Negara yang dihuni oleh 240-an juta jiwa, dengan 33 provinsi kewajiban saya adalah memperjuangkan kepentingan dan kesejahteraan rakyat yang saya wakili, Kepri.
Saya wajib memahami bahwa tugas utama saya sebagai anggota DPD adalah sebagai penghubung antara kepentingan rakyat daerah pilihan saya yaitu Kepri dengan Pusat. Dalam fungsi legislasi, saya akan berkesempatan mengusulkan dan atau membahas usul sebuah undang-undang berkaitan dengan kepentingan daerah dalam bingkai Negara Republik Indonesia. Maka hal-hal yang berkaitan dengan otonomi daerah, perimbangan keuangan pusat dan daerah, pemekaran dan penggabungan daerah adalah fungsi pokok yang wajib menjadi tanggung jawab saya.
Saya tahu Kepri yang lahir dengan Undang-undang Nomor 25 Tahun 2002 (pada awalnya bagian dari Provinsi Riau) dan baru mempunyai pemerintahan sendiri pada tahun 2005 dengan ditunjuknya Ismeth Abdullah sebagai pejabat gubernur serta memiliki gubernur defenitif –terpilih Ismeth Abdullah-- pada tahun 2005 melalui Pemilukada, jelaslah provinsi ke-32 ini dalam serba baru dan serba kekurangan. Keadaan serba baru dan serba kekurangan itulah sesungguhnya yang mesti menjadi perhatian pokok saya sebagai anggota DPD Kepri.
Provinsi dengan 2.408 pulau (besar-kecil) dan baru dihuni sebanyak 394 pulau, bahkan masih ada 1.350 pulau yang belum bernama, jika pulau-pulau itu digabungkan hanya berjumlah 10.595 km2 luas daratan. Bandingkan dengan luas lautannya yang mencapai 241.215 km2 atau sekitar 96%. Dengan daratan hanya 4 % sungguh provinsi yang berbatasan langsung dengan Negara Malaysia, Singapura, Philipina ini merupakan provinsi dengan posisi strategis dalam hubungan Internasional. Sebanyak 19 buah pulau bahkan berbatasan langsung dengan Negara-negara tetangga. Geografi yang khas seperti Itu harus menjadi perhatian dan tantangan saya sebagai anggota DPD Provinsi Maritim ini.
Oleh karena itu, sesungguhnya tugas berat saya sebagai anggota DPD daerah ini adalah bagaimana saya menghubungkan pulau-pulau yang menjadi penyangga dan penguat bukan hanya buat provinsi Kepri sendiri akan tetapi terlebih-lebih adalah sebagai penyangga dan pengokoh keberadaan republik ini. Saya tahu betul, rakyat di provinsi ini, terutama yang bertempat tinggal nun jauh di pulau-pulau terpencil itu, mereka sangat membutuhkan orang seperti saya. Saya berkewajiban memperjuangkan kepentingan dan kesejahteraan mereka agar mereka dapat hidup sama dengan masyarakat di tempat-tempat lain.
Di musim-musim tertentu, gelombang laut yang harus mereka hadapi sungguh dahsyat dan kejam untuk berhubungan antara satu pulau dengan pulau lainnya. Di laut China Selatan sana, laut yang memisahkan Kabupaten Natuna dan Anambas dengan daerah lain, terkadang bisa mencapai gelombang setinggi mtujuh meter yang harus diharungi masyarakat. Sungguh menakutkan. Di pulau-pulau tempat sebagian besar penduduk hidup, fasilitas seperti komunikasi, listrik, air bersih dan lain-lain masih sangat minim. Begitu juga sarana prasarana pendidikan masih sangat terbatas. Dan itu pasti menanti saya.
Sungguh sangat berat tugas saya. Tapi saya mesti melakukannya. Itu tanggung jawab saya sebagai anggota DPD. Saya harus mempunyai program khusus yang sesuai dengan kebutruhan masyarakat di pulaua-pulau itu. Tanpa melupakan masyarakat yang bertempat tinggal di kota-kota seperti di Batam, Tanjungpinang, Karimun, sesungguhnya fokus utama saya mestilah mereka yang bertempat tinggal di pulau-pulau itu. Pulau-pulau itu memang menanti saya. Saya akan 'satukan pulau' itu, apapun caranya.***

Senin, 12 Desember 2011

Rekening Gendut dan Sikap Kita

DULU, medio 2010 lalu, kepada kita disuguhkan heboh berita rekening ‘gendut’ yang diduga dimiliki dan atau melibatkan polisi. Begitu santer berita itu memenuhi ruang dan waktu-waktu kita. Hampir semua media masa memblow-upnya. Pagi- siang-malam ribut-ribut berita di layar kaca tidak terlepas dari berita rekening gendut yang diduga dimiliki anggota polri itu. Koran dan majalah pun memenuhkan halamannya dengan berita itu.

Kita tentu masih ingat gendang berita yang ditabuh Majalah Tempo edisi 28 Juni- 4 Juli 2010 yang sensasional itu. Sensasional? Ya, karena majalah edisi minggu akhir Juni ke awal Juli itu sempat menghilang dari peredaran di hari-hari pertama beredarnya. Sungguh heboh, waktu itu. Dan media cetak lain juga tidak kalah meramaikannya.Tapi lalu senyap dan berita rekening gendut itupun hilang bak ditelan bumi. Pandangan kita pun beragam menyikapinya.

Minggu-minggu  (sejak awal Desember 2011) lalu, kembali berita-berita rekening gendut marak memekakkan telinga. Kalau dulu dugaannya dimiliki aparat baju cokelat, kini pemiliknya diduga pegawai negeri sipil (PNS) yang juga sama-sama makan gaji dari uang rakyat. Hebatnya disebut-sebut PNS ini masih muda-belia dilihat dari status kepegawaiannya. Konon masih bergolongan rendah (pangkatnya) karena memang belum lama menjadi pegawai negeri.  Dan yang membuat kita berdecak 'kagum' (baca: geli), simpanan tabungan si PNS muda ini sangatlah besar. Bukan sebutan jutaan tapi sebutannya miliaran rupiah. Sungguh fantastis. Pandangan kita pun beragam dibuatnya. Yang pasti kita memang merasa aneh. Sungguh aneh melihat dan mendengar berita ini.

Sesungguhnya keanehan seperti itu bukanlah cerita baru di negeri berjuluk ‘taburan zambrut di tengah khatulistiwa’ ini. Dia adalah sejarah yang sebenarnya sudah lama ada. Hanya karena tidak terungkap selama ini, seolah-olah orang kaya 'aneh' di Indonesia ini tidak ada. Seolah-olah orang kaya di Negeri ini adalah orang kaya yang lumrah-lumrah dan normal-normal saja. Padahal jika dihitung dan diukur (dibandingkan) simpanannya itu dengan penghasilan resminya sungguh tidak seimbang. Pundi-pundi simpanan itu terlalu gendut berbanding penghasilan yang didapat. Tapi selama ini, ya itu seolah-olah tidak aneh. Biasa saja. Itukah pandangan kita?

Di Negeri tercinta yang begitu masih banyaknya pengemis, orang-orang miskin, orang tidak punya rumah, tidak makan, jadi gembel, penganggur, pencopet karena kelaparan dan lain-lain sejenisnya, ternyata di Negeri yang alamnya terkaya ini, banyak juga orang kayanya. Setiap tahun selalu ada orang-orang terkaya yang mengalahkan orang-orang terkaya di negeri tetangga yang diumumkan. Padahal di negeri orang sana, dengan kelompok orang miskinnya sudah sangat minim tapi orang kayanya jarang terdengar diumumkan. Tidak terdengar penduduknya yang terkaya di dunia. Aneh? Ah, ternyata itu juga tidak aneh selama ini.

Kini, setelah mata semua orang mulai terbelalak (mungkin mulai tersadar) betapa banyak keanehan di negeri ini bila melihat kekayaan vs kemiskinan, ribut-ribut rekening gendut marak kembali. Tiba-tiba orang terbayang episode gayus yang superkaya di usia muda yang memarakkan berita beberapa waktu lalu. Hah, tapi apa perlu diribut-ributkan? Jangan-jangan itu biasa saja. Dan jangan-jangan pandangan kita memang tidak ingin mempersoalkan.

Memang semua boleh berbicara: usut rekening mereka, hukum seberat-beratnya mereka, gantung mereka sampai mampus, permalukan mereka, buatkan kebun koruptor (macam kebun binanatang) buat mereka jika nyata-nyata mencoleng uang rakyat. Dan banyak lagi slogan yang dapat diciptakan. Ah,  jangan-jangan kalimat emosi itu karena kita belum mendapat kesempatan untuk korupsi saja. Jangan-jangan sebenarnya yang menghujat hanya berpura-pura saja.

Sekian tahun reformasi, yang dulu diharapkan mengubah cara pandang dan cara berpikir serta cara bertindak kita dari yang bobrok kepada yang lebih baik baik, ternyata itu belum terwujud. Sekian puluhan tahun kita merusak bangsa sendiri dengan sikap dan perilaku bobrok itu, dan  sekian tahun pula usaha memberantas korupsi dilakukan, tapi korupsi konon malah bertambah hebat. Dulu korupsi diam-diam dilakukan di bawah meja, kini korupsi dilakukan terang-terangan di atas meja (dengan pura-pura membuat peraturan untuk melegalkannya), bahkan dengan meja-mejanya sekaligus digarong oleh para koruptornya. Aneh? Ah, sepertinya sudah tidak aneh. Dan begitulah pandangan kita.

Rekening gendut? Ah, jangan-jangan ini trik lagi untuk meramaikan suasana, melariskan berita, dan akhirnya senyap tanpa usaha mengatasinya. Lalu? Ya, anggap saja biasa. Yang ketiban sial, mungkin nasibnya apes ya masuk penjara. (diedit ulang dari tulisan pada http://www.kompasiana.com/mrasyidnur)

Minggu, 11 Desember 2011

Tiga Tahun Emas SBY




MEMBACA  ulang sejarah, presiden Indonesia sejak awal merdeka hingga hari ini sudah sama-sama kita ketahui seperti apa dan apa yang mereka goreskan dalam lembaran sejarah untuk negara sebesar Indonesia yang mereka pimpin. Soekarno, sang proklamator --presiden pertama-- tak ada yang tak 'sangat mengaguminya' bahkan mengidolakannya sekaligus malah mengultuskannya. Sudah tahu pula kita bagaimana jasa dan pengorbanannya demi Indonesia awal merdeka yang dia terajui.

Soeharto, presiden ke-2 yang top dengan konsep pembangunan ‘repelita’ dan sempat berkuasa begitu lama juga, pun sudah sama-sama kita maklumi seperti apa dan apa yang dilakukannya selama berkuasa. Sebanyak rakyat yang menyanjungnya tapi tidak kurang juga yang menghujatnya.

‘Habibie, Gusdur dan Megawati pun sudah sama-sama dimaklumi kiprah mereka masing-masing ketika berkuasa. Tidak mudah menyebut yang satu lebih baik atau lebih jelek dari pada yang lainnya. Masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan. Sebagai manusia apalagi sebagai Kepala Negara pastilah mereka itu tidak akan sempurna. Mereka memang bukan superman.

Satu hal yang tak perlu dibantah adalah bahwa semua mereka sudah berusaha --setidaknya menurut pengakuan mereka-- bahwa mereka telah menunaikan tugas dan kewajiban mereka. Mereka pasti mengakui ke rakyat bahwa mereka sudah maksimal melakukan tanggung jawabnya. Tapi sudahkah berhasil seperti yang kita harapkan?

Mungkin terlalu gampang kalau kita menyebut semua presiden kita belum juga mampu mewujudkan cita-cita proklamasi yang intinya sudah tertuang dalam pembukaan UUD 45, ....melindungi segenap bangsa Indoneia dan seluruh tumpah darah Indonesia... memajukan kesejahteraan umum....dst sebagai harapan utama dari seluruh rakyat yang mereka pimpin. Untuk yang ini kita sepakat memang belum tercapai sampai detik ini sesuai harapan.

Soekarno mengakhiri kekuasaannya dengan catatan yang gelap. Itu yang terbaca dalam catatan sejarah. Soeharto naik menggantikannya tidak juga melalui cara-cara demokrasi yang diharapkan. Soeharto mengakhiri kuasa powernya tidak juga mulus-mulus amat. Dia dipaksa mahasiswa untuk berhenti berkuasa padahal dia belum ikhlas untuk itu.

Habibie, Gusdur dan Megawati memang sudah terasa nuansa demokrasi dalam mendapatkan kuasanya. Tapi persoalan pokok dari fungsi dan tanggung jawab sang presiden, sekali lagi adalah harapan kita sebagai rakyat, kiranya negara ini mampu mewujudkan keinginan rakyat untuk hidup sejahtera. Negara inibermartabat di mata negara dunia lain. Itu saja harapan kita sesungguhnya. Sampailah saat ini kita berada di era SBY. Akankah itu terwujud?

SBY yang sudah berkuasa secara demokrasi dalam dua periode dan masih tersisa tiga tahun menjelang 2014 nanti, kalau boleh berharap inilah kesempatan emas yang tersisa buat presiden ini mewujudkan harapan-harapan rakyat selama ini. Dan apakah resufle kabinet yang dilakukan medio Oktober lalu adalah dalam rangka usaha mewujudkan harapan tersebut? Hanya SBY yang tahu dan hanya waktu jua yang akan menyimpulkannya nanti.

Kalau saja, SBY dengan segala kuasa yang dimandatkan kepadanya dipaksakannya untuk sebesar-besar kepentingan rakyat, maka kesempatan emas ini akan benar-benar menjadi 'hasil emas' kelak. Kalau misalnya kebobrokan yang mendesak saat ini adalah membasmi korupsi maka basmilah itu secara jantan tanpa pandang bulu. Kalau saat ini kebobrokan juga terletak pada penerapan hukum yang amburadul oleh polisi, jaksa dan hakim, maka benahilah itu secara konsisten dan objektif. Tapi jika kesempatan tersisa ini tidak juga dimanfaatkan maka entah kapan lagi kita bisa merasakan cita-cita proklamasi itu hadir di tengah-tengah masyarakat. Ah apakah ini tetap akan sekedar mimpi? (revisi dari judul yang sama pada   http://www.kompasiana.com/mrasyidnur

Kamis, 22 September 2011

Lakukan apa yang Dikatakan


TERNYATA melakukan (melaksanakan) apa yang dikatakan tidak semudah mengatakannya itu sendiri. Mengatakan, “berbuatlah yang baik”, mudah. Tapi melakukan yang baik tidaklah mudah. Mengatakan, “Rajin-rajinlah sekolah” –kata Pak/Bu Guru– itu mudah, tapi untuk melakukan rajin ke sekolah tidaklah mudah (oleh siswa bahkan oleh guru juga). Terbukti masih banyak peserta didik dan bahkan pendidik yang tak melakukannya.

Kalau begitu, melakukan memang tidaklah semudah mengatakannya. Berkata (entah menyampaikan apa saja, seperti dalam tulisan dan atau pembicaraaan di depan forum)  tidaklah terlalu susah. Tapi untuk melaksanakan (mengamalkan) apa yang dikatakan itu selalunya tidak mudah. Apakah karena itu pula Tuhan sampai harus mengancam akan memberi dosa lebih besar kepada orang-orang yang hanya pintar berkata (menyampaikan) saja tapi tidak melakukannya? Bisa jadi.

Yang jelas, tanpa harus menjadi pengamat atau menjadi pakar (seperti yang banyak omong di TV-TV dan dibayar pula) rasanya kita juga banyak melihat orang-orang yang mungkin di sekeliling kita suka berkata lain dan ternyata berbuat yang lain pula. Yang diucapkan di mulut, rupanya tidak seperti yang dibuat dalam tindakan dan perbuatan. Munafiq? Ah, muingkin terlalu berlebihan menuduh begitu. Yang pasti, rasanya banyak kita saksikan gejala seperti itu.

Yang lebih agak merisaukan melihat fenomena lain di mulut lain di tindak-lanjut itu adalah jika yang melakukannya adalah mereka-mereka (kita-kita) yang sepantasnya mnenjadi teladan. Entah tokoh masyarakat, tokoh agama, para guru dan lain-lainnya, kita seseungguhnya adalah orang yang ikut bertanggung jawab sebagai masyarakat. Atau entah dia pejabat, pengusaha, bintang film, selebriti, anggota Dewan, dst…dst…yang sepanjang waktu dapat dilihat di televisi atau dapat terbaca beritanya di koran atau majalah, semua itu harusnya menjadi teladan untuk membuktikan. Lakukanlah apa yang dikatakan.

Kalau orang-orang seperti itu tidak juga sejalan apa yang dikatakan dengan apa yang dilakukan, akan semakin jauhlah harapan ketentraman dan kedamaian di negeri ini. Memang, semua kita (rakyat) ini, termasuk yang menulis ini, sesungguhnya berkewajiban juga untuk menyatukan (sejalan) perbuatan dengan perkataan. Biarpun orang kecil, jika semua memang bisa melaksanakan perinsip ’sama, apa yang dikatakan dengan apa yang dilakukan’  maka pelan tapi pasti, suatu saat nanti akan terwujudlah masyarakat yang aman sejahtera, di negeri dengan limpahan karunia ini.

Tapi kapan? Wallohu a’lam. Tapi kalau percaya dengan pesan, ‘mulailah dari diri sendiri‘ seperti sabda Nabi, maka jalan pertama untuk mengatasi kerisauan ini memang sebaiknya kita bertekad untuk memulainya dari diri pribadi. Orang lain mau memulai atau tidak, biarlah menjadi keputusan orang lain itu pula. Semoga.***

Jumat, 26 Agustus 2011

Ramadhan Guru yang Diam

SATU BULAN penuh para muslim yang mukmin berkesempatan bersama Ramadhan 1432/ 2011 ini. Syukur, tentu. Ada banyak yang barangkali ingin juga bersama bulan penuh berkah, rahmah dan maghfirah ini akan tetapi tidak bisa. Entah karena tidak lagi berumur panjang menjelang bulan seribu bulan itu atau bisa juga hatinya tidak tertarik untuk bersama karena belum mendapat hidayah dari-Nya.

Buat yang berkesempatan bersama sangat perlu untuk berpikir, apakah yang dapat dipetik dari keberadaan Ramadhan ini. Atau dia akan berlalu begitu saja bersama kealpaan pemahaman terhadap keberadaannya.
Salah satu yang sejatinya dipetik dari keberadaan bulan ampunan itu adalah terdapatnya nilai-nilai pendidikan dan pengajaran di dalamnya. Dan salah satu nilai pendidikan dan pengajaran itu adalah menjadikan bulan Ramadhan sebagai bulan tempat menimba ilmu dan nilai-nilai kejujuran dan kasih-sayang.

Sudah dimaklumi bahwa puasa yang diwajibkan kepada muslim yang beriman selama bulan Ramadhan hanya dapat dilaksanakan apabila orang yang berpuasa (shoim) itu memastikan dirinya mampu berlaku jujur kepada dirinya selama proses pelaksanaan puasa. Tidak bisa puasa dilakukan dengan mencampur-adukkan antara kejujuran dan kebohongan.

Puasa adalah amalan pribadi yang langsung berhubungan dengan sang Khaliq, zat yang mewajibkan puasa itu sendiri. Sebagai amalan pribadi, dia terlaksana dengan tingkat kerahasaan yang sangat tinggi antara si shoim dengan orang lain. Artinya, oleh orang lain (sahabat, anak isteri, mak-ayah dan mertua atau siapa saja) kita dapat merahasiakan puasa kita. Mengapa? Karena jenis amalan ini berbeda dengan amalan-amalan lain.

Berbanding dengan sholat, zakat atau amal lainnya yang dengan mudah terdeteksi bentuk-bentuk amaliahnya, puasa tidak seperti itu. Jika sholat nyata bentuk gerak-geriknya sementara puasa tidak. Begitu pula haji dan amalan-amalan lainnya. Orang tahu apa yang sedang dikerjakan, sementara puasa tidak. Antara orang puasa dengan orang tidak puasa tidak ada batas perbedaan siknifikannya. Keduanya sama.

Maka yang tahu antara orang puasa dengan yang tidak puasa hanyalah Allah, zat Pencipta yang memefrintah puasa. Di situlah letaknya nilai-nilai kejujuran akan bermain. Jika shoim itu mampu berlaku jujur dalam pelaksanaan puasanya maka akan berhasillah dia dalam melaksanakan puasanya. Sebaliknya jika dia tetap mencurangi orang lain dengan hanya berpura-pura puasa maka sesungguhnya dia tidak akan termasuk orang yang berhasil melaksanakan puasa.

Jadi, tampak jelas betapa puasa yang dilaksanakan dalam bulan ramadhan itu mengandung pendidikan dan pengajaran, berupa penerapan nilai-nilai kejujuran buat orang yang melaksanakan puasa itu sendiri. Artinya bulan Ramadhan itu merupakan guru terbaik yang meskipun dia diam saja, akan tetapi dapat mengajar kita menjadi muslim-mukmin yang jujur.

Jadi, Ramadhan adalah guru diam yang perlu dimanfaatkan sendiri secaqra otodidak nilai-nilai p[endidkikan dan pengajaran yang ada di dalamnya untuk kebaikan dan kemasalahatan kita juga. Semoga.

Sabtu, 02 Juli 2011

Israk-Mikraj, Sholat dan Kejujuiran

KEBETULAN awal Juli 2011 ini berbarengan dengan akhir bulan Rajab (Hijryah), peringatan Israk Mikraj yang fenomenal itu. Bagi umat Islam peristiwa Israk-Mikraj tidak lagi perosalan mempermasalahkan kebenaran –lahir– kejadiannya: benarkah ia terjadi secara lahir atau tidak. Hal itu diserahkan ke keyakinan masing-masing walaupun penafsiran ‘abdihi’ dalam surah Bani Israil itu diartikan jasmani dan rohani.

Satu kesepakatan bahwa dalam peristiwa Israk-Mikraj itulah perintah sholat yang merupakan dasar umat Islam menyatakan dirinya berada dalam keyakinan Islam itu sendiri, tidak lagi ada ketidaksepahaman di sini. Dari lima pilar keislaman seseorang, dan sholat pun dijadikan tiangnya kompak diyakini bahwa pilar utama itu memang diperoleh Nabi pada peristiwa Israk-Mikraj itu. Artinya sholat yang memang menjadi penopang apakah keislaman seseorang memang ada pada dirinya atau tidak itu, dijemput Nabi langsung ke Tuhan dalam peristiwa Israk-Mikraj.

Persoalan yang ingin saya kemukakan pada momen umat Islam memperingati Israk-Mikraj tahun ini adalah bagaimana sholat yang pemerolehannya begitu fenomenal, sudahkah dia menjadi pilar hidup kita berlaku sebagaimana pesan yang terkandung dalam sholat itu? Sederhananya, buat kita yang sudah menjadikana sholat sebagai bagian kewajiban hidup, dapatkah sholat mempengaruhi tindak-tanduk kita dalam hidup dan kehidupan ini?

Dalam kejadian pelanggaran hukum oleh seseorang (muslim) yang sehari-hari mengerjakan sholat, misalnya akan timbul pertanyaan pada diri masing-masing itu, apakah aplikasi sholat lima kali sehari itu tidak mampu meluruskan cara berpikir, cara bertindak dan cara berprilaku? Nyatanya begitu banyak diantara orang-orang yang sholat melakukan pelanggaran hukum dalam kehidupan sehari-harinya. Padahal dalam sholat nyata ikrar yang ditekadkan bahwa segala hidup, mati dan tindak-tanduk adalah atas norma dan ketentuan Tuhan. Wamahyaaya wamamaati lillahi mrobbil ‘aalamiin.

Nah kalau kita sudah bertekad mengikuti Tuhan dan Tuhan pun sudah nyata menyuruh (mewajibkan) berbuat lurus dalam tindak-tanduk mengapa juga ada yang di dalam kehidupan melakukan pelanggaran hukum yang nyata-nyata melawan norma Tuhan? Itulah barangkali ‘ulang-pikir’ yang mesti ditekankan kepada setiap diri masing-masing berbarengan dengan peringatan Israk-Mikraj tahun ini.

Jangan sampai tiap tahun peringatan hari bersejarah ini tidak sama sekali memberi makna kepada kita. Tidak pernah para ustaz lupa mengingatkan kalau inti peringatan Israk-Mikraj ini adalah penjemputan kewajiban sholat buat umat Islam. Dan sholat itu sendiri adalah kunci dari segala kunci keberagamaan seseorang yang akan menyelamatkan manusia jika mematuhi (melaksanakan) dan membuktikan (aplikasi kebenaran) dalam kehidupan. Artinya, sholatlah kelak yang akan menjadi ukuran amal ibadah lain di hadapan Tuhan.

Untuk itu rasanya tidak berlebihan kembali diingatkan kepada semua (termasuk kepada penulis) bahwa sholat yang dijemput jauh-jauh oleh Rasul itu jangan sampai tak berguna. Fungsi utama untuk memupuk dan membuktikan kebenaran dan kejujuran kita dalam hidup hendaknya mampu dibuktikan. Semoga.***

Selasa, 28 Juni 2011

PSB: Sekolah Baru untuk Pikiran Baru

MASA-MASA Penerimaan Siswa Baru (PSB) Tahun Pelajaran (TP) 2011/ 2012 berlangsung antara tanggal 27 Juni hingga 9 Juli 2011 ini. Dari informasi yang beredar, tanggal 27 Juni hingga 2 Juli adalah masa mendaftar (ambil/ jual formulir pendaftaran). Tanggal 4 Juli seleksi peserta yang mendaftar. Dan tanggal 5 Juli para pendaftar yang dinayatakan lulus (diterima) akan diumumkan. Lalu Panitia PSB (sekarang disebut juga Panitia PPDB= Penerima Peserta Didik Baru) mempersiapkan segala sesuatunya untuk menyongsong TP baru yang akan dimulai pada 11 Juli 2011 yang akan datang. (Informasi Dinas Pendidikan Provinsi Kepri).

Setiap memulai TP baru lazimnya yang senantiasa menjadi pembicaraan hangat adalah sekolah baru, baju baru dan teman baru. Orang tua –karena desakan anak atau ambisi pribadi– lebih suka mematut-matut sekolah mana yang akan menjadi sasaran pendaftaran putra-putrinya. Jika tidak ada rayonisasi, semakin luas dan banyaklah pilihan sekolah yang akan dituju. Apalagi sekolah-sekolah yang menggunakan pendaftaran sistem online, jelas kesempatan mendaftarnya lebih luas lagi.

Tapi jika pun menggunakan sistem rayon, para calon siswa (peserta didik) baru tetap saja lebih memikirkan sekolah baru, teman baru, baju baru, sepatu baru dan hal-hal lahir lainnya. Yang ada dalam pikiran adalah siapa nanti teman barunya, di mana sekolah barunya, dst.. dst…
Sudah waktunya para pemangku kepentingan (stake holders) pendidikan sedikit mengubah pola pandang di awal tahun baru sekolah TP 2011/ 2012 ini. Yang sesungguhnya mendesak untuk diperbaharui saat ini adalah mengubah pandangan dari ’sekolah sekedar mencari ilmu’ kepada sekolah tempat menggunakan/ menerapkan ilmu.

Selama ini, hampir semua pemangku kepentingan pendidikan berpikir bahwa sekolah memang untuk menimba ilmu. Ini tidaklah salah. Tapi ketika sekolah ‘hanya’ untuk menimba ilmu tanpa merasa berkewajiban menerapkan ilmu, di sinilah keteledoran muncul. Dan yang lebih celaka tentu saja jika ternyata sekolah bukan saja tidak untuk menerapkan ilmu tapi juga tidak pula untuk menuntut ilmu.Nauzubillah.

Untuk jenis sekolah yang terakhir ini tentu saja hanya sekolahnyang sekedar berorientasi melahirkan siswa yang hanya memiliki ijazah alias Surat Tanda Tamat Belajar (STTB) belaka. Pengelola sekolah berpikir dengan ijazah saja pun orang bisa mencari pekerjaan dan akan digaji oleh negara. Yang penting ada koneksi (pendekatan) kepada pejabat yang berwewenang di situ.
Sekolah sekedar mentransfer ilmu –kepada siswa– tanpa konsep menerapkan ilmu secara langsung, tentu saja jauh lebih baik dari pada sekolah yang tidak memberi ilmu, tidak pula menerapkan ilmu (karena pasti tak mampu), tapi hanya sekedar memberi selembar kertas bukti tamat. Ini sekolah yang menyesatkan.

Yang ingin dikemukakan di sini adalah bahwa pola pikir sekedar menuntut ilmu tanpa penerapannya terbukti telah menyesatkan bangsa ini ke jurang keteledoran karena berpikir banyak ilmu sudah cukup. Padahal ilmu yang sebanyak apa juapun tidak akan berguna jika tidak diaplikasikan. Tidak diterapkan dengan baik dan jujur.

Kebobrokan di bidang hukum misalnya dapat dilihat dari konsep ini. Ketika dulu sekolah (termasuk ketika di Perguruan Tinggi) sudah nyata diajarkan bagaimana sebenarnya konsep hukum yang benar dan baik –dalam teori– namun karena waktu itu tidak dilaksanakan apa yang diajarkan itu, maka penerapannya kelak kemudian hari sudah tidak benar lagi.

Waktu siswa di sekolah, sudah diajarkan bagiamana kebenaran harus dilaksanakan. Guru menjelaskan tidak boleh berdusta. Tapi ketika guru berdusta dalam memberi nilai, siswa berdusta dalam menjawab ujian, Kepala Sekolah berdusta dalam penentuan kelulusan, dst dst maka secara langsung sekolahn telah melakukan keteledoran yang fatal. Itulah yang kelak di kemudian hari juga terjadi dalam birokrasi bangsa ini.

Jadi, tanpa berpanjang-panjang seharusnya memulai TP baru ini semua orang berpikir untuk memulai berpikir baru: laksanakan ilmu dalam kebenaran dan kejujuran.

Jumat, 24 Juni 2011

Berprestasi dengan Benar

DALAM pidato pembukaan Rakor (Rapat Koordinasi) dan Evaluasi Dinas Pendidikan Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) di Karimun hari Kamis (23/06), Bupati Karimun, H. Nurdin Basirun menyatakan perlunya meraih prestasi dengan benar. Berprestasi dengan benar? Ya, maksudnya jangan hanya mengejar prestasi tapi dengan cara-cara yang tidak benar.

Pernyataan itu keluar dari mulut bupati yang bergelar doktor (DR) itu menanggapi pidato sambutan Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Karimun, Haris Fadillah dan pidato sambutan Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Kepri, Drs. H. Yatim Mustafa, M.Pd sebelum pengarahan bupati. Pada acara pembukaan Rakor itu, terlebih dahulu memberikan sambutan kedua Kepala Dinas tersebut. Kepala Dinas Kabupaten Karimun berpidato sebagai tuan rumah --rakor Disdik Provinsi ini kebetulan diadakan di Kabupaten Karimun-- sementara Kadis Provinsi berpidato karena memang ini adalah acara orang provinsi. Dinas provinsi yang punya acara.

Kedua Kadis itu memang banyak menyinggung tentang prestasi pendidikan terutama dengan mengemukakan data-data hasil UN (Ujian Nasional) lalu. Kabupaten Karimun bangga dengan raihan pelakat Pataka Pendidikan dari Gubernur Kepri meski tidak menjadi pemuncak kelulusan UN 2010/ 2011. Pemuncak kelulusan diraih oleh Kabupaten Bintan. Oleh Gubernur Kepri, M. Sani, Karimun dianggap berhasil meningkatkan terus prestasi pendidikan di daerah ini. Berbanding enem kabupaten lain, Karimun dipandang gubernur lebih menonjol prestasinya. Pak Kadis Karimun tentulah bangga dengan pencapaian itu. Dan muncullah kebanggaan itu dalam pidato sambutannya.

Sementara Kadis Provinsi juga dengan senang hati menyebut bahwa hasil UN tahun 2010/ 2011 di Kepri sangatlah memuaskan. Dengan menyebut angka persentase kelulusan hampir 100% Kadis Provinsi itu begitu bangga dengan kinerjanya. Berbanding provinsi-provinsi lain di Indonesia, Kepri sebagai provinsi pemekaran memang tidak jelek-jelek sangat prestasi pendidikannya. Itu pula tema pidato sambutannya.

Mungkin isi kedua pidato itulah yang direspon pula oleh Bupati Karimun yang berkesempatan memberi pengarahan sekaligus akan membuka secara resmi rakor itu. "Kita harus berprestasi dengan benar," jelasnya menegaskan. Tentu saja maksud Pak Bupati itu adalah untuk mengingatkan para pemangku kepentingan pendidikan di daerah ini tentang perlunya mengevaluasi kembali, apakah raihan prestasi pendidikan selama ini sudah sesuai dengan ketentuan dan aturan atau masih prestasi 'semu' yang mengandung bom waktu?

Sebab masih beredar isu, misalnya, UN yang tidak jujur dan atau UN yang direkayasa jawabannya. Di banyak daerah di Indonesia memang masih kita dengar rekayasa UN khususnya dalam meraih kelulusan. Belakangan ada heboh seorang anak SD yang diset oleh sekolahnya untuk memberi jawaban UN kepada rekan-rekannya. Perbuatan busuk itu akhirnya beredar ke umum karena anak itu tidak tahan menyimpan barang busuk itu sendiri lalu bercerita ke ibunya. Dan ibunya itulah yang membuka borok rekayasa itu ke umum.

Kita tahu, kisah ini sampai juga ke Mendiknas, ke parlemen RI dan ke mayarakat ramai. Masyarakat yang selama ini sebagiannya memang sudah terkontaminasi oleh model-model busuk seperti itu maka muncul juga dua blok masyarakat dalam menanggapi peristiwa jelek itu. Sebagian menganggap ibu itu sebagai pahlawan kebenaran dalam UN dan banyak pula yang mencacinya.

Dengan menyebut beberapa contoh kebobrokan dalam UN, Bupati Karimun itu mengimbau jajaran pendidikan yang hadir di GOR Tertutup Badang Perkasa Karimun itu untuk kembali ke pangkal jalan kebenaran bilama mana selama ini ternyata terjadi pula keboborkan UN itu di daerah ini. "Mari kita berprestasi dengan benar," imbaunya. Mungkin bupati mendengar juga selentingan kecurangan pelaksanaan UN di daerah kekuasaanya ini. Atau mungkiin dia juga mendengar bahwa di provinsi termuda ini juga belum lepas dari budaya contek-mencontek dalam UN. Kalau itu benar, memang bisa menjadi bom waktu suatu saat nanti.

Kita semua memang wajib terus mengawas dan mengawal sekaligus melaksanakan usaha-usaha meluruskan perburuan prestasi dalam pendidikan ini. Jika Indonesia ingin menjadi negara yang maju ke depan, pendidikan yang masih banyak salah arah ini wajib diluruskan. Tidak waktunya lagi, misalnya, memburu kelulusan seratus persen dengan cara-cara curang. Itulah benih perusak pendidikan yang akan meledak dan menghancurkan bangsa ini. Berprestasi dengan benar, adalah azas yang tepat untuk meluruskan langkah itu. Semoga.***

Senin, 16 Mei 2011

Mempertanggungjawabkan Kelulusan: Surat buat Sahabat

HARI ini, Senin (16/05) serentak di seluruh Indonesia diumumkan hasil Ujian Nasional (UN) tingkat SMA, MA dan SMK. Di Provinsi Kepri (Kepulauan Riau) pengumuman kelulusan UN diumumkan secara bersamaan waktunya pada pukul 16.00 WIB. Ketentuan waktu ini merupakan kesepakatan antara Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Kepri dengan Kepala Dinas Kabupaten/ Kota se-Kepri.

Dari hasil pengumuman tersebut sudah diketahui ada sekolah yang berhasil meluluskan siswanya 100% dan ada pula yang kurang. Di satu sisi kelulusan 100% tentulah menggembirakan tapi di sisi lain ada beban moral dan tanggung jawab yang terkandung di dalamnya. Seratus persen artinya sekolah berhasil mencapai matlamat (harapan) yang digariskan sementara yang belum tentu perlu kerja keras lagi.

Satu hal yang tidak kurang penting dari kelulusan sempurna itu adalah bagaimana sekolah mempertanggungjawabkannya baik kepada sekolah sendiri terlebih kepada masyarakat (siswa, orang tua siswa dan pemangku kepentingan lainnya) yang menjadi bagian dari kepentingan sekolah. Ini menjadi penting mengingat masih adanya sinyalemen UN yang tidak berjalan secara baik dan benar. Masih terdengar isue bocor (dibocorkannya) soal ujian oleh orang-orang tertentu kepada siswa peserta UN.

Memperhatikan dan menyimak sinyalemen itu sesungguhnya itu bukan berita baru. Banyak sudah orang (pihak sekolah, termasuk Kepala Sekolah) yang tahu. Masyarakat pun juga konon tahu kalau UN tidaklah semurni yang direncanakan. Di sana sini selalu ada kecurangan.

Tulisan ini, saya tulis dan sampaikan kepada para sahabat --guru ataupun para Kepala Sekolah-- yang terlibat langsung mengelola dan menyelenggarakan pendidikan di sekolah. Harus saya akui tidak semua para sahabat akan menganggap penting surat saya ini. Tapi bagi saya ini penting karena sinyalemen dan siue kebobrokan pelaksanaan UN tidak dapat dipandang sederhana.

Akuntabilitas dan objektifitas pelaksanaan UN bukan semata tuntutan peraturan yang termuat pada POS (Prosedur Operasi Standar) UN dan Permendiknas tentang pelaksanaan UN saja. Kejujuran pelaksanaan UN adalah harga mati yang akan menjadi taruhan dan beban sekolah, khusunya Kepala Sekolah. Kejujuran pelaksanaan UN tidak boleh dikalahkan oleh keinginan Kepala Sekolah untuk sekedar meluluskan 100% belaka.

Kelulusan 100% yang dibangga-banggakan (apalagi berani mengekspos di koran) mempunyai tanggung jawab yang teramat berat dan menakutkan. Berat karena kelulusan 100% artinya seluruh peserta UN adalah peserta yang mampu menjawab dengan benar soal-soal UN tanpa bantuan. Tidak dengan mencontek ke teman dan atau dapat jawaban dari guru.

Jika saja ternyata jawaban yang mereka buat di lembaran jawaban UN itu adalah hasil kerja mencontek dan atau hasil bocoran dari guru, masyaallah itu namanya penipuan. Seorang anak yang menipu, kelak secara pribadi akan terus menjadi penipu. Lebih berbahaya jika yang menipu tidak hanya siswa tapi sekolah (guru atau kepala sekolah). Maka sekolah itu artinya sudah sengaja akan menghancurkan pendidikan bangsa ini.

Di sinilah letak tanggung jawab yang harus menjadi perhatian semua pihak. Jadi, kelulusan UN tidak semata mendapatkan kelulusan untuk dapat ijazah tapi jauh lebih penting adalah menanamkan nilai-nilai kejujuran itu sendiri. Kini, ya tepuk dada tanya selera: seperti apakah hasil UN di sekolah kita? *** (Surat terbuka ini sebaiknya dibaca oleh semua)

Rabu, 04 Mei 2011

Hardiknas dan Hukuman Gayus

WALAUPUN hukuman Gayus dari tujuh tahun menjadi 10 tahun belum sama dengan tuntutan jaksa yang menuntut 20 tahun namun tambahan tiga tahun oleh Pengadilan Banding tetap mempunyai nilai pendidikan bagi semua orang. Hukuman tujuh tahun plus denda 300 juta rupiah dan subsider kurungan enam bulan oleh Pengeadilan Negeri Jakarta Selatan (berita Yahoo News http://id.berita.yahoo.com/hukuman-gayus-.... diakses 04.05.11) sesungguhnya memang masih sangat tidak adil berbanding hukuman yang diterima pencuri ayam yang terkadang babak-belur dulu oleh masyarakat baru masuk pengadilan.

Nilai pendidikan pertama yang dapat dipetik tentu saja konsistensi para hakim banding yang tidak ingin mengurangi hukuman Gayus. Malah dia menambah tiga tahun berbanding keputusan hakim Pengadilan Negeri sebelumnya. Mengapa ini disebut mempunyai nilai pendidikan karena dulu, para hakim di Pengadilan Banding selalu menjadi tempat para penjahat (terutama koruptor) untuk bernegosiasi pengurangan atau bahkan penghapusan hukuman.

Mengapa dulu para hakim di Pengadilan Banding sering mengurangi atau menghapus hukuman para koruptor? Tentu saja jawabannya sederhana saja: ada uang hukum melayang. Jadi, uanglah yang membuat keadilan itu tidak bisa berdiri tegak. Yang uangnya melimpah bisa membeli apa saja termasuk membeli hukum.

Sekarang pun sebenarnya hukum juga belumlah mampu tegak kokoh. Kecuali koruptor yang disidik dan diadili oleh dan melalui relnya KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) sesungguhnya masih banyak kasus-kasus kejahatan yang dihukum dengan tuntutan yang tidak wajar. Orng miskin akan cemburu melihat orang kaya dihukum karena tuntutan hokum untuk mereka selalu terasa rendah. Sementara orang kaya semakin semena-mena menghukum –lewat aparat hukum—orang miskin dengan tuntutan yang terkadang menyakitkan hati.

Bersempena peringatan Hardiknas yang di sekolah gaungnya selalu dibesarkan, sudah seharusnya pemerintah, penyelenggara pendidikan dan siapa saja yang berkecimpung di pendidikan untuk memberikan kesadaran hukum bagi para siswa khususnya, dan keluarga sekolah pada umumnya. Kesadaran hukum di sekolah seharusnya sesuatu yang mutlak. Dia sama pentingnya dengan semua pelajaran yang ditetapkan kurikulum itu sendiri.
Harus diakui penerapan ketentuan dan peraturan sekolah (tata tertib) baik buat guru maupun buat siswa tidaklah selalu mulus dan mudah. Tingkat pelanggaran tata tertib (hukum) di sekolah di manapun saat ini belumlah zero persen. Selalu ada pelanggaran tata tertib di sekolah siswa bahkan guru.

Kasus Gayus, dari awal ia ditangkap hingga ia dihukum saat ini sesungguhnya memiliki kandungan pembelajaran kesadaran hukum oleh dan buat siapa saja. Tidak hanya aparat hukum (polisi, jaksa, hakim, pengacara) yang bisa memetik pembelajaran hukumnya tetapi kita semua bisa memetik memanfatkan pembelajaran hukumnya.

Para aparat hukum, seperti sudah banyak dijelaskan dalam berita dan pemberitaan, bagaimana keteledoran dan kekeliruan mereka dalam penanganan kasus Gayus ini sejak awal. Masyarakat pun tidak semua berpikir mengenai kejahatan Gayus dan kelompoknya. Maka kekeliruan itu, seharusnya tidak terus-menerus berlanjut. Jangan lagi mau hanyut dalam kenikmatan pelanggaran hukum seperti selama ini. Orang Indonesia semuanya harus bangkit. Dan peringatan Hardikanas sudah sejatinya menjadi momen untuk itu. Apakah kita sudah siap?***

Selasa, 26 April 2011

Sore Sabtu Kelabu (2)

SAYA masih tertegun. Serasa tidak percaya apa yang baru saja diucapkan perawat tadi. “Bapak sabar ya, Pak.” Kalimat itu bagaikan petir dalam sunyi yang menghancurkan segala harapan saya. Saya sesungguhnya berusaha mencoba sabar. Tapi tidak mudah. Ternyata menyuruh dan mengajarkan orang-orang untuk sabar ketika memberi nasehat kepada seseorang, tidak semudah itu melaksanakannya pada diri sendiri. Saya benar-benar tidak bisa mempercayai kalau isteri saya telah pergi untuk selama-lamanya. Dia tidak akan pernah kembali lagi. Anak-anak saya –Kiky dan Opy— yang kebetulan mereka berdua saja bersama saya malam itu, masih tersedu sambil memanggil mamanya. Satu lagi anak saya, Ery, di Tanjungpinang menyelesaikan kuliahnya di UMRAH. Dia pasti juga sedang galau saat ini. Beberapa saat sebelum ke rumah sakit tadi, dia sempat diberi tahu kalau mamanya dalam keadaan sakit. Tapi belum sempat diberi tahu lebih detail sakitnya karena buru-buru harus ke rumah sakit.

Dalam kebingungan seperti itu saya berusaha ingin menelpon orang-orang yang seharusnya saya telpon untuk menyampaikan nasib tragis isteri saya. Aduh, HP saya ternyata tidak ada di saku saya. HP itu ternyata tertinggal di rumah karena tadi terburu-buru membawa isteri saya ke rumah sakit. Saya mau minta tolong ke siapa, saya juga tidak tahu. Cobaan ini benar-benar berat rasanya.

Akhirnya saya melihat ada salah seorang guru SMA Negeri 3 Karimun, M. Ridwan menghampiri saya. Pak Iwan begitu saya memanggil guru olahraga itu juga dalam keadaan panik menyaksikan saya yang seperti orang linglung. Dia bertanya, “Kenapa Ibu, Pak?” Saya menjelaskan, “Ibu sudah tidak ada, Wan. Ibu sudah meninggalkan kita, Wan.” Saya menangis tersedu menyampaikan kalimat-kalimat itu.

Saya mendengar Pak Iwan spontan terperanjat dan seperti orang melolong setelah mendengar saya. Dia ikut bergegas melihat isteri saya yang sudah terbaring diam di atas meja dorong itu. Dia pasti tak kan percaya kalau janazah yang ada di depan saya itu adalah isteri saya yang pada hari Jumat malam membezuk isterinya di RSUD itu.

Saya dan isteri memang baru saja dari rumah sakit itu malam sebelumnyta. Jumat petang menjelang malam itu saya mendapat SMS dari Pak Iwan. Dia minta izin untuk tidak mengajar besok, hari Sabtu. Katanya isterinya masuk rumah sakit karena gangguan pada jantung. Ada di lantai VI RSUD, begitu dia memberi informasi via SMS itu ke HP saya. Pak Iwan memang salah seorang guru SMA Negeri 3 Karimun, sekolah yang saya pimpin sejak awal tahun 2008 lalu. Untuk itu dia memang harus minta izin jika tidak bisa melaksanakan tugas. Itu kewajiban seorang guru.

Ketika saya beritahu kalau isteri Pak Iwan sedang di rumah sakit, isteri saya langsung mengingatkan dan mengajak saya melihatnya malam itu juga. Dia selalu tidak mau menunda-nunda menjenguk orang sakit. Makanya kami pergi malam itu ke rumah sakit. Masih terngiang di telinga saya bagaimana isteri saya bergurau dengan isteri Pak Iwan yang tengah terbaring dengan tali infus di tangan. “Awak terlalu capek tuh, Tuhan marah dan suruh istirahat,” kata isteri saya dengan nada bergurau. Itulah cara dia barangkali menghibur.

Selama ini memang sudah menjadi kebiasaan isteri saya. Kalau dia mendengar ada teman-temannya di rumah sakit, atau sedang sakit di rumah, dia pasti akan mengajak saya untuk melihatnya. Begitu pula jika ada berita kematian, dia akan meninggalkan pekerjaan lain atau mengatur pekerjaannya untuk dapat melihat orang-orang yang sudah menghadap Tuhan itu. Kami selalu berdua pergi menjenguk orang-orang sakit atau orang-orang yang telah berpulang ke rahmatullah. Begitu pula untuk pergi menyelesaikan berbagai hal kami juga selalu berdua. Orang-orang di Karimun bahkan menyebut kami,” Kalau ada Pak Rasyid, pasti ada Ibu.” Saya mencintai dia. Dan selalu berduaan, adalah salah satu cara oleh saya membuktikan saling cinta itu. Dialah yang mengisi lahir dan batin saya selama ini.

Untuk hal ini saya harus jujur bahwa saya dan isteri memang senantiasa pergi berdua. Termasuk untuk bepergian lainnya kami terus berdua. Pergi ke undangan pesta pernikahan, kami berdua. Berjalan sore atau kapan saja sekedar ‘makan angin’ kami tetap berdua. Bepergian ke luar Karimun, jika bukan urusan dinas –karena tugas—dia juga akan saya bawa bersama. Ke Malaysia, ke Batam, ke Pekanbaru atau ke mana saja; jika sekedar untuk berjalanh-jalan dia pasti akan bersama saya. Tidak akan pernah saya tinggalkan.

Bahkan ketika kami berkesempatan menunaikan ibadah haji pada musim haji 1427 (2006/ 2007) kami merasakan betul berbahagianya hidup berdua. Di Madinah, awal sampai di Tanah Suci, ketika kloter (kelompok terbang) haji kami melaksanakan sholat arbain selama delapan hari, Selasa (12/ 12/ 2006) sampai Selasa (19/ 12/ 2006) tidak pernah satu hari pun kami berpisah dari rumah ke masjid atau sebaliknya. Hanya karena sholat harus berpisah di masjid Nabawi itu barulah kami berpisah selama dalam masjid. Dan sesudah sholat atau ketika melaksanakan ziarah ke raudhoh, ke maqom baqi ‘ atau ke tempat-tempat bersejarah lainnya kami tetap berdua bersama kawan-kawan lain.

Begitu pula ketika berada di Tanah Suci Mekkah kurang lebih satu bulan (20/12/2006 hingga 17/01/2007). Selama musim haji, di Masjid Al-Haram jamaah laki-laki dan perempuan tidak ada hijab seperti di Nabawi. Maka saya dan isteri bukan hanya di sepanjang jalan menuju masjid atau menuju rumah saja kami selalu tidak terpisahkan, di dalam masjid pun kami mencari tempat yang tidak terlalu jauh. Saya akan mencari saf yang sama dengan saf dia. Dia akan mengambil ujung saf sebelah kanan sementara saya mengambil ujung saf di sebelah kiri. Dengan demikian kami akan tetap berdekatan walaupun dalam masjid sekalipun.

Berjalan dari masjid ke rumah pemondokan bahkan kami berpegangan tangan. Terkadang kami diejek –bergurau-- oleh sesama jamaah satu regu karena seolah-olah tidak pernah lepasnya tangan kami. Ah jika itu saya bayangkan, betapa nikmat dan berbahagianya hidup rukun dalam rumah tangga. Dia benar-benar isteri sejati yang pantas untuk diteladani.

Saya sesungguhnya tidak ingin berlebihan memberi predikat teladan kepada isteri saya, Hj. Rajimawati binti Abdul Mutolib, anak perempuan terbungsu pasangan H. Abdul Mutolib dan Hj. Ramnah. Tapi itulah yang tepat harus saya berikan untuknya. Seperempat abad kami bersama, saya tahu dan mengerti betul karakter dan jiwanya. Saya merasakan langsung bagaimana dia menajalankan peran seorang isteri, ibu dari anak-anak saya.

Dalam 24 tahun sejak anak pertama kami, Rizky Febrinna (Kiky) lahir pada 3 Februari 1987 di Tanjungbatu Kundur dan anak saya yang kedua, Fahry Errizik (Ery) juga lahir di Tanjungbatu pada 29 November1988 hingga anak saya yang ketiga Syarfi Razky (Opy) yang lahir di Moro pada 20 Oktober 1994 dia tidak pernah mengeluh dalam mengasuh, merawat dan memelihara mereka. Dia begitu tabah dan cekatan mengurus anak-anak saya sendiri. Hanya sekali-sekali saja saya dapat membantunya. Selebihnya dialah yang mengasuh, membesarkan dan mendidiknya menjelang sampai waktunya masuk TK.

Pada awal saya dipercaya menjadi Wakil Kepala Sekolah di SMA Negeri Tanjungbatu Kundur –pada tahun 1986-- yang memerlukan waktu saya hampir seharian di sekolah dia tetap tabah sendirian di rumah. Apalagi ketika sekolah ini membuka kelas siang (double shiff) karena tidak cukup ruang kelas dan saya ditunjuk menjadi Wakil Kepala Sekolah Urusan Kurikulum, saya benar-benar tenggelam seharian di sekolah. Saya hanya berkesempatan pulang siang sebentar untuk makan. Selebihnya saya harus ke sekolah lagi.

Sampai kami mempunyai anak pertama di awal 1987 itu, dia hanyan ditemani Emaknya, Ibu Ramnah, mertua saya. Dia datang ke Tanjungbatu karena isteri saya itu akan melahirkan. Isteri saya tidak mau pulang ke Pekanbaru, ke tempat orang tuanya untuk melahirkan. Dia berperinsip, “Di mana ada suami di situlah melahirkan.” Sungguh perinsip yang sangat menghargai utuhnya rumah tangga. Ketiga anak kami memang lahir di mana saya bertugas. Dia memang tidak mau melahirkan ke Pekanbaru, misalnya, tempat kedua orang tuanya berada.

Kesan lain yang tidak mungkin saya lupakan betapa berat dan tingginya tanggung jawab isteri saya ini adalah ketika anak-anak saya (waktu itu baru dua orang) sudah mendekati masa-masa sekolah. Kiky yang tua sudah minta sekolah meskipun umurnya baru 4 tahun waktu itu. Melihat temannya di sebelah rumah kami pergi ke sekolah tiap pagi, dia pun minta sekolah juga.

Akhirnya kami sepakat mengantarkannya ke TK Pertiwi di sekitar belakang Kantor Pos Tanjungbatu. Jarak rumah kami –di Tanjungsari-- ke sekolah itu cukup jauh. Tidak bisa ditempuh berjalan kaki. Saya tidak ada waktu untuk mengantar anak saya ke TK itu karena pagi-pagi saya biasanya sudah ke sekolah. Saya wajib ke sekolah lebih awal karena tanggung jawab tugas yang diamanahkan Kepala Sekolah, Pak Supardjo Suk, BA waktu itu. Jadi, isteri saya itulah yang harus mengurus kedua anak saya pergi dan pulang sekolah.

Saya ingat betul, dialah yang sambil berbelanja pergi mengantar dan menjemput anak saya ke TK. Yang bungsu, Ery didudukkan di bagian depan –keranjang besi-- sepeda sanki yang saya beli di rombengan (Sawang) sementara kakaknya Kiky duduk di belakang. Sepeda itulah yang didayung isteri saya setiap pagi mengantar dan menjemput anak saya ke sekolah. Ah, sayang… kau memang wanita sejati yang sangat mengerti suami yang masih susah hidupnya. Tidak berlebihan disebut teladan.

Tapi Sabtu malam ini dia sudah tiada. Dia pergi tanpa meninggalkan pesan apapun kepada saya. Hanya kebahagiaan berumah tangga sajalah yang saya rasakan bersamanya menjelang kejadian ini. Adakah kebahagiaan itu sebagai tanda-tanda akan datangnya ujian ini? Hanya Allah yang Maha Tahu. Yang saya tahu, Sabtu kelabu itu telah menjadi garis batas terenggutnya nyawa isteri saya.

Saya minta Pak Iwan menyampaikan berita duka ini kepada siapa saja. HP saya masih dijemput anak saya ketika itu. Bersama anak Pak Iwan (menggunakan motor) dia pulang ke rumah untuk menjemput HP. Karena panik dan ingin cepat ke rumah sakit (saat dia dia tiba-tiba sesak dan susah bernafas sehabis sholat magrib) itu dua HP saya dan satu HP isteri saya tidak sempat terbawa.

Saya melihat Pak Iwan sangat sedih setiap menelpon seseorang. Saya ingatkan untuk menyampaikan ke guru-guru SMA Negeri 3 Karimun atau kepada siapa saja yang dia ingat. Kata Pak Iawan, semua orang yang dia hubungi seolah tidak percaya berita kematian itu.

Setiap orang yang diberi tahu oleh Pak Iwan, mereka terkejut. Mereka seperti tidak percaya dengan berita yang disampaikan. Berulang-ulang diyakinkan barulah amereka percaya. Bahkan ada yang langsung datang ke RSUD terlebih dahulu, baru mau percaya. Begitulah kejadian itu begitu mendadak datangnya. Saya sendiri serasa bermimpi. Pikiran saya serasa melayang entah kemana. Saya tidak menduga. Dia sama sekali tidak memberi tanda-tanda kalau dia akan meninggalkan saya secepat itu.

Begitu mendadaknya sampai semua orang seperti tidak bisa mempercayainya. Ibu Zaita, tetangga sebelah rumah saya yang juga sama sekali tidak tahu keadaan isteri saya, mendadak meraung-raung di ruang UGD itu sejurus dia sampai di rumah sakit. Dia terkejut diberi tahu oleh anak saya Ery (Fahry Errizik) lewat telpon dari Tanjungpinang. Ery, beberapa menit sebelumnya memang diberitahu oleh anak saya Opy menggunakan HP saya kalau mamanya mendadak sakit sekitar pukul 19.00 itu. Namun sebelum sempat dijelaskan keadaan mama secara detail HP diputus karena kami harus melarikan mamanya itu ke rumah sakit.

Jadi dalam penasarannya itu dia mencoba menghubungi Ibu Zaita tentang kondisi mamanya. Dan Ibu Zaita sendiri yang sama sekali tidak tahu mencoba menelpon ke HP saya dan isteri saya juga tidak ada jawaban. Akhirnya dia pergi ke rumah sakit dan menemukan isteri saya sudah terbaring diam. Maka pecahlah tangisnya yang begitu menyedihkan. Dia seperti meraung-raung sambil memukul-mukul punggung saya. “Bapak, ngapa Bapak tak beri tahu…Bapak, ngapa Bapak tak beritahu…” berulang-ulang dia bertanaya sambil memeluk dan memukul-mukul punggung saya.

Dia terus memeluk saya sambil menangis dan tetap memukul saya. Saya tidak berbuat dan berkata apa-apa lagi. Lidah saya seperti terkunci. Pikiran saya serasa begitu kosong. “Mimpikah saya?”. Saya tidak bias menjawab pertanyaan-pertanyaan Ibu Zaita itu. Dia sangat shok dan terpukul tidak melihat orang yang selama ini sudah dianggapnya sebagai ibunya.

Hampir setengah jam mayat isteri saya di rumah sakit sejak perawat memberi penjelasan tadi. Setelah diberi surat keterangan, sebuah ambulance telah menunggu di halaman belakang RSUD. Saya, anak saya yang tua dan Ibu Zaita ikut bersama janazah isteri saya. Kami bersama di dalam ambulance itu akan menuju ke rumah tempat tinggal saya, tempat tinggal isteri saya dan anak-anak saya sejak tahun 2004, Wonosari Baran, Meral

Kamis, 21 April 2011

Sore Sabtu Kelabu (1)

TIDAK pernah ada tanda-tanda yang dapat saya tafsirkan bahwa pada hari Sabtu (16/04) lalu, sekitar pukul 19.15 akan saya hadapi ujian maha berat: berpulangnya ke rahmatullah isteri tercinta saya, Hj. Rajimawati. Sampai pukul 15.30 sore Sabtu itu dia tidak ada keluhan sakit. Selama ini juga tidak ada riwayat sakit yang membuatnya harus dirawat khusus kecuali ketika melahirkan anak-anak saya. Ah, sungguh berat. Tidak pernah saya bayangkan itu.

Maaf, saya sesungguhnya tidak tega menulis kisah tragis ini. Hati dan seluruh tubuh saya terasa pedih dan perih setiap kali memikirkannya. Sudah enam hari saya berusaha membungkus duka ini. Tapi akhirnya saya tulis juga di ruangan ini. Ada banyak kisah teladan yang semoga ada guna untuk pembaca. Itulah dorongan utama, menuntun saya menulisanya. Dia adalah figur teladan anak-anak saya; termasuk buat saya.

Dalam 25 (dua puluh lima) tahun pernikahan kami begitu banyak yang dapat saya petik dari wanita ini. Tapi satu hal yang perlu saya katakan, dia adalah wanita tegar yang teramat patuh buat saya. Ketegaran itu tidak hanya pada mentalnya yang kuat dan tenang hidup bersama saya yang hanya seorang guru dengan penghasilan bermula dari Rp 28.000 (dua puluh delapan ribu rupiah) pada tahun 1985, awal saya menjadi pegawai negeri. Tapi ketegarannya juga tampak pada pisiknya yang senantiasa sehat dan kuat.

Sesungguhnya dia bekerja penuh demi saya dan anak-anak kami. Kami memang tidak mempunyai pembantu rumah tangga mendampinginya. Pada awal membangun bahtera rumah tangga jelas kami tidak sanggup membayar pembantu. Tapi pada saat kehidupan sudah sedikit mapan, dia tetap memutuskan untuk tidak didampingi pembantu dalam tugas-tugas rumah tangga. Dia adalah ibu rumah tangga yang utuh.

Di awal kami bersama itu bahkan dia 'nyambi' membuat kue --bakwan-- dan membuat es bungkus untuk penambah penghasilan saya yang teramat kecil. Biar begitu badannya tetap sehat. Kami tetap bisa ikut berbagai kegiatan olahraga terutama senam dan berjalan minggu pagi. Itulah yang saya tahu tentang sangat sehatnya pisik dia. Sampai datangnya musibah sore Sabtu itu, dia tetap sehat-sehat saja.

Dalam 16 tahun terakhir sejak dia melahirkan anak saya yang bungsu (saat ini sudah di SMA) rasanya tidak pernah dia sakit yang mengharuskan dia dirawat di rumah sakit. Jika terserang filek atau flu, itu tidak terlalu lama memulihkannya. Tidak selalu harus ke dokter untuk menyembuhkannya.

Sampai datangnya musibah sore Sabtu, lima hari lalu itu. Dia tiba-tiba saja kesulitan bernafas. Menurut anak saya yang sulung, yang menyaksikan langsung mamanya tiba-tiba kesulitan bernafas tanpa sebab yang dipahami anak saya. Sebelumnya --hari itu-- dia hanya mengeluh penat karena katanya dia habis mencuci pakaian. Bagi saya, letih seperti itu usdah selalu dia rasakan dan selalu pula dia ceritakan kepada saya. Jika dia minta urut kepada anak-anaknya atau kepada saya, toh itu akan pulih kembali.

Tapi sore itu dia benar-benar seperti menderita tiba-tiba. Setelah terus-menerus dipijit anak saya punggungnya dan diberi minuman bergula yang hangat, akhirnya dia muntah. Ketika saya tiba di rumah dan menyaksikan langsung setelah sebelumnya saya ditelpon karena saya kebetulan di luar rumah, saya melihat dia sangat lemah. Badannya berkeringat dingin.

Saya lap keringatnya dengan kain setengah basah sambil membersihkan mukanya yang juga berkeringat. Saya merasa dia sedikit agak tenang saat itu. Kata anak saya, mamanya baru saja bisa bernafas dengan tenang setelah muntahnya itu keluar begitu banyak. Tadinya sungguh mengkhawatirkan. Bahkan menurut anak saya dia seperti menyaksikan orang berjuang dalam sakratulmaut. Anak saya memang menangis pada saat dia menelpon saya, sebelum saya sampai di rumah dua puluh menit kemudian.

Sehabis sedikit tenang itu, saya tanya, apakah dia bisa sholat asar. Dia jawab bisa. Lalu saya ajak ke kamar dengan memapahnya. Di kamar dia sholat setelah berwudhuk. Sungguh saya merasa sedikit tenang melihat dia bisa sholat walaupun saya suruh dia sholat dengan cara duduk. Islam memang membolehkan orang sakit melaksanakan sholat dengan duduk jika tidak mampu berdiri.

Selanjutnya dia saya ajak ke rumah sakit. Hanya karena sore, dia minta ke dokter praktek saja. Lalu saya bawa ke tempat praktek Dokter Awang Lim, seorang dokter senior yang cukup terkenal di Karimun. Dokter 'keturunan' ini juga sudah menjadi langganan kami berobat kalau mengalami persoalan kesehatan yang agak berat. Sekali-sekali juga ke dokter lain.

Saya laporkan ke Dokter Awang Lim kronologis penderitaan isteri saya seperti diceritakan anak saya. Saya khawatir dia sakit jantung karena dia selalu menekan bagian dadanya. Saya juga katakan kalau dia habis muntah yang cukup banyak.
Tapi hasil diagnosa dokter itu tikdak menyebutkan penyakit yang mengkhawatirkan isteri saya. Katanya tidak ada riwayat penyakit jantung. "Ibu tidak ada riwayat penyakit jantung," jelasnya. Tapi saya melihat dia hanya membuat kesimpulan berdasarkan data-data lama ibu yang memang selalu berobat ke klini Sayang Ibu, milik dokter itu.

Dokter Awang Lim juga menjelaskan kalau tensi darah ibu juga bagus. Dia hanya menyebut kalau ibu mengalami masalah lambung. Akhirnya dia hanya memberi obat yang katanya harus dimakan sebelum makan nasi. Kamipun kembali ke rumah karena sudah merasa lega berdasarkan pebnjelasan dokter ini. Ah, saya merasa tertipu oleh kata-kata dokter yang dengan percaya diri menjelaskan penyakit isteri saya yang tidak berbahaya.

Sampai di rumah isteri saya berbaring di kasur. Dia minta dipijit-pijit badannyan yang katanya sangat penat. "Seluruh persendian saya pegal-pegal. Tolong dipijit," pintanya kepada saya. Saya dan anak saya masih tampak shok dan berusaha menahan tangis, terus memijit-mijit bagian yang sakit isteri saya.

Ketika dia minta dicarikan tukan pijit khusus, anak saya pergi mencarinya. Setelah dipijit oleh Ibu itu dia tampak semakin lega. Katanya badannya sudah lebih mendingan. Bahkan isteri saya mengeluarkan angin (kentut) yang membuat kami bertiga tersenyum geli dan masih sempat kami bergurau dengan gas berbauk itu. Ah, ternyata ini juga telah menipu saya.

Ketika dia mendengar kumandang azan magrib, dia mengingatkan saya. "Bang, itu sudah azan," katanya. Saya pun paham kalau dia memang sangat taat melaksanakan ibadah sholat. Setiap kali masuk waktu sholat dia pasti akian berhenti beraktifitas apa saja. Dia akan bergegas pergi sholat. Termasuk sore Sabtu itu.

Saya tanya, apakah boleh sholat ke masjid seperti biasanya saya memang sholat berjamaah ke masjid, dia membolehkan. Dia mengatakan sholat di rumah. Saya pun tetap merasa tidak ada kekhawatiran terhadap penyakit yang tengah dialaminya. Di masjid saya juga tidak punya firasat apa-apa.

Sampai di rumah sehabis sholat magrib di masjid, saya lihat dia sedang terbaring di kasur, kamar kami selama ini. Saya tanya apakah sudah sholat, dia menjawab sudah. Anak saya membantunya ke kamar mandi --di kamar tidur-- untuk berwudhuk. Saat dia baring itu, dia kembali minta urut badannya yang masih penat. Dia tidur memiringkan badannya, minta dipijitkan bagian punggungnya. Sayapun berbaring sambil memiringkan badan saya ke arahnya. Saya hyanya berhadapan dengan punggungnya. Wajahnya mengarah ke dinding.

Ada beberapa menit saya memijit-mijit bagian punggungnya. Saya tidak mendengar dia mengeluh waktu itu. Dia tidak juga mengatakan apa-apa saat itu. Ternyata ini juga dugaan dan penilaian saya yang salah. Karena beberpa saat berikutnya, ketika dia tiba-tiba membalikkan badan ke arah saya (menelentang) saya melihat mukanya yang pucat. Dia seperti tidak dapat bernafas. Suaranya tidak keluar tapi dia kelihatan mengerang.

Anak saya yang sedari tadi memijit bagian kaki, terperanjat dan secara reflek menagis sambil memekik memanggil mamanya. Dia langsung ingat pengalamannya sendiri tiga jam sebelumnya. Anak saya yang bungsu, yang saat itu asyik main laptop di kamar itu, ikut membantu saya dan anak saya yang sungguh dalam keadaan panik. Kami bertiga berusaha membantu dengan mendudukkannya. Mengurut punggung dan bahunya. Tapi dia seperti tidak bereaksi.

Akhirnya kami bertiga mengangkatnya. Sungguh terasa berat. Badan sesehat itu ternyata cukup berat buat kami bertiga yang dalam keadaan panik itu. Setelah berhasil membawa ke dalam mobil, saya memacu mobil dengan kencang sekali untuk menuju Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Karimun. Hanya dalam sepuluh menit mobil kami sampai di parkir UGD RSUD.

Penanganan yang terasa begitu lambat oleh para perawat di UGD itu membuat saya ingin memekik. Tapi saya mencoba menahan tangis. Saya tetap berdoa, semoga isteri saya bisa selamat. Namun apa mau dikata, kata perawat yang menangani, isteri saya telah pergi beberapa menit sebelum sampai ke rumah sakit daerah itu. Tangis saya benar-benar pecah bersamaan tangis anak-anak saya yang saling berpelukan. Sore Sabtu yang benar-benar kelabu dalam hidup saya. (akan saya sambung)
 
Copyright © 2016 koncopelangkin.com Shared By by NARNO, S.KOM 081372242221.